[SEG Event] Panmunjom And Him

Title: Panmunjom And Him

Length : Oneshot

Cast: Bae Joohyun (Irene RV), Kim Taehyung (V BTS)

Rating: PG-16

Theme: Jurnalistic

Genre: Romance, Action

Desclaimer: This fanfict’s story pure from my mind. Big NO to plagiarism. Hope you all enjoy it.


Seiring berita terbaru bahwa Korsel dan Korut kini sedang memanas, sebanyak itu pula aku terus memikirkannya di otakku.


Panmunjom, Provinsi Gyeonggi Korea Selatan, 2010.
Ku dudukkan tubuhku kasar pada sebuah bongkahan semen bekas tiang bangunan yang ambruk entah berapa lama. Ku silangkan salah satu kakiku dan ku gunakan untuk menopang kamera DLSR seberat 0,6 kg yang berada digenggamanku. Kepalaku menunduk. Kedua mataku fokus mencari cipratan lumpur yang menempel pada lensa berhargaku sambil mengusap-usapnya.

Kondisi di Panmunjom ini jauh dari kata kondusif. Terkutuklah pimpinan redaksi yang menyuruhku meliput didaerah rawan konflik macam Panmunjom ini. Entah berapa kali aku menyumpahi atasanku itu atas keputusan gilanya yang menugaskanku dan beberapa rekan jurnalis yang lain untuk meliput aksi unjuk rasa yang terjadi di desa yang menjadi daerah perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara ini.

Gila. Itu kesan pertamaku ketika aku benar-benar berpijak pada daerah ini untuk yang pertama kali. Ya, atasanku itu memang sudah gila.

Aku tersentak. Seseorang menepuk bahuku.

“ Bergegaslah, warga sudah merapat ke gedung JSA. “ ucap suara berat itu ketika aku mendongak untuk melihatnya. Dia Park Chanyeol, rekan satu kantor beritaku.

Menyadari hal itu, aku segera menarik ikat rambutku yang sebelumnya kujadikan gelang dan mengikat tinggi rambut panjangku menjadi satu. Ku hela nafas cepat sebelum akhirnya menyusul Chanyeol dan mengekor dibelakangnya.


Hiruk pikuk ratusan warga desa Munsan telah memenuhi halaman gedung JSA. Gedung Join Security Area (JSA) di Panmunjom milik tentara militer Korsel yang selama ini berfungsi sebagai tempat kunjungan wisatawan yang berkunjung ke daerah perbatasan ini atau biasa disebut DMZ (Korean Demiliterized Zone).

Tampak beberapa warga nekat menerobos pagar pembatas yang telah dijaga ketat oleh petugas militer untuk lebih mendekat ke gedung demi menyuarakan aksinya. Kami, para jurnalis tak menyia-nyiakan momen tersebut untuk tidak mengabadikannya. Kilatan blitz berasal dari kameraku sebagai efek dari beberapa foto yang terambil.

Sesekali aku memeriksa hasil fotonya. Aku tersenyum puas ketika foto yang kuambil tampak bagus dari sudut yang pas. Editorku pasti akan menyukai ini.

“ Miss Bae! “ aku segera menoleh ke sumber suara ketika seseorang dari kantor beritaku memanggilku dengan julukan akrab.

“ Apa? “ tanyaku.

“ Berikan kameranya padaku, sekarang waktunya interview salah satu warga. ” Perintah rekan priaku bernama Sehun sambil mengadahkan tangannya.

“ Seulgi? “ tanyaku kembali sambil melepaskan kalungan kameraku lalu kuberikan padanya.

“ Dia juga interview didekat pos keamanan JSA. “

“ Ooh, okay. “

Aku yang mengerti segera beranjak.

“ Kau hati-hati, “ ucapnya dari balik punggung dan langsung kubalas dengan jempol tanganku.

Meskipun banyak massa yang sedang mengerumun, tak gampang menarik salah satu dari mereka untuk bersedia aku wawancarai. Apalagi suasana yang tadinya tertib dan terkendali kini mulai berubah sedikit ricuh.

Telingaku mulai terbiasa dengan teriakan lantang dari warga Munsan, desa yang tak jauh dengan daerah perbatasan, yang menuntut pimpinan militer untuk segera menutup kawasan DMZ sebagai objek wisata. Ya, sebelumnya DMZ ini memang menjadi kawasan wisata esktrem yang menyuguhkan sensasi mencekam daerah rawan konflik yang banyak ingin diketahui wisatawan. Penjagaan ketat dan ekstra hati-hati telah dilakukan oleh penjaga militer selama ini dalam mengawal wisatawan. Namun dalam kurun waktu dekat, total terdapat 4 wisatawan yang meninggal selama proses kunjungan berlangsung. Penyebabnya tidak pasti. Banyak warga yang menduga ini ada sangkut pautnya dengan Korut. Satuan gabungan militer Korsel telah menutup sementara kawasan ini untuk keperluan investigasi lebih lanjut, namun warga dan daerah lain yang berdekatan langsung dengan DMZ di Panmunjom ini terus mendesak agar wisata ekstrem DMZ ditutup secara permanen.

“ Maaf, bagaimana Pak? “ Telingaku mulai tidak bisa menangkap apa yang dikatakan oleh narasumberku karena suasana di gedung JSA ini sangatlah bising. Beberapa kali petugas mulai menarik pelatuknya ke udara untuk menenangkan warga yang ricuh dan bersitegang dengan beberapa petugas keamanan. Oh sungguh, aku membenci situasi seperti ini.

Tak lama, tetes demi tetes air mulai turun dan disusul dengan jutaan tetes air lainnya yang turun dengan derasnya. Aiish, aku tahu hal ini akan terjadi mengingat sebelumnya betapa mendungnya langit Panmunjom disertai gemuruh petir yang menyambar.

Warga yang berunjuk rasa dengan terpaksa membubarkan diri dan meneduh di bangunan-bangunan terdekat. Begitu juga para petugas yang telah bergegas menuju barak-barak yang terdapat disekitar.

Narasumberku dengan otomatis memaksaku untuk menyudahi wawancara dan berlarian untuk menyusul warga lainnya. Aku tak ada pilihan lain selain menyimpan recorderku ke dalam saku dan bergabung dengan beberapa kolegaku yang ikut berteduh di salah satu barak milik petugas keamanan.

Kurapatkan kedua tanganku kedalam saku hoodie sambil melihat sekitar. Dari kejauhan kulihat rekanku, Seulgi dan Chanyeol yang telah menggunakan rain coat. Aku segera melambaikan tanganku dan menyuruhnya kemari.

Mataku membulat melihat gerombolan petugas keamanan yang tidak sengaja bertabrakan dengan Seulgi ketika sama-sama berlari menuju barak ini. Bukan masalah apapun, namun aku sangat geram melihat kamera milik Seulgi jatuh ke tanah. Tampak Chanyeol membantu Seulgi dan akhirnya sampai kemari.

“ Seul, kameramu? “ tanyaku panik begitu ia sampai di tempat ini. Aku menunggu jawabannya yang kini mengutak-atik lensa dan beberapa tombol kameranya.

Seulgi mendengus. “ Lensanya pecah dan air hujannya banyak yang masuk kedalam. “

“ Sial! “ umpatku kesal mendengar kalimat Seulgi yang inti kalimatnya menyatakan bahwa kameranya rusak. Mataku mengekor tajam pada beberapa petugas keamanan pelaku perusak kamera Seulgi yang melewati kami dengan kepala tegak seolah tak pernah terjadi apapun. Oh ayolah, tidak ada niatan dari mereka untuk meminta maaf pada pejuang berita seperti kami?

Aku benar-benar tidak tahan untuk tidak melabraknya sebelum tangan Chanyeol menghentikanku.

“ Jangan Bae, “ sergahnya seakan tahu maksudku.

“ Kamera Seulgi rusak! Kalau mereka tidak tahu itu ulah mereka maka aku harus memberitahunya, bagaimana maksudmu jangan, huh? “ sahutku tidak terima.

“ Sstt. Pelankan suaramu Bae Joohyun. Sungguh kau tak perlu melabrak para petugas itu, kita diijinkan untuk meliput disini saja itu sudah suatu keberuntungan.” Ucap Seulgi dengan penuh kehati-hatian. Bola mataku memutar kesal.

“ Oh ayolah Seul, setidaknya aku harus memberi mereka pelajaran bahwa minta maaf dan mencoba menghargai wartawan itu penting! “ ucapku masih dengan emosi meluap. Bagaimana tidak? Kamera itu merupakan harta terpenting milik jurnalis atau wartawan seperti kami yang haus akan informasi. Jika harta itu rusak maka kerja kami juga akan terganggu.

“ Iya aku tahu Bae, tapi ini kondisinya beda. Kita lebih baik tak berurusan dengan siapapun didaerah yang bahkan kita tidak tahu bisa keluar dengan selamat atau tidak.“

Aku terdiam. Mencoba mencerna kata-kata Chanyeol sambil mengatur nafas emosiku.

“ Tenang ya. Kita masih ada kamera yang lain kok. ” ucap Seulgi yang akhirnya membuatku luluh.


Jam menunjukkan pukul 8 malam. Kami sekarang berada di tenda besar tempat persinggahan kami para jurnalis. Disini tidak hanya tempat berkumpul bagi wartawan dari kantor beritaku saja, namun juga beberapa jurnalis kantor berita lain. Kami sesama jurnalis saling berbagi informasi dan membantu, namun tidak untuk saling berbagi berita.

“ Sudah kau kirim? Jungnam hyung terus menanyakannya padaku. “ tanya Sehun, pria bermarga Oh, lalu duduk disampingku.

“ Bisakah dia sekali saja menanyakan kabar kita? Bukan soal beritanya? “ tanyaku yang terus berkutat pada layar laptop yang menampilkan buffering pengiriman email yang berisi file liputan hari ini.

Sehun terkekeh. Ia paham aku hanya berceletuk saja. Hanya saja, mungkin celetukku ada benarnya juga.

“ Done, terkirim.” Aku menghela nafas lega akhirnya file liputan terkirim setelah terkendala sinyal yang cukup jelek.

Mataku mulai mengamati sekitar untuk melihat aktivitas rekan-rekanku sekarang. Beberapa mengemasi kamera dan laptopnya menandai selesainya tugas kami untuk hari ini, Chanyeol sedang menikmati kopi panasnya yang baru ia seduh, Seulgi sedang menelefon di pojokan sambil sesekali tertawa, pasti dari kekasihnya.

“ Aku tak melihat Suho. “ ucapku pada Sehun.

“ Dia ada di kantor keamaan militer, mencari kabar terbaru.” Balasnya. Kabar terbaru? Aku menatapnya tak mengerti.

“ Dua wartawan muda dari kantor berita Hapdong kemarin sempat menghilang, hari ini yang satu ditemukan dan satunya masih hilang.” Terang Sehun yang sontak membuatku kaget.

“ Terus, masih hidup ‘kan? “ tanyaku memastikan. Sehun mengangguk.

“ Aku juga tidak tahu sebab menghilangnya. Makanya Suho kesana untuk mengetahui langsung kabarnya. “ Aku hanya mengangguk mengerti. Aku mulai teringat pesan atasanku untuk selalu ekstra hati-hati di daerah Panmunjom ini.

“ Sudah ah. Aku mau mandi. Gerah. “ ucapku setelah melirik keluar bahwa hujan telah berhenti. Kupindahkan laptop dari pangkuanku ke pangkuan Sehun lalu berdiri.

“ Mau aku temani? Memang kau hafal jalannya ke penginapan, miss Bae? “ tanyanya dengan nada kawatir. Maklum saja jika dia kawatir karena aku dan Seulgi adalah satu-satunya jurnalis wanita yang berada di tim liputan Panmunjom ini. Meskipun begitu aku dan Seulgi bukan wartawan cengeng dan manja seperti kebanyakan para wanita. Mungkin aku bisa mengatakan hal itu yang menjadi pertimbangan atasanku untuk memasukkan kami dalam tim liputan ini.

“ Lebih baik sekarang kau atur jadwal liputan kita besok. Aku pergi dulu, Hun. Aku akan berhati-hati. “ pamitku sambil menyambar topi hitam kesayanganku.

Perjalanan menuju penginapan melewati gang-gang sempit berkelok yang berada di sela perumahan petugas militer yang juga tak jauh dari beberapa pos penjagaan. Aku melihat beberapa tentara militer yang berjaga disekitaran pos. Mereka berdiri tegap dengan memegang senjata.

Disela-sela gang aku bisa melihat sesekali tentara yang berkeliling untuk berpatroli. Awalnya aku sempat ngeri dengan ketatnya penjagaan di daerah ini karena menambah aura yang mencekam. Namun setelah 3 hari berada disini aku mulai terbiasa dengan pemandangan semacam itu.

Ini Panmunjom, daerah yang menjadi saksi terbelahnya semenanjung Korea. Bukan Seoul.

Aku berjalan santai selama melewati gang namun tak lama aku terkaget mendengar suara senapan yang ditembakkan. Aku menoleh mencoba mencari sumber suara. Ku dengar derap langkah kaki yang berlari mendekat dengan tergesa. Derap langkah itu semakin cepat dan melintas pada gang didepanku. Bayangan seseorang melintas dengan kilat dan disusul oleh 3 orang tentara yang mengejarnya dari belakang.

Aku terpaku melihat pemandangan yang singkat itu sementara derap langkah kaki dari mereka masih bisa kudengar. Aku mencoba untuk tak peduli dan melanjutkan langkahku menuju penginapan. Namun pikiranku kembali terusik kala aku tak mendengar derap langkah kaki itu lagi. Kini berganti dengan suara pukulan, mungkin.

Itu jelas bukan urusanku. Tapi, bagaimana jika seseorang itu terluka?

Tanpa pikir panjang, aku segera berlari ke arah gang dimana aku mendengar suara itu. Benar saja, disudut gang yang buntu terdapat seorang pria menggunakan masker hitam diwajahnya tampak pasrah dihadang oleh 3 tentara militer. Salah satu tangannya memegangi lengannya yang sepertinya tertembak oleh peluru. Sebelum salah satu dari tentara itu menghadiahinya dengan sebuah tinjuan lagi, aku dengan sigap menerobosnya dan berdiri tegap menghadangnya.

“ T-Tunggu tunggu! Maaf bukan maksudku untuk mencampuri urusan kalian namun bolehkah aku tahu ada apakah ini? “ Ucapku dengan nada tenang yang kuusahakan. Sesungguhnya jantungku sudah bersiap meledak didalam sana.

“ Aku wartawan Bae dari kantor berita Yonhap, Seoul.” Ucapku lagi sambil menunjukkan ID cardku. Mata mereka dengan kompak memeriksa ID cardku dan kembali menatapku tegas.

“ Maaf nona, tapi ini bukan urusan seorang wartawan. “ balas dari salah satu mereka.

“ Iya aku tahu, tapi sungguh aku benci kekerasan. Bisakah kalian menyelesaikannya dengan baik-baik? Negara kita negara hukum bukan? Apakah orang ini benar bersalah? “ cecarku bertubi-tubi.

Mereka akhirnya membuka suara dan menjelaskan bahwa mereka mencurigai orang asing ini yang tampak berjalan mencurigakan di sepanjang jalan menanjak menuju Gijeong-dong yaitu desa perbatasan milik Korea Utara. Namun ketika petugas ingin mengintrogasinya ia tak memberi keterangan apapun dan justru menghindarinya. Maka terjadilah kejar mengejar yang sempat kulihat tadi.

Aku berbalik untuk melihat pria yang berdiri menyandar tembok ini. Ia menggunakan masker hitam untuk menutup wajahnya, rambutnya coklat gelap acak-acakan dan pakaiannya lusuh. Ada beberapa bercak darah di sekitar lengannya dan menjalar pada ripped jeans yang digunakannya.

Tanpa sadar, matanya juga sedang mengamatiku.

“ Jika dia tetap tidak membuka suara, maka kami akan membawanya ke kantor keamanan.”

Aku yang mendengar kalimat dari tentara itu tak bisa berbuat apa-apa. Aku menatapnya dengan penuh harap. Berharap pria tanpa identitas ini dapat membuka suaranya dan melakukan pembelaan. Namun saat mata kami bertemu, pria ini masih bungkam.

Tentara itu tak bisa tinggal diam lagi dan bersiap untuk menggiring pria ini sebelum sebuah suara akhirnya muncul.

“ A-Aku juga wartawan. Sama seperti dia. “ untuk pertama kalinya aku mendengar suara bass yang keluar dari balik masker wajahnya dan tangan yang menunjukku. Dan tunggu, dia juga wartawan sepertiku?

“ Benarkah? Jika kau juga wartawan, tunjukkan ID cardmu! “ Ujar tentara itu seakan tak percaya.

Tangannya mulai turun untuk merogoh sakunya. Ia mengeluarkan ID card dari sakunya dan memberikannya pada salah satu tentara.

“ Wartawan Kim Taehyung dari kantor harian berita Hapdong. “ baca salah satu tentara dengan keras ketika memeriksa ID cardnya. Tentara itu juga meminta kartu penduduknya dan tak kusangka pria misterius ini juga menunjukkannya. Aku tak habis pikir lalu kenapa sedari tadi ia bungkam?

“ Bisa kau buka maskermu? “ tanya tentara itu lagi. Awalnya pria itu tampak enggan namun akhirnya ia melepaskan masker yang sedari tadi menutup wajahnya. Ia sedikit menunduk yang dapat kulihat wajahnya penuh dengan luka lebam. Namun yang kutahu ia masih muda, kedua alisnya tebal dengan hidung yang mancung.

“ Sekarang bisa kau tinggalkan aku? Aku tadi hanya tersesat karena tidak menemukan rekanku yang lain. Tentang kenapa aku berlari karena kupikir kalian tentara Korut yang harus kuhindari. “ Ucap pria itu sambil memasukkan ID card dan kartu identitasnya pada sakunya lagi.

Cukup aneh ketika ia mengira tentara yang mengejarnya adalah tentara Korut, mengingat di seragam bagian dada kanan para tentaran itu jelas-jelas terpampang bendera Korsel. Aku kembali berpositif thinking, setidaknya dugaan para tentara itu salah.

“ Kalian tidak ingin kesalahpahaman ini akan menjadi berita di koran besok ‘kan? “ ujarku menambahi. Aku sedikit sebal mengingat bahwa tentara ini dengan seenaknya melesakkan pelurunya serta insiden kamera Seulgi tadi siang.

Akhirnya para tentara itu minta maaf dengan sedikit membungkukkan badan. Lalu pergi meninggalkan kami.

Kini tinggalah aku dan pria ini yang kini menatapku dengan tatapan dingin. Aku balik menatapnya dengan canggung. Entah mengapa tatapannya tampak mengintimidasiku. Apa yang kulakukan salah?

Ia sempat meringis menyadari luka di lengannya. Seakan tak peduli, ia mulai memakai masker wajahnya lagi dan berjalan meninggalkanku. Dia meninggalkanku tanpa sepatah kata. Aku yang masih diliputi keheranan dengan reflek menyusulnya.

“ Hei! Aku cukup kaget tadi ternyata kau wartawan  juga. “ ucapku sambil terus berjalan dibelakang punggungnya yang terus menyusuri gang sempit ini.

“ Hmm. Dari Hapdong ya? Siapa namamu tadi? “ aku terus berusaha menegurnnya namun sama sekali tak ada balasan.

“ Tak jauh dari sini ada barak khusus para wartawan. Lenganmu terluka dan aku mungkin bisa membantu mengobati lukamu disana.” Ucapku yang kini tak sengaja menyentuh luka di lengan kanannya. Ia tersentak dan menepis tanganku kasar.

“ Ma-maaf. “ Ia kini berbalik dan menatapku tajam. Tak melakukan apapun, ia berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya. Aku cukup takut mendapat respon tidak ramah sama sekali darinya hingga yang kulakukan kini hanya berdiri mematung menatap punggungnya.

Tak selang berapa lama, mataku membulat sempurna melihat pria itu memutar balik dan berjalan ke arahku. Jantungku berdentum dengan sangat keras, apa yang akan dilakukan pria misterius ini?

Aku sempat berhenti bernafas ketika ia hanya satu jengkal saja dari hadapanku. Aku tak berani untuk menatap matanya.

“ B-Bolehkah aku meminjam topimu? “

“ Huh? “ Respon otakku masih melambat ketika ia meminta ijin untuk meminjam topi hitam yang kupakai. Tak ingin bengong dan terlihat seperti orang bodoh terlalu lama, aku melepas topiku perlahan dan memberikannya.

Ia segera menyambut topi ku dan mengenakannya. Ia tampak merapikan rambut-rambut coklat gelapnya yang mencuat tak tertutup topi. Tanpa mengucapkan terima kasih, pria itu pergi meninggalkanku. Pria yang mengaku wartawan Hapdong itu benar-benar menghilang dari pandanganku.


Aku duduk bersila di tepi halaman Gedung Biru yang telah dipenuhi warga sejak pagi. Panas matahari yang menyengat dan suasana yang bising membuat energiku gampang terkuras habis. Aku beristirahat sebentar dengan Seulgi sambil menikmati air mineral kami. Sedangkan rekanku yang lain masih berkutat dengan tugas ditengah lautan warga yang mulai kemarin berpindah dari Gedung JSA ke Gedung Biru, tempat pejabat Korsel dan Korut biasa berunding.

Tujuan mereka masih sama, yaitu menuntut ditutupnya kawasan DMZ sebagai objek pariwisata.

Aksi mereka perlahan mulai mendapat perhatian dari petinggi Korea Selatan. Karena buktinya, setelah unjuk rasa yang telah berlangsung selama 4 hari ini warga dijanjikan dapat bertemu dengan pimpinan militer Korea Selatan pukul 2 siang nanti.

Aku melihat jam tangan yang bertengger di pergelangan tanganku. Pukul 2 kurang 10 menit. Itu tandanya sebentar lagi pimpinan militer itu akan keluar.

Aku mengarahkan ponselku dan berkaca pada layarnya. Ku rapikan asal rambutku yang lama tak kusisir. Bahkan aku tak sanggup menyebut diriku anak gadis karena terakhir kali aku membersihkan diriku yaitu dua hari yang lalu. Tidak sempat mandi di kalangan wartawan hectic seperti kami memang sudah biasa. Kami memang hanya fokus memburu berita.

Aku mulai memperhatikan wajahku yang tampak kusam. Tanpa topiku, aku banyak tersengat panas matahari. Oh, ngomong-omong soal topi, aku jadi teringat pria asing yang meminjam topiku tempo hari. Ia belum mengembalikannya. Jika ia benar wartawan, bahkan dua hari ini aku tak pernah melihatnya di kerumunan wartawan lain yang sedang meliput.

“ Let’s go miss Bae! Park Chunghee sudah keluar. “ ucap Seulgi membuyarkan aktivitasku. Kami berdua buru-buru beranjak dan bergabung pada kerumunan warga yang antusias melihat Park Chunghee, pimpinan militer Korsel yang benar-benar keluar dari Gedung Biru.

Aku dan Seulgi berpencar. Seulgi siap dengan recordernya dan aku siap dengan kameraku. Aku ikut berdesakan dengan para warga unjuk rasa yang berjinjit-jinjit untuk melihat dan mendengarkan sambutan Park Chunghee.

Sial sekali. Sudah 5 menit berlalu namun tak ada foto yang bagus yang dapat kuambil. Kebanyakan terhalang oleh warga yang lebih tinggi dariku. Aku tetap berusaha mengangkat kameraku tinggi-tinggi dan menekan tombol capture-nya.

Ketika aku mulai frustasi dan berusaha mencari-cari tempat yang lebih tinggi untuk mengambil gambar, seseorang mengambil kameraku tanpa permisi dan mengarahkannya pada Park Chunghee. Ia dengan santainya mengambil beberapa jepret gambar melalui kameraku dengan memanfaatkan tinggi badannya. Kusipitkan mataku yang mencoba mengenali figurnya namun tampak tak terlalu jelas karena terhalang oleh teriknya matahari.

Aku tersentak kaget ketika ia tiba-tiba menoleh padaku dan memasangkan topi hitam diatas kepalaku.

“ Terima kasih topinya, “ ucapnya dengan suara bass yang khas.

Bukankah dia?

“ Kau? “ aku melongo tidak percaya. Pria itu menyunggingkan senyum padaku. Setelah mengamatinya dengan seksama kini aku yakin betul bahwa pria ini adalah pria yang kutemui tempo hari.

Penampilannya sedikit berbeda. Kaos hitam dibalut bomber jacket sederhana serta tetap memakai ripped jeans. Ia menggunakan headband didahinya yang menyebabkan rambut coklat gelapnya terbelah rapi menjadi dua. Wajahnya putih bersih meski bekas lebam di wajahnya tak sepenuhnya menghilang, garis hidung yang sempurna dan kedua alis yang tebal. Ditambah senyum ramahnya yang ia tujukan padaku kali ini. Berbeda sekali dengan kesan dingin saat pertama kali bertemu.

Ia menyerahkan kameraku kembali sambil membawa kamera yang lain ditangan kirinya. Aku tersenyum senang melihat gambar-gambar hasil jepretannya yang menampilkan Park Chunghee dengan jelas.

“ Terima kasih,— “

“ Kim Taehyung, panggil saja Taehyung. “ potongnya seakan mengerti maksudku.

“ Taehyung-ssi. “ sambungku lagi.

“ Maaf tentang sikapku tempo hari, aku pasti membuatmu takut.” Ucapnya dengan nada sedikit menyesal.

“ Iya. Bahkan melihatmu tersenyum padaku sekarang membuatku lebih takut. “ Candaku dan tanpa kusadari kami berdua tertawa bersama.

“ Lukamu sudah sembuh? “ Tanyaku padanya dengan pandangan fokus ke depan. Memperhatikan Park Chunghee yang mulai mengakhiri pidatonya.

“ Begitulah. Untung saja pelurunya tidak benar-benar menancap di lenganku. Hanya menyerempet. “ ujarnya lagi dan aku hanya mengangguk tanda mengerti.

“ Oh iya, namamu siapa? “

“ Joohyun. Bae Joohyun. “

“ Oooh, Joohyun. Bae-Joo-hyun. “ kudengar ia mengulang namaku dengan ejaan. Aku tersenyum ke arahnya dan ia membalasnya dengan tersenyum pula. Manis. Sangat manis.


Setelah merangkum sumber berita hari ini yang berasal dari Gedung Biru, aku meninjaunya kembali sebelum ku kirim pada editor berita harianku. Setelah kurasa cukup, aku segera mengirimnya via email.

Kesimpulan yang kudapat hari ini adalah pimpinan militer Park Chunghee menyatakan bahwa tidak akan menutup DMZ sebagai tujuan wisata. Pihaknya akan terus melakukan investigasi lebih lanjut mengenai sebab kematian wisatawan DMZ. Jika investigasi menemukan adanya kaitan Korut dengan kematian wisatawan negaranya, maka ia baru akan benar-benar menutup DMZ secara permanen.

Ku tutup laptopku dan mengamati Taehyung dari tempatku duduk. Ia tampak sibuk berkutat dengan laptopnya. Pasti mengerjakan hal yang sama seperti yang kukerjakan. Aku mengajaknya kemari, ke barak tempat kami para wartawan berkumpul. Aku juga sempat mengenalkannya pada rekan-rekanku yang lain. Ia ramah dan banyak tersenyum.

Sehun mengagetkanku dengan duduk disampingku sambil menyodorkan minuman kesukaanku, teh hangat. Mata Sehun mengikuti ekor mataku yang kedapatan mengamati Taehyung dari kejauhan.

“ Kau yakin dia wartawan dari Hapdong? “ ucap Sehun setengah berbisik padaku. Aku menoleh dan mengernyit padanya.

“ Bukan maksudku meragukannya Bae, tapi coba kau pikir, wartawan Hapdong hari ini resmi meninggalkan Panmunjom setelah kejadian hilangnya salah satu wartawannya. Lalu kenapa dia masih ada disini? “

“ Bukannya kau sudah tahu alasannya tadi? “ jawabku sedikit malas. Sehun jelas-jelas tahu bahwa Taehyung telah mengatakan bahwa ia kini satu-satunya tumpuan Hapdong yang dipercaya untuk tetap meliput Panmunjom sementara wartawan lainnya telah kembali.

“ Iya sih, hanya saja … ini pertama kali aku melihatnya. Ia sangat asing untuk ukuran wartawan yang sering kujumpai.” Ia masih saja meragu.

“ Itu artinya kau masih kurang bergaul, Hun. “ balasku tak ambil pusing. Aku segera beranjak meninggalkan Sehun untuk menyimpan peralatan kerjaku.

Sejak saat itu aku menjadi semakin dekat dengan Taehyung. Dekat dalam arti teman. Ya, kami sering meliput berita bersama-sama. Lebih tepatnya dia yang selalu mengekor padaku. Bahkan tak jarang dia memanggilku dengan sebutan akrab yang selama ini diberikan oleh rekan jurnalisku.

Aku tak tahu banyak tentang Kim Taehyung, yang kutahu hanyalah bahwa dia senang mengenakan headband dan lebih muda dariku 4 tahun. Aku baru mengetahui sisi lain dari dirinya yang sangat menyenangkan. Kesan dingin, cuek, dan misterius saat pertama kali bertemu dengannya melebur begitu saja seiring waktu yang banyak kuhabiskan dengannya. Dia cerewet sekali. Banyak bertanya ini itu padaku. Jika menemui hal baru dia akan dengan sangat fokus mengamatinya. Kalau sudah begitu, aku tidak bisa untuk tidak tersenyum kecil. Eskpresinya sangat lucu seakan dia baru pertama kali melihat dunia luar.

Aku sangat menyukai suara beratnya yang khas. Apapun yang ada pada dirinya menurutku unik. Aku dapat melihat sisi kekanakannya ketika sedang mengunyah makanan, lalu dengan singkat dapat berubah menjadi sosok dewasa dan pelindung ketika ia sedang berbicara serius seperti misalnya mengurus perijinan liputan wartawan pada tentara militer.

Meski aku sudah akrab, entah mengapa hati kecilku masih menyimpan sisi misterius dari dirinya. Sampai saat ini aku tak pernah tahu dimana ia tinggal, kami selalu berpisah dijalan setelah menghabiskan waktu seharian bersama. Ponselnya tampak kuno dan tidak mengikuti perkembangan, menurutnya ia cukup memerlukannya untuk berkirim pesan atau menelfon saja.

“ Miss Bae! “ Teriak Taehyung mengagetkanku. Akibat ulahnya hampir saja kameraku lepas dari tanganku karena kaget. Aku segera menarik lehernya dan mengamit erat dengan lenganku. Aku tertawa puas melihat dia merintih dan mengaduh ampun. Ya, kadang begini kami menghabiskan waktu.

“ Ada apa? Wajahmu kusut. “ tanyanya sambil memegangi lehernya setelah aku melepaskannya.

“ Capek Tae, “ jawabku sekenanya.

“ Kau ingin segera kembali ke Seoul? “ tanyanya sarkastik.

“ Bukan seperti itu juga. Tapi, ya capek. Mengelilingi Panmunjom selama 5 hari demi meliput suasana pasca unjuk rasa itu benar-benar melelahkan, “ keluhku. Tiba-tiba Taehyung beranjak dari duduknya dan menarik tanganku.

“ Ikut aku yuk, “

Aku sedikit meronta karena tanpa persetujuanku Taehyung menarik tanganku dan mengajakku pergi. Bahkan aku belum sempat pamit pada teman-temanku. Dari kejauhan aku sempat melihat Sehun yang menatapku dengan Taehyung tajam.

Gila. Taehyung pasti sudah gila. Kalian tahu ia membawaku kemana? Puncak bangunan lantai 8 yang berada di desa Gijeong-dong, Korea Utara. Aku berusaha mencegahnya namun ia terus meyakinkanku bahwa tidak akan terjadi apa-apa nantinya.

Dengan hati yang masih berkecamuk akhirnya aku mendudukkan tubuhku disampingnya. Pukul 11 malam di rooftop dengan angin yang menerbangkan rambut panjangku kesana kemari.

“ Lihatlah langit diatasmu, cantik bukan? “ Taehyung menyuruhku untuk mendongakkan kepalaku keatas. Pemandangan yang kujumpai ternyata benar sangat cantik. Aku bisa melihat dengan jelas jutaan bintang bertaburan di langit lepas.

Aku dikagetkan dengan beberapa roket yang tampak kecil dari kejauhan melintas membelah langit. Namun tak lama membuahkan takjub padaku karena beberapa roket dan senjata missil milik Korut yang melintas di langit menimbulkan warna api yang indah. Aku tak menyangka, uji coba senjata mengerikan itu justru tampak indah dari puncak bangunan ini.

Aku sempat menoleh pada Taehyung yang tersenyum fokus menatap langit. Ada perasaan damai yang kulihat dari senyumnya.

“ Bae-ah, “ Suara bassnya memanggilku ketika kami berdua terdiam.

“ Hmm? “

“ Aku ingin bertanya padamu, mengapa kau ingin bekerja sebagai wartawan? “ tanyanya kali ini dengan nada sedikit serius.

“ Memangnya kenapa? “ aku membalasnya dengan senyum.

“ Tidak. Hanya saja menurutku kau terlalu cantik untuk menjadi seorang wartawan.” Ucapnya yang seketika membuatku merona. Jangan katakan bahwa pria yang lebih muda dariku ini sedang menggombal.

“ Sialan kau, “ aku terkekeh pelan.

“ Hei, aku serius. “ jawabnya lagi.

“ Hmm. Alasanku, karena dengan menjadi wartawan aku tak akan memikirkan hal lain selain mencari berita. Kupikir itu lebih menyenangkan daripada memikirkan hal lain seperti cinta misalnya. Aku memiliki kenangan buruk tentang orang tuaku yang berpisah. ” terangku mulai mengingat kenangan buruk itu.

“ Apa hubungannya? “

“ Sedari kecil pemandangan orang tua yang sedang bertengkar itu adalah makanan sehari-hariku. Kau tahu? Orang tuaku itu ibarat Korsel dan Korut. Selamanya tak akan pernah bisa bersatu. Mereka dipertemukan oleh cinta namun kemudian saling membenci dan bertikai. Maka dari itu aku mencari kesibukan yang akan benar-benar melupakanku pada cinta yang rumit dan berbahaya itu. “

Taehyung terdiam.

“ Apa cinta itu sama seperti perasaan menyukai seseorang? “  Bukannya menjawab, aku justru tertawa lepas. Aku fikir dia lebih ahli dariku soal urusan cinta mengingat dengan wajah tampannya ini mustahil tak ada wanita yang mendekatinya.

“ Pertanyaanku lucu ya Bae? “ ia menggaruk tengkuknya canggung. Aku menggeleng pelan.

“ Entahlah. Jangan tanya soal cinta padaku, sudah kubilang aku tak pernah memikirkannya.”

“ Tapi aku tahu dari Seulgi bahwa, seseorang akan merasakan cinta ketika ia memiliki perasaan membuncah dimana ia ingin selalu bertemu seseorang itu kapan saja, ia tidak akan membiarkan seseorang itu terluka, celaka maupun dalam keadaan sulit, dan hal yang paling membahagiakan adalah ketika berada disisi seseorang itu dan melihatnya tersenyum manis. “ lanjutku.

“ Ooh, begitu ya, “ Taehyung mengangguk angguk kecil sambil menatapku dalam pandangan yang sulit kuartikan.


Hari ini adalah hari ke-25 aku berada di Panmunjom. Entah sampai kapan atasanku menyuruh kami berhenti meliput, namun yang jelas aku mencoba menikmati hari-hariku disini. Kali ini aku dan rekan-rekanku diijinkan meliput jalannya pertemuan rahasia militer Korsel dalam merencanakan pertahanan negara. Aku sempat melihat Taehyung yang justru sibuk bermain ponselnya daripada memperhatikan rapat yang berlangsung. Ketika aku akan menegurnya dia sudah pamit undur dari karena suatu urusan yang tak kuketahui.

Akhir-akhir ini aku mulai jarang bertemu Taehyung. Setelah sehari bertemu, berikutnya 1-2 hari aku tak akan berjumpa dengannya. Ketika kutanyakan kabarnya lewat pesan, dia hanya akan menjawab bahwa dia tak ada jadwal dari atasannya untuk meliput di hari itu.

Kali ini aku, Sehun dan Chanyeol akan merapat ke gedung JSA. Kami biasa melewati jalur khusus wartawan yang hanya kami para wartawan yang tahu. Semacam akses jalan tikus. Namun anehnya, hari ini Taehyung mengirim pesan padaku yang melarang untuk melewati jalur itu. Aku mendesaknya untuk memberikan alasan, namun ia hanya memohon padaku untuk tak melewatinya. Aku menurut saja dan mengajak Sehun dan Chanyeol melewati jalur lain menuju JSA.

Setelah usai meliput berita di JSA, kami para wartawan dari beberapa kantor media secara mendadak mengadakan pertemuan. Pertemuan genting yang membahas kejadian yang telah terjadi hari ini. Aku orang pertama kali yang terkejut saat mengetahui beberapa rekan terluka ketika melewati jalur khusus wartawan. Mereka terluka akibat benda tajam yang terdapat pada jalur yang dilewati telah tertanam ranjau. Kemungkinan ranjau tersebut buatan Korut. Mengingat hampir bersamaan kami mendapat kabar bahwa hasil pertemuan rahasia militer Korsel tempo hari bocor di media cetak milik Korut.

Salah satu wartawan senior disini menduga terjadi provokasi dari Korut dalam bentuk spionase atau biasa disebut pengintaian. Mendadak suasana menjadi mencekam setelah mendengar kabar serius tersebut.

Chanyeol perlahan-lahan menarik diriku menjauh dari kerumunan.

“ Kumohon padamu Bae, mulai sekarang jauhi temanmu si Taehyung-Taehyung itu.”

“ Stop curiga dengan Taehyung, dia tak tahu apa-apa Yeol! “ ujarku mulai meninggi.

“ Kau bisa jelaskan bahwa ini suatu ketidaksengajaan? Bahkan ia melarangmu untuk mengambil jalur lain disaat jalur yang biasa kita lewati terdapat ranjau. Hanya wartawan saja selama ini yang tahu jalur itu, siapa lagi? “

Telingaku mulai memanas mendengar penuturan Chanyeol. Aku terdiam.

“ Kau tahu sekarang dia ada dimana? Mengapa disaat ada peristiwa penting di JSA dia tak meliput? Kau tahu dimana dia tinggal? Oh ayolah Bae, awalnya aku tak ingin mencurigai dia namun selama ini analisa Sehun memang ada benarnya. “

Aku benar-benar terbungkam dengan ucapan Chanyeol. Fikiranku terus mengarah pada Taehyung yang sekarang tak dapat kuhubungi. Apa benar Taehyung ada hubungannya dengan semua ini? Namun entah mengapa hati kecilku mengatakan tidak. Dia mungkin tahu sesuatu soal jalur yang biasa kita lewati, lalu ia mencegahku. Ia tak ingin aku celaka.

“ Maafkan aku Joohyun-ah, tapi ini semua untuk kebaikanmu. Kebaikan kita. Aku tak ingin sesuatu yang buruk menimpamu.” Ujarnya yang kini dengan nada rendah sambil mengelus kedua bahuku.


Kim Taehyung.

Aku terus memikirkan pria itu. Ada apa denganku ini Ya Tuhan?
Seiring berita terbaru bahwa Korsel dan Korut kini sedang memanas, sebanyak itu pula aku terus memikirkannya di otakku.

“ Ayo, captain sudah menunggu.” Seulgi membuyarkan lamunanku dengan menarik tanganku lembut menuju lapangan penerbangan. Aku hanya mengangguk dan membenarkan letak ranselku.

Aku, Seulgi dan Chanyeol akan bertolak ke Pulau Yeonpyeong hari ini. Pimpinanku secara mendadak mengutusku pergi kesana untuk meliput kegiatan militer yang melibatkan penduduk setempat.

Aku menatap Sehun dan Suho dari kejauhan yang melambaikan tangannya pada kami. Mereka tidak ikut dan tetap di Panmunjom. Dengan berat hati aku melangkah sambil sesekali menengok di antara kerumunan orang yang mengantar kami. Mataku tak dapat berbohong untuk mencari pria berbandana itu namun nihil.

Jujur aku sangat merindukannya.

Langkah kakiku mengikuti anak tangga pesawat berkapasitas kecil milik petugas militer Korsel. Kantor harian beritaku yang mengatur ini untuk kami para wartawannya.

Tiba-tiba ponselku berdering. Dengan malas kulihat layar ponselku yang menampilkan nama kontak, K-KIM TAEHYUNG?

“ Jangan pergi.” Suara bass itu seketika terngiang ditelingaku ketika aku berhenti melangkah untuk mengangkat panggilannya.

Mataku kembali pada kerumunan orang yang mengantarku tadi. Aku mencoba mencari sosoknya dan … aku menemukannya. Berdiri agak jauh dari tempat para wartawan dan pihak keamanan berdiri sambil mengangkat ponsel ditelinganya.

“ Tae— “ Lidahku terasa kelu bahkan untuk memanggil namanya. Aku tak tahu dengan diriku sendiri yang mendadak berkaca-kaca dan ingin menangis.

“ Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu. Kumohon jangan pergi. Bae Joohyun, “ mohonnya dan aku dapat merasakan ketulusannya.

Aku terus menatap bayangannya dan hatiku masih meragu. Seulgi kembali untuk menarikku masuk ke dalam pesawat namun kali ini aku menahannya. “ Aku tak bisa pergi Seul, maaf. ” setelah mengatakannya aku segera turun dari tangga pesawat dan sedikit berlari menuju tempat dimana Taehyung berdiri. Bahkan aku tak menengok sekalipun kebelakang untuk melihat bagaimana respon rekanku itu yang kutinggalkan.

Gila. Mungkin aku sudah gila. Demi pria yang kini berada beberapa meter saja didepanku ini aku meninggalkan tugas utamaku sebagai wartawan. Aku sempat menangkap senyum harunya dan seketika ia menyambutku dengan sebuah pelukan.

Ia memelukku erat. Aku tak tahu perasaan apa ini namun yang jelas hatiku berdesir. Aku mengeratkan pelukanku pada dada bidangnya yang hangat. Oh Tuhan aku sangat merindukan pria ini.

Taehyung perlahan melepaskan pelukannya dan menatapku. Ia mengunciku pada tatapan bola mata hazelnya yang indah. Ia tersenyum lalu tangannya merangkak naik ke kepalaku dan sesekali merapikan rambutku yang mencuat terbawa angin.

“ Aku merindukanmu Miss Bae, “ ujarnya.

Kali ini ia tak memakai headband  seperti biasa dan membiarkan rambutnya tampak berantakan. Mataku mulai menyadari ada yang ganjil di wajah tampannya. “ Wajahmu lebam, ada apa Tae? “ tanyaku kawatir sambil memeriksa lebam berwarna biru disekitar rahangnya.

Ia tak berkata apapun dan mengambil kedua tanganku yang berada di rahangnya lalu menggenggamnya erat. Ia memaksaku untuk menatap pantulan bayanganku di kedua bola matanya.

“ Ada hal yang ingin kusampaikan padamu. “ ujarnya dengan sesekali menunduk untuk menarik nafas beratnya.

“ Apa? Katakan.”

Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya. “ A-aku … aku memiliki perasaan dimana aku ingin selalu melihatmu kapan saja, diantara siapapun aku paling tak ingin melihatmu terluka, celaka maupun dalam keadaan sulit, aku ingin kau tahu bahwa tak ada hal yang paling membahagiakan dalam hidupku kecuali ketika berada disisimu dan melihatmu tersenyum manis. Aku tak tahu apa itu namanya cinta, Miss Bae? “ tutur Taehyung sambil terus menatapku dalam.

Pria ini jatuh cinta padaku?

Aku masih terpaku dengan penuturannya. Kucoba mencari letak kebohongan disana namun tak ada. Ia tampak sangat polos sekali dimataku.

Aku berinisiatif mengecup bibir Taehyung dengan singkat bersamaan dengan suara pesawat lepas landas yang memekakkan telinga kami. Aku tak peduli lagi tentang rekanku yang telah berangkat ke Yeonpyeong, yang ku tahu adalah perasaanku yang telah jatuh dalam pesonanya.

Aku tersenyum melihat dirinya yang mematung. Ingin kudaratkan lagi kecupanku pada bibir lembutnya namun suara gertakan yang kudengar dari Sehun mengacaukanku. Aku menoleh dan mendapati Sehun dan Suho datang menghampiriku dengan serta merta menarikku paksa. Memaksa memisahkan aku dengan Taehyung. Jelas aku melakukan pemberontakan.

“ Kau benar-benar sudah gila Bae Joohyun! Batal ke Yeonpyeong demi pria ini? Dia berbahaya Bae, sadarlah! ” ujar Sehun penuh emosi.

“ Ya! Aku memang sudah gila! Apa pedulimu Oh Sehun? Tinggalkan aku! “ balasku tak kalah meninggi.

“ AKU PEDULI PADAMU BAE!! “ Sehun membentakku dengan tegas sementara pergelangan tanganku digenggamnya dengan erat. Sedetik kemudian dia menarikku menuju kendaraan kami yang terpakir tak jauh dari sini. Kulihat Taehyung ingin menyusulku namun Suho menghentikannya dengan melayangkan beberapa pukulan padanya hingga jatuh tersungkur.

Air mataku tak kuasa untuk kubendung lagi. Aku menyuruh Suho untuk berhenti memukulinya dan sebagai janji, aku menurut untuk mengikuti mereka kembali. Dengan terpaksa kutinggalkan Taehyung yang menatapku pasrah.

Tae, mengapa kau tak melakukan apapun untuk membela dirimu? Kau sebenarnya siapa?


Tinggal lah aku sekarang berada di kamar penginapan wartawan. Ponselku serta barang-barangku yang lain dibawa oleh Sehun. Diluar hujan terdengar sangat deras. Praktis tak ada yang kulakukan selain duduk meringkuk di pinggiran ranjang sambil menerawang pada kejadian tadi.

Sehun tiba-tiba masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Aku sempat menatapnya sekilas lalu membuang muka. Ia berdiri disampingku dengan tangan kirinya masuk kedalam saku sedang tangan lainnya membawa sebuah berkas. Berkas itu ia lempar di atas ranjangku pelan.

“ Apa ini? “ tanyaku lirih.

“ Berat memberitahumu soal ini, namun bagaimanapun kau harus tahu, Bae. “ Ucapnya yang membuatku penasaran untuk memeriksa berkas apakah itu.

Aku terkejut setengah mati, ketika tahu bahwa berkas ini adalah surat keterangan kematian dari pos keamanan militer atas nama Kim Taehyung, wartawan koran harian Hapdong berusia 23 tahun. Namun yang mengherankan foto yang terpasang bukanlah foto dari Taehyung yang selama ini kukenal.

“ Singkatnya, pria asing yang kau kenal itu menggunakan identitas wartawan Kim Taehyung dari Hapdong yang sudah beberapa minggu hilang. Kemarin ia ditemukan dalam keadaan tewas dengan dugaan dibunuh. “

“ Pesawat ke Yeonpyeong yang ditumpangi Seulgi dan Chanyeol sempat mengalami ledakan kecil tadi sore saat landing di bandara. Untungnya ledakannya tak sampai menghancurkan badan pesawat dan penumpangnya hanya mengalami luka ringan. Kau tahu itu ulah siapa? Penyusup dari Korut. Kau masih akan menyebut ini tak ada hubungannya dengan pria yang kau kenal itu? “ tutur Sehun.

Tubuhku seketika lemas mendengarnya. Pria yang selama ini kupercaya, ternyata adalah sosok yang mengerikan dan berbahaya. Tanpa terasa, buliran bening menetes dari pelupuk mataku. Aku menangis sejadi-jadinya. Menyesapi hati yang teramat perih mengetahui kenyataan ini.

Pria itu, setelah menyanjungku tinggi-tinggi dengan mengutarakan perasaannya padaku, sekarang rasanya seperti ditampar dan dijatuhkan dengan keras ke dasar bumi.

“ Maaf bukan maksudku membuatmu sedih Bae, “ ucap Sehun menenangku dengan mendekap kepalaku kedalam pelukannya. Ia mengelus rambutku sedangkan aku terus menangis. Menyesali perasaan bodohku yang dengan mudahnya jatuh cinta dengan seseorang tanpa kuketahui latar belakangnya sama sekali. Bodoh Bae, kau bodoh sekali.

Setelah aku merasa sedikit tenang, Sehun beranjak dari kamarku. Malam ini ia dan Suho akan mengurus surat-surat kepergian kami dari Panmunjom untuk kembali ke Seoul esok pagi. Aku berusaha menutup mataku dan berbaring di ranjang.

Sampai sebuah suara berisik kudengar dari arah jendela kamarku. Aku melihat seseorang sedang memanjat dinding penginapanku dan kini telah berada tepat dibalik jendela. Ia dengan hati-hati membuka jendelaku dan dengan mudahnya meloncat masuk kedalam kamarku dengan keadaan basah terkena air hujan.

Aku terpaku melihat Taehyung ada dihadapanku sekarang.

Bukan, namanya bukan Kim Taehyung.

Aku menatapnya takut. Tanpa sadar semakin ia melangkah mendekat, aku semakin menyeret tubuhku mundur. Ia menatapku heran yang tampak ketakutan setengah mati.

“ Bae-ah, “

Aku terus melangkah mundur hingga akhirnya terhenti pada dinding. Tubuhku bergetar. Aku mengisyaratkan tanganku untuk menyuruhnya berhenti. Namun ia mengindahkannya yang justru merengkuhku dalam pelukannya.

Ingin rasanya aku melepaskan diri namun hati bodohku ini berteriak jangan. Aku menangis lagi. Bodohnya aku karena kali ini kueratkan pelukanku dan bersandar dibahunya. Aku tak peduli lagi bajuku menempel sempurna pada tubuhnya yang basah nan dingin. Sungguh aku tak peduli itu.

Ia berusaha menenangkanku dengan membelai rambutku sabar. “ Aku tahu kau kecewa. Semua yang kau tahu tentangku semua adalah kebohongan. “ ucapnya setengah berbisik tepat ditelinga kananku. Aku masih memeluknya sambil sesenggukan.

“ Tapi satu hal yang ada dalam diriku yang tak bisa kubohongi. Perasaanku. Perasaanku padamu Bae, aku … menyukaimu. Tidak. Aku, mencintaimu. Bae Joohyun. Kumohon jangan menangis. “ suara bassnya terus terngiang di telingaku. Aku mengangkat wajahku untuk menatapnya. Jemarinya terangkat untuk mengusap mataku yang sembab.

“ Kau sebenarnya siapa? “ tanyaku dengan suara serak. Sedetik kemudian, pria didepanku ini justru membungkam bibirku dengan bibir lembutnya. Persetan soal jati dirinya karena aku benar-benar jatuh cinta dengan pria ini. Kupejamkan mataku dan membalas ciuman lembutnya. Kami berdua saling beradu menyalurkan perasaan masing-masing yang sungguh sulit dinyatakan secara langsung.

Brak.

Suara pintu yang terbuka secara kasar sontak membuatku kaget dan reflek ciuman kami terlepas. Disana terdapat beberapa tentara dan polisi yang jumlahnya tidak terlalu banyak mengepung kami sambil mengacungkan senjata.

“ Angkat tanganmu! Kau ditahan Kim Hansung! “ tegas polisi berkumis tipis itu pada Tae— Oh, H-Hansung?

Pria yang sempat mencumbuku itu segera berdiri dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah tanpa melakukan perlawanan. Sehun dengan sigap menarik tubuhku dan menjauhkan diriku dengannya. Sedangkan ia tampak pasrah digiring paksa dengan todongan senjata api diseluruh bagian sudutnya.

Ingin kususul pria itu namun lagi-lagi Sehun mencegahku. “ Dia merupakan salah satu mata-mata dari badan inteligen Korut, kau masih ingin membelanya? “ Damn! terkuaklah sudah. Rasanya ingin ku menangis mendengar kata mata-mata yang keluar dari mulut Sehun.

“ Berkemas sekarang karena kita akan kembali ke Seoul malam ini juga, “ Sehun menyuruhku kembali masuk ke dalam kamar. Harusnya kabar ini membuatku bahagia namun nyatanya dadaku teramat sakit. Jika aku meninggalkan Panmunjom, itu artinya aku akan benar-benar berpisah dengannya. Aku tak akan dapat bertemu dengannya lagi.

Kubulatkan tekadku dan seketika berlari meninggalkan Sehun. Kususul langkah para rombongan polisi yang terus mengawal itu namun beberapa dari mereka mencoba menghalangiku.

“ Nona, kembalilah. Tolong jangan halangi kami. “ aku tak menggubris ucapan tentara itu.

“ Tae, Taehyung-ah! ” panggilku frustasi. Pria itu menoleh padaku meski itu bukan nama aslinya. Ia memperhatikanku sambil terus berjalan tanpa menurunkan kedua tangannya di udara.

Aku memberinya isyarat jari kelingking yang dikibas-kibaskan. Aku yakin ia pasti mengerti maksudku. Isyarat itu sering kugunakan ketika salah satu dari kami ingin pergi ke rooftop, tempat biasa kami melihat pemandangan malam.

Kulihat ia mulai memfokuskan pandangan dan secepat kilat Taehyung menggunakan tenaganya untuk menendang tentara dan polisi yang mengepungnya hingga jatuh tersungkur. Ia segera meraih tanganku dan mengajakku berlari dengan cepat.

Kudengar suara murka polisi itu memerintahkan anak buahnya melalui handy talky untuk menangkap kami. Beberapa dari mereka mulai bangkit dan kembali mengejar.

Taehyung membawaku dalam langkahnya yang super cepat. Kami terus menuruni anak tangga dan menyusup melalui lorong-lorong menuju jalan keluar.

Kami disambut dengan tentara lain yang bergerak diluar gedung. Dengan lincah, Taehyung menghindarinya layaknya pro. Sepertinya ia dilatih untuk hal-hal seperti ini. Bahkan aku yang mulai takut mendengar letusan senjata api yang beberapa kali diarahkan kepada kami, Taehyung melindungiku dengan gestur lincahnya.

Kami terus berlari dan berlari dijalanan yang becek bekas hujan deras. Peluhku terus mengucur dan langkahku mulai terasa berat. Sedangkan para tentara yang mengejar kami belum terdengar ketika kami sampai pada gang-gang sempit nan gelap.

Demi bersama orang ini, aku harus berbuat ini? Aku memang sudah gila.

Sejenak ku hentikan langkahku dan mengatur nafasku yang kini mulai tersenggal-senggal. Kakiku sakit dan sepertinya aku tak sanggup lagi menyamai langkah lebar Taehyung.

“ Bae, kau tidak apa? “ tanyanya kawatir. Aku menggeleng dan mencoba untuk melangkah lagi namun kakiku tak sanggup lagi. Kenapa disaat seperti ini kakiku justru bermasalah?

Taehyung menarik tubuhku menuju bagian dibalik tembok gang yang lebih aman. Kami bersembunyi sementara mengumpulkan tenaga. Taehyung, dengan nafas yang masih terengah ikut memeriksa kakiku karena aku terus mengaduh kesakitan, sementara kuketahui wajahnya antara panik dan kawatir para tentara itu menemukan kami.

Ia menangkup wajahku, aku menatapnya dengan lemas.

“ Kau pucat Bae, “

Ia tampak berpikir sejenak lalu kemudian bersuara lagi. “ Sebaiknya kita berpisah disini saja. Kau, kembalilah pada mereka. “

Aku menggeleng. Jelas aku tidak mau. Aku ingin tetap bersamanya.

“ Tidak mungkin. Kau tidak mungkin lanjut, lihatlah kondisimu Bae. ”

“ Aku tidak mau! Jika aku kembali aku tak akan pernah bertemu denganmu lagi Tae! ”

Taehyung menciumku dalam. Tak terasa air mataku meleleh. Ia menciumku sedikit rakus seakan benar-benar takut kehilanganku. Akupun sama. Perasaanku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

Taehyung menangkup wajahku lagi dan menatapku intens. Aku dapat melihat cairan bening disana.

“ Kau ingat ucapanmu di rooftop ? Korsel dan Korut selamanya tak akan pernah bisa bersatu. Seberapa keras kita mencoba, selamanya dunia tak akan membiarkan kita bersama. Jadi— “ Taehyung menggantungkan kalimatnya. Ia bernafas dengan berat dan menatapku lagi.

“ Kumohon tinggalkan aku. “

Aku menggeleng. Aku tak dapat berkata lagi selain menangis. Aku hanya ingin bersama dengan orang yang kucintai. Apa itu merupakah suatu kejahatan?

“ Seharusnya aku dapat membuat wanita yang aku cintai selalu tersenyum, tapi apa yang kulakukan sekarang. ” ujarnya sambil terus menyeka air mataku dan sesekali merapikan rambutku yang sedikit basah.

Tak lama suara derap langkah tentara itu kembali terdengar. Aku mengeratkan peganganku pada kaos yang dikenakan Taehyung. Ia mengaitkan jemarinya pada sela-sela jariku dan menggenggamnya erat. Matanya tampak melihat-lihat mencari bayangan para tentara itu.

“ Hei aku disini! “ teriaknya. Aku melotot kearahnya yang dengan gila memanggil para tentara itu kemari.

Taehyung mengecup bibirku beberapa kali sampai para tentara itu datang mengepung.

“ Kita berpisah disini ya. Tersenyumlah, karena kau gadis paling cantik yang pernah kutemui ketika tersenyum.“ Ujarnya padaku. Aku menangis dan terus menggeleng.

Ia mendorong tubuhku pelan kedepan menuju para tentara diujung gang yang mengacungkan senjatanya kearah kami. Sontak kaitan tangan kami terlepas.

“ Aku menyerah. Kali ini serius. Jaga gadis ini dan pastikan ia kembali ke Seoul dengan aman. “ terangnya pada para tentara itu. Aku berhenti untuk menoleh kearahnya. Apakah benar ini akhir dari pertemuan kami?

Taehyung tersenyum dan mengisyaratkan kedua tangannya yang menyuruhku untuk terus melangkah kedepan.

“ Aku tidak bisa meninggalkanmu Tae, “ ucapku ragu.

“ Kau harus bisa! “ yakinnya.

“ Aku mencintaimu. ” ia menatapku sendu.

“ Jika kau mencintaiku, tinggalkan aku dan kembalilah pada kehidupanmu. Jangan pernah sekalipun menengok kebelakang lagi Bae. Apapun yang terjadi. “

Akhirnya dengan sangat terpaksa aku berbalik dan berjalan meninggalkannya di balik punggungku. Langkahku berat. Terasa sangat berat.

Air mataku terus meleleh. Aku meninggalkannya dengan tanpa sekalipun menengok ke belakang lagi. Aku menyadari bahwa tak ada celah bagiku dan Taehyung untuk tetap bersama.

Ketika langkahku telah dekat kepada para tentara militer, tiba-tiba aku mendengar suara letusan yang keras berasal dari balik punggungku. Mataku membulat sempurna menyadari hal itu. Ti-tidak mungkin!

“ Apa? Dia membawa senjata api! “

“ Captain, tersangka menembakkan pelurunya tepat di pelipisnya. Dia bunuh diri.”

“ Cepat periksa tubuh mata-mata itu! “

Beberapa kalimat riuh beberapa polisi dihadapanku dapat kudengar dengan jelas ditelingaku. Rasanya seperti tersengat listrik. Tubuhku kaku dan mendadak pikiranku kosong. A-Apa yang Taehyung lakukan?

Para polisi dan tentara itu menerobos tubuhku dan menghambur berlawanan. Tubuhku terduduk lemas. Seberapa ingin aku melihat apa yang benar-benar terjadi, aku tidak akan melakukannya karena aku telah berjanji padanya untuk tidak menengok ke arahnya apapun yang terjadi.

Tuhan, apakah ini suatu kenyataan yang harus kuterima? Mendadak kepalaku pening dan terasa berat. Perlahan pandanganku mulai menghitam dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku karena semuanya menjadi gelap.
Seoul, Korea Selatan, 2017.

“ Baik, ini merupakan permintaan yang paling banyak diutarakan dari para penggemar, yaitu tolong deskripsikan secara langsung latar belakang tokoh Him di novel karangan anda. “ MC acara talkshow itu melontarkan pertanyaannya yang ketiga padaku dengan senyum yang terus merekah. Aku mengambil nafas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya.

“ Nama lahirnya adalah Kim Hansung. Ia tumbuh besar dalam lingkungan militer Korut bersama ayahnya yang merupakan tokoh pemerintahan disana. Sedari kecil ia diajari tentang militer dan hal-hal mengenai pertahanan negaranya. Tak ada hal lain yang ia ketahui selain cara bertahan diri dan mengoperasikan benda-benda api buatan negaranya. Ia tak pernah mengenal kasih sayang, bahkan dari ayahnya sendiri. Disaat teman-teman militernya berjuang melindungi negara untuk ibu dan ayah mereka, ia tak pernah tahu seperti apa rupa ibunya. Selama 24 tahun ia hidup, ayahnya selalu merahasiakan identitas ibunya yang setelah ia selidiki sendiri ternyata adalah wanita Korsel. Ia ingin sekali menemui ibunya, namun pemerintah seperti tak mengijinkannya dan memberikan misi untuknya menjadi mata-mata bagi Korsel. Jika kerjanya bagus maka ia akan dipertemukan dengan ibunya. Dihari pertama menjadi mata-mata di Panmunjom, niatnya diketahui oleh salah satu wartawan Hapdong. Ia dengan dingin membunuh wartawan tersebut dan memakai identitasnya sebagai penyamaran. Namun disela tugasnya, ia bertemu dengan gadis yang merupakan wartawan Yonhap. Ia mulai mengenal apa itu kasih sayang, cinta dan kebahagiaan bersama gadis itu. Ia mulai lupa dengan tujuan utamanya. Tujuannya sebagai mata-mata tak berjalan mulus seiring niatnya yang mulai berubah menjadi melindungi gadis tersebut. Kebahagiaannya terasa cukup hanya dengan bertemu gadis itu disaat keinginannya untuk bertemu ibunya tak urung diwujudkan oleh pemerintah negaranya. Ia semakin tahu banyak hal. Bahkan ia tahu jika Korsel dan Korut selamanya tak akan pernah dapat bersatu. Ia memilih mati, mengubur perasaan bahagianya dalam-dalam daripada hidup namun terpisah oleh konflik negara yang membuatnya lelah sedari kecil. Ya, cukup. Seperti itulah latar belakangnya. ” Ku akhiri jawaban panjangku dengan senyuman lebar kepada sang MC.

“ Wow, luar biasa sekali kita dapat mendengar ulasannya secara langsung oleh Bae Joohyun pengarang novel best seller Panmunjom and Him yang juga merupakan mantan jurnalis harian Yonhap. Beri tepuk tangan yang meriah.”

Aku menyunggingkan senyum ramahku pada dua ribu peserta talkshow di penjuru ruangan pentagon ini yang  terus bertepuk tangan meriah. Dibalik senyumku, tersimpan hati yang miris jika dipaksa mengingat peristiwa 10 tahun lalu yang entah rasanya masih segar berada diingatanku.

Kim Taehyung. Bukan, maksudku Kim Hansung. Akan selalu memiliki tempat di hatiku yang paling dalam. Meski kini hampir seluruh hati dan jiwaku telah terpenuhi oleh seorang pria yang memangku putri kecilku yang kini tengah melambaikan tangannya padaku dari bangku VIP. Aku membalas lambaian tangannya dan tersenyum. Dia Oh Sehun dan Oh Hyunsoo, pelita hidupku.

END

Advertisements

2 thoughts on “[SEG Event] Panmunjom And Him

  1. Gila … Kisahnya sangat emosional huhu tanpa sadar sampai nangis waktu Irene sama Taehyung pisah huhuhu 😭

    Tapi akhirnya dia bahagia, walau sama pria lain … Syukurlah! Ditunggu ff lainnya, author-nim!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s