Ocean Eyes (Chapter 1) “Nightmare”

Ocean eyes

Author|Vania Akari|Casts|Han Seungwoo (X1) x OC|Genre|Angst, Romance|Lenght| Short Chapter|Rating|PG-15

Halo chingudeul!!! Setelah sekian lama hiatus akhirnya bisa balik lagi. Kali ini bersama main vocal dan leader rookie idol Han Seungwoo (X1) & (Viction). Ini short chapter jadi dipastikan akan selesai tepat waktu hehehe… Jangan lupa like, share, dan komennya. Itu sangat penting untuk asupan nutrisi author dalam menulis :))))

Happy Reading All!!!

Han Seungwoo, seorang singer songwriter terkemuka menjadi pasien hospies, sebuah tempat untuk pasien-pasien yang sudah tidak mempunyai harapan hidup lagi.
“Jangan terlalu mengkhawatirkanku, awas kau jatuh cinta pada pria yang sebentar lagi akan mati ini.”


Ia kembali berada di sana. Di sebuah ruangan gelap, dingin, pengab tanpa sinar sedikit pun. Aroma tidak sedap tercium dari sudut ruangan, tertumpuk di sana kain-kain penuh darah yang tak tercuci. Seorang gadis remaja berumur tidak lebih dari 18 tahun berdiri gemetar di balik sebuah pintu. Rambut hitamnnya yang bergelombang sudah basah dengan keringat dingin. Mulutnya hanya terdiam. Ia tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Seluruh tubuhnya terasa berat, ia tidak mampu menggerakkan kakinya sedikitpun. Mata coklatnya bergetar. Dari bola matanya tercermin seorang pria paruh baya yang datang mendekatinya dengan sebilah pisau di tangannya. Gadis itu perlahan mundur meraih sebuah benda tajam, seperti gunting yang tidak sengaja ia temukan di sana. Kemudian, rasa sakit menyebar dari perutnya sampai ke ubun-ubun kepalanya. Tangan kurusnya berusaha menahan benda tajam yang ada di perutnya masuk lebih dalam. Pikirannya kosong. Ia kira pada saat itu juga hidupnya akan berakhir bersamaan dengan jeritan menyakitkan yang menggaung di kepalanya. Ya, hari itu Lee Taera sudah mati.

“Dokter Lee, pasienmu di ruang 303 sedang kritis. Anda harus segera ke sana!!”

“Dokter Lee!!”

“Iya…aku akan segera ke sana”

Seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang bergelombang terbangun dari meja kerjanya yang berantakan. Ia mengikat kuda rambut hitamnya, mengusap keringat di dahinya dengan punggung tanggannya, kemudian segera berlari menuju ruang 303 ditemani oleh seorang perawat. Ia bertingkah seolah tidak terjadi apapun padanya, ia hanya baru bangun dari tidur siang singkat yang menyenangkan.

Begitu ia masuk ke ruang 303, keadaan pasien di sana sudah bersimbah darah. Pasien itu terus memuntahkan darah dari mulutnya. Ketika melihat darah yang tercecer di sekitar kasur pasien itu, dokter muda itu terlihat limbung sambil memegang kepalanya. Suara berdenging di telingaya mulai terdengar lagi diperburuk dengan sakit kepala yang menyerangnya tanpa ampun. Ia menyeimbangkan tubuhnya dengan berpegangan pada pembatas tempat tidur. Menutup matanya sejenak, kemudian mengambil nafas dalam-dalam.

“Dokter Lee anda tidak apa-apa?”

“Iya aku tidak apa-apa.”

Dokter Lee berusaha menegakkan tubuhnya kembali, dan mulai melakukan tindakan untuk pasien tersebut. Setelah beberapa menit berkutat dengan pekerjaannya, pendarahan pasien tersebut dapat dihentikan. Setelah memastikan keadaannya sudah stabil, Taera keluar dari sana, kemudian dengan lemas ia duduk di sebuah kursi yang ada di depan ruangan itu. Kepalanya tertunduk, rambutnya sudah tidak karuan, ia terlihat sangat kacau, noda darah yang menghiasi jasnya, sepatunya, juga beberapa di tangannya membuatnya seperti seorang kesatria yang kalah perang. Tapi, apa dia kalah? Tidak, karena pasiennya selamat dan iya, karena ia hampir kalah melawan emosinya sendiri. Ia memandangi noda darah di bajunya dengan pandangan jijik.

“Sudah lama aku lupa kalau darah itu sangat menjijikkan.”

“Siapa yang menjijikkan? Aku, kan? Hahaha”

Seorang pria muda sebaya dengannnya duduk di sampingnya. Ia membawa sebuah botol air mineral dan satu  botol obat. Tanpa instruksi, pria itu memasukkan sebuah pil ke mulut Taera dan memaksanya minum air dari botol itu.

“Minum dulu obatmu, sudah berapa kali aku bilang padamu untuk selalu membawa obat ini.” Taera berusaha memberontak, menolak untuk meminum benda bulat berwarna putih yang paling dibencinya itu, tapi usahanya sia-sia. Yang ada, ia malah hampir tersedak karena dipaksa menelan obat itu oleh pria yang ada di sampingnya.

“Sudah aku bilang aku tidak perlu meminum obat itu, aku baik-baik saja Choi Byungchan.”ujar Taera sambil mengusap air yang bercecer di sekitar mulutnya akibat pergulatannya tadi.

“Baik-baik saja katamu? Yang kulihat kau hampir pingsan saat melihat pasienmu sendiri. Ada apa denganmu Dokter Lee yang jenius? Apa karena ayahmu….”

“Dokter Choi, ini peringatanku yang terakhir kali. Sekali lagi aku mendengar kata-kata itu, akan aku masukkan hardisk eksternalmu yang berisi drama korea itu ke dalam toilet.” Jawab Taera dengan nada dingin. Suasana menjadi sangat hening. Aura Taera berubah, seolah-olah ia bisa membunuh siapa saja dengan tatapannya.

“Iya, iyaa… Taera-ya. Bisakah kau senyum sedikit saja, hah? Rasanya aku seperti mau diterkam oleh Valak yang ada di sampingku ha..ha..ha..” Choi Byungchan berusaha mencairkan suasana.

“Choi Byungchan…..”

“Auww!!!”

Taera merasa sesuatu mengenai kepalanya. Ia mengambil sebuah bola warna-warni yang menggelinding di depanya. Ia sudah tau siapa pelakunya. Anak-anak malang itu pasti sekarang sedang berlarian di koridor hospices tanpa alas kaki. Padahal anak-anak itu tidak boleh terlalu banyak bergerak dan melakukan banyak aktivitas. Anak-anak dengan penyakit mematikan yang sedang menunggu saat-saat terakhirnya malah menghabiskan waktu untuk bermain. Taera geram bagaimana orang tua mereka membiarkan anak mereka seperti itu, bukannya membuat mereka tetap di ranjang, minum obat, istirahat yang cukup, sehingga paling tidak usia mereka di dunia ini bisa sedikit bertambah bahkan jika beruntung mereka mungkin, bisa sembuh. Tugasnya sebagai dokter adalah memastikan pasiennya membaik bahkan memperoleh kesembuhan, dan itu semua hanya dapat diperoleh dengan melakukan terapi serta meminum obat-obatan dengan teratur. Ia tidak percaya mujizat, tidak ada yang namanya keajaiban di dalam kamus hidupnya, yang ada hanyalah kerja keras. Pasien jika ingin membaik harus bekerja keras. Begitu pun dengan dirinya, ia selalu bekerja keras agar bisa menjadi dokter terbaik, menemukan banyak obat baru dan cara baru untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Sehingga tidak ada yang perlu lagi menderita, apalagi di tangan seorang dokter.

“Anak-anak kembali ke kamar kalian masing-masing!” Dengan nada datar ia menengokkan kapalanya ke arah bola itu datang. Ia sudah siap untuk melihat wajah anak-anak yang hampir menangis karena takut pada dirinya, seorang dokter yang galak. Namun, yang pertama kali dilihatnya adalah seorang pria bertubuh tinggi tegap bertopi dengan bola warna-warni di tangannya. Wajah pucat pria itu terlihat menawan dengan senyum ramahnya. Mata almondnya bertemu dengan mata sayu Taera. Sementara anak-anak kecil berlindung di belakang tubuh pria itu.

“Apa dia dokter baru di sini? Meskipun dia seorang dokter, aku tidak bisa mentoleransi perbuatannya dengan memperbolehkan anak-anak bermain-main seperti itu.” Pikir Taera dalam hati. Belum sempat Taera mengucapkan apa yang dipikirannya, pria itu mendekatkan dirinya pada Taera kemudian menjulurkan tangannya.

“Perkenalkan aku Han Seungwoo. Mulai hari ini aku menjadi pasienmu, mohon rawat aku dengan baik Dokter Lee.” Taera menjabat tangan pria yang bernama Han Seungwoo itu dengan canggung. Ia tidak ingin berlama-lama menjabat tangan pria itu, ia benci disentuh oleh orang lain. Sementara Taera memandang pria itu penuh dengan tanda tanya, sang pria membalasnya dengan senyuman sebelum berbalik dan pergi dari sana.

“Aku tidak tahu ada pasien baru untukku  Aku kira tidak ada lagi yang mau menjadi pasienku karena reputasiku.” Kata Taera sambil berjalan menuju ke ruangannya. Byungchan mengikutinya di sampingnya, sambil memperhatikan Taera yang membaca dokumen pasien di tangannya.

“Apa kau tidak mengenalinya? Han Seungwoo, pasien barumu itu”

“Tidak. Aku tidak ingat pernah mengenal seseorang yang bernama Han Seungwoo.” Jawab Taera sekenanya.

“Wah, Taera-ya aku tidak percaya kau tidak mengenalnya. Dia itu penyanyi dan penulis lagu terkenal, semua orang di Korea pasti mengenalnya, ya kecuali kau gadis anti sosial.” Taera melirik Byungchan dengan tatapan dinginnya. Seketika Byungchan sadar ia salah memilih kata-kata.

“Bukan-bukan maksudku kau seorang dokter jenius, ya Lee Taera sang jenius yang anti sosial hahaha.” Setelah mengatakan itu, Byungchan segera berlari masuk ke ruangannya sebelum menjadi santapan rekannya itu.

—#—

Taera terus berjalan menuju lantai teratas hospice yang berada di pinggiran kota Seoul. Ia terus berjalan tanpa memperhartikan sekelilingnya. Ia sama sekali tidak menyapa perawat maupun sesama dokter yang berpas-pasan dengannya. Taera sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia memikirkan pasien barunya, Han Seungwoo. Ia heran bagaimana bisa bintang terkenal seperti itu tidak pernah memeriksakan kesehatannya sama sekali. Dari record pasien yang dibacanya, pertama kali ia memeriksakan dirinya adalah saat ia sudah mengalami sesak napas, sakit tak tertahankan di dadanya, dan juga memuntahkan darah. Lebih hebatnya lagi, pada hari itu juga ia menjadi pasien hospices, sebuah tempat untuk pasien-pasien yang sudah tidak mempunyai harapan hidup lagi. Ya, paling tidak mereka bisa menghabiskan sisa terakhir hidupnya tanpa rasa sakit. Han Seungwoo pasien barunya itu mengidap kanker paru-paru stadium 4 yang jika dalam teori medis, waktunya tidak akan lebih dari 6 bulan. Tapi, bagi seorang Lee Taera, selama pasien itu masih mau berjuang dan menuruti semua anjurannya ia yakin bisa membuatnya bertahan lebih lama, paling tidak 6 bulan lebih lama. Ya, itu kalau pasiennya masih mau berjuang, karena kebanyakan mereka memilih untuk lebih cepat mati dibandingkan harus menderita lebih lama.

Beberapa saat kemudian, ia tiba di kamar nomor 701. Ia tidak ingat ada kamar ini sebelumnya. Ia mengetuk pintu kamar itu, tidak ada yang menjawab dari dalam. Ia pun segera masuk ke ruangan itu, takut terjadi sesuatu yang buruk dengan pasiennya. Begitu ia melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tersebut, ia terkejut melihat betapa luasnya ruangan tersebut. Di pojok sebelah kiri ruangan ada sebuah studio rekaman kecil lengkap dengan peralatan pengubah musik. Di bagian kanan ruangan ada sebuah dapur kecil lengkap dengan sebuah kulkas besar, serta mini bar. Ruangan tamu juga ditempatkan terpisah. Sebuah TV layar datar 50 inch tergantung di depan sebuah ranjang rumah sakit, yang membuat ruangan tersebut masih bisa dibilang sebuah kamar untuk orang sakit. Ia tidak melihat pasiennya di ranjang rumah sakit, IV yang seharusnya terpasang di tangan pasiennya juga dibiarkan tergantung di sana. Taera menghela nafas, sepertinya ia akan mendapatkan pasien yang tidak ingin dibantunya hidup lebih lama.

Tiba-tiba pasiennya tersebut keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan sebuah handuk. Sang pasien seperti sudah berekspektasi melihat reaksi Taera yang akan berteriak kencang sambil menutup matanya, ya.. seperti yang sering ia lihat di drama-drama. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi, jauh di luar ekspektasinya. Taera memandang pria itu tanpa ekspresi. Taera mendekat kearahnya seperti seekor singa yang akan menerkam mangsanya. Dengan cekatan ia menarik tangan pasiennya, mendudukkannya di ranjang rumah sakit (dengan paksa), memakaikan pakaian rumah sakit padanya dengan mudahnya. Sebelum sempat menolak, ia segera memasang kembali IV ke tangan pasiennya. Sementara sang pasien pasrah saja diperlakukan seperti itu oleh dokternya. Sesekali ia memandang dokter muda itu dengan takjub.

“Han Seungwoo-ssi, anda tahu kan anda tidak boleh melepas infus di tangan anda? Anda juga tidak boleh ke kamar mandi sendiri, kalau anda ingin mandi anda bisa memanggil perawat. Anda juga tidak boleh terlalu banyak beraktifitas. Ingat seterkenal apapun anda, saya tidak akan memberikan keistimewaan apapun pada anda. Anda sama seperti pasien lain, karena saya dokter anda, anda harus mendengarkan saya jika anda ingin hidup lebih lama.”

“Dokter Lee, apakah anda tidak bisa lebih lembut sedikit pada pasienmu? Anda bahkan tidak canggung saat memakaikan baju pada pria dewasa. Ternyata benar rumor tentang anda hahaha.”

“Saya hanya bersikap profesional di sini Han Seungwoo-ssi. Jika anda merasa tidak nyaman dengan saya, anda bisa mengganti dokter lain.” Seperti biasa Taera mengatakannya dengan datar sambil memeriksa detak jantung dan suhu tubuh sang pasien kemudian mengetiknya di komputer yang ada di depan ranjang pasien.

“Saya tidak mungkin mengganti dokter lain. Tidak ada dokter onkologi yang lebih jenius dari dokter Lee Taera.” Jawab Seungwoo sambil tersenyum.

“Baguslah kalau anda sudah mengerti. Anda tinggal megikuti kata-kata saya. Meskipun saya tidak bisa menjanjikan kesembuhan pada anda, saya bisa memastikan anda bisa menikmati hidup tenar anda lebih lama. Dan untuk saya, nama saya bisa lebih dikenal lagi sehingga penelitian saya tidak diremehkan lagi.” Taera puas mendengar jawaban pasiennya. Ia rasa dengan menbantu Han Seungwoo ia bisa mendapatkan kepercayaan dari asosiasi kedokteran sehingga penelitiannya tentang obat kanker bisa didanai dan dikembangkan. Mimpinya untuk menjadi penemu obat penyakit tak tersembuhkan ini, sepertinya akan segera ia capai.

Akan tetapi, di luar dugaannya sang pasien yang dikiranya sangat kooperatif ini, malah melakukan hal sebaliknya. Seungwoo kembali melepaskan IV dari tangannya dan dengan santainya berjalan menuju ke dapur. Ia mengeluarkan bahan-bahan makanan dari kulkas kemudian mulai memasak.

“Han Seungwoo-ssi apa yang anda lakukan?” Kata Taera dengan nada sedikit keras.

“Saya sedang memasak, bukannya anda bisa melihatnya sendiri? Saya tidak bisa makan makanan yang bukan buatanku sendiri. Tenang saja saya sudah mendapat persetujuan ahli gizi untuk diet apa saja yang boleh saya makan. Saya masih bisa makan dengan baik jadi saya tidak perlu bergantung pada IV. Di seluruh ruangan ini sudah dilengkapi CCTV dan bel darurat. Saya sudah meminta untuk menaruh monitor pengamat CCTV di ruangan anda dan ruangan perawat. Jadi, meskipun saya harus mati saya tidak akan mati tanpa sepengetahuan anda.” Jawab Seungwoo tanpa menoleh sedikit pun pada sang dokter yang nampak jelas sedang menahan amarahnya.

“Kesepakatan kita adalah bagaimana membuat saya bisa hidup lebih lama sehingga bisa menyelamatkan nama baik anda. Jadi, dengan cara saya pun tidak apa-apa asalkan saya bisa bertahan hidup, kan? Ini cara saya bertahan hidup. Dan saya yakin jika cara saya gagal, saya masih mempunyai seorang dokter jenius yang bisa menyelamatkan saya. Benar kan dokter Lee?” Kemarahan Taera memuncak. Jika ia tetap di sana, sebentar lagi pasti dia akan meledak. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika ia sudah marah besar. Terakhir kali saat ia begitu marah pada pasiennya yang tidak mau mendengarkannya, tanpa sadar ia memukul pasiennya yang membuatnya dikenai sanksi disiplinary oleh asosiasi kedokteran. Ia tidak mau hal itu terulang lagi, ia memilih untuk mengalah kemudian keluar dari ruangan itu sambil mengumpat.

“Lee Taera, dia memang tidak pernah berubah. Ekspresi marahnya itu, aku masih mengingatnya dengan jelas.” Seungwoo tersenyum sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya.

–#–

 

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s