[Ficlet] When It’s Time to Bid Goodbye

1545223934621

WHEN IT’S TIME TO BID GOODBYE

.

Slice-of-life / 900++ words / General

Lee Euiwoong x [IZ*ONE] Yabuki Nako

“Janji ya, setelah ini kita tetap akan saling mengontak satu sama lain.”

© 2019 by graesthetic

I only own the plot. Big thanks to HyeKim for the beautiful moodboard.

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“Hai. Uhm … boleh aku masuk?”

Atensi Lee Euiwoong yang sedang sibuk memasukkan pakaian serta barang-barang miliknya yang lain ke dalam koper teralih oleh ketukan di pintu serta sapaan lembut yang menggelitik rungu. Euiwoong menoleh, lalu mendapati Yabuki Nako, putri bungsu keluarga bungsu Yabuki tempatnya tinggal selama tiga minggu ini, sedang berdiri di depan kamar yang ia tempati. Terdapat sebuah nampan pada tangan gadis itu.

“Oh, masuklah,” balas Euiwoong lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

Tungkai ramping Nako menguntai beberapa langkah masuk ke kamar. Terlukis sedikit keraguan di wajahnya. “Uhm, Euiwoong-san, aku punya segelas ocha hangat untukmu. Udara sedang dingin, dan ibu menyuruhku membuatkannya untukmu. Di manakah aku bisa meletakkan gelas ini?”

Sebelah tangan Euiwoong terulur menunjuk nakas yang berada di samping tempat tidur. “Letakkan saja di situ.”

“Oke.” Sesuai permintaan Euiwoong, perlahan Nako meletakkan gelas yang masih mengeluarkan asap tersebut di atas nakas.

Meski telah selesai melaksanakan perintah sang ibunda, Nako tak langsung beranjak dari kamar tersebut. Ia malah mengambil tempat duduk di pinggir tempat tidur, lalu mengamati Euiwoong yang tampak sibuk dengan barang-barang di lantai sekitarnya.

“Sedang bersiap-siap untuk pulang, ya?” Gadis Yabuki itu bertanya.

Euiwoong kembali menoleh, lantas mengangguk. Tiga minggu sudah Euiwoong lalui sebagai salah satu peserta pertukaran pelajar di sekolahnya. Selama tiga minggu tersebut, keluarga Yabuki-lah yang berperan sebagai keluarga angkatnya. Euiwoong tidur di rumah mereka, mandi dan makan bersama-sama mereka, bahkan tak jarang ikut dalam kegiatan keseharian mereka. Tiga minggu menjadi anak angkat keluarga Yabuki membuat Euiwoong merasa dekat dengan saudara-saudara barunya, termasuk Yabuki Nako. Euiwoong merasa ia sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka.

Sejujurnya, perasaan inilah yang membuatnya agak berat untuk pulang.

Uhm … tidak keberatan, kan, kalau aku tetap berada di sini?” Nako kembali mengajukan pertanyaan. “Maksudku, kalau kau merasa terganggu, aku bisa saja—“

“Tidak apa-apa, Nako-chan. Mengapa harus merasa terganggu?” Euiwoong tertawa kecil. “Justru aku butuh teman bicara agar ruangan ini tak terasa begitu sepi.”

Kedua sudut bibir Nako pun terangkat.

“Jadi, bagaimana kesanmu selama tinggal di sini, Euiwoong-san? Kau senang bisa berkunjung dan tinggal di Jepang?” Nako memancing konversasi.

Euiwoong tak langsung menjawab. Ia terlebih dahulu memasukkan sandal santainya ke dalam koper—menyelipkannya di balik tumpukan lipatan baju. “Menyenangkan. Banyak pengalaman baru yang aku dapati selama aku berada di Jepang. Aku jadi tahu lebih banyak kebudayaan Jepang, kebiasaan orang Jepang, mencicipi makanan-makanan Jepang, mengunjungi tempat-tempat terkenal di Jepang, dan masih banyak lagi.”

Nako tersenyum mendengar cerocosan Euiwoong. “Lalu, bagaimana kesanmu selama tinggal di rumah kami?”

“Sama. Menyenangkan. Kalian begitu ramah padaku. It was a pleasure for me untuk bisa berkenalan denganmu, kedua kakakmu, ayahmu, ibumu, dan menjadi bagian dari keluarga kalian.” Euiwoong berhenti sejenak untuk memasukkan botol gel rambutnya ke dalam koper—menyelipkannya di sela-sela pakaian. “Aku seperti menemukan keluarga kedua.”

Lagi-lagi, Nako menyunggingkan senyum manisnya. “Aku—Kami semua juga senang bisa menjadi keluarga angkatmu. Aku pribadi senang bisa berkenalan denganmu. Aku senang bisa mendapat teman baru. Teman dari luar negeri, itu adalah suatu hal yang menakjubkan.”

Setelah yakin bahwa hampir seluruh barang-barangnya sudah masuk ke dalam koper dan hanya menyisakan beberapa yang masih akan digunakan besok pagi sebelum benar-benar berangkat, Euiwoong pun menutup kopernya, tetapi tidak menguncinya. Kemudian ia memutar posisi duduk agar bisa berhadap-hadapan dengan Nako.

“Terima kasih, karena kalian telah menyambutku dengan baik,” ujar Euiwoong disertai dengan senyum tulus.

Nako balas tersenyum. Bola kepalanya naik turun. “Omong-omong, jam berapa penerbanganmu besok, Euiwoong-san?”

“Jam sembilan pagi. Tetapi kami sudah diminta untuk berkumpul di bandara dari pukul tujuh.” Euiwoong mengarahkan pandangannya untuk menatap dwimanik Nako lurus-lurus. “Kau mau mengantarku?”

“Aku ingin,” jawab Nako seraya raut wajahnya berubah sedih, “tetapi sayangnya besok aku harus mengikuti les balet pada saat yang bersamaan. Mungkin Ibu yang akan mengantarmu ke bandara.”

Euiwoong mengangguk pelan. “Tak apa.”

“Oh ya, Euiwoong-san. Aku punya sesuatu untukmu. Tunggu sebentar,” ucap Nako, lantas bangkit berdiri dan beranjak dari kamar tersebut, meninggalkan Euiwoong yang bahkan belum sempat menyahut. Sesaat kemudian, gadis itu kembali dan menyodorkan sebuah toples kecil pada Euiwoong.

“Apa ini?” tanya Euiwoong sambil membalik-balikkan toples berpita krem di tangannya tersebut.

“Moci.” Nako meletakkan kedua tangannya di balik badannya, agak malu untuk menjelaskan. “Uhm, aku tahu mungkin kau sudah membeli banyak moci yang akan kau bawa untuk oleh-oleh. Tetapi, ini moci buatanku sendiri. Plus, aku juga yang menghias toplesnya.”

Senyum Euiwoong mengembang mendengar penjelasan singkat Nako, seraya otaknya berputar keras, memikirkan kenang-kenangan apa yang bisa ia berikan khusus sebagai balasan kepada gadis itu, mengingat Nako yang membuat moci khusus untuknya.

Arigato. Aku akan memakannya dengan baik,” ujar Euiwoong sambil mengacungkan toplesnya.

Euiwoong menyimpan toples moci tersebut di kopernya. Setelahnya, sebelah tangannya berusaha membuka ikatan gelang yang ia kenakan di pergelangan tangannya. Ia telah mendapat ide mengenai apa yang harus ia berikan untuk Nako.

“Ulurkan tanganmu,” pinta Euiwoong.

Meski agak bingung, Nako pun menurut.

Dengan hati-hati, Euiwoong melingkarkan gelang hitamnya di pergelangan tangan kiri Nako, lantas mengikatnya hingga dipastikan bahwa gelang tersebut tidak akan terjatuh. Ia menepuk gelang yang telah terpasang rapi itu dua kali, lalu tersenyum.

“Ini kenang-kenangan dariku. Kelak, kalau kau merindukanku, kau tinggal melihat gelang ini,” ucap pemuda Lee itu dengan nada jenaka.

Tawa kecil Nako lolos, seraya sebuah pukulan ringan ia layangkan pada lengan lawan bicaranya. “Ada-ada saja ucapanmu ini. Kalau aku merindukanmu, aku tinggal menghubungimu. Zaman sudah canggih. Semua hal bisa dilakukan dengan adanya internet. Ck.”

“Aku hanya bercanda, Nako-chan,” balas Euiwoong. “Tapi, janji ya, setelah ini kita tidak akan putus kontak. Kita harus tetap menjalin komunikasi dan menghubungi satu sama lain lewat media sosial.”

“Janji, Euiwoong-san.”

“Oh ya, kau harus berjanji juga, jika suatu hari kelak kau berkesempatan berkunjung ke Korea Selatan, kau harus menghubungiku. Aku akan menunjukkan padamu tempat-tempat terbaik yang tak boleh dilewatkan di Korea Selatan. Oke?”

“Oke.”

Dan keduanya pun mengukir senyum.

Nako melirik jam dinding yang tergantung, lalu kembali menatap Euiwoong. “Euiwoong-san, kurasa kau sudah harus tidur, atau besok kau tidak bisa bangun dan akan ketinggalan pesawat. Oh ya, jangan lupa minum ocha-nya sebelum tidur. Meski sepertinya sekarang sudah menjadi dingin.”

“Oke, oke, Nako-chan. Kau juga sudah harus kembali ke kamarmu.”

Tungkai ramping Nako menguntai langkah menuju luar kamar. “Selamat tidur, Euiwoong-san. Jangan sampai terlambat bangun besok.” Sebelum benar-benar keluar kamar, gadis itu menggoyangkan pergelangan tangannya yang dihiasi gelang pemberian Euiwoong. “Dan terima kasih untuk kenang-kenangannya.”

Euiwoong menyisip ocha pemberian Nako—yang kini memang tak lagi mengeluarkan asap, lalu melambaikan tangannya kea rah gadis itu. “Selamat malam, Nako-chan.”

-fin-

A/N

LET ALL THE UWUs JUMP OUT! :3
Hahahaha … Aku somehow gemes aja ngeliat couple ini. Well, sebenarnya aku udah lebih dulu ngeship Euiwoong dengan member girlgroup lain, tetapi akhir-akhir ini banyak manip mereka bertebaran di Instagram dan aku kayak “WHAY MEREKA BERDUA SAMA SAMA MENGGEMASKAN” hahahaha aku sebagai kakak mereka rasanya pengen ngarungin mereka berdua terus nyulik mereka gitu saking gemesnya… Pengen uwel uwel rasanya

Anyway, aku sangat mengapresiasi kritik dan saran kalian yang membangun. Meninggalkan jejak tak ada salahnya, kan? 🙂

 

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s