[Vignette] Of an Epinephrine and the 3 Hours Flight

of an epinephrine and the 3 hours flight

OF AN EPINEPHRINE AND THE 3 HOURS FLIGHT

.

Slice-of-life / 1,7k++ words / General

[The Boyz] Kim Sunwoo x [Fromis_9] Lee Nagyung

Sebenarnya, Sunwoo bukan tipikal orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain

© 2019 by graesthetic

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“Permisi ….”

Sebenarnya, Sunwoo paling sebal pada orang yang masih mengajaknya berinteraksi di kala ia telah menyumpal telinga dengan earphone. Menurutnya, jika sepasang earphone telah terpasang baik di telinga, maka itu adalah tanda yang jelas bahwa orang tersebut sudah tidak ingin bercakap-cakap dan bermaksud untuk menikmati dunianya sendiri. Maka dari itu, ketika seorang gadis berdiri di sebelahnya dan menyapanya seperti ini, Sunwoo otomatis mengomel dalam hati. Kendati demikian, ia tak bisa berbuat apa-apa selain meladeni gadis tersebut.

“Ada apa?” Sunwoo balas bertanya. Sedikit nada kesal terselip dalam pertanyaannya.

Gadis dengan surai kombinasi abu-jingga itu melihat boarding pass dalam genggamannya sekilas, lalu pandangannya kembali terarah pada Sunwoo. “Ini kursi 16A?”

Sunwoo yang memang duduk di nomor 16B melirik kursi sebelahnya sekilas. “Ya,” jawabnya singkat, lantas mengatur kembali posisi duduk agar lebih nyaman untuk beristirahat.

“Saya duduk di nomor 16A,” ucap gadis itu lagi.

Sunwoo mengambil napas dalam, berusaha meredam emosinya yang sedikit tersulut. Perkataan gadis itu barusan mengisyaratkan bahwa Sunwoo harus bangkit berdiri dulu untuk beberapa saat agar sang gadis bisa duduk di bangkunya. Padahal Sunwoo sudah merasa nyaman dengan posisi duduknya.

Tapi, ayolah. Tidak lucu harus merasa emosi karena hal kecil seperti ini.

Akhirnya, Sunwoo bangkit dari duduknya dan berdiri di lorong pesawat yang sempit.

Gadis itu tidak segera duduk. Ia terlebih dulu memasukkan—berusaha memasukkan—ransel besar bawaannya ke dalam kabin pesawat. Tas ransel yang cukup besar, berbanding terbalik dengan badan sang gadis yang mungil, yang membuat Sunwoo bertanya-tanya mengapa gadis itu tidak memilih untuk memasukkan bawaannya ke dalam bagasi.

Tampaknya gadis itu kerepotan. Dengan maksud tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk duduk, akhirnya Sunwoo berinisiatif untuk membantu sang gadis. Dengan cekatan ia memasukkan ransel besar itu ke dalam kabin, memastikan bahwa benda tersebut telah terletak dengan baik, lalu menutup kabin dengan rapat.

“Terima kasih,” ucap sang gadis dengan senyum. Sunwoo hanya membalasnya dengan anggukan singkat.

Setelah dara tersebut duduk di kursinya, barulah Sunwoo duduk. Pemuda itu kembali menyumpal telinganya dengan earphone, bermaksud melanjutkan waktu pribadinya yang sempat tertunda.

“Oh ya, biasanya akan diberikan makan siang gratis pada penerbangan di jam tengah hari, kan?” Gadis di sebelahnya kembali berceletuk. Mau tidak mau Sunwoo harus melepas kembali earphone-nya dan meladeni ucapan sang gadis, karena jelas-jelas pandangan dara itu terarah padanya.

“Ya,” jawab Sunwoo singkat.

Tanpa Sunwoo duga sebelumnya, gadis itu mengulurkan tangan. Senyum manis tersungging di labium merahnya. “Uhm, perkenalkan. Namaku Lee Nagyung. Selama tiga jam ke depan kita akan duduk bersebelahan. Jadi, mohon bantuannya.”

Agak aneh memang gadis yang baru pertama kali ia temui tahu-tahu mengajak berkenalan seperti ini, tetapi Sunwoo balas menjabat tangan dara itu demi alasan kesopanan. “Kim Sunwoo,” balasnya memperkenalkan diri.

“Senang bertemu dengan Anda, Kim Sunwoo-ssi,” ucap gadis bernama Lee Nagyung itu masih dengan senyum. “Kalau boleh tahu, dalam rangka apa Anda pergi ke Jepang? Anda berasal dari Jepang, atau …?”

“Mengunjungi nenekku,” jawab Sunwoo pendek.

“Ah, begitu ya,” Bola kepala Nagyung naik-turun. “Kalau aku pergi ke Jepang untuk berlibur! Temanku bilang musim semi di Jepang sangat indah! Banyak tempat yang harus dikunjungi. Benarkah demikian?”

Sunwoo hanya mengangguk samar dan memberi senyum seadanya sebagai respon atas celotehan gadis itu. Menurutnya, tidak baik bersikap terlalu ramah dan menceritakan banyak hal pada seseorang yang baru pertama kali ia kenal.

Terdengar pengumuman dari awak kabin melalui pengeras suara yang mengatakan bahwa pesawat akan lepas landas dan perjalanan tiga jam mereka akan dimulai. Sunwoo mengeratkan sabuk pengamannya, kembali menyumpal earphone di telinganya, memasang hoodie jaketnya, lalu menutup mata.

Semoga ia benar-benar bisa beristirahat sekarang tanpa gangguan.

***

“Lee Nagyung-ssi ….”

Suara yang samar-samar memasuki indra pendengaran tersebut perlahan membangunkan sang gadis dari tidur singkatnya. Nagyung merapikan rambutnya ke belakang sambil menyipitkan mata untuk memfokuskan penglihatannya.

“Makan siang,” ucap seorang pemuda, penumpang yang duduk di sebelahnya.

Nagyung menerima kotak makan yang disodorkan pemuda itu. “Terima kasih, Kim Sunwoo-ssi,” ujar Nagyung balik. Ia kemudian membuka tutup kotak makan tersebut. Terdapat nasi, omelet, dan salad. Perut gadis itu otomatis mengeluarkan suara-suara aneh, meminta sang pemilik tubuh untuk segera menyantap makan siangnya.

Setelah beberapa suap nasi omelet ditelannya, Nagyung mulai menyadari sesuatu yang aneh. Muncul rasa gatal-gatal di leher, lipatan siku, serta lengan bawahnya. Anggota tubuh tersebut mulai mengeluarkan bintik-bintik merah, dan rasa gatal semakin menyebar ketika gadis itu menggaruknya. Selain itu, Nagyung juga merasa pandangannya mengabur.

Ada sesuatu yang salah dari makanan ini.

Nagyung memperlambat kunyahannya, mencoba menganalisa komposisi makan siang tersebut menggunakan lidah. Benar seperti dugaannya, terdapat rasa udang dari omelet yang ia santap.

Hal tersebut membuatnya panik. Nagyung memiliki alergi udang yang hebat; mengonsumsi panganan laut tersebut meski hanya sedikit sudah bisa membahayakan jiwanya. Cepat-cepat gadis itu meraih tas tangan yang ia letakkan di bawah kursi, mengaduk isi tasnya, mencari obat yang biasa ia gunakan bila alerginya kambuh. Epinefrin.

Dalam hati ia merutuki diri, mengapa bisa-bisanya ia tidak bertanya tentang detail dari makanan yang akan ia santap. Padahal biasanya Nagyung tak pernah lupa menanyakan konsumsi sebuah makanan untuk mencegah datangnya situasi seperti sekarang.

Tak kunjung menemukan obat tersebut, kepanikan Nagyung pun makin menjadi-jadi. Sementara, efek alerginya bertambah parah. Kini Nagyung merasa seperti ada yang mencekik lehernya dan menekan dadanya kuat-kuat, membuatnya kesulitan bernapas. Nagyung sudah berusaha bahkan dengan menepuk dadanya berkali-kali, tetapi tiada hasil.

“Kau baik-baik saja?”

Tidak bisa bernapas secara normal untuk beberapa saat membuat Nagyung mulai merasa lemas. Ia mendengar pertanyaan pemuda yang duduk di sebelahnya tersebut, tetapi tak mampu untuk memberikan jawaban. Sebagai respon, Nagyung yang sudah menundukkan kepala hanya menggeleng pelan, setelahnya menyenderkan kepalanya ke sandaran kursi dan memejamkan mata.

Ia bahkan pasrah ketika pemuda itu meraih lengannya.

“Kau punya alergi, Nagyung-ssi?”

Lagi-lagi Nagyung diam. Tak punya tenaga untuk sekadar menjawab.

“Aku punya obat alergi. Epinefrin. Tunggu sebentar.”

Mendengar informasi tersebut, semangat Nagyung untuk bertahan hidup kembali muncul. Setidaknya, ia punya harapan dan tidak akan mati konyol di pesawat ini—mati karena alergi yang kambuh.

“Ini,” pemuda bernama Kim Sunwoo itu meletakkan dua butir epinefrin di telapak tangan Nagyung. Tak lupa juga ia memberikan air mineral cup.

Masih dengan mata terpejam, Nagyung menenggak obat penyelamat hidupnya tersebut.

Dalam hati dipanjatkannya selaksa doa agar obat tersebut benar-benar berefek untuknya, dan ia dapat sampai di tujuannya dengan selamat.

***

Sunwoo bukan tipikal orang yang suka ikut campur dengan masalah orang lain. Prinsip hidupnya ialah selesaikan urusan masing-masing, tidak perlu terlibat dengan persoalan orang lain.

Tetapi untuk tiga jam terakhir ini, Sunwoo menyadari bahwa ia telah melanggar prinsip hidupnya sendiri. Tanpa bisa menolak, ia telah tertarik ke dalam persoalan Lee Nagyung, penumpang pesawat di sebelahnya. Sedikit demi sedikit, dari saat awal pertemuan di mana Sunwoo kerap merasa jengkel akibat Nagyung yang tak henti-hentinya merepotkannya, hingga sekarang pemuda itu sendiri yang berinisiatif memberi bantuan.

Sunwoo tidak ingin mengingat bagaimana perasaannya ketika melihat Nagyung beberapa saat yang lalu. Gadis itu terbatuk-batuk sambil beberapa kali menepuk—mungkin lebih tepat memukuli—dadanya. Sunwoo tahu bahwa dara itu sedang mengalami sesak napas. Untuk mengonfirmasi dugaannya, Sunwoo pun meraih lengan Nagyung. Diperhatikannya bintik—ruam—kemerahan di sekujur lengan sang gadis.

Sunwoo juga punya persoalan yang sama. Syok anafilaktik yang disebabkan oleh alergi. Ia akan mengalami kejadian persis seperti Nagyung setiap kali ia mengonsumsi panganan mengandung keju. Meski tidak tahu apa tepatnya yang menyebabkan alergi gadis itu kambuh, tetapi setidaknya mereka punya kesamaan.

Berhubung Sunwoo pribadi selalu membawa Epinefrin kemanapun ia pergi sebagai bentuk antisipasi akan kondisinya, ia cepat-cepat memberikan beberapa butir obatnya untuk Nagyung. Syok anafilaktik akan berujung pada kematian bila tak segera ditangani.

Kini, kondisi Nagyung sudah membaik. Ia bahkan telah tertidur dengan nyenyak, dengan kepala bersandar pada pundak Sunwoo. Pemuda itu tidak keberatan. Lebih baik membiarkan bahunya dijadikan alas kepala untuk beberapa saat daripada ia harus melihat Lee Nagyung kembali mendapat serangan.

Bahkan, meski pesawat telah mendarat dengan sempurna di bandara tujuan, ketika para penumpang lain mulai mengambil barang masing-masing dari dalam kabin dan bersiap turun dari pesawat, gadis darah Lee itu masih terlelap dengan posisi yang tak sedikitpun berubah.

“Maaf, Tuan,” seorang pramugari menghampiri Sunwoo, “tetapi sepertinya Anda harus membangunkan kekasih Anda.”

Sunwoo hanya mengulum senyum, tidak berniat mengoreksi kesalahpahaman pramugari tersebut. Pemuda itu pun menepuk pundak Nagyung pelan.

“Lee Nagyung-ssi, bangun. Kita sudah sampai.”

Sang dara membuka sebelah matanya, lalu sebelah lagi, kemudian merapikan rambut. Seakan baru tersadar akan posisinya selama terbang ke alam mimpi, Nagyung seketika menegakkan punggungnya dan mengerjap. Kesadarannya bagai terkumpul seluruhnya dalam sekejap.

“Oh, maafkan aku!” ujarnya sambil menepuk kepala pelan beberapa kali. “Sungguh, aku tidak bermaksud sengaja bersandar padamu, Sunwoo-ssi. Aku pasti sangat merepotkan, ya?”

“Tidak masalah,” Sunwoo tersenyum maklum. “Omong-omong, kau sudah merasa lebih baik, Nagyung-ssi?”

“Lebih baik,” balas Nagyung. “Terima kasih untuk obatnya. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpa pertolonganmu.”

Sunwoo mengangguk singkat. Lantas ia bangkit berdiri, bermaksud untuk bergabung dalam antrian para penumpang yang hendak keluar pesawat.

Tetapi panggilan Nagyung menghentikan langkahnya.

Sunwoo menoleh dan melemparkan tatapan bertanya pada gadis itu.

Uhm, boleh aku minta tolong untuk terakhir kalinya?” tanya Nagyung dengan ekspresi wajah memohon. Sungguh, raut wajah gadis itu membuat hati Sunwoo menghangat dan ia sama sekali tak bisa menolak permintaan lawan bicaranya.

“Silakan. Ada apa, Nagyung-ssi?”

Nagyung terlebih dahulu bangkit dari kursinya dan mengambil ranselnya yang berada dalam kabin—dengan bantuan Sunwoo pada akhirnya. Setelah itu, ia menatap Sunwoo dan berujar, “Bolehkah aku meminjam ponselmu? Aku lupa untuk mengisi daya ponselku dengan power bank. Aku harus menghubungi teman yang akan menjemputku.”

“Boleh,” sahut Sunwoo yang lantas merogoh kantung jaketnya dan menyerahkan ponselnya pada Nagyung. “Lagipula, melakukan pengisian daya barang elektronik di pesawat menggunakan power bank itu dilarang.”

“Oh, begitu ya?” Nagyung merespon. Kemudian dengan sedikit bantuan dari pemilik ponsel dalam genggamannya, Nagyung pun berhasil menghubungi kawannya.

Sementara Sunwoo menatap gadis Lee itu lekat-lekat, sedikit terkejut pada pesona Nagyung yang seakan mampu menarik Sunwoo keluar dari sifat aslinya. Ternyata sedikit ikut campur dengan urusan orang lain ada baiknya juga.

“Terima kasih,” Nagyung mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.

“Oh ya, Nagyung-ssi,” panggil Sunwoo.

“Hmm?”

Sunwoo mengangkat kedua sudut bibirnya, berusaha mengulas senyum paling ramah yang ia bisa berikan.

“Boleh aku minta nomor teleponmu? Supaya setelah ini kita bisa tetap saling menghubungi satu sama lain. Aku bisa menunjukkan padamu tempat-tempat wisata menarik di Jepang, yang tentunya tak boleh kau lewatkan ketika sedang berlibur. Boleh?”

Hembusan napas sang pemuda Kim otomatis keluar ketika gadis di hadapannya itu juga ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya tegas. “Tentu saja.”

.

“I’m colored by you.
Dazzling, and beautiful.”
–Love Tint (Yuehua Project)

-fin-

.

Glossarium:

  1. Syok anafilaktik : suatu reaksi alergi yang dapat menyebabkan hilangnya kesadaran atau bahkan kematian.
  2. Epinefrin : obat yang biasa digunakan untuk mengatasi syok anafilaktik, bekerja dengan melemaskan otot-otot saluran pernapasan dan mempersempit pembuluh darah, sehingga napas menjadi lega dan aliran darah ke sel tetap terjaga

A/N

  • Mau ngasih tau aja, tentang masalah alergi2an mereka berdua, itu cuma fiksi ya. Aku juga sebenarnya nggak tau pasti tentang alergi2an mereka hehehehe :v
  • Any The Boyz & Fromis_9 stans here?
  • Don’t forget to review 🙂

 

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s