[SEG Event] AFFLICTION TERRITORY

image-20170303_191100-01.jpeg

 

AFFLICTION TERRITORY
Title : Affliction Territory

Cast : Shin Hoseok (MONSTA X’s Wonho) x Han Chaeyeon (OC)

Other Cast : Son Hyunwoo (MONSTA X’s Shownu), Yoo Kihyun (MONSTA X’s Kihyun)

Genre : horror, mystery, angst

Rating : PG-15

Length : Oneshoot

Summary : “Tidurlah dengan nyenyak, Chaeyeon-ssi.” // “Sepertinya aku tak bisa tidur dengan nyenyak, tuan CEO.”

—Affliction Territory—

Suara gemericik air hujan dan bau tanah basah yang menguar masih menjadi favoritku. Disinilah aku bisa menemukan rasa kebebasan yang telah lama hilang. Titik-titik air hujan semakin melenyapkan butiran salju yang berserakan di jalan. Sepertinya musim dingin sudah mengucapkan selamat tinggal. Setelah sekian lama kupandang air yang jatuh dari langit itu, aku merasakan angin bertiup membelai rambut cokelat pendekku. Angin, tolong jangan bertiup kencang. Kau akan melenyapkan mendung ini.
Hujan di musim semi. Entah mengapa suasana ini cocok untukku. Walaupun kebanyakan orang beranggapan saat hujan turun adalah momen dramatis untuk meluapkan kesedihan, tetapi hal itu tidak berlaku bagiku. Aku merasakan kebahagiaan di antara suara tetes-tetes air yang menghujam bumi.
Perasaan nyaman yang menyelimuti diriku saat hujan turun sudah kurasakan sejak lama. Aku pun tak tahu pasti perasaan apa ini. Tapi yang pasti, memori otakku seolah menayangkan kembali kejadian-kejadian di masa lalu yang entah mengapa masih kusimpan di kepalaku. Seperti… cuplikan-cuplikan film yang datang dan pergi? Entahlah. Aku tak tahu apakah ini benar-benar memoriku ataukah hanya sekedar dé javu.
Aku melihat seseorang dalam bayanganku. Sepertinya seorang gadis dengan seragam sekolahnya. Ia berjalan di bawah naungan payung putih. Setiap ia melangkahkan converse navy-nya, suara kecipak dari genangan air terdengar. Apakah itu diriku? Jika itu aku, mengapa wajahku tampak blur dalam bayanganku sendiri?
Lalu cuplikan adegan lainnya datang—menggeser memori gadis berwajah blur dari lamunanku. Kali ini aku merasakan hangatnya genggaman tangan seseorang di antara rintik hujan di malam hari. Aku berpikir, mungkin inilah alasanku menyukai suara hujan dan bau tanah basah. Karena saat mereka datang, otakku akan mentransfer memori-memori yang tak pernah kuciptakan.
Krieeett. Suara pintu besi sialan itu kembali menyapa gendang telingaku. Suara yang membuatku ingin menjadi tuna rungu saja.
“Makan malam sudah siap.”
Seseorang berbaju putih yang sangat familiar melangkah masuk ke ruanganku lagi sembari membawa nampan alumunium berisi makan malamku.
“Sudah waktunya makan malam, Chaeyeon-ssi,” ujar orang itu lagi. Aku hanya bisa menatapnya dari balik retinaku yang siap mengeluarkan bola api kapan saja. Amarah ini sudah tak tertahankan dan bisa meledak sekarang juga. Harga diriku sudah terinjak oleh manusia-manusia itu. Apalah gunanya menjaga harga diri jika harga diriku sudah turun jauh di mata mereka.
“Aku tak bisa makan. Lepaskan ini dulu,” kataku datar. Aku tak menyangka suaraku akan menjadi serak seperti ini setelah berminggu-minggu mogok bicara.
Suster meraih tanganku yang berbalut borgol yang dikaitkan di salah satu ujung tempat tidur besi ini. Aku baru menyadari jika di pergelangan tanganku tercetak bekas luka akibat gelang besi sialan itu. Bagaimana tidak, jika aku bergerak sedikit saja, borgol itu akan membuatku merintih kesakitan.
“Sudah kubilang aku tidak gila,” kataku setelah suster berhasil melepaskan borgol laknat itu dari tanganku. Suster hanya menatapku dengan wajah menyeramkan seperti biasa dan menyodorkan nampan makan malamku tanpa sepatah kata pun.
“Dimana letak keadilan sekarang? Apakah hak asasi manusia sudah mati membusuk di tangan manusia-manusia seperti kalian?” tanyaku. Hah, ini sangat lucu. Aku sampai tak bisa menahan tawa cekikikanku.
Suster memberikan tatapan tajamnya lagi padaku. Sepertinya disini ialah orang gila yang sesungguhnya. “Ini makan malam terakhirmu. Nikmatilah selagi kau bisa,” bisiknya.
Euthanasia. Aku tidak bodoh untuk mengetahui hal ini. Tinggal menunggu waktu, apakah aku akan berakhir dengan tablet sianida atau serum berisi racun yang disuntikkan ke dalam tubuhku.
Aku memandangnya masih dengan tatapan kosong. Tapi sebenarnya di dalam diriku mulai muncul perasaan-perasaan gelisah dan ketakutan yang sangat mendalam. Hanya saja, aku tidak bisa mengekspresikannya. Manusia bejat macam apa yang berada di balik semua ini? Bahkan hewan yang akan disuntik mati pun melewati prosedur yang sesuai. Sementara aku harus menghadapi suntikan mati tanpa mengetahui apa kesalahanku dan mengapa aku harus terjebak dalam semua ini. Mungkin di mata mereka, aku lebih rendah dari seekor hewan.
Setelah kalimat suster menembus gendang telingaku dan sukses memacu adrenalinku, aku mulai menyendokkan nasi dengan sedikit gemetar. Suster yang melihatku dengan suapan pertamaku kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruanganku. Aku mengunyah dan terus mengunyah tanpa bisa merasakan bagaimana rasa nikmat makanan yang sesungguhnya. Lidahku seperti sudah lama mati rasa. Tidak, memang makanan ini yang hambar. Sepertinya ini dibuat tanpa niat.
Seperti biasa tiga puluh menit setelah aku menghabiskan makan malamku, suster kembali ke ruanganku dan mengambil kembali nampan makan malamku tanpa sepatah kata pun. Aku merasa seperti seekor hewan yang sedang diberi makan di kebun binatang. Bedanya, hewan-hewan itu mungkin lebih beruntung dariku karena mereka masih mendapatkan perhatian dan kasih sayang.
“Hujan masih turun rupanya,” lirihku. Kulihat di luar jendela, hujan masih turun deras dengan petir yang sesekali menyambar. Dari ruangan yang gelap ini, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana kilatan petir menyambar dari kejauhan.
“Pasti akan seru jika ia menyambar seseorang, hahahaha,” ujarku kepada angin yang berhembus menyapaku. Berada di ruangan gelap dan pengap dengan hujan deras di luar sana mungkin menjadi ketakutan tersendiri bagi orang-orang. Tapi berbeda denganku, aku sudah terbiasa melewati suasana mencekam seperti ini sendirian.
Suara petir kembali menembus gendang telingaku. Kali ini suaranya sangat lantang, seperti sebuah tembakan dari langit. Jika suaranya senyaring itu pasti kilatan cahayanya terlihat sangat ekstrem. Sayangnya aku tak sempat melihatnya.
Akhirnya sebuah kilatan pun tertangkap oleh indra penglihatanku. Aku berani bertaruh sebentar lagi pasti suaranya akan lebih lantang dari sebelumnya. Taruhan konyolku ternyata benar. Kali ini suaranya hampir membuat jantungku melompat keluar dari tempatnya. Disusul dengan sekelebatan memori sialan yang terbayang olehku.
Aku mengeratkan tanganku pada genggaman tangan lelaki itu. Kulirik ia pun sama terkejutnya denganku. Kami berdua sama-sama terkejut untuk sekedar mengucapkan sepatah kata. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk menuju tempat kejadian.
“Aku akan kesana menolong gadis malang itu. Kau, tetaplah disini. Telepon polisi dan ambulans sekarang juga,” perintahnya. Aku bisa mendengar suaranya goyah—tercekat dalam kerongkongannya.
Aku ikut berdiri setelah ia memutuskan untuk melangkahkan kaki kesana. Tapi kakiku sudah tak mampu lagi menopang berat tubuhku. Aku ambruk ke tanah setelah menyaksikan kejadian paling menakutkan yang pertama kalinya kulihat dalam hidupku. Sialnya, aku melihat si pemilik mobil mewah itu keluar dari dalam mobil. Ia berjalan sempoyongan mendekatinya dan…
“SHIN HOSEOK, AWAS!!”
BRAK!
Jantungku berdegup dengan kencang. Bukan karena suara petir itu, melainkan karena memori itu menimbulkan suatu trauma bagiku. Bibirku terus saja melenguh dan menyuarakan kalimat-kalimat yang tak dapat terdefinisi oleh manusia. Karena aku terlalu takut, aku tak ingat cara berbicara. Kali ini aku yakin semua ini benar-benar kejadian di masa laluku, bukan hanya sekedar dé javu. Sialnya aku tak ingat apa-apa tentang hal ini.
“As-astaga…. ap-apa ini…..” ujarku sembari mencoba mengingat-ingat. Aku adalah tipe orang yang benci jika melupakan sesuatu. Aku harus mengingatnya kembali sesegera mungkin. Karena otakku tak sanggup bekerja sama denganku, aku marah dan menjambaki rambutku yang terurai berantakan. Berharap otakku dapat bekerja dengan normal kembali.
“Berhenti menjambaki dirimu sendiri, rambutmu akan rusak,” kata seorang pria dengan suara lembutnya. Kurasa delusiku datang lagi karena aku mendengar suara seseorang padahal sedari tadi tak ada yang membuka pintu besi laknat itu.
“Siapa kau?” tanyaku. Tapi tetap tak ada respon dari pria itu. Kurasa aku memang sedang berhalusinasi. Sedetik kemudian, aku mengerang kesakitan karena tanganku berhasil mencabut berpuluh-puluh helai rambut dari kepalaku. Sayangnya otakku masih juga belum dapat mengingatnya.
“Sudah kubilang berhenti menjambaki dirimu sendiri seperti orang gila,” ujar pria itu lagi. Kali ini aku menghentikan kegiatanku dan mencari darimana suara tersebut berasal. Aku memicingkan mata, mengabsen setiap sudut ruangan dalam kegelapan ini. Hingga akhirnya tatapanku terpaku pada seorang pria yang sedang berdiri tak jauh dari tempat tidurku.
“Biarkan saja, lagipula orang-orang di dunia ini sudah menganggapku sebagai orang gila,” ujarku sambil menahan emosi. Lama-lama aku bisa melampiaskan amarahku pada pria yang tak kukenal itu.
“Kau tidak gila, sayang. Kau hanya tidak bisa menemukan keadilan.”
Pria itu melangkahkan kakinya mendekat padaku. Ia berdiri tepat di depan jendela besi dengan teralis—membuat cahaya remang dari luar tepat menyinari wajahnya. Apakah aku memang tak mengenalnya ataukah ia adalah wajah-wajah yang terlupakan, aku tak tahu. Yang pasti saat kulihat dari sini, ia benar-benar tampan.
“Siapa kau?” ulangku.
“Sayang sekali kau tak bisa mengingatku. Aku Shin Hoseok,” jawab lelaki itu disusul senyuman dari bibirnya yang entah mengapa terlihat sangat tulus.
“Siapa Shin Ho—“
“SHIN HOSEOK, AWAS!!”
Bagaikan tersambar petir, aku terkaget hingga peluh mulai muncul di dahiku. Aku sangat ketakutan—takut kehilangan pria itu lagi. Tanpa sadar, bulir-bulir bening turun dari kedua mataku yang memiliki lingkaran gelap di bawahnya. Bagaimana bisa wajah orang yang sangat berarti dalam hidupku hilang dalam ingatanku? Aku mencoba mengulurkan tanganku, mencoba memeluknya. Tetapi apa daya benda besi ini mengikat salah satu pergelangan tanganku dengan kuat. Membuatku melolong kesakitan memecah suara derasnya hujan di luar sana. Sepertinya sakit yang berasal dari tanganku dan yang muncul dari dalam hatiku melebur menjadi satu—aku merasa ini benar-benar menyakitkan.
Hoseok menghampiriku dengan tatapan khawatir dan duduk di tempat tidurku. “Lihat, tanganmu lecet. Seharusnya kau jangan terlalu banyak bergerak. Sudah kubilang jangan menjambaki rambutmu, kepala dan tanganmu akan sakit. Hentikan. Aku tak ingin melihatmu berdarah,” ujarnya panjang lebar. Aku tak ingat kapan terakhir kali aku mendengar omelannya.

 

Ia memeriksa pergelangan tanganku yang memerah seperti akan putus dari tanganku. Kemudian ia merengkuhku ke dalam pelukannya yang sudah lama kurindukan.
“Kemana saja kau, bodoh! Aku merindukanmu!” isakku. Pria bersurai hitam itu mengelus rambutku yang berantakan dan melontarkan kata maaf berulang kali.
“Tidurlah, kau harus menegakkan keadilan besok.”
“Tidak mau. Jika aku memejamkan mataku, aku takut kau akan lenyap lagi dan tak akan kembali,” ujarku dengan rasa sesak yang tak tertahankan.
“Aku akan berada disini menemanimu. Jadi tolonglah aku. Beritahu dunia kebenaran yang sesungguhnya,” kata Hoseok. Ia menautkan jari-jarinya dengan jari-jemari milikku.
“Tidak bisa. Besok aku mungkin sudah tidak berada di dunia ini lagi,” lirihku. Hoseok yang mendengar kalimatku tiba-tiba mengalihkan wajahnya setelah air bening turun dari matanya. Ia masih sama seperti yang dulu. Seorang Shin Hoseok yang mencoba terlihat tegar saat berada di hadapanku.
Tanpa sepatah kata lagi, ia membaringkanku dengan perlahan karena ia takut borgol ini kembali menyakitiku. Kemudian ia duduk di lantai yang sedingin es—masih dengan menggenggam tanganku.
Setelah keheningan menyelimuti kami, aku benar-benar tak bisa menahan kalimat ini. Kalimat sepele dengan kekuatan luar biasa yang sudah lama tak kuucapkan. Bahkan aku hampir lupa bagaimana cara untuk mengucapkannya.
“Aku mencintaimu, Shin Hoseok.”

—Affliction Territory—

Krieett.
Suara pintu besi yang dibuka kembali menusuk gendang telingaku. Menarikku kembali dari alam bawah sadar menuju kenyataan yang tak kuinginkan. Jika disuruh memilih, aku lebih memilih hidup dalam alam bawah sadarku.
“Sarapan sudah siap.” Pagi ini, suara suster lebih dingin daripada cuaca di bulan Februari. Rasanya ingin kurobek saja pita suaranya. Aku hanya meresponnya dengan anggukan tanpa menatap wajahnya yang mirip monster. Ah, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Seperti ada sesuatu yang hilang. Apakah—
“Dimana Hoseok?” tanyaku. Ketakutan mulai membuncah dalam diriku. Benar kan, pasti Hoseok akan menghilang saat aku tertidur. Harusnya aku tidak tidur saja semalam. Idiot.
Suster melangkah mendekat padaku. Ia mengatakan, tidak, menggeramkan kalimat padaku, “siapa Hoseok?”
Oh ayolah, Hoseok si pria tinggi bersurai hitam yang semalam berada di ruanganku. Menemaniku dalam kegelapan. Memberikanku kekuatan untuk menghadapi kenyataan…
“Dimana Hoseok?!!” teriakku. Bukannya kalimat panjang tadi yang terlontar dari bibirku, malah dua kata saja yang dapat kuucapkan. Sepertinya otak dan bibirku sudah tidak sinkron lagi.
Suster yang sedikit geram dengan teriakanku, memilih untuk mencengkeram erat salah satu pergelangan tanganku yang bebas dari borgol dan menembakkan sinar ultraviolet dari kedua matanya. “Tidak ada orang bernama Hoseok disini,” ujarnya ketus.
“AAARRRRGGGHHHHHH KUBILANG DIMANA HOSEOK?!!!!” Aku mulai berteriak histeris karena suster itu terus saja berkata bahwa tidak ada orang yang bernama Hoseok disini. Ini membuatku sangat jengkel. Jelas-jelas Hoseok kemari dan suster itu malah berkata tidak ada orang luar yang berkunjung semalam.
“AAAAAARRRGGGGHHHHHHHH!!!!”
Aku terus meronta-ronta dan ini sangat menyakitkan. Tanganku yang terbalut borgol mulai memerah. Dengan santai suster tersebut meraih sebuah jarum suntik dari balik sakunya dan meraih tanganku dengan susah payah.
“Sudah kubilang tidak ada manusia bernama Hoseok di dunia ini,” bisiknya sebelum menyuntikkan cairan yang dapat membuatku tenang. Ia menghunuskan jarumnya di sebelah bekas-bekas suntikan yang kudapat.
Hoseok yang nampak nyata bagiku, di mata orang lain hanyalah sebuah ilusi dari orang yang tidak waras.

—Affliction Territory—
Aku terbangun ketika sang mentari pamit untuk pulang. Aku tak tahu pasti jam berapa sekarang tapi hatiku berkata bahwa eksekusi euthanasia untukku akan dilakukan beberapa jam lagi. Jika kau ingin tahu, masih ada orang yang menggunakan jam matahari di masa modern seperti ini—dan orang tersebut adalah aku. Mereka tidak memberiku hak untuk sekedar mengetahui waktu.
Aku memegang perutku yang berbunyi. Pantas saja aku lapar. Tidak ada makanan yang masuk ke lambungku sejak tadi pagi. Lagipula, makan atau tidak pun sama saja. Aku sudah dapat mengetahui kapan hidupku akan berakhir—ya, beberapa jam lagi.

 

Tanpa permisi hujan kembali turun di luar sana. Hal itu malah membuatku lebih tenang ketika memikirkan kematianku. Kulihat pintu besi itu dibuka oleh sesorang. Walaupun suster yang wajahnya seperti monster itu sangat menakutkan, tapi aku berharap ia yang datang sembari membawa nampan makan malamku. Ternyata harapanku pupus. Bayangan seorang laki-laki tinggi dengan pakaian formal menyapaku.
Bangsat. Kemana saja kau setelah mengirimku ke tempat yang mengerikan seperti ini, hah?!
Suara petir yang menyambar mengiringi langkah CEO yang berkuasa itu mendekat padaku. CEO kejam yang menghancurkan hidupku. CEO brengsek bernama Son Hyunwoo. Tiba-tiba emosiku memuncak seketika setelah ia melemparkan senyum sok sucinya itu padaku.
“Aku tidak gila,” ujarku dingin. Ia menganggukkan kepalanya berulang kali sembari membuat isyarat ‘aku tahu… aku tahu…’
“Tega-teganya kau menghancurkan hidupku dasar CEO tak punya hati!” teriakku. Dengan tenang, Son Hyunwoo malah mendudukkan dirinya di tempat tidurku. Ia masih diam sambil menyunggingkan senyum munafiknya—sama seperti tadi. Berani-beraninya ia tersenyum seperti itu di hadapanku. Mungkin dugaanku benar, hatinya pasti sudah membusuk.
“Kau pasti akan menderita seumur hidupmu! Bagaimana bisa kau membunuh orang yang tak bersalah, hah?!! Brengsek! Aku akan membuatmu menerima hukuman dari semua ini!!” teriakku kesetanan. Tanpa kusadari tanganku sudah mencengkeram erat kerah kemejanya diikuti dengan suara gemerincing borgol yang beradu dengan besi di ujung tempat tidurku.
“Silakan saja hukum aku. Kita lihat siapa yang lebih berkuasa disini,” ujarnya angkuh. Aku memandang wajahnya yang tegas—terkesan tampan, tapi memuakkan. Mungkin di luar sana banyak wanita-wanita bodoh yang tertipu oleh parasnya.
“Tapi ingatlah, karma masih berlaku disini,” geramku tepat di depan wajahnya.
Suara derap langkah kaki mulai terdengar, disusul dengan suara teriakan, “astaga, tuan! Menjauh darinya!!” Suster yang mengetahui tamu VVIP-nya ‘diserang’ oleh seorang perempuan gila segera memberi peringatan. Aku tahu, Son Hyunwoo memang sengaja diam saja. Dengan begitu ia bisa melihat suster itu memberikan ‘perlakuan istimewa’ kepadaku.
Suster setengah berlari ke arahku dan segera memutus koneksi tanganku dengan kerah kemejanya. Sementara kulihat Son Hyunwoo dengan angkuhnya menarik ujung bibirnya meremehkanku.
Semua ini membuatku naik pitam. Seharusnya dia yang terbaring disini dengan borgol. Seharusnya dia yang berada di posisiku. Aku tak bisa menahan amarahku lagi. Pekikan histeris yang entah kenapa bisa keluar dari mulutku pun memenuhi ruangan ini. Sialnya, belum selesai amarahku keluar sepenuhnya, sebuah memori merangkak naik menuju alam sadarku. Seperti sebuah potongan-potongan film yang makin lama makin jelas. Membuat kepalaku rasanya sakit sekali hingga aku merasa kepalaku mau pecah.
Hari ini, kencan pertamaku dengan Hoseok berjalan dengan mulus. Walaupun hujan gerimis sialan datang di saat terpenting seperti ini, tetap saja aku akan menjadikan hari ini sebagai hari bersejarah dalam hidupku. Oh, atau mungkin aku harus berterima kasih kepada hujan. Berkatnya, aku bisa merasakan bagaimana rasanya berada di bawah naungan payung bersama Hoseok. Lelaki itu tak membiarkanku kedinginan. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya di balik saku jaketnya. Rasanya sungguh hangat.
“Kau tahu? Aku suka sekali bau hujan,” Hoseok akhirnya membuka suara setelah sekian lama hati kami yang saling berkomunikasi.
Aku mengernyitkan dahi. “Bau hujan? Memang hujan mempunyai bau?” kataku sambil mengendus-endus udara. Tapi hasilnya nihil, aku tetap gagal paham.
Hoseok tertawa melihat tingkahku. “Bukan seperti itu, maksudku, bau tanah basah yang baru saja terkena air hujan. Rasanya aku seperti berada di rumah nenekku. Sungguh damai,” terangnya. Aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Mungkin ia mempunyai kenangan yang bagus dengan hujan.
Setelah sampai di halte, kami duduk dalam keheningan. Membiarkan genggaman tangan ini menyatu dan menguatkan emosi batin dalam diri kami. Dari kejauhan kulihat seorang gadis dengan seragam sekolahnya berjalan di bawah naungan payung putihnya. Pulang selarut ini—kuyakin ia  adalah gadis SMA yang baru saja mengikuti kelas malam sebagai tambahan pelajaran. Ah, aku jadi teringat masa SMA-ku dulu.
Bus yang kami tunggu tak kunjung datang. Mungkin ada sedikit masalah teknis. Jalanan pada malam ini juga sepi. Tidak, jalanan ini memang jarang digunakan karena hanya sebagai jalan alternatif saja. Aku mengalihkan pandanganku pada gadis berpayung putih tadi. Gadis itu sudah berada sekitar tiga meter dari tempatku duduk. Ia sedang berada di pinggir jalan, menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa ia aman menyusuri zebracross ini.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah…
BRAKK!!!
Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana bagian depan mobil mewah itu menghantam tubuh gadis yang tak bersalah itu. Bagaimana gadis itu ambruk ke jalan dengan disusul cairan berwarna merah mengalir keluar dari kepalanya, berbaur dengan titik-titik air hujan.
Aku mengeratkan genggaman tanganku pada tangan Hoseok. Kulirik Hoseok pun sama terkejutnya denganku. Kami berdua sama-sama terkejut untuk sekedar mengucapkan sepatah kata. Akhirnya, Hoseok memberanikan diri untuk menuju tempat kejadian.
“Aku akan kesana menolong gadis malang itu. Kau, tetaplah disini. Telepon polisi dan ambulans sekarang juga,” perintah Hoseok. Aku bisa mendengar suaranya goyah—tercekat dalam kerongkongannya. Aku tahu ia pasti juga ketakutan, sama sepertiku. Tapi walaupun begitu, ia tetap memberanikan diri untuk menolong gadis itu.
Aku ikut berdiri setelah Hoseok memutuskan untuk melangkahkan kaki kesana. Tapi kakiku sudah tak mampu lagi menopang berat tubuhku. Aku ambruk ke tanah setelah menyaksikan kejadian paling menakutkan yang pertama kalinya kulihat dalam hidupku. Sialnya, aku melihat si pemilik mobil mewah itu keluar dari dalam mobil. Ia berjalan sempoyongan mendekati Hoseok dan…
“SHIN HOSEOK, AWAS!!”
BRAK!
Pemilik mobil mewah yang dapat kupastikan dibawah pengaruh alkohol itu mengayunkan pemukul baseball-nya kuat ke bagian belakang kepala Hoseok saat ia berjongkok di hadapan tubuh tak bernyawa itu. Suara hantaman yang tercipta sangat keras—keras sekali hingga suaranya memecah keheningan malam ini.
Hoseok pun bernasib sama seperti gadis itu. Ia ambruk ke jalan dan menunggu malaikat maut menjemputnya.
Jalanan malam itu menjadi lautan darah hanya dalam sepuluh menit.

—Affliction Territory—

 

Aku terbangun di sebuah ruangan yang kurasa adalah sebuah ruangan di rumah sakit. Sepertinya aku pingsan cukup lama. Aku mendudukkan diri secepat kilat setelah teringat kejadian semalam. Tiba-tiba saja kepalaku berdenyut dengan hebat hingga membuatku mengerang kesakitan.
“Nona Han Chaeyeon?” panggil seorang pria. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Pria yang barusan memanggilku mendekat padaku. “Perkenalkan, aku detektif Yoo Kihyun. Bagaimana keadaanmu?” ujarnya basa-basi.
“Yah, sudah cukup baik walaupun masih agak pusing,” jawabku seadanya. Detektif itu memandangiku dibalik kacamatanya. Kuyakin ia sudah mulai menganalisa situasi ini.
“Jika kondisi anda sudah benar-benar baik, mohon ikut saya ke kantor polisi. Saya memerlukan beberapa informasi. Untuk sekarang, istirahatlah sejenak,” ujarnya sambil bersiap untuk melangkahkan kaki dari ruanganku.
“Ah, tunggu, detektif! Dimana Shin Hoseok?” teriakku sebelum detektif Yoo benar-benar menghilang. Hoseokku pasti sudah mendapat penanganan yang tepat, bukan? Ia pasti sedang berada di ruangannya dan dalam keadaan baik-baik saja, bukan?
“Shin Hoseok? Ah, Shin Hoseok… Anda bisa menemuinya sekarang jika anda sudah siap,” katanya sambil menyunggingkan senyum tipis—seolah menguatkanku. Perasaanku jadi tak enak. Jika gara-gara kejadian itu, aku berasumsi bahwa kemungkinan terburuknya pasti hanya berujung pada ruang ICU. Siapapun tolong katakan padaku bahwa Hoseokku baik-baik saja.
Detektif itu membantuku berjalan karena seluruh tubuhku rasanya sangat lemas. Kami berjalan melewati ruang ICU. Kumohon, berhenti saja disini. Hoseokku pasti akan melewati masa kritis ini dengan kuat. Benar, bukan? Tuhan, kumohon bantulah dia—batinku
Tapi permohonanku tak terkabul. Kami berhenti tepat di depan ruang jenazah.

—Affliction Territory—

Beberapa jam setelah aku yang menjadi satu-satunya saksi pada malam itu menuturkan kronologis kejadian pada detektif Yoo, orang-orang yang menangani ini semua berkata bahwa kasus telah ditutup. Kenyataan pahit macam apa ini?
“Bagaimana bisa kasus ini ditutup? Mengapa kau tak mengadakan pemeriksaan lebih lanjut? Bagaimana dengan orang kaya itu, hah? Apakah ini semua adil?!” kataku bertubi-tubi. Detektif Yoo menghela nafas berat. Seperti ada sebuah jurang yang menghalangi kami, detektif Yoo terlihat sangat bimbang : ikut menyeberang jurang bersamaku dengan segala resiko atau tetap aman di ujung sana.
“Maaf, nona Han Chaeyeon. Tapi atasan saya yang menyatakan bahwa kasus ini ditutup. CEO Son Hyunwoo itu benar. Mereka berdua meninggal karena bunuh diri. Hasil otopsi pun berkata demikian,” kata detektif Yoo lirih.
Tidak mungkin! Pasti semua ini hasil rekayasa CEO kaya itu. Nyawa tidak bisa dibayar dengan uang. Tidak, aku tidak terima dengan semua ini.
“Dimana CEO brengsek itu sekarang?! Aku akan menemuinya!” ujarku sembari menerobos satu persatu ruangan yang ada di gedung ini. Kegiatanku terhenti setelah melihat wajah yang samar-samar teringat dalam otakku. Wajah munafik yang sama seperti wajah pria dengan tongkat pemukul baseball di tangannya.
“Kau, CEO brengsek! Berhentilah bermain-main dengan semua ini! Kau pikir kau bisa mengendalikan semua ini hanya dengan uang, hah?! Sadarlah! Kau telah menghilangkan nyawa manusia!” teriakku. Kucengkeram erat kerah kemejanya untuk melampiaskan emosiku. Persetan dengan kemeja mahalnya yang akan berubah menjadi kusut.
Son Hyunwoo yang sedang berbincang dengan seorang detektif yang kupastikan adalah atasan dari detektif Yoo menampakkan wajah kaget. Kuyakin ia hanya pura-pura—berakting sebagai seseorang yang polos. Seseorang yang seolah berada dalam semua ini dengan ketidaksengajaan. Ia sangat pandai memutarbalikkan fakta.
“Dimana letak keadilan sekarang? Apakah hak asasi manusia sudah mati membusuk di tangan manusia-manusia seperti kalian?” geramku. Tapi Son Hyunwoo hanya menampakkan senyumnya lagi. Ia kemudian melontarkan sebuah kalimat yang sukses menenggelamkanku ke samudera terdalam di muka bumi ini.
“Detektif, sudah kubilang kan, dia gila. Bagaimana bisa kau menjadikan orang gila sebagai saksi?” ujarnya enteng.
SEBENARNYA SIAPA ORANG GILA DISINI, HAH?!
Aku tak tahu kalimat apa lagi yang bisa kugunakan untuk membela diri. Berbagai umpatan telah kusiapkan untuk Son Hyunwoo ketika detektif senior itu berkata padaku, “nona Han Chaeyeon, kami harus memeriksa kondisi psikologismu sebelum pernyataanmu dinyatakan akurat atau tidak.”
Sialnya, Son Hyunwoo juga memanipulasi hasil tes psikologiku. Aku berakhir di sebuah ruangan pengap di rumah sakit jiwa.

—Affliction Territory—

Aku tersadar kembali dari lamunanku setelah sebuah jarum suntik menembus kulitku. Di sisi kanan dan kiriku nampak suster dan dokter yang susah payah menenangkanku. Dokter memberiku infus yang sebenarnya tak kuperlukan. Ia juga menyuntikkan cairan penenang ke dalam infusku.
Para manusia dibawah kuasa uang itu membaringkan tubuhku yang lemas dengan disaksikan oleh Son Hyunwoo yang menatapku dengan mata sipitnya yang tajam. Ia tampak puas setelah obat itu berhasil menaklukkanku.
“Sekitar satu jam lagi kita bisa melakukan proses euthanasia.” Samar-samar aku masih mendengar suara dokter berkata kepada suster yang mirip monster itu. Dasar dokter tak punya hati. Bagaimana bisa ia berkata demikian di depan pasiennya?
Son Hyunwoo yang melihatku sudah ‘jinak’ kembali menghampiriku. Ia duduk di sebelah tempat tidur usangku. “Katakan, katakan kenapa kau ingin sekali menghancurkan hidupku?” tanyaku lemas. Ia yang melihatku angkat bicara menahan tawa bejatnya.
“Hmm.. entahlah, aku juga tak tahu. Mungkin karena aku ingin melenyapkanmu dari dunia ini? Mungkin saja, haha,” jawabnya santai.
“Dasar biadab. Makhluk rendahan,” umpatku sebagai tanggapan atas alasan konyol yang terlontar dari bibir CEO itu.
Son Hyunwoo tertawa ringan mendengar umpatanku. “Terima kasih sudah menanggung semua beban ini. Kau sudah bekerja keras,” ujarnya sambil mendekatkan wajahnya yang memuakkan padaku.
Satu jam telah berlalu. Dokter dan beberapa suster masuk ke ruangan ini. Walau mereka datang tanpa kata, aku tahu bahwa sudah waktunya aku menerima euthanasia. Kemudian, mereka menyiapkan segala peralatan—dengan masih di bawah pengawasan CEO Son. Orang itu sepertinya ingin sekali menyaksikan kepergianku. Detik-detik sebelum jarum itu disuntikkan padaku, Son Hyunwoo hanya tersenyum dengan senyuman busuknya. Akhirnya, sebuah jarum suntik berisi cairan mematikan menembus pembuluh darahku. Cairannya mengalir masuk, berenang bersama darahku.
“Tidurlah dengan nyenyak, Chaeyeon-ssi,” bisik Son Hyunwoo masih dengan senyumnya.
Sekarang hanya tinggal menunggu waktu hingga aku benar-benar terlelap untuk selamanya.
“Sepertinya aku tak bisa tidur dengan nyenyak, tuan CEO.”

FIN.

Advertisements

One thought on “[SEG Event] AFFLICTION TERRITORY

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s