Broken Time 1

 

Title | Broken Time

Author|RHYK

Cast|              Jeon Wonwoo | Park Chorong

Additional Cast| Hong Joshua

Length|Short Chapter / Songfic

Genre|Alternate Universe | Angst |Sad |College –life |Twenties/Youth |Song-fic

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Autor Note’s| Inspiration by Seventeen track Going Seventeen in title (Let’s See/ I don’t know) direkomendasikan mendengar lagunya saat membaca. Okay?

Quotes|Aku tidak tahu, ini adalah akhir dari kita..

[1]

[Mari pergi sejenak,

Sebuah ruangan dimana kau bisa mendengar suara jarum jam]

 

Helaan nafas penuh frustasi itu terdengar dari sebuah ruang besar di sebuah flat yang salah satunya adalah pemilik dari bangunan ini, sementara yang lain hanya diam seperti patung yang bernafas, salah satunya tak tahu situasi apa yang mereka hadapi sekarang, detik ini mereka seperti dua orang asing yang sama sekali tak pernah kenal, hanya kebetulan saling lempar pandang saat berjalan menuju sebuah tempat, padahal ketika waktu berputar beberapa jam sebelumnya, mereka seperti punya dunia sendiri untuk saling menjaga dan membahagiakan. Detak jarum jam terdengar menggema menyambut kedatangan keduanya yang tiba sekitar 30 menit lalu, tak ada yang benar-benar berbicara pada situasi yang bisa dikatakan kelam dan suram. Tak ada yang namanya bahagia diantara mereka, tak tahan berada disituasi yang sungguh memuakkan ini salah satu dari dua insan berbeda gender itu akhirnya berbicara, “Mari pergi sejenak..”


[Pertanyaan yang sederhana berbanding dengan besarnya rasa penasaran,
Memecah keheningan diantara percakapan kita.]

 

Ajakan dengan nada rendahnya hanya dibalas sebuah pertanyaan, pertanyaan yang sudah lama ia ingin dengar langsung jawabannya, namun waktu selalu saja menghalangi mereka untuk mengetahuinya, kini rasa penasarannya memuncak hingga ditigkat akan meledak jika diibaratkan dengan bom. “Apa yang terjadi sebenarnya? –kau sungguh sudah mempunyai orang lain untuk kau cinta?”tanyanya dengan mata memicing, lantas yang ditanya hanya tersenyum pahit lewat bibir tipisnya yang dilapisi liptint berwarna peach ia menatap kekasihnya itu tak percaya, yah tak percaya bahwa dia akan mendengar pertanyaan itu dari orang yang paling ia sayang,

“Kalaupun aku berkata yang sebenarnya,kau akan mendengarkan orang lain.”jawab gadis itu dengan binar putus asa, ia masih berharap setidaknya akan keluar sebuah kalimat yang lebih baik untuk didengar dan mengobati perasaanya yang sempat terluka dengan pertanyaan lelaki itu.

[Penuh dengan rasa ketidakpuasan.

Meluap-luap, aku tak bisa melakukannya lagi.]

 

Lelaki itu memutar matanya mendengar jawaban –jawaban yang memang sebenarnya dan memenuhi rasa penasaran yang sudah menghantuinya belakangan ini.Kini, ia benar-benar dirasuki dengan rasa tidak puas dan ingin mendengar jawaban lain dari gadis yang sudah mengisi hari-harinya yang dahulu kurang berwarna. “Aku meminta jawaban benar atau tidak, mengapa kau malah menjawab begitu?”

 

Gadis itu mengerutkan keningnya, mencoba untuk berpikir keras –memutar otaknya agar keadaan membaik, ia telah berkata yang sebenarnya untuk menghilangkan kesalahpahaman yang ada, namun –apa katanya? Dia masih menginginkan jawaban lain keluar dari mulutnya? Kini, apa ia memang tidak layak lagi untuk dipercaya oleh lelaki ini?Lelah menghampiri gadis itu, pelupuk matanya yang berkabut langsung hilang mengalir deras melewati pipi gadis itu cepat. “Aku bahkan tidak bisa melakukannya lagi, Wonwoo –ah, apa –kau berpikir setelah sekian lama kau ada dihidupku,aku akan mengkhianati pria baik sepertimu?”tanyanya dengan keputus –asaan yang menggelayutinya, jika memang begitu –pasti sudah lama hubungan mereka berakhir.Bibir gadis itu terlalu kelu untuk melanjutkan kalimatnya yang masih belum tuntas, jelas sekali bahwa soal kepercayaan masih menggantung dipikirannya, namun ia tidak dapat berpikir jernih sama sekali.

[Kesunyian yang diselimuti oleh suara nafas,

Meskipun aku merasa seperti tak bisa bernafas.]

 

Hening kembali di ruangan yang cukup besar itu, detak jarum jam kembali terdengar setelah keduanya hanya saling mematung dan membisu hanya mendengarkan deru suara nafas mereka masing-masing. Meski keduanya merasa seperti tak sedang bernafas, karena rasanya menghembuskan kefrustasian yang melekat dalam diri mereka masing-masing saja rasanya sulit.Gadis itu menunduk mengusap wajahnya pelan dengan jemarinya sendiri, jika saja hari ini akhir dari mereka, maka biar saja berakhir. Dengan begitu tidak ada lagi yang terluka, tidak ada rasa sakit, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia hanya karena pertengkaran yang menghabiskan tenaga. “..lebih baik tak bicara sepatah katapun ketika sedang marah.”ujar gadis itu menutup perbincangan, air mata masih mengalir, ia menahan isaknya bahkan didepan kekasihnya sendiri dimana seharusnya lelaki itu berperan untuk menjadi sandaran dirinya,tapi sepertinya realita selalu saja seperti itu, tidak adil.

[Lebih baik tak bicara sepatah kata pun,

Hubungan kita yang semakin rumit

Pertengkaran yang tak menemukan solusi,

Dan pintu kamar yang terbuka.]

 

Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi, ia sendiri sedang berpikir tentang hubungan mereka yang semakin merumit saja, ia mungkin sudah salah karena mendengarkan orang lain daripada kekasihnya sendiri, rasanya gila setengah mati untuk mencari solusi yang rasanya tak akan ketemu karena dirinya kini sedang ada dibawah kendali amarah. “Mari kita bicara dilain waktu, Chorong –ah.”ujar Wonwoo yang diikuti dengan desahan penuh putus asa, dan perbincangan mereka selalu berakhir seperti ini sejak mempertengkarkan hal yang sepertinya sepele untuk Chorong tapi masalah besar untuk lelaki bermarga Jeon itu.Meninggalkan ruangan itu bersama sepi dan detak jarum jam serta dinding beton yang mendingin seiring waktu yang berlalu semakin larut suhu udara di dalam ruanganpun ikut menurun, membuat gadis bermarga Park itu hanya kembali menangis sendirian –setidaknya, itu alternatif yang lumayan baik untuk sementara meski gadis itu sadar dengan menangis masalahnya dengan Wonwoo tak akan selesai begitu saja.

Bersambung..

a.n :

Hola hola~lama gak posting, than a year hehe

 

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s