Seductive Mr. Byun (Four)

Poster by : Alkindi (https://dirtykindi.wordpress.com/)

Romance | Married Life | Sad | PG-17 | etc

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

©2017.billhun94



Gadis itu tidak percaya bisa menginjakkan kakinya lagi di negara kelahirannya. Kelyn kira ia akan membusuk di London sebagai tunawisma. Well, itu lebih baik bukan daripada harus menjadi beban negaranya sendiri.

Kelyn sudah menduga jika penthouse Baekhyun di Korea jauh lebih besar dari perkiraannya. Uang pria itu sepertinya tidak ada habisnya. Perusahaan seperti apa yang dikelola Baekhyun?

“Di sana kamarmu. Di sampingnya kamar Jesper, dan di sampingnya lagi adalah kamarku.”

Suara Baekhyun berhasil menyadarkan Kelyn dari lamunannya.

“Oh, ya. Baiklah.”

Kelyn dapat melihat Baekhyun yang berjalan melewatinya, menuju kamar pria itu.

“Kenapa dia sangat dingin. Apa dia marah?”

Sepanjang perjalanan menuju kamarnya, Kelyn terus berdialog dengan dirinya sendiri tentang Baekhyun yang kadang sangat membingungkannya itu.

Noona?”

Baru saja Kelyn hendak membuka kenop pintu kamar, suara khas Jesper menghentikannya. Bocah itu baru saja keluar dari kamarnya dengan mata yang masih mengantuk dan keringat yang membasahi keningnya.

“Kau belum tidur?”

Bocah itu menggeleng, lalu berkata, “Aku mimpi buruk, dan aku terbangun. Aku tidak bisa tidur lagi Noona, mimpi itu benar-benar menyeramkan. Bisakah Noona menemaniku tidur?” Pintanya.

Kelyn menimang sejenak. Jika dipikir-pikir Baekhyun membayarnya ‘kan untuk menjaga bocah itu. Sudah sepatutnya Kelyn mengiyakan permintaan Jesper.

“Baiklah, Noona akan menemani Jesper tidur.” Ujar Kelyn yang manakala langsung disambut antusias oleh Jesper.

“Ayo masuk!” Seru Jesper, tangan mungilnya menarik pergelangan tangan Kelyn untuk masuk kedalam kamarnya.

Kamar Jesper berdekorasi layaknya kamar anak laki-laki pada umumnya. Terdapat banyak sekali replika robot di etalase sudut ruangan, poster besar Spiderman yang tertempel di tembok, dan manainan bocah itu.

Jesper menggeser sedikit tubuhnya agar Kelyn dapat berbaring di sebelah dirinya. Ia juga memberikan ruang selimut untuk Kelyn.

“Biasanya kalau Jesper mimpi buruk siapa yang menemani?” Tanya Kelyn setelah ia berbaring di samping bocah itu. Dan kini, mereka sedang berhadapan dengan tangan Kelyn yang menepuk pelan kepala Jesper.

Mata Jesper mulai berat, namun ia masih bisa menangkap suara Kelyn.

“Tidak ada. Daddy selalu sibuk dan terlihat lelah ketika pulang kerja. Jesper tidak tega untuk mengganggunya.”

Kelyn sedikit terenyuh dengan penuturan Jesper. Kenapa pria itu tidak mencari istri lagi untuk mengurus dia dan Jesper?

Jesper sudah terlelap, dan kini waktunya bagi Kelyn untuk ikut terlelap juga. Setelah membetulkan letak selimut Jesper, Kelyn berniat menutup matanya jika saja suara pintu terbuka tidak mengusiknya.

Dapat Kelyn lihat Baekhyun sedang berdiri diambang pintu dengan tatapan yang terarah pada Kelyn dan Jesper. Pria itu pun mendekat. Ia memilih untuk duduk di ranjang samping sang putra.

Kelyn yang sedari tadi memperhatikan Baekhyun, membuka mulutnya, “Jesper mimpi buruk, dan memintaku untuk menemaninya,” ucapnya pelan.

Baekhyun mengangguk sebagai respon atas perkataan Kelyn. Tangannya sedang sibuk mengelus wajah Jesper, sesekali membenarkan anak rambut bocah itu.

“Terima kasih,” gumam Baekhyun pelan. Sangat pelan sampai menyerupai sebuah bisikan.

“Apa?”

“Tidak.”

Padahal tadi Kelyn yakin kalau Baekhyun berkata sesuatu. Apa pendengarannya yang buruk?

Baekhyun beranjak dari tempatnya setelah memberikan ciuman selamat malam pada Jesper. Kini ia beralih pada Kelyn yang sedang menatapnya.

“Selamat malam,” ujar Baekhyun.

“Selamat malam juga,” balas Kelyn.

Baekhyun meninggalkan kamar Jesper tanpa sepatah katapun lagi.

Sepeninggalan Baekhyun, Kelyn bergumam kecewa, “Dia hanya mencium Jesper. Aku tidak?”

-☆-

Cahaya matahari pagi masuk melalui celah jendela yang tertutupi gorden. Cahaya tersebut mengusik tidur Kelyn. Gadis itu melihat jam dinding, dan berniat kembali tidur ketika pukul menunjukkan jam setengah tujuh pagi. Namun, niatan itu harus tertunda ketika ia mendengar suara.

Suara tersebut menarik perhatian Kelyn. Suara tersebut datang dari arah kamar mandi yang berada satu ruangan dengan kamar Jesper.

Tunggu….

Jesper?

Kelyn menepuk keningnya sewaktu sadar kalau kini ia berada di kamar bocah itu. Dan, tampaknya suara tadi adalah suara Jesper.

Kelyn mendekat ke kamar mandi. Ia memutar kenop pintu, dan menemukan Jesper serta Baekhyun yang sedang memandikan putranya itu di bath up. Baekhyun berjongkok di pinggir bath up sedangkan tangannya sedang sibuk mengusap-usap rambut Jesper yang dipenuhi shampo.

Untuk beberapa detik, Kelyn memilih memperhatikan mereka tanpa suara dan tanpa mereka ketahui.

Baekhyun mengangkat tinggi-tinggi bebek karet di tangannya. “Ayo, tangkap ini!”

Jesper mencoba untuk meraih bebek karet itu, namun tidak sampai karena tinggi Baekhyun yang tidak seberapa jika dibanding tingginya.

“Daddy, berikan!” Seru Jesper.

No!”

Baekhyun tertawa melihat reaksi Jesper. Bocah itu mengerucutkan bibirnya kesal dengan tangan yang terlipat di dadanya.

“Oh, big boy sedang marah rupanya,” goda Baekhyun sambil mengelus kepala Jesper.

Noona!”

Seruan Jesper menyadarkan Kelyn dari pemandangan di pagi hari yang sangat cerah. Apa lagi kalau bukan melihat interaksi ayah dan anak yang satu ini.

“Sudah lama berdiri di situ?” Kali ini Baekhyun yang membuka mulut.

“Tidak juga,” jawab Kelyn. Lalu berjalan mendekat kearah Baekhyun dan Jesper.

Baekhyun melirik Kelyn sekilas, lalu kembali pada sang putra, “Jesper, mari kita bilas rambutmu,” ucapnya yang sudah memegang shower.

Namun, tampaknya bocah berumur 5 tahun itu enggan untuk mengindahkan ucapan sang ayah.

“Malas,” balas Jesper. Wajahnya ditekuk, sepertinya masih marah pada Baekhyun.

Baekhyun berkata, “Jangan mengulur waktu. Daddy harus bekerja, sayang,” setelah itu ia menghembuskan napasnya kasar.

“Daddy selalu saja bekerja,” seloroh Jesper.

“Baru kemarin kita liburan, Jesper. Jangan membuat Daddy kesal. Ayo, kita sudahi mandinya.”

Jesper menggeleng. Baekhyun memejamkan matanya, menahan emosi.

Tidak biasanya Jesper bersikap seperti ini. Bocah itu akan menuruti semua perkataan Baekhyun. Walaupun sedang merajuk sekalipun.

Baekhyun membuang kasar shower yang berada di tangannya sembarang. Ia sudah lelah dengan urusan pekerjaan, dan sekarang di tambah lagi dengan putranya.

Kedua mata Jesper sudah berembun, siap mengeluarkan air mata.

Sebuah tangan mengelus lengan Baekhyun lembut. Siapa lagi kalau bukan si pemilik tangan itu adalah Kelyn. Baekhyun yang sempat terkejut dengan sentuhan itu, menatap sang pemilik.

“Bisa saja Jesper ingin lebih lama di dekatmu,” ujar Kelyn. Melalui tatapannya, ia berusaha untuk menenangkan Baekhyun.

Hembusan napas Baekhyun terdengar, kemudian ia kembali pada Jesper yang sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Daddy akan menyuruh Nona Jung untuk mengurusmu.”

Baekhyun pergi meninggalkan Jesper dan Kelyn di kamar mandi.

“Daddy jahat!” Pekik Jesper, air mata mulai membasahi matanya.

Kelyn menonton pertengkaran ayah dan anak itu hanya bisa terdiam. Memang bukan haknya untuk ikut turun tangan. Melihat Jesper menangis membuatnya merasa terenyuh, padahal sebelumnya ia tidak pernah menaruh simpati sedikitpun pada anak kecil yang menangis. Malahan menurutnya mereka sangat berisik. Lain halnya dengan Jesper.

“Mungkin Daddy sedang lelah, boy. Sini Noona bilas rambut dan tubuhmu,” ucap Kelyn, mendekati Jesper, lalu meraih shower.

Tanpa perlawanan, Jesper menuruti apa yang Kelyn katakan. Bocah itu masih menangis, bahkan setelah Kelyn mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

Saat Kelyn baru selesai mengeringkan tubuh Jesper, seorang gadis cantik memasuki kamar mandi sambil berkata, “Ah, Nona! Anda tidak perlu melakukan ini, biar saya saja.”

“Ini tidak repot,” balas Kelyn sambil menyerahkan Jesper pada gadis yang ia ketahui sebagai baby sitter bocah itu.

Kelyn meninggalkan kamar Jesper, berniat untuk membersihkan dirinya di kamar yang sudah Baekhyun sediakan untuknya. Ngomong-ngomong, ia bahkan belum melihat-lihat kamar tersebut.

Bertepatan dengan itu, Baekhyun baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian kantor. Melewati begitu saja Kelyn, melirik saja tidak.

-☆-

Tidak disangka-sangka, Jesper dengan begitu cepat melupakan pertikaiannya dengan Baekhyun. Saat ini bocah itu sedang bermain di ruang tengah yang sekarang sudah lebih mirip seperti kapal pecah.

Kelyn yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala saja.

Gadis itu sedang membaca majalah di ruang tengah sambil memperhatikan Jesper. Biasanya di jam-jam segini ia biasa bersantai. Maklum saja, Kelyn memang seorang pengangguran.

Kelyn beranjak dari sofa menuju dapur, mengambil satu buah apel, lalu kembali lagi ke ruang tengah.

“Kenapa kau bersikap seperti tadi pada Daddy-mu?” Tanya Kelyn, menginterupsi Jesper yang sedang asyik membaca sebuah buku.

Jesper menghentikan kegiatannya, ia menatap Kelyn, wajahnya langsung berubah sendu.

“Aku tidak bermaksud untuk membuat Daddy marah. Aku hanya kesal kenapa Daddy selalu bekerja, bahkan di akhir pekan.” Balas bocah itu, nada bicaranya terdengar menyedihkan.

Kelyn menggigit apel di tangannya, lalu berkata, “Daddy bekerja untuk menghasilkan uang bagi Jesper. Daddy melakukan itu karena sayang pada Jesper,” nasihatnya.

Cih, Kelyn yang mendengar nasihatnya sendiri merasa ingin muntah. Orangtuanya tidak mengajari hal semacam itu. Tahu darimana dirinya?

Jesper menggelengkan kepalanya, “Aku tidak butuh uang. Tapi, aku butuh Daddy.”

Kelyn akui, ia merasa takjub ketika mengetahui Baekhyun adalah seorang single parent. Bisa dibilang hot daddy. Hahaha. Oh ayolah! Baekhyun sudah menduda diusia muda, memangnya tidak ada wanita yang mau menjadi istri bagi Baekhyun dan ibu bagi Jesper?

“Ah, sudahlah. Pokoknya, waktu Daddy pulang, Jesper harus minta maaf.”

Jesper menganggukan kepalanya―menuruti perintah Kelyn.

-☆-

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Namun, yang ditunggu-tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.

Jesper yang mengantuk ditambah lagi besok ia harus pergi ke sekolah―mengharuskan bocah itu untuk tidur lebih awal.

Kelyn yang masih terjaga lebih memilih untuk menonton film kesukaannya dari televisi kabel sambil menikmati camilan yang ia temukan di laci dapur.

Saat sedang serius-seriusnya menonton, suara pintu yang terbuka menyita perhatian Kelyn. Ia sedikit menoleh kearah pintu, dan mendapati Baekhyun sedang berjalan menuju tangga.

Kelyn yang tak acuh pun kembali pada tontonannya.

Tak lama kemudian, Baekhyun turun dari lantai dua dengan rambut yang masih basah, dan berpakaian santai. Ia berjalan menuju dapur, berniat untuk memasak ramyun instan karena tidak sempat makan malam.

Pria Byun itu mengambil satu bungkus ramyun dari dalam laci dapur. Saat akan menutup laci, ramyun instan yang berada di tangannya direbut oleh seseorang, dan membuatnya terkejut.

“Kau ingin makan ramyun?”

Ternyata orang yang merebut ramyun instan Baekhyun adalah Kelyn. Baekhyun sendiri tidak sadar gadis itu sudah berada di dapur.

“Berikan padaku. Aku lapar,” ujar Baekhyun, tangannya mencoba untuk merebut ramyun instan itu dari tangan Kelyn.

Kelyn mengelak, ia mengambil panci, lalu memasukkan air kedalam panci tersebut. “Aku yang akan membuatkan ramyun-nya untukmu. Duduklah, dan tunggu di meja makan,” perintahnya.

Baekhyun pasrah dan memilih untuk menuruti perintah Kelyn. Ia berjalan menuju meja makan untuk menunggu ramyun yang akan gadis itu buatkan untuknya.

Dalam keheningan malam, Baekhyun memperhatikan tubuh Kelyn dari belakang. Dan, ia baru menyadari jika gadis itu hanya menggunakan kaus tipis dan hotpants berwarna pastel. Baekhyun rasa Kelyn selalu terlihat cantik dengan pakaian apapun yang dia kenakan.

Gadis bersusai panjang itu menghampiri Baekhyun di meja makan dengan panci berukuran kecil yang ia gunakan untuk memasak ramyun tadi. Setelah memberi alas, baru Kelyn menaruh panci itu di meja makan yang berhadapan dengan Baekhyun. Lalu, ia mengambil sumpit dan memberikannya pada pria itu.

“Saat di London, aku sering makan ramyun untuk menghemat pengeluaran,” ujar Kelyn sambil menarik bangku di samping dengan Baekhyun.

“Pantas kau sangat kurus,” sindir Baekhyun, ia sudah bersiap untuk mencicipi ramyun yang Kelyn buatkan untuknya.

Kelyn mengerucutkan bibirnya, “Mulutmu itu pedas sekali. Seharusnya tadi aku memasukkan racun kedalam ramyun itu,” katanya.

Baekhyun memilih untuk tidak menanggapi perkataan Kelyn. Ia memasukkan ramyun yang sudah disumpitnya kedalam mulutnya. Sejenak, ia menilai ramyun buatan Kelyn.

“Terlalu matang, dan kuahnya terlalu asin. Kau tidak berbakat memasak,” komentar Baekhyun. Walaupun komentarnya menjurus negatif, tapi ia tetap lanjut memakan ramyun buatan Kelyn.

“Kalau tidak enak lebih baik dibuang saja,” kata Kelyn yang kesal.

Baekhyun tidak mengindahkan perkataan Kelyn, ia tetap melanjutkan makannya, bahkan sampai ramyun di dalam panci itu benar-benar habis.

“Katanya tidak enak, tapi tetap dihabiskan.”

“Aku tidak bilang tidak enak.”

“Komentarmu sangat tersurat sekali.”

Kelyn yang sudah enggan menanggapi Baekhyun pun memilih untuk enyah. Bisa darah tinggi jika ia terus berhadapan dengan pria itu.

Baru Kelyn beranjak, tangan Baekhyun sudah menahannya.

Kelyn menoleh, “Kenapa lagi?” Tanyanya ketus.

“Ada hal yang perlu kita bicarakan. Tunggu sebentar.”

Baekhyun meninggalkan Kelyn menuju kamarnya, dan kembali lagi dengan beberapa lembar kertas di tangannya, lalu ia memberikan kertas tersebut pada Kelyn.

Kelyn menerima kertas itu, “Apa ini?”

Baekhyun duduk kembali di tempatnya, “Jadwal harian Jesper dan kontrak hubungan kita,” jawabnya.

Mulut Kelyn komat-kamit ketika membaca kertas pertama yang Baekhyun berikan; jadwal harian Jesper. Saat membacanya, ia merasa lebih seperti baby sitter kedua bocah itu. Lalu, Kelyn membaca lembar berikutnya; kontrak hubungannya dengan Baekhyun. Ia mendelik begitu membaca poin ke 4 yang berisi; pihak perempuan harus memberikan ciuman sebanyak 10 kali pada pihak pria setiap harinya.

“Ya! Ini keterlaluan! 10 kali? Astaga, yang benar saja,” gerutu gadis itu.

“Kebanyakan, ya? Tadinya aku malah ingin 20 kali,” Baekhyun berkata seperti itu tanpa rasa bersalah. “Bagaimana kalau 5 saja? Lagian juga kau tidak akan menolak saat aku mencium-mu,” lanjutnya.

Seriuosly? Baekhyun benar-benar sudah tidak waras. Apakah pria itu jelmaan Christian Grey? Kelyn rasa, iya.

“2 kali atau tidak sama sekali,” ancam Kelyn.

“Sedikit sekali. Tapi tidak apalah.”

Kelyn kembali membaca isi kontrak itu. Matanya membulat sewaktu ia membaca poin ke 5.

“Apa-apaan ini?! Bercinta sesuai kemauanmu?! Ya! Itu sama sekali tidak adil. Aku juga perempuan yang punya hati,” sembur Kelyn yang tidak terima.

“Bagaimana, ya? Aku selalu napsu tiap kali berada di dekatmu,” balas Baekhyun sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kelyn.

Gadis itu berang, ia mengambil sumpit dari atas meja, lalu memukul kepala Baekhyun menggunakan sumpit tadi.

Baekhyun meringis, “Ya!”

Kelyn mendecih, “Siapa suruh berpikiran mesum seperti itu?” Tanyanya, ketus.

Tidak main-main rasa sakitnya. Baekhyun rasa Kelyn memukul kepalanya dengan tenaga dalam.

“Aku mau nomor 5 diganti,” ujar Kelyn.

“Diganti bagaimana?”

Kelyn tampak berpikir. Ia bukan perempuan sembarangan yang rela menjual tubuhnya sendiri pada pria kaya seperti Baekhyun. Kalau iya, ia harus membuat pengecualian.

“Tunggu sampai aku memintanya.”

Bagaimana pun Kelyn tidak ingin munafik jika ia menginginkan dan butuh belaian dari Baekhyun. Pria itu satu-satunya yang mampu membuatnya kalah telak hanya dengan sentuhan saja.

“Hah?”

“Kau ini kaya, tapi bodoh,” cibir Kelyn.

“Terima kasih atas pujiannya, cantik. Tapi, bisa kau perjelas?”

Kelyn menghela napas kasar, “Tunggu sampai aku yang meminta untuk bercinta.”

Sebenarnya Baekhyun sedikit keberatan dengan keputusan Kelyn. Ia adalah pria normal dan tidak bisa terus menerus menahan libidonya terlalu lama. Bagaimana jika Kelyn terus menolak?

“Aku tahu kau keberatan. Tapi Baekhyun, aku bukan perempuan murahan,” ujar Kelyn.

Baekhyun mengangguk, “Baiklah kalau itu maumu,” katanya.

Kelyn tersenyum, senang. Namun, kesenangan itu lenyap saat Baekhyun berkata;

“Bagaimana jika kita taruhan saja? Tidak seru kalau begini.”

“Taruhan apa maksudmu?”

Baekhyun menyeringai, “Jika sampai kau meminta untuk bercinta denganku, berarti kau kalah. Begitu sebaliknya. Dan yang kalah harus menuruti kemauan pihak yang menang saat kontrak ini berakhir.”

-☆-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s