[SEG Event] Love Is Not Over

IMG_20170303_224930_004

IMG_20170302_193424_656.jpg

 

[Love Is Not Over]

Title : Always Love You [Spring Season]

Author : SWAGGirlRayA

Cast : Jeon Jungkook

Park Cheonsa

Min Yoongi

Other Cast :

Jeon Kang Jun (Jungkook Brother)

Ny. Jeon (Jungkook Mother)

Ny. Min (Yoongi Mother)

Genre : Romance, Drama, Angst, Hurt, Tragedy.

Length : Oneshoot

Enjoy for reading~

…Aku mencoba untuk membencimu, tapi tidak bisa…

…Aku sudah terlanjur mencintai dan menyayangimu oppa…

…Cheonsa…

Matahari siang hari ini bersinar dengan teriknya menemani kesepianku saat ini. Aku binggung harus kemana, aku berjalan tanpa arah bersama dengan kesedihanku.

Aku sedih…

Aku kecewa…

Tidak bisa lagi menerima ini semua yg telah terjadi, aku sudah putus asa dengan jalan hidupku saat ini, beban hidupku sudah terlalu banyak bahkan tak terhitungkan. Air mataku menetes tak tertahankan, tatapanku kosong menatap sekitar. Alunan suara kendaraan yg melintas tidak aku hiraukan, aku terus berjalan dijembatan penghubung ini. Tiba-tiba sekelebat ide terlintas dikepalaku, kupalingkan wajahku perlahan kearah samping kiriku yang terbentang sungai nan luas seperti tanpa ujung. Tanpa sadar kakiku melangkah mendekati pagar jembatan dan menaikinya secara perlahan. Kulihat air sungai yang sangat tenang dan tentram, senyuman kecil keluar begitu saja menghiasi wajahku saat ini, lebih tepatnya senyuman parau sedih begitu menyakitkan. Dan…

 

…Jungkook…

Kulajukan motor sportku ini dengan kecepatan tinggi, banyak pengendara yang terpaksa harus memberhentikan mobilnya  karena aku melewati mereka dengan cara ugal-ugalan, tapi aku tidak mempermasalahkan mereka semua. Aku kembali fokus kepada jalanku ini, jalanan sedang ramai sekarang tapi aku hanya berniat untuk sekedar berjalan-jalan saja. Sesampainya di sebuah jembatan, aku melihat seorang perempuan berada dipagar jembatan, “Sepertinya ia akan bunuh diri, Bahaya!”Batinku dalam hati. Akupun melajukan kembali motorku dengan kecepatan maksimal berniat menghentikan aksi bunuh diri tersebut. Aku lihat tidak ada satupun yang berniat menolong perempuan itu, akupun turun dari motorku dengan segera menghampiri perempuan itu. Selangkah lagi saja perempuan itu melangkah pasti akan terjatuh ke sungai dalam ini, sontak akupun menarik tangan perempuan itu dan ternyata berhasil membuat tubuh perempuan itu terjatuh kearah sampingku, dengan sekuat tenaga aku tahan tubuh perempuan ini agar tidak jatuh ke aspal. Saat aku menatap wajah perempuan ini hatiku mengelos seketika, tatapannya kosong, wajah yang menampakan kerapuhan perempuan ini tergambar jelas dalam raut wajahnya.

“Ya! Neo michosseo?”Ucapku membentak sosok perempuan itu dengan reflek, kulihat perempuan itu tersadar dari tatapan kosongnya dan langsung menatapku dengan sedikit terkejut.

“Apa kau sudah bosan dengan hidupmu, eoh? Harusnya kau bersyukur masih banyak orang yang ingin hidup tapi harus mati diusia sepertimu!”Ucapku kembali menyadarkan perempuan ini.

“Kau tidak tahu apapun tentang masalahku! Jadi, jangan pernah mengguruiku seperti itu!”Jawab perempuan itu dengan nada tingginya kepadaku, dan dengan seketika perempuan itu membalikkan tubuhnya  melangkahkan kakinya menjauh dariku.

“Ya!!!” Aku kembali berteriak geram melihat tingkah laku perempuan itu yang sangat tidak sopan. Kulihat perempuan itu berjalan dengan gontai menjauh dari tempatku berada, hingga akhirnya perempuan itu terjatuh dengan seketika membuat aku terkejut dan dengan segera berlari menghampirinya. Aku gerakan tubuhnya perlahan menghadap kearahku, kedua matanya terpejam dengan lemahnya, “Sepertinya ia pingsan!”Batinku. Aku hanya bisa menghembuskan napas beratku saat ini,  aku binggung harus bagaimana sekarang dan akupun memutuskan untuk membawa perempuan ini kerumahku.

Kududukan tubuh perempuan ini diatas motorku, dengan perlahan kulajukan motor ini agar tubuh perempuan itu tidak terjatuh, dan tidak tahu kenapa aku sangat ingin menolong perempuan ini. Akhirnya akupun sampai dirumahku, sebenarnya ini tidak pantas disebut dengan rumah, karena keadaannya yang sangat terpencil dan padat akan penduduk, aku menyewa rumah ini dengan uangku sendiri, itu salah satu kebanggaanku. Kugendong tubuh perempuan ini untuk memasuki rumahku, dengan segeraku letakan tubuh perempuan ini diatas tempat tidurku dan akupun menyelimutinya. Kutatap wajah perempuan ini sejenak, wajahnya terlihat sangat rapuh dan sedih seperti ditinggal oleh seseorang yang sangat berarti baginya. Lama menatap wajah perempuan ini, akupun tersadar dan langsung melangkahkan kakiku berniat untuk membuatkan makanan untuk perempuan ini.

 

…Cheonsa…

Perlahan kubuka kedua mataku yang terasa berat ini, kepalaku terasa pusing, mataku melihat kesekitar ruangan dan aku tidak mengenal ruangan ini!”Batinku dalam hati. Aku mencoba untuk bangun dan kududukan tubuhku ditempat tidur berukuran kecil ini sambil memegangi kepalaku yang terasa pusing kembali. Tiba-tiba aku mendengar ada seseorang yang masuk kedalam ruanganku saat ini, aku sangat terkejut melihat seorang lelaki yang sedang membawa nampan ditangannya mencoba masuk kedalam kamar ini.

“O..kau sudah sadar?”Tanyanya kepadaku sambil menyimpan nampan yang ia bawa ke atas meja dan langsung duduk disamping tempat tidur, aku sedikit memundurkan tubuhku karena takut dengan seseorang yang sama sekali tidak aku kenal.

“Aissshh… Gwaenchana, aku yang telah  menyelamatkanmu pada saat kau akan bunuh diri tadi!”Ucapnya kembali mencoba menjelaskan kepadaku.

“Bunuh diri?”Batinku dalam hati, kutundukan kepalaku mengingat kejadian tadi dan dengan seketika air mataku pun berhasil menetes tak tertahankan.

“Aku harus pergi!”Ucapku tiba-tiba dan mencoba turun dari tempat tidur ini, tetapi pada saat aku menegakan tubuhku mencoba untuk melangkah, tubuhku sedikit terhuyung kesamping, dan laki-laki ini dengan segera menahanku agar tidak terjatuh.

“Kau sebaiknya beristirahat dan makanlah ini, aku sudah membuatkanmu bubur!”Ucap lelaki itu sambil mendudukanku kembali ketempat tidur dan menyodorkan nampan berisikan makanan kearahku.

Kedua maniku menatap nanar kepada lelaki yang berada dihadapanku sekarang, ia memperhatikanku seperti tatapan kasihan kepadaku. “Kenapa laki-laki ini sangat baik padaku?.”Batinku dalam hati. Akupun mulai menyuapkan bubur ini kedalam mulutku, enak sekali! Terasa hangat dan air mataku pun kembali menetes keluar mengiringi acara makanku.

 

…Jungkook…

Kutatap wajah perempuan ini yang sedang menangis dalam makannya, hatiku terasa perih melihat itu semua. Tidak tahu kenapa aku sangat peduli sekali kepada perempuan ini, beda halnya dengan perempuan yang sering aku jumpai, tetapi beda sekali dengan saat ini. “Kenapa aku sangat ingin menjaganya?”Batinku dalam hati.

“Apa kau tinggal didaerah sini?”Tanyaku mencoba membuka pembicaraan dengan perempuan ini, tetapi perempuan ini hanya diam menatap lurus kedepan hingga akhirnya ia pun menganggukan kepalanya memberi kode “iya” padaku.

“Setelah keadaanmu membaik, aku akan mengantarkanmu pulang!”Ucapku kembali kepadanya dan sontak perempuan itu pun melihat kearahku.

“Tolong antarkan aku pulang sekarang!”Jawabnya pelan seperti nada memohon kepadaku dan sambil menatap mataku dalam.

“Ne~ tapi kau habiskan dulu makananmu itu!”Ucapku menyetujuinya, dan kulihat perempuan itu sedikit tersenyum kearahku dan kembali memakan makanannya dengan lahap.

Setelah selesai acara makan, akupun berniat untuk mengantarkan perempuan ini untuk pulang kerumahnya, sebelumnya aku membawa jaket hitamku dan memakaikannya kepada perempuan ini.

“Pakailah ini, diluar udaranya sangat dingin!”Ucapku dan mencoba membantu perempuan ini untuk memakai jaket hitamku. Kulihat jaketku terlihat kebesaran ditubuh perempuan ini dan aku pun sedikit tersenyum melihatnya, tetapi perempuan itu hanya menatapku dengan kesal.

Akhirnya akupun mengantarkan perempuan ini pulang kerumahnya dengan menggunakan motor sportku. Kalian pasti aneh melihatku menggunakan motor mewah ini, sebenarnya aku orang yang berada tetapi karena aku mempunyai masalah dengan appaku, aku memutuskan untuk keluar dari rumahku dan mencoba hidup mandiri seperti sekarang ini. Aku tidak tahan dengan perintah appaku yang menyuruhku menjadi pembisnis, aku tidak tertarik dalam bidang itu, dan itulah menjadi pendebatan hebat antara kami berdua, dan itulah sebabnya aku keluar dari rumah.

Kulajukan motorku dengan kecepatan sedang, karena aku takut perempuan ini tiba-tiba jatuh itukan bahaya!”Batinku. Kulirik kaca spionku ini yang terlihat jelas  terpantul wajah perempuan itu, tangan kanannya memegangi dahinya seperti menahan pusing, akupun memberhentikan motorku sebentar dan dengan segera menanyakan keadaan, tetapi ia hanya menjawab bahwa ia baik-baik saja dan menyuruhku untuk tetap mengendarai motor mengantarkannya. Kulajukan kembali motorku ini dengan hati-hati, kedua mataku tidak lepas selalu melirik kearah spion menatap wajah perempuan itu. Hingga akhirnya akupun sampai disebuah apartement yang sedikit mewah, aku memutuskan untuk mengantarnya sampai depan pintu apartemennya karena aku takut ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada perempuan ini. Disepanjang perjalanan menyusuri lorong kamar, perempuan ini selalu menundukkan kepalanya entah kenapa, aku hanya bisa berjalan santai dibelakang perempuan tersebut. Ketika hampir sampai disudut ruangan lorong ini, aku melihat ada seorang laki-laki seperti sedang menunggu seseorang didepan pintu kamar apartemen.

“Park Cheonsa!”Ucap lelaki itu dan sontak membuat perempuan ini terkejut menatap kearah sumber suara, ternyata lelaki itu menunggu perempuan ini.

“Ternyata perempuan ini bernama Cheonsa!”Batinku dalam hati.

“Oppa mwohaneungeoya, eoh? Ka~.”Ucap Cheonsa dengan nada tinggi dan menyuruh laki-laki itu untuk pergi. Kedua mata Cheonsa membulat sempurna karena amarah tapi kini mulai berkaca-kaca.

“Cheonsa yah~ mianhae!”Ucap lelaki tersebut dan langsung memeluk tubuh Cheonsa dengan erat, Cheonsa mencoba mengelak pelukan lelaki tersebut tetapi sepertinya kalah tenaga. Hingga akhirnya Cheonsapun hanya bisa pasrah dan menangis didekapan lelaki tersebut.

Lama aku memperhatikan mereka, sepertinya mereka sepasang kekasih yang sedang dirunggut masalah!”Batinku. Tiba-tiba aku menyadari ada seseorang yang sedang mengintip kearah kami sambil memegang telepon genggam ditelingganya, seperti sedang menelpon! Aku mencurigai gerak-gerik orang tersebut, hingga akhirnya orang itu pun melihat kearahku dan dengan segera ia pun berlari seperti kepergok sedang mengintai. “Sepertinya ada yang tidak beres!”Batinku selidik.

Akupun memutuskan untuk melangkahkan kakiku pulang, karena Cheonsa kini sedang mengobrol dengan lelaki tadi. Saat melewati gerbang apartemen, aku melihat segerombolan orang berpakaian rapi masuk ke dalam apartemen seperti tergesa-gesa! “Seperti dalam film saja!”Gumamku. Tanpa menghiraukan itu semua akupun langsung menuju keparkiran dan mulai mengendarai motor sportku. Disepanjang perjalanan bayangan Cheonsa hadir dalam ingatanku tidak tahu kenapa, Cheonsa selalu ada dalam pikiranku saat ini. Hatiku terasa tidak enak sekarang! Diingat lagi tadi ada seseorang yang mengintip dan mengintai Cheonsa, seketika akupun membulatkan kedua mataku menyadari bahwa, “Jangan-jangan orang yang mengintai tadi menelpon segerombolan orang yang ada digerbang? Bahaya!”Batinku dalam hati panik. Akhirnya akupun membalikkan arah jalur motorku kembali ke apartemen Cheonsa dengan sedikit khawatir.

Akhirnya jungkook pun sampai diapartemen Cheonsa dan langsung berlari ke arah kamar Cheonsa. Ditengah perjalanan aku berpapasan dengan segerombolan orang berjas tadi dan aku sangat terkejut saat melihat salah satu diantara mereka membawa lelaki yang bersama Cheonsa tadi dengan cara paksa.

“Tolong selamatkan Cheonsa! Palli ! ! !”Teriak lelaki itu memohon kepadaku. Akupun semakin khawatir mendengar perkataan lelaki itu dan dengan segera akupun kembali melanjutkan acara berlariku menuju kamar Cheonsa. Saat jarakku semakin dekat dengan kamar Cheonsa aku hentikan langkah kakiku sesaat, aku melihat sebagian gerombolan orang berjas itu sedang memukuli seseorang dengan kejamnya. Aku binggung siapa orang yang sedang mereka pukuli itu, tidak mungkin jika Cheonsalah yang sedang mereka pukuli. Samar-samar aku mendengar teriakan seorang perempuan seperti sedang menahan sakit, hingga akhirnya salah satu orang berjas itu mengayunkan tongkat basboll keatas seperti berniat memukulinya tanpa ampun.

“Ya!!! Geumanhae!!!”Teriakku kearah mereka, dan merekapun membalikkan tubuhnya sesaat kearahku, tetapi mereka kembali memukuli seseorang itu.

Samar-samar aku melihat kearah orang yang sedang dipukuli itu, dan akupun sontak membulatkan kedua mataku terkejut karena orang yang sedang mereka pukuli itu ialah Cheonsa. Akupun langsung berlari menghadang gerombolan orang itu dan mencoba menolong Cheonsa, dengan sekuat tenaga kuhalangi pukulan mereka semua dengan tubuhku, aku tidak ingin melihat Cheonsa tersakiti seperti ini. Akhirnya gerombolan orang berjas itu pun menyerah dengan perlakuanku terhadap Cheonsa dan merekapun meninggalkan kami berdua dengan gaya tak berdosanya. Akupun mencoba menarik tubuh Cheonsa yang tergeletak lemah dilantai dingin ini, aku sangat terkejut melihat banyak darah bercucuran dibagian wajah Cheonsa, hatiku semakin mengelos sakit melihat keadaan Cheonsa saat ini. Aku mulai menyadarkan Cheonsa dengan cara menepuk pipinya dengan lembut, ternyata Cheonsa masih tersadar meskipun keadaannya sudah semakin melemah. Akhirnya akupun memutuskan membawa Cheonsa kerumah sakit, akupun menggendong tubuh Cheonsa didepan dengan sedikit berlari, dan dengan segera aku memberhentikan sebuah taxi. Disepanjang perjalanan air mata Cheonsa mengalir deras dikedua pipinya seperti sedang menahan sakit yang teramat sakit  diiringi dengan darah yang semakin banyak keluar dari arah luka sobek didahinya. Aku mencoba menenangkan Cheonsa, tanpa kusadari air matakupun ikut terjatuh tepat kearah wajah Cheonsa yang kini berada dalam pangkuanku, Cheonsa menatap mataku lamat meskipun tatapan matanya semakin melayu, aku terus mencoba membangunkan Cheonsa agar tetap terjaga, tetapi pada akhirnya mata Cheonsa pun tertutup rapat dengan lemahnya. Aku semakin panik melihat keadaan Cheonsa sekarang, aku terus berteriak kepada supir taxi agar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tapi supir itu tidak bisa berbuat apa-apa karena jalanan hari ini sangatlah ramai.

Akhirnya kamipun sampai dirumah sakit, akupun langsung berlari menggendong Cheonsa memasuki rumah sakit dan meminta tolong kepada suster untuk segera menangani Cheonsa. Akhirnya Cheonsa  dibawa keruangan UGD, aku hanya bisa menunggu Cheonsa dari luar ruangan dan terus berdoa agar keadaan Cheonsa tidak separah yang aku bayangkan.

 

…Yoongi…

Aku sangat kesal dengan apa yang telah dibuatan oleh anak buah eommaku ini. Aku mencoba melepaskan genggaman tangan kuat ini saat memasuki halaman rumahku. Saat aku melihat sosok eommaku sedang berdiri dengan angkuhnya dihadapanku saat ini, kedua anak buahnya langsung melepaskan genggamannya dri tanganku. Tanganku sedikit terasa sakit akibat genggaman tadi, tapi aku tidak mempermasalahkannya dan kembali menatap eommaku dengan tajam.

“Eomma mwohaneun geoya, hah?”Teriakku geram dengan semua perbuatannya terhadapku dengan Cheonsa

“Eomma sudah katakan sebelumnya jauhi Cheonsa! Dan kau tahu sendirikan apa akibatnya jika kau tidak menuruti eomma?”Jawab eomma dengan wajah merendahkan dan mengancam kepadaku.

“Tapi eomma sangat keterlaluan! Aku harus menyusul Cheonsa.”Teriakku kembali dan mencoba melangkahkan kaki keluar tapi dengan segera segerombolan orang berjas itu menarik tanganku kembali atas perintah dari eommaku, aku mencoba menarik tanganku hendak melepaskan genggaman kuat orang ini tapi tidak bisa.

“Bawa dia kekamar dan kunci pintunya!”Ucap eomma memerintahkan kepada anak buahnya, akhirnya merekapun membawaku kekamar dengan paksa. Aku terus berteriak sambil memberontak mencoba melepaskan tangan mereka, tetapi hasilnya nihil tubuhku didorong memasuki kamarku dan dengan segera mereka mengunci rapat kamarku.

Aku sudah muak dengan semua yang dilakukan oleh eommaku, ia berusaha memisahkanku dengan Cheonsa. Eomma menghalalkan segala cara agar aku bisa jauh dari Cheonsa. Aku tidak tahu apa alasannya eomma sangat membenci Cheonsa. Aku sangat khawatir dengan keadaan Cheonsa saat ini, handphoneku sudah lama ini disita oleh eommaku agar aku tidak dapat menghubungi Cheonsa. Yoongi terlihat berjalan bulak-balik dikamarnya binggung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Semua gerak-gerik yoongi yang dilakukannya  terpantau jelas oleh eommanya karena terpasang cctv ditiap sudut kamar Yoongi.

“Aku tidak akan biarkan kau bersama dengan Cheonsa, Yoongi-yah!”Ucap Ny Min tersenyum sinis kearah layar monitor.

 

…Hospital…

Jungkook terlihat berjalan mundar-mandir karena kesal menunggu dokter yang tak kunjung keluar dari ruang UGD sangatlah membosankan. Kekhawatirannya akan Cheonsa sudah sangatlah dipuncak, ia terus saja berdoa agar Cheonsa akan baik-baik saja meskipun tidak mungkin karena dilihat dari luka yang didapatnya itu sangatlah parah.

Tiba-tiba dokterpun akhirnya keluar, tapi tunggu dulu! Sepertinya dokter itu sangat tidak asing bagiku, aku mengenal dokter ini.

 

…Jungkook…

“O… Hyung?”Ucapku terkejut melihat dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD, dan ternyata dokter itu adalah kakakku Jeon Kang Jun.

“O… Jungkook ah~ apa pasien itu orang yang kau kenal?”Tanya hyungku karena melihat keadaanku kini yang berpakaian bersimbah darah akibat menggendong Cheonsa tadi.

“Ne hyung! Bagaimana keadaannya? “Jawabku dengan nada khawatir dan tidak sabar menunggu jawaban atas keadaan Cheonsa saat ini

“Keadaan pasien sudah membaik setelah menjalani masa yang sangat mengkhawatirkan tadi, 3 tulang rusuknya patah sehingga harus diadakan operasi, ia juga mendapatkan beberapa luka jahitan didahi dan pelipis, dan diarea sudut bibirnyapun sedikit robek.”Ucap Kangjun hyung yang tak lain adalah sang dokter mencoba menjelaskan, Jungkook terlihat sangat terkejut dengan penjelasan dari hyungnya tersebut, dan kekhawtiran itu bertambah dalam hatinya.

“Hyung! Aku tidak tahu apapun dan bagaimanapun caranya, Tapi tolong sembuhkanlah Cheonsa!”Ucapku memohon kepada hyungku sambil terduduk lemas karena kedua lututku terasa bergetar hebat mendengar itu semua. Kangjun pun berusaha menahan tubuh Jungkook agar tidak bersujud dihadapannya untuk memohon atas kesembuhan Cheonsa.

“Arrayo Jungkook ah~ hyung akan berusaha semampuku untuk menyembuhkan semua luka yang dideritanya!”Ucap Kangjun sambil menepuk bahu Jungkook memberikan sedikit semangat kepadanya.

“Apakah dia seseorang yang special bagimu?”Ucap Kangjun menambahkan, dan sontak Jungkook membulatkan matanya terkejut mendengar ucapan Kangjun hyungnya itu, tetapi Jungkook terlihat seperti sedang berpikir sekarang.

“Molla~ “ucapku datar nan pasrah.

 

Akhirnya Cheonsapun dapat dipindahkan ke dalam ruang rawat. Kini aku melihat Cheonsa terbaring lemah dengan luka lebam diwajah dan tubuhnya yang tidak terhalangi oleh baju Rumah Sakit, wajah Cheonsa terlihat sangat pucat sekali seperti tidak ada darah dalam tubuhnya. Kuperhatikan setiap inci wajahnya dengan perlahan, tidak tahu kenapa aku sangat mengkhawatirkan orang ini meskipun aku belum mengenal betul tentang Cheonsa, tapi ada sesuatu didalam diriku ini memberikan kekuatan  untuk menjaganya. Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang  menepuk bahuku dari arah belakang, dan ternyata dokter Kangjun sekaligus kakak kandungku.

“Bisakah kita mengobrol diluar sebentar?”Ucap Kangjun hyung padaku, aku hanya bisa menjawab dengan anggukan dalam diamku. Akhirnya akupun mengikuti Kangjun hyung keluar ruangan untuk mengobrol, kamipun duduk diruang tamu kamar rawat Cheonsa.

“Kapan kau akan pulang kerumah Jungkook-ah?”Ucap Kangjun hyung sambil menatapku dengan penuh harapan. Sebenarnya aku sangat merindukan hyungku ini dengan eommaku, sudah hampir 2 tahun aku meninggalkan rumah dan aku tidak mau bertemu dengan anggota keluargaku. Ini bermula saat perdebatanku dengan appaku, appaku menyuruhku agar meneruskan perusahaannya sedangkan aku sangatlah tidak tertarik dengan itu semua. Aku memilih sendiri jalanku menjadi seorang pembalap, tetapi appaku tidak mengizinkannya, hingga pada akhirnya akupun memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup seorang diri seperti sekarang ini.

Aku tidak mengetahui bahwa Kangjun hyung sudah mulai berkerja di Rumah Sakit ini, tapi aku merasa beruntung karena Kangjun hyung dapat membantuku untuk menyembuhkan Cheonsa dan membayarkan biaya rawatnya sampai aku mendapatkan uang sebagai gantinya.

“Aku tidak tahu hyung! Aku masih kesal dengan appa!”Jawabku menjawab pertanyaan dari Kangjun hyung. Kangjun terlihat menghembuskan napas beratnya mendengar jawaban dari adiknya ini. Kangjun sangat mengenal sekali dengan sifat Jungkook sehingga ia tidak bisa memaksakan kehendak apapun terhadapnya.

“Kau tahu? Keadaan eomma selalu turun jika memikirkan tentangmu. Eomma sangat merindukanmu Jungkook-ah.”Ucapnya kembali dan itu membuat dadaku terasa perih seperti teriris mendengar bahwa eomma sakit karenaku.

“Maukah kau menemui eomma meskipun hanya sebentar saja? Aku yakin eomma akan senang dapat bertemu denganmu lagi.”Ucap Kangjun menambahkan dan Jungkookpun terlihat berpikir sejenak lalu menatap Kangjun dengan tatapan pasrah.

 

 

…Yoongi…

Sudah seharian aku terkurung dikamarku sendiri, aku binggung memikirkan cara agar keluar dari sini tapi tidak ada celah satupun untuku keluar. Aku mulai frustasi dan berteriak sejadi-jadinya, kubuka lemari es yang berisikan minuman alkohol yang ada disudut kamarku, dan akupun mulai meminumnya seperti kesetanan. Semua minuman aku buka dan langsung meminumnya, minuman ini tidak berasa apapun dibandingkan dengan rasa sakit hatiku jauh dengan Cheonsa yang dimana aku tidak mengetahui keadaannya sekarang. Aku mulai mabuk dan kepalaku terasa sangat pusing berputar, kujatuhkan tubuhku ke tempat tidurku yang sudah tidak berbentuk lagi keadaannya karena ulahku. Tiba-tiba setetes air mata mengalir disudut mataku, hingga akhirnya akupun menangis sesegukan memikirkan Cheonsa kekasihku.

Aku merasa mulai mual tidak karuan, mataku berkunang-kunang dan perutku pun sakit takk tahu kenapa. Sepertinya kadar alkohol yang aku minum sangatlah tinggi sehingga menyebabkan perutku terasa buruk seperti sedang keracunan. Aku bukanlah seorang yang selalu menghilangkan suatu masalah dengan minuman, aku tidak bisa minum seperti ini, karena aku tidak tahan untuk mabuk. Aku melakukan ini semua karena aku sangat  kesal hari ini. Sedetik kemudian akupun mulai memuntahkan semua isi perutku kelantai, keadaanku sangatlah kacau sekarang, aku tiada hentinya mual dan memuntahkan segalanya keluar dari perutku. Badanku terasa lemah sekali meskipun hanya digerakan sedikitpun, hingga akhirnya aku merasakan ada seseorang yang mengangkat tubuhku keluar dari kamar. Aku mencoba melepaskan tangan ini dan akhirnya berhasil, aku mulai berlari dengan sukuat tenaga meskipun sedikit gontai dan kedua orang itu mengejarku dari belakang, seketika tubuhku pun melemah, pandanganku sudah tidak jelas arahnya. Kuhentikan sejenak acara berlariku ini dan tak terasa aku pun jatuh pingsan.

 

…Kangjun…

Selesai mengobrol dengan Jungkook adikku, akupun kembali keruang kerjaku. Aku sedikit berpikir “bagaimana jika aku menyuruh eomma datang ke Rumah Sakit?”Batinku dalam hati. Setelah lama menimbang-nimbang akhirnya Kangjun pun memutuskan untuk menelpon eommanya.

“Yeoboseyo? Eomma?”Ucapku segera setelah mendengar eomma mengangkat teleponnya.

“Ne waeyo Kangjun-ah?”Jawab eomma dengan santai.

“Eomma bisakah kau bawakan aku makan siang hari ini, eoh? Aku sangat merindukan pasakan eomma.”Ucapku sedikit bermanja kepada eomma agar eomma menyetujui permintaanku.

“Aigooo~ ige mwoya?haha~”jawab eomma malah tertawa mendengar ucapanku

“Eomma~ palli! Aku akan menunggumu dicaffe favorite kita, ok! Tidak ada penolakan.”Ucapku kembali memerintahkan dan langsung menutup telepon secara sepihak.

“Aku harap eomma akan senang bertemu dengan Jungkook nanti!”Ucap Kangjun dan tersenyum kecil.

 

…Jungkook…

Kuperhatikan wajah Cheonsa setiap incinya karena sedari tadi tidak ada yang aku lakukan selain memandangi wajah rapuhnya. Selang yang berada dihidungnya itu menambah kesan bahwa keadaan Cheonsa sangat mengkhawatirkan, apalagi Cheonsa bernapas dengan bantuan oksigen karena paru-parunya terluka akibat tulang rusuknya yang patah sangatlah memilukan. Sudah 2 hari Cheonsa belum juga sadar dari mimpinya panjangnya ini, suster datang silih berganti untuk memeriksakan keadaan cheonsa dan mengganti cairan infusan tiap jamnya.

Tiba-tiba aku mendengar suara handphone didalam lemari, dengan segera kubuka lemari itu dan ternyata benar sepertinya handphone ini milik Cheonsa. Kubuka kunci handphone, aku sedikit terkejut saat melihat wallpaper yang menampilkan wajah Cheonsa begitu ceria bersama dengan laki-laki kemarin yang aku temui saat mengantarkan Cheonsa pulang ke apartemennya. Saatku melihat notif ternyata ada sebuah agenda yang berdering peringatan, akupun memutuskan untuk membukanya dan ternyata agenda tersebut bertuliskan “Nae Saengil !!! Chukhaeyo Cheonsa-yah~” seketika hatiku pun mengelos perih karena tepat dihari ini Cheonsa berulang tahun. Tiba-tiba air mataku menetes, dadaku terasa sesak seperti terhimpit dinding besar karena menahan tangisku yang hendak keluar. “Betapa mirisnya Cheonsa berulang tahun dengan keadaan parah seperti ini.”Batinku dalam hati dan kembali menatap wajah Cheonsa.

“Cheonsa-yah~ palli ireona! Kajja kita rayakan ulang tahunmu ini bersama!”Ucapku pelan mencoba berbicara pada Cheonsa yang sedang tidak sadarkan diri akibat koma.

Setelah lama menatap wajah Cheonsa dengan sedikit melamun, aku mendengar ada seseorang yang masuk kedalam ruangan kamar. Aku sedikit terkejut mendengar suara pintu yang tiba-tiba terbuka itu. Kulihat Kangjun hyung mendekat kearahku sambil menampilkan senyuman seperti biasanya.

“Jungkook-ah kajja kita makan siang! Sudah waktunya untuk makan, kau dari tadi belum makankan? Kajja ikut aku.”Ucap Kangjun hyung mengajakku untuk keluar makan.

“Tapi hyung! Cheonsa eothae?”Jawabku tidak tega meninggalkan Cheonsa sendirian.

“Gwaenchana, biar suster yang menjaga Cheonsa untuk sementara!”Ucap Kangjun hyung dan itu membuatku sedikit lega.

Akhirnya akupun menuruti ajakan Kangjun hyung untuk makan siang. Kangjun hyung mengajakku ke sebuah caffe yang berada tidak jauh dari Rumah Sakit. Setelah lama berjalan, kamipun sampai dan dengan segera memasuki caffe, aku melihat sosok yang aku kenal tapi terlihat masih samar. Kangjun mengajakku berjalan kearah seorang perempuan paruh baya itu. Setelah sampai dimeja caffe aku sangat terkejut melihat perempuan paruh baya tadi itu ternyata eommaku. Eomma terlihat terkejut melihatku dan langsung berdiri dihadapanku melihat tak percaya dengan kehadiranku saat ini.

“Eomma~ “ucapku pelan menatap kedua mata eomma dengan penuh kerinduan. Tiba-tiba eomma menarikku dan memelukku dengan erat, kudengar eomma menangis didalam pelukannya, akupun membalas pelukan eomma dan tidak terasa air matakupun mengalir keluar.

“Neomu bogoshipo Jungkook-ah~.”Ucap eommaku sambil melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku dengan jari tangan lembutnya.

“Nado eomma~ maaf aku tidak pernah mengunjungimu eomma!”Jawabku merasa bersalah sekarang.

“Ne, gwaenchana Jungkook-ah ayo duduklah. Kangjun-ah kapan kau bisa menemukan anak nakal ini, eoh?”Ucap eomma menyuruhku duduk disampingnya, sedangkan Kangjun hyung duduk dihadapan kami. Kini eomma sudah mulai tenang tidak menangis lagi dan kamipun mulai bercanda, aku sangat merindukan eommaku ini.

“Eomma! Jungkook kita sudah beranjak dewasa sekarang, dia membawa seorang wanita kerumah sakitku.”Ucap Kangjun hyung membuatku sedikit terkejut dan membulatkan kedua mataku kearahnya.

“A…aanio eomma, wanita itu bukan siapa-siapa untukku.”Ucapku sedikit gugup saat menjawab pernyataan dari Kangjun.

“Jinjayo? Aigoo~ gwaenchana Jungkook-ah tidak usah malu seperti itu! Haha. . .”Ucap eomma meledekku, aku sedikit tersipu malu karenanya. Kangjun hyung dan eomma sangat puas menertawakanku kali ini.

“Sudah-sudah lebih baik kita makan, nanti kita lanjutkan kembali pembicaraan kita.”Ucap eomma menghentikan tawanya karena ia baru sadar bahwa bekal yang dibawanya akan dingin jika tidak dimakan saat ini juga.

“Apa eomma membawa makanan pesananku?”Ucap Kangjun kepad eomma, aku hanya melihat mereka secara bergantian.

“Ne eomma membawanya, tidak tahu kenapa eomma membuatkan makanan lebih banyak hari ini. Mungkin ini pirasat eomma akan bertemu denganmu Jungkook-ah!”Ucap eomma tenang menatap kearahku, aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.

Akhirnya kamipun makan bersama. Aku sangat merindukan masakan eommaku ini, mataku sedikit berkaca-kaca saat menyuapi makanan kedalam mulutku tapi dengan sekuat tenaga aku menahan tangisan ini agar tidak keluar. Aku tersenyum melihat eomma dan Kangjun secara bergantian yang menampilkan suasana senang nan hangat.

 

 

…Cheonsa…

Kutelusuri padang rumput ini, aku tidak tahu dimana aku berada saat ini. Matahari bersinar dengan terangnya disini, deretan ilalang menjulang tinggi melebihi tinggi badanku sehingga aku sedikit kesulitan untuk berjalan. Lamaku berjalan, aku menemukan sudut jalan tanpa ilalang menampakan lahan luas seperti tak terurus, pohon tumbang disana sini dan ada sisa-sisa seperti terbakar. Aku terus berjalan dengan hati-hati melewati itu semua, bajuku yang asalnya berwarna putih bersih kini menjadi kotor seketika.

Tiba-tiba ada seseorang menarik tanganku dari arah belakang, tubuhku mengikuti tarikannya sehingga akupun berbalik menghadap seseorang itu. Seseorang itu ternyata Yoongi oppa, aku sangat terkejut dengan keberadaan Yoongi oppa ditempat ini, dan akupun dengan segera memeluk Yoongi oppa. Seketika sosok Yoongi oppa menghilang begitu saja bagaikan tertiup angin kencang saat ini, aku sangat terkejut menyadari itu semua. Kulihat kearah sekelilingku, tapi aku tidak dapat menemukan sosok yang sangat aku sayangi yaitu Yoongi oppa. Akhirnya air mataku berhasil menetes dengan tak terkendali, akupun mulai menangis sesegukan binggung dengan apa yang harus dilakukan. Aku mulai berlari mencari Yoongi oppa kesegala arah tapi hasilnya nihil, aku tidak bisa menemukan Yoongi oppa dimanapun. Aku sudah tidak kuat hanya untuk menopang tubuhku ini dan akhirnya akupun terduduk lemas ditanah dingin ini. Dadaku terasa sesak akibat tangisanku, tangan kananku terus saja memukul dadaku yang sesak ini.

“Oppa wae??”Ucapku miris dan tangisanku kembali pecah tak tertahankan.

Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang berdiri dihadapanku saat ini karena sinar matahari yang berada lurus kearahku  kini terhalangi. Aku melihat sepatu yang dikenakan oleh seseorang ini, dan akhirnya ia pun memberikan tangannya seperti hendak menolongku untuk berdiri. Kutatap lama tangan tersebut dan akupun mulai mendongkakkan wajahku menghadap kearahnya. Seseorang itu tersenyum manis kearahku dengan raut wajah yang sedikit khawatir terlihat jelas diraut wajahnya. Aku menatap sorot matanya sangat menenangkanku hingga aku terhanyut menatapnya lama. Akupun menyambut tangannya yang terulur sedari tadi, tiba-tiba suasana ditempat ini berubah seketika menjadi sangatlah gelap. Aku tidak bisa melihat apapun disini, tangan yang aku genggam tadi menghilang begitu saja. “Aku binggung ada apa ini sebenarnya.”Batinku.

 

…Jungkook…

Selesai acara makan siang akupun kembali kerumah sakit menuju ruangan Cheonsa, tapi sebelum hendak pergi, eomma memaksa untuk ikut bersamaku, dan mau bagaimana lagi akhirnya akupun mengajak eomma keruangan Cheonsa dirawat. Setelah sampai didalam ruangan Cheonsa, eomma terlihat sangat terkejut melihat keadaan Cheonsa sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar menatap tidak percaya.

“Apa yang terjadi dengan perempuan ini? Kenapa keadaannya bisa separah ini?”Ucap eomma khawatir melihat keadaan Cheonsa.

“Aku belum begitu mengenal perempuan ini eomma, tapi tidak tahu kenapa aku sangat ingin menjaganya.”Jawabku sambil  menundukan kepalaku binggung untuk menjelaskannya kepada eomma.

“Geuraeyo? Aigoo kasihan sekali perempuan ini. Apa dia tidak memiliki anggota keluarga satupun, eoh?”Ucap eomma kembali dan mulai mendekat kearah Cheonsa, menggenggam tangan Cheonsa dengan erat dan menatapnya lamat.

“Mollayo eomma, aku hanya tahu bahwa ia mempunyai seorang laki-laki mungkin dia kekasihnya, tapi laki-laki itu diseret oleh orang-orang berjas rapi secara paksa dan saat itu juga aku melihat Cheonsa dipukuli oleh beberapa orang berjas itu. Akhirnya beginilah keadaannya.”jawabku mencoba menjelaskan semuanya kepada eomma. Eomma terlihat terkejut kembali saat mendengar penjelasan dariku dan kembali menatap wajah Cheonsa dengan mata mulai berkaca-kaca. Tangan eomma terulur membenarkan posisi surai hitam Cheonsa yang jatuh kearah wajahnya.

Tiba-tiba aku melihat kepala Cheonsa bergerak kearah samping, dadanya naik turun dan kini napasnya seperti tertahan. Akupun semakin mendekat kearah Cheonsa menunggu reaksi selanjutnya, eomma melakukan hal yang sama denganku. Mataku membulat seketika saat melihat kedua mata Cheonsa terbuka secara perlahan.

 

…Cheonsa…

Gelap…

Semuanya terlihat gelap. Aku terus berlari meskipun tak tahu arah, kakiku tersandung sesuatu dan akhirnya akupun terjatuh. Aku mencoba untuk membuka kedua mataku perlahan, tetapi yang aku lihat sekarang terasa terang tidak lagi gelap, sepertinya tadi hanyalah mimpi. Aku gerakan tubuhku tetapi terasa sangatlah sakit.

“Cheonsa kau sudah sadar?”Ucap seseorang terdengar pelan sambil mendekatkan wajahnya kepadaku. Kedua mata Cheonsa terbuka dengan sempurna sekarang dan iapun mulai melihat ke sekitar ruangan. Aku melihat seorang laki-laki mendekatkan wajahnya kepadaku dan menanyakan keadaanku. Aku menatap kedua mata laki-laki ini, tunggu dulu! Laki-laki ini yang ada dalam mimpiku tadi, tapi rasanya aku mengenal laki-laki ini. Aku terus memperhatikan wajahnya dan aku baru tersadar bahwa dia adalah lelaki yang menyelamatkanku kemarin.

Jungkook terlihat binggung karena Cheonsa melihat kearah wajahnya sedari tadi semenjak sadarkan diri. Jungkook terlihat tersipu malu dan melirik kearah eommanya, eomma Jungkook hanya tersenyum penuh arti kearah Jungkook. Cheonsa menyadari bahwa Jungkook terlihat kikuk karena terus diperhatikan, aku merasakan ada seseorang  berada disamping kiriku. Akupun menggerakan kepalaku melirik kearah kiri, kini kedua mataku menangkap sosok wanita paruh baya tersenyum manis kearahku, kutatap wajah wanita ini dan aku mencoba membalas senyumannya itu, tetapi pada saat aku tersenyum, aku merasakan sakit yang teramat sakit disekujur tubuhku. Aku mulai merintih kesakitan sekarang, aku tidak bisa menggerakan tubuhku sama sekali saking sakitnya. Air mataku mulai keluar dari sudut mataku, kulihat lelaki dan wanita paruh baya itu panik menanyakan keadaanku, tapi aku tidak bisa menjawabnya karena menahan rasa sakit yang aku alami. Teriakkanku mulai bergema menghiasi tiap sudut ruangan.

“A..appayo!!!”Ucapku dengan nada pelan sambil menggigit bibir bawahku mencoba menahan sakit.

Akhirnya Jungkookpun keluar dan menarik tangan dokter untuk masuk memeriksa keadaan Cheonsa yang sangat mengkhawatirkan ini. Dokter alias Kangjun akhirnya memeriksa keadaan Cheonsa, ternyata Cheonsa berteriak kesakitan seperti itu karena obat penahan rasa sakitnya sudah habis dan Kangjunpun memberikan obat penahan rasa sakit melalui suntikan diselang infusan Cheonsa dan sedikit demi sedikit iapun mulai tenang kembali. Kangjun mencoba menenangkan Jungkook dan eommanya dengan cara menjelaskan perihal tentang keadaan Cheonsa dan merekapun kembali tenang,  lalu kembali mendekat kearah Cheonsa.

“Gwaenchana, eoh? Apa kau masih mengingatku? Jungkook imnida.  Arrayo?”Ucap lelaki itu kepadaku dengan raut wajah khawatirnya terhadapku, aku baru tahu bahwa lelaki ini bernama Jungkook. Aku hanya bisa menjawab pertanyaannya dengan anggukan kecil.

“Apakah tadi sangat terasa sakit Cheonsa-yah?”Ucap wanita paruh baya itu dan akupun melihat kearahnya yang tak kalah khawatirnya. Aku membalasnya dengan senyuman kecil, aku tidak mengenal wanita paruh baya ini.

“O.. Dia itu eommaku Cheonsa-yah! Pasti kau menanyakan hal itukan dalam pikiranmu?”Ucap Jungkook seperti dapat membaca pikiranku.

“Gwaenchana Cheonsa-yah! Aku yakin kau akan cepat sembuh!.”Ucap dokter dan membuatku melirik kearahnya.

Aku melihat kearah mereka bertiga secara bergantian, “kenapa mereka semua sangat baik kepadaku!”Batinku dalam hati. Aku sangat senang mengenal mereka.”Tambahku.

Hari berganti hari keadaan Cheonsa semakin membaik, ditambah lagi dengan eomma Jungkook yang selalu menemani dan menjaga Cheonsa setiap saat dengan memperlakukan Cheonsa seperti anak kandungnya sendiri. Cheonsa sangat baik dan mudah beradaptasi dengan mereka, sampai-sampai ia dapat sedikit melupakan seorang Min Yoongi kekasihnya itu.

Hari ini Ny Jeon tidak bisa hadir menemui Cheonsa karena ada suatu keperluan yang mendadak, sehingga ruangan kamar rawat Cheonsa terasa sangat sepi karena hanya ada Cheonsa dan Jungkook yang masih betah berdiam diri satu sama lain ditempatnya masing-masing. Jungkook terlihat canggung jika hanya berdua didalam kamar rawat bersama Cheonsa, sama halnya dengan Cheonsa, ia hanya bisa melirik sedikit kearah Jungkook berniat mengajaknya mengobrol tetapi ia merasa malu.

“Jungkook oppa! Aku ingin berjalan-jalan keluar, apa boleh?”Ucapku mencoba berbicara kepada Jungkook, aku merasa bosan setelah satu minggu ini berada didalam kamar rawat terus.

“Ne? Hemm, tapikan kau belum sepenuhnya sembuh Cheonsa. Apa mau oppa bawakan kau kursi roda?”Jawab Jungkook dengan nada khawatir.

“Jika aku memakai kursi roda, pasti akan merepotkanmu oppa, lebih baik aku jalan kaki saja.”Ucapku binggung dan langsung mencoba untuk bangun dari tempat tidurku.

“Aniya..aniya! Lebih baik oppa bawakan kursi roda untukmu. Chamkanman gidaryo!”Ucap Jungkook segera melarangku berjalan sendiri dan langsung mengambil kursi roda.

Akhirnya Jungkook kembali dengan membawa kursi roda lengkap dengan tiang untuk infusan. Cheonsa terlihat tersenyum kearah Jungkook dan mencoba berdiri untuk duduk dikursi roda dan pasti atas bantuan Jungkook tentunya. Lalu Jungkookpun membawa Cheonsa keluar ruangan menuju taman depan Rumah Sakit, disepanjang perjalanan Cheonsa selalu melirik kearah Jungkook yang sedang mendorongnya dan menampilkan senyuman yang sangat manis. Jungkook terlihat membalas senyuman Cheonsa, mungkin Cheonsa sangat senang sekarang.

 

…Yoongi…

Sudah satu minggu ini Yoongi dirawat di Rumah Sakit karena keracunan alkohol karena ia meminum alkohol dengan kadar yang sangat tinggi, sehingga dokter harus mengeluarkan cairan alkohol itu semua dengan cara paksa. Sampai saat ini tubuh Yoongi masih terlihat sangat lemah untuk digerakan, tetapi pihak keluarga memutuskan untuk membawa pulang Yoongi untuk menjalani perawatan khusus dirumahnya.

Yoongi dijaga ketat oleh orang berjas rapih anak buah Ny Min, Yoongi dibawa oleh suster untuk pulang dengan menggunakan kursi roda. Yoongi terlihat sangat murung, ia sangat ingin sekali untuk kabur tapi mau bagaimana lagi tubuhnya sedang lemah sekarang, hingga ia hanya bisa pasrah diam tak berkutik sedikitpun. Sesampainya ditaman Rumah Sakit aku melihat sekitar, terlihat beberapa pasien sedang bersantai sejenak, dan betapa terkejutnya aku saat kedua manikku menangkap seseorang yang sangat aku kenal dan aku sayangi.

“Cheonsa!

 

…Cheonsa…

Sesampainya ditaman Rumah Sakit, Jungkook membawaku kearah dekat kolam ikan berair mancur sangat indah. Aku melihat ada beberapa suster yang sedang membagikan makanan cemilan pada setiap pasien, dan Jungkookpun mencoba meminta izin padaku untuk menghampiri suster tersebut, lalu iapun meninggalkan aku sejenak. Aku melihat kesegala arah sambil menghirup udara segar ditaman ini, tapi pada saat aku melihat sudut jalan taman, aku melihat sosok laki-laki yang sangat aku kenal.

“Yoongi oppa?

Akupun kembali menajamkan pandanganku dan ternyata benar lelaki yang sedang aku lihat itu benar Yoongi oppa kekasihku.

Aku mencoba menggerakan kursi rodaku dengan sekuat tenaga tapi tidak kunjung bergerak juga. Akupun memutuskan untuk berjalan, tapi beberapa langkah kuberjalan aku menyadari bahwa tanganku tertarik kearah belakang akibat selang infusan, akupun mencabut selang itu dengan paksa dan membuatku sedikit meringis kesakitan. Aku kembali melangkahkan kakiku sambil sedikit berlari kearah Yoongi oppa. Lariku sedikit melemah tetapi aku terus berusaha untuk berlari dan mulai meneriakan nama Yoongi oppa. Dengan seketika merekapun berbalik melihat kearahku, sama halnya dengan Yoongi oppa yang terlihat membulatkan kedua matanya tidak percaya akan bertemu denganku disini. Akupun kembali berlari kearah Yoongi oppa, tetapi sayangnya orang berjas rapih ini mencoba melarangku mendekat kearahnya.

“Yoongi oppa! Jebal. . .”teriakku yang kini telah berhasil dikekang oleh orang berjas rapih ini.

“Oppa jebalyo!!! Neomu bogoshipo!”Ucapku kembali dan tanpa disadari air matakupun mulai mengalir deras dipipiku. Kedua orang berjas ini terus menggenggam tanganku kuat sedangkan saatku terus memberontak mencoba melepaskan tangan kekar ini tapi tidak bisa karena kalah tenaga. Aku melihat Yoongi oppa mulai menangis, keadaannya sangatlah lemah sehingga tidak dapat berbuat apa-apa sekarang.

“Mianhae~ jeongmal mianhae! Oppa tidak bisa bersamamu Cheonsa-yah!”Ucap Yoongi merasa sangat bersalah, hanya itu yg dapat Yoongi katakan sekarang kepada Cheonsa.

“Oppa…hikhiks…jebal…hikhiks…aku..ingin..bersamamu…hikhiks!”Ucap Cheonsa tertahankan oleh tangis sesegukannya, tanganku sudah terasa sakit sekarang kedua anak buahnya kini mendorongku dengan kuat sehingga mau tidak mau aku harus terduduk diaspal taman ini dan merekapun mulai meninggalkanku.

“Oppa~!!! Oppa gajima!!! Oppa!”Teriakku kembali bangkit dari dudukku dan medekati Yoongi oppa tapi tetap saja orang berjas itu menghalangiku dan mendorongku. Hatiku sangat perih sekarang, aku terus meneriaki nama Yoongi oppa tapi tadak ada hasilnya hingga mereka berhasil memasukan Yoongi oppa kedalam mobil, sedangkan mereka kembali mendorong tubuhku dengan kasar. Hingga pada saat mobil Yoongi oppa mulai menjauh, akupun sekuat tenaga berlari mengejar mobil tersebut dan berteriak memangil nama kekasihku Yoongi oppa, tapi mobil itu tak kunjung berhenti hingga akhirnya langkahku mulai gontai dan terduduk lemah dijalan, dadaku terasa sangat sesak. Kuteriakkan namamu dalam tangisku ini, tapi sepertinya sia-sia saja. Tangisanku pecah, tangan kananku menggenggam baju dengan erat karena terasa sangat sesak sekali jauh dari Yoongi oppa.

 

…Jungkook…

Aku kembali kearah Cheonsa berada tapi dia tidak ada dikursi rodanya. Aku binggung Cheonsa pergi kemana, tetapi para pasien melihat kearah luar jalan sambil saling berbisik seperti ada sesuatu yang menarik perhatian mereka. Aku mencoba untuk melihatnya dan ternyata benar Cheonsa   berada dijalan sambil terduduk lemah dan menangis. Tiba-tiba hatiku terasa sesak dan dengan segera akupun mulai berlari menghampirinya. Aku mendengar Cheonsa meneriakan nama Yoongi! “Apakah kekasihnya berada disini?”Batinku dalam hati. Akupun kembali mendekat kearah Cheonsa.

“Cheonsa wae geurae? Kenapa kau ada disini? Aku menyuruhmu untuk menunggu tapi kenapa kau tidak menurutiku, eoh?”Tanyaku dengan nada sedikit kesal kepadnya. Cheonsa melepaskan infusannya begitu saja, dan sekarang ia berada dijalanan dengan keadaan seperti ini.

“Oppa! Yoongi oppa yeogisseo!”Jawab Cheonsa sedikit tertahankan suaranya oleh tangis pilunya.

“Ne? Apa Yoongi ada disini? Dimana dia sekarang?”Tanyaku penasaran kepada Cheonsa.

“Ne oppa, tapi sekarang dia sudah pergi. Aku harus menyusulnya!”Ucap Cheonsa pasti dan mencoba untuk berdiri dan tak mau menunggu lama iapun mulai berlari. Aku mencoba menahannya agar tidak berbuat gegabah dengan keadaannya saat ini.

“Biarkan aku menyusulnya oppa! Aku sangat merindukannya!”Ucap Cheonsa mencoba memberontak melepaskan genggaman tanganku sambil terus menangis. Aku merasa sedih melihat Cheonsa seperti ini, aku terus menggenggam tangan Cheonsa dengan kuat agar tidak lepas. Tiba-tiba Kangjun hyung berlari kearahku bersama para suster dengan wajah khawatirnya.

“Hyung jebalyo! Lakukan sesuatu!”Ucapku mulai khawatir karena Cheonsa terus saja memberontak dan berteriak meminta aku melepaskan genggamannya. Kulihat Kangjun hyung mengangguk tanda mengerti, kemudian iapun mengeluarkan suntikan bius untuk menenangkan Cheonsa. Cheonsa terlihat menolak untuk disuntik dan terus saja memberontak, hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk memeluk tubuh Cheonsa dengan erat meskipun ia terus memberontak, setidaknya Kangjun hyung bisa menyuntikan obat biusnya itu dilengan tangan Cheonsa. Aku merasakan pergerakan Cheonsa mulai melemah masih dalam dekapanku.

“Oppa~ biarkan aku menemui Yoongi oppa walaupun hanya sebentar saja, oppa! Jebal~.”Kalimat itu berhasil keluar dari bibir Cheonsa sebelum ia tergulai lemah tak sadarkan diri, akupun menggendong Cheonsa memasuki ruangannya agar ia ditangani kembali oleh dokter sekaligus kakakku itu.

 

…Yoongi…

Perih rasanya mendengar teriakan Cheonsa tadi, semuanya masih terlihat jelas oleh kedua mataku. Aku merasa bodoh, aku merasa sangat bersalah padanya. Aku sangat ingin menariknya kedalam pelukanku! Keadaan Cheonsa sangat memilukan sekali, luka yang terbalut perban menghiasi wajahnya yang terlihat sangat pucat, sepertinya luka itu ulah dari anak buah eommaku.

Sesampainya dirumah aku melihat eommaku sedang berdiri tegak sambil melipatkan kedua tangannya melihat kearahku. Aku palingkan wajahku karena tidak ingin melihat eommaku itu, tapi eomma mendekat kearahku dan mau tidak mau aku harus menatap mata eommaku.

“Bagaimana keadaanmu sayang, apa sudah membaik, eoh?”Ucap eommaku mencoba bersikaf baik padaku dengan memegangi wajahku, agar aku memalingkan wajah menghadap kearahnya. Aku diam tak bergeming sedikitpun, aku sudah bosan menghadapi eomma yang tidak kunjung berubah dan aku memutuskan untuk pergi kekamar saja.

“Maaf eomma aku lelah, aku harus beristirahat!”Ucapku dengan nada ketus, lalu memerintahkan bibi Dajung pembantu pribadiku untuk mendorong kursi rodaku menuju kamar. Eomma menegakkan tubuhnya kembali dengan angkuhnya dan iapun akhirnya meninggalkanku bersama bibi Dajung. Kuhembuskan napas beratku dan kembali memberikan perintah kepada bibi Dajung untuk mendorongku kekamar.

 

…Hospital…

Satu bulan telah berlalu dengan cepatnya, keadaan Cheonsa sudah semakin membaik. Ia sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan siapapun dan semenjak kejadian satu bulan yang lalu saat ia bertemu dengan Yoongi kekasihnya, Cheonsa sudah mulai bisa melupakan Yoongi, ditambah lagi dengan Ny Jeon yang selalu menjodohkan Jungkook dengan Cheonsa! Ny Jeon selalu berkata ingin sekali mempunyai menantu seperti Cheonsa. Mereka sudah akrab satu sama lain karena Ny Jeon selalu menganggap Cheonsa seperti anak sendiri, apalagi Ny Jeon sangat menginginkan seorang anak perempuan dalam anggota keluarganya. Sampai saat ini Jungkook masih saja terlihat canggung jika berdua bersama Cheonsa, entah kenapa jantung Jungkook selalu berdetak lebih cepat jika berada dekat dengan Cheonsa. Apakah ia jatuh cinta dengan Cheonsa? Entahlah~

Akhirnya Cheonsa diperbolehkan untuk pulang oleh dokter yang tak lain oleh Kangjun sang kakak dari Jungkook. Cheonsa memutuskan pulang keapartemennya tapi Ny Jeon memaksa Cheonsa untuk tinggal dirumahnya agar Jungkook bisa pulang kerumah, tetapi Cheonsa merasa tidak enak selalu merepotkan keluarga Jeon sehingga Cheonsa menolak dan memutuskan untuk pulang keapartemennya saja.

Setiap hari Jungkook pergi mengunjungi Cheonsa diapartemen dan mengajaknya untuk pergi berjalan-jalan. Semakin lama hubungan mereka menjadi lebih akrab satu sama lain, meskipun Cheonsa sama sekali tidak bisa melupakan Yoongi sang kekasihnya.

 

…Cheonsa…

Aku telusuri jalan taman kota ini bersama dengan Jungkook, sesekali aku melirik kearah wajah Jungkook dan senyumanpun kembali keluar begitu saja dari bibirku karena kulihat seperti ia kepanasan saat ini. Matahari bersinar sangat terang sekali hari ini, aku memutuskan untuk membeli ice cream disebuah kedai didepan jalan raya setelah menyuruh Jungkook oppa untuk menungguku dibangku taman ini. Akupun berjalan dengan santai kearah kedai ice cream, jalanan sangat ramai sekarang akupun harus berhati-hati saat menyebrang jalan.

Sesampainya dikedai ice cream aku langsung memesan 2 ice cream favoriteku dan Jungkook oppa. Aku dan Jungkook oppa sering membeli ice cream disini sehingga para pelayan bersikap sangat ramah padaku. Setelah selesai mendapat pesananku, akupun kembali menuju Jungkook oppa berada, tapi pada saat aku keluar dari kedai aku melihat seseorang yang sedang berjalan dari arah depanku. Aku sangat mengenal orang itu dan betapa terkejutnya aku saat melihat dia. Setelah sekian lama tak kunjung bertemu akhirnya aku bisa melihat dia lagi hari ini. Aku simpan ice cream ini diatas meja dan aku mencoba mengejarnya dengan cara berlari, karena jarakku tidaklah jauh dengannya dan akupun berhasil menggenggam tangan kirinya.

“Yoongi oppa!”Ucapku tiba-tiba saat seseorang itu berbalik kearahku, Yoongi oppa terlihat membulatkan kedua matanya terkejut melihat kehadiranku saat ini.

“Bogoshipo oppa!”Ucapku kembali dan kini air mataku berhasil keluar dengan mulusnya dikedua pipiku, tetapi kedua mata Yoongi oppa berubah seketika menjadi tatapan tajam kepadaku. Hatiku terasa perih melihat reaksi Yoongi oppa yang sedikit angkuh ini.

Tiba-tiba Yoongi melepaskan genggaman Cheonsa dengan sedikit kasar dan iapun  melanjutkan acara berjalannya kembali tanpa mempedulikan Cheonsa yang kini terus saja berteriak memanggil nama kekasihnya itu. Cheonsa kembali meraih lengan kiri Yoongi dan berusaha menariknya hingga Yoongi berbalik menghadap kearahnya kembali.

“Oppa waegeurae? Apa oppa tidak mengenalku, eoh?”Ucapku bertanya, air mataku tidak dapat dibendung kembali, semua orang yang berlalu lalang kini mulai melihat kearah Cheonsa dan Yoongi dengan saling berbisik.

“Tolong lepaskan tanganmu dariku. Lepaskan!”Ucap Yoongi oppa berteriak kearahku, aku hanya bisa menangis dan menggenggam tangan Yoongi lebih erat lagi.

“Aku bilang lepaskan!”Ucap Yoongi kasar dan iapun melepaskan Cheonsa dengan cara paksa, aku sedikit meringis kesakitan karena tanganku diremas dengan kuatnya oleh Yoongi oppa. Kini aku hanya bisa diam mematung menatap wajah Yoongi oppa dengan sendu.

“Tolong! Jangan pedulikan aku lagi, lupakan semua kenangan yang pernah kita lewati bersama selama ini. Anggap saja itu hanya mimpi!”Ucap Yoongi dengan menekankan setiap kata yang terucap untuku. Aku tidak percaya Yoongi oppa akan berkata seperti itu padaku, aku hanya bisa dian dan menatap mata Yoongi oppa dengan ketidak percayaanku.

“Andwae~ andwaeyo oppa! Oppa neomu johayo! Na neomu bogoshipoyo!”Jawabku sambil menggelengkan kepalaku meyakinkan bahwa ucapan Yoongi oppa barusan itu tidak benar. Tanganku kembali meraih kedua lengan Yoongi oppa lalu  menggerakkannya menyadarkan dari semua yang telah ia ucapkannya itu padaku adalah sebuah kebohongan.

“Anio! aku tahu kau sudah tidak membutuhkanku lagi kan? Sudahlah lupakan aku.”Ucap Yoongi oppa dan melepaskan kembali tanganku, ia kembali berbalik berjalan meninggalkanku. Aku kembali menarik tangan Yoongi oppa tapi dengan seketika Yoongi oppa mengibaskan tangannya begitu saja menolak genggaman tanganku dan itu semua mengakibatkanku terjatuh keaspal dengan kerasnya. Aku meringis kesakitan tapi Yoongi oppa tidak mempedulikanku sama sekali, ia hanya menghembuskan napas beratnya dan berkata…

“Sudahlah! Jangan mengganggu kehidupanku lagi! Aku sudah muak dengan semua ini!”Ucap Yoongi berteriak kearahku, secara reflek aku menutup kedua mataku saat mendengar Yoongi oppa berkata kasar padaku tidak seperti biasanya. Akhirnya Yoongipun kembali melangkahkan kakinya dengan segera menjauh dariku, sedangkan aku masih terduduk lemas diaspal dingin ini sambil menangis sesegukan meratapi takdir.

 

…Jungkook…

Kulihat jam tangan yang aku kenakan sudah lebih dari 20menit aku menunggu Cheonsa yang tak kunjung kembali. Aku mulai menegakkan tubuhku bertujuan untuk menyusul Cheonsa dikedai ice cream, tetapi pada saat aku berada tepat didepan kedai, aku melihat seorang perempuan sedang terduduk menangis diaspal tanpa mempedulikan orang yang berlalu-lalang melewatinya, tunggu dulu! “Bukankah itu Cheonsa?”Batinku. Akupun langsung berlari menghampiri perempuan itu dan ternyata benar, ia adalah Cheonsa.

“Cheonsa waegeurae? Kenapa kau seperti ini cheonsa-yah?”Ucapku khawatir mencoba menenangkan Cheonsa yang sedang menangis sesegukan sangatlah pilu.

“Yoongi oppa! Itu tidak benar! Ucapan itu tidak benarkan oppa? Andwaeyo!”Jawab Cheonsa seperti tertekan, aku tidak tahu kenapa Cheonsa seperti ini, “apa mungkin ia bertemu dengan Yoongi? Sepertinya begitu!”Batinku. Kenapa sekian lama Yoongi menghilang tanpa kabar, sekarang ia malah kembali lagi dan membuat Cheonsa menangis seperti ini. Akupun mencoba menegakkan tubuh Cheonsa dan memapahnya kedalam kedai ice cream bermaksud untuk menenangkannya. Tanpa disadari ada 2 pasang mata sedang mengamati gerak-gerik Cheonsa dan Jungkook saat ini.

 

…Yoongi…

“Kau lihat sendirikan? Cheonsa sudah mempunyai pengganti dirimu. Jadi, lupakan saja dia!”Ucap Ny.Min berbicara kepada Yoongi yang saat ini sedang memandang Cheonsa bersama seorang laki-laki. Tanganku mengepal kesal melihat itu semua, sedangkan Ny.Min sangat puas dengan pemandangan seperti ini. Ny Min tersenyum sinis menatap wajah Yoongi dan menyuruh supir pribadinya untuk segera meninggalkan tempat yang sangat indah ini  apalagi saat Yoongi melepaskan Cheonsa untuk tidak mengganggu kehidupannya lagi. Yoongi hanya tertunduk dalam diamnya, sebenarnya sebelum Yoongi bertemu dengan Cheonsa didepan kedai ice cream tadi, ia sudah sering melihat Cheonsa sedang berjalan dengan laki-laki yang sama seperti hari ini, makanya ia sangat kesal sekali melihatnya.

 

…9 Maret…

|Cheonsa|

Hari ini bertepatan dengan ulang tahun Yoongi kekasih Cheonsa, walaupun Yoongi sudah memutuskan Cheonsa secara sepihak tapi Cheonsa tetap mempertahankan cinta satu-satunya itu hanya untuk Yoongi. Cheonsa terlihat sedang memasak sup rumput laut yaitu makanan khas dihari ulang tahun, ia bermaksud akan menemui Yoongi dirumahnya langsung, dan tak lupa ia sudah menyiapkan sebuah kado yang ia jamin bahwa Yoongi kekasihnya itu akan menyukainya.

Setelah selesai memasak, cheonsapun bersiap berdandan secantik mungkin karena ini hari yang sangat special untuk Yoongi. “Kuharap Yoongi oppa tidak marah lagi padaku.”Batinku dalam hati. Cheonsa akhirnya berangkat menggunakan taxi menuju rumah Yoongi, sebenarnya ia belum pernah berkunjung kerumah Yoongi dan ini adalah yang pertama kalinya ia kesana, semoga Ny.Min ramah kepadaku. Sesampainya dirumah Yoongi, aku sedikit binggung karena rumah ini sangatlah sepi, tapi penjagaan disini sangatlah ketat. Akhirnya aku diperbolehkan untuk masuk oleh penjaga setelah penjaga tersebut menelpon kedalam rumah dan sepertinya orang yang berada dirumah Yoongi mengizinkanku masuk. Aku melihat sekitar halaman luas ini aku binggung harus kemana, tiba-tiba aku melihat tirai jendela dilantai 2 terbuka dan menampakkan Yoongi oppa yang menatap kearahku! Aku lambaikan kedua tanganku kearahnya tetapi Yoongi oppa membalasnya dengan tatapan tajam. Aku binggung harus berbuat apa sekarang, hingga datanglah 2 orang berjas rapih mendekatiku. Aku ingat bahwa 2 orang ini yang telah memukuliku waktu itu! Sontak akupun menjauhi dari kedua orang ini, tapi terlambat tanganku sudah dalam genggaman kuat mereka. Mereka menyeretku untuk masuk kedalam salah satu ruangan, tapi aku yakin bahwa ini bukanlah ruang tamu melainkan ruangan rahasia yang sedikit menyeramkan.

Tubuhku terdorong masuk akibat dorongan kuat dari 2 orang berjas itu, lalu aku didudukkan secara paksa dibangku kosong dan dihadapanku sekarang terdapat seorang lelaki yang tak kalah sangarnya. Lelaki tersebut memerintahkan kedua orang lelaki tadi untuk keluar dari ruangan ini meninggalkan kami berdua disini, dan mereka pun keluar.

“Kau sangat berani sekali datang kemari, hah?”Ucap lelaki itu santai, beda halnya denganku, tubuhku gemetar sangat ketakutan karena aku tidak mengenal lelaki ini.

“Kau tahu? Seharusnya kau tidak datang ketempat mengerikan ini.”Ucapannya kembali dan membuatku harus menatap kearah lelaki tersebut.

“Aku ingin menemui Yoongi oppa karena hari ini bertepatan dengan hari ulang tahunnya!”Ucapku sedikit terbata-bata karena takut.

“Mwoya? Hahaha. . .”Ucap lelaki tersebut kemudian ia tertawa dengan lepasnya membuatku semakin ketakutan. Lelaki itu menegakkan tubuhnya dan mulai menghampiriku dengan perlahan, aku sedikit memundurkan tubuhku ketakutan.

“Ny.Min sangat membencimu! Kau tahu kenapa?hemm, pasti kau tidak tahu karna orang tuamu sudah meninggalkan? Jika orang tuamu belum meninggal kau bisa tanyakan itu semua pada mereka!”Ucapnya kembali. Aku sangat binggung dengan perkataan lelaki ini dan tiba-tiba lelaki itu menarik rambutku kearah belakang  membuat wajahku mengadah keatas menatap wajah lelaki itu. Aku semakin ketakutan sekarang, tubuhku bergetar hebat dan jantungku berdebar dengan kencangnya.

“Ayahmu adalah orang yang sangat Ny.Min sukai dan kau pasti tahu Hani telah merebutnya dari Ny.Min!”Ucap lelaki itu berteriak didepanku. Aku kembali terkejut oleh perkataannya barusan, Hani adalah nama almarhum eommaku!”Kenapa permasalahannya bisa serumit ini? Apa Yoongi oppa menjauh dariku karena ini semua atau  keluarga Yoongi oppa melarangku dekat dengan Yoongi oppa karena kedua orang tuaku!”Pikirku keras. Tiba-tiba bayangan kecelakaan yang menimpa kedua orang tuaku terlintas dalam ingatanku.

“Apa jangan-jangan kecelakaan yang menimpa kedua orang tuaku itu penyebabnya tak lain adalah Ny.Min?”Ucapku tiba-tiba menebak dan mulai tidak terima dengan perlakuan semua ini terhadap keluargaku.

“Betul sekali, dan kau tahu kenapa kau ada disini saat ini? Ny.Min memerintahkanku untuk melenyapkanmu! Agar kau dapat menyusul kedua orang tuamu dineraka sana.”Ucap lelaki tersebut berbisik ketelinggaku, sontak kedua matakupun membulat tidak percaya dan langsung menatap tajam lelaki itu. “Jadi selama ini penyebab kecelakaan kedua orang tuaku itu adalah Ny.Min eomma dari Yoongi oppa kekasihku? Dan orang yang memukuliku itu suruhan Ny.Min juga? Sangat tidak mudah untuk dipercaya.”Batinku dalam hati.

“Shireoyo! Aku akan membalas perbuatan kalian semua yang telah membuat kedua orang tuaku meninggal! Aku tidak terima itu!!!”Teriakku menggelegar disetiap sudut ruangan, lelaki itu mulai geram dan tak mau menunggu lama lagi lelaki itupun   melayangkan tamparannya kearah wajahku dengan keras. Aku merasakan pipi kiriku ini terasa sangatlah sakit dan darahpun mulai mengalir disudut bibirku.

“Aku mohon! Aku kesini hanya untuk bertemu dengan Yoongi oppa, jebal.”Ucapku dengan nada sedikit melemah pasrah sekarang. Aku tahu lelaki ini tidak akan melepaskanku begitu saja.

“Sudah terlambat Cheonsa-ssi~ Ya! Habisi dia!”Teriak lelaki tersebut dan dengan seketika segerombolan lelaki berjas itu masuk kedalam ruangan ini, lalu mereka menarik tanganku kasar dan mulai memukuliku tanpa ampun. Aku merasakan sakit sekali disekujur tubuhku ini, aku hanya pasrah tidak bisa melawan perlakuan mereka karena itu tidak akan merubah semuanya dan akan menjadi sia-sia saja. Darah mengucur dimana-mana, Cheonsa mulai terbatuk-batuk akibat tendangan keras yang mengenai perutnya sehingga batuknya mengeluarkan banyak darah. Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain meringis kesakitan sambil berteriak meminta tolong, tapi tidak mungkin ada yang menolongku bahkan Yoongi oppa sekalipun. Aku melihat kearah jendela yang menampakkan seorang wanita paruh baya sedang tersenyum sinis kearahku. “Apakah wanita itu Ny.Min?”Batinku dalan hati.

Merasa sudah puas memukuliku, merekapun menyeret tubuhku keluar dari ruangan menuju kepintu gerbang. Tubuhku terasa sakit, perih, lemas tercampur menjadi satu semua. kulihat awan mendung menghiasi langit seperti mengerti akan hatiku saat ini. Mereka mendorong tubuhku dengan kuat keluar dari gerbang dan menutup gerbang tersebut dengan sangat rapat. Aku hanya bisa merintih kesakitan dan tanpa menunggu waktu lama lagi hujanpun turun dengan derasnya melengkapi semua penderitaanku saat ini. Sekujur tubuhku terasa perih akitat terkena air hujan dan aku melihat genangan air berubah warna menjadi merah pekat!”Mungkin semua ini berasal dari lukaku!”Batinku lemah. Aku  tidak bisa merasakan tubuhku sekarang seperti sudah mati rasa, air mataku mengalir deras dari kedua sudut mataku memikirkan semua permasalahan selama ini yang begitu rumit dan membuatku menderita.

“Yoongi…oppa…mianhae…na..neomu…johayo!”Ucapku terbata-bata, rasa sakit disekujur tubuhku ini terasa kembali berkali-kali lipat sakitnya.

Tiba-tiba aku mendengar ada seseorang yang berlari kearahku, aku melihat samar kearahnya yang semakin mendekat menghampiriku. Ia pun langsung mengangkat kepalaku dan menempatkan didadanya, aku kembali meringis kesakitan dan mencoba untuk menatap wajahnya. Ia menggenggam tanganku dengan erat mencoba menyadarkanku agar aku tidak menutup mata, aku baru menyadari bahwa seseorang itu adalah Jungkook oppa. Jungkook terus saja berbicara kepadaku tapi aku sama sekali tidak bisa mendengarnya karena rasa sakit ini lebih mendominasiku saat ini. Rasa sakitku kembali menyerangku, aku merasa sangat sakit dibagian uluh hatiku dan dengan seketika aku terbatuk kembali sangat sakit karena mengeluarkan banyak darah. Napasku sedikit tertahankan sehingga aku kesulitan untuk bernapas, dadaku naik turun bersamaan dengan keluarnya udara dari paru-paruku, ditambah lagi dengan aku menggunakan mulutku untuk mencoba bernapas. Jungkook oppa semakin panik melihat keadaanku saat ini, aku terus menatap kedua mata Jungkook oppa, tapi sedetik kemudian pandanganku mulai gelap dan akupun tak sadarkan diri.

 

…Jungkook…

Cheonsa menutup kedua matanya dengan lemah, dan itu membuatku semakin khawatir. Tubuhnya yang dipenuhi oleh darah sangatlah memilukan hatiku, teganya mereka memperlakukan Cheonsa dengan sekejam ini!”Batinku dalam hati dan tak terasa air matakupun jatuh tak tertahankan. Akupun memutuskan untuk membawa Cheonsa ke rumah sakit dengan segera.

Sesampainya diRumah Sakit, Kangjun hyung sangat terkejut melihat keadaan Cheonsa yang menurutnya lebih parah dibanding kemarin. Kangjunpun membawa Cheonsa keruang UGD dengan segera, aku hanya bisa menunggu Cheonsa dari luar ruangan sambil memegangi tas yang dibawa Cheonsa. “Tas ini berat sekali.”Batinku. Akupun memutuskan untuk membuka tas ini, didalam tas ini aku melihat terdapat tempat makan, termos dan kado. “Kado? Akupun mengeluarkan kado tersebut dan betapa terkejutnya aku melihat nama Yoongi diatas kado tersebut! “Jadi Cheonsa datang kerumah Yoongi hanya untuk memberikan ini semua untuknya? Aisshhh jinja!!!”Teriakku frustasi. Cheonsa masih saja mengharapkan Yoongi yang jelas-jelas telah mengabaikannya.

Akupun kembali memasukan kado tersebut dan mulai berlari berniat menemui Yoongi, aku tidak terima niat baik Cheonsa dibalas dengan perlakuan mereka dengan kejamnya seperti ini. Sesampainya didepan gerbang rumah Yoongi, Jungkookpun mencoba untuk masuk kedalam rumah Yoongi tapi penjaga menghalangi jalanku dan tidak mengizinkanku untuk masuk. Aku terus berontak mencoba masuk dan akhirnya berhasil, aku berlari kearah depan rumah Yoongi dan mulai berteriak memanggil dia.

“Ya!! Min Yoongi!! Keluarlah! Aku ingin berbicara denganmu! Min Yoongi!”Teriakku keras kearah pintu rumah Yoongi. “Apa ia tidak mendengarku, hah?”Batinku kesal. Akupun kembali berteriak dengan keras menyuruhnya untnk keluar dari rumah.

Tiba-tiba Yoongi keluar rumah dengan santainya berjalan menghampiriku. Aku mulai membuang mukaku karena merasa muak melihat tingkahnya yang sangat santai seperti itu, tanpa ada rasa berdosa akan Cheonsa yang kini sedang terbaring lemah diRumah Sakit. Akupun berjalan menghampirinya dan mulai melayangkan tinjuanku kearah wajah Yoongi. Yoongi tidak mengelak sedikitpun dan menerima tinjuanku.

“Apa kau sedang mempermainkan perasaan Cheonsa, hah?”Ucapku berteriak tepat dihadapan Yoongi sambil mencekram kuat kerah bajunya. Yoongi hanya menampilkan senyuman miringnya dan menatap kedua mataku dengan tajam. Aku mulai geram melihat tingkahnya dan akupun kembali melayangkan tinjuanku kearahnya. Sama seperti sebelumnya Yoongi hanya diam tak melawanku kembali.

“Kau tahu? Cheonsa sangat merindukanmu! Dia sangat menginginkanmu kembali disisinya lagi. Neo arra?”Ucapku kembali kepada Yoongi, tapi sama saja Yoongi hanya tersenyum miring sambil membersihkan darah disudut bibirnya dengan tenang.

“Bukankah Cheonsa sudah memiliki kau sebagai pengganti diriku, hah?”Ucap Yoongi tiba-tiba dan ucapan itu sukses membuatku sangat terkejut mendengarnya. “Jadi Yoongi menyangka bahwa aku kekasih Cheonsa sekarang?”Batinku dalam hati. Tiba-tiba aku teringat pada tas yang dibawa oleh Cheonsa tadi dan akupun melemparkan tas itu kearah Yoongi.

“Lihatlah isi dalam tas itu! Cheonsa membawa itu semua hanya untukmu.”Ucapku mencoba menjelaskan, sepertinya Yoongi salah paham denganku, tapi tentang perasaanku terhadap Cheonsa sama sekali bukanlah hal yang bohong, aku memang sangat mencintainya.

 

…Yoongi…

Yoongipun mulai binggung dengan ucapan Jungkook dan tas yang kini ada digenggamannya. Kemudian Yoongipun mulai membuka tas gendong berwarna putih bersih yang tak lagi menampakan warna putih bersihnya melainkan terlihat sangat kotor dan terdapat bercak darah milik cheonsa. Saat membuka tas tersebut, Yoongi melihat kotak makanan, termos dan sebuah kado. Tiba-tiba Yoongipun membulatkan kedua matanya terkejut karena ia baru menyadari bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Kedua mata Yoongi mulai berkaca-kaca, dadanya terasa sesak seperti terhimpit dinding besar. “Ternyata Cheonsa masih mengingat ulang tahunku!”Batinku dalam hati sedih.

“Kau tahu? Selama ini Cheonsa tidak pernah melupakanmu sedikitpun, bahkan ketika kau mulai mengabaikannya Cheonsa masih saja setia menunggumu untuk kembali disisinya!”Ucap Jungkook dengan nada sedikit berteriak dan itu semua membuat hatiku semakin teriris sakit.

“Aku merasa bersalah kepada Cheonsa. Aku telah memutuskannya secara sepihak, padahal aku masih mencintainya! Sangat mencintainya!”Ucapku lirih merunduki semua nasibku ini.

Tiba-tiba handphone Jungkook berdering dengan kerasnya membuyarkan semuanya. Jungkookpun dengan segera mengangkat teleponnya seperti terkejut dengan orang yang sedang menelponya itu. Aku tidak berhenti memperhatikan raut wajah Jungkook yang menampakan kekhawatiran yang teramat dalam, reaksinya itu berubah-ubah menjadi panik dan akhirnya Jungkookpun menutup teleponya. Aku menunggu apa yang akan ia lakukan selanjutnya terhadapku.

“Lebih baik kau ikut denganku sekarang!”Ucap Jungkook singkat lalu menarik lenganku dengan kasar untuk mengikutinya pergi. Aku binggung Jungkook akan membawaku kemana, para penjaga mencoba meleraiku dari tarikan tangan Jungkook, tapi aku langsung memberikan kode untuk membiarkan Jungkook membawaku pergi dan akhirnya Jungkookpun memboncengku mengunakan motornya dengan kecepatan tinggi. “Sepertinya ia sedang terburu-buru!”Batinku binggung.

Akhirnya Jungkookpun memberhentikan motornya disebuah Rumah Sakit, aku merasa lebih binggung dengan apa maksud Jungkook membawaku ke Rumah Sakit ini. Yoongi sebenarnya memang tidak mengetahui tentang Cheonsa yang dipukuli oleh suruhan orang tuanya itu, dan Yoongipun tidak mengetahui masalah Cheonsa dengan orang tuanya. Jungkookpun mulai berlari memasuki Rumah Sakit, akupun mulai mengikutinya dari arah belakang. Kami berlari melewati lorong-lorong Rumah Sakit dengan terburu-buru dan akhirnya Jungkook menghentikan langkah kakinya didepan ruang UGD. Aku melihat ia menarik napasnya dalam lalu iapun membuka pintu ruangan tersebut.

“Hyung! Bagaimana keadaannya sekarang?”Ucap Jungkook kepada dokter muda yang kini sudah berada dihadapan kami berdua.

“Lebih baik kau lihat sendiri bagaimana keadaannya! keadaannya sangat parah Jungkook-ah!”Jawab dokter tersebut sambil menghembuskan napas beratnya terlihat sangat pasrah.

“O…apa dia Yoongi?”Ucap dokter itu sambil menunjuk kearahku.

“Ne hyung! Dia Yoongi kekasih Cheonsa!”Ucap Jungkook sambil menundukan kepalanya. Aku mulai binggung sekarang! “Ada apa sebenarnya ini?”Batinku dalam hati..

“Lebih baik kau sendiri yang masuk kedalam ruangan itu!”Ucap Jungkook kepadaku dengan raut wajah penuh dengan khawatir dan aku melihat Jungkook mulai menangis sekarang. Akupun melangkahkan kakiku masuk kedalam ruangan yang dimaksud oleh Jungkook dan dokter itu.

Saatku berada didalam ruangan, aku melihat seorang perempuan sedang terbaring lemah ditempat tidur pasien. Peralatan medis menempel semua ditubuhnya, menandakan bahwa begitu parahnya keadaan perempuan tersebut. Aku kembali melangkahkan kakiku mendekat kearah perempuan itu. Saat jarakku sudah dekat dengannya betapa terkejutnya aku! Ternyata perempuan itu adalah Cheonsa, aku tidak percaya melihat ini semua “Kenapa Cheonsa bisa seperti ini?”Batinku merasa sangat sesak didadaku. Akupun mulai menggenggam tangan Cheonsa dengan erat, air matakupun sudah tidak bisaku bendung lagi, aku sangat menyesal sekali tidak bisa menjaga Cheonsa yang selalu mengharapkanku seperti dulu lagi. Tangisanku semakin menjadi mengisi ruangan sepi ini, aku tidak tega melihat wajah Cheonsa penuh dengan penderitaan seperti ini dan akupun menundukan kepalaku dalam tangis. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba aku merasakan tangan Cheonsa membalas genggamanku dengan sedikit lebih kuat! Akupun sontak dengan segera menatap wajah Cheonsa, dan akhirnya Cheonsa mulai membukakan matanya perlahan.

“Cheonsa mianhae!!! Jeongmal mianhae!”Ucapku sangat merasa bersalah kepadanya dan tangisanku ini berkali-kali lipat perihnya. Kulihat Cheonsa membuka alat bantuan pernapasannya dengan perlahan sambil menatap kedua mataku dengan tatapan sendu.

“Anio, gwaenchana oppa!”Jawab Cheonsa pelan lebih tepatnya seperti berbisik padaku. Air mata mengalir disudut mata Cheonsa dan itu membuat dadaku semakin sesak.

“Oppa~ mianhae! Aku selalu mengganggu oppa, selalu merepotkan oppa dan selalu mengharapkan oppa kembali disisiku, tapi aku sadar sekarang! Aku tidak mungkin bisa bersamamu lagi oppa!”Ucap Cheonsa seperti pasrah kepadaku.

“Anio! Oppa berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi! Oppa tidak peduli dengan semua perkataan eommaku, oppa akan menjagamu! Yaksokhae!”Jawabku mencoba meyakinkan kepada Cheonsa bahwa ia tidak akan menuruti perintah eommanya lagi dan akan memperjuangkan cintanya kepada Cheonsa seorang.

“Tidak oppa maafkan aku! Aku sudah tahu semuanya, dan aku sadar bahwa selama ini aku tidak pantas untukmu oppa!”Ucap Cheonsa lemah tetapi ia masih bisa tersenyum kepadaku.

“Andwae…andwaeyo Cheonsa-yah! Oppa tidak ingin kehilanganmu lagi untuk kedua kalinya!”Jawabku kembali mencoba memohon kepada Cheonsa agar tetap mempertahankankan cinta.

“Mianhae oppa~

Akupun menangis sejadi-jadinya, Cheonsapun ikut menangis melihat keadaan Yoongi sekarang. Jungkook dan Kangjunpun akhirnya masuk kedalam ruangan Cheonsa untuk mengetahui keadaannya. Jungkook sudah menceritakan semuanya tentang Cheonsa dan Yoongi kepada Kangjun.

“Oppa! Bolehkah aku memelukmu sebentar saja? Na~ neomu bogoshipoyo!”Ucap Cheonsa lemah yang membuat hatiku semakin teriris perih mendengar itu semua. Akupun langsung mendekat kearah Cheonsa dan menarik tubuh Cheonsa mendekapnya kedalam pelukanku. Aku mendengar Cheonsa merintih kesakitan saatku memeluknya, sehingga akupun memutuskan untuk meregangkan pelukanku agar tidak erat, tetapi sebaliknya Cheonsa malah memelukku dengan sangat erat! “Apakah Cheonsa sangat merindukanku? Sampai ia memelukku dengan kuat seperti ini?”Pikirku. Aku merasakan tubuh Cheonsa bergetar karena tangisannya yang kini sudah dihiasi dengan sesegukan. Aku tidak ingin melepaskan pelukan ini sama sekali, karena aku jauh lebih merindukan sosok Cheonsa yang selalu ceria, yang selalu menghiburku senang maupun duka, Cheonsa selalu menjadi pelengkap untuk kekuranganku. Tiba-tiba kenangan akan masa lalu ketika bersama Cheonsa terlintas dalam pikiranku dan itu membuatku semakin bersedih. Jungkook dan Kangjun hanya diam mematung ditempat dan tanpa disadari merekapun ikut menangis.

 

…Cheonsa…

Kukuatkan pelukan ini, aku sangat merindukan Yoongi oppa yang seperti ini, aku tidak mau jauh darinya, tapi aku binggung harus bagaimana sekarang! Disisi lain aku sangat menginginkan Yoongi oppa bersama lagi denganku, dan disisi lain keluarga Yoongi oppalah yang menjadi menyebabkan penderitaan bagi keluargaku selama ini, lebih tepatnya akibat eomma Yoongi oppa. Tiba-tiba aku merasakan nyeri begitu dalam dibagian ulu hatiku, napasku terasa tertahankan meskipun kulonggarkan pelukanku ini, tetapi tetap saja aku merasa sangat sesak. Aku mencoba dengan segala cara agar tetap terus bernapas, rasa sakit itu kembali muncul dan aku hanya bisa menahan rasa sakit ini tanpa ingin Yoongi oppa mengetahuinya. Aku mulai terbatuk-batuk karena napasku terasa tercekak tertahan, Yoongi oppa mencoba melepaskan pelukannya seperti hendak melihat keadaanku, tapi aku semakin menguatkan pelukanku ini! Aku tidak mau oppa melihatku sedang menahan sakit. Rasa sakit diulu hatiku ini kembali terasa berkali-kali lipat sakitnya dan akupun mulai berteriak tak tertahankan. Aku kembali terbatuk sampai akhirnya aku mulai merasakan cairan kental keluar dari dalam mulutku.

“Darah!”Ucap Jungkook dan Kangjun secara bersamaan sangat terkejut melihat kearahku. Aku mencoba meyakinkan kepada mereka bahwa keadaanku baik-baik saja dengan cara tersenyum, tetapi tetap saja tidak bisa rasa sakit ini kembali terasa dan akupun kembali merintih kesakitan. Yoongi oppa sepertinya binggung harus apa, ia hanya bisa menangis dalam dekapan eratku. Rasa sakit, darah dan air mata sudah menjadi pelengkan bagiku saat ini, hingga pada akhirnya aku merasakan rasa sakitku hilang sedikit demi sedikit, tubuhku terasa sangat lemas, kedua mataku sangat berat untuk sekedar dibuka sedikit saja, tetapi napasku kembali tenang.

 

…Yoongi…

“Oppa saranghae!”Ucap Cheonsa berbisik tepat didepan telingga Yoongi, dan akhirnya Cheonsapun terlepas perlahan dari pelukaku! Kedua tangan yang asalnya memelukku dengan erat kini terjatuh dengan lemahnya kesamping tubuhku. Suara monoton alat pendeteksi jantung berbunyi satu nada panjang saat ini, Jungkook maupun kangjun terkejut mendengar itu semua dan langsung menghampiri kearah kami. Yoongi mencoba melepaskan pelukannya secara perlahan dan kemudian ia menatap wajah Cheonsa dengan penuh rasa pilu. Cheonsa sudah menutup kedua matanya dengan rapat. Tangisanku kembali pecah tidak terima dengan keadaanku saat ini! Cheonsa benar-benar sudah meninggalkanku sekarang.

“Cheonsa irreona!!! Cheonsa-yah jebal irreonayo!!!”Teriakku keras memenuhi setiap sudut ruangan, tetapi Cheonsa tidak kunjung membuka matanya. Darah yang mengalir dari arah mulutnya terlihat sangat banyak sepertinya Cheonsa mengalami luka serius dibagian dalam tubuhnya.

 

…Jungkook…

Jungkook akhirnya keluar dari ruangan rawat, ia tidak terima melihat Cheonsa meninggal seperti ini. Jungkook terlihat menyandarkan punggungnya didinding dan akhirnya ia terduduk lemas dilantai, Jungkook kembali menangis dengan pilunya.

“Cheonsa wae? Wae? Kenapa kau meninggalkanku secepat itu, eoh?”Ucapku tidak terima dalam tangisku.

“Maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik! Maafkan dengan ketidak beranianku untuk mengungkapkan semua perasaanku selama ini terhadapmu. Andai saja aku bisa mengungkapkan semua perasaanku, mungkin setidaknya kau bisa sedikit melupakan dia dan mungkin kau akan menjadi kekasihku. Tapi sepertinya itu tidak mungkin, karena cintamu sangat kuat terhadap Yoongi!”Batinku dalam hati perih.

 

…Yoongi…

Yoongi masih saja menangis sambil memeluk tubuh Cheonsa, ia sangat tidak terima dengan keadaan Cheonsa saat ini. Kangjun hanya bisa menatap mereka dengan penuh kesedihan, Kangjun sudah mengetahui bahwa Cheonsa mempunyai luka dalam yang cukup parah sehingga sulit untuk disembuhkan sekalipun, makanya ia segera menelpon Jungkook untuk segera datang ke Rumah Sakit menjaga Cheonsa.

“Kau harus mengiklaskannya Yoongi-ssi!”Ucap Kangjun mencoba menenangkanku, beberapa menit kemudian akupun mulai membaringkan kembali tubuh Cheonsa yang mulai pucat tak bernyawa ini. Kulangkahkan kakiku keluar ruangan karena suster menyuruhku untuk keluar, dengan sedikit tidak terima akupun keluar dengan terus menangis meratapi nasibku.

Saatku keluar dari ruangan, aku melihat Jungkook sedang menundukkan kepalanya dibangku ruang tunggu dan akupun memutuskan untuk menghampirinya. Jungkook mengetahui keberadaanku dan dengan segera iapun kembali menegakkan kepalanya, tiba-tiba Jungkook memberikan aku sebuah foto yang menampilkan sebuah keluarga, tunggu dulu! “Kenapa appaku bersama perempuan dan anak ini?”Batinku dalam hati binggung.

“Apa kau mengenal lelaki ini?”Tanya Jungkook kepadaku bermaksud menanyakan lelaki yang ada didalam foto tersebut.

“Igeo!!! Ne abeoji! Wae? Kenapa appaku bersama mereka?”Tanyaku penasaran.

“Dia itu appanya Cheonsa dan ini semua anggota keluarga Cheonsa. Asal kau tahu saja Yoongi-yah! Orang tuamu yang telah merebut appa Cheonsa dari keluarganya, dan kau tahu? Eommamu melakukan itu semua hanya karena cinta pertamanya dulu.”Jawab Jungkook mencoba menjelaskan semuanya kepada Yoongi.

“Mworago?”Aku sangat terkejut mendengar penjelasan Jungkook barusan! Akupun mulai berpikir, “Apa semua yang dilakukan oleh eomma itu untuk membalaskan dendamnya? Dan apa karena masalah ini eomma tidak merestui hubunganku dengan Cheonsa?”Pikirku tak percaya dalam diamku.

“Aku harus menanyakan ini semua kepada eomma langsung!”Ucapku pasti dan dengan segera akupun langsung melangkahkan kaki menuju rumah.

 

…Yoongi House…

Sesampainya dirumah akupun langsung berlari kearah ruang kerja eommaku, aku sudah tidak sabar mendengar penjelasan ini semua oleh eommaku sendiri. Akhirnya aku sampai didepan pintu ruangan eomma dan langsung membukanya dengan kasar. Aku melihat eomma sedikit terkejut dengan kehadiranku yang berpakaian penuh dengan darah, dan kalian pasti tahukan darah ini berasal dari mana.

“Eomma! Jelaskan ini semua!”Ucapku dengan nada tinggi sambil melemparkan foto kearah meja kerja eomma, kulihat eomma sedikit terkejut melihat foto tersebut.

“Bukankah lelaki itu appaku, hah?”Ucapku kembali karena eomma tidak kunjung berbicara juga.

“Anio, sebenarnya dia bukan appamu! Dia cinta pertama eomma.”Jawab eomma dengan nada santainya, tetapi kini kedua mata eomma mulai berkaca-kaca.

“Mworago? Apa eomma tahu foto keluarga siapa itu, eoh? Keluarga Cheonsa!!”Ucapku kesal sambil meneriakan setiap kata yang keluar dari bibirku.

“Arrayo! Aku tidak merestui hubungan kalian karna ini semua, aku sangat membenci Hani! Kau tahu? Wajah Hani sangat tergambar jelas diwajah Cheonsa!”Jawab eomma mencoba menjelaskan dengan nada tingginya dan menekankan setiap kata-katanya.

“Jadi gara-gara ini eomma melarangku berhubungan dengan Cheonsa, hah? Asal eomma tahu saja perbuatan yang eomma lakukan tadi itu membuat Cheonsa harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga yaitu nyawanya! Cheonsa meninggal! Cheonsa adalah orang yang sangat aku sayangi eomma!”Ucapku kembali dengan menekankan kembali setiap kata yang terucap, aku tidak terima eomma berbuat semaunya seperti itu.

“Geuraeyo? Baguslah kalau begitu. Sepertinya hidup eomma  akan tenang mulai dari sekarang jika ia sudah tidak ada didunia ini.”Jawab eomma dengan nada tak bersalahnya dan itu semua sontak membuat hatiku geram atas perlakuan eomma yang aku yakini tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Tangan kananku tergerak begitu saja untuk menampar eommaku tapi aku masih bisa menahannya, karena mau bagaimanapun wanita ini adalah orang tuaku.

“Iya memang benar begitu eomma! Dan aku yakin bahwa dari dulu  eomma memang tidak punya hati! Eomma selalu hanya mementingkan diri eomma sendiri! Aku kecewa padamu eomma! Aku tidak mau mengakuimu sebagai ibuku lagi, kau sudah sangat keterlaluan.”Jawabku dengan nada datar dan akupun mulai membalikkan tubuhku keluar dari ruangan eommaku ini. Aku mendengar eomma memanggil namaku, tapi aku tidak akan mendengar ucapannya lagi. Ny Min terlihat berteriak frustasi dengan kelakuan anak semata wayangnya itu, ia membanting semua berkas pekerjaan yang tersusun rapih diatas mejanya.

 

Skip<

1 minggu kemudian…

 

…Yoongi…

Aku berjalan menyusuri padang rumput hijau ini, suasana ditempat ini sangatlah tentram menenangkan hatiku karena tepat dihari ini wilayah Seoul mulai memasuki awal musim semi. Kulihat tas gendong berwarna putih yang berada ditangan kananku saat ini, tas ini adalah milik Cheonsa dan aku ingin membuka kado pemberiannya langsung dihadapan Cheonsa. “Aku yakin Cheonsa pasti akan bahagia dengan kedatanganku hari ini.”Batinku dalam hati sambil menikmati pemandangan khas dimusim semi.

Sekian lama aku berjalan, langkahku kini terhenti didepan sebuah pohon besar nan rindang ini yang bertuliskan nama “Park Cheonsa” disebuah papan kayu coklat. Ternyata Yoongi kini sedang berada disebuah tempat pemakaman lebih tepat ditempat terakhir abu Cheonsa dikubur. Yoongi memilih pohon besar ini karena pohon ini sangat berperan penting baginya, pohon ini selalu menyimpan kebahagiaannya dengan Cheonsa, bisa dilihat dari batang pohon ini yang terdapat tulisan salah satunya yaitu “Yoongi + Cheonsa” dan masih banyak tulisan lainnya yang mereka buat bersama. Kini kedua mata Yoongi tidak lepas menatap kearah papan kayu tersebut, ada kesedihan terlihat dari kedua matanya dan kini matanyapun mulai berkaca-kaca, tapi dengan sekuat tenaga Yoongi mencoba untuk tidak menangis, ia sudah berjanji akan tegar menghadapi ini semua.

“Cheonsa-yah! Aku datang untuk menemuimu. Apa kau tenang disana, eoh?”Ucapku mulai membuka pembicaraan.

“Oiya! Aku membawa tasmu lihatlah! Aku sangat menjaga baik tasmu ini, dan apa kau tahu? aku belum membuka kado yang kau berikan padaku. Apa aku boleh membukanya sekarang, eoh?”Ucapku kembali menambahkan, sekuatu tenaga aku menahan air mata ini tetapi pada akhirnya air mataku keluar juga tak bisa dibendung lagi. Dadaku terasa sesak apabila mengingat semua kejadian yang menimpa Cheonsa.

“Aku sangat menyesal, Aku sangat menyesal! Aku merasa sangat bersalah tidak bisa menjaga orang yang sangat aku sayangi, aku merasa tidak berguna Cheonsa-yah!”batinku dalam hati. Kini tangisanku pecah dihiasi dengan sesegukan, aku menggigit bibir bawahku untuk menahan tangisku, tapi tidak bisa. Aku kembali mencoba untuk tenang dan tidak akan menangis lagi agar Cheonsa tenang disana. Tanganku terulur membuka tas putih milik Cheonsa dan akupun langsung mengeluarkan sebuah kotak kado besar berwarna biru, aku membukanya secara perlahan. Sebenarnya aku sudah melihat isi kado ini, tapi aku ingin membukanya langsung dihadapan Cheonsa langsung. Isi dari kado tersebut adalah sepasang sepatu basket berwarna putih, warna kesukaanku. Akupun mengeluarkan sepatu ini dari kotaknya berniat akan mencobanya, tetapi pada saat sepatu ini kuangkat, aku melihat ada sebuah kertas terjatuh begitu saja dan ternyata kertas itu adalah surat. Akupun mengambil surat tersebut lalu membukanya dengan penuh penasaran.

 

To : Min Yoongi (My tsundere)

Annyeong oppa!

Jika oppa membaca surat ini, berarti surat dan kado yang terakhir untuk oppa dariku. Apa oppa masih ingat pada saat kita pertama kali bertemu? Oppa dengan sangat beraninya membelaku dihadapan para gangster menyeramkan itu, hingga oppa harus babak belur dipukuli oleh mereka karenaku. Hemmm.  Aku merasa sangat bersalah saat itu, sehingga kita dapat berkenalan baik untuk selanjutnya. Oppa terlalu baik untukku, aku sangat bersyukur bisa memiliki oppa sebagai kekasih karena aku sudah tidak memiliki siapapun didunia ini.

Aku tahu bahwa eomma oppa tidak akan pernah menerimaku sebagai kekasih oppa, aku sadar itu oppa! Jadi aku mohon, mulailah melupakanku meskipun itu sangatlah sulit, tapi sepertinya itu tidak akan sulit bagi oppa karena sekarang oppa mulai menjauhiku.

Apa oppa sudah tidak menyukaiku lagi?

Apa oppa sudah tidak menyayangiku lagi, eoh?

Aku tidak tahu kenapa oppa berubah kepadaku. Aku sangat sedih ketika oppa mengabaikanku, tapi kiniku sadar mungkin hanya aku yang memiliki perasaan kepada oppa! Ini semua salahku! Mianhae~

Semenjak kejadian itu aku mulai mencoba melupakan oppa, aku mencoba membenci oppa, tapi apa hasilnya?

Aku tidak bisa oppa…

Aku tidak bisa melakukan itu semua, karena aku terlalu mencintaimu oppa. Aku sangat menyayangimu!!! Sampai kapanpun aku akan merasakan cinta ini terhadapmu.

Kuharap kita akan bertemu dengan bahagia pada saatnya.

From : Park Cheonsa.

 

Selama Yoongi membaca surat tersebut, Yoongi tiada hentinya menangis dengan diiringi sesegukan. Ia merasa sangat bersalah kepada Cheonsa, tapi penyesalan selalu hadir diakhir dan sekarang Yoongi tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya berdoa untuk Cheonsa dialam sana.

 

” Jeongmal Mianhae Cheonsa-yah! nado saranghae!!!

 

Tanpa disadari ketika Yoongi berada dipemakaman Cheonsa saat ini, ternyata Jungkook telah hadir pertama dipemakaman Cheonsa, dan kini Jungkook terlihat sedang  mendengarkan apa yang Yoongi katakan lewat balik pepohonan mencoba menyembunyikan dirinya. Dadanya terasa sesak menahan tangisnya sedari tadi, ada perasaan kesal karena ia harus kehilangan orang yang sangat ia cintai, tapi inilah takdir yang hanya bisa berkata lain.

 

…Jungkook…

Kutundukan pandanganku menahan tangis, tiba-tiba semua kenangan bersama Cheonsa terlintas jelas dipikiranku! Saat pertama kali kita bertemu, saat menunggu Cheonsa dirumah sakit, saat tertawa dan bersedih bersama, banyak sekali kenangan yang kulalui bersamamu Cheonsa meskipun diwaktu yang sesingkat ini tapi aku merasa sangat bahagia dapat mengenal dirimu. Asal kau tahu saja Cheonsa-yah, karena kau hubunganku dengan keluargaku semakin membaik. Tepat dihari ini aku akan pindah dan tinggal bersama keluargaku kembali.

“Aku merasa sangat kehilanganmu cheonsa-yah!

“Kuharap kau tenang disana, terima kasih karena kau telah hadir dikehidupanku. Kau telah merubah diriku menjadi lebih baik lagi untuk selamanya. Jeongmal Gomawo Cheonsa-yah~

Aku percaya, bahwa cinta tidak akan pernah ada akhirnya.

“Saranghae…

 

#CoupleSeries

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s