[SEG Event] Lose Control

17190715_787092364788993_7905243410489238628_n.jpg

 

Lose Control

Starring by : Park Shin Hye [actress]- Jung Yong Hwa [Cnblue]- Lee Jong Suk [Actor] Seo Joo Hyun [Snsd]
Genre : Drama-Romance/PG16+

Poster by Wardsign
Disclaim : FF ini murni milik author. Semua tokoh dalam FF hanya sebagai penyempurna jalannya cerita tanpa bermaksud menyudutkan berbagai pihak. It’s just for fun, so happy reading, dear :* :*

————-

“Kau segalanya yang kuinginkan sekaligus segalanya yang tak bisa kumiliki.”

—o0o—

“Kau sudah bangun?”

Suara berat itu menyapa. Suara yang sudah diakrabi Shin hye beberapa bulan belakangan ini. Bahkan sekedar helaan nafasnya ia sudah hafal. Ya, kalimat itu adalah kata-kata pertama yang menyergap di telinganya pagi ini. Suara Jung Yong Hwa, si penguasa hati juga pikirannya.

Wanita itu tengah duduk sambil menggosok kasar matanya yang masih enggan terbuka. Butuh waktu beberapa menit untuk menanggapi pertanyaan pria yang kini masih berbaring di balik selimut yang sama dengannya itu. Jam berapa mereka tidur? Kenapa kantuk masih menyerang saat semburat merah semakin terang? pikirnya.

“Iya, selamat pagi.” ujarnya sambil mengikat asal rambut hitam legamnya. Menyibak selimut hendak turun dari tempat tidur, tapi lengan kukuh pria itu lebih dulu menyusup ke pinggang membiarkannya kembali berbaring di sisinya.

“Kau akan meninggalkanku sendirian di tempat tidur, huh? Jung Shin Hye?”

Seketika saja gadis itu mendelik. Yong hwa sering menggodanya dengan nama itu seakan Shin hye milik dia seutuhnya. Meski sebal, tapi Shin hye tidak bisa menyangkal rasa bangga menyandang nama pria itu di belakang namanya sambil diam-diam hatinya berharap hari itu akan tiba.

“Cck, kau belum puas memandangi wajahku sepanjang malam?”

Yong hwa terkekeh. Menopang kepala dengan sebelah tangan sedang tangan kanannya masih melingkari pinggang Shin hye mencegahnya melarikan diri.

“Semalam aku juga tidur,”

“Tidurmu nyenyak?”

“Tentu, berkat kau.” jawab Yong hwa dengan senyumnya yang merekah.

“Memangnya apa yang sudah kulakukan?”

Yong hwa tersenyum, menjawab pertanyaan Shin hye dengan kecupan singkat di bibir, “itu ucapan terima kasih.”

Shin hye mendesis, memukul dada Yong hwa berusaha memberi jarak. Berada sedekat ini dengan Yong hwa membuat musim seminya berubah menjadi musim panas.

Ponsel Yong hwa berdering. Suaranya mengalihkan Yong hwa dari tawanannya. Sebelum dering ketiga Yong hwa sudah menggeser tombol hijau layar ponsel seakan tak ingin membuat seseorang di seberang sana menunggu.

Ne, chagi-ya….”

Shin hye mendesah kesal. Chagi?Oh, sebutan itu seketika saja meluluhkan cerita manis yang baru saja tercipta. Mengingatkan Shin hye bahwa pria dengan garis wajah sempurna dan mata biji cokelat pekat itu tak hanya miliknya. Ada wanita mempesona lain di antara mereka.

Tak ingin mendengar lebih jauh lagi, Shin hye menyingkirkan tangan Yong hwa dengan kasar. Kali ini benar-benar turun dari tempat tidur dan lihatlah, pria itu tak lagi berusaha menahannya. Sempurna sibuk bicara di telepon.

Sebenarnya perasaan cemburu, kesal bahkan marah tak sepantasnya mendera hati. Sebagai cinta yang dirahasiakan seharusnya Shin hye bisa mengendalikan diri. Cinta rahasia? Benar. Orang ketiga, begitu orang menyebutnya. Wanita yang berada di tengah jalan cerita Yong hwa dengan wanita mempesona bernama Seohyun sekaligus si pengkhianat dari cinta pria hebat bernama Lee Jong Suk, seorang pria yang tulus mencintainya mungkin sama tulusnya dengan Seohyun yang mencintai Yong hwa. Oh, sungguh jalinan kasih yang terlarang.

Lalu, kapan semua cerita itu dimulai? Entahlah, Shin hye bingung harus mengurutnya darimana. Hari itu, saat perayaan valentine satu tahun yang lalu Jong suk mengajaknya makan malam bersama temannya. Seorang pria bernama Jung Yong Hwa bersama kekasihnya Seohyun. Mulanya biasa saja, kedekatan itu berjalan seperti seharusnya. Tempat kerja yang sama membuat mereka sering bertemu dan menyapa. Sepulang kerja tak jarang mereka menghabiskan waktu bersama sekedar makan malam. Terkadang saat Jong suk tak bisa mengantar Shin hye pulang di jam malam Jong suk sering meminta Yong hwa mengantar Shin hye, menurutnya itu lebih aman daripada membiarkan Shin hye pulang dengan taksi. Namun siapa sangka justru waktu luang itulah yang membuat Shin hye dan Yong hwa dekat. Kenyataan mereka tinggal di gedung apartemen yang sama membuat keakraban itu melewati batas pertemanan. Benih-benih perasaan itu tumbuh menjadi taman bunga seiring berjalannya waktu yang mereka curi. Shin hye merasa Yong hwa adalah sosok yang ia cari selama ini. Hubungannya dengan Jong suk adalah hubungan harmonis namun penuh kehampaan, dan Yong hwa berhasil mengisi kehampaan itu dengan sempurna. Pria itu mengambil bagian kosong di antara jeda genggaman tangan Jong suk. Ini salah, Shin hye dan Yong hwa jelas tahu itu. Namun hati tak pernah bisa berdusta, perasaan tidak pernah bisa dikendalikan. Semua cerita bersama Yong hwa mengalirkan kisah lain yang tak pernah diciptakan Jong suk. Bahwa cinta bukan sekedar bersama tetapi sesuatu yang menggetarkan hati dengan luar biasa.

“Tidak perlu siapkan sarapan, aku sarapan di rumah saja.”

Suara Yong hwa kembali terdengar. Yong hwa menghampiri Shin hye yang kini sibuk di dapur.

“Baguslah, aku juga sedang malas.” jawab Shin hye ketus. Kembali menutup pintu kulkas, urung mengambil wortel.

Yong hwa menyeringai. Tak peduli bahkan saat marah Shin hye selalu sukses membuatnya tersenyum. Yong hwa mendekat, tangannya menyusup ke pinggang Shin hye mematikan kompor sebelum memeluk wanita itu.

“Kau marah?” bisiknya.

“Seharusnya tidak.”

Shin hye sedikit tersentak Yong hwa tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya lalu mendudukkannya di meja kompor. Tangannya kini beralih melingkari pinggang Shin hye tanpa ragu.

Mianhae, aku menyakitimu lagi.”

Shin hye menatap teduh sepasang mata Yong hwa. Ada sorot penyesalan yang sama dengan yang dimilikinya saat dia juga melakukan hal yang sama.

“Aku pasti sudah gila.”

“Maafkan aku.”

Shin hye merengkuh Yong hwa dalam dekapannya. Meletakkan dagunya di kepala Yong hwa, “Aku pasti sudah gila.”

“Tapi aku mencintaimu.”

Sungguh menyenangkan mendengar kata-kata itu dari bibir Yong hwa. Selalu tersirat perasaan berbeda setiap kali pria itu mengatakannya. Seperti cinta itu milik mereka berdua. Ya berdua, hanya Park Shin Hye dan Jung Yong Hwa.

“Hari ini aku harus menemani Seohyun ke hutan lindung untuk revisi buku travelling, mungkin sampai sore.” ujar Yong hwa setelah menarik diri dari pelukan Shin hye.

Ara, pergilah!”

“Apa rencanamu hari ini?”

“Aku tidak tahu,” Shin hye berpikir sejenak, “mungkin mengurung diri di kamar sambil menonton drama.”

Yong hwa terkekeh kecil, “Geurae, lakukan apa yang membuatmu senang. Morning kiss?” tagih Yong hwa.

Shin hye langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan, “Tidak ada.”

Yong hwa berdecak, “Yak, singkirkan tanganmu! Kau tidak mau aku mendapatkannya dari wanita lain, ‘kan?”

“Terserah saja, tapi aku berani bertaruh tidak ada yang bisa melakukannya sebaik aku.”

Yong hwa semakin tergelak. Mengelus gemas rambut Shin hye, “That right, baby.”

Shin hye ikut tersenyum hingga pria itu menghilang di balik pintu. Pamit pulang tanpa berjanji kapan akan kembali menemuinya.

“Aku bohong.” Shin hye mendesah lirih.

Bohong, jika ia merelakan Yong hwa pergi menemui Seohyun. Andai saja boleh, Shin hye ingin menahan kedua lengan Yong hwa yang memeluknya. Mencari beribu alasan agar pria itu tetap tinggal. Tetap merasakan kenyamanan dari sikap manisnya. Rasa nyaman yang suatu saat akan menjadi luka. Luka untuknya, Yong hwa, Seohyun dan tentu saja untuk pria bernama Lee Jong suk.

Kadang, kisah cinta tak hanya milik dua orang.


Musim dingin yang beku berangsur menghangat. Cahaya mentari yang menyusup tirai jendela menjanjikan hari yang menyenangkan. Salju mencair, rerumputan mulai tumbuh. Dedaunan di ranting pohon mulai bersemi. Dan bunga sakura mulai semarak dengan kuncup-kuncup bunganya yang siap bermekaran. Seoul seakan berubah menjadi gadis cantik nan manis. Musim semi, musim yang hangat dan penuh cinta. Waktunya bangkit dari balutan selimut musim dingin.

Shin hye menghela nafas. Pandangannya menyebar pada hamparan lampu kota yang mempersolek langit malam yang pekat. Berdiri di depan jendela sambil menangkup mug teh chamomile. Sepanjang hari ini Shin hye hanya mengurung diri di rumah menghabiskan waktu liburnya dengan bermalas-malasan, menonton drama dan membaca novel favoritnya. Sebenarnya tadi pagi Jong suk mengajaknya ke Jinan untuk menemaninya menghadiri acara seminar kepenulisan, tapi Shin hye menolak beralasan harus merevisi naskah novel yang jatuh tempo. Ya, itu hanya alasan. Shin hye terlalu malas untuk keluar rumah meski ia tahu bunga sakura di Jinaan pasti sedang bermekaran.

Suara bel apartmen menyadarkan Shin hye kalau sejak tadi ia hanya mematung di depan jendela menyaksikan bantaran lampu yang penuh kilap. Shin hye antusias mendekati pintu, namun dengan segera ia harus mengatur wajahnya yang kecewa. Pria yang kini berdiri di bingkai pintu bukan Jung Yong Hwa melainkan Lee Jong Suk, kekasihnya.

Shin hye tersenyum menyambut. Tangannya membuka pintu kian lebar secara tidak langsung mempersilahkan Jong suk masuk.

“Sakura di Jinan sedang bermekaran, sudah banyak festival juga di sana. Sayang, aku melihatnya sendirian.” Jong suk menceritakan perjalanannya tadi diiringi senyum kecut dan wajah datar. Sepertinya kecewa dengan penolakan Shin hye. Itu terlihat jelas sekali.

“Kapan-kapan kita pergi berempat, sudah lama sekali kita tidak double date ‘kan?”

“Berempat?” Shin hye berseru dengan suara tertelan lemari es. Saat ini gadis itu sedang menyimpan abalon yang tadi di bawa Jong suk.

“Iya, Seohyun dan Yong hwa. Tapi, mereka pasti mengajak kita menginap.”

“Menginap?” lagi-lagi Shin hye menimpali perkataan Jong suk dengan pertanyaan menggantung.

“Kau masih ingat saat kita ke Busan musim semi yang lalu? Sebenarnya saat itu mereka menyewa satu kamar. Kau mengerti maksudku ‘kan?”

“Jangan bicara yang tidak-tidak.” Shin hye bicara dengan nada biasa berusaha agar tidak terdengar mencurigakan.

“Semua pria itu sama saja, kau harus tau itu.”

So? Apa maksudnya Jong suk mengatakan semua itu pada Shin hye? Apa pria itu sedang mengatakan keinginannya secara halus? Mungkin saja, tapi terlalu malu untuk bicara terus terang.

“Apa besok kau kerja?” Shin hye mengalihkan pembicaraan. Bukan apa-apa, ia hanya takut tidak bisa mengendalikan diri.

Jong suk mengangguk. Keduanya kini duduk berhadapan di meja makan.

“Sudah jam 10 malam, aku harus pulang. Tidak apa-apa ‘kan?”

“Ya tidak apa-apa, kau bisa terlambat jika berangkat dari rumahku.”

Jong suk memaksakan senyum. Tadi ia berharap Shin hye menahannya tak peduli apa pun alasannya. Tidak, hal seperti itu tidak pernah terjadi.

Gadis itu berbaik hati mengantarkan Jong suk hingga depan pintu. Jong suk melambaikan tangan dan mencuri kecupan singkat di pipi Shin hye sebelum pergi.

“Maaf, aku tidak bisa memulainya lebih dulu.” Shin hye bergumam. Menatap punggung Jong suk penuh rasa bersalah.


Sudah jam 10 malam. Yong hwa melirik jam yang melingkari pergelangan tangan. Dia tidak menyangka akan menghabiskan banyak waktu untuk menemani Seohyun. Padahal bayangan Shin hye sudah sejak tadi bermain di peluk mata mendera rasa rindu. Dia ingin segera pulang dan melihat pujaannya itu meski dalam hitungan menit.

Tepat ketika sampai di depan lift, pintunya terbuka dan keluarlah Jong suk. Yong hwa menyipitkan mata. Terkejut.

“Astaga, kau baru pulang berkencan?” Jong suk lebih dulu menyapa dengan suaranya yang khas.

Yong hwa tertawa, “Iya seperti yang kau lihat, kau baru menemui Shin hye?”

Benar, kenapa harus terkejut? Kekasihnya tinggal di sini, lalu apanya yang aneh? Bahkan jika Jong suk pulang pagi buta itu bukan hal yang mencurigakan.

Yong hwa berbasa-basi mengajak Jong suk mampir ke rumahnya yang langsung ditolak Jong suk dengan nada bercanda jika ia tidak punya kebiasaan menghabiskan malam di rumah pria. Yong hwa hanya tergelak. Tak ingin memaksa.

Yong hwa masuk lift dan menekan tombol 20. Lebih memilih menemui Shin hye dulu daripada pulang ke rumahnya sendiri. Sejauh ini Yong hwa merasa bahagia dengan cinta rahasianya bersama Shin hye meski ia tahu betapa berbahayanya hubungan mereka. Bak gelas di ujung jurang yang bisa kapan saja jatuh dan hancur. Suatu hari nanti langit mungkin akan berkhianat mengurai cerita yang selama ini digenggamnya sangat erat.

Tak butuh waktu lama untuk Yong hwa menunggu, Shin hye membuka pintu setelah pria itu menekan bel dua kali. Gadis itu terlihat sangat mengantuk, tetapi lengkungan bibirnya membuat Yong hwa terpesona. Senyum yang memabukkan, senyum yang membuatnya jatuh cinta. Ah, keindahan Shin hye tidak pernah hilang.

“Kau baru pulang?”

Yong hwa tersenyum mengangguk. Sejumpat rasa bersalah mendadak menyergap saat memandangi wajah Shin hye. Kesekian kalinya Yong hwa membuat Shin hye menunggu hingga terkantuk-kantuk bahkan mengganggu waktu tidurnya. Sungguh, Yong hwa ingin mengatakan pada dunia bahwa Shin hye-lah cintanya, Shin hye-lah citanya, Shin hye-lah tujuannya hingga ia tak akan melihat Shin hye dengan rasa bersalah.

“Duduklah, aku punya sesuatu untukmu.”

Shin hye menurut. Duduk berhadapan di sofa ruang tengah. Yong hwa merogoh saku mantel kemudian mengeluarkan satu kotak persegi panjang yang berisi lipstik dengan casing gold.

Shin hye melipat dahi, “Lipstik?”

“Saat melihatnya aku ingat dirimu.”

“Kenapa memberiku lipstik? Selama ini kau tidak suka warna lipstikku?”

“Tidak, aku suka bibirmu.” sangkal Yong hwa. Tangannya menarik pelan dagu Shin hye hendak memoleskan lipstik itu di bibir Shin hye, namun dengan cepat Shin hye menarik diri.

“Besok saja aku pakai, aku sudah membersihkan wajah.”

“Kalau kau malas aku yang akan menghapusnya.” Seru Yong hwa dengan senyum misterius.Kembali menarik dagu Shin hye. Kali ini gadis itu mengalah. Membiarkan Yong hwa mewarnai bibirnya meski ia tak cukup yakin Yong hwa bisa melakukannya dengan benar.

Yong hwa menatap gadis di depannya lama. Berdecak pelan. Tidak menyadari bahwa tatapannya telah membakar Shin hye,

“Astaga, cantik sekali!”

“Benarkah?” Shin hye mengatup-atupkan bibirnya. Pipinya pasti sudah berubah merah, semerah bibirnya, “Terima kasih.”

“Itu saja?”

Shin hye mengernyit.

“Aku boleh tidur di sini lagi?”

“Kau tahu konsekuensinya jika menginap di hari kerja ‘kan?”

Yong hwa terkekeh riang seperti baru saja menemukan peta harta karun, “Aku tahu…” seru Yong hwa sambil mencubit gemas pipi Shin hye. Shin hye yang meringis langsung menepis lengan yong hwa. Menatapnya sebal.

Yong hwa tergelak. Menarik lengan Shin hye, “Ayo, kita harus bersihkan bibirmu dulu.”

Untuk kesian kalinya, Yong hwa menghabiskan malamnya yang dingin di rumah Shin hye.


Alarm ponsel berdering membangunkan Yong hwa dari tidur lelap. Dengan kelopak yang masih terkatup tangan Yong hwa menggapai nakas mencari ponsel. Tak ingin deringnya ikut membangunkan Shin hye. Yong hwa menggeliat, menyalakan desk lamp. Dilihatnya Shin hye masih tertidur membelakanginya. Yong hwa menatapnya lekat sambil mengumpulkan kesadaran. Lagi-lagi seperti ini, ia harus pergi dengan perasaan tak rela. Saat bersama Shin hye seperti ini Yong hwa baru menyadari betapa mencintai menjadi sangat menakutkan.

“Aku pulang, ya.” bisik Yong hwa di telinga Shin hye. Mengelus lembut kepala gadis itu dan meninggalkan jejak hangat dan lembab di pipi Shin hye.

Eoh, jangan meninggalkan jejak apapun.” timpal Shin hye dengan suara berat tanpa merubah posisinya.

Yong hwa sedikit terkejut menyadari Shin hye juga terjaga, “Araseo, aku mencintaimu.”

Yong hwa turun dari tempat tidur. Menyambar mantel yang tersampir di kursi, dengan langkah malas keluar kamar.

“Menyedihkan.” Shin hye mendesis. Pintu kamarnya berderit pertanda Yong hwa sudah pulang.

Ya, sangat menyedihkan. Yong hwa selalu mampu menahan kepergiannya tapi tidak dengan Shin hye betapa pun ia menginginkannya. Perasaan seperti itu masih setia mendiami hatinya. Untuk setiap malam yang ia curi dari Seohyun dan Jong suk, untuk setiap pesan cinta yang Yong hwa hapus diam-diam, terkadang Shin hye butuh pengakuan. Tak ingin selamanya hidup dalam angan-angan. Saat bersama Yong hwa ia masih punya keyakinan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi satu-satunya untuk Yong hwa dan Yong hwa menjadi satu-satunya pria yang berdiri di sisinya. Menceritakan pada dunia betapa hebatnya cinta mereka. Namun saat kebersamaan yang terlampau singkat itu berakhir Shin hye harus dengan tega menata ulang mimpi itu hanya untuk berharap. Dan Shin hye benci itu.

Mulanya, Shin hye tak pernah mengerti dengan mereka yang setuju menjadi kedua. Apa istimewanya menjadi yang tersimpan? Apa istimewanya mencuri-curi kebahagian? Shin hye tak pernah faham, dulu. Namun nyatanya kini dia membiarkan dirinya sendiri terjebak di dalamnya. Berlarut-larut tanpa tahu bagaimana akhinya. Ya, tidak ada yang pernah menyangka akan jadi seperti ini. Tidak Shin hye tidak juga Yong hwa. Sungguh, Shin hye tidak pernah secara sengaja ingin melukai Jong suk. Terlepas dari sikapnya yang perfeksionis Jong suk adalah pria hebat yang memiliki kesempurnaan sebagai pria idaman. Dia juga tidak bermaksud menghancurkan dongeng Seohyun yang dirajutnya bersama Yong hwa. Semua terjadi begitu saja. Membela diri dibalik kata bijak yang mengatakan perasaan itu ada tanpa bisa dikendalikan. Mungkin, setiap malaikat yang terjaga mengutuknya untuk setiap malam yang mereka lewatkan.

Di penghujung malam yang kian dingin Shin hye gagal memejamkan mata. Pada akhirnya bersiap-siap untuk berangkat kerja. Dua tahun terakhir ini Shin hye bekerja sebagai editor di sebuah perusahan penerbit besar ibu kota. Sebenarnya Shin hye sudah mengenal Seohyun sebelum Jong suk mengenalkannya meski hubungannya tidak bisa disebut pertemanan. Terkadang Shin hye tidak percaya diri untuk bersaing dengan Seohyun. Seohyun gadis yang cantik dan pintar merawat diri. Penampilannya yang glamour berbanding terbalik dengan Shin hye yang terlihat nyaman dengan flat shoes dan midi dress. Shin hye tak mengerti bagaimana Yong hwa bisa diam-diam meninggalkan Seohyun untuk menemuinya. Namun sikap Yong hwa cukup membuktikan bahwa pria itu lebih mencintainya meski ada kalanya Shin hye merasa iri. Setidaknya Seohyun bisa dengan bangga mengatakan pada dunia bahwa dia wanitanya Jung Yong Hwa. Tak perlu diam-diam menemuinya sekedar melepas rindu, tak perlu takut menggenggam tangannya saat berjalan bersama menjejak salju atau menyusuri jalanan kota bertaburkan kelopak merah muda seperti hari ini. Shin hye ingin seperti itu.

“Seohyun-ssi, kau baik-baik saja? wajahmu pucat.” Shin hye yang baru kembali dari toilet menghampiri Seohyun yang duduk melamun menatap layar komputer yang mati.

Gadis itu terperangah. Dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Shin hye.

Eoh, aku baik-baik saja. Akhir-akhir ini aku tidak enak badan, mungkin ada masalah dengan pencernaanku.”

“Mau aku panggilkan Yong hwa?”

Seohyun menggeleng cepat, “Tidak usah, sebentar lagi pekerjaanku selesai,” sejurus kemudian mata memanjang Seohyun tertuju pada bibir Shin hye yang tampak segar dengan pemerah bibir berwarna rosie.

“Lipstikmu baru? Astaga, cantik sekali. Ah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Jong suk saat melihatnya.”

Shin hye mendadak gugup. Kali ini wajahnya pasti sudah sepucat wajah Seohyun. Duh, bagaimana jika Seohyun tahu yang sebenarnya? Akankah dia memuji dengan nada yang sama?

“Penglihatanmu tajam sekali, huh?”

“Untuk hal-hal seperti ini aku lebih unggul darimu.”

Shin hye tak menyangkal. Hanya bisa tergelak menimpali celutukan Seohyun.

Ah, mendadak Shin hye juga penasaran bagaimana reaksi Jong suk saat melihatnya. Pria itu sangat kaku dan datar tak seperti Yong hwa. Shin hye ingat ketika ia meminta pendapat Jong suk tentang dress yang akan dibelinya,

“Menurutmu lebih bagus warna merah atau cokelat?”

“Dua-duanya bagus. Beritahu saja harganya nanti aku yang transfer.” begitu katanya bahkan hanya melirik dua-tiga detik katalog yang diulurkan Shin hye. Mungkin Jong suk lupa, adakalanya kata-kata perhatian lebih dibutuhkan dibanding uang.

Shin hye berjalan dengan tergesa menuju tempat parkir. Tadi Jong suk menelepon mengajaknya pulang bersama. Pria itu pasti sudah menunggu dengan wajah sebal karena Shin hye datang terlambat. Benar saja, Jong suk sudah berdiri bersandar di kap mobil setibanya Shin hye di lapangan parkir.

“Lama sekali.” keluh Jong suk dengan wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Ya, Shin hye tahu Jong suk tidak suka menunggu.

“Maaf, tadi ada file yang lupa kusimpan.”

Jong suk tak menimpali, hanya tangannya yang terulur hendak membuka pintu mobil. Namun gerakan tangannya terhenti begitu ponselnya berdering.

“Ah, benarkah? Apa harus sekarang?”

Shin hye menatap Jong suk was-was. Hati kecilnya menyimpulkan bahwa Jong suk tidak akan mengantarnya pulang karena alasan pekerjaan. Satu hal lagi yang Shin hye ketahui, Jong suk sangat mencintai pekerjaannya. Tak jarang semua rencana mereka gagal karena pekerjaan yang mendadak. Kadang Shin hye berpikir, apa benar dia sesibuk itu? Mengapa Yong hwa lebih terlihat santai dan selalu memiliki waktu untuk Seohyun sekaligus mencuri waktu untuknya saat mereka punya jabatan yang sama, kepala redaksi.

“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu. Kau pulang dengan Yong hwa saja, ya?” cetus Jong suk begitu menyadari kedatangan Yong hwa dan Seohyun.

“Ini masih jam 7 malam, aku naik taksi saja.”

Seohyun menyela, “Sudah tidak-apa, ikut kita saja, iya ‘kan?” Seohyun melirik Yong hwa mencari pembenaran yang langsung dijawab anggukan oleh Yong hwa.

Perasaan Shin hye tiba-tiba terusik melihat lengan Seohyun yang merangkul mesra lengan Yong hwa. Rupanya tangan kukuh itu juga bukan milik dia seutuhnya. Saat itulah, saat Shin hye terpaku di tempatnya berdiri Jong suk tiba-tiba merangkul pinggang Shin hye dan mendaratkan kecupan singkat tepat di bibir. Shin hye terkejut luar biasa, tangannya refleks memukul bahu Jong suk.

“Astaga, kau ini!”

“Kenapa? Kau malu? Kalau begitu jangan menggodaku dengan lipstikmu itu.”

Shin hye menelan ludah. Diam-diam melirik Yong hwa. Pria itu hanya mematung meski pandangannya menyiratkan keterkejutan. Oh God, sampai kapan kalian saling menyakiti?

“Kalau bermesraannya sudah selesai, ayo pulang!” Sindir Seohyun sambil terkekeh menggoda.

Jong suk tersenyum malu-malu. Menyuruh Shin hye segera masuk.

Dan perasaan cemburu itu kembali menyergap. Shin hye salah tingkah menyaksikan kedekatan Seohyun dan Yong hwa yang duduk di depannya. Tanpa merasa terganggu dengan kehadiran Shin hye, Seohyun beberapa kali menggoda Yong hwa dengan kata-kata manja, bermain-main dengan lengan kirinya yang bebas dari kemudi mobil. Wajah pucat gadis itu sudah berubah riang semenjak bersama Yong hwa. Ah, sihir apa yang dimiliki pria bermarga Jung itu hingga mampu membuat orang di dekatnya tersenyum riang seakan hidup ini surga?

“Siapa yang mencukur wajahmu? Akhir-akhir ini wajahmu terlihat bersih?” tanya Seohyun dengan pandangan tak lepas dari pria di balik kemudi itu.

“Aku mencukurnya sendiri.” jawab Yong hwa bohong. Siapa lagi kalau bukan Shin hye yang melakukannya.

“Benarkah? Jadi sekarang pacarku sudah mau memegang alat cukur? Baguslah, jadi aku tidak perlu datang malam-malam lagi untuk mencukur wajahmu, ‘kan?”

Yong hwa memaksakan senyum. Berusaha melihat ekspresi Shin hye dari kaca spion. Gadis itu menyembunyikan wajahnya dengan menatap keluar jendela.

Benar, Shin hye terluka dibalik punggung Yong hwa. Pura-pura menulikan diri, pura membutakan diri. Namun percuma saja, Shin hye merasa sedang menonton film roman dengan layar besar dan suara memekakkan telinga. Shin hye merasa hatinya terbakar meski angin malam musim semi  yang menyusup di kaca jendela mengirimnya kesejukan tetap tak bisa mendinginkan hatinya. Meski kuncup sakura di sepanjang jalan menyuguhkan keindahan tetap tak bisa menghibur hatinya yang luka. Hatinya gersang. Panas. Musim seminya berubah menjadi musim panas yang terik mataharinya membakar kulit, melelehkan luka.

Astaga…desah Shin hye dengan lidah kelu. Tangannya mengepal seakan menggenggam hatinya agar tak remuk berkeping-keping. Sesak yang dirasakan membuat pandangannya berkunang-kunang. Cairan bening itu mendesak ingin keluar mewakili luka hati yang teramat sangat. Shin hye mengerti, tapi bukan berarti tidak sakit hati. Sampai kapan ia harus merelakan perasaannya? Sampai kapan harus bersandiwara dan hidup dalam bayang-bayang?

“Shin hye-ssi aku duluan, ya?”

Suara merdu itu menegur. Shin hye baru sadar mobil yang ia tumpangi sudah berhenti di depan rumah Seohyun. Shin hye menyeka ujung mata, pura-pura menguap.

“Ah, iya.”

“Terima kasih, sayang. Sampai jumpa besok.” Seohyun sempat mengecup bibir Yong hwa sebelum turun dengan percaya dirinya. Dan Shin hye menyaksikan semua itu seperti orang bodoh.

“Ayo pindah!” ucap Yong hwa menyuruh Shin hye duduk di sampingnya. Shin hye menurut tanpa berkomentar.

Beberapa meter mobil melaju dengan senyap. Tak ada kata yang tercipta di antara dua orang itu. Sesekali Yong hwa melirik Shin hye, gadis itu asyik memperhatikan lampu-lampu jalan seakan pemandangan di luar sana lebih menarik perhatiannya. Ah, bagiamana bisa dia mengabaikan pria tampan yang duduk di sisinya? bathin Yong hwa.

“Apa ada pria tampan di luar sana?” Yong hwa berusaha memecah hening.

“Aku tidak butuh pria tampan.” timpal Shin hye sekenanya.

“Baguslah, karena aku tidak cukup tampan.” Yong hwa terkekeh, tapi tidak dengan Shin hye. Gadis itu bahkan tak menimpali leluconnya.

“Kenapa? Kau sakit?”

“Hanya lelah saja.”

“Maafkan aku.”

Tepat ketika Yong hwa mengucupkan itu sebulir air mata lolos dari pertahanannya. Sepertinya Yong hwa mengerti apa yang Shin hye maksud dengan lelah. Ya, hatinya yang lelah.

“Aku sudah melihatnya jadi aku tidak ingin mendengarnya.”

Yong hwa menghela nafas, “Hari ini aku juga melihatnya dan aku sangat marah melihat Jong suk menghapus lipstik yang kuberikan.”

“Kau lupa siapa yang kemarin malam menghapus lipstik itu?” kali ini Shin hye menatap Yong hwa, “Ah, sepertinya Seohyun sudah membuatmu hilang ingatan.” sindir Shin hye yang terdengar sarkastik.

“Kalau begitu tolong ingatkan aku lagi.” Yong hwa menepikan mobil. Pandangannya kini tak lagi fokus ke jalan di depannya, sempurna fokus ke manik mata Shin hye. Tangan kukuhnya menarik tengkuk Shin hye berusaha mengikis jarak. Tepat ketika bibir mereka nyaris bersentuhan ponsel Shin hye berdering membuat Yong hwa mengerang frustasi.

“Maaf…” Shin hye menarik diri. Merasa bersalah tapi ia juga tidak bisa mengabaikan ponselnya yang terus berteriak.

Ne, Oppa…”

Yong hwa melemaskan tubuh, menahan kesal. Kesian kalinya menganggap Jong suk sebagai pengganggu. Namun ia tak kehabisan akal, tangan Yong hwa jahil mengelus wajah Shin hye bermaksud mengganggu. Memandangi wajah cantik itu dengan tatapan cemburu.

“Iya, sebentar lagi aku sampai.” ujar Shin hye pada Jong suk dengan tangan yang sibuk menepis tangan Yong hwa. Matanya meminta Yong hwa untuk berhenti, Yong hwa justru semakin gencar melayangkan aksinya.

Eoh, nado saranghae..” Shin hye memutus sambungan telepon. Dan Yong hwa terdiam dengan kalimat terakhir Shin hye.

“Kenapa sekarang diam?”

“Lain kali saja kita lanjutkan, kau terlihat tidak bersemangat.”

Yong hwa menarik pedal gas kembali menyusuri jalanan ibu kota.

Shin hye terdiam. Yong hwa selalu menunjukkan kecemburuannya dengan sangat baik.


Shin hye menguap lebar-lebar tiada henti sampai membuat matanya berair. Beginilah kalau kurang tidur. Bukan, kali ini bukan karena pekerjaan kantor atau karena Yong hwa yang mengganggunya. Tapi karena menyelesaikan artikel untuk sebuah wedding web yang dua bulan terakhir ini ia geluti. Shin hye tidur jam 12.00 dan bangun tepat di angka 04.00. Sepertinya bangun di pagi buta seperti ini sudah menjadi kebiasaan semenjak Yong hwa sering menginap di rumahnya.

Shin hye kembali menguap untuk kali kesekian. Ia melirik jarum jam tangan yang masih jauh dari jam istirahat, Shin hye pun pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya berharap dinginnya air kran bisa sedikit menahan matanya yang memberat.

“Seohyun-ssi kau kenapa?” seru Shin hye panik begitu melihat Seohyun yang mengarahkan kepalanya ke wastafel seperti ingin mengeluarkan isi perutnya.

“Kau masih sakit? Astaga, wajahmu pucat sekali. Aku panggilkan Yong hwa, ya?” Shin hye terus bicara. Ada nada khawatir yang tulus di setiap helaan nafasnya.

“Aku baik-baik saja,” jawab Seohyun lemah, “tapi, kau bisa mengantarku ke klinik?”

Shin hye mengangguk tanpa merasa perlu berpikir. Seketika saja Shin hye melupakan rasa kantuknya.

“Tentu saja, bersihkan dulu wajahmu.” Shin hye mengambil beberapa lembar tisu di dekat wastafel. Membantu membersihkan sudut bibir Seohyun dengan rasa iba. sepertinya Seohyun mengabaikan masalah pencernaan yang kemarin di ceritakannya.

Shin hye mengantar Seohyun ke sebuah klinik yang letaknya tidak begitu jauh dari kantor. Tapi mereka harus sedikit bersabar karena antrian yang cukup panjang. Sebelum kemari Shin hye membeli beberapa potong roti untuk Seohyun, namun Seohyun menolak.

“Aku tidak lapar,” katanya.

Selang beberapa waktu seorang perawat memanggil nama Seohyun. Seohyun merajuk meminta Shin hye ikut ke dalam. Shin hye menolak, tapi gadis itu merajuk lewat tatapan mata yang membuat jiwa simpati Shin hye tersentuh dan luluh. Ah, Shin hye mengerti kenapa Yong hwa menyukai Seohyun. Dibandingkan wanita mandiri dan tangguh bukankah pria lebih menyukai wanita lembut dengan kemanjaannya yang santun?

“Kapan terakhir kali kau datang bulan?”

Mendengar pertanyaan dokter wanita itu Shin hye dan Seohyun kompak bertanya-tanya keheranan. Seohyun berusaha mengingat, Shin hye cemas dengan apa yang akan dikatakan dokter selanjutnya.

“Hormonnya tinggi sekali, sepertinya kau sedang hamil.”

Shin hye terkejut luar biasa, nyaris saja mengeluarkan bola matanya. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu begitu saja bersarang di kepala membuat Shin hye memikirkan segala kemungkinan.

Itu artinya Seohyun dan Yong hwa… Tidak, bathin Shin hye dengan cepat memprotes kesimpulannya. Sungguh asumsi sederhana yang menyakitkan.

Namun lihatlah, ekspresi Seohyun jauh lebih tenang dibanding Shin hye seakan diagnosis dokter bukanlah sesuatu yang akan membuat hidupnya berputar berkali lipat. Dan itu membuat Shin hye kian risau.

“Untuk sekarang kita tes urin dulu, jika hasilnya sudah pasti kau bisa memeriksanya ke dokter kandungan bersama suamimu.” lanjut dokter itu lagi yang disambut anggukan Seohyun.

Suami? Astaga

Shin hye menghela nafas menenangkan diri. Berusaha mendinginkan kepalanya. Mungkin yang membuat Shin hye gelisah bukanlah tentang Seohyun hamil atau tidak melainkan tentang siapa yang menitipkan malaikat kecil di perut Seohyun. Shin hye terlalu gentar memikirkan jawabannya Yong hwa meski jelas pria itu memiliki peluang 99% sebagai tersangka utama.

“Bagaimana?” Shin hye bertanya pada Seohyun begitu gadis itu keluar dari sebuah ruangan dan kembali duduk di sisi Shin hye.

Seohyun hanya tersenyum kecil sambil mengelus lembut perutnya, dan itu sudah lebih dari cukup sebagai jawaban.

“Positif.”

Shin hye lemas seketika. Merasa jiwanya terbang hanya dalam satu kepakan sayap. Jadi seperti inikah akhir dongengnya bersama pangeran bermarga Jung itu? Berakhir dengan cara yang tak pernah Shin hye bayangkan bahkan di dalam mimpi sekalipun. Dongengnya berakhir sebelum Shin hye memberinya tajuk. Miris.

Shin hye berpegang keras pada kursi yang diduduki. Berusaha menahan sesak. Mati-matian menahan tangis.

Masih dengan senyumnya yang tersisa Seohyun mengajak Shin hye pulang. Gadis itu sedikit terlihat riang dengan wajah pucatnya. Aneh, bukan? Bagaimana gadis itu bisa tersenyum di saat seperti ini?

“Aku tidak tahu harus bicara apa?”

“Katakan selamat untukku,” tukas Seohyun dengan senyum cerianya. Keduanya duduk bersisian di kursi belakang taksi yang membawanya pulang.

“Ah, benar. Selamat..” Shin hye menelan ludah. Tenggorokannya mendadak sakit.

“Tapi bisakah kau rahasiakan ini dari Yong hwa? Aku ingin memberitahunya sendiri.”

“Tentu saja.” Shin hye tersenyum yang kemudian memalingkan wajah. Tanpa diketahui Seohyun cairan bening di ujung matanya luruh begitu Shin hye mengatupkan kelopak.

 Game over…


Kejadian di klinik tadi siang masih membayangi kepala Shin hye bahkan ketika gadis itu sudah berada di rumah. Shin hye sedang mengaduk kari yang dibuatnya untuk makan malam tapi pikirannya mengembara tanpa tujuan. Begitu saja berbagai asumsi tumpang-tindih di benak. Pria itu, pria yang dicintainya tanpa sisa, pria yang mengajarkannya arti kesabaran, pria yang membuatnya bahagia dengan caranya yang ganjil; Jung Yong Hwa, pria yang tidak bisa dimiliki yang membuat hidupnya dalam angan-angan.

Shin hye menghela nafas berusaha mengusir sesak yang merampas kesadaran. Pada akhirnya pria itu semakin jauh dari genggaman. Memaksanya mengakhiri cerita dengan sangat kejam. Shin hye ingin marah, tapi pada siapa ia harus meluapkan kemarahan? Jika sudah seperti ini siapa yang harus disalahkan? Haruskah Shin hye menyalahkan diri sendiri, ataukah kesalahan ini mestinya di bagi rata? Sungguh, Shin hye tak pernah ingin menyakiti. Ia hanya terlanjur mencinta. Jika saja hati bisa diatur sedemikian rupa tentu Shin hye tidak akan memilih jalan ini. Ia akan menghentikan kenyamanan yang ditawarkan Yong hwa. Harus nyaman saja, bukan disertai perasaan lain yang kerap mencuri pertahanan Shin hye untuk setia pada Jong suk. Seharusnya tidak ada cinta diantara dirinya dan Yong hwa.

Ya seharusnya… nyatanya sekarang hatinya sudah terpatri untuk menyayangi pria itu, kakinya terbelenggu rantai besi untuk melarikan diri. Bersamanya memang sangat berat, tapi perasaan meninggalkan juga sama sulitnya.

Oh, Lee Jong Suk-ssi maafkan aku yang begitu kejam menyakitimu.

“Aargh…..!!”

Shin hye terlonjak mendengar teriakan dari kamar mandi. Dia baru sadar bahwa tak hanya dirinya dan udara di rumahnya, tapi ada Jong suk yang belum pulang setelah tadi mengantarnya.

“Kenapa?” Shin hye mematikan kompor, bergegas menghampiri Jong suk.

“Kran airnya rusak, kenapa tidak panggil teknisi?”

Shin hye mendengus pelan. Jong suk baru saja menghiperbolik teriakannya.

“Kemarin baik-baik saja, aku sudah memperbaikinya.” kilah Shin hye seraya mengambil handuk untuk mengeringkan badan Jong suk, “buka bajumu, kau bisa masuk angin.”

“Ganti saja, itu lebih baik daripada diperbaiki tapi tidak ada hasilnya.”

Shin hye enggan menimpali. Terlepas dari suasana hatinya yang buruk, jujur saja Shin hye tidak suka dengan sikap Jong suk yang seperti ini. Banyak bicara tanpa melakukan apapun.

“Kalau begitu tolong ganti untukku.”

“Aku tidak tahu caranya.”

“Kau tidak pernah membacanya dari buku?”

“Kau lupa, aku di divisi fiksi.”

Shin hye menyeringai. Benar, Jong suk di divisi fiksi dan Yong hwa non fiksi. Ah, lagi-lagi ia ingat Yong hwa.

Bel apartemen berbunyi ditengah perbincangan Shin hye dan Jong suk. Tanpa banyak berpikir Shin hye mendekati pintu. Seorang pria mengenakan T-shirt putih polos dengan celana hitam berdiri di ambang pintu. Beberapa helai rambutnya yang berantakan dibiarkan menyebar di sekitar kening. Ah coba lihat, pria itu tetap segar dan tampan meski tanpa dasi dan jas. Shin hye tersenyum hangat. Tak ada yang bisa menggerus pesona pria itu di hatinya kecuali…..sekonyong-konyong bayangan Seohyun muncul di pelupuk mata. Menghadirkan luka lama. Hey sadarlah, dia bukan hanya milikmu!

“Siapa yang datang?”

Ditengah kebisuan Shin hye dan Yong hwa terdengar suara berat yang begitu riang menghampiri. Yong hwa terperangah. Bukan karena kehadiran Jong suk, lebih tepatnya melihat keadaan Jong suk yang bertelanjang dada, rambutnya basah, berkalungkan handuk kecil. Semua itu menciptakan asumsi yang menyebalkan.

“Kau rupanya, ada apa?”

“Ah…ini aku hanya mau memberi apel, tadi aku bertemu dengan penulis kenalanku dan dia memberiku banyak apel.” ujar Yong hwa sedikit tergagap. Setengah jujur setengah berbohong.

Shin hye Menerima kantong plastik yang diulurkan Yong hwa. Berterima kasih.

“Makanlah bersama jong suk.”

“Masuklah dulu, kita makan bersama.” ajak Jong suk tanpa perasaan curiga sedikit pun.

“Terima kasih, tapi sepertinya aku akan mengganggu.” timpal Yong hwa diiringi tawa yang dibuat-buat.

“Bukankah tadi kita membeli banyak udang? Berikan satu kotak untuk Yong hwa, kurasa itu terlalu banyak.”

“Ah, benar. Sebentar kuambilkan.”

Jong suk balik kanan menuju dapur. Tentu saja itu hanya trik Shin hye agar Jong suk meninggalkannya berdua dengan Yong hwa.

“Ada apa?” tanya Yong hwa dengan suara nyaris berbisik yang hanya bisa didengar Shin hye dan telinganya sendiri.

Sebelum Shin hye sanggup berkata-kata air matanya sudah lebih dulu meluncur. Hatinya gundah, lelah memikirkan segalanya.

“Ada apa? Shin hye-ku tidak boleh seperti ini?” Yong hwa menangkup kedua pipi Shin hye dengan kedua tangannya. Matanya basah dengan pucuk hidung memerah. Cintanya pasti sudah menangis.

Shin hye menggeleng. Tangannya terulur menyentuh lengan Yong hwa dan menjauhkannya dari pipinya. Takut jika Jong suk tiba-tiba kembali dan melihat posisi mereka yang ganjil. Oh, sungguh si pengkhinat berhati pengecut.

“Ini, bawalah!” Jong suk kembali menghampiri dengan satu kotak udang di tangan.

Shin hye dan Yong hwa sudah bersikap biasa seakan tidak terjadi apapun.

“Terima kasih untuk apelnya, Yong hwa-ssi.” setelah mengatakannya Shin hye meninggalkan kedua pria itu. Memilih menyembunyikan sisa tangisnya. Sebenarnya banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Yong hwa. Tentang Seohyun, tentang hatinya dan tentang kita. Tapi apa daya, tidak banyak yang bisa ia lakukan hari ini.

“Yong hwa sudah pulang?” tanya Shin hye begitu mendengar pintu tertutup.

Jong suk mengangguk sambil menyisir rambutnya dengan jari, “Kau punya sisir?”

“Ambil saja di kamar.”

“Tidak apa-apa aku masuk?” tanya Jong suk menyakinkan.

“Aku tidak punya barang berharga, masuk saja.” ujar Shin hye lagi yang sedang menata meja makan.

Jong suk terkekeh kecil. Langkah kakinya ringan memasuki kamar satu-satunya itu.

“Di mana kau menyimpannya?”

“Di laci paling atas meja rias.” teriak shin hye.

“Tidak ada,” tangan Jong suk menyingkap beberapa barang dalam laci hingga sesuatu yang tertangkap mata menghentikan gerakan tangannya. Seperti…..dasi?

“Ada tidak?” Shin hye menyusul Jong suk yang menurutnya terlalu lama untuk sekedar menemukan sisir. Mungkin lelaki memang bermasalah perihal menemukan barang. Seketika saja mata memanjang Shin hye berubah membulat melihat dasi Yong hwa di tangan Jong suk. Bagaimana bisa?

“Apa ini?” Jong suk mengacungkan dasi abu-abu itu kearah Shin hye.

“Dasi,”

Oh, shitt! Sungguh jawaban yang bodoh.

“Kurasa ini bukan milikku, dasi siapa ini?”

Shin hye menelan ludah. Gugup. Tangannya berusaha merebut dasi dari tangan Jong suk.

“Iya, bukan.”

“Lalu?” Jong suk menatap Shin hye penuh selidik. Mendesak Shin hye untuk segera memberinya penjelasan, “kau tidak akan menjawab ini milik ayahmu ‘kan? Ayahmu sudah meninggal saat kau sekolah dasar. Kau juga tidak akan bilang dasi ini milik kakakmu ‘kan? kau tidak punya kakak!” sentak Jong suk.

“Berikan padaku.” Shin hye berusaha mengabaikan tatapan Jong suk yang menukik melihatnya begitu tajam.

“AKU TANYA DASI SIAPA INI, APA KAU TIDAK DENGAR?!”

Suara Jong suk mendadak bertenaga. Sepasang matanya berkilat penuh kemarahan. Entah bagaimana, tiba-tiba saja nama Yong hwa terlintas di kepalanya. Jong suk ingat beberapa hari lalu melihat Yong hwa memakai kemeja putih dan dasi yang sama persis, “ini bukan milik Yong hwa ‘kan?”

Shin hye terlengak. Pelan, menurunkan tangannya yang tadi berusaha menggapai dasi dari tangan Jong auk.

Melihat ekspresi Shin hye yang diam dan menjawab pertanyaan tak secepat sebelumnya membuat Jong suk menyimpulkan dugaannya benar.

“Aku benar ‘kan?”

Shin hye menelan ludah. Tercekat, “Iya,”

“Bagaimana mungkin? Kenapa dasi Yong hwa ada padamu?”

Pada akhirnya, hari seperti ini terjadi juga. Hari yang diyakini Shin hye pasti datang, namun lupa menyiapkan diri. Nyatanya, di dunia ini tak ada namanya rahasia, yang ada hanya kenyataan yang tertunda. Kebohongan selalu punya caranya sendiri untuk muncul kepermukaan.

“Kau bermain api dengannya, huh?”

Shin hye menarik nafas dengan serakah. Ia membutuhkan kekuatan yang tak pernah dimiliki untuk mengakui semuanya di hadapan Jong suk.

“Benar, aku mencintainya. Sangat…”

Jong suk merasa seribu sembilu kini mencabik hatinya. Bagaimana bisa Shin hye mengatakan itu di hadapan pria yang mencintainya selama setahun terakhir ini? Jong suk menatap Shin hye dengan sorot mata penuh bara. Rahangnya mengeras dengan tulang leher yang menegang. Deru nafasnya terdengar begitu menakutkan.

“Apa kau sudah gila? Kenapa kau melakukan ini padaku. KENAPA?”

Kenapa? Tanya yang sama yang mendiami kepala Shin hye berbulan-bulan. Kenapa ia harus jatuh cinta pada pria itu? Kenapa dia harus mencari kebahagian yang sulit jika ia punya kebahagian yang sempurna di sisinya? Kenapa harus rela disakiti jika di sisinya ada orang yang bersedia memberinya seluruh keindahan dunia? Shin hye tidak tahu. Bahkan jika ratusan ribu kali ia bertanya jawabannya tetap sama, tidak tahu.

“Seberapa jauh hubunganmu dengan pria sialan itu? Kau sudah tidur dengannya? Kau sudah menyerahkan tempat yang seharusnya kau berikan padaku?!”

Shin hye tertohok. Membalas tatapan Jong suk tak kalah menghujam. Tuduhan Jong suk membuat Shin hye terhina. Benar, ia sudah gila. Tapi dia masih menyisakan sedikit kewarasan untuk tidak melakukan hal menjijikan itu.

“Jaga bicaramu!” satu tamparan keras mendarat di pipi Jong suk membuatnya menoleh seketika.

“Kau pikir aku akan percaya? Dia sudah berani melepas dasi di rumahmu, bukan tidak mungkin dia juga berani melepas pakaiannya, kan?” Dengan kasar pria itu mencengkram pipi Shin hye dengan satu tangan membuat Shin hye meringis kesakitan. Jong suk kalap hingga ia mengabaikan air mata Shin hye yang meluncur akibat sikap kasarnya. Wajah Shin hye memucat, tangannya mengepal kuat menahan amarah. Seketika saja pria kaku itu beralih rupa menjadi pria kasar nan bengis.

“Katakan padaku maksud semua ini?”

“Aku tahu ini salah, tapi aku mencintainya…tolong lepaskan aku kali ini saja.”

Jong suk benar-benar murka. Pria itu mendorong tubuh Shin hye hingga kepalanya terbentur kaki ranjang. Tersengkur di lantai kamar yang dingin. Jong suk tak mau berhenti. Ia melempar semua barang yang ada di dekatnya. Menjadikan Shin hye bak papan dart. Dari mulut pria itu keluar kalimat-kalimat penuh kemarahan. Kilatan matanya menatap Shin hye murka.

“Seharusnya kau memohon dan bersujud bila perlu, bukan dengan tidak tahu dirinya kau memintaku melepaskanmu.”

Kali ini bingkai foto dari kayu melayang hingga menghantam pelipis Shin hye sebelum pecah menghujam lantai. Shin hye yang terkejut langsung mendekap kepalanya sendiri. Melindungi diri. Shin hye tak melawan, membiarkan saja Jong suk melampiaskan kemarahannya yang bisa dimengerti.

“Kau menipuku dengan wajahmu itu? Kau monster, dasar perempuan sundal!”

Shin hye terlengak. Ucapan pedas dan tuduhan tanpa bukti dari Jong suk sungguh melukai harga dirinya. Rasa sakit yang dialaminya bukan hanya fisik saja, tapi lebih jauh lagi. Harga diri.

Gadis sundal? Atas dasar apa pria itu menyebutnya wanita kotor seperti itu?

Jong suk berteriak histeris kemudian meninggalkan Shin hue yang tersungkur di sudut kamar setelah puas mencaci maki. Ada satu lagi tempat untuknya menumpahkan kemarahan. Lantai 25, tempat pria yang sudah membuat kekasihnya jatuh cinta. Jong suk menyambar kemeja, langkahnya penuh kemarahan. Pintu apartemen sukses dibanting hingga rumah terasa bergetar.

“Kau?”

Yong hwa terkejut mendapati Jong suk menemuinya dengan wajah merah padam. Tanpa berkalimat bicara Jong suk mendorong Yong hwa ke tembok, menahan dada pria itu dengan tangannya yang keras.

“Apa yang sudah kau lakukan pada Shin hye-ku? Kau menggodanya?”

Yong hwa berusaha melepaskan diri, tapi Jong suk semakin menahannya hingga sulit bernafas. Tak akan membiarkan Yong hwa bicara satu patah kata pun.

“Kau sadar apa yang kau lakukan ini juga menyakiti Seohyun?” gigi Jong suk bergemeretak menahan geram, “kalau kau ingin bermain kenapa harus dengan Shin hye-ku, huh? KENAPA?” kepalan tangan Jong suk mendarat di wajah Yong hwa meninggalkan bekas kebiruan dan darah segar di ujung bibir.

Yong hwa mengerti sekarang, alasan kenapa Jong suk begitu murka padanya. Saat ini lelaki itu seperti binatang buas yang siap menerkam mangsanya dalam satu gigitan. Ya, itu bisa dimengerti. Seseorang yang menyadari barang berharganya dirampas tentu saja akan murka, bukan?

“Kau memberinya apel berharap Shin hye tidur dan kau yang akan membangunkannya? Katakan kenapa kau melakukan ini padaku?!”

“Karena aku mencintainya!” bentak Yong hwa tegas dan lantang.

Sekali lagi, satu pukulan menghantam wajah Yong hwa membuat pria itu terjatuh ke lantai. Jong suk menghajarnya lebih bengis dari apa yang ia lakukan pada Shin hye. Mengumpatnya dengan kata-kata penuh vonis. Sama seperti Shin hye, Yong hwa pun tak melawan. Jika pukulan itu bisa membuat Shin hye menjadi milik dia seutuhnya, maka Yong hwa akan menerima pukulan itu tanpa dendam. Biar saja, bukankah selalu ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang didambakan?

“Kembalikan Shin hye padaku, atau aku akan memburumu!”

Itu kalimat terakhir yang dilontorkan Jong suk sebagai luapan kemarahan. Pergi setelah membuat Yong hwa babak belur di rumahnya sendiri.

Yong hwa meringis menahan perih di wajahnya. Namun tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Shin hye. Bagaimana dengan gadis itu sekarang?

Yong hwa menekan bel apartemen Shin hye tanpa sabar. Ingin memastikan kekasihnya baik-baik saja. Betapa pun marahnya Jong suk dia tidak akan melukai wanita ‘kan?

Tak berapa lama pintu apartemen terbuka memperlihatkan sang pemilik rumah yang wajahnya tak lebih baik dari Yong hwa. Rambutnya berantakan, sepasang matanya merah dan basah, sudut bibirnya kebiruan dengan kening yang berdarah. Astaga, apa yang sudah pria itu lakukan padanya?

Tak perlu berkalimat-kalimat penjelasan. Semua yang dilihat Yong hwa sudah menjelaskan banyak hal. Yong hwa memeluk Shin hye, suaranya bergetar saat berbicara.

“Maafkan aku.”

Tangis Shin hye seketika menyeruak tanpa suara. Lelah yang dirasakannya sudah diambang batas. Lelah menuruti kenyataan bahwa mereka tidak pernah baik-baik saja.

“Aku bisa terima apapun yang dia lakukan padaku, tapi bagaimana bisa dia melukaimu seperti ini?” kalimat pertama yang terlontar setelah hening panjang. Yong hwa mengobati luka Shin hye setelah gadis itu melakukan hal yang sama padanya.

“Aku melukainya lebih dari ini,” Shin hye menatap Yong hwa lamat-lamat sebelum melanjutkan, “kita akhiri sampai disini, Yong-ah..”

Yong hwa melipat dahi, pura-pura tak mengerti, “Apa yang harus diakhiri?”

“Kita. Hubungan kita.” Mendung di mata Shin hye kembali terlihat dan kini lebih pekat dan menusuk.

“Apa kau tidak lelah berpura-pura kuat? Apa kau tidak lelah bersembunyi? Aku lelah Yong-ah,sangat…”

“Kita sudah sejauh ini dan kau ingin menyerah?”

“Karena itulah, sebelum semuanya semakin rumit aku ingin mengakhirinya. Aku ingin membebaskanmu dari rasa bersalah, jadi kumohon lakukan itu juga untukku. Aku ingin bahagia tanpa harus bersembunyi dan dikejar ketakutan.”

Sungguh, jauh di dasar hatinya Shin hye ingin diakui, ingin merdeka dari rasa bersalah. Tapi memaksa Yong hwa untuk berada di sisinya itu terdengar sangat kejam. Ia hanya mencintai, tapi bukan berarti mata dan hatinya buta untuk memiliki. Shin hye tak ingin menyakiti siapa pun terlebih kini Seohyun sangat membutuhkan Yong hwa daripada dirinya.

“Aku tak ingin menyakiti Seohyun dan Jong suk lagi-”

“Tapi tak masalah jika kau melukaiku?” sambar Yong hwa tak terima.

Ah, tidak lihatkah betapa wanita itu juga terluka? Tersakiti oleh perbuatannya sendiri.  Bagaimana bisa ia bicara tentang berhenti jika matanya mengatakan ingin hidup dengan pria itu.

“Aku melakukannya demi kau yang selalu merasa tersudut karena tidak bisa memilihku atau Seohyun, untuk Jong suk dan untuk diriku sendiri yang sudah amat lelah disakiti, dan tentu saja untuk Seohyun yang lebih membutuhkan keberadaanmu.”

“Dan kau akan kembali pada Jong Suk?”

Shin hye menggeleng dengan air matanya yang menderas. Bagaimana bisa jika di hatinya hanya ada Yong hwa. Jika hanya pria itulah yang berhasil melukis cinta dalam kehidupannya dengan caranya sendiri. Perasaan itu tidak akan hilang tak peduli seberapa keras Shin hye mencoba.

Yong hwa kembali merengkuh Shin hye dalam dekapannya. Demi apapun, ia juga tidak pernah punya hati untuk menyakiti Shin hye atau pun Seohyun meski kini semua deret kejadian terlalu naif jika disebut ketidaksengajaan.

“Maafkan aku, tapi kumohon bersabarlah sebentar lagi. Tetaplah di sisiku sampai musim semi ini berakhir. Maaf..sungguh maafkan aku jika perasaan ini justru menyakitimu.”

Shin hye balas mendekap kian erat. Takut jika besok ia tidak akan bisa melakukannya lagi. Tidak bisa melihat mata teduhnya lagi. Mata bulan sabit yang ia harap hanya menatapnya selamanya.

Tuhan, aku sangat mencintai laki-laki ini. Bisakah kau membiarkannya tetap di sisiku?”

Shin hye menangis tersedu di pundak Yong hwa. Musim semi yang biasanya semarak diselimuti kelopak merah muda bagi Shin hye seperti musim dingin yang gelap. Sekarang ia membutuhkan cahaya meski secercah hingga ia bisa menentukan kemana akan melangkahkan kaki.

Berulang kali tangan Yong hwa menghapus air mata yang mengalir di pipi Shin hye. Namun semua seakan percuma, alirannya terlalu deras. Bulir lainnya turun seakan tak rela.

Yong hwa ikut menyeka ujung mata. Hatinya pun nelangsa.


“Seohyun-ssi!”

Seohyun terlonjak kaget mendengar namanya disebut dengan nada membentak. Nyaris saja tersedak kopi panas di tangannya. Seohyun menoleh dan menatap sebal pria yang berdiri di dekat pintu. Untuk apa pria itu datang kemari? Apa ini satu-satunya pantry di sini? pikir Seohyun.

“Kau mengagetkanku,” seru Seohyun ketus, “hari ini Shin hye tidak masuk kerja, kau tidak tahu?”

Jong suk mendengus, “Aku mencarimu.”

“Aku?” Seohyun tertawa hambar. Duduk di salah satu kursi dan mengambil majalah, “Ada apa?” tanyanya lagi dengan nada lebih bersahabat.

Jong suk menarik kursi hingga menyisakan ruang untuknya duduk, “Aku akan memberitahumu satu rahasia, jadi siapkan dirimu.”

“Apa?”

“Kau mungkin tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan, tapi inilah kenyataannya.”

Mata Seohyun mendelik, “Ya sudah katakan saja, kenapa berbelit-belit?”

Jong suk menghela nafas. Wajahnya kini terlihat amat seurius dengan kantong mata yang membesar. Semalam ia tertidur sambil melihat matahari terbit.

“Kekasihmu sudah menggoda kekasihku.”

Mata Seohyun seketika membulat. Rasanya seperti petir baru saja menyambarnya di siang bolong di tengah terik matahari.

“Maksudmu..Yong hwa dan Shin hye..mereka-”

“Iya,” sela Jong suk cepat menyadari Seohyun tak sanggup mengucapkan kata selingkuh, mengkhianati dan istilah lain untuk menggambar hubungan dua orang itu.

Oh God, i don’t believe. Seohyun memejamkan mata dan berpegangan kuat pada kursi merasa tubuhya melemas.

“Jadi gadis itu Shin hye?”

Jong suk mengernyit. Tak mengerti dengan kalimat Seohyun.

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya.” tanya Seohyun dengan mata yang berkaca-kaca. Menggigit bibir menahan perih.

“Waktu yang berbaik hati menunjukkannya padaku.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Seohyun memandangi Jong suk yang terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu tapi tatapannya tampak kosong dan…ah, penuh luka. Ini pasti lebih sulit bagi Jong suk.

“Aku akan tetap mempertahankannya.

“Meski kau tahu cinta itu bukan untukmu lagi?”

“Aku akan membuatnya kembali mencintaiku. Dulu aku bisa melakukannya, kenapa sekarang tidak?”

Seohyun meneteskan air mata mendengar kalimat Jong suk barusan. Pria itu salah, dia tidak pernah tahu betapa rentannya hati manusia. Ia bisa berubah hanya dalam satu malam, tapi kekuatan hati tidak bisa digoyahkan bahkan jika musim berubah, ratusan purnama berganti.

“Yang seharusnya kau lakukan adalah mempersiapkan diri untuk perpisahan. Tak ada gunanya mempertahankan sesuatu yang tak lagi untukmu.”

Jong suk terlengak. Dia pikir Seohyun akan berada  di pihaknya dan melakukan hal yang sama. Setidaknya demi perasaan asing yang pernah menggetarkan hatinya untuk pertama kali.

“Kau akan melepaskannya?”

“Lalu apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku tidak ingin menghalangi kebahagian orang lain lalu menyangkal Tuhan yang membuat perasaan itu ada. Jadilah pria dewasa berjiwa besar, Jong suk-ssi. Ini memang sulit, tapi biarkan perpisahan ini menjadi pintu kebahagianmu yang lain, seperti api yang meleburkan emas.”

Jong suk terpaku mendengar kata-kata Seohyun yang menurutnya aneh. Sungguh tidak mengerti dengan sikapnya. Apa wanita memang seperti itu? Selalu berpura-pura kuat meski hati remuk tak terelakan.

Seohyun tersenyum sebelum kembali bicara dan beranjak. Jam kerjanya sudah dimulai,

“Terima kasih untuk informasinya, kuatkan hatimu.”

Seohyun mengerjapkan matanya berkali-kali begitu keluar pantry. Ia merogoh saku, mengambil ponsel.

Oppa kau dimana? Bisa kita bertemu saat makan siang? tanya Seohyun pada Yong hwa dengan suara yang dibuat seriang mungkin, “oh, kau tidak masuk kerja hari ini? Baiklah kita bertemu setelah kau merasa lebih baik.”

Ayo kita berhenti bersandiwara,Yong hwa-ya.


***

Yong hwa menemui Seohyun keesokan harinya di sebuah kafetaria yang sama saat pertama kali mereka bertemu. Di kafe itu pula Yong hwa meminta Seohyun menjadi kekasihnya. Yong hwa duduk di meja dekat jendela yang sama persis saat Yong hwa melihat Seohyun untuk pertama kali dari kaca jendela itu. Dekorasi kafe pun tak banyak berubah, dua pot besar pohon kaktus masih setia menjadi penyambut pintu masuk. Beberapa tulisan dalam bahasa inggris yang terbuat dari kayu masih terpampang di dinding bergaya vintage itu. Semua sama saja, kecuali hatinya. Semua letupan keriangan saat akan bertamu Seohyun sudah lama tertinggal di belakang. Sekarang semuanya terasa biasa dan datar. Letupan itu perlahan memudar tergantikan letupan yang dibawa gadis lain. Seohyun gadis yang baik. Selama bersamanya gadis itu tidak pernah melakukan kesalahan yang berarti. Sifat manja dan kekanak-kanakannya membuat Yong hwa jatuh cinta, tapi bagaimana ia bisa menolak pesona Shin hye? Perempuan yang merongrong setiap sudut hatinya, perempuan yang sudah memenangkan banyak hal dalam dirinya. Kecantikannya amat mempesona. Ada bayangan senja yang meneduhkan setiap kali wajahnya tersenyum syahdu. Ada sosok keibuan dalam tubuh yang senantiasa dapat dipeluknya sepanjang malam. Matanya mengingatkan Yong hwa akan keindahan dunia, bibirnya selalu mengundang untuk melarung dahaga. Bersamanya, kemarahan selalu menguap tanpa jejak. Bersamanya, Yong hwa menemukan peluang hidup lebih baik. Shin hye bukan sekedar teman saat insomnia menyerang bukan pula tempatnya mencari penghiburan.

Pria itu tersenyum lega begitu sepasang matanya menangkap sosok Seohyun yang berjalan mendekatinya. Hari ini Seohyun mengenakan midi dress merah dengan high heels senada. Rambut kecokelatannya dibiarkan tergerai seperti biasanya. Cantik, namun tak lagi menggetarkan hati.

“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Seohyun begitu mereka duduk berhadapan.

“Aku..hanya tidak hati-hati saja.”

Seohyun mangut-mangut. Tak ingin memperpanjang masalah sekalipun ia tahu yang sebenarnya.

Oppa, ayo kita buat pengakuan.”

Yong hwa mengerutkan alis. Meletakkan gelas kopinya pelan-pelan. Apa Seohyun tahu apa yang akan aku katakan?

“Pengakuan?”

Eoh,

“Baiklah, ayo lakukan. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Karena aku datang terlambat, bagaimana jika aku lebih dulu mengatakannya.”

Yong hwa mengangguk setuju. Suasana kafe mendadak lengang meski suara klaksan di luar sana saling bersautan dan lagu romantis khas musim semi diputar maksimal di sudut kafe. Waktu seakan merambat hanya pada dua orang yang duduk berhadapan itu. Yong hwa sudah menyiapkan kedua telinganya untuk mendengarkan Seohyun.

“Aku hamil…”

Deg!

Dua kata itu sukses membuat Yong hwa terbelalak. Apa hubungan mereka sudah sejauh itu? Yong hwa menatap Seohyun minta penjelasan sambil berusaha mengingat apa yang sudah terjadi.

“Tidak, tentu saja bukan kau yang melakukannya,” Seohyun tersenyum kecil melihat ekspresi terkejut Yong hwa, “sebenarnya, sebelum aku bersamamu aku sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan seorang pria Busan bermarga Cho. Dia temanku saat SMA, semanjak dia kembali ke Busan aku sangat kesepian dan membutuhkan teman hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Jujur saja, awalnya aku hanya main-main saja, tapi ketulusan yang kau berikan setiap kali kita bersama membuat perasaan itu benar-benar ada meski tak bisa kuberikan seutuhnya. Aku jahat, ‘kan?”

Yong hwa terdiam. Entah harus senang atau terluka mendengar pengakuan Seohyun. Benar, Yong hwa mencintai Seohyun dengan tulus tanpa pernah berpikir bagaimana hubungan mereka akan berakhir. Sebelum sosok Shin hye mencuri perhatiannya dan perlahan memupus bayangan Seohyun di hatinya. Ia jatuh cinta lagi. Titik. Hanya itu alasannya. Lalu kenapa itu bisa terjadi? Yong hwa tidak tahu. Urusan hati tidak pernah memiliki rumus yang pasti, bukan? Setidaknya dengan alasan itu Yong hwa bisa memahami Seohyun.

“Hari itu aku mulai menyadari sesuatu. Hari dimana semua yang kau berikan padaku terasa dingin dan hambar. Mungkin karena seorang wanita tidak pernah kehilangan sensitivitas untuk membedakan sesuatu, aku mulai berpikir mungkinkah ada seseorang yang mengganggu pikiranmu, atau ada wanita lain yang bisa membuatmu jatuh cinta selain aku. Tapi aku tidak pernah berpikir jika wanita hebat itu adalah Park Shin hye.”

Mata hitam pekat Yong hwa tergugu. Merasa baru saja tertangkap basah. Bagaimana Seohyun bisa mengetahuinya? Tidak, Yong hwa tidak bermaksud membohongi Seohyun selamanya, ia hanya butuh waktu.

“Shin hye wanita yang baik. Dia wanita sederhana yang luar biasa, aku bisa mengerti kenapa kau bisa jatuh cinta padanya. Namun tetap saja aku tidak tahu bagaimana menyikapinya. Ini benar-benar di luar dugaan.”

“Maafkan aku,”

Seohyun menggeleng, “Tidak, kalau kau seperti ini apa yang harus aku lakukan. Aku juga melakukan kesalahan yang tak termaafkan.”

“Apapun yang akan kukatakan akan terdengar seperti sebuah alasan. Benar, aku jatuh cinta padanya tanpa aku tahu bagaimana dia bisa mencuri perasaanku yang seharusnya untukmu.”

“Itu terlihat jelas. Aku bodoh jika tidak mengetahuinya,” Seohyun tersenyum, “aku akan melepaskanmu, tapi kurasa Jong suk tidak akan membiarkanmu begitu saja. Dibanding aku, dialah yang paling terluka.”

Yong hwa setuju. Itu juga yang dikhawatir Yong hwa selama ini. Bukan tidak mungkin jika pria itu akan kembali menjadikannya samsak tinju.

Seohyun dan Yong hwa saling terdiam. Mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ada sebersit kebahagian asing yang tertoreh. Bolehkan merasa senang di balik kenyataan cinta yang sama-sama terkhianati?

Seohyun tersenyum, “Terima kasih untuk apa yang kau berikan padaku selama ini. Mulai hari ini, ayo belajar memahami.arti cinta sesungguhnya.”

“Berbahagialah dengan pria bermarga Cho itu.” balas Yong hwa dengan senyum. Setitik cahaya untuk bersama Shin hye kini semakin terang.


Tujuh hari Shin hye cuti kerja dari kantor. Waktu itu juga yang dipatoknya untuk menenangkan diri atas apa yang terjadi malam itu. Shin hye butuh waktu untuk menyembuhkan luka, butuh waktu untuk sendiri dan memutuskan jalan mana yang akan disusuri. Ya, memutuskan itu butuh keyakinan hati dan kejernihan pikiran.

Tujuh hari tanpa Yong hwa. Tujuh hari Tanpa Jong suk.

Shin hye mendesah resah. Beberapa kali melirik jam yang melingkari pergelangan tangan. Shin hye duduk dengan gelisah di lobby kantor menunggu Jong suk. Ah bukan, lebih tepatnya sengaja menunggu karena mereka tidak punya janji akan bertemu. Setelah kejadian malam itu Jong suk mendadak sulit dihubungi mungkin dia juga butuh waktu untuk berpikir. Shin hye mengerti, tapi ia berhutang maaf dan penjelasan. Jika memang harus berakhir seharusnya mereka mengakhirinya tanpa sisa.

“Akhirnya kau menungguku juga.”

Shin hye mendongak mendengar suara berat menegurnya. Tanpa sepengetahuannya Jong suk sudah berdiri di sisinya.

“Kau sudah putuskan untuk tetap di sisiku?” tanya pria itu lagi dengan nada yang sama. Mengintimidasi.

“Kita bicara sebentar.”

“Aku akan mendengarkan jika aku pemenangnya.”

“Lee Jong suk-ssi!”

Jong suk terlengak mendengar Shin hye menyebut namanya dengan lantang. Entah mengapa Jong suk merasa kalau gadis itu sedang menikam jantungnya dengan sangat kejam. Selama ini Shin hye selalu memanggilnya dengan sebutan Oppa dengan wajah manis. Shin hye tidak pernah memanggilnya dengan nama, tidak dengan ekspresi apa pun.

“Nada bicaramu membuatku sakit, benarkah kau Park Shin Hye yang kucintai?”

“Seharusnya tidak lagi.”

Shin hye merasakan kembali tatapan Jong suk yang menatapnya geram. Tatapan yang sama seperti malam itu. Sejurus kemudian tangan pria itu menarik Shin hye dengan kuat-lebih tepatnya menyeretnya ke suatu tempat. Shin hye meringis menahan sakit, tapi Jong suk tak bergeming, tetap membawanya menjauhi lobby dan baru menghempaskannya setelah mereka berada di pintu darurat.

Shin hye mengaduh sambil memegangi pergelangan tangannya yang terasa panas.

“Bicaralah!”

Shin hye menelan ludah. Semua kalimat yang sudah ia susun dari tujuh hari kemarin mendadak luruh melihat ekspresi Jong suk yang belum juga meredakan amarahnya.

“Maafkan aku, tapi…aku ingin mengakhirinya.”

“Bagaimana jika aku tidak mau?” sambar Jong suk.

“Itu hanya akan menyakitimu. Apa kau tetap akan mempertahanku meski kau tahu kau bukan orang yang kusayangi lagi?”

“Aku tidak mau terluka sendiri. Jika aku terluka kau juga harus terluka. Jika aku tidak bisa bersamamu maka pria itu juga tidak boleh. Itu hukuman paling adil untuk wanita pengkhianat sepertimu.”

Sudut mata Shin hye mulai beriak. Meski kata-kata Jong suk ada benarnya tapi tetap saja semua itu menghujam ulu hati. Shin hye mati langkah. Dia tak ingin lagi membohongi Jong suk dan menyangkal gejolak hatinya saat bersama Yong hwa. Tapi peluang untuk memiliki Yong hwa pun sudah tertutup begitu mengetahui keberadaan seonggok daging di perut Seohyun.

“Beritahu aku bagaimana pria itu menggodamu? Kau bukan wanita kesepian yang penuh kesombongan yang bisa digoda dengan uang. Apa dia melakukan sesuatu yang belum pernah  kulakukan?” Jong suk masih menatap Shin hye dengan gejolak yang sama. Ada suara penuh tuduhan saat pria itu melontarkan kalimat terakhir. Dan begitu saja, tanpa memberi Shin hye kesempatan bicara  Jong suk mendekatkan wajah. Tangan kukuhnya dengan cepat menyergap di tengkuk Shin hye. Mengerti dengan apa yang akan dilakukan Jong suk, Shin hye membekap mulutnya dengan tangan. Menggeleng kuat sambil mendorong Jong suk dengan segenap kekuatannya. Seharusnya hanya dengan gelengan saja Jong suk sudah mengerti. Mungkin pria itu memang tidak pernah mengerti bahasa isyarat.

“Wanita tidak hanya akan mencari yang terbaik, tapi juga mencari seseorang yang membuatnya nyaman. Kau yang seperti ini membuatku tidak nyaman, kau yang seperti ini membuatku semakin ingin melarikan diri darimu. Aku tahu ini sulit tapi inilah kenyataannya.  Aku tidak akan memintamu memaafkanku, tapi kumohon tolong lepaskan aku. Hanya itu yang ingin kukatakan. Terserah kau akan menyebutku gila, pengkhianat, penjahat atau bahkan monster sekalipun.” Shin hye mengepalkan tangan berusaha meredam amarah. Dadanya sesak, kepalanya mendadak mendidih. Semua perasaan itu menggoda pupil dan konjungtivanya untuk meneteskan sedikit cairan.

Jong suk menyipitkan sepasang matanya. Apa yang dikatakan Shin hye benar-benar di luar dugaan. Hubungan yang selama ini ia anggap hangat ternyata lebih dingin dari gunung es di kutub utara. Sekarang Jong suk menyadari bahwa cinta bukan tentang bersama. Ada sejengkal ruang di hati Shin hye yang tak terjamah olehnya dan baru menyadari ketika orang lain tanpa sengaja telah mengisi kekosongan itu. Sekarang hubungan mereka sudah di ambang kritis. Jarak di antara mereka sudah terlanjur terlentang tak lagi sedekat jeruk dengan pusarnya.

“Berjalanlah meski sakit, karena akan lebih sakit jika tetap bertahan.”

Itu Kalimat terakhir Shin hye sebelum gadis itu melenggang pergi meninggalkan Jong suk yang mematung. Jong suk hanya memandang nanar punggung Shin hye yang perlahan menjauh. Sekarang, apa yang bisa membuat cintanya kembali? Ibarat meja yang kehilangan satu dari keempat kakinya, runtuh menyakitkan. Menyisakan dirinya yang tertatih menata perasaan. Sungguh, Jong suk tidak pernah berpikir kisah bahagianya akan hilang semudah melayangnya kertas. Semerbak wangi musim semi yang dulu dibawa Shin hye kini perlahan memudar seiring langkah kakinya. Shin hye-lah musim seminya. Musim semi yang mempertemukan mereka di bawah guyuran kelopak sakura, musim semi yang menyatukan asa untuk bersama dan kini musim semi pula yang mengubah segala mimpi dan asa yang pernah dirajut menjadi abu. Kini, musim seminya sudah berakhir terganti musim dingin yang beku. Menggigil kerinduan yang panjang sekaligus menyesakkan. Nyatanya, tidak perlu menjadi pintar untuk tahu bahwa kenyataan tak selamanya sesuai harapan. Ketika asa ingin menjadi satu-satunya, kenyataan justru menjawabnya dengan pahit yang teramat sangat. Telah terganti, adalah tamparan keras bagi hati yang butuh lebih dari sekedar waktu untuk menjadi rela.

“Kau benar, mungkin ini memang yang terbaik. Tapi tetap saja aku tidak bisa tersenyum saat mengatakannya. Aku berusaha menampik semua kenyataan kejam yang kau tuturkan, tetap saja itu membuatku tak berdaya. Jika saja kutahu akan seperti ini pada akhirnya aku tak akan pernah sejenak pun menghilang dari pandanganmu. Jika saja waktu berpihak padaku, mungkin tidak seharusnya aku mengenalkan dia padamu. Shin hye-ssi, aku ingin melepaskanmu tanpa penyesalan. Ingin sekali, tapi aku bukan makhluk Tuhan berhati sutera itu.


Tanpa sadar sebulir air mata di ujung pandangan itu merekah membentuk parit kecil di pipi. Tetes airnya menghujam tanah aspal semerbak sakura. Shin hye tercekat menatap dari jauh punggung tegap di sisian danau. Lihatlah, pria itu tengah berdiri menunggunya. Tubuh atletisnya dibalut kemeja biru bergaris dan celana hitam panjang. Lengan kemejanya digulung hingga siku memamerkan tangannya yang kukuh tanpa cela. Sesekali kakinya dihentakkan, mungkin mengusir bosan karena terlalu lama menunggu. Sebenarnya Shin hye sudah datang beberapa menit yang lalu, tapi tak lekas menampakkan diri. Sebaliknya malah memandanginya dari jauh. Takut apa yang akan dikatakan pria itu membuatnya kehilangan cara untuk bertemu. Pria itu, Jung Yong Hwa. Dari sekian banyak orang yang berkeliling menikmati sakura Shin hye masih bisa menemukan Yong hwa dengan mudah hanya dengan melihat punggungnya. Shin hye menyebutnya keajaiban.

Angin berhembus pelan menggugurkan kelopak merah muda. Menebar kecerian bagi mereka yang datang untuk merayakan festival sakura. Namun Shin hye merasa hal itu seperti sedang mengolok-oloknya. Sakuranya gugur ke bumi bahkan sebelum kuncupnya mekar. Andai saja sakura wish itu ada, Shin hye ingin pria di sana itu menjadi satu-satunya tempat menumpahkan segala dan sandaran masa tua. Satu-satunya tempat bergantung seperti anggrek pada inangnya. Dia akan menderita tapi tidak akan mati jika dipisahkan.

Dering ponsel yang menyergap di telinga seketika memusnahkan lamunan Shin hye. Sebuah nama tertera di layar ponsel. Shin hye terdiam sejenak lantas buru-buru menyeka sudut mata. Berdehem berkali-kali mengatur suaranya yang mendadak parau. Shin hye menjawab panggilan itu dengan pandangan yang tak lepas dari punggung Yong hwa.

“Kau dimana?”

“Aku masih di perjalanan, sebentar lagi sampai. Kau bosan menungguku?”

“Tidak, ini pertama kalinya kita bertemu di luar dengan perasaan berbeda jadi aku akan menunggu. Aku hanya khawatir.”

Bulir bening kembali menggantung di kelopak mata. Rinainya memecah bias dari hangatnya semburat senja.

“Baiklah aku akan datang secepatnya.”

Mata memanjang Shin hye mengerjap memupus sisa air mata. Lalu dengan langkah tak rela menghampiri Yong hwa yang terlihat asik memandangi riak air danau. Ada semburat kelegaan begitu sepasang matanya menangkap sosok Shin hye yang berjalan mendekat. Seakan baru saja menemukan sesuatu yang amat berharga.

“Apa kau baik-baik saja?” Yong hwa bertanya pelan. Amat menyenangkan bisa melihat kembali wajah pujaannya itu setelah seminggu ini hanya mengguratnya di kepala.

Shin hye mengangguk. Ada banyak hal yang membuatnya tidak baik-baik saja. Tetapi mengangguk seakan menjadi jawaban yang paling tepat.

“Maafkan aku.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Shin hye mendesah pelan. Suaranya nyaris tertelan lenguhan suara sekitar. Semuanya sudah jauh tertinggal jika ada yang perlu disalahkan maka itu adalah dirinya sendiri. Dia-lah yang setuju menjadi sepenggal kisah lain di antara kisah sang pemeran utama.

Sejenak mata mereka bertatapan. Ada cinta tercekat di sela tatapan itu. Tatapan mata Yong hwa yang dalam dan hangat menggoda Shin hye untuk menyelaminya. Sejak kapan pria itu menyusup ke dalam hati? Pada saat Shin hye membutuhkan seseorang untuk mengisi ruang kosong di hatinya, ketika ia membutuhkan bahu untuk merajuk tentang dunia. Mengapa pria itu harus Yong hwa?

“Kau benar, ayo kita akhiri.”

Seketika Shin hye kehilangan oksigen. Merasa sebongkah batu besar menghimpit dadanya.

Duh ibu, semuanya benar-benar berakhir sekarang.


Meski Shin hye sudah lama tahu mustahil baginya untuk bersama, tapi tetap saja ia merasa terluka. Jauh lebih perih. Jauh lebih sesak.

“Iya, ayo kita lakukan.” Shin hye tertunduk menyembunyikan tangis.

Eoh, kita akhiri dan memulainya kembali dengan cara yang lebih baik.” ujar Yong hwa yang seketika saja menghentikan tangis Shin hye.

Yong hwa tersenyum. Terpesona untuk kesekian kalinya dengan ekspresi wajah Shin hye. Lihatlah, matanya yang memerah juga pucuk hidungnya menjadi rona alami di wajah putih pucat itu. Di matanya, Shin hye selalu terlihat luar biasa.

Yong hwa merengkuh Shin hye yang masih terdiam seperti tidak sadar. Memeluknya erat menebus hari-hari yang terlewat.

“Aku tidak akan menyembunyikanmu lagi, jadi tetaplah bersamaku melewati musim semi berikutnya. Bergandengan tangan tanpa takut diketahui orang, bertemu bahkan jika tanpa alasan. Saling berbagi tanpa harus merasa berdosa. Ayo kita hidup seperti pasangan kebanyakan dan merasakan cinta seperti orang biasa.”

Shin hye masih tak mempercayai pendengarannya. Ia hanya sanggup menjawab dengan anggukan kepala. Suaranya tertelan isak haru. Tangannya melingkar kuat di pinggang Yong hwa. Membuat harum aroma pria itu menggelitik penciuman. Sepilas aroma yang membuatnya merindu. Aroma yang membuatnya jatuh cinta.

“Tapi, bagaimana dengan Seohyun?”

Benar, bagaimana ia melewatkan bagian itu? Selama ini Shin hye sibuk dengan perasaannya dan mengabaikan perasaan Seohyun dan Jong suk.

“Akan kuceritakan nanti padamu,” Yong hwa menghapus air mata Shin hye dengan jari-jari tangannya yang kokoh. Masih nampak keragu-raguan di surai mata gadis itu, “percayalah, aku tidak seburuk itu.”

Shin hye mengangguk di tengah isaknya, “Aku percaya, tapi-”

Yong hwa kembali menarik shin hye dalam pelukannya. Kini tak hanya hangat tapi juga mampu mengusir ragu yang mendera hati.

“Tolong percayalah…”

“Aku tidak sedang bermimpi ‘kan?”

“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu terkungkung mimpi lagi.”

Gadis itu tergugu di bahu Yong hwa. Antara percaya dan tidak, antara mimpi dan nyata. Shin hye melepaskan diri begitu tangisnya menyisakan isak.

Yong hwa tersenyum hangat kemudian mengulurkan tangan.

“Selamat datang di dunia Jung yong Hwa. Senang bertemu denganmu, Park shin Hye-ssi.”

“Aku Park Shin Hye, wanita biasa yang mudah marah. Kau tidak masalah dengan itu?”

“Wanita biasa yang mudah marah kurasa lebih baik, dari pada wanita yang biasa marah.”

Shin hye terkekeh kecil. Merasa baru saja menemukan kembali dirinya setelah menjadi pion catur selama berhari-hari. Nyatanya, bersama pria itulah Shin hye menemukan kebahagian yang ia impikan. Tak mengapa jika mereka menyebutnya si benalu yang serakah, karena mereka tidak pernah tahu bagaimana cinta itu datang dan menggetarkan hatinya. Pria itulah yang mampu menyentuhnya dengan kedalaman tanpa batas. Melukis kisah manis dengan caranya sendiri. Klise memang namun itulah kenyataannya.

Sejak awal Shin hye dan Yong hwa sadar atas apa yang mereka lakukan, sadar atas apa yang mereka rasakan. Namun semua ini bukan keinginan yang direncanakan, sama sekali bukan. Jika saja bisa memilih, tentu mereka tidak akan memilih jalan seperti itu hingga tak harus merasa salah dan disalahkan.  Cinta tak bisa dikendalikan, biarlah menjadi kilah. Mungkin, yang salah bukanlah cinta melainkan arahnya, yang menyakitkan bukanlah mencintai namun terlanjur bersama dan mencintainya. Ya, pepatah itu mungkin benar; terkadang jodoh yang sesungguhnya akan datang ketika kita bersama seseorang.

Jika boleh, aku ingin melewati peta takdir ini agar tak perlu melukai banyak hati untuk sampai ke pelabuahan terakhir.  Mungkin inilah perjalanan. Sejuta tempat singgah, berkelana tanpa arah lalu tersesat di titik lelah hingga akhirnya menemukan seseorang yang kusebut rumah. Dan Park Shin hye adalah rumahku. Tempat paling nyaman untukku menumpahkan segala.”

“Mendekatlah, maka akan aku ciptakan musim semi abadi dalam hidupmu.” bisik Yong hwa lembut di telinga Shin hye tepat ketika kelopak sakura berguguran tertiup angin senja.

Shin hye hanya mengangguk kecil di bahu Yong hwa. Kehabisan kata untuk mengungkapkan segala apa yang dirasa. Dekapannya kian erat seiring bisikan Yong hwa yang tak henti mengucapkan kata cinta.

“Aku tidak peduli berapa banyak orang yang melihat kita saat ini, aku hanya ingin semua orang tahu, aku mencintaimu Yong hwa-ssi.”

Yong hwa merona dibuatnya. Merasa terombang-ambing oleh serbuan kelegaan. Seperti yang ia katakan, semuanya baru akan dimulai. Musim semi ini akan menjadi awal kisah baru tentang Park Shin Hye dan Jung Yong Hwa. Ya, hanya Shin hye dan Yong hwa.

Pertemuan selalu menyimpan misteri. Menyimpan lembar kosong yang tak bisa ditebak alurnya. Dan cinta datang bak tamu tanpa undangan yang datang berulang. Lantas, pantaskah menyebut cinta itu sebuah kesalahan?

=The End=

 

 

Advertisements

50 thoughts on “[SEG Event] Lose Control

  1. Akhir yg manis…seneng bgt, disni meski cinta segi 5 (lol)…tapi hanya jongsuk yg tersakiti…itu pun sebenarnya shin hye ga sungguh2 mncintai nya, tambah lg karakter jongsuk yg meledak2 klo marah…bikin shin, bner2 hrs melepaskan diri dari pria itu…dan yong hwa, adalah pria yg bnr2 ada di hati shin, cinta sejati shin, meski awalnya adalah hubungan terlarang…
    Ff yg keren…ini yg kedua kalinya aq baca, tapi ttp seru dan menarik…thx thor… 🙂

  2. hadeuh sempet baper liat kisah cinta
    yongshin sempet kecewa klo shin bklan
    menyakiti seohyun.
    klo jung sok yah co ini hehe biarin aja
    peace. untung happy ending bersama
    dimulai dari awal

  3. Keren ffnya setiap baca ff yongshin aku selalu berharap semoga pasangan yongshin yaitu jung yonghwa dan park shinhye berjodoh di kehidupan nyata amin ya allah

  4. keren bangen ff’nya,,akhirnya shinhye dan yonghwa happy ending walaupun diawali dengan sebuah kesalahan dan harus menyakiti pihak lain tapi itu’lah cinta..mungkin cinta mereka datang disaat yang tidak tepat tapi karena mereka bener2 saling mencintai akhirnya bersatu juga Kerenn thor…

  5. Whoooaaa… keran banget… cerita nya bagus alur nya n penulisan nya keren abiss.. percaya gak klo aq baca nya smpe nangis ngebayangin perasaan shin hye wkt tau seohyun hamil n dia bakal pisah dr yonghwa.. baperr abiss.. tp bs happy end gini jd sedih nya langsng hilang.. ff daebaakkk… gunawo author.. fighting..

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s