Did Not by rhyk

Did Not ‖ KRINVI ‖ Kai as Jong Ahn and Do Aerin ‖Sad ‖ PG 13 ‖ KOMENTAR BIASAKAN

 

“Semua apapun tentangmu adalah tentangku.. namun, aku merusak segalanya dipenghujung kebahagiaanmu.”

 

Namaku adalah Aerin lengkapnya adalah Do Aerin. Usiaku kini menginjak akhir masa dewasaku yaitu 30 tahun. Aku juga sudah menjadi orang tua dari seorang anak bernama Kim Jun. Kini, dia sudah masuk TK dan menggemari sepak bola, seperti ayahnya.

 

Ya, ayahnya.

 

Aku menikah tujuh tahun lalu, dengan seorang pria yang bekerja di sebuah perusahaan game dan IT yang usianya hanya terpaut dua tahun denganku. Tentu, dia lebih tua. Aku benci dia jika saja dia lebih muda dariku, mungkin lamarannya untuk menikah denganku pada tujuh tahun lalu akan aku tolak mentah – mentah.

Ia melambaikan tangannya padaku, begitu aku keluar dari gerbang sekolah tempatku mengajar. Aku seorang guru Bahasa Inggris dan juga merangkap sebagai Konseling anak – anak SMA Jin Gu.

 

Suamiku, adalah tipe yang romantis reguler. Yah, dia bisa saja romantis dan dingin dalam waktu tertentu. Dia bukan tipe yang suka memberikan sebuket bunga saat valentine atau saat perayaan pernikahan kami tiap tahun. Tapi, dia adalah seorang yang akan mengatakan ‘Aku akan selalu menjagamu, menyayangimu sampai datang saatnya aku tidak mampu melakukan itu. Aku bukan orang yang pandai membuat janji. Tapi, jika itu tentangmu adalah hidupku.’

 

Dia juga tidak akan pernah bilang, ‘Aku cinta padamu’ setiap hari, namun dia adalah seseorang yang mengucapkan, ‘Berbahagialah sekalipun dalam masa sulit. Tolong percaya, aku ada di sisimu.’ dan setelahnya memberikan sebuah kecup pagi walau kami sudah berumah tangga cukup lama.

 

Tujuh tahun. Ya, dia tidak pernah mengatakan ‘Aku cinta padamu.’ dengan suara yang menggema. Tidak pernah sekalipun dalam tujuh tahun ia mengatakan itu.

 

Dia adalah seseorang yang selalu pergi dari kantornya walau sesibuk apapun hanya untuk menjemputku dan membukakan pintu mobilnya untukku.

Bukankah kehidupan pernikahanku sudah nampak sempurna?

Banyak dari mereka yang membicarakanku dan begitu iri dengan hidupku yang nampaknya begitu rapih dan sempurna.

 

Ya, sempurna. Anggaplah begitu, dan aku harusnya bersyukur.

 

Ia terlihat begitu cerah hari ini, sebuah senyuman yang tak pernah redup walaupun ia sudah tahu tabiat burukku. Dekiknya membuatku gemas sendiri ketika melihatnya. Tidak ada yang aku lakukan selain kembali tersenyum lebar padanya, dan segera masuk ke dalam mobilnya.

 

Dalam lima detik, ia sudah duduk di bangku kemudi dan menyalakan mesin mobilnya. Ia menoleh, menatapku lagi. “Ada apa?”tanyaku seraya memasang sabuk pengaman, mataku kembali menatapnya. Tidak ada senyum lagi yang tertaut di bibirku. Ini hanya perbincangan biasa, tidak perlu ada senyuman.

 

Ia membelai rambutku lembut, menepikan beberapa anak rambut yang menghalangi wajahku dan menyelipkan di belakang telingaku. “Nah. Kalau begini baru cantik. Istriku yang cantik.”pujinya padaku.

 

Aneh, aku tidak merasakan ada yang menyentuh hatiku dengan kalimat yang ia ucapkan. Aku tak merasa apa – apa. Tidak merasa senang, bahagia juga tidak.

 

Sepertinya, aku sudah mantap dengan pemikiranku.

 

“Aku ingin bicara padamu. Jika kau luang hari ini, ayo kita bicara di rumah saja, Jong Ahn.”

 

Suamiku nampak mengangkat lengan kirinya agak rendah dan melihat arloji yang melingkar manis di tangan kirinya. “Baiklah..”jawabnya dengan sebuah senyum lagi, hingga aku mengerti sebuah hal. Bahwa begitulah aku tahu kalau suamiku sangat mencintai istri seperti aku.

 

**

“Kau ingin bicara apa, istriku sayang?”tanyanya memenuhi indra pendengaranku. Suaranya adalah salah satu hal yang mungkin tak akan aku dapatkan jika aku melepaskannya.

 

Aku menggigit bibirku cemas, tak juga aku menjawab pertanyaan Jong Ahn yang kemudian membuat dia menyadari perubahan ekspresiku dan sorot matanya kemudian berubah menjadi ikut cemas menatapku, namun selalu ada sebuah kehangatan di sana, aku tahu benar itu.

 

“Aerin, kau membuat jantungku ingin melompat. Ada apa?”

 

Anehnya, mendengar kalimat itu tak membuatku bergeming. Tidak ada sesuatu yang membuatku merasa menggelitik, ataupun aku merasakan hal yang sama seperti dia. Tapi, aku tidak sama sekali.

 

Jantungku hanya bekerja sebagaimana biasanya saja. Kini, ia menatapku hati – hati, ada tanya dalam sorot matanya ketika aku masih tak mengalihkan pandanganku sedikitpun dari Jong Ahn.

 

Aku yakin, dia hanya mendengar hela napasku yang berat. “Jong Ahn..”

 

“..aku ingin bercerai.”

 

Ada seonggok perasaan lega ketika kalimat itu terucap dan Jong Ahn pasti mendengarnya. Jangan bertanya kenapa, aku mohon.

 

“Kau bercanda ya? Lagipula, kenapa kau mengatakan hal seperti itu.”

 

Tidak ada perasaan bersalah. Tidak ada perasaan menyesal dalam diriku. Kini, dengan mata yang tak percaya dan tak berarah ia masih mencoba menatapku fokus, seperti mencari apakah aku ini sedang bohong. Namun, ia gagal menemukannya. Karena, aku memang mengatakan ini secara jujur, dari hati yang terdalam.

 

“Ini bukan lelucon, Jong Ahn. Aku merasa perasaankulah yang menghambar seiring waktu.”

Aku begitu mati rasa. Aku tidak merasakan hal – hal aneh ketika bersama suamiku. Aku bahagia, tapi aku tidak merasa lengkap. Perasaan khusus yang awalnya aku tujukan untuk Jong Ahn pada tujuh tahun lalu, hilang begitu saja. Bagai debu yang tertiup angin yang berembus.

 

Ya, aku tidak mencintai suamiku lagi singkatnya.

 

“Sejauh ini semuanya tidak ada yang salah, Aerin. Aku juga tidak pernah menyelingkuhi dirimu. Kita punya Jun, aku tidak pernah berdebat denganmu untuk hal kecil.”

 

Aku juga tidak mengerti mengapa begini, aku tidak berniat untuk melukai dia sama sekali ataupun Jun. Namun, aku menemukan diriku begini adanya. Lalu, haruskah aku memaksakan dan menjalaninya seolah tak ada apapun.

 

“Aku hanya tidak mau melukaimu lebih banyak. Aku merasa bahwa perasaan cintaku sudah menghilang untukmu, kau tahu rasanya semacam mati rasa. Jadi, aku rasa bercerai darimu adalah yang terbaik, Jong Ahn. Berhenti memaksaku, aku sudah memikirkan ini begitu lama.”

 

Saat air mata miliknya sudah menetes, aku tidak merasa ingin menangis sama sekali. Karena, begitulah nyatanya. Berbagai emosi yang aku tujukan untuk Jong Ahn, seperti tidak pernah muncul. Hanya ada sedikit rasa kasihan dalam diriku. Ketika dia memaksa untuk menciumku.

 

Aku hanya membiarkan dia, dan kemudian melepaskannya. “Aku tahu akulah orang yang menghancurkan bahagiamu. Tapi, aku tidak cinta padamu lagi, Jong Ahn.”kataku lagi, aku tak lagi menatapnya dan memutuskan untuk pergi dari sana.

 

SELESAI

 

09.35/30.01.2018

 

Inspirasi cerita dari lagu I don’t Love You dari Urban Zakapa. Tadinya rencananya buat chapter baru.. tapi, yah.. gitu adanya.

Postingan lainnya dapat di cek di wattpad atau sweek dengan account user @krinvi hehehehe

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s