[oneshot] STILL

STILL

Maincast.

Kim Jongin

Park Jiyeon

.
.

Belum terlalu malam-

Menjumpai figurnya yang menekur sendiri, seperti sebuah lampu jalan yang tak menyala-rusak. Terabaikan, dan jarak ini lebih seperti berada pada perbedaan waktu dan tempat. Kaledoskop yang terkonsep, terhitung dan aku berada di bawah cahaya di perempatan jalan.

Sebatang rokok yang nyaris habis di hisapnya, bersandar pada tembok kusam di tengah hawa dingin musim gugur 2017. Gerai lembut gaya rambutnya, dan juga coklat tua mantelnya yang sedikit terusik angin sempat menjadi fokusku untuk beberapa detik.

Hampir pukul 9- melewati detik yang berlalu, dan langkahku mengganggu konsentrasinya.

Detik

Semuanya terhitung dengan detik-seperti langkah-langkah kecil tiada henti

New York- kota kekasihku.

Memandangi sekitar cukup lama, lampu-lampu jalan, papan reklame, neonbox berbagai warna, kendaraan dan dia-laki-laki yang sejak tadi bersandar di antara bayangan lampu di sepanjang bangunan di belakangnya, tak bergeming- sibuk dengan cigarette yang terus mengepul dari mulutnya dan sesekali memperbaiki posisi kaca mata yang melorot dari batang hidung rampingnya.

Mungkin usianya sekitar 25 tahun, tidak berbeda jauh dariku. Intelek dan cerdas-

Dia berbicara dengan bahasa Inggris yang lugas dan berwawasan. Amerika telah membesarkannya dengan baik.

Tatapanku berpendar, menyaksikan sekelumit fragmen berjeda satu detik pada sekali kilatan blitz. Pesona malam ini, dan replika kebahagiaan yang bisa kuambil dari dalam bangunan serta lalu lalang orang di sekitarku yang tak perduli. Bentuk kehidupan berbeda, di belahan bumi berbeda, dan ini sangat menarik.

Aku menyukai suasana ini-

Malam yang asing, berdiri diantara langkah-langkah lelah, dan juga pria itu-

Masih kubilang menarik.

Sekilas kami menjalin kontak, dan mengulas senyum tipis. Bola matanya indah, mungkin disitulah letak daya tariknya-eksotis oriental. Pria Asia yang tampan yang menyukai kesibukan.

Dia mengalihkan perhatian pada laju taxi yang melambat, menarik sebentar siku kakinya dan berganti dengan kaki sebelahnya, lalu sibuk lagi dengan perbincangan dengan seseorang di handphone tipisnya.

Hi!” aku menyapa- dengan jepitan rokok di bibirku- lalu tangan kanan pria itu merogoh kantong mantel, mengambil pemantik api untuk menyalakan rokok yang terselip di bongkahan bibirku yang dipandanginya antara yakin dan tidak.

Satu kali hisapan membuat ujung rokok dengan rasa original tembakao ini menyala- “Thanks!” ucapku, menyambut senyumnya.

Pemantik itu masuk lagi ke dalam saku mantel pemiliknya.

“Aku suka tempat ini.” Gumamku, take dibalasnya.

Paru-paruku masih terisi penuh oleh asap, ketika sorot matanya menampilkan rasa bingungnya padaku.

“Apa kau pernah berbicara dengan orang asing sebelumnya?” tanyaku, agak serious.

Alisnya berkerut-

Ya, dia masih heran dengan sikapku.

“Apa kau tidak keberatan jika kita bicara seperti ini-tanpa saling berkenalan.” Kuamati seluruh penampilannya lagi dari jarak sedekat ini. Total dari spasi kami, aku bisa merasakan keindahannya yang tak tersebut.

Dia wangi-

“Terkadang, aku ingin sesekali bicara pada orang asing, membicarakan banyak hal-tanpa saling mengenal, lalu berpisah tanpa ada perasaan berhutang atau apapun itu-” Menyunggingkan senyum untuknya,

“Kau dari daerah sekitar sini?” dia bertanya-

“Bukan, Aku berasal dari Korea,hanya sekedar mengunjungi seseorang di kota ini.”

Dia mengangguk-

“Dia pasti orang yang sangat istimewa.”
“Tentu saja.” Jawabku-
“Hm.”
“Apa kau merasa terganggu denganku?”
“Tidak.” Lalu dia menyimpan handphonenya, dan mulai serius menanggapi bicaraku.
“Aku berjanji untuk makan malam dengannya malam ini.” Kuembuskan nafas beserta kepulan asap yang beradu dengan asap rokoknya.

“Itu sangat romantis sekali.” Melirik pada bangunan kafe yang aku tinggalkan barusan. Di dalam sana ada sedikit keramaian, dan juga kesibukan normal.

Hanya sekedar melepas kejenuhan lalu bertemu dengan pria ini di sini-

Hm. Aku bosan menunggunya, jadi aku keluar dan mencari udara segar.” Ungkapan klasik.

Pria tampan itu mengangguk lagi-serius menikmati setiap jeda yang kubuat ketika aku bernafas. Rupanya dia tertarik- aku senang.

Sejujurnya-aku sudah menempuh ribuan kilometer hanya untuk bertemu dengan seseorang yang aku cintai di New York ini. Satu bulan penuh, berkutat dengan pekerjaan dan masalah total menghabisi semua lelah yang kusimpan rapi dalam egoku.

Aku muak dengan semua itu-

Mempunyai kekasih yang tinggal berjauhan membuatku frustasi. Setiap detik yang kuhitung membuatku merasa mati suri. Terus dan terus berpikir kapan semua ini akan berakhir. Setiap kali memandang ke luar jendela dari meja kerjaku, yang kulihat hanyalah hatiku yang digantung diantara langit dan awan.

Kekasihku-

“Kau terlihat lelah.”

Dia bisa melihatnya- pria ini bisa melihat wajah lelahku. “Cukup lelah, tapi perasaanku senang.”

Dia mengembuskan nafas dengan sangat hati-hati.

“Aku cukup mengerti tentang hal itu.” ungkapnya, dengan gerakan tangan absurd, semacam menyetarakan.

“Kau mempunyai kekasih yang tinggal berjauhan?”

“Ya, tentu saja-dan aku terkadang menjadi seperti dirimu saat ini…”

“Bosan?”

“Tidak- aku kerap menjadi gila karena terlalu merindukannya.”

“Mungkin jika itu diriku, aku berpikir untuk pergi ke suatu tempat, kemudian berbicara dengan orang asing, lalu membicarakan hal-hal gila, dan mungkin juga melakukan hal gila juga untuk satu malam, kemudian besok aku akan melupakan semua itu dan pergi.”

“Kau melakukan itu?” Kagetnya.

“Tidak. Aku tak pernah mempunyai keberanian seperti itu. Hatiku terlalu berat dengan perasaan rindu padanya. God, aku benar-benar mencintainya.” Dengusku, sembari mengembuskan lagi asap rokokku.

“Ya, itu sangat menarik.” Ucapnya-lebih hangat, kemudian… “Mantelmu bagus.”

Memegang sebentar bahan mantel yang kupakai malam ini.

Warna merah ini- pemberian dari pria tercintaku, dan aku memakainya untuk membuatnya bahagia.

“Kau suka warna merah?”

“Merah-” kuanggukan kepala lagi. “Ya, aku suka warna merah, dan semua warna yang diberikan kekasihku padaku.”

Pria itu mengulurkan tangan dan memberikan gaze padaku dengan senyuman.

“Kau tersenyum, apa kau mulai tertarik padaku.” Tunjukku pada kurva senyum yang dibuatnya.

Dia benar-benar tampan.

Tangannya dingin-saat aku menjabatnya.

“Jangan menyebutkan nama!” pintaku.

“Tidak.”

Cukup dengan diriku yang tahu, jika ini hanyalah sebuah jarak kecil di sekitar hatiku yang membuatku terlihat tegar.

“Apa itu hal yang misterius- tertarik padamu.”
What?” tanyaku
“Kau tadi menanyakan apakah aku tertarik padamu.”
“Oh iya.”
“Apa ini terlihat misterius bagimu?”
“Kurasa.”
“Aku suka menjadi misterius.”
Ya, neither do I.” Sambutku.
“Terlebih dengan warna merah itu.” menunjuk di sekitar tubuhku.
“Merah- warna yang dinamis, symbol dari gairah dan cinta.”

Menatap ke lain arah bersamaan- dan saling menyembunyikan senyum.

Ini menjadi lebih dingin, maksduku udara di sekitar kami berdiri. Di bawah lampu jalan yang rusak dan mati-angin semakin meniupi wajah kami dan membuat warna kulit pria di depanku ini memucat.

“Terkadang merah adalah bentuk dari fruktuasi emosi yang memuncak.”

“Agresif dan impulsif.” Sahutku lagi.

Kami mengangguk bersama-

Suara bising mobil dikejauhan bisa kudengar denan jelas. Mengerem saat berbelok arah, ada juga yang berhenti di lampu merah, lalu mengantri di kemacetan pendek. Semua bisa kutahu dengan hanya mendengarnya.

“Typikal mana yang kau miliki?” tanyanya.
“Maksudmu?”
“Tentang merah?”

Aku bersandar di sebelahnya, sama-sama memperhatikan mobil yang berlalu lalang.

“Mungkin aku memiliki semua karakter itu.”
“Ternyata kau cukup serakah.”
“Ya- aku memang wanita yang cukup serakah. Aku serakah dan terus menjadi serakah setiap harinya. Tidak masalah semua orang akan berpikir apa mengenai diriku- aku memang serakah tentang dirinya di hatiku. Mengambil semua kemungkinan dari waktu agar aku bisa memeluknya, dan membuat kata penyesalan itu tak bergeming di hadapan keserakahanku.

Dengan tatapan lembut dia mengagumi monolog singkatku mengenai definisi keserakahan menurut undang-undangku.

“Kurasa tidak semua keserakahan itu mempunyai mkna yang buruk.”

“Ya.” Sambutku bangga.

Pria ini menyimpan tangannya dan berlindung di dalam saku mantelnya sejak tadi; kata yang bagus yang muncul di kepalaku-adorable. Aku tak bisa bertaruh lagi dengannya.

“Hm-sebentar lagi akan kembali ke dalam- masuk dan duduk diantara beberapa orang yang akan melakukan hal yang sama denganku-dinner.”

“Ya sebaiknya memang begitu. Udara di luar sini semakin dingin.”

“Aku akan kembali pada kekasihku di sana.” Lalu membidik tepat pada bola matanya yang sayu.

“Baiklah-“

“Tapi dia…” menjeda omonganku sebentar sambil kuperhatikan mimik mukanya-

“Tapi dia kenapa?” membuang batang rokoknya yang habis, lalu menginjaknya dengan ujung pantofel Louis Vuitton yang sengaja dia pamerkan padaku. Ya, aku juga memiliki satu pemberian dari kekasihku. Jenis berbeda, merk yang sama.

“Aku hanya ingin mengatakan satu hal lagi mengenai dia.”

Okay!”

“Kurasa dia adalah kekasihku yang sedikit dingin dan acuh.” Lanjutku, dan sekarang aku malah menggigit bibir bawahku dengan seksi- menggoda sementara dari sana tadi meluncur sebuah kritikan pedas untuk tercintaku.

“Benarkah?” pria ini tampak kaget.

“Kurasa.”

“Kenapa bisa seperti itu?”

Aku menggeleng.

“Tak bisa kujelaskan dengan pasti kenapa bisa seperti itu. Mungkin dia adalah pria yang terlalu sibuk bekerja, dan terkadang melupakan satu hal penting dalam hidupnya jika dia mempunyai kekasih seperti diriku. Tck-mungkin juga dia tidak ingin membuatku terlalu berpikir berlebihan tentang hubungan jarak jauh ini.”

Dan pandanganku jatuh pada aspal emperan kafe bertajuk Cantonese food di daerah Chinatown di midtown Manhattan ini

Kubuang rokokku yang masih tinggal separuh.

“Dia terlalu kejam, mengabaikan pria tampan sepertimu.” Komplennya.
“Kau pikir dia begitu?”
“Ya.”
“Sebenarnya tidak kejam.” Sanggahku- “Dia hanya tidak peka pada situasi ini.”

“Hm- tidak peka?” dua alisnya bertemu.

“YA, dia sangat tidak peka.”
“Kenapa-“

“Dia tidak pernah melihatku secara lebih detail. Sesuatu yang seharusnya dia bisa lihat dengan mudah, diabaikannya begitu saja.” Ungkalpku sedikit kesal.

“Seperti apa misalnya?”

“Seperti ketika aku berpakaian seperti ini….”

Kembali sorot matanya memindai penampilanku dengan lebih seksama-mungkin dia memang sedang mencoba untuk mencari sesuatu yang aneh dari diriku dan keseluruah pakaian yang kukenakan, tapi sekali lagi pria ini hanya mendesah pendek.

“Apa ada yang berbeda mengenai dirimu?” tampak tak yakin.
“Seharusnya ada.” Cengirku.
“Dia memang tidak peka.”
“Itulah kenapa aku mengatakan begitu.”
“Kau ingin mengatakannya padaku?” tatapan itu begitu memohon.
“Tentu saja- kenapa tidak.”

Dia menungguku bicara-dan entah kenapa aku berdebar.

“Aku tidak mengenakan celana dalam saat meninggalkan apartemen kami tadi.”

Keheningan terjadi sekitar lima detik, lalu-

“Kau apa?” Memicingkan matanya.

“Aku sedikit punya pikiran nakal-mungkin kami bisa mencuri waktu bermain di bawah meja saat kami melakukan makan malam kami yang romantis nanti.” Cengirku-tapi ini sungguh memalukan mengakui hal konyol semacam ini.

“Kau tidak memakai celana dalam?” lalu melirik ke bawah, tepat di bagian pentingku.

“Ya-” kubuang nafas jengah,

“Apa kau berniat melakukan hal semacam itu di tempat umum?”

“Aku senang melakukan adventure, dan membuat jantungku bekerja dua kali lebih cepat memompa darahku. Melakukan hal yang mengasyikan di tempat terbuka tanpa orang lain menyadarinya itu membuatku merasa tertantang.”

Wajah pria itu merona- “Kau ingin melakukannya denganku?” tanyaku nakal

“Hm-ekhem! Ya, why not!” balasnya,

Lalu langkahku mendekat padanya-yang bersiap menerima tubuhku.

“Kau tidak memakai celana dalam?” mengulang lagi pertanyaannya.

Aku mengangguk- “Polos!” bisikku tepat di telinganya, tapi kemudian kutarik mundur tubuhku, sambil terkekeh kecil. Rautnya tampak kecewa dan tanggung.

“Hm- aku bisa melakukan hal gila bersamamu, jika kau mau.” Berkata sambil berjalan mendekatiku.

“Ya, aku rasa juga begitu.”

Kami melirik sebentar pada sepasang pria yang baru turun dari taxi dan masuk ke dalam restorant.

“Aku akan masuk ke dalam, dan menunggu kekasihku selesai dengan urusannya.”

“Hey!” panggilnya, tapi hanya kubalas dengan lambaian tangan.

.
.
.

Jadi sekarang kami duduk berdua berhadapan-

Meja kami hanya sekitar satu meter persegi luasnya. Sangat sempit, dan yang terhidang di atasnya hanyalah menu makan malam standart masakan China. Itu tidak terlalu penting-

Karena hal penting lain yang membuatku begitu bahagia adalah- pria di depanku, yang sejak kami meninggalkan emperan kafe tadi, kakinya selalu berada tepat di selakanganku, mengusapi sesuatu yang sudah menunggunya sekian waktu.

Kami sama-sama tersenyum-meski beberapa orang di sekitar kami saling melirik dan berbisik sirik. Kubiarkan mata mereka menikmati kemesraan kami yang tengah melepas rindu karena sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu.

Aku tetap meringis merasakan celanaku basah, dan hidangan desert wine kami telah habis ketika aku meredam ledakan kenikmatan klimaksku dengan cairan merah itu di dalam mulutku.

“Seandainya kau tidak bicara pada pria asing itu, aku tidak pernah tau jika kau tidak mengenakan celana dalammu sejak kita meninggalkan apartemen tadi.”

“Ya, kupikir ada bagusnya aku bicara pada orang asing.”

Lalu kami tenggelam dalam lautan kebahagiaan yang kami ciptakan sendiri. “Kau suka mantel merah itu?”

“Ya, aku suka.”
“Kau terlihat istimewa, Sayang!”
“-thank you!”
“Kau sungguh luar biasa malam ini. Apa kau tau itu, Jiyeon.”

Memperbaiki posisi duduk, dan membuat ringan deru nafasku yang tadi berpacu dalam gairah tinggi.

“Seharusnya kita memang harus sering menjadi orang yang asing satu sama lain agar bisa berbicara tanpa beban.”
“Maafkan aku karena ketidakpekaanku.”

Kukedipkan mataku.

“Apa kau ingin kita kembali ke apartemenku lebih cepat? Karena kurasa-“

Mendadak aku menjadi impulsif ingin segera memeluknya dengan erat- sangat erat, benar-benar erat sampai aku merasa tubuh kami menyatu. Aku merasakan perasaan senang yang tak jelas saat menatap senyumnya. Aku bisa melihat ekspresi yang hangat darinya di dalam ruangan yang nyaman ini- menghapus semua garis depresi diantara kami. Waktu-jarak dan kerinduan ini, juga perbincangan absurd di depan kafe tadi-

“Tidak, jangan terburu-buru. Aku masih ingin menikmati hal lain dan berbicara seolah-olah kita orang yang asing satu sama lain, lalu melakukan hal gila yang lebih menantang di setiap sudut kota ini.”

.
.
.

FIN

Lama tidak bikin kaiyeon.😘

Advertisements

3 thoughts on “[oneshot] STILL

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s