[Vignette] Letting Go 

Letting Go | Han Rae Hwa


Rating PG | Romance, Angst | Shim Hyunseong & Song Hyera (OC)


Hyunseong POV

Sinar matahari menyelinap masuk lewat jendela tak bertralis menyorot tepat pada tubuh Hyera yang masih terlelap. Segala buaian mimpi indah nampak masih membuatnya terjaga. Ketidaksadarannya saat menemaniku menonton film tadi malam membawanya terlelap dengan posisi yang begitu nyaman meski harus tidur di sofa. Walau ingin memindahkannya ke kamar, tapi aku tida tega jika dia harus terbangun.

Dengan tangan yang sibuk mengaduk-aduk cokelat hangat di cangkir, aku tersenyum melihat pemandangan pagi yang begitu indah ini. Bahkan senja yang sering kuberi pujian mampu terkalahkan olehnya. Oh, maafkan aku senja. Kau mulai tergantikan dengan keindahan makhluk ciptaan Tuhan bernama Song Hyera ini.
Saat cokelat hangat selesai dibuat, aku melihat tubuhnya mulai menggeliat manja. Matanya yang masih sayu mengerjap saat aku sudah duduk di hadapannya. Ia tersenyum lalu menegakkan tubuhnya, mengambil alih cangkir dari tanganku dan menyeruputnya pelan-pelan karena tahu masih panas. Puas menenggak minuman kesukaannya, ia menguncir rambutnya asal dengan jemarinya yang dijadikan sisir.

Memang benar yang sering dikatakan oleh orang banyak. Dua hal yang membuat seorang wanita bertambah cantik; saat bangun tidur dan saat menguncir rambutnya asal. Benar-benar kebahagiaan yang sempurna di pagi hari ini.

“Sepertinya Minjae menghubungimu. Kulihat ponselmu berdering semalaman.”

“Benarkah?” ia membulatkan matanya lalu dengan sarkas merampas ponselnya yang tergeletak di lantai. “Benar. Dia menghubungi beberapa kali dan mengirimiku pesan.”

Kuusap kepalanya lembut setelah mendekatkan posisi dudukku dengannya. “Apa ada sesuatu yang sangat penting sampai ia menghubungimu beberapa kali?”

Hyera menggeleng. “Hanya memintaku untuk menemaninya datang ke pernikahan teman lamanya.” Jawabnya sembari mengetik beberapa kalimat dan mengiriminya pada Minjae. “Dan memberiku berbagai nasihat karena tahu aku sedang menginap di rumah temanku.”

Senyumku berubah getir kala ia menyebut kata teman. Tak pelak Hyera memang sering mengelabui Minjae. Menjadikanku hanya sebagai ‘teman’ agar Minjae tak mencium bau kecurigaan di antara kami.

“Ya! Kau adalah kekasihku, Hyunseongie! Jangan membuat wajahmu yang tampan itu menjadi jelek. Angkatlah sudut bibirmu ke atas!” tangan Hyera menjamah pipiku setelah menaruh ponselnya asal. “Maka aku akan selalu mencintaimu.” Senyumnya merekah setelah mengecup bibirku lembut. Kecupan yang membuatku seketika melupakan kata ‘teman’ itu.

“Sebaiknya kau segera pulang. Dan bersiaplah menemani Minjae.” Usapku lagi pada kepalanya.

“Nanti aku kabari lagi kapan aku akan menemuimu.”

Aku hanya mengangguk setelah mengikutinya berdiri. Ia mengecup pipiku sebelum langkahnya menjauh.
Kuhempaskan tubuhku ke sofa. Harum tubuh Hyera masih melekat. Membuatku tak ingin beranjak walau sedetikpun. Namun beberapa foto yang menghiasi dinding ruang tengah mengalihkan seluruh fokusku. Dimana semua foto itu menjadi bagian dari kenangan kami selama menjalin hubungan sembunyi-sembunyi ini.

Kuakui bahwa aku memang menjalani hubungan terlarang dan menyembunyikannya dari semua orang. Menghabiskan waktu hanya di rumahku dan pergi ke tempat yang tak banyak dikunjungi orang-orang yang kami kenal. Meski begitu, kami menikmatinya. Dan memang benar kata pepatah. Dunia serasa milik berdua jika sedang jatuh cinta. Dimanapun itu, asalkan aku bisa bersamanya, itu sudah lebih dari cukup. Pun Hyera menyetujui itu.

Sulit memang menyembunyikan hubungan terlarang ini. Tapi keegoisan kami begitu besar. Keserakahan soal cinta menjadikan kami tak melihat siapapun di sekitar kami. Minjae yang notabene adalah kekasih yang memacari Hyera beberapa tahun silam pun rasanya tak begitu menjadi yang dipermasalahkan. Selama dia tidak curiga.

Tapi aku sempat berpikir, sampai kapan menjalani hubungan kucing-kucingan ini? Sedalam-dalamnya bangkai dikubur, toh akan tercium juga baunya di suatu hari. Aku juga memiliki rasa kekhawatiran yang berlebih jika seandainya semuanya terbongkar.

Menjadi orang ketiga bukanlah peran yang bagus. Bahkan cenderung tak disukai khalayak dan dibenci setiap pasangan. Meski sudah tahu tidak benar, aku masih saja berjalan di jalur kesalahan itu. Walaupun hati kecilku sudah berniat mencari jalan keluar. Bagaimana yang terbaik untukku, untuk Hyera, dan juga untuk Minjae.

“Bagaimanapun caranya.”

Kubenamkan wajahku di balik punggung telapak tangan setelah menyandarkan tubuh ke sandaran sofa. Memikirkan sesuatu hal yang harus kudapatkan keputusan mutlaknya secepatnya.
-oOo-


Author POV

To: Hyera Song~

Ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Mari kita bertemu. Kutunggu kau di pantai saat matahari terbenam.
Hyera tersenyum membaca pesan yang ia terima dari Hyunseong. Didekapnya ponsel itu erat. Senangnya bukan main. Pasalnya sudah tiga hari ia tak bertemu sapa dengan namja yang menjadi kekasih keduanya itu. Tak sembarang juga untuk mereka bisa bertemu. Menjadi kekasih gelap tak senyaman yang dibayangkan keduanya. Meski begitu, Hyera tetap menikmatinya dan menjadikannya sebagai tantangan dalam kisah cintanya.
-oOo-


Hyera POV

Deburan ombak yang membawa aroma segar dari laut menyambutku dengan baik ketika kakiku berpijak di pantai. Sejauh mata memandang, pasir putih terhampar luas. Beberapa kerang dari berbagai jenis menghiasi pantai. Lautan yang biasanya terlihat biru kini mulai berkilauan karena pantulan cahaya matahari yang bersiap pulang ke peraduannya. Pemandangan yang begitu disukai oleh Hyunseong. Aku juga menyukainya. Tapi tentu saja aku jauh lebih menyukai Hyunseong.

Bahkan aku sesekali pernah iri dengan senja yang mengambil seluruh perhatian Hyunseong. Aku juga pernah berharap bahwa aku saja yang menggantikan senja agar Hyunseong selalu memujaku sepenuh hatinya. Pandangannya tak pernah lepas setelah sekali melihatnya. Dan tersenyum manis yang terbalut dalam kekagumannya.

Namja yang tengah berdiri di bibir pantai itu menarik sudut bibirku ke atas. Angin yang berseliweran membuat rambut serta kemeja tak terkancing yang ia kenakan itu berayun-ayun indah. Bayangan abu-abu di pasir yang dipijakinya begitu sama tampannya dengan sosok aslinya.

Melihat keindahan itu, aku bergegas menghampiri dan memeluknya dari belakang. Aroma tubuhnya yang selalu sama tak pernah hilang dari ingatanku. Aroma tubuh yang selalu ingin kuhirup seumur hidupku.

“Ya!” Hyunseong menoleh. “Kau begitu merindukanku ya?!”

Aku mengangguk cepat. “Sangat merindukanmu.”

Ia melepas pelukanku dan memelukku dari depan. Dadanya yang bidang selalu membuatku ingin lama-lama bersandar disana.

“Kita kan baru berpisah selama tiga hari.”

“Kau tak pernah paham bagaimana menyiksanya merindu itu. Sedikit apapun waktu yang terlewati.”

Bisa kurasakan dia tersenyum setelah berdeham pelan.

“Aku bilang padamu kan, memintamu untuk datang kesini karena ada yang ingin kukatakan?!”

“Nanti saja. Aku masih rindu. Biarkan rindu ini melebur menjadi satu dengan senja.”

Hyunseong merenggangkan pelukanku yang membuatku sedikit kesal. “Tidak bisa.”

Sepenting apa sih yang ingin ia sampaikan sampai harus melepas pelukanku?

Aku menyilangkan kedua tangan di dada sambil merengut kesal. Kualihkan pandangan. Membuang muka darinya. Tidak tahukah sebegitu rindunya aku padanya? Padahal kami baru saja bertemu. Pun masih banyak waktu yang kita lewati. Kenapa mesti terburu-buru? Menyebalkan.

Ia menatapku lembut. Namun senyum yang ia perlihatkan begitu getir. Ada yang berbeda darinya meski dari perubahan sekecil apapun yang bisa kulihat.

Tangannya menjamah lenganku. “Jika seseorang yang kamu cintai tidak menempatkanmu di masa depannya, itulah saatnya kau menempatkannya sebagai masa lalumu.”

Sontak kubalas tatapannya dengan kening yang mengkerut. Tak mengerti dengan apa yang tiba-tiba saja ia ucapkan.

“Dari awal aku telah sadari. Tak mungkin aku berharap lebih dari ini. Sejak awal pun telah kumengerti. Tak mungkin sepenuhnya aku bisa memilikimu. Ini hanya permainan hati. Antara hatimu dan hatiku.”

Dari kalimat-kalimat itu aku mengerti inti dari pembicaraan ini. Tapi aku menunggu ia kembali berujar.

“Kita akhiri saja semuanya sampai disini.”

Benar dugaanku. Serta firasatku yang terasa tak enak sejak tadi. Dan mendengar itu, seketika dadaku terasa sesak. Untuk bernapas pun rasanya aku mulai kesulitan.

“Apa alasanmu?” tanyaku getir.

“Kau bukan masa depanku. Aku juga bukan masa depanmu.”

“Apa itu pantas dikatakan sebagai alasan?” tatapku tajam.

“Sadar bahwa ini adalah hubungan yang tidak sehat. Hubungan ini terlarang. Dan seharusnya aku tidak meneruskan ini sejak dulu. Tapi bagiku tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Begitu juga untuk mengakhiri.”

Kualihkan lagi pandanganku darinya. Tak ingin berlama-lama menatap sorot matanya yang lain dari biasanya. Aku tidak suka. Benar-benar tidak menyukainya.

“Aku pikir… Aku benar-benar sudah menjadi orang yang jahat. Aku telah mengambil alih cintamu darinya.”

Aku menggeleng kepalanya samar. “Bukan kau yang mengambil alih cintaku darinya, tapi aku yang memberikan cintaku padamu.” Tatapku lagi, mulai geram. “Lagi pula apa salahnya? Kita kan sudah saling mencintai.”

“Hyera-ya-”

“Aku sudah terlanjur merasa nyaman berada di sisimu. Itu sebabnya aku tak ingin lepas darimu. Aku bisa saja putus dari Minjae jika itu yang terbaik untuk hubungan kita.” Selaku yang semakin tak bisa mengontrol emosi.

“Tidak begitu titik penyelesaian yang benar, Hyera. Lagi pula orang ketiga selalu menjadi yang terlihat buruk, kan?!”

“Apa orang ketiga selalu menjadi dampak buruk? Tidak, kan?!”

“Apa yang akan orang-orang katakan terhadapku? Terhadapmu? Apalagi kalau semua orang tahu kau putus dengannya hanya karena lebih memilih aku? Aku ini bukan siapa-siapa.”

Ia menggenggam tanganku erat dan terus menatap. Mataku terasa panas saat bulir air mata menggenang, yang siap berlinang kapanpun ia mau. Tapi aku kembali tak bisa terbuai oleh tatapan mata Hyunseong yang seperti itu.

“Aku tidak ingin semakin merusak hubungan kalian. Begini saja sudah membuatku terus dihantui rasa kecewa oleh diriku sendiri. Lebih baik aku mengalah.”

“Kalau begitu apa bedanya dengan dia saja yang mengalah?”

“Dia lebih dulu mengenalmu. Dan dia namja yang sudah pasti baik untukmu.”

Aku menunduk sambil mendekap tubuhku sendiri yang mulai merasa kedinginan. Bulir air mataku semakin menggenang. Beberapa telah jatuh ke pasir putih yang kupijaki.

“Menemukanmu adalah ketidaksengajaan yang paling menyenangkan. Setidaknya aku pernah membuat kau bahagia walaupun pada akhirnya aku terlupakan.” Ia kembali memperlihatkan senyum getirnya lalu merengkuh tubuhku yang bergetar akibat isakan tangis yang tertahan. Mungkin ini adalah dekapan terakhir yang bisa kudapatkan sebelum tak akan pernah ada lagi di hari-hari berikutnya. Serta aroma tubuh yang ku impikan bisa kuhirup seumur hidup sirna dalam sekejap.

“Aku akan baik-baik saja jika pada akhirnya kau harus pergi. Akan kupastikan tak ada rasa sesal setelah ini. Memang.. merelakan itu menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan lagi jika harus bertahan dalam luka. Aku tidak ingin siapapun terluka.”

“Tapi kau yang terluka..” Tatapku nanar padanya.

“Gwaenchana. Luka itu akan menjadi cambuk untukku. Balasan dari semua yang telah kuperbuat.”

Ia mendekapku sebentar. Tubuhku benar-benar berada dalam rengkuhan tubuhnya. Erat sekali. Seperti seseorang yang tidak ingin kehilangan.

“Kembalilah bersama Minjae. Percayalah.. Aku selalu menjagamu dari jauh.”

Aku hanya bisa menunduk sebelum pada akhirnya bisa kembali menatapnya. Tatapan mata yang akan selalu kurindukan. Sambil terus menggenggam kedua tangannya.

“Aku pergi.” Ucapnya sebagai tanda perpisahan sambil merenggangkan genggaman tanganku.

Aku menatapnya dari tempatku berpijak. Meski yang bisa kupandangi adalah punggunggnya, tapi aku bisa merasakan bbagaimana ekspresi wajahnya. Sudah pasti sendu. Ekspresi yang selalu tidak aku sukai sejak dulu. Ekspresi yang seharusnya tidak ia perlihatkan. Kini aku bisa melihatnya dengan begitu jelas. Hingga angin malam menuntun langkahku menjauh darinya. Untuk selama-lamanya.
“Terimakasih telah datang lalu pergi. Setidaknya pernah memberi tawa lalu memberi luka.”


Finish.

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s