[Vignette] Crazy Love

Crazy Love

Han Rae Hwa

Rating PG | Hurt & Supernatural | Lee Jeongmin (Boyfriend), Song Mi Joo (OC), and SanA (OC) | Vignette
“Aku akan tetap bersemayam di dalam jiwamu.

-oOo-


Jeongmin terbangun dari tidurnya ketika mimpi buruk mulai merengkuh kesadarannya seutuhnya. Ia terkesiap dan segera mengubah posisi tidurnya menjadi duduk meski tak menegakkan punggungnya. Matanya sendu memandang ke selimut yang sudah tak lagi menutupi seluruh tubuhnya. Peluh bercucuran dari kening lalu menetes ke kerah baju. Sementara jam berukuran kecil menyerupai menara Eiffel berwarna hitam di atas meja yang terus berdering membuyarkan lamunannya. Ia memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan beranjak keluar dari kamar.


Ada sesuatu yang sampai saat ini mengganjal di dalam hatinya. Sesuatu yang tak pernah berhenti bersemayam di dalam pikirannya. Entah sampai kapan ‘sesuatu’ itu akan melepas landas dan terbang menuju landasan baru. Bahkan sampai detik ini masih saja betah singgah di pikirannya dan tak ada tanda-tanda untuk pergi.


Ia menyibak gorden di jendela ruang tengah. Di luar nampak gerimis. Pantas saja udara cukup dingin meski pendingin ruangan tak lagi berfungsi seperti seharusnya. Ia menghembuskan napas dengan perlahan dengan mata yang terpejam. Gelap. Tapi ada sesosok yeoja di sana. Di dalam gelap. Tak ada yang dilakukan oleh yeoja itu selain hanya berdiri kaku sambil menatap Jeongmin dengan tatapan yang nanar. Dengan bulir air mata yang kian membuat wajahnya terlihat sendu. Sontak Jeongmin segera kembali membuat matanya terjaga.


“Kau… Sampai kapan kau tetap bersemayam dalam hatiku? SAMPAI KAPAN?” Ia melayangkan pukulan di tembok samping jendela hingga tangannya sedikit lebam dan mulai membiru. Tanpa peduli akan rasa sakitnya, Jeongmin pun berlalu. Ia berganti pakaian setelah ia membersihkan tubuhnya dengan guyuran air hangat.


Hujan masih saja mengguyur kota Seoul meski hanya gerimis. Dan bagi sebagian orang, waktu seperti inilah yang nyaman digunakan untuk meringkuk di dalam selimut yang hangat. Atau sekadar bercengkrama dengan keluarga dan meminum secangkir teh hangat sambil bersenda gurau. Namun tidak bagi Jeongmin. Setelah membuka payungnya, ia bergegas keluar rumah dan berjalan menuju sebuah tempat yang ia pikirkan sejak saat mandi tadi.


Ia menghentikan langkahnya di sebuah taman kecil tak berpenghuni yang jaraknya kurang lebih 1 km dari rumahnya. Tepatnya di sebuah pohon rindang yang cukup besar dengan puluhan foto camera polaroid yang menghiasi ranting. Foto-foto itu menari-nari tertiup hembusan angin, seakan gembira menyambut kedatangan Jeongmin.


Namja bermarga Lee itu menaruh payungnya di sisi kiri pohon dan kembali berdiri tegak. Gerimis yang turun tak membuatnya peduli jika seluruh tubuhnya yang dibalut pakaian serba hitam itu akan basah. Ia menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Matanya tetap memandang lurus ke depan, ke pohon itu. Tanpa sekalipun mempedulikan foto-foto yang masih menari-nari seakan ingin sekali untuk dilihat oleh Jeongmin. Tetap, Jeongmin tak tertarik.


Song Mi Joo. Gumamnya pelan, menyebutkan sebuah nama yang tertera di papan yang menutupi sedikitnya dahan pohon itu.


“Ini sudah dua tahun sejak kepergianmu. Tapi kenapa kau tak kunjung pergi dari pikiranku dan dari hatiku? Ia menghela napas lalu melanjutkan kalimatnya, Tidakkah kau bosan terus bersemayam di satu tempat itu selama bertahun-tahun lamanya? Aku tidak sanggup.


Tiga kata terakhir yang ia ucapkan membuat dadanya sakit tertahan.


“Aku benar-benar tidak sanggup Mi Joo. Pergilah… Pergi ke tempat yang seharusnya. Kau selalu membuatku tak bisa mempertahankan hidupku. Kau seakan ingin mengajakku ke alammu. Tidak bisa Mi Joo, tidak bisa! rintihnya.


“Jika kau tidak bisa pergi, maka jangan menyesal jika aku yang akan pergi dan meninggalkan seluruhnya tentang dirimu di tempat ini. Dan mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku menemuimu.


Ia mengepalkan kedua tangannya hingga urat nadi di punggung tangannya dapat terlihat jelas. Begitu juga dengan luka lebam di tangan kanannya bekas pelampiasan amarahnya lewat pukulan ke dinding rumahnya.


Dari sudut sebelah kanan, terlihat seorang yeoja yang sama dengan yeoja yang ada di dalam kegelapan saat Jeongmin memejamkan matanya ketika masih di rumah. Benar-benar percis tanpa perbedaan sama sekali. Yeoja itu menangis tanpa suara. Jeongmin sama sekali tak melihat ke arahnya. Tak menyadari akan kehadirannya.


“Aku memang mencintaimu. Tapi Biarkan aku mencintai yang lain selain dirimu. Kau sudah tenang di alammu. Kau juga sudah bahagia bertemu dengan kedua orang tuamu. Maka biarkan aku bahagia di duniaku sendiri. Bersamanya. Selamat tinggal.


Jeongmin lantas meninggalkan tempat itu dan membiarkan payungnya tetap berada di sisi kiri pohon. Tersiram dengan guyuran gerimis yang seakan menjelma menjadi tangisan yeoja itu.


Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Jeongmin barusan membuat yeoja itu menangis sesenggukan. Kedua kakinya yang terasa lemas tak mampu lagi menopang tubuhnya, hingga ia menghempaskan dirinya ke tanah sambil menautkan telapak tangan kanannya di dahan pohon. Perlahan, pohon itu mati dengan sendirinya. Seluruh dedaunan yang tadinya berwarna hijau kini mengerut, mengering, dan berubah warna menjadi kecokelatan. Serta seluruh foto-foto bekas kenangan antara dia dengan Jeongmin pun perlahan menghilang. Hingga foto-foto yang diambil oleh camera polaroid itu menjadi kosong layaknya kertas camera polaroid yang terlihat masih baru namun rapuh diguyur gerimis.


Tangisnya semakin melemah seiring kepergian Jeongmin dari tempat itu. Tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat untuk tetap mengambil hatinya Jeongmin, yeoja itu pun berusaha berdiri dengan tenaga yang masih tersisa. Raut wajahnya yang tadinya sendu berubah menjadi ketus. Dengan tatapan mata yang tajam bak kilat yang menyambar, ia pun menghilang. Menteleportasikan dirinya ke tempat yang lain.


-oOo-


SanA merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin. Ia ingin penampilannya nampak perfect di depan Jeongmin yang akan menemuinya lima menit lagi di tepian sungai Han. Setidaknya penampilannya harus semenarik mungkin agar tidak membuat malu Jeongmin saat berjalan-jalan sore nanti.


Tiba-tiba saja hembusan semakin kencang. Bahkan SanA tak bisa lagi merapihkan rambutnya yang helaiannya sudah terlanjur menampar halus wajahnya.


Yeoja yang menangis di pohon tempat abu kremasinya disemayamkan itu datang menghampiri SanA. Ia tersenyum menyeringai. Rambutnya juga menari-nari tertiup angin. Tapi ia tidak peduli. Saat hembusan angin benar-benar sedang kencang-kencangnya, ia memejamkan kedua mata dan menteleportasikan tubuhnya masuk ke tubuh SanA. Sontak SanA tersentak. Matanya membulat sempurna dan bersinar memancarkan cahaya berwarna merah menyala. Hingga angin tak lagi berhembus dengan kencang, barulah SanA bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Senyumnya merekah namun sedikit menyeringai. Seakan senyuman yeoja itu dan senyuman khas milik SanA bersatu di wajah itu.


“Aku tidak akan membiarkan siapapun menjadi seseorang yang Jeongmin cintai. Kecuali aku, Song Mi Joo. Gumamnya.


“Annyeong,” sapa Jeongmin sambil melambaikan satu tangannya dengan senyumannya yang membuat kedua pipinya menjadi chubby dan kedua matanya yang hanya terlihat segaris.


SanA membalas lambaian tangan Jeongmin dengan senyuman yang berbeda. Lebih terlihat manis dan tulus.


Mereka berdiri berhadap-hadapan setelah Jeongmin benar-benar menghentikan langkahnya. Mata mereka beradu tatap dengan senyum yang tak kunjung lepas dari wajah keduanya.

“Kau adalah cinta gilaku, Lee Jeongmin. – Song Mi Joo
Finish.

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s