[Ficlet] A Secret Date in Osaka

PicsArt_07-05-09.41.39

 [Warm Up Fict] A Secret Date in Osaka

|Leorene|

starring:

VIXX Leo and  Red Velvet Irene

Romance, Fluff, Idol life | Ficlet | PG17

Summary :

You dating food or me?”

.

.

.

Irene baru saja sampai di ruang ganti dan mengamit ponselnya yang tergeletak di atas meja rias saat nama seseorang tertera di sana bersamaan dengan lampu notifikasi Irene berkedip beberapa kali. Dengan antusias, ia segera membuka kunci sandi ponselnya dan membaca satu pesan yang sampai di ponselnya satu menit yang lalu.

“Apa konsernya sudah selesai?”

Kontan saja kedua tulang pipi Irene terjungkit tinggi. Tak salah lagi, pesan itu berasal dari si pemuda jangkung bermarga Jung. Tanpa menunggu lama, Irene segera mengetikkan balasan.

“Baru saja selesai. Rasanya tubuhku akan remuk, Leo-ya. Tapi aku senang! Tidak kusangka respon mereka terhadap lagu baruku sangat meriah^^,” ketiknya dan tak lupa menyisipkan beberapa emoji menangis dan tertawa lebar di sana.

Sambil menunggu balasan Leo, Irene pun menghapus riasannya terlebih dulu. Jujur saja, Irene lebih suka saat wajahnya tak tersentuh riasan sedikitpun. Ia merasa kulit wajahnya jadi bisa bernapas lebih lega. Lagipula konsernya sudah selesai dan setelah ini ia hanya tinggal beristirahat. Atau mungkin ikut dengan Wendy dan Seulgi yang katanya ingin jalan-jalan sambil belanja buah tangan sebelum mereka kembali ke Korea.

Drrttt…drrtt…

Irene beralih pada benda persegi panjang yang bergetar beberapa kali di atas meja rias—menandakan kalau sebuah pesan baru saja menyambangi ponselnya.

“Kalau begitu cepat ganti bajumu dan temui aku di lobby.”

Serta merta manik karamel Irene membulat. Apa dia tidak salah baca? Bagaimana bisa pacarnya itu berada di sini? Di Osaka, tempat agensinya mengadakan konser. Well, ini bukan seperti di Korea—di mana Leo bisa seenaknya mengiriminya pesan akan mendatangi apartemennya 5 menit sebelum ia sampai. Tapi ini di Jepang. Seumur 2 tahun hubungan mereka terjalin, belum pernah Leo nekat menyusulnya keluar negeri. Yeah, mengingat grup mereka sama-sama populer dan memiliki jadwal yang padat. Justru terkadang Irene berpikir kalau waktu mereka tidak pernah tepat. Seakan-akan Tuhan tidak pernah menakdirkan mereka berada di tempat yang sama. Tapi tunggu sebentar…

Buru-buru Irene membuka aplikasi search engine-nya.

Astaga, pantas saja pemuda Jung itu sudah menunggunya di lobby.

::

Bukan sebuah kecupan singkat atau pelukan hangat—seperti kali terakhir mereka bertemu di apartemen Irene—yang Leo dapatkan dari gadisnya. Melainkan sebuah tinjuan dari kepalan mungil Irene di lengannya. Dan tidak sekali, tapi berkali-kali.

Are you crazy?! Gimana bisa kamu yang mau konser di Tokyo besok malah ada di Osaka sekarang??” Irene masih terus menghajar lengan putih Leo yang tidak tertutupi atasan sleeveless kotak-kotak birunya kendati lelaki Jung itu sudah meringis sekaligus tertawa kecil.

“Naik Shinkansen dari Tokyo ke Osaka hanya 2 jam 30 menit kok,” bela Leo sambil memamerkan eyesmile-nya. Gestur yang selalu sukses membuat Irene mengurungkan niatnya untuk marah.

“Pokoknya awas ya kalau sampai aku dengar kamu pingsan di konser besok!” Sepanjang perjalan mereka menuju Shinsaibashi Street, salah satu tempat belanja murah  di Osaka(mereka sengaja memilih tempat ini untuk mengurangi kemungkinan mereka dikenali), gadis Bae itu masih mengomel. Irene melipat kedua tangannya di depan dada sambil memasang ekspresi galak. Tapi lagi-lagi pertahannya runtuh saat Leo merangkulnya dan berbisik dari balik masker hitamnya.

Masa kamu do’ainnya gitu sih?” yang lantas dibalas Irene dengan menyikut pelan perut Leo. “Ya, habis kamu juga. Lihat betapa kurusnya badan kamu sekarang, Leo.” Irene mulai memutar-mutar tubuh Leo sambil menggerutu seperti seorang Ibu yang sedang mengomeli anaknya yang sudah tidak makan seminggu. “Senang ya bikin aku khawatir?”

“Apa kalau aku bilang ‘iya’, kamu akan memukulku lagi?”

“Jung Leo!”

“Baiklah, baik. Tolong jangan pukul aku lagi, Irene-a.”

Gadis Bae itu berhenti memukuli lengan Leo. Namun kini ia terdiam seraya menatap kekasihnya sendu. “Leo, kamu harus ingat apa kata Ibumu. Kamu harus menjaga kesehatanmu. Kamu harus tetap makan di saat kamu tidak mau. Kamu harus banyak minum vitamin. Dan satu yang harus kamu ingat—” sebelah tangan Irene terangkat menyentuh pipi Leo yang tertutupi masker, “—tubuhmu bukan hanya milikmu saja.”

Mungkin Irene tidak bisa melihatnya, tapi ia dapat merasakan kalau Leo tersenyum hangat di balik masker hitamnya.  Lantas tangan besar lelaki Jung itu menangkup telapak tangan mungil Irene di pipinya. “Tenang saja, Irene. Aku tidak akan sakit selama aku punya pacar yang sudah seperti Ibuku sendiri sepertimu.”

“Jung Leo!”

“Ah, lihat! Sepertinya di sana menjual takoyaki.” Leo buru-buru mengubah topik sebelum lengannya menjadi samsak tinju Bae Irene lagi.

Tapi Leo tidak menyangka keputusannya mengalihkan perhatian gadis berkemeja kotak-kotak merah itu dengan bola-bola tepung berisi potongan gurita adalah salah. Karena yang terjadi dalam kurun waktu 10 menit sejak mereka meninggalkan pedagang takoyaki adalah Irene yang…

Yumm!

…sibuk menghabiskan tiga perempat isi kotak takoyaki-nya tanpa menghiraukan Leo sama sekali.

“Irene.”

“Hm? Tunggu sebentar, Leo. Takoyaki ini enak sekali!” Irene kembali menjejalkan satu bulatan takoyaki ke mulut kecilnya.

“Makannya pelan-pelan!” tegur Leo khawatir melihat gadis itu memakan bola-bola tepungnya secara utuh, tanpa menggigitnya terlebih dulu.

“Kamu juga harus coba, Leo-ya!” Kini tangan mungilnya malah menyodorkan satu tusuk takoyaki padanya. Alih-alih menerima tawaran Irene, Leo malah memfokuskan maniknya pada mulut penuh gadis itu dan beberapa remahan kulit ikan yang menempel di tepian bibirnya. Kontan saja Leo tertawa.

“Kamu habiskan semuanya saja,” ujarnya seraya menyeka bibir Irene dengan ibu jari. “Daritadi ‘kan kamu terus mengingatkan aku untuk makan. Sekarang giliran aku yang menyuruhmu makan. Kamu juga harus makan yang banyak ya, Bae Irene.” Leo menepuk-nepuk puncak kepala Irene layaknya anak kecil.

Well, I love foods.”

What?!” Leo berhenti menepuk kepala Irene.

Don’t worry, Mr. Jung. I’ll eat a lot!” gadis itu berujar lagi seraya membungkukkan badan. Baru saja Irene akan kembali memakan satu bulatan takoyaki saat Leo sudah lebih dulu merebut kotak takoyaki-nya.

Me or foods?”

Irene yang bingung, refleks menjawab. “Heh? Both?

Leo menggeleng tegas. “No, you need to choose one, Irene. Me or foods?”

Gadis Bae itu pun mengerucutkan bibirnya.“Why you do this to me?”

“I need to make sure.” Sekarang Leo mensejajarkan kotak takoyaki Irene dengan wajahnya. “Now, me or these takoyaki?”

Untuk beberapa saat Irene menatap Leo dan kotak takoyaki-nya yang tinggal dua buah bergantian sebelum kemudian berujar, “Will you let me eat the rest of these takoyaki if I choose you?”

Of course no.” Pria Jung itu menggeleng lagi.

“No? So what will happen to the takoyaki?”

“I will throw it away.”

“No, you not! Then I’ll just choose the takoyaki.” Putus Irene akhirnya, buru-buru merebut kotak takoyaki-nya dari tangan Jung Leo.

Irene!” Lelaki jangkung itupun memekik tak percaya. Mustahil, bagaimana bisa Irene lebih memilih takoyaki daripada dirinya? Yang sudah susah payah berbohong pada manajernya dan pergi ke Osaka.

“Why? I just want to save the takoyaki. You can’t throw food away.” Dan kini Irene malah memeluk kotak takoyaki-nya. Buat Leo teringat kalau beberapa waktu lalu gadis itu menyambutnya dengan tinjuan, bukannya pelukan.

“Okay.” Leo pun berjalan meninggalkan Irene.

Leo, where are you going?”

“Back to Tokyo maybe. Just enjoy your time with takoyaki.”

Sadar kalau pacarnya ‘ngambek’, Irene pun segera menyusul Leo. Tungkai pendeknya sedikit berlari demi mengimbangi tungkai jenjang Leo.“But we can eat this takoyaki together. I will share it with you.” Tak lupa Irene pasang senyum termanisnya. Berharap dengan begini Leo akan luluh.

“No. I don’t want to.”

Irene meraih sebelah tangan Leo—membuat lelaki Jung itu menghentikan langkah—seraya menatap sedih pada kotak takoyaki di tangannya.

“Irene-ssi.”

Bae Irene memberenggut. “Ah, why you do this to me? You’re so mean.”

Leo menghela napas.

.

.

.

“Me or takoyaki?”

“Takoyaki!”

“Me or takoyaki??”

“Takoyaki!!”

fin

tyavi’s little note :

Okesip. Sebenernya ini garing sih HAHAHA /ketawamiris

Ya intinya pengen delulu aja karena kemaren leorene sempet sama2 ada di Jepang meski beda kota. Terus pengen ngingetin juga betapa kurusnya leorene ini ya tuhan. Semoga mereka baik2 aja, apalagi mas leyo bentar lagi mo kambek LR :”)

Baidewei itu maaf bangen endingnya kurang greget. Tapi aku kebayang banget kok gimana gemasnya mbaren ngeyel mo makan takoyaki.

HIDUP TAKOYAKI!

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s