[Series] A Story About Titanic Movie (Drama Version)

large

A Story About Titanic Movie

©Shannellerush present

.

S.coups – Wonwoo – Mingyu – Vernon

with the girls (Jesya Kwon and Ishida Ayumi)

.

Drama, fluff | Teen | G

[3]

Jeon Wonwoo menatap buku yang ada di depannya sesekali menuliskan sesuatu pada buku tersebut. Yeah, lelaki itu sedang menyicil tugas kalkulus yang deadline-nya seminggu lagi. Saat ini Wonwoo hanya ditemani lampu belajar sementara lampu utama di padamkan karena temannya—Aron sedang tertidur pulas. Wajar saja, ini sudah memasuki tengah malam dan Wonwoo masih begadang mengerjakan tugasnya.

Well, dua hari lalu, Wonwoo memang memutuskan untuk menginap di rumah Aron. Alasannya agar jarak ke kampus lebih dekat bila jadwal kuliahnya tidak teratur.

Merasa lelah, lamat-lamat, mata Wonwoo melirik jam beker di meja belajar Aron. Dan.. Oh, ini memasuki pukul satu dini hari. Mungkin Wonwoo harus beristirahat sekarang.

Baru saja akan beranjak dari tempatnya, tiba-tiba, bunyi dering terdengar memenuhi ruangan tersebut. Oh, sial, siapa yang menelepon jam segini? Pikir Wonwoo.

Lelaki itu lantas mengambil ponselnya yang berada di atas meja tempatnya belajar tadi. Terlihat nama Jesya di layar ponsel Wonwoo. Ada apa Jesya menelepon? Apa terjadi sesuatu di lantai dua? Pikir Wonwoo lagi. Yeah, Jesya adalah adik sepupu Aron dan mereka berdua memang tinggal satu rumah.

Wonwoo pun memutuskan mengangkat telepon dari Jesya.

“Ha—”

“—Wonwoo!”  Sela Jesya sebelum Wonwoo menyapanya di telepon. “Bisa temani aku?” Kemudian terdengar suara sesenggukan kecil, seperti orang menangis.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Wonwoo khawatir.

Lalu terdengar tawa kecil diujung sana, “ya.. aku baik. Aku sedang menonton film Titanic dan sekarang adalah scene dimana kapalnya akan tenggelam. Kau tahu? Sepertinya aku tidak tahan jika menonton ini sendirian. Benar-benar menguras air mata.” Ujar Jesya yang masih sesenggukan.

“Oh?” Wonwoo mengedipkan mata beberapa kali, ia berusaha mencerna apa yang baru saja gadis itu katakan. Beberapa saat setelahnya Wonwoo berkata, “tunggu disana. Aku akan datang.”

Setelah berada di lantai dua, Wonwoo pun mengetuk pintu kamar Jesya. Sedetik kemudian terdengar suara Jesya berseru, “bukalah! Pintunya tidak di kunci.” Lantas Wonwoo membuka pintu dan masuk ke kamar gadis itu.

Dapat Wonwoo lihat kamar Jesya gelap dan hanya disinari oleh lampu tidur remang-remang di sebelah tempat tidurnya. Sementara si gadis terpaku pada televisi yang tengah menyala. O, jangan lupakan gambar yang ada di televisi itu. Gambar dimana karakter Jack dan Rose saling menggenggam tangan diatas reruntuhan Titanic yang tersisa.

“Duduklah disini!” Suruh Jesya tanpa menoleh ke arah Wonwoo. Wonwoo pun menuruti gadis itu. Lelaki itu duduk di sebelah Jesya yang kini terisak menyaksikan adegan di layar televisi. Terlihat beberapa lembar tisu berserakan dimana-mana.

Tanpa menunggu lama, Jesya langsung bersandar pada lelaki itu sambil menyelipkan tangannya pada lengan Wonwoo. “Jangan tinggalkan aku.” Ucapnya. “Jangan tinggalkan aku seperti Jack meninggalkan Rose.”

Wonwoo tersenyum melihat Jesya bertingkah layaknya anak kecil. Sepertinya ia terlalu terbawa perasaan pada film Titanic. Lantas, lelaki itu mendekatkan diri pada Jesya dan berbisik,

.

.

.

“tenanglah, Jack mu ada disini. Ia tak akan pergi meninggalkan Rose-nya. Percayalah.”

 

[4]

Kim Mingyu kini menginap di rumah Ayumi. Yeah beberapa hari lalu, ia datang ke Jepang untuk melakukan program summer school dan memutuskan untuk tinggal di tempat Ayumi¾yang dulu adalah tetangganya saat di Seoul. Keluarga Ayumi telah mengenal Mingyu dengan baik. Apalagi dengan status Mingyu sebagai kekasih Ayumi, tentunya membuat keluarga Ayumi dan Mingyu senang. Pasalnya kedua keluarga ini telah mengenal sejak lama, sehingga kedua keluarga sangat menyetujui hubungan mereka. Walaupun hubungan Ayumi dan Mingyu harus terpisah jarak dan waktu, namun tidak membuat keduanya renggang. Malah mereka makin merindu.

Well, saat ini, tepat pukul dua belas lewat, Mingyu baru saja menyelesaikan makalah tentang jaringan sistem informasi yang ditulis dalam bahasa Inggris. Untung saja makalah ini dikerjakan dalam bahasa Inggris, kalau dalam bahasa Jepang ia bisa mati. Ia tidak terlalu fasih berbahasa Jepang. Bahkan bicara dengan Ayumi saja ia menggunakan bahasa Korea.

O, Mingyu hampir lupa. Saat pulang kuliah sore tadi, Mingyu membeli bunga mawar merah yang rencananya akan ia berikan pada Ayumi. Bunga itu sebagai simbolis Mingyu yang tidak dapat menemui Ayumi saking sibuknya dengan kuliah. Dan jika melihat jam, tampaknya gadis itu sudah melesat ke alam mimpi. Apa sebaiknya Mingyu memberikan bunga itu pada Ayumi besok saja? Pikirnya.

Beberapa menit bergulat dengan pikiran, akhirnya Mingyu memutuskan untuk memberikan bunga tersebut pada Ayumi. Setidaknya ketika Ayumi terbangun esok hari,  ia bisa melihat bunga mawar itu.

Setelah menutup laptopnya, Mingyu pun pergi ke kamar Ayumi yang berada di lantai dua. Lelaki itu terlihat menggeser pintu kamar Ayumi, dan betapa terkejutnya Mingyu saat mendapati Ayumi belum tidur. Gadis itu masih menonton televisi. Dari kejauhan Mingyu dapat melihat apa yang di tonton oleh gadisnya. Sebuah kapal besar yang sebentar lagi tenggelam. Yeah, itu adalah film Titanic.

“Apa itu yang membuatmu begadang, nona?” Celetuk Mingyu, yang membuat Ayumi menoleh ke belakang.

Mingyu kini berjalan mendekati Ayumi. Beberapa detik setelahnya, lelaki itu sudah duduk di sebelah Ayumi. Dapat Mingyu lihat mata sembab Ayumi beserta sesenggukannya.

“Hei, kau menangis.” Ujar Mingyu sambil tersenyum lebar.

“Kau tidak mengerti. Jika aku berada di posisi Rose aku tak akan bisa hidup.” Sahutnya dengan sesenggukan. Dan sedetik kemudian gadis itu kembali menatap layar televisi.

“Apa kau seperti ini karena tidak mau kehilangan orang yang kau cintai?”

Ayumi mengangguk.

Mingyu tersenyum, ia lalu menarik gadis itu ke pelukannya, sesekali mencium puncak kepala gadisnya. “Aku disini. Jangan menangis.”

“Mingyu-kun, selama beberapa hari setelah kau tinggal di rumah ku, aku jarang sekali melihatmu. Sekalinya melihatmu, kau sangat sibuk. Aku tidak mengerti, saat ini kita tinggal bersama tapi masih saja terasa jauh.”

Mendengar hal itu, Mingyu pun mengacak rambut Ayumi. Kemudian lelaki itu mengulurkan sebuket bunga mawar merah yang sedari tadi ia bawa kepada Ayumi.

.

.

.

“Terimalah! Ini khusus untuk mu. Bunga mawar merah untuk Rose ku yang cantik.”

 

-FIN-

Maaf ya di cerita ini bahasanya hancur huhuhu.. jujur saya udah beberapa kali edit ini cerita supaya nggak mengecewakan dan inillah hasilnya.. aku nggak berharap dikasih like atau komen yg penting kalian baca cerita saya, udah itu aja hehe…

Dan buat yg selama ini udah kasi apresiasinya, aku terima kasih banget karena udah meluangkan waktunya untuk baca, like dan komen. Maaf juga aku gabisa ngucapinnya secara langsung. Udah itu aja, sekian 😀

Advertisements

One thought on “[Series] A Story About Titanic Movie (Drama Version)

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s