[Oneshoot] Wait

Wait || Han Rae Hwa

Rating T | Hurt & Songfic (B1A4 – Wait) | Jung Jinyoung (B1A4), Soo Ah (OC), and Soo In (OC)


Jika kau datang padaku, aku tidak ingin lebih.

Hanya ingin kau mencintaku.

Seperti aku mencintaimu.


~


Author POV

Angin berhembus semakin kencang saat Jinyoung baru saja menapakkan kakinya di depan tempat les Soo Ah. Pikirnya ia telat menjemput yeoja yang sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Jinyoung. Ia memastikannya dengan melihat arloji di pergelangan tangannya. Hembusan napas terdengar begitu lega.

Namun tak selega hatinya yang sejak pagi terus dirundung rasa gelisah. Bahkan rasa gelisah itu membuatnya hampir terlupa untuk menjemput Soo Ah. Padahal hari ini ia begitu tidak sabar untuk bertemu yeoja berusia 18 tahun itu. Melebihi rasa ingin bertemu seperti yang sudah-sudah. Ingin rasanya ia menghiasi wajah tampannya itu dengan senyuman. Tapi rasa gelisah yang semakin besar, membuatnya jadi tidak tenang hingga beberapa kali mengubah posisi berdirinya menjadi lebih nyaman. Tetap saja tidak membuat rasa gelisah itu menghilang.

Gemuruh di langit seakan tengah menegurnya untuk tetap diam pada posisiku sebelumnya. Dengan berusaha tenang, Jinyoung menyandarkan punggung di dinding. Memang sejak tadi siang langit sudah mulai gelap ditambah hembusan angin yang semakin lama semakin kencang. Ada rasa khawatir bila hari ini akan hujan. Pasalnya bukan hanya akan menghambat suatu hal yang ingin ia lakukan sore ini, tetapi juga akan menghantarkan kembali bayang-bayang kelam yang pernah terjadi beberapa tahun silam. Di hari penghujan, di tanggal dan bulan yang sama. Seperti hari ini. Bukannya ia membencinya. Ia hanya tidak menyukainya.

Jinyoung menorehkan senyum getir sambil menunduk. “Sepertinya kau berusaha mencoba untuk mengingatkanku kembali ya?! Aku tidak lupa Soo In. Aku selalu ingat.”

“Apanya yang selalu kau ingat?”

Namja itu terkejut dan refleks menoleh ketika seorang yeoja memperdengarkan suaranya yang familiar.

“Kau sudah selesai?” Jinyoung berusaha memperlihatkan senyum terbaiknya. Mengalihkan dari segala pikiran yang semakin gundah gulana. 

“Ne.” Soo Ah menyipitkan matanya. “Kau baik-baik saja?”

Senyum di wajah Jinyoung semakin lebar sebagai jawaban atas pertanyaannya. Tentu untuk membuatnya percaya bahwa ia baik-baik saja. Ia tidak ingin terlihat rapuh di depan Soo Ah sekalipun. Juga tidak ingin membuat Soo Ah mengkhawatirkan dirinya di tanggal dan bulan yang sama setiap tahunnya.

“Ayo. Kita harus pergi.” Tangan Soo Ah begitu dingin ketika digenggam olehnya. Sambil menyusuri jalan, menikmati semilir angin yang seakan tengah memberi pengumuman bahwa hujan akan segera turun. Beberapa kali ia tangkap Soo Ah melirik ke arahnya dengan binar kekhawatiran.

“Jangan melihatku seperti itu. Aku sungguh baik-baik saja.” Tukasnya diikuti senyum.

Soo Ah pun mengalihkan pandangannya ke depan dengan senyumnya yang tipis. Meski tak kembali melirik Jinyoung, namja itu tahu kekhawatiran itu masih membelenggu dalam pikirannya.

~


Jinyoung POV

Bilik-bilik yang semula kosong ternyata sudah mulai banyak yang terisi. Tak kusangka ternyata Tuhan begitu merindukan makhluk ciptaan-Nya, hingga memanggil mereka begitu cepat. Termasuk Soo In.

Dari kaca yang menutupi bilik, Soo Ah begitu lekat memandang foto Soo In. Sosok eonni yang selama ini sudah mengayominya dengan baik. Bahkan jika orang awam melihat kedekatan dua kakak beradik itu, mereka akan nampak seperti ibu dan anaknya. Tak akan ada Soo Ah bila tanpa Soo In. Begitupun sebaliknya. Soo In dan Soo Ah. Mereka saling berbagi cerita, berbagi pengalaman, bahkan berbagi cinta. Berbagi cinta? Emmhhh.

“Hari ini adalah hari peringatan kematianmu.”

“Kau baik-baik saja?” tanyaku memecah kehengingan sambil menoleh ke arahnya.

“Soo In begitu cantik. Bahkan setelah dia tiada. Soo In tetap cantik.”

Ku alihkan pandanganku ke foto Soo In yang sedang tersenyum begitu manis. Memperlihatkan deretan giginya yang putih. Dalam genggamannya, terdapat sebuah mawar putih. Bunga  yang paling ia suka di antara bunga-bunga indah lainnya. Aku ingat. Mawar itu adalah mawar pertama yang kuberikan padanya ketika kami baru meresmikan hubungan.

Kaca yang menutupi bilik itu sengaja kubuka. Ku ambil mawar putih yang sudah nampak layu yang ada di samping foto Soo In dan menggantinya dengan mawar putih baru yang sengaja kubawa. Lalu menutupnya kembali dengan hati-hati.

“Waktu kita seakan terasa begitu singkat ketika kau pergi secepat yang tak kukira. Engkau berada di depanku tapi kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi. Kau berdusta tentang janjimu yang selalu ada untukku dan Soo Ah.”

Kuhela napas panjang dan menghembuskannya dengan begitu berat. Membuat dadaku sedikit sesak.

‘Aku berharap kau tidak akan datang lagi di depanku. Bahkan hanya di dalam mimpi.’

Kalimat itu terucap dalam hatiku tanpa sadar. Kalimat yang sudah ada sejak aku semakin mengenal Soo Ah. 

Soo Ah menyeka air matanya. Kedua bola matanya yang terlihat indah dikalahkan oleh binaran air mata yang siap jatuh kapan saja semaunya. Aku tahu Soo Ah belum begitu kuat kehilangan sosok Soo In. Apalagi ketika orang tuanya memutuskan untuk pindah ke London karena ingin melupakan segala kenangan buruk nan menyedihkan di Korea Selatan. Mereka sudah membujuk Soo Ah bahkan hingga memaksanya. Tapi Soo Ah menolaknya mentah-mentah. Ia pernah bilang, meskipun ia jauh dari kedua orang tuanya, tapi ia masih bisa dekat dengan eonninya. Ia tidak ingin meninggalkan eonninya sendirian begitu saja meskipun jasadnya sudah terkremasi menjadi abu.

Kutepuk pundaknya pelan. “Soo In selalu ingin melihat kita bahagia. Jangan menangis.”

Soo Ah mengangguk samar. “Ayo, kita pulang. Berlama-lama berada disini membuatku selalu ingin agar Tuhan mengembalikan Soo In-ku.” Ia berbaik badan dan berjalan dengan gontai menuju pintu keluar. Tangannya menepis air mata di pipinya dengan sedikit kasar. Aku hanya melihat kepergiannya yang sebenarnya ia sendiri pun tidak rela meninggalkan tempat ini.

“Tunggulah di depan. Aku akan menyusulmu.”

Aku kembali memandang foto Soo In dan tersenyum begitu penuh ketulusan. Semua rasa sesak di dada yang selalu kurasakan kini tidak terlalu begitu perih dibanding tahun pertama sku kehilangannya. Rasa sakit yang selalu menyeruak ke permukaan hatiku kini hanya bisa kupendam dalam-dalam dan membiarkannya bersemayam disana.

“Aku berjanji untuk selalu setia berada disisinya. Aku juga berjanji untuk tetap membuatnya bahagia. Kami akan bahagia seutuhnya. Tanpamu. Selamanya.” Kuhembuskan napas  dengan perlahan sembari memejamkan mata. “Jadi, kuharap kau tak pernah datang lagi.”


~


“Hujan.” Ujar Soo Ah pelan saat langkahku berhenti tepat di sampingnya. Tangannya mengadah, membiarkan air hujan tertampung di telapak tangannya.

“Aku kan bawa payung. Lagi pula masih gerimis. Mau pulang sekarang?”

Soo Ah mengangguk pelan.

Untungnya payung yang kubawa cukup besar untuk menampung dua orang. Hingga kami bisa ternaung dari air mata langit yang jatuh membasahi kota Seoul. Kudekap bahu Soo Ah dan mendekatkannya pada tubuhku agar ia bisa merasakan secuil kehangatan yang kuusahakan. Pelan-pelan kami berjalan beriringan karena khawatir jalanan yang licin akan membuat kami jatuh.

Kukira hari ini aku akan lebih cengeng dari Soo Ah. Nyatanya aku sudah jauh lebih kuat sekarang. Baguslah. Dengan begitu aku juga bisa lebih menguatkan Soo Ah. 

Setengah perjalanan menuju parkiran, aku teringat oleh suatu hal yang sempat kusinggung. Sesuatu yang sudah sejak lama terpendam dalam pikiranku. Sesuatu yang ingin sekali segera ‘kulepas’ dari singgasananya. Aku tidak bisa menunggunya lebih lama. Waktu yang terus berlalu dengan cepat bisa membuat penyesalan kapan saja jika tidak kulakukan sekarang. Kenapa harus kembali menunggu jika hari ini pun aku bisa melakukannya?!

Dengan menghembuskan napas lewat mulut dan mengumpulkan seluruh keberanian serta keyakinan, aku menghentikan langkahku sesegera mungkin. Soo Ah yang sedikit terkejut pun ikut menghentikan langkahnya.

“Ada apa?”

“Soo Ah…” Posisi tubuhku kubiarkan sedikit menyerong agar bisa melihat Soo Ah dengan nyaman. Begitu juga dengannya. “Datanglah padaku.”

“Heh?!” ia mengerutkan keningnya.

“Jika kau datang ke padaku, aku bisa memberimu segalanya.”

“M-maksudmu apa? Aku benar-benar tidak mengerti.”

“Sepanjang hari, aku menunggu. Dan sampai saat ini aku masih menunggu. Waktu yang tepat untuk kuutarakan segalanya yang selama ini membuatku gelisah.”

Ia tidak menggubris dan tetap menjadi pendengar yang baik.

“Tapi yang kupelajari dari arti sebuah menunggu, semua waktu bisa saja menjadi tepat jika aku yakin untuk mengutarakannya saat itu juga. Dan ini saatnya. Soo Ah… Aku tidak ingin lebih.. Aku hanya ingin kau mencintaku. Seperti aku mencintaimu. Jadi datanglah padaku.”

Kudekatkan wajahku pada wajahnya. Dengan mata terpejam kukecup bibirnya. Aku tidak dapat melihat ekspresinya. Tapi yang bisa kutebak adalah Soo Ah pasti terkejut. Sangat terkejut.

Payung yang menaungi kami dari hujan sengaja kulepas dari tanganku, hingga jatuh ke bawah. Membiarkan hujan mengguyur kami. Aku tidak mempedulikan apapun selain ciuman yang kuberikan pada Soo Ah. Semakin detik berlalu dengan cepat, semakin larut aku menciumnya. Dengan kubiarkan kedua tanganku tertangkup di antara rahang dan pipinya, kuselesaikan ciuman pertamaku dengannya.

Namun belum sempat kuakhiri ciumanku dengan manis, Soo Ah lebih dulu mendorong tubuhku. Tentu aku terkejut –tapi mungkin tidak lebih terkejut dari ciumanku yang tiba-tiba ini.

Kukerjapkan kedua mataku saat mendapati binaran di kedua matanya. 

“Apa yang kau lakukan eoh?” tukasnya dengan suara yang bergetar.

“Soo Ah, dengarkan aku..” kembali kutangkupkan kedua telapak tanganku di rahangnya. “Aku tidak bisa berhenti memikirkan tentangmu dalam hari-hariku. Setelah sepeninggal Soo In, hari-hariku kembali dipenuhi oleh cinta. Cintamu.”

“Ya! Kau bilang Soo In berdusta karena tidak dapat menepati janjinya padamu. Kau juga sama saja! Kau berdusta tentang janjimu untuk mencintainya seumur hidupmu.” Tukasnya begitu menyalahkanku.

“Soo Ah.. Bukankah kita harus melanjutkan hidup kita dengan lebih baik lagi? Soo In sudah bahagia disana. Seharusnya kita juga bisa menemukan kebahagiaan kita disini. Di dunia ini. Kau tidak mungkin terus menerus hidup sendiri. Aku juga.” Aku berusaha untuk meluruskan.

Dalam hati, aku selalu menunggu, bunga baru yang mekar dipenuhi Cinta. Ya, aku jatuh Cinta denganmu. Cinta yang selalu seperti itu. Ketika aku merindukanmu, aku harus melihatmu. Aku terus mencarimu hingga aku bisa melihatmu.”

 Air mata Soo Ah menetes. Ia membiarkan air mata itu jatuh membasahi pipinya. Tapi air matanya tersamarkan oleh air hujan yang membasahi wajahnya.

Kugenggam tangannya erat. “Jika ini adalah takdir, engkau akan menjadi satu-satunya. Kumohon untuk datang kepadaku. Aku sudah menunggumu sejak lama. Apa kau ingin membiarkanku tetap menunggu? Sampai aku menyusul Soo In?!”

Refleks Soo Ah menggelengkan kepalanya.

“Jadi, bisakah? Kau datang padaku dan tetap tinggal?”

Ia memutar bola matanya, kepalanya setengah menunduk.

“Aku.. Aku hanya takut Soo In.. Soo In tidak..”

Saat kutahu arah kalimat yang diujarkannya, kukeluarkan sepucuk surat dari dalam saku mantelku.

“Bacalah.”

Meski terguyur oleh hujan dan tinta pada kertas itu mulai luntur, tapi Soo Ah sudah membacanya lebih dulu sebelum tulisan di kertas itu benar-benar pudar.

“Soo In memintamu untuk selalu berada disisiku?!” ujarnya pelan, terkalahkan oleh suara hujan yang turun.

“Dan janjiku pada Soo In akan segera kutepati.”

Kupeluk tubuh Soo Ah yang basah kuyup. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukkanku sambil meremas surat dari Soo In. Perlahan kedua tangannya merayap naik ke punggungku, membalas pelukkanku.

“Jangan larang aku untuk memintamu datang padaku.”

Hening. Soo Ah semakin larut dalam tangisannya. Tapi kemudian setelah beberapa detik berlalu, setelah hujan sudah mulai mereda dan hampir berhenti, Soo Ah meredam tangisnya perlahan.

“Aku sudah datang.. Aku sudah datang Jinyoung oppa.. Saranghae.”

“Saranghae.”

Finish.

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s