[FICLET] Learn to Forget You

Learn to Forget You | Author: Han Rae Hwa

Rating T | Angst | Wonwoo (Seventeen) & Shi Yeon (OC)


Shi Yeon POV

Malam ini salju pertama turun di kota Seoul. Perkiraan cuaca yang kulihat setiap pagi di televisi ternyata tak terduga. Mereka mengatakan salju akan turun dua atau tiga hari mendatang. Nyatanya salju turun secepat ini. Kalau tahu seperti itu, aku sudah membawa baju hangat ke kantor tadi pagi. Huuhh, apa dayaku yang hanya memakai kemeja lengan pendek dengan rok yang panjangnya tak sampai menutupi kedua lututku ini. Ini benar-benar menjadi pelajaran untuk tahun mendatang. 

Kuusap kedua telapak tangan untuk mencari secuil kehangatan di tengah dinginnya malam yang dimulainya musim salju. Bayangan ramyeon hangat dengan kuahnya yang mengepul dan dimakan langsung di pancinya membuatku mempercepat langkah agar segera sampai di apartement. Ahh, hanya dengan membayangkannya saja tubuhku jadi terasa sedikit hangat. 

“Apa aku berlari saja, agar segera sampai apartement?!”

Tapi sepertinya tidak mungkin aku berlari di hamparan salju yang membuat jalanan menjadi licin. Apa lagi aku tidak membayangkan berlari dengan mengenakan high heels setinggi beberapa senti meter ini. Rasanya begitu mengerikan jika saja aku terjatuh nantinya.

“Dari pada mengambil resiko, sepertinya aku harus tetap berjalan.”

Lagi pula apartementku tidak begitu jauh. Tinggal belok kiri di persimpangan jalan dan terlihatlah gedung pencakar langit dengan bercat hijau tosca.

‘Uuwwaah, ramyeon, jarak kita semakin dekat. Tunggu aku sebentar lagi.’ Seruku semangat dalam hati. 

Sekali lagi aku berusaha untuk mengurangi rasa dingin dengan mengusap-usap lenganku. Andai saja ada seorang namja yang tiba-tiba datang memakaikanku pakaian hangat ke tubuhku, seperti yang sering kulihat di drama-drama yang kutonton.

“Aku memikirkan apa sih?!” tukasku sambil geleng-geleng kepala diikuti tawa kecil.

Rasanya kalau mempercepat langkah tidak apa, dibangingkan harus berlari. Masih dengan kehati-hatian yang cukup tinggi, aku membuka lebar-lebar kakiku, mempercepat langkahku.

Shi Yeon POV end


Author POV

Dengan begitu percaya diri, Shi Yeon memiringkan tubuhku, bersiap untuk belok di persimpangan.

“Ahh! Kkamjakiya!” Shi Yeon terkejut dengan satu tangan yang bertumpu di dadanya.

Namja yang tiba-tiba muncul tepat di depannya hingga mereka hampir bertabrakan itu pun sama terkejutnya dengan Shi Yeon. Bedanya ia langsung memperhatikan Shi Yeon dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Shi Yeon?!” dengan begitu cepatnya namja itu mengenali sosok yeoja yang ada di hadapannya itu.

Sementara itu, Shi Yeon justru lebih cepat mengenali namja yang menyebut namanya itu hanya dengan melihat wajahnya. Dadanya berdebar-debar seperti pertama kali ia mengenal sosok itu. Matanya berbinar tak percaya kalau hari ini ia akan bertemu kembali dengan mantan terindahnya.

“Wonwoo?!”

Cukup lama mereka saling tatap. Empat tahun berlalu begitu cepat sejak mereka memutuskan untuk berpisah dan tak pernah lagi saling bertemu.

“Kau.. apa kabar?”

“Kabarku baik. Kau tidak pernah kelihatan sejak hari terakhir kita bertemu. Apa kota Seoul sekarang lebih luas?” Tukas Shi Yeon dengan suara yang sedikit teredam. Malu-malu mengatakan hal itu pada Wonwoo.

“Benarkah? Kau juga tidak pernah kelihatan. Oh iya, kudengar, kau menjadi editor tetap di sebuah perusahaan penerbit ya? Selamat ya. Kau sudah menggapai mimpimu secepat ini.”

Shi Yeon menggangguk cepat dan tersenyum lepas. “Aku sudah menjadi editor tetap setelah menjalani magang selama enam bulan.” Siapapun yang akan bertanya terkait pekerjaannya, ia akan memberikan ekspresi yang cukup berlebihan. Karena begitu bangganya ia dengan pekerjaan yang tidak dengan mudah ia mendapatkannya di usia semuda itu.

“Kau sendiri sudah diangkat menjadi CEO di sebuah perusahaan, kan?! Beritamu tersiar di grup Line alumni SMA.”

Wonwoo tertawa kecil hingga deretan giginya terlihat.

Shi Yeon kembali terpesona melihat ketampanan Wonwoo yang semakin bertambah. Melihat perubahan itu Shi Yeon merasa sudah melewatkan waktu yang begitu panjang. Melewatkan masa-masa dimana rindu masih saja menggebu meski mereka sudah lama berpisah. 

“Mmh.. Sudah malam. Sebaiknya kau segera pulang. Tidak baik lama-lama berada di luar rumah dengan cuaca yang seperti ini,” Wonwoo melepas baju hangatnya dan memakaikannya ke tubuh Shi Yeon. “Apa lagi kau hanya memakai pakaian seperti ini.”

Jantung Shi Yeon semakin berdegup kencang saat tubuh Wonwoo mendekat. Aroma tubuh yang sejak dulu tak pernah berubah dan yang selalu diingatnya hingga sekarang. Dan adegan drama yang ia bayangkan tadi menjadi kenyataan. Saking tak percayanya, Shi Yeon justru menganggap malam itu hanyalah sebuah bunga tidur atau khayalannya semata.

“Kau bisa mengembalikannya kapan saja.”

Shi Yeon mengangguk cepat. “Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai bertemu lagi.” Kalimat terakhir yang ia ucapkan menjadi sebuah pengharapan besar.
Tak sampai beberapa langkah, Shi Yeon menghentikan langkah kakinya.

“Wonwoo, kau masih disitu?”

Wonwoo yang memang belum beranjak -setelah memperhatikan Shi Yeon lalu baru saja berbalik badan, terperangah.

“Kenapa?”

“Bisakah kita bertemu lagi?”

“Untuk mengembalikan baju hangatku? Hubungi saja lewat social media.”

“Untuk hal yang lebih dari itu…”

Wonwoo terkekeh. Ia mengerutkan keningnya.

“Aku… Merindukanmu. Sangat merindukanmu.”

“Kau bicara apa? Aku tidak mengerti.”

Shi Yeon menghembuskan napas dari mulut hingga keluar kepulan embun.

“Wonwoo-ya.. Maukah kau mencintaiku lagi seperti dulu?” permintaan melunjak itu tiba-tiba saja terucap dari bibirnya yang saat ini dirutuknya mati-matian.

“…” Tak ada jawaban. Wonwoo hanya berdiri mematung memperhatikan tempat ia berpijak.

Sementara Shi Yeon melihat pantulan tubuh Wonwoo di cermin café yang sudah tutup di sebelahnya. Namja itu kini tengah mengusap tengkuknya dengan kepala yang sedikit menunduk.

Ia kembali menghembuskan napas dengan mata yang terpejam. Bersiap hati menerima jawaban dari Wonwoo. Apapun itu, ia harus bisa menerimanya. 

“Mian.” Wonwoo terdiam sejenak. “Aku tidak bisa.”

Jantungnya yang semula berdegup cepat seperti merosot ke kakinya. Antara lega dan kecewa bercampur menjadi satu.

 “Wae?”

“…” Wonwoo tidak segera menggubris. Membuat Shi Yeon sedikit kesal. 

“Jawablah!” tuntut Shi Yeon kesal. 

“Aku tidak bisa mengatakannya.” tukasnya dengan suara yang sedikit berat. 

“Wae? Sebegitu sulitkah untuk kau mengatakannya?”

“Sebegitu sulitkah untuk kau melupakanku?”

“Heh?!” Shi Yeon mengerutkan keningnya. Pertanyaan yang diajukannya membuatku terkejut setengah mati.

“Ini sudah empat tahun dan kau memintaku untuk mencintaimu lagi? Kemana saja kau selama empat tahun ini, eoh? Ya! Semua orang pasti pernah mengalami fase ini. Seharusnya kau sudah melewatinya dan bahagia dengan namja yang lain. Kenapa kau masih stuck di aku? Tidak bisakah kau menemukan namja yang bisa menggantikanku? Tidak bisakah kau-”

“Karena kau tak pernah tergantikan di dalam hatiku. Kau tidak akan pernah mengerti.” Suara Shi Yeon mulai terdengar parau ketika air mata menetes tanpa disadari. 

“Mian. Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Tak ada perasaan apapun di dalam hatiku yang kuperuntukan padamu seperti dulu.”

“Tidak bisakah kau mencobanya lagi? Saat kau memutuskan untuk berpisah, begitu berat rasanya mengetahui kalau kau bukan milikku lagi. Perih rasanya saat melewati waktu seorang diri ketika semula selalu dilewati bersama. Entah… Mungkin bisa dibilang kalau aku masih belum rela menerima semua kenyataan pahit ini.”

“Shi Yeon-a.. Kau juga sudah menyetujui keputusan itu, kan?!”

“Aku hanya terpaksa pada saat itu. Aku hanya bisa menuruti kemauanmu.” Cercanya parau.

“Kukira sudah tak ada yang perlu dibahas lagi. Sekarang… Kau hanyalah bagian dari masa laluku. Kita sudah saling mengenal diri kita masing-masing. Lagi pula, kita sudah pernah mencoba menjalin hubungan dan ternyata kita tidak cocok. Aku merasa tidak cocok menjalin hubungan denganmu. Maka dari itu aku memutuskan untuk mengakhiri saja hubungan kita.”

Wonwo terdiam sejenak sebelum meneruskan kalimatnya yang belum usai. “Jika saat ini kita mengulangnya lagi, bukankah sama saja kita jatuh di lubang kesalahan yang sama? Kau mau mengulangi kesalahan yang sama? Tidak kan?!” ia menarik napas panjang. “Kita sudah sama-sama dewasa. Kita juga memiliki jalan hidup yang berbeda. Kukira tak ada salahnya jika kita saling membuka hati untuk yang lain.”

Shi Yeon tertegun sebentar. “Begitu ya?! Selama ini kau hanya mengajariku caranya mencintaimu tanpa pernah mengajariku bagaimana caranya melupakanmu. Jadi, bagaimana bisa aku melupakanmu?”

“Mworago?”

Shi yeon kembali terdiam. Air mata yang mengalir bertambah deras tanpa suara. Ia hanya menunduk tak kuasa menahan sesak di dada.

“Shi Yeon-a… Neo gwaenchana?”

Tak ada jawaban. Shi Yeon hanya terus larut dalam isak tangisnya yang semakin menjadi.

“Aku… Pulang dulu.” Tukasnya dengan suara yang begitu parau. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat bahkan setengah berlari. Yang semula ia takut terjatuh untuk berlari, kini rasa takutnya terpendam dalam-dalam. Pandangannya sedikit buram karena air mata yang menyelimuti bola matanya. Pikirannya seperti kosong sampai ia tak memikirkan apapun lagi. Dari tempatnya berdiri, Wonwoo berbalik badan, memperhatikan yeoja itu sampai menghilang di balik pagar apartement. 

                                 -oOo-



Shi Yeon menyandarkan punggung di dinding dengan tubuh dimiringkan ke arah jendela. Sesekali ia menyeruput cokelat hangat buatannya sambil terus memperhatikan butiran salju yang semakin menyelimuti kota Seoul. Merasa teringat akan sesuatu, Shi Yeon beralih pandang pada baju hangat milik Wonwoo yang terlipat rapih di atas meja.

Author POV end


Shi Yeon POV

Seharusnya saat itu aku tidak bertemu denganmu lagi. Ya, seharusnya begitu. Tapi ternyata dari pertemuan di malam pertama turunnya salju itu, aku belajar sesuatu. 
Kau memang hanya mengajarkanku caranya mencintaimu tanpa pernah mengajarkanku bagaimana caranya melupakanmu. Tapi dari kau yang tak pernah mengajarkanku bagaimana caranya melupakanmu, aku pun belajar. Entah sengaja atau tidak, kau mengisyaratkan sesuatu padaku. Sesuatu yang baru kumengerti sekarang. Kau ingin aku belajar sendiri bagaimana aku bisa menyikapinya. Bagaimana aku melupakanmu dengan caraku sendiri. Aku tahu kau tak benar-benar ingin aku melupakanmu. Iya kan?!
Finish.

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s