Everything Has Changed

 

large.png

Everything Has Changed

Shannellerush’s Storyline

Starring by :

Kim Jisoo (BlackPink) and Kim Junmyeon (EXO)

All I know since yesterday is

Everything has changed – Taylor swift and Ed Sheeran

———

Senja kali ini berbeda dengan senja kemarin. Senja hari ini layungnya tak terlihat karena hujan yang meramaikan sekitar. Tetesannya terasa begitu akrab di telinga ku dan aku menyukai tiap kali hujan datang. Aku melirik ke arah jendela kala tetesan air hujan berhenti, dapat kulihat betapa sekarang tetesan air tadi bersarang di jendela kamar ku dengan kabut yang kengiringi. Pun aku merasakan suhu udara makin menipis.

Aku meletakkan pensil yang sedari tadi ku pegang, sepertinya aku perlu merileks kan otak ku beberapa saat agar tidak terlalu penat. Materi yang ku pelajari untuk ujian tengah semester begitu banyak hingga membuat kepala ku menjadi pusing. Aku lalu mengambil langkah menuju jendela kamar yang berada di dekat tepat tidur ku guna mencari udara segar. Setidaknya dengan mendapat pasokan udara segar nan dingin, aku bisa kembali melanjutkan belajar ku yang tertunda.

Aku menggosokkan kedua tangan ku kala udara dingin berhasil masuk lewat jendela yang baru saja aku buka. Aku dapat nerasakan dinginnya menjalar ke seluruh tubuh dan… well, aku menyukainya. Apalagi saat udara dingin itu menusuk hidung ku, rasanya begitu menyenangkan. Hal pertama yang kulihat setelah membuka jendela adalah rerumputan hijau dengan tetesan air yang masih bersarang. Kemudian mata ku menangkap pohon-pohon di sekitar rumah basah akibat air hujan. Meski hujan telah berhenti, namun tetesannya masih terdengar di telinga ku. Bersamaan dengan itu, telinga ku terhipnotis dengan suara anak kecil yang lamat-lamat muncul dan melewati rumsh-rumah tetangga. Ada sekitar empat sampai lima anak kecil yang lewat dengan membawa sepeda. Hal itu kembali mengingatkan ku pada kenangan masa kecil ku bersama Junmyeon, kakak ku. Well, bukan itu saja, setelah beberapa anak kecil tadi melewati rumah ku, mata ku kembali terpanggil kala dua anak kecil melintasi rumah ku dengan berlarian. Yang satunya perempuan dengan rambut terjalin dua sementara yang satu lagi adalah anak laki-laki tampan dengan rambut pirang. Beberapa saat kemudian. aku agak terkesiap kala melihat anak perempuan itu jatuh tersungkur di atas aspal jalanan. Melihat hal itu si anak laki-laki tadi menghampiri si anak perempuan sembari menyebut namanya.                                                                                                                        

Jujur saja, ini membuat ku memutar memori enam belas tahun lalu saat usia ku lima tahun dan usia Junmyeon sembilan tahun. Waktu itu aku hanya bermain kejar-kejaran di halaman belakang bersama kakak ku, karena struktur tanah yang licin akibat bekas hujan, aku pun jatuh tersungkur  di atas beton. Malangnya lagi, lutut serta tangan ku mengeluarkan darah begitu banyak hingga meninbulkan bekas di tempat aku terjatuh. Karena ketakutan, aku pun menangis sejadi-jadinya. Aku dapat mendengar Junmyeon memanggil nama ku beberapa kali, aku dapat merasakan suaranya yang begitu mengkhawatirkan ku.

“Jisoo!”  Ia memegang tangan ku, “kamu masih bisa jalan, kan?”

Aku tidak menyahut, aku masih menangis.

“Aduh! bagaimana ini ya?”  Aku dapat mendengar suara Junmyeon yang was-waa. “Jisoo, ayo kita cari ibu supaya luka mu di obati. Mau, ya?”

Aku tersenyum saat mengingat kejadian itu. Aku ingat bagaimana ia berjongkok di hadapan ku dan menggendong ku untuk menemui ibu. Ya ampun, aku merasa hal itu baru saja terjadi dan sekarang…..

Dan sekarang kita sudah tumbuh menjadi dewasa.

Rasanya baru kemarin aku dan Junmyeon menunggu bus sekolah di halte dengan menggunakan jaket kuning yang baru kami beli. Bukan itu saja, rasanya baru kemarin kami bermain di halaman belakang rumah. Rasanya baru kemarin terjadi dan sekarang kita sudah tumbuh menjadi orang dewasa. Dulu aku bertanya pada Junmyeon apa yang ia lakukan setelah dewasa dan ia bilang ia ingin membuatkan ku rumah pohon. Selain itu, ia juga akan memasakkan makanan untuk ku di dalam rumah pohon.

Saat ia balik bertanya aku malah menjawab hal-hal yang menggelitik hingga ia terbahak.

“Aku ingin tinggal di dalam istana kristal seperti di film barbie itu dan Junmyeon oppa jadi pangerannya.”

“Kalau aku jadi pangerannya, kamu jadi apa?”

“Tentu saja aku jadi putrinya, oppa!”

“Bukan kah putri harus punya pasangan seperti di film yang kamu tonton itu?”

Aku menghelas napas waktu itu, “kau pasangan ku oppa. Kan kita tinggal bersama nanti.”

“Tapi aku tidak mau.”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku punya putri yang lain.”

“Siapa?”

“Kamu tidak perlu tahu siapa.”

“Baiklah, kalau begitu aku akan membuat laporan pada ibu.” Saat itu aku langsung mencari ibu ku ke dapur. Sementara Junmyeon memanggil-manggil nama ku dan mengejar ku.

Well, itu sepenggal dari segudang kisah kecil yang aku dan Junmyeon lalui. Aku kembali merindukan kenangan lama bersama kakak ku. Sungguh, aku benar-benar merindukan guyonan juga cara dia memanggil nama ku.

Aku masih berada disini, di dekat jendela kamar. Dan aku masih memfokuskan pandangan ke depan. Namun, pikirku belum kembali dari jelajah mesin waktunya. Pikir ku terus saja mengulang kejadian belasan tahun lalu, mengulang masa kecil ku bersama Junmyeon.

Walau kisahnya sederhana, tapi menimbulkan kesan tersendiri dalam benak ku. Hingga membuat ku mengingatnya tiap detik waktu yang berputar.

Suara ketukan pintu itu, mendadak membuat ku terkesiap. Aku lantas menoleh dan mendapati Junmyeon membuka pintu. 

Oppa.” Gumam ku sembari melangkah pelan, menghampiri Junmyeon.

Oppa.” Aku langsung memeluk kakak ku.

Junmyeon pun membalas pelukan ku, ia sepertinya tahu bahwa aku sedang merindukannya. Ia mengelus rambut ku, ia juga menyenderkan dagunya di puncak kepala ku.

Oh, demi Tuhan, aku merindukan masa kecil ku.

Semuanya terlampau begitu cepat. Sampai-sampai pikiran ku melalang buana kala memikirkan  masa depan.

Yang aku tahu sejak kemarin hanyalah segalanya telah berubah. Siapa sangka pergantian tahun yang begitu cepat membuat ku lupa bahwa saat ini aku dan Junmyeon sudah dewasa. Dan sebentar lagi kami punya kehidupan masing-masing.

“Ayo ke bawah! Tadi aku baru membeli pancake kesukaan mu.”

Well, meskipun segalanya telah berubah, namun ingatan dia tentang ku juga ingatan ku tentang dia tidak akan pernah berubah.

 

 

.fin

Advertisements

3 thoughts on “Everything Has Changed

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s