Something About You [Chapter-6]

SOMETHING ABOUT YOU  7

By. Mochaccino

Cast . Song Minho feat Bae Jun Hyeon aka. Bae Irene

Support Cast. Nam Taehyun and other

Genre. Romance

Rated.  PG-17

.

.

.


 

 

Suara dari air yang jatuh dari langit menghantam bumi dan mengalir entah kemana seperti perasaan Irene yang terseret alirannya. Kenapa hari ini langit terlihat mendung.  Kenapa harus hujan dan membuat rencananya sedikit tertunda. Gadis cantik itu keluar dari mini market. Dia memutuskan untuk berbelanja karena dia sudah tidak memiliki apapun di lemari esnya. Parahnya kenapa dia lupa membawa payung.

 

Berdiri di depan pintunya bersama beberapa orang yang tidak dikenalnya. Mereka sama terjebak dalam deras hujan pagi ini. Apakah Mino menyadari kalau dia tidak ada di sampingnya, terlebih di atas ranjangnya.

 

Sedikit dingin namun tidak terlalu dipikirkannya.  Gadis ini tersenyum pada kaki-kaki hujan. Tatapannya menerawang pada kaca jendela apartemennya di seberang jalan. Mino pasti masih terlelap.

 

Ponselnya bergetar di dalam saku jaketnya.

 

“Kau di mana ?” suaranya sedikt serak. Dia pasti sudah Minoun dan berkeliaran di dalam apartementnya tanpa pakaian.  Irene tersenyum.

 

“Di seberang jalan. Di depan mini market. Kau pasti bisa melihatnya dari jendela. Aku terjebak hujan.”

 

Dia melihat ke arah jendela apartemennya, melihat bayangan Mino di atas sana.

 

“Aku akan menjemputmu.”  ujarnya lalu menutup ponselnya.

 

Beberapa menit kemudian dia sudah terlihat di seberang jalan dengan gym-suit dan payung. Satu buah payung berukuran cukup besar.

 

Irene melambai padanya sebelum akhirnya sosok tinggi itu tepat berada di hadapannya.

 

“Kenapa aku seperti kehilangan dirimu saat tidak melihatmu di sisiku ?”  Mino merengkuh bahu Irene dan membawanya berjalan.   Apa-apaan ini? Semacam rayuan atau gombalan. Irene menyimpan senyumnya. Pria kaku ini ternyata bisa juga memainkan perasaannya.

 

 

Mereka berjalan sambil menikmati kaki-kaki hujan yang menerjang langkah mereka.

 

 

“Kau masih tidur, dan aku tidak punya kegiatan. Kupikir akan lebih bagus, jika aku memasak, tapi aku tidak menemukan apapun di lemari esku. ”

 

“Ya, itu bagus. Akupun lapar. ” sahutnya

 

“Apa kau menyukai masakanku?”

 

“Aku akan mencoba untuk menyukainya. Aku tidak terbiasa dengan makanan yang biasa-biasa saja. ”

 

Irene tersenyum.

 

“Kau memang bukan manusia biasa. ”

 

Lagi, Mino mengacak rambut Irene ketika dia menutup pintu apartemen dan membiarkan gadis itu ke dapur.

 

Sebentar dia melihat hujan di luar sana.

 

“Aku rasa aku akan menemuinya.”  suaranya lebih terdengar seperti gumaman. Irene hanya melihat sekilas sebelum akhirnya dia sibuk dengan kegiatannya.

 

Apa yang sedang dipikirkan Mino, dan siapa yang akan ditemuinya.

 

Natasha ?

 

Jesica ?

 

.

.

 

 

 

 

Irene menyiapkan sarapan dengan wajah berseri. Dia menanti Mino yang sedang mandi. Entah kenapa pagi ini rasanya begitu indah dan cerah. Membayangkan kemesraan mereka tadi malam membuat wajah Irene merona tak karuan. Dia melihat kembali wajahnya di cermin, sekedar memastikan bahwa dia sudah merias wajahnya dengan baik.

 

Ponsel Mino menyala, dan Irene melihat ke arah kamar mandinya. Kekasihnya itu masih di dalam sana menikmati acara mandinya, sedangkan ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar.

 

Apakah Irene harus mengangkatnya?

 

Sebentar dia melihat seseorang yang menghubunginya. Jesica. Wanita itu pasti ingin berbicara masalah Young Ran. Irene tidak yakin untuk mengangkatnya. Dia tidak ingin ikut campur dalam urusan mereka.  Meskipun Mino pernah memintanya, dia hanya bisa memberikan saran.’ Selebihnya Mino yang menentukan.

 

 

 

Captured. Mino sedang memandangi sosok yang selama ini membuatnya seperti mahluk bodoh yang mencari jati diri. Wajah yang dibungkus oleh lukisan kelicikkan dan insting animal itu merogoh sebagian kekuatan hati Mino.

 

Tangan yang terlihat santun tertumpang di tangan sebelahnya dengan attitude tertata membaut Mino gerah. Dia wanita yang sangat anggun dengan mata setajam elang. Sebuah sikap yang terlalu menuntut. Mino mendengus dengan sebuah pemikiran, bahwa bahasa tubuh yang digunakan Jesica untuk merangkum kembali hatinya akan berakhir nihil. Mino sudah bosan dengan aturan dan metode palsu.

 

“Selama ini kau tidak memikirkannya, lalu kenapa kau tiba.tiba muncul dan menginginkan dia.”  Mino mengawali dengan sebuah sarkasme.

 

“Aku memerlukan karirku yang sudah kurancang sebelum aku hamil. ”  jawaban itu seolah-olah ingin memojokkan Mino. Kehamilan Jesica merupakan sebuah penghalang untuk menjalani karirnya sebagai model.

 

“Natasha yang memutuskan untuk mengasuh Young Ran.”

 

“Kaupun tunduk pada kuasanya.”

 

“Dia kakakku.”

 

“Apakah kau tidak meginginkan Young Ran ?”  Jesica menangkat alisnya.

 

“Kau ?”  balas Mino

 

“Aku seorang wanita yang telah menjadi seorang ibu.”

 

“Sepertinya hal itu terhapus dari memorymu. Kau meninggalkannya di panti asuhan seolah-olah dia tidak mempunyai keluarga!”

 

“Aku hanya menitipkannya, dan tidak aku duga bahwa Natasha akan mengambilnya.”

 

“Bagaimana jika Natasha tidak mengambilnya, apakah kau akan tahu bahwa Young Ran akan dalam kondisi baik atau tidak ?”

 

Jesica memalingkan wajah dengan dengusan

 

 

“Kau sudah tidak mencintaiku lagi ?”  tanya Jesica dengan  tatapan menuntut.

 

“Siapa yang meninggalkanku ? Siapa yang membuat masalah denganku ?”  Ucapan Mino terdengar begitu tajam. Jesica mengulas senyum pahit.

 

“Aku hamil, dan aku sangat membenci sekali diriku saat itu. Kehamilan itu membuatku terpuruk. Semua kontrak yang telah kutandatangani batal. Aku berniat untuk mengaborsi Young Ran, tapi kuurungkan.”  Jesica kengambil rokok dari dalam tasnya.

 

Wae?”  Mino bertantanya tanpa ekspresi.

 

“Aku mungkin membutuhkannya sebagai senjataku untuk menghadapimu.”

 

“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu ? Aku bahkan tidak pernah tahu mengenai kehamilanmu. Seseorang mengatakan bahwa kau hamil. Temanmu. Aku tidak tahu apakah dia dekat denganmu, namun dia mengatakan dengan jelas bahwa kau hamil, dan itu pasti anakku. ”  Mino menghempaskan punggungnya di sandarkan pada kursi. “Kau sangat mengerikan. Apakah aku sama sekali tidak berarti ?” lanjutnya.

 

“Kau terlalu sibuk dengan duniamu. Kau sama sekali tidak mempunyai kehidupan. Seolah-olah semua yang kau lakukan hanya untuk Natasha, dan novelmu. That ‘Shit’ Novel of yours is so pathetic! ”  Matanya terantuk dalam geram. ” Semua jadwal hidupmu bahkan tidak mencantumkan hidupku di dalamnya, apalagi jika ada Young Ran. Kau pun mengerikan, Oppa!’

 

“Kupikir kau siap dengan hidupku yang seperti itu.”

 

“Lalu siapa dia?”

 

Mino mengernyit.

 

“Dia yang sekarang selalu menjadi bayang-bayangmu. Bahkan dia sanggub merubah kebiasaanmu ?’

 

“Irene.”

 

“Apakah kau mencintainya ?’

 

Mino hanya menatap Jesica denga serius. Dia tidak perlu menjelaskan apapun mengenai Irene pada wanita di hadapannya. Mengenai perasaan cintanya juga kehidupannya yang sekarang bersama Irene bukanlah hal yang ingin dibahasnya saat ini.

 

“Kembalikan Young Ran. Dia sudah berada di bawah tanggub jawabku saat ini. Di dalam akte kelahirannya, sudah tercantum namaku sebagai single daddy yang akan selalu ada untuknya.”

 

“Ya, tentu saja. Natasha yang melakukannya.”

 

“Jadi untuk apa kau bersikeras ingin membawanya. Bukankah kau akan sibuk dengan karirmu sebagai model?”

 

“Aku sedang beristirahat.”

 

“Berapa lama?  satu minggu? Lalu Young Ran akan kau buang lagi?”

 

“Diapun tidak berada dalam pelukanmu.”

 

“Aku tidak pernah tahu. Tapi sekarang setelah aku mengetahuinya, aku tidak akan tinggal diam.”

 

“Apakah kita tidak bisa bersama lagi ?”  Jesica masih berharap.

 

“Aku rasa aku sudah kehilangan semua rasaku untukmu. ”

 

 

“Jika kau memutuskan untuk bersama Irene, maka aku tidak akan memberikan Young Ran.”

 

BRAKH

 

Mino mengebrak meja, semakin kesal dengan semua tingkah Jesica. Kenapa sekarang wanita itu mencoba untuk mengaturnya.

 

“Aku akan mengusahakan segala cara untuk mengambil kembali Young Ran.”

 

“Aku akan membawanya ke Jepang.”

 

“Kita lihat saja nanti !”  Pria ini berdiri dan menggeser Minokunya ke belakang dengan kasar.

 

.

.

.

 

 

 

Selepas semua yang dilakukan Mino, Irene mempunyai rencana sendiri untuk membantu kekasihnya itu. Dia sudah menegaskan pada dirinya sendiri bahwa apa yang akan dilakukannya semata untuk membuat Mino merasa lebih baik.

 

Irene duduk di hadapan Taehyun, sementara itu tatapannya serius memberikan pengertian.

 

“Aku akan segera melakukannya.”  ujar Namja berwajah manis itu. Dia mengulum bibirnya dengan seksi. “Kenapa tidak.”  Lanjutnya.

 

“Usahakan agar semua ini tidak menimbulkan kecurigaan. Aku hanya meminta kalian mengikuti Jesica. Aku tidak menyuruh kalian untuk melakukan tindakan apapun.”

 

“Kenapa dia muncul kembali di saat kau dan Mino sedang menikmati masa-masa kebahagian kalian.”  Pria itu berdecak heran.

 

“Mereka punya masalah yang belum terselesaikan.”

 

‘Kenapa Mino tidak melakukannya sendiri. Dia bisa mengambil anaknya sendiri, atau melaporkan semua ini pada polisi. Natasha pun bisa melakukannya.”

 

“Mino sudah meminta Natasha untuk tidak mencampuri hidupnya lagi.”

 

“Dalam khasus ini,  MIno masih terlihat sangat mengerikan.”

 

“Dia sangat dominan. ” Irene membela

 

“Apakah Jesica sengaja hadir untuk memisahkan kalian .”

 

“Kurasa dia hanya mencari sensasi.”  Jawab Irene ragu

 

“Dia sudah hidup dengan nyaman, bebas, dan karirnya sebagai model juga tidak buruk, walaupun dia bukan model terkenal. Tapi setidaknya dia bisa eksis.” Timpal namja itu sembari mendegus halus.

 

“Kurasa dia masih mencintai Mino, atau entahlah kenapa aku sama sekali tidak mempercayai masalah perasaan itu. Mereka, maksudku, Jesica, Natasha dan Mino saling berhubungan . Aku rasa seperti itu.”  Irene mengangguk kemudian berdcak bingung. Kebencian Natasha pada Jesica itu tidak mempunyai dasar yang kuat, kecuali ada sesuatu diantara mereka sebelumnya, atau mungkin sampai detik ini mereka masih menyimpan dendam.

 

Irene berdiri, dan akan menemui Natasha siang ini. Ada pekerjaan yang harus dilakukannya. Kedua mahluk namja itu saling menatap.

 

“Kami akan melakukannya bergantian. Kau tahu aku harus berada di sini.”

 

“Aku mengerti. Kalau kalian sempat saja. Aku hanya ingin tahu apa yang dilakukan Jesica pada Young Ran. Apa dia mengurus Young Ran dengan baik atau tidak.”

 

“Aku sungguh bersemangat sekali, kita akan bermain detektif-detektifan.” ujar pria itu sambil mencubit kedua pipi kekasihnya.

.

.

.

 

 

Mino meneleponnya ketika Irene sedang berdiskusi mengenai budget operational perusahaan Natasha untuk bulan Juli. Dia sedang memesan beberapa perlengkapan untuk dekorasi ruang peraga di studio milik Natasha. Irene terpaksa keluar sebentar dari ruang meeting untuk menerima panggilan Mino.

 

“Kau di mana ?”  tanya Mino

 

“Di kantor. Kenapa? Apa kau merindukanku?”  tanya Irene ganti

 

“Aku sedang merancang cover untuk novel terbaruku. Apakah kau bisa membantuku?”

 

“Kapan ?”

 

“Kapan kau senggang ?”

 

Irene melirik jam dinding di ruang kantornya.

 

“Jam empat.”

 

“Aku akan menjemputmu.” ujar Mino

 

Oppa, apa kau menerima kabar dari Jesica?”

 

“Dia masih di Korea.”

 

“Bagaimana dengan Young Ran ?”

 

“Dia masih bersamanya.”

 

“Baiklah. Kita ketemu nanti jam empat.”  Irene menutup ponselnya ketika melihat Natasha mendekat.

 

“Apakah itu adikku ?” tanya Natasha

 

“Ya. ”

 

“Dia itu bodoh membiarkan Jesica mengambil Young Ran.”

 

“Dia hanya memberi kesempatan pada Jesica untuk menjadi seorang ibu.”

 

“Apa kau ingin dia kembali pada Jesica?”

 

“Mino mempunyai pendirian sendiri. Aku rasa dia tidak akan sebodoh itu. Memberi kesempatan pada Jesica sama saja dengan bunuh diri.”

 

“Aku sungguh tidak mengerti dia. Kalau aku, mungkin aku sudah memenjarakannya saat ini. Sayang Mino melarangku bertindak. Aku sungguh kesal padanya.”

 

“Manusia mempunyai pemikiran sendiri-sendiri. ”

 

“Ya. Kau benar. Aku justru berpikir untuk membunuh Jesica.”  Ujar Natasha denga alis terangkat. Itu sungguh mengerikan.

 

Irene hanya tertawa, mencoba mencandai kelakar Natasha mengenai rencana pembunuhan untuk Jesica.

 

“Kau pikir aku bercanda?”

 

Irene terdiam. Apakah Natasha sungguh segila itu?

 

.

.

.

 

 

Irene menemui Mino di sebuah caffe. Bukan caffe biasanya, dia sedikit terlambat ketika Mino memghadiahinya sebuah cemberutan. Irene berdiri di depannya dengan senyum polos.

 

Mianhae !” ujarnya.

 

“Duduklah !”  titah si ganteng ini, mengingatkan Irene pada perangai aneh Mino beberapa waktu dulu. Sikap dominan dan arogant it masih belum hilang sepenuhnya.

 

“Aku sedikit terjebak dengan pekerjaanku, Oppa.”

 

“Kau sudah makan ?”  Mino tidak menanggapi penjelasan Irene justru menawarinya makan.

 

“Ya. Sudah, beberapa biskuit dan permen.” jawab Irene

 

“Itu bukan makan. Pesanlah sesuatu !” ujarnya lagi.

 

“Aku tidak lapar.”

 

“Bukan untukmu. Untukku. Kau pikir aku tidak lapar. Menunggumu selama ini, dan berpikir mungkin kau belum makan jadi kita bisa makan bersama tapi malah kau tidak mau di ajak makan. Apa itu sikap yang menyenangkan?.”  Mino menggerutu seperti nenek-nenek, membuat Irene gemas-gemas otokeh.

 

“Kupikir kau tidak akan berselera dengan menu caffe.”

 

“Salahkan saja dirimu yang membuatku mau memakan makanan sampah itu!” Yeah, what is this, menyalahkan Irene lagi. Mino mengeluarkan beberapa sample cover yang telah diajukan padanya.

 

“Kau menulis apa ?” tanya Irene.

 

“Pembunuhan.”

 

Irene mengerjabkan matanya. Kenapa hari ini dia dikejutkan dengan kata pembunuhan. Irene menatap Mino lekat-lekat.

 

“Kenapa ?”  Mino Menjentik kening Irene.

 

“Apa kau pernah berpikir kalau Natasha ~ ”  Irene mengurungkan untuk melanjutkan kalimatnya. Mungkin hanya kebetulan saja.

 

Mino menghampiri Irene dengan sebuah tatapan menggoda. Tidak biasanya Mino bersikap mesra di depan umum. Irene banhkan merasa sedikit risih ketika Mino mengusap jemarinya.

 

“Sepertinya Natasha sudah berhasil ” Bisik Mino. Dia sudah duduk di sebelah Irene. Tubuhnya yang berpostur tegap itu miring dan menguasai Irene, bahkan tangan kanannya ditumpangkan di paha Irene dengan sengaja. Ekspresinya masih sama, tanpa kesan manis, namun sangat menantang. Irene sudah memahami Mino, dia bisa menerima sikap itu tanpa merasa keberatan. Namun,

 

“Sssst!”  Irene berdesis untuk mencegah Mino bersikap lebih agresive.

 

“Tiba-tiba saja aku merasa ingin.” ujarnya sambil memperbaiki posisi duduknya. Beberapa pasangmata memperhatikan hal itu. Dia berdehem dan duduk dalam posisi tegak kembali.

 

“Nanti saja, jika kita sudah di apartement. Lagi pula kenapa kau mengajakku ke sini. Semua ini kan bisa kita omongkan nanti.”

 

Mino merengut. Dia melirik sambil mengeraskan rahangnya. Bibirnya sangat menggoda. Irene tersenyum sendiri dengan tingkah Mino yang kesal.

 

“Aku mengajakmu berkencan, malah seperti ini sambuanmu?”

 

“Mianhae! Baiklah, kita selesaikan makanmu, lalu kita pulang. ”  Irene mencubit lengan Mino .

 

“Aku hanya sebentar, setelah itu kita akan menemui Jesica.” ujarnya.

 

“Jesica?”  Irene mematung di tempat duduknya. Mengitari setiap lekuk paras Mino yang sepertinya merasa biasa-biasa saat dia menyebutkan Jesica dari bibirnya. Apa Mino tidak salah ucap.

 

Menemui Jesica.

 

“Kau pasti tidak mau.” Mino menyelidik

 

“Bukan. Aku bukan tidak mau. Tapi kenapa?”

 

“Dia masih berada di rumah orang tuanya. Kupikir, kenapa tidak jika aku ke sana, dan memintanya baik-baik.” ujar Mino

 

“Ya.”  Irene hanya menyambut sekilas. Dia masih belum fokus dengan jawaban itu.

 

“Aku tidak memaksamu.” ujarnya lagi.

 

Irene memegang beberapa contoh cover yang akan di pakai Mino untuk novelnya. Semua terlihat bagus. Memang sangat sulit untu menentukan, namun jika genrenya adalah pembunuhan seperti yang Mino katakan, maka Irene tidak punya pilihan yang berarti. Baginya semua cover itu bisa di pakai.

 

“Kau bisa memakai semuanya.”  Irene bergumam.

 

“Kau tidak mendengarku?”  Mino mengambil sample cover itu.

 

“Aku akan ikut denganmu. Kau jangan khawatir.”  Irene menyambut ajakan Mino dengan yakin.

 

Mereka saling menatap. Suasana di caffee semakin redup. Sedangkan di luar sana langit sudah kehilangan cahaya. Irene larut dalam alunan music bosanova yang lembut menyapa telinganya.

 

“Apa kita sejalan, karena sepertinya kau tidak menyukai apa yang aku ingin lakukan?” Mino menggenggam jemari Irene.

 

Sebuah desahan keluar dari bibir seksi itu.

 

“Aku terkesan dengan sikapmu. ” Irene tersenyum.

 

“Apa aku salah jika aku ingin melihat anak itu. ”

 

“Tidak. ”

 

Irene mengambil ponselnya yang bergetar. Si penelepon adalah Taehyun. Dia pasti memberikan khabar mengenai penyelidikannya.

 

“Jesica dalam perjalanan ke Bandara. ” ujarnya

 

” Kau di mana?”

 

“Aku berada di belakang mobilnya.”

 

“Apa dia membawa anak itu?”

 

“Siapa?”

 

“Anak?”

 

“Tidak. Dia sendiri.” jawabnya yakin.  Irene melirik Mino yang memperhatikannya.

 

“Jadi dia sendiri.”

 

“Sebaiknya kita harus cepat – cepat ke rumah Jesica. Karena menurut Taehyun, Jesica sudah berada di Bandara saat ini. Dia pergi. Sendiri, tanpa anak itu. ” tegas Irene dengan mata tajam.

 

Mino berdiri, dia merapikan semua barang-barangnya dan mengambil jaketnya, lalu berjalan lebih dulu meninggalkan meja, membuat Irene berdecak heran dan menggelengkan kepalanya.

 

“Tunggu aku !” teriak Irene sedikit kesal.

 

 

.

.

.

 

 

Mobil melaju dengan sangat cepat di jalan raya. Semua yang terlihat di depan seperti sebuah hambatan, Mino tidak sudi melihat ada satupun mobil di depan mobilnya. Dia menginjak gas dan berjalan sedikit brutal tanpa mengindahkan jeritan klakson daripara mobil di sekitarnya.

 

“Kau menyuruh orang untuk memata-matai Jesica?” tanya Mino dengan konsentrasi penuh ke arah jalanan

 

“Maaf. Aku hanya ingin membantumu.”

 

“Aku akan memberikan rewardnya nanti saat kita kembali ke apartement. ” Begitu yang Mino katakan. Irene tercengang. Apa maksudnya memberikan reward.

 

Oh Tuhan!

 

Wajah Irene memerah setelah menyadari cengiran di bibir Mino menyapanya. Apakah dia merasa senang karena Irene sudah membantunya. Irene menunduk malu.

 

“Aku tidak menyangka kau diam-diam perduli dengan khasus yang menimpaku.”

 

“Kau adalah kehidupanku sekarang.”

 

Mino menoleh. Namun Irene menepuk pundak Mino agar namja itu tetap melihat ke depan. Jalanan sudah beralih pada jalur yang lengang, sebuah daerah dengan alur-alur jalan yang pendek dan banyak tikungan yang tajam.

 

“Kita berhenti di sini, karena tidak memungkinkan untuk masuk lebih dalam. Lagipula rumahnya tidak terlalu jauh. ” ujarnya ketika mobilnya berhenti di pinggir jalan.

 

“Oke.”

 

Mino keluar dari mobilnya dan menyusuri jalan setapak menanjak. Ada beberapa lampu di pinggir jalan yang menerangi perjalanan mereka. Sepertinya sangat menegangkan. Apa yang akan dilakukan Mino ketika dia melihat anaknya.

 

Dia tidak banyak bicara. Sepertinya Mino sedang memantapkan hatinya. Mungkin juga dia gelisah dan nervous. Wajah anak yang selama ini begitu membuat hidupnya tegang.

 

“Kita sudah sampai.” ujarnya lagi.

 

Sebuah pagar yang sederhana, dari sebuah rumah yang sederhana pula. Mino menekan bel di dinding sebelah kanan dekat dengan papan nama yang bertuliskan nama keluarga yang menempati rumah ini. Cho Jin Wook.

 

Seorang wanita keluar dari dalam rumah. Dia berjalan dengan anggun ke arah pagar. Ada raut kaget ketika dia melihat Mino beridir di depan pagar rumahnya. Namun dia  mengangguk dan melanjutkan langkahnya menemui Mino.

 

Suara dari deritan engsel pintu pagar semakin membuat Mino gugup. Mereka saling menatap sebentar.Suasana redup sedikit menyamarkan wajah Mino yang bertemperament keras.

 

“Jika kau ingin bertemu Jesica, dia sudah pergi.” ujarnya.

 

“Saya tidak mencarinya.”

 

Wanita itu mengangguk lagi.

 

“Young Ran ?” selidiknya.

 

Mino mengangguk.

 

Wanita itu terdiam. Dia menoleh ke arah rumahnya, kemudian kembali memperhatikan Mino dengan berat.

 

“Masuklah. Akan kujelaskan padamu hal yang sebenarnya.”

 

“Apakah Young Ran di sini ?” tanya Mino antusias. Wanita itu tidak menjawab, dia menyuruh Mino masuk ke dalam rumah.

 

“Duduklah!” ujarnya mempersilahkan Mino duduk.

 

“Kenapa dia mendadak pergi ?” tanya Mino

 

“Dia bersama seseorang yang mengajaknya pergi. Mereka bertengkar hebat. Sejak kepulangan Jesica dari Jepang, orang itu selalu datang.”

 

“Siapa?” tanya Mino

 

“Seorang pria.” jawab Ny. Cho.

 

“Pria?”  Mino menoleh Irene yang memberikan tatapan bingug.

 

“Di mana Young Ran?” tanya Mino langsung karena hanya hal itulah yang menarik Mino untuk datang ke rumah ini.

 

“Pria itu membawanya.”  jawab Ny. Cho

 

Mino terkulai lemas di sandaran sofa, sementara Irene tergugu dengan bantin hancur melihat Mino yang seakan-akan hilang dalam kekecewaan. Namun siapa pria yang di maksud oleh Ny. Cho. Kenapa begitu mengatur kehidupan Jesica.

 

 

 

 

“Apa kau tidak tahu kalau anakku menjalin hubungan dengan pria yang sudah menikah. ” Wanita itu mengatakannya dengan raut sedih. Rasanya berat baginya menerima kondisi putrinya.

 

”Pria dari wanita itu yang datang ke sini, mengambil anak mereka yang sudah di sembunyikan istri dari pria itu.”

 

”Siapa?”

”Natasha. Wanita itu bernama Natasha, dan pernah datang untuk memaki putriku, bahkan berniat membunuhnya jika dia tidak segera meninggalkan keluarganya, dan juga seseorang bernama Mino.”

 

”Itu aku.”

”Benarkah?”

”Ya, aku Mino, aku adik dari Natasha, dan Jesica dulu kekasihku, tapi dia menghilang dengan kondisi kehamilannya yang kupikir itu adalah anakku.”

 

”Tidak, bukan! Itu adalah anak Jesica dari pria itu.”

”Pantas saja Natasha begitu  membenci Jesica.”  ujar Irene mengerti

 

Mino menggenggam tangan Irene erat. Dia benar-benar mendapatkan kejutan hebat kali ini.

 

 

“Terima kasih atas penjelasannya, Nyonya.”  Irene berjalan menyusul Mino yang lebih dulu pergi meninggalkan rumah.

 

Sekarang apa yang ada di dalam hatinya. Apakah kecewa karena ternyata dia tidak bisa melihat anak itu, yang ternyata bukan anaknya.

 

Mino merengkuh Irene berjalan.

 

 

“Aku hanya merasa lega, karena ternyata aku tidak punya anak, tapi aku sungguh marah pada Natasha. Dia benar-benar membuat hidupku kacau. Jesica pasti sengaja mendekatiku untuk membuat Natasha bertambah kesal.”  jawabnya.

 

“Mereka, maksudku Natasha dan Jesica. Mereka berdua yang membuat hidupmu kacau. Seharusnya dia mengatakan saja padamu, jika suaminya berselingkuh dan mempunyai anak, tidak berbohong dan membuat seolah-olah ini adalah kesalahanmu.”

 

”Terlebih kau dan Jesica sempat bercinta.”

”Itu masa lalu.”

”Tetap saja—” Irene merengut

“Kau cemburu?” goda Mino

 

“Apa aku tidak boleh cemburu? Jesica sempat mendatangimu kemarin. Dan membuat terror tidak lucu mengenai Young Ran. Apa maksudnya menginginkanmu kembali dalam kehidupannya, padahal jelas-jelas dia tau, itu bukan anakmu.”

 

”Manusia memang punya cara berpikir sendiri-sendiri, mungkin Jesica berharap aku mau menerima dia kembali, tapi sudah ada dirimu saat ini. Aku tak bisa—”

 

”Ya, kau harus berpikir ribuan kali untuk meninggalkanku!” ancam Irena telak.

 

Mino memggandeng Irene agar berjalan lebih cepat ke mobil.

 

.

.

.

 

Setelah mereka tiba di apartemen,

 

“Kau jangan membenci Natasha.”  Mino menatap Irene yang masih bersungut-sungut kesal di sofa.

 

“Aku tidak membencinya. ”

 

“Lalu kenapa kau masih kesal?”

 

“Karena dia bersikap tidak bersalah. Itu yang membuatku kesal. Aku merasa dibohongi selama ini”

 

“Tapi aku senang karena dia menyuruhmu mendekatiku. Dia tahu hal itu untuk mengalihkan pikiranku dari Jesica.”

 

 

“Tapi aku khawatir, kelak dia akan menjadi saudara iparku jika kita menikah.”

 

“Tidak masalah,kan.”

 

“Tidak.”

 

“Apakah kau akan bekerja untuk Natasha lagi suatu hari nanti?” tanya Mino

 

“Tidak. Aku akan mencari pekerjaan lain. Relasiku banyak, dan aku tidak pernah membuat masalah dengan mereka.”

 

“Terserah kau saja.”  ujar Mino memberi dukungan.

 

“Bagaimana dengan anak itu? Apa kau akan menemuinya?”

 

“Ya, tapi sekarang tidak terlalu di buru-buru.” jawab Mino

 

”Tadinya kau berpikir, kalau anak itu penting bagimu.”

 

“Ya, tapi sekarang yang paling penting dalam hidupku adalah kau.”  Mino mendekap Irene.

 

Gadis ini memberikan senyum manja,

 

“Let’s go!” Ajak Mino

 

“Ke mana?”  Irene tersentak kaget ketika Mino hanya menarik tangan Irene.

 

Mino mematikan semua penerangan dan menggiring Irene ke kamar. Khasus di tutup. Misi Irene sudah terlaksana, bahkan menuai sukses. Misteri terpecahkan dan semua tidak menjadi ganjalan dalam kehidupan Mino.

 

“Ada misi lain dalam hidup kita saat ini.” bisik Mino sambil melepaskan satu persatu pakaian Irene. Oh ya…Irene suka dengan misi yang satu ini. Dia menyambut bibir Mino yang memagutnya dengan begitu buas, melemparkan tubuh Irene terhempas di atas ranjang, dan sebentar kemudian, menindihnya dengan tumpukan gairah.

 

 

fin.

 

 

 

Note.

Akhirnya selesai juga ya… lama sekali. FF ini remake dari FF  Jiyeon Yongguk, jadi kalo nemu nama mereka yang belum keedit, mohon maaf, khilaf! Saya sudah jarang lagi di wordpress, jadi lupa sama semua FF di sini. Untung ada yang ingetin tadi pagi.

 

 

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s