[FICLET] Hold Me Tight

 Hold Me Tight | Han Rae Hwa

Rating T | Songfic, Hurt | Jeon Jungkook (BTS) & Lee Ha Rim (OC)

Siang itu matahari tak terlihat sejak beberapa puluh menit yang lalu. Tak sedikitpun meninggalkan sepercik cahayanya. Yang ada hanya tergantikan awan hitam disertai sesekali gemuruh dari langit. Belakangan ini cuaca sedang tak menentu. Hujan kerap kali datang tanpa diperkirakan sebelumnya.

Dari luar jendela café, orang-orang yang berlalu lalang bergegas mempercepat langkahnya. Sebelum hujan benar-benar mengguyur mereka. Sementara itu, Ha Rim asik sendiri dengan milkshake cokelat favoritnya tanpa peduli cuaca buruk di luar sana. Yang terpenting ia berada di tempat aman nan nyaman. Lagi pula payung selalu ada di dalam tasnya. Jadi sedikitpun kekhawatiran tak melandanya.

Lain dari pada itu, kekhawatirannya justru tertuju pada sesuatu yang sedari tadi ia pikirkan. Ia menggigit ujung sedotan sembari larut melamunkan seseorang. Bayang-bayang akan sosok itu tak kunjung pergi. Karena baginya ia hanya dapat melihat sosok itu, hanya dapat melihatnya seorang.

“Lihat diriku.. Sekarang aku tidak bisa hidup tanpamu.” Bisiknya pada dirinya sendiri. Bola matanya memutar, melihat hujan yang secara keroyokan mengguyur kota Seoul beberapa detik yang lalu.

“Jika kau melihatnya, anggap saja hujan itu sebagai air mataku setiap kali aku merindukanmu.”

“Permisi, bisakah aku mengambil gelas kotor ini?” Seorang pelayan tiba-tiba datang yang membuat Ha Rim seketika menoleh. Ia mengangguk samar pada pelayan yang sedang memindahkan tiga gelas kosong di meja ke nampan yang ia bawa. Tinggal satu gelas berisikan milkshake yang sisa setengah.

“Apa ada menu yang ingin dipesan lagi?” Tanya pelayan itu yang hanya menerima gelengan kepala dari pelanggannya itu sebelum ia pergi meninggalkan Ha Rim.

“Hari ini hujannya membawa udara yang lebih dingin dari biasanya. Apakah hujan sengaja menghantarkan udara sedingin ini agar kau segera kembali untuk memelukku erat?” ujarnya setelah pelayan itu pergi.

‘Tolong pegang aku erat, peluk aku erat. Tolong, tolong, dan tolong.. Tarik aku dan peluk aku. Aku benar-benar membutuhkanmu.’ Batinnya meraung-raung.


Meski hujan belum kunjung reda, Ha Rim sudah memutuskan untuk meninggalkan café itu. Menyisakan setengah gelas milkshake yang tak ia habiskan. Hingga kedua kakinya berhenti di ambang pintu, ia Membuka payung berwarna transparan itu dan kembali melangkah.

Sejauh mata memandang, kota Seoul terlihat Nampak abu-abu. Dari bangunannya, jalanan yang masih dilalui beberapakendaraan dengan begitu hati-hati, serta langit yang menyembunyikan seluruh awan putih. Tebaran awan abu-abu menjadi pemandangan utama pada siang ini.

Langkahnya berhenti seketika untuk memperhatikan jam di layar ponselnya. Sorot matanya kembali meratapi langit.

“Apakah pesawatnya akan terlambat mendarat jika cuacanya buruk seperti ini?”

Tak ada jawaban yang membuat rasa penasarannya hilang. Ia memutuskan untuk kembali melangkah. Ditemani payungnya, ia terus menerjang hujan.
                                        -oOo-

Ha Rim masih terus memperhatikan jam di layar ponselnya sejak kedatangannya di bandara satu setengah jam yang lalu. Bahkan setelah memastikan, ternyata Ha Rim baru sadar kalau ia sudah menunggu selama kurang lebih dua jam.

Dari balik jendela besar, hujan pun usai turun belum lama ini. Menyisakan banyak genangan serta udara lembab. Orang-orang pun mulai berani menghambur ke jalanan.

Fokus Ha Rim kembali pada pengeras suara yang terus memberikan informasi-informasi terkini terkait keberangkatan atau tibanya pesawat. Tapi belum ada informasi mendaratnya pesawat dari New York. Ha Rim kembali menghembuskan napas kecewa sambil memejamkan mata.

“Rasanya aku tak tahan.. Menunggumu selama dua jam rasanya menjadi lebih panjang. Padahal dua tahun terakhir yang kulewati ini lebih berat dari pada itu.” Ha Rim tertawa kecut. “Mungkin aku sudah terlalu muak dengan yang namanya menunggu.”

Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, menatap ke langit-langit atap.

“Apakah penantianku ini sia-sia? Sudah hampir setengah bulan kau tidak ada kabar. Aku tidak tahu apakah aku masih berada di hatimu atau tidak. Kau selalu membuatku khawatir Jeon Jungkook.” Matanya kembali terpejam. Kali ini lebih lama.

“Kau tetap bersinar Kau masih seperti bunga yang wangi.”

Suara itu sangat familiar di indera pendengaran Ha Rim. Sontak gadis berusia 20 tahun itu membuka matanya. Dari jarak yang tidak begitu jauh, seseorang berdiri memperlihatkan senyum termanisnya di wajahnya yang imut. Pipinya yang mengembang membuat Ha Rim selalu ingin menyubitnya seperti kebiasaannya saat dulu.

Ha Rim tak bisa berkata apa-apa. Air matanya begitu cepat mengalir di kedua pipinya. Kakinya yang semula kaku kini menjadi lemas apalagi saat ia berlari menghampiri namja itu. Dipeluknya erat-erat sembari menangis sesenggukan. Jungkook membalas pelukan Ha Rim dan ikut meneteskan air matanya.

Begitu besar rindu yang menemani keseharian mereka selama dua tahun lamanya. Hingga pada hari pertemuannya kembali seluruh rindu yang menggebu meluruh seketika. Haru menyelimuti keduanya.

“Tanganmu, kehangatanmu, hatimu.. Aku ingin melihat semua. Meski hari ini langit tanpa matahari, tapi kau sudah cukup menjadi yang paling bersinar dalam hidupku. Tanpamu, aku tak bisa bernapas. Aku bukan apa-apa tanpamu.” Ujar Ha Rim masih sesenggukan. “Semuanya terasa dingin dan aku takut dengan langit tanpa awan. Jika kau tidak disni, aku hanya mayat, bagaimana bisa aku bernapas? Itu sakit, aku selalu menangis, menangis, dan menangis. Aku mulai gila, lelah tanpamu. Aku memikirkanmu tanpa henti. Aku membenci ini, aku benci setiap hari tanpamu. Membuatku selalu menangis kesakitan.” Ha Rim menumpahkan lagi segala perasaan yang terpendam selama ini.

“Jika ada kesempatan, aku akan segera menangkapmu. Aku berlari saat itu juga menghampirimu. Seperti memelukmu, seperti menggenggam mu lagi. Aku hanya dapat melihatmu. Aku hanya dapat melihatmu seorang.”

Setelah puas saling mendekap satu sama lain, mereka merenggangkan pelukan itu. Saling menatap penuh kerinduan.

“Kukira aku tidak akan lagi merasakan aroma tubuhmu yang kusukai. Aku takut.. Kau tak mencintaiku lagi.”

 

Jungkook menggeleng cepat lalu menangkupkan rahang Ha Rim di kedua telapak tangannya yang besar.

“Tak ada alasan untukku tidak mencintaimu lagi.

Jungkook melanjutkan. “Aku tahu dua tahun itu bukan waktu yang sebentar. Pasti berat tanpamu untuk menjalaninya. Jadi maafkan aku membiarkanmu larut dalam penderitaan. Juga maafkan aku yang menghilang tanpa kabar selama setengah tahun. Ada alasan mengapa hal yang tak terduga itu bisa terjadi. Tapi percayalah, setiap hari aku selalu memikirkanmu.”

Ha Rim mengangguk cepat. “Aku percaya padamu. Aku selalu percaya padamu.”

“Kembalilah percaya padaku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Pegang erat tanganku. Jadi aku bisa merasakan kehangatanmumu. ‘Genggam’ selalu hatiku.”

Keduanya tersenyum dan kembali berpelukan.
“Juga tahan hatiku selalu dalam genggamanmu.” Bisik Ha Rim yang langsung menerima anggukan kepala cepat oleh Jungkook.

“Pasti.”

Finish.

Advertisements

4 thoughts on “[FICLET] Hold Me Tight

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s