[Oneshoot] Sorry

IMG-20170130-WA0005

Scriptwriter Oyewyn. K|| Poster Designer Amy Park || Genre Drama, Romance, Fluff, and Sad||Starred CNBLUE’s Jung Yong Hwa and OC’s Song Hae Kyo || Disclaimer This is original from my mind. No plagiarsm! No Silent reader

Your last word to me, was it just ‘sorry’?

 

Angin berhembus lembut menyapu surai panjang milik seorang wanita muda yang kini sedang duduk termenung. Entah apa yang sedang dipikirkannya, akan tetapi terlihat jelas dari raut wajahnya ada rasa sedih, kecewa, dan marah.

Hhh…

Helaan napas panjang terdengar berkali-kali. Menandakan bahwa pikiran wanita itu benar-benar kalut saat ini.

“Kyo-ya, sudahlah. Pria macam itu tak pantas untuk dipikirkan. Lupakan dia.” Seorang wanita sebayanya menghampiri wanita yang akrab disapa Hae Kyo itu.

Ya, tepat sekali! Wanita muda itu sedang merasakan patah hati. Ia ditinggalkan oleh seorang pria yang dicintainya. Bukannya tenang, kini wanita muda itu malah menitikkan kristal bening cair dari sudut-sudut mata indahnya.

Hiks… hiks…” alunan isak tangis wanita itu menyayat hati setiap orang yang mendengarnya.

Wanita bermarga Song itu kembali mengingat momen menyakitkan yang baru saja dihadapinya beberapa jam yang lalu saat menghadiri pernikahan mantan kekasihnya sebulan lalu. Momen menyakitkan itu berputar dengan sangat lancar, seperti palu baja yang tengah menghancurkan hatinya menjadi serpihan-serpihan.

Flashback on

Song Hae Kyo, kini dia hanya bisa menatap datar ke arah mempelai pria yang gagah dengan balutan tuxedo hitam. Pria itu kini tersenyum lebar menyambut tamu-tamu undangan yang member ucapan selamat padanya.

Sebegitu bahagianya kah dia setelah meninggalkanku?

Dengan langkah yang sangat berat wanita patah hati itu menyeret tungkai jenjangnya ke tempat kedua mempelai itu berdiri, bersalaman dengan tamu-tamunya.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Ya, kini jarak Hae Kyo dengan mantan kekasihnya, Jung Yong Hwa hanya tersisa tiga langkah lagi. Kedua insan itu saling menatap dalam satu sama lain. Tak ada satupun yang mengetahui apa arti tatapan dua orang dewasa itu. Meskipun enggan, tapi Hae Kyo terus memacu langkah kakinya ke hadapan kedua mempelai yang sedang berbahagia itu.

“Hae Kyo-ya, mianhe. Jeongmal mianhe.” Pria bermarga Jung itu memelas memohon maaf pada sang kekasih yang kini berdiri di hadapannya dan wanita kini berstatus istri sahnya.

Wanita itu tertunduk, menarik napas panjang dan kemudian mengangkat wajahnya dan menatap kedua mempelai itu bergantian. Berpura-pura tak mendengarkan perkataan pria itu Hae Kyo tersenyum. Senyum getir yang menyiksa dirinya sendiri.

“Selamat. Selamat atas pernikahan kalian. Aku mohon berbahagialah.” Rasanya nyeri mencekat tenggorokan Hae Kyo. Wanita itu terus berusaha menahan tangisnya sambil tersenyum lebar. Tapi percayalah, senyum itu terlihat memprihatikan. Tidak ada kebahagiaan dari senyum lebar Hae Kyo.

Setelah itu, secepat mungkin Hae Kyo meninggalkan tempat itu.

Flashback Off

Wanita muda berusia dua puluh tiga tahun itu melambaikan tangannya riang ke arah sosok pria tampan yang duduk di ujung sana. Dengan semangat ia berlari kecil menghampiri prianya itu sambil menenteng sebuah kotak bekal yang telah ia siapkan sebelum datang menemui pria pujaan hatinya itu.

Oppa wasseo?

Eoh.”

“Sudah lama?”

Ani, baru sekitar sepuluh menit yang lalu.”

Hae Kyo hanya mengangguk memahami perkataan pria yang duduk di hadapannya itu.

“Ada yang ingin ku bicarakan denganmu.”

“Apa itu? Sepertinya serius. Tidakkah lebih baik jika kita makan terlebih dahulu?”

Mianhe. Jeongmal mianhe Song Hae Kyo.”

Mworago? Wae?

“Aku ingin putus denganmu.” Tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya Yong Hwa dengan berani mengucapkan satu kalimat itu.

Eoh, baiklah.”

Tiba-tiba saja pria itu berdiri dan berkata, “Mianhe.” Setelah itu ia pergi meninggalkan Hae Kyo yang masih terpaku pada posisinya.

Detik berikutnya wanita itu berdiri dan berteriak keras dengan linangan airmata di pipinya, “Oppa!

Hajima” Kali ini dia berkata dengan setengah suara, tepatnya berbisik.

Tapi pria itu tak mengindahkan panggilannya. Dia terus melangkahkan kakinya meninggalkan Hae Kyo di belakang sana dalam tangisan sepinya.

Lagi-lagi bayang-bayang itu menghampiri Hae Kyo, sekelebat memori pada hari dimana ia dan Yong Hwa berpisah kembali berputar dalam pikirannya. Menyisakan rasa sakit yang masih sama dengan hari itu. Ingin menangis, tapi dia tahu pasti bahwa tangisannya hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka.

Tanpa mengetahui alasan berpisahnya mereka Hae Kyo hanya termenung berusaha memikirkan apa kesalahan dirinya hingga pria itu meninggalkannya begitu saja hanya dengan kata ‘maaf’. Sesungguhnya, ini sangat tidak adil bagi wanita itu.

Berulang kali Hae Kyo menolak untuk mengingat pria itu, tapi selalu saja gagal. Semakin ia memberontak semakin nyata ingatan-ingatan masa lalu itu membayanginya tanpa rasa ampun. Dan yang semakin membuatnya tersiksa ialah ketika Hae Kyo mengingat masa lalu indah mereka berdua. Itu membuat Hae Kyo ingin kembali ke masa lalu.

Haruskah aku menjadi wanita jahat yang merebut suami orang? Berulang kali pemikiran itu terlintas di benak wanita berparas cantik itu. Hae Kyo… wanita itu hanya terlalu lelah untuk menangis, terlalu lelah untuk merasakan nyeri hebat di hatinya. Bisakah ia melupakan pria itu? Ya, semoga saja.

Wanita muda bermarga Song itu berjalan pelan hingga akhirnya menduduki salah satu kursi kosong di meja makannya. Bayang-bayang kebersamaannya dengan Yong Hwa di masa lalu kembali terlihat nyata.

Haaabaegopha.” Dengan wajah memelas pria yang berusia dewasa itu mengeluhkan rasa laparnya.

Baegopha! Baegopha! Begopha!” Pria itu mengetukkan berulang kali sumpit dan sendoknya ke atas meja secara bersamaan, tidak sabar menyantap hidangan lezat buatan kekasihnya saat itu.

Cha, babmokja.” Dengan kedua tangan berlapiskan sarung tangan dari kain tebal ia mengangkat sebuah panci panas berisikan sup ayam yang baru saja matang dan meletakkannya di atas meja, di hadapan pria yang sedang tersenyum dan membaui aroma mengiurkan yang berasal dari sup itu.

Tuk.

Hae Kyo memukul pelan punggung tangan Yong Hwa yang baru saja akan menyendokkan kuah sup itu.

Yya, oppa! Berdoa dulu, baru makan.” Wanita dewasa itu melotot.

Ne, eomma. Arraseo.” Yong Hwa meledek kekasihnya itu dan dilanjutkan dengan cengiran lebarnya.

Hingga akhirnya airmata kembali menitik dan bayangan itu hilang. Kini Hae Kyo hanya menengadahkan kepalanya, menyadari bahwa lagi, lagi, dan lagi ia teringat akan pria yang bahkan dengan tega meninggalkannya tanpa sebuah penjelasan.

Hae Kyo pabo! Kau harus melupakan pria keparat itu!

Hae Kyo memukul kepalanya sendiri, mengomeli dirinya sendiri yang terus menerus mengingat Yong Hwa tanpa henti tanpa mengenal waktu.

Sungguh, dia terlihat menyedihkan untuk ukuran wanita dewasa muda dengan paras cantik dan pintar.

Cling.

Lonceng pintu café yang dikunjungi Hae Kyo itu berbunyi, pertanda bahwa seorang pelanggan masuk. Hae Kyo melihat sumber suara itu, berharap yang datang adalah orang yang ditunggunya, tapi nyatanya ia salah. Entah apa maksud Tuhan, pelanggan yang datang itu justru adalah orang yang paling dihindari oleh wanita itu. Ya, dia adalah Jung Yong Hwa. Mantan kekasihnya. Di detik ia melihat pria yang masuk itu adalah Yong Hwa, Hae Kyo berharap ia bisa menghilang saat itu juga. Namun yang dapat dilakukan oleh Hae Kyo hanyalah menundukkan kepala dan memejamkan matanya. Seolah bersembunyi, berharap pria itu tidak mengetahui keberadaannya saat ini.

Cling.

Lonceng pintu café itu kembali berbunyi. Kali ini Hae Kyo tidak berharap bahwa orang yang masuk adalah orang yang ia harapkan kedatangannya. Sayangnya, Tuhan tak sepakat dengan dirinya.

“Hae Kyo-ya!” Teriakan sebuah suara baritone menggelitik rungunya.

Demi keagungan Tuhan, Hae Kyo sangat ingin mati. Ia mengeratkan pejaman matanya, berharap ia kehilangan ingatan total. Tidak mengetahui siapa Jung Yong Hwa. Perlahan pasti pasti, ia membuka matanya dan mengangkat kepalanya yang tertunduk sedari tadi.

Eoh, Jimin-ah!” Mencoba terdengar riang Hae Kyo turut melambaikan tangannya menyambut kedatangan pria itu.

Tidak, ku mohon jangan melihat kemari. Kalimat itu terus dirapalkan terus oleh Hae Kyo bagaikan doa. Sepertinya ini bukanlah hari keberuntungan wanita muda itu. Dari sudut matanya terlihat dengan jelas bahwa Yong Hwa menatap ke arahnya.

Damn! Makian itu keluar dari mulutnya.

Mwo? Kau mengatakan sesuatu?”

Ah, ani.” Senyum manis terpaksa dipasang Hae Kyo pada wajahnya.

Hae Kyo dan Jimin, masing-masing menatap ke arah buku menu yang mereka pegang, mencoba memilih menu apa yang ingin mereka santap. Namun, tiba-tiba ada siluet hitam yang sedikit membayangi buku menu Hae Kyo dari arah kirinya. Wanita itu memejamkan matanya dalam, tidak ingin mengalihkan fokusnya dari buku menu itu.

Joseonghamnida, neo nuguya?” Jimin menatap pria yang kini berdiri di sebelah Hae Kyo.

“Apa kabar?” Pria di sebelah Hae Kyo itu tak mengindahkan pertanyaan Jimin.

Hae Kyo hanya terus terdiam dengan buku menu yang sudah tergeletak di meja.

Mianhe Hae Kyo-ya. Jeongmal mianhe.

Jimin menatap dua insan itu bergantian hingga akhirnya ia mengetahui bahwa situasi ini tidak nyaman untuk Hae Kyo.

“Maaf tuan, anda siapa? Kekasih saya terlihat tidak nyaman dengan kehadiran anda.” Akhirnya perkataan Jimin dapat mengalihkan atensi Yong Hwa yang sedari tadi tak terlepas dari Hae Kyo.

“Kau kekasihnya?” Lagi-lagi Yong Hwa tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jimin.

“Ya, dia kekasihku. Jadi kumohon pergilah.” Dengan tatapan yang sulit diartikan Hae Kyo membenarkan perkataan Jimin sambil menggenggam tangan pria bermarga Park itu. Mengerti apa yang terjadi, Jimin menggeratkan genggaman tangan mereka berusaha memberikan rasa aman dan nyaman serta energi untuk temannya itu.

Tanpa banyak berkata-kata Yong Hwa meninggalkan Song Hae Kyo, meninggalkan café itu. Dan entah kenapa Jimin melihat ada rasa sedih pada pria itu ketika meninggalkan mereka berdua. Rasa sedih yang tidak disadari oleh Hae Kyo.

Sedangkan Hae Kyo, selepas perginya Yong Hwa ia menundukkan kepalanya sebentar dan kembali menatap Jimin.

“Ayo kita pulang.” Dia bangkit berdiri dan berjalan begitu saja, meninggalkan Jimin yang masih terduduk di sana.

Kehadiran Yong Hwa merusak segalanya. Baru saja mulai menyusun serpihan-serpihan hatinya, Hae Kyo kembali dipertemukan dengan pria itu dalam keadaan ini. Benteng pertahanannya runtuh hanya dalam sekali melihat pria itu. Pria yang masih belum bisa dilupakannya.

Hae Kyo berjalan di sebuah taman dengan kaos putih polos berpadu dengan skinny jeans dan sneakers favoritnya serta tas selempang kecil yang tersampir di bahu kirinya. Katakan saja dia bodoh karena nyatanya setelan pakaian yang dipakainya saat ini adalah kesukaan Yong Hwa. Yong Hwa selalu memujinya jika menggunakan setelan seperti itu. Dan hari ini ia akan bertemu dengan Yong Hwa. Kali ini atas permintaan Yong Hwa, seperti tersihir Hae Kyo menyetujuinya begitu saja. Entah mengapa ia berharap pertemuan ini pertanda baik bagi dirinya.

Memandang jauh ke depan Hae Kyo dapat melihat Yong Hwa yang telah duduk di ujung sana. Di bangku dimana mereka berpisah. Wanita itu kini menarik napas panjang, mengisi setiap alveoulus dalam kedua belah paru-parunya. Berharap oksigen-oksigen yang dihirupnya itu dapat menjadi sumber keberuntungan untuknya pada saat ini.

“Kau sudah menunggu lama, Yong Hwa-ssi?” Yong Hwa sedikit terkejut dengan sapaan itu. Tak ada lagi panggilan oppa yang tersemat untuk dirinya.

Ani, baru sekitar sepuluh menit yang lalu.” Hae Kyo sedikit mendengus. Kalimat persis sama pada hari itu.

“Ada apa?” Hae Kyo bahkan belum duduk dengan sempurna di kursinya namun langsung melontarkan pertanyaan itu.

Mianhe. Jeongmal mianhe Song Hae Kyo.” Lagi, kalimat persis sama pada hari itu terlontar dari mulut Yong Hwa

“Ku mohon berhentilah meminta maaf. Itu membuatku terlihat jahat di mata orang lain.” Tergurat rasa sakit dari tatapan Hae Kyo

Mianhe, aku hanya tak tahu harus berkata seperti apa lagi.”

“Ku bilang berhenti berkata maaf.” Kali ini Yong Hwa hanya bisa terdiam.

“Bagaimana kabarmu?”

“Tidak perlu berbasa-basi. Apa yang kau inginkan?”

Nothing, I just really miss you.” Pria itu menatap dalam netra wanita yang duduk di hadapannya.

Haruskah Hae Kyo merasa senang atas kalimat yang baru saja diucapkan Yong Hwa? Haruskah ia menyambut positif hal tesebut? Pertahanan Hae Kyo kembali goyah hanya dengan satu kalimat itu. Jantung wanita itu berdebar sangat cepat.

Plak!

Napas Hae Kyo memburu, ia menampar pria itu.

“Kau gila!”  Wanita itu tak habis pikir. Bagaimana bisa Yong Hwa mengatakan hal tersebut pada dirinya, sedangkan ia sudah memiliki seorang istri.

Hae Kyo pun pergi begitu saja dari hadapan Yong Hwa. Berjalan lurus ke depan tanpa tahu tujuannya.

Tak hanya diam, Yong Hwa berlari mengejar Hae Kyo yang berjarak agak jauh darinya. Setelah jarak cukup dekat pria itu menarik tangan mantan kekasihnya itu dan mendekapnya erat. Hae Kyo membalas pelukan pria itu meskipun tahu bahwa itu salah, ia tetap melakukannya.

Mianhe, aku kembali menyakitimu.” Yong Hwa menusap pipi wanita yang baru saja dipeluknya, mencoba menghapus airmata Hae Kyo.

Uljimayo… jebal. Melihat airmata kesedihanmu membuat hatiku sakit.”

Hae Kyo mendengus, tepatnya tertawa remeh. Entah mengapa mendengar hal itu dari Yong Hwa membuat hatinya marah. Bagaimana dia berkata seperti itu setelah apa yang dilakukannya?

“Kau gila Yong Hwa-ssi. Asal kau tahu, aku mengetahui  bahwa kau menikahi putri tunggal CEO perusahaan tempatmu bekerja itu adalah untuk memenuhi ambisimu untuk menjadi pejabat perusahaan besar. Dan sekarang kau melemparkan racun manismu itu padaku setelah apa yang kau lakukan? Kau tahu, aku tidak bodoh.” Setelah berkata demikian Hae Kyo mengerakkan kedua tungkai kakinya bergantian, melangkah pergi meninggalkan Yong Hwa.

Merasa telah berada jauh dari Yong Hwa wanita itu tersungkur di balik pohon. Membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya, berusaha menahan isakan tangis pilunya.

Na… hiks…do… boo…hiks…go..shi..peo.” Bisik wanita itu pelan di sela isak tangis menyedihkannya.

Hae Kyo kembali merajut langkah kakinya menyusuri trotoar yang cukup ramai itu. Ia menyadari bahwa belakangan ini Yong Hwa selalu mengikuti dirinya, akan tetapi ia memilih berpura-pura tak menyadarinya. Kali ini ia benar-benar bertekad untuk melupakan pria itu dan segera melanjutkan hidupnya untuk menjadi jauh lebih baik. Meski begitu tetap saja bayang-bayang masa lalunya kerap kali menghampirinya, seperti saat ini.

Malam itu adalah musim dingin, suhu kota itu mencapai minus delapan derajat celcius. Namun hal tersebut tidak menyurutkan keinginan dua manusia yang sedang penuh akan semangat cinta mereka yang masih menyala-nyala. Kedua insan yang sedang dirundung cinta itu berjalan bersama menyusuri trotoar ramai di sebuah kota besar di Korea Selatan. Mereka bergandengan tangan erat dan menggoyangkan tautan tangan itu ke depan dan belakang. Keduanya tersenyum lebar dan sesekali saling menatap satu sama lain. Tetiba saja sang pria menarik pelan tangan wanitanya itu, isyarat agar mereka berhenti sejenak. Wanita itu hanya menatap prianya dengan tatapan seolah bertanya, mengapa berhenti?

“Kau harus mengeratkan jaketmu.” Seraya pria itu membenarkan jaket yang digunakan wanitanya.

Eoh, oppa nado.” Wanita bernama lengkap Song Hae Kyo itu melakukan hal yang serupa dengan kekasihnya.

“Dan juga kupluk.” Kali ini Yong Hwa menaikkan kupluk jaket kekasihnya.

Eoh, oppa nado.” Lagi, wanita bernama lengkap Song Hae Kyo itu melakukan hal yang serupa dengan kekasihnya.

Cha! Sekarang sudah hangat.”

Eoh, oppa nado.” Wanita itu masih betah mengatakan hal yang sama, sambil menahan tawanya karena ia tahu sebentar lagi Yong Hwa akan marah padanya.

Yya! Neo! Kenapa terus mengikutiku?”

Naega? Aniya.” Hae Kyo menunjuk dirinya sendiri dan menggeleng kecil.

“Tidak mau mengaku? Baiklah kau akan dihukum penjahat cantikku.” Yong Hwa kemudian mencium bibir manis wanitanya itu di tengah keramaian.

Yya! Oppa!” Hae Kyo terpekik, terkejut akan perlakuan kekasih tercintanya itu.

“Ini tempat umum, tidak seharusnya kau begitu.” Semburat merah terlihat jelas pada pipi-pipi mulus Hae Kyo.

“Itu hukuman karena kau mengikutiku. Dasar penjahat.”

“Aku mau jadi penjahat jika hukumannya adalah dicium olehmu.”

Brak!

Sesosok tubuh manusia terhempas sekitar sepuluh meter di jalan besar kota Seoul. Ia baru saja ditabrak oleh sebuah mobil berkecepatan tinggi yang sekarang entah dimana keberadaannya. Ya, seorang korban tabrak lari.

Bau anyir memenuhi area tempat pria itu kini tergeletak mengenaskan. Darah segar membasahi permukaan jalanan dingin ibukota Korea Selatan itu. Tak ada yang berani menolong pria itu, orang-orang sibuk mengelilingi dirinya dan memotret dirinya. Kebiasaan manusia-manusia modern, tidak lagi memiliki empati terhadap manusia lainnya. Sangat mengenaskan.

Aahh.” Seorang wanita meringis merasakan sakit dari luka di siku dan lututnya. Ia baru saja terlempar ke pinggir jalan. Bukan, bukan karena di tabrak mobil sialan itu.

Sadar bahwa dirinya bukanlah korban utama, dia menghampiri kerumunan manusia itu, mencoba menerobos ke tengah lingkaran itu.

Bukan Jung Yong Hwa.

Jangan Jung Yong Hwa.

Tidak.

Bukan Jung Yong Hwa.

Orang itu bukan dia.

Ku mohon Tuhan.

Sambil melangkah mendekati korban itu Hae Kyo berdoa agar orang yang tertabrak itu bukanlah Jung Yong Hwa. Pria yang masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Hae Kyo tersungkur di dekat tubuh korban, orang itu benar-benar Yong Hwa. Pria yang menyelamatkan dirinya adalah Jung Yong Hwa, mantan kekasihnya. Sekarang, bagaimana ia bisa melupakan pria itu.

Hae Kyo mengangkat kepala pria itu, menumpukan kepala pria itu di atas pahanya. Namun, saat melepaskan tangannya, ada darah di sana. Ia segera menyadari bahwa kepala Yong Hwa mengalami pendarahan besar.

Oppa!!” Hae Kyo menangis keras berteriak.

Oppa, ireonna. Oppa, sadarlah.”

Hae Kyo sadar seketika bahwa Yong Hwa harus segera dibawa ke rumah sakit agar terselamatkan. Seseorang harus memanggil ambulan.

“Panggil ambulan!” Ia berteriak ke orang-orang yang mengelilingi mereka.

“Tolong panggil ambulan!” Kali ini dengan tatapan memelas.

“Ku mohon siapapun panggil ambulan. Pria ini harus diselamatkan.” Hae Kyo menangis dan berteriak, memohon kepada orang-orang itu.

Hingga akhirnya dia menatap ke satu orang wanita paruh baya.

“Nyonya, ku mohon tolong panggilkan ambulan.”

Dengan segera wanita itu menelpon panggilan darurat, meminta sebuah ambulan untuk segera datang ke lokasi mereka saat itu.

Tak lama kemudian sebuah ambulan datang, Yong Hwa diangkut masuk dan Hae Kyo ikut di dalamnya. Selama perjalanan wanita itu terus menggenggam tangan pria yang menyelamatkannya.

Seandainya saja aku tidak termenung.

Seandainya saja aku fokus.

Seandainya bayangan masa lalu itu tidak menghampiriku.

Seandainya saja aku melihat keadaan saat akan menyebrang.

Kalimat pengandaian terus melintas dalam pikiran Hae Kyo. Wanita itu kini terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi atas Yong Hwa.

Oppa, ireonna.”

Oppa, jangan tinggalkan aku.”

Oppa, ingat istrimu.”

Oppa, ingat Ahn Min Ji yang menunggumu di rumah.”

Oppa, oppa harus bangun.”

Oppa, aku tahu oppa kuat.”

“Ku mohon, bertahanlah.”

Hae Kyo terus berkata-kata pada pria yang tak sadarkan diri itu. Tak peduli apabila petugas itu berpikir bahwa dia sudah gila. Hanya keselamatan Yong Hwa lah yang terus ia doakan kepada Tuhan.

Sesampainya di rumah sakit, Yong Hwa segera dilarikan ke ruang operasi. Sedangkan Hae Kyo, ia juga menjalani perawatan kecil atas luka yang dideritanya sebelum akhirnya pergi ke ruang tunggu tempat Yong Hwa di operasi.

Tak lama kemudian istri Yong Hwa datang bersama dengan kedua orangtuanya. Ya, tidak ada orangtua Yong Hwa karena memang pria itu hidup sebatang kara. Kedua orangtuanya sudah lama meninggal dunia.

“Bagaimana keadaan Yong Hwa?” Ahn Min Ji, istri Yong Hwa bertanya pada Hae Kyo.

“Operasi masih dilakukan, yang bisa kita lakukan saat ini adalah menunggu dan berdoa agar dia selamat.” Hae Kyo berusaha tenang.

Kemudian Min Ji menangis dipelukan ibunya, berharap dan berdoa agar operasi selesai dengan baik dan Yong Hwa terselamatkan. Sekitar tiga jam mereka menunggu hingga akhirnya dokter yang bertugas keluar dari sana. Semua orang segera menghampiri dokter itu.

“Bagaimana keadaan suamiku?”

Mendengar kata suami yang disebutkan Min Ji membuat Hae Kyo sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa Yong Hwa. Ditambah lagi Hae Kyo menyadari bahwa Min Ji tulus mencintai pria itu.

“Pasien selamat. Hanya saja benturan keras di kepalanya menyebabkan sebuah trauma pada otaknya.”

“Syukurlah.” Semua orang menghela napas lega.

Secara perlahan Hae Kyo meninggalkan keluarga Yong Hwa dan pergi dari rumah sakit itu.

Nugu?”

Ah, dia itu wanita yang telah kau selamatkan. Oppa jjang!

Hati Hae Kyo mencelos, Yong Hwa tak mengingat dirinya.

Saat ini Hae Kyo sedang menjenguk Yong Hwa yang masih dalam perawatan ditambah lagi karena ia tahu bahwa pria itu baru saja sadar dari koma singkatnya.

Annyeonghasseo, nae ireumen Song Hae Kyo imnida.” Hae Kyo membungkukkan badannya, memperkenalkan dirinya secara formal.

“Terimakasih karena sudah menyelamatkanku. Aku tak tahu harus berbuat bagaimana untuk berterimakasih padamu tuan.” Berusaha bersikap tegar dihadapan Yong Hwa dan istrinya.

Ghamsahamnida. Jeongmal ghamsahamnida.” Berulangkali Hae Kyo berterimakasih dan membungkukkan badannya.

“Tidak perlu seperti itu. Dia, pria ini memang selalu begitu. Membantu orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri. Merasa bahwa dirinya ini memiliki banyak nyawa.” Min Ji mengeluhkan sikap baik Yong Hwa. Dengan bibir cemberut seolah tidak suka dengan Yong Hwa.

“Tapi aku mencintainya, sangat mencintainya.” Kali ini ia tersenyum dan menatap lembut pria yang terduduk di ranjang itu.

Mianhe. Jeongmal mianhe Ahn Min Ji.” Pria itu mengusap lembut kepala istrinya.

Melihat itu Hae Kyo ingin menangis, tapi ia tahan.

Kata-kata itu, perlakuan itu, dulu hanya aku yang menerimanya.

Hae Kyo mengingat masa lalunya lagi.

“Ini aku bawakan sedikit buah untuk tuan.” Hae Kyo menyerahkan sebuah kantong plastik berisi buah.

Min Ji membuka plastik tersebut, “Waah, anggur hijau. Kebetulan sekali Yong Hwa sangat suka buah ini.”

“Benarkah? Syukurlah kalau begitu.” Hae Kyo tersenyum tulus.

Ne, aku sangat menyukai anggur hijau. Ghamsahamnida Hae Kyo-ssi.” Yong Hwa tersenyum tulus.

Cheonmayo. Ah, aku harus pergi sekarang.” Hae Kyo pamit undur diri dari sana.

Eoh, geurae. Hati-hati di jalan. Terimakasih atas buahnya.” Min Ji tersenyum tulus pada Hae Kyo.

“Sekali lagi, terimakasih karena sudah menyelamatkanku.”

Hae Kyo pun pergi dari sana, meinggalkan Yong Hwa beserta istrinya. Ia bertekad untuk menjalani hidupnya kembali. Biarlah kini tersisa cintanya untuk pria itu. Biarlah kini hanya dia yang mencintai pria itu.

FINAL.

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s