[Vignette] Hoshi

                  Hoshi (Star) | Han Rae Hwa

Rating T | Romance Minhyuk (BTOB) & Aiko (OC)


Hari itu adalah pertengahan musim semi. Bunga Sakura berhamburan dimana-mana. Mempercantik setiap sudut kota Jepang yang padat penduduk. Musim dimana semua orang menikmatina bersama orang-orang terkasih. Merayakannya dengan penuh kebahagiaan.
Tapi ternyata tidak semua orang menyambut musim semi dengan penuh suka cita. Aiko misalnya. Salah satu murid SMA kelas dua yang merasa begitu sedih karena kehilangan teman laki-laki -yang sudah dua tahun terakhir ditaksirnya akan pindah sekolah. Teman yang jarang sekali berkomunikasi dengannya meski sekelas. Hanya sesekali untuk menanyakan tugas kelompok  di beberapa waktu.

Tepat hari ini, Aiko harus bisa merelakan laki-laki berkewarganegaraan Korea Selatan itu kembali ke negara asalnya. Tentu membuat Aiko jadi tak bersemangat menyambut hari yang begitu cerah. Hari terakhir dimana ia masih bisa melihat laki-laki yang terkenal dingin dan cuek namun tetap banyak digilai oleh murid-murid di sekolahnya karena ketampanannya.

Teman-teman sekelasnya membuat pesta perpisahan di taman belakang sekolah. Di sana terdapat banyak sekali pohon Sakura yang bunganya bermekaran menyelimuti taman. Kenapa diadakan di sana, karena Minhyuk –nama laki-laki itu, sangat menyukai bunga Sakura. Jika di Jepang bernama bunga Sakura, maka di Korea Selatan bernama bunga Cherry. Keindahannya sama-sama tak perlu diragukan lagi. semua mata yang melihatnya tak akan bisa melepas pandangan. Semua orang dibuat jatuh cinta oleh bunga berwarna merah muda yang mendominasi itu.

Minhyuk mendapat banyak sekali hadiah dari teman-temannya sebagai kenang-kenangan. Tak hanya dari teman sekelasnya, melainkan dari para penggemarnya di kelas lain yang rasanya begitu berat melepas perpindahan Minhyuk –si laki-laki idola di sekolah mereka. Pada kesempatan itulah mereka semua bisa bercengkrama dengan Minhyuk dan membuat kenangan sebanyak-banyaknya untuk dikemas oleh Minhyuk dalam ingatannya.
                                         –oOo-

Saat pesta perpisahan usai, Aiko tak bergegas pulang meski hari sudah senja. Menyisakan sepi dan hampa karena hanya ada dirinya dan Minhyuk disana. Saat ditanya Minhyuk kenapa dirinya belum pulang, ia beralasan ingin merapikan yang masih berantakan. Takut kena semprot dari pihak sekolah jika membiarkan taman itu tak sebersih sebelum pesta itu diadakan. Selain itu, Minhyuk lah yang menjadi alasan mengapa dirinya masih enggan meninggalkan tempat itu. Hanya saja ia tak mengatakannya. Sementara itu, Minhyuk masih sibuk dengan hadiah-hadiah yang bingung bagaimana cara membawanya. Bunga sakura pada senja terakhirnya di Tokyo pun menjadi salah satu alasan kenapa ia juga masih setia berpijak di tempat itu sebelum keberangkatannya ke Korea Selatan esok hari. 

“Eung… Kau kembali ke Korea Selatan karena tugas ayahmu sudah selesai yaa disini?”

Minhyuk mengangguk samar sambil terus memaksa hadiah-hadiah itu bisa muat di dalam tas ranselnya.

“Kan tadi aku sudah bilang saat Sakki bertanya padaku.”

Aiko menunduk menutupi semburat merah di wajahnya. Lagi pula pertanyaannya itu hanya ia gunakan untuk sekadar basa-basi saja. Karena sejak sepeninggal teman-temannya sepi menghampiri hingga suasana begitu lengang.

“Apa kau akan kembali ke Jepang suatu hari nanti?”

“Aku tidak tahu. Tapi mungkin aku akan berlibur ke sini jika memiliki waktu luang.”


‘Dan semoga di saat itu aku masih bisa bertemu denganmu lagi.’ Batin Aiko, penuh harap. 

Aiko menatap Minhyuk dengan lekat, berharap laki-laki yang berada beberapa senti di depannya kembali memperdengarkan suaranya yang serak tapi seksi itu. Untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar sudah tidak bisa mendengarnya lagi di kemudian hari. Namun saat tatapannya semakin dalam, bayangan saat mata mereka beradu tatap di pertemuan pertama awal masuk sekolah itu memenuhi isi kepalanya. Tatapan yang membuat Aiko pada akhirnya jatuh hati lagi setelah mengalami sakit hati atas pengkhianatan cinta monyetnya di kenaikan kelas tiga SMP. Bahkan membuatnya menjadi pengagum rahasia yang tak gentar ‘memperhatikan mangsanya’ dari kejauhan hingga sampai saat ini.

“Sepertinya dari sekian banyak hadiah, hanya kau yang belum memberiku hadiah.” Celetuk Minhyuk tiba-tiba yang membuat Aiko mengangkat kepala tinggi-tinggi, menatapnya. 

Aiko tersadar dari lamunannya. “A-aku bawa hadiah untukmu juga kok.” Ujarnya terbata-bata. Kemudian sebuah kotak terbungkus kertas berwarna merah muda dengan motif bintang-bintang berwarna perak dikeluarkannya dari dalam tas. “Ini, untukmu. Aku tidak bisa memberikanmu hadiah yang mahal. Hanya ini yang bisa kuberikan. Semoga kau suka. Dan tidak lupa kalau hadiah ini yang diberikan olehku.” Aiko memperkecil suara saat kalimat terakhir terujar.

Minhyuk mengambil alih kotak itu dari tangan Aiko. “Boleh kubuka? ” tanya Minhyum ketika memperhatikan keseluruhan kotak.

“JANGAAAN!” Aiko melambai-lambaikan kedua tangannya di depan Minhyuk dengan raut wajah yang begitu tak terkontrol.

Melihat reaksi Aiko, Minhyuk tertawa tanpa suara. Semburat merah di wajahnya mulai berangsur menghilang saat melihat senyum Minhyuk. Aiko pun justru dibuat lupa dengan reaksinya yang menurutnya terlalu berlebihan itu. Ia begitu menikmati melihat senyum Minhyuk yang merekah hingga deretan giginya yang putih dan bersih itu terlihat. Senyum yang diberikan khusus untuknya di hari terakhir pertemuan mereka.

“Baiklah. Akan kubuka saat sampai di Korea.”
Minhyuk melihat ke langit yang hampir gelap lalu menatap Aiko.

“Sudah hampir gelap. Ayo kita pulang.”

Diajak pulang bersama oleh Minhyuk tentu tak akan ada jawaban penolakan dari Aiko. Perempuan berusia 16 tahun itu mengangguk dengan cepat. Setelah membuang beberapa kantung sampah, Minhyuk dan Aiko berjalan beriringan menyusuri taman.

Setengah perjalanan menuju pintu gerbang, Aiko menawari diri untuk membantu Minhyuk membawakan hadiah-hadiahnya. Awalnya Minhyuk ingin menolak karena tak ingin merepotkan Aiko. Tapi Aiko justru lebih dulu merampas beberapa hadiah di tangan Minhyuk sebelum laki-laki itu memberikan jawabannya.

Aiko begitu bahagia saat melihat dua bayangan di depan langkah kakinya. Tak pernah ia melihat pemandangan yang begitu membuatnya sebahagia itu seumur hidupnya –khususnya dua tahun terakhir. Sedari meninggalkan taman, raut wajahnya tak luput dari senyuman. Jika bisa, rasanya ia ingin menghentikan waktu walau hanya satu detik.

“Aku sudah dijemput. Ayo, pulang bersamaku.”

Aiko menggeleng cepat. “Tidak usah. Lagi pula rumah kita kan tidak searah. Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagi pula, kau kan harus segera mengemas hadiah-hadiah ini.” Sorot matanya bergantian menatap Minhyuk dan hadiah-hadiah yang ada di tangannya. 
Minhyuk hampir saja lupa. Ia segera mengambil alih hadiah-hadiah di tangan Aiko dan menaruhnya di jok mobil.

“Apa… Tidak apa-apa?”

Aiko menggeleng samar. “Gwaenchana.” Disusul senyum lebar hingga kedua matanya menyipit.

Minhyuk kembali dibuat tersenyum oleh Aiko yang tidak begitu fasih mengucapkan kata ‘tidak apa-apa’ dalam bahasa Korea.

“Hey! Jika aku suatu hari nanti aku kembali ke Jepang walaupun itu hanya sekadar liburan, aku mau kau sudah menggunakan bahasa Korea secara fasih. Kau harus belajar lebih giat lagi!” pesan Minhyuk kepada Aiko saat ia sudah masuk ke dalam mobil.

Dalam kalimat yang dituturkan oleh Minhyuk, ada sebuah harapan disana. Harapan untuk pertemuan mereka yang berikutnya. Harapan bahwa Aiko masih akan bisa bertemu dengan pujaan hatinya itu.

“Senang memiliki teman pendiam sepertimu. Sampai jumpa lagi.” Minhyuk melambaikan tangan diikuti sudut bibir yang melengkung ke atas sebelum jendela ditutup rapat dan mobil melaju meninggalkan halaman sekolah. Meninggalkan Aiko yang masih berdiri mematung.

‘Pasti menyenangkan bisa pulang bersamamu. Duduk berdampingan dan saling menatap dengan jarak yang begitu dekat. Menikmati senyummu di detik-detik terakhir pertemuan kita.’ Itulah perasaan sesungguhnya yang bersarang dalam pikirannya.


‘Bagiku, senyumanmu yang khusus untukku itu sudah cukup untuk membalas seluruh perasaanku yang diam-diam kutorehkan padamu sejak dua tahun yang lalu.’



Tak disangka ternyata hari yang awalnya tak membuat Aiko semangat justru sebaliknya. Satu hari itu adalah hari dimana segala keberuntungan menghampirinya bertubi-tubi. Aiko menghela napas panjang sebelum menghembuskannya perlahan dengan mata terpejam. Ia benar-benar bersyukur karena mendapatkan kesempatan berharga di hari itu. Selebihnya ia ingin menangis. Menangis bahagia dan juga sedih karena detik dimana sebelumnya ia bisa melihat Minhyuk kini telah sirna. Tapi mengingat senyum Minhyuk, tak setetespun air mata mengalir dari sudut matanya.

“Kita pasti akan bertemu lagi.” Aiko pun meninggalkan halaman sekolahnya, berjalan kaki ke arah yang berlawanan dengan laju mobil yang ditumpangi Minhyuk.

                                       -oOo-

Libur sekolah yang panjang membuat Aiko dibuat bosan. Teman-temannya banyak yang berlibur ke luar kota bahkan keluar Negeri. Tentu Aiko jadi tidak bisa mengajak teman-temannya menghabiskan liburan bersamanya. Yang bisa ia kerjakan hanya menonton televisi, menghabiskan uang jajan dengan membeli berbagai macam kuliner favoritnya, serta terlalu seringnya ia muncul di sosial media.

Seperti yang dilakukannya saat ini. Sosial media yang belakangan ini digunakannya adalah Instagram. Di Instagram, segala aktivitas Minhyuk bisa ia stalking sepuasnya, mengingat Minhyuk lebih sering aktif menggunakan sosial media tersebut. Tentu hal itu membuat Aiko merasa terhibur dan melepas rasa rindunya meski hanya melihat dari foto. Begitu saja pun cukup baginya yang tak pernah menuntut apa-apa atas perasaannya.

“Aku belum sempat menyatakan perasaanku padamu ya, Minhyuk?! Maaf ya. Aku hanya tidak ingin pertemanan kita rusak karena pengakuanku. Maka dari itu…” Aiko tersenyum samar. “Akan kubiarkan perasaan ini hidup dan mati dalam diam.”

Aiko yang semangatnya sempat meredup kembali bersinar terang. Ia terlonjak kaget saat melihat postingan terbaru dari Minhyuk. Sebuah lampu tidur berbentuk bintang dengan cahayanya yang berwarna kuning menerangi sebuah ruangan yang gelap. Sesuai dengan fotonya, captionnya pun hanya emoticon bintang. Ia mengenali lampu tidur itu. Jelas sangat mengenalinya karena lampu tidur itu adalah hadiah pemberian darinya untuk Minhyuk di hari pesta perpisahan.

Ia tidak menyangka kalau hadiah darinya akan difoto dan dipamerkan pada teman-teman sosial media Minhyuk. Dari sekian banyak hadiah, hanya hadiahnya yang dipamerkan. Kesedihannya sepeninggal Minhyuk tergantikan dengan kebahagiaan yang tak terkira jumlahnya. Meskipun itu hanyalah hal kecil.

“Gomawo, Minhyuk-a.” Aiko tersenyum sebelum ia memberikan ‘love’ di postingan itu.

                                   -oOo-

Di negara yang berbeda, Minhyuk tersenyum saat menerima notification bahwa Aiko memberikan ‘love’ pada postingan terbarunya. Ia terus memperhatikan gambar itu sambil membayangkan bagaimana raut wajah Aiko saat tersenyum.

“Aku tidak akan melupakan dua bintang yang sempat bersinar di dalam hidupku.” Minhyuk bergantian menatap lampu tidur barunya itu dan foto teman-teman sekelasnya di handphone yang dizoom, mengarah ke wajah Aiko. “Aiko Hoshi.” 

Finish.

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s