The Story of Miracle Generation [Chapter 4]

162918-sekolah-mewah

The Story of Miracle Generation

Author : Jinho48

Genre : Friendship, School Life

Cast : Find it on the story

Length : Chaptered

Summary : “Di sebuah SMA internasional bernama Kirin International High School hiduplah para murid yang tidak biasa. Mereka adalah generasi keajaiban SMA Kirin. Bagaimanakah kisah mereka? Mari kita simak bersama!”

HAPPY READING! ^^

% % %

Chapter 4

Mark POV

Pagi ini banyak siswi yang berkumpul di lorong utama. Sempat ku dengar mereka berbisik tentang kabar kedatangan murid baru, pindahan dari Tiongkok. Lebih banyak yang siswi yang menunggu kedatangan murid baru itu daripada menyambut kami para generasi keajaiban. Tapi aku, Seokjin, dan Taehyung tak ambil pusing dengan hal itu. Terserah mereka saja.

Sampai di ruangan, kami langsung duduk di tempat masing-masing. Aku langsung mengeluarkan buku tentang filsafat dari tasku. Kulirik Taehyung tengah tiduran di sofa sambil membaca novel. Sementara Seokjin sedang menata bekal untuk kami di meja sembari bermain ponselnya.  Lantas aku mulai membaca bukuku sambil menunggu bel masuk.

“Mark, tidak sarapan dulu eoh?” tanya Seokjin setelah beberapa menit aku sibuk membaca.

Tanpa menatapnya, aku menjawab pertanyaannya. “Ah? Tidak. Aku sedang tidak berselera, Jin.”

“Baiklah. Tae? Kau tidak makan?”

“Iya sebentar, Hyung. Ku selesaikan dulu komiknya.”

“Hmm, aku akan memakannya nanti, Jin!” ujarku pelan. Setidaknya aku harus menghargainya. Walau sekarang aku tidak ingin makan, nanti aku akan memakannya jika lapar.

Araseo. Ah, aku makan duluan ya!”

Kami kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hanya keheningan yang menemani kami selama setengah jam hingga akhirnya pintu terbuka dengan keras. Sontak itu membuat kami bertiga menoleh ke arah pintu. Kulihat Minji datang di ikuti Hajin di belakangnya. Minji dengan wajah yang menahan emosi sedangkan Hajin dengan ekspresi datar. Hmm, sejak kapan Hajin begitu? Biasanya dia selalu memasang wajah ceria.

Minji langsung duduk di bangkunya tapi Hajin tidak. Dia berjalan ke meja dimana bekal dari Seokjin sudah tertata rapi. Ia mengambil miliknya lalu mulai memakannya dengan santai dan tenang. Tumben sekali. Ini bukan tipikal Jung Hajin magnae kami. Seokjin dan Taehyung menatapnya dengan tatapan bingung lalu mereka mulai mencecarkan pertanyaan pada gadis itu.

“Hajin-ah, gwaenchana? Kau kemana saja? Kami sangat khawatir padamu. Apa yang sebenarnya terjadi, eoh?”

“Syukurlah kau kembali! Ku kira kau sudah bunuh diri. Hahaha.”

PLAK

YA! Seokjin Hyung! Kenapa memukulku? Sakit tahu!”

“Makanya punya mulut itu di jaga. Dasar bodoh!”

“Aku tidak apa. Aku tidak akan macam-macam. Tenang saja! Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Dan maaf telah merepotkan kalian.”

“Bukan masalah. Yang penting kau tidak apa-apa, Hajin-ah. Oh ya, jangan ulangi hal bodoh seperti itu ya! Kau bukan anak kecil lagi. Jadi, berpikirlah lebih dewasa. Araseo?”

Hajin hanya mengangguk lalu Taehyung membuka suara. “Hei, kenapa aku merasa ada yang aneh denganmu? Kau seperti bukan dirimu yang biasanya, Hajin-ah. Ada apa?”

“Ha? Aku tidak merasa begitu. Mungkin hanya perasaanmu. Ah, terimakasih makanannya!” ujarnya lalu ia beranjak ke tempatnya. Dia hanya diam sembari mendengarkan musik dari ponselnya.

Aku merasa ada yang tidak beres. Taehyung juga merasakan hal itu. Dan mungkin saja Seokjin pun sama. Ah, sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Kenapa wanita selalu susah di tebak dan di pahami? Tsk! Oh ya, tadi dia masuk bersama Minji kan? Apa Minji tahu sesuatu? Kulihat Minji tengah menaruh kepalanya di meja. Huh? Aku harus bicara dengannya nanti.

Tak lama bel pelajaran pertama pun berbunyi. Aku segera membereskan mejaku dan mengeluarkan buku matematika untuk pelajaran pertama ini. Beberapa menit kemudian Min Saem masuk dan segera memulai pelajarannya. Kulihat semua tampak fokus dengan penjelasan saem kecuali Minji. Dia tampak melamun dan sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu.

Lantas aku melirik ke arah Hajin yang berada di hadapanku. Dia yang tadinya fokus pada pelajaran kini malah nyengar-nyengir sembari mengetik sesuatu di ponselnya. Ha? Sejak kapan Hajin jadi begitu? Biasanya dia melamun keluar jendela ataupun mencoret-coret bukunya dengan nama Koo Junhoe. Hmm, dia sepertinya sedang berkirim pesan. Tapi dengan siapa ya? Ini aneh.

Ah, entahlah. Aku memutuskan untuk kembali fokus pada penjelasan Min Saem dan akan mengurus masalah ini nanti. Aku akan menanyakan apa yang terjadi pada Minji terlebih dahulu sebelum bertanya ke Hajin. Tsk! Perempuan selalu membuat repot saja. Kenapa mereka berdua tidak seperti Jiseo yang kalem dan tak banyak membuat masalah? Aish!

Di salah satu kelas, seorang pemuda tengah memperkenalkan dirinya di depan kelas. Banyak siswi yang terpukau dengan ketampanan pemuda itu. Sedangkan para siswa hanya mencibir kelakuan teman perempuan mereka yang mulai berfangirling itu. Namun berbeda dengan seorang pria yang berada di pojok ruangan. Dia memasang wajah seriusnya.

Tampak bahwa dia tidak suka dan tidak nyaman dengan kehadiran murid baru yang diam-diam sejak tadi memperhatikannya seraya menampilkan senyum licik. Lantas guru mempersilahkan murid baru itu untuk duduk di sebelah pemuda yang ada di pojok kelas ini. Awalnya ia ingin protes namun ia urungkan ketika pendatang itu memberikan death glare dan smirk evil-nya.

Oremanida, Junhoe-ya!” sapa pemuda bersurai abu-abu itu lantas duduk di sebelah Junhoe yang lebih memilih diam daripada membalas sapaan itu.

Mengetahui sapaannya di abaikan, dia tersenyum miring. Lantas dia mencoba untuk fokus ke pelajaran daripada mengganggu pemuda yang ada di sebelahnya. Sepertinya Junhoe benar-benar tidak menyukai kehadirannya disini dan itulah yang dia harapkan. Memaksa pemuda jangkung itu untuk mengingat ulang masa lalu mereka.

Keduanya saling diam hingga bel istirahat berbunyi. Pemuda bersurai abu-abu itu memainkan ponselnya. Dia berkirim pesan sembari senyum-senyum seperti orang gila. Junhoe yang melihatnya hanya masa bodoh. Ia beranjak dari kursinya dan hendak keluar namun teman sebangkunya itu menghalanginya jalannya.

YA! Menying–“

“Juho-ya!” suara seorang gadis mengintrupsi perkataan Junhoe. Seluruh tatapan anak-anak di kelas menuju ke arah gadis yang tiba-tiba muncul dan meneriakkan nama murid baru itu.

Annyeong, Hajin-ah! Kaja! Aku sangat lapar, eoh!” ajak Juho ketika Hajin berdiri tepat di samping bangkunya.

Hajin tersenyum lalu membiarkan pemuda itu menariknya keluar kelas. Netra gadis itu sempat bertemu dengan manik kelam Junhoe namun keduanya segera mengalihkan pandangan masing-masing. Pemuda bersurai blonde itu menghela nafas. Tangannya terkepal kuat. Dia tidak suka gadis itu bersama Juho.

Tidak memperdulikan gosipan para temannya tentang kejadian singkat tadi, Junhoe melangkah keluar kelas. Dia mau mencari tempat untuk sendiri. Ia perlu suasana yang tenang untuk berpikir jernih. Juho tidak boleh di biarkan dekat dengan Hajin. Pemuda itu bukan orang yang baik. Junhoe akui Juho lebih brengsek daripada dirinya.

Di sisi lain, seorang gadis tengah termenung di taman belakang sekolah. Dia teringat dengan kejadian tadi pagi. Dimana ia hampir saja tertabrak mobil di persimpangan jalan dekat sekolahnya. Beruntung ada pemuda asing yang menolongnya dan ternyata itu murid baru di sekolah ini. Ia melihat pemuda itu pergi ke kantin bersama seorang gadis yang sangat ia kenal.

Minji –gadis yang tengah termenung itu– tidak mengerti dengan Hajin –gadis yang pergi bersama murid baru– hari ini. Gadis itu berbeda. Tadi pagi dia tidak menanggapi omelannya padahal biasanya gadis itu akan mengomel balik atau bahkan menarik rambutnya karena terlalu sebal dengannya. Bukan seperti Hajin yang Minji kenal.

Lalu apa itu tadi? Hajin pergi ke kantin bersama pemuda bersurai abu-abu itu? Apa hubungan mereka sebenarnya? Hmm… Minji sejujurnya senang jika pemuda itu bisa membuat magnae kesayangannya itu tersenyum kembali. Namun, terselip rasa aneh yang gadis itu sendiri tidak bisa mengartikannya. Ia kurang suka melihat mereka berdua tampak akrab.

Sepertinya ia harus mencari tahu tentang pemuda itu. Kelihatannya mereka sudah lama saling mengenal. Lantas Minji beranjak dari kursinya namun ia mengurungkan niatnya untuk pergi ketika melihat sosok pemuda jangkung yang tengah berteriak marah. Pemuda itu memukul tembok yang ada di dekatnya.

Karena penasaran, gadis bertubuh semampai itu mendekat dan bersembunyi di balik pohon yang berada tak jauh dari pemuda tadi berdiri. Netranya memperhatikan gerak-gerik pria itu dengan seksama. Indera pendengarannya pun ia pertajam agar bisa mendengar ucapan sosok jangkung yang sangat ia benci itu. Yap, pemuda itu adalah Koo Junhoe.

Junhoe mengambil ponselnya dari saku celana. Lalu ia mengesek layar ponselnya dan menekan beberapa angka di keypadnya. Dia menempelkan benda pipih itu ke telinga kanannya. Sekitar dua menit ia menunggu sebelum ia berbicara. Sepertinya ia tengah menelepon seseorang, seseorang yang lebih tua darinya karena ia menyebutkan kata hyung.

Yoboseyo, Hyung!”

“…”

“Si brengsek itu ada disini, Hyung. Dia benar-benar kembali.”

“…”

“Entahlah.  Ah, kenapa si brengsek itu harus kembali? Kebusukan apa lagi yang akan dia lakukan? Dan kenapa Hajin mau dekat dengan pria itu? Padahal dia tahu bagaimana watak pria brengsek itu. Hah! Aku kesal sekali, Hoseok Hyung!”

“…”

“Ya, Hyung. Aku mengerti. Akan ku awasi dia dan untuk melindungi Hajin, aku tidak yakin. Aku tidak bisa. Kau tahu sendiri kan jika kami sudah tidak dekat lagi, Hoseok Hyung. Lebih baik kau minta tolong pada generasi keajaiban saja! Mereka pasti akan menjaga adikmu dengan baik.”

“…”

Araseo. Sudah dulu ya, Hyung! Annyeong!”

KLIK

Setelah itu Junhoe menghela nafas kasar. Dia membalik tubuhnya dan tatapannya langsung tertuju pada Minji yang berada di balik pohon. Refleks, gadis itu terkejut dan mencoba kabur dari sana namun pemuda jangkung itu menghampiri Minji. Ia menarik gadis tersebut ke tempat yang lebih sepi dan tersembunyi.

“Aku tahu kau sudah mendengar semua yang ku ucapkan di telepon tadi. Jaga Hajin baik-baik! Jangan biarkan dia dekat dengan murid baru itu!”

“Tapi kenapa? Kurasa dia baik. Dia bisa membuat Hajin kembali ceria. Murid baru itu tidak brengsek sepertimu!”

“Kau tidak mengenalnya. Aku mengenalnya lebih baik dari siapapun. Jadi, jaga saja gadis itu! Si brengsek itu pasti punya rencana busuk. Aku akan mengurusnya. Sampai nanti, Minji-ssi!” Setelah itu Junhoe pergi begitu saja. Sementara Minji mendengus sebal lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Hajin POV

Saat ini aku sedang jalan-jalan dengan seniorku di SMP sekaligus rival Junhoe. Aku sedang duduk di salah satu bangku yang ada di taman. Sepulang sekolah tadi, ia mengajakku untuk berkeliling Seoul karena sudah lama sekali dia tidak berada disini. Dulu, selepas pesta kelulusan, dia pindah ke Tiongkok dan menetap di sana hingga akhirnya ia kembali lagi ke Korea. Ini sudah seminggu sejak bersekolah di sekolah yang sama denganku dan Junhoe.

Hubunganku dengan pemuda ini sebenarnya tidak terlalu baik dan dekat namun sejak ia datang lagi ke dalam hidupku, dia mampu membuat hubungan kami membaik. Aku tahu dulu dia adalah orang yang jahat dan selalu merebut apapun yang Junhoe miliki tapi sekarang aku rasa ia sudah berubah. Yah, semua orang pasti bisa berubah menjadi baik. Jadi, apa salahnya aku dekat dengannya lagi? Lagipula kami hanya berteman. Walau di sekolah kami di kira berpacaran.

Dia menghiburku dan membuatku melupakan Junhoe perlahan-lahan. Tapi bukan berarti rasa sayangku ke pemuda itu menghilang. Tentu saja aku masih menyayanginya. Walau telah terkikis sedikit demi sedikit. Namun aku juga tidak akan jatuh cinta pada Juho meski dia memperlakukanku dengan sangat baik. Entah kenapa aku tak tertarik sedikitpun padanya. Aku hanya menganggapnya teman saja. Ku hela nafas perlahan.

“Jinnie!”

“Eh?” Aku mendonggak ketika ia memanggilku. Dia menyodorkan es krim rasa stoberi ke arahku dan aku menerimanya dnegan senang hati.

“Es krim stoberi dengan toping susu cokelat dan biskuit vanila. Benar kan?”

Aku tersenyum. “Benar sekali! Nilai 100 untukmu!”

Dia terkekeh kecil lalu duduk di sebelahku. Lantas ia mulai memakan es krimnya begitupun denganku. Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara kami. Masing-masing dari kami sibuk memakan es krim. Hingga akhirnya dia membuka suara setelah es krimnya habis.

“Setelah ini aku akan mengantarmu pulang. Terimakasih karena telah menemaniku, Jinnie!”

“Iya. Sama-sama, Juho-ya!”

“Aku senang bisa menghabiskan waktu denganmu. Sudah lama sekali bukan kita tidak seperti ini?”

“Hmm, iya. Aku juga senang. Tapi andai saja ada Junhoe juga disini. Pasti lebih menyenangkan.”

“Junhoe? Kurasa tidak. Kehadirannya akan membuatmu semakin sakit hati. Aku tahu kau masih merasa sakit setiap melihatnya. Kau pasti akan teringat semua yang pernah ia lakukan padamu. Sudahlah, lupakan dia, Jinnie! Dia bukan pemuda yang baik.”

“Hmm, araseo. Ayo kita pulang! Aku lelah, Juho-ya!”

Dia beranjak dari tempatnya. “Baiklah! Kaja!” ujarnya lalu menarik tanganku meninggalkan taman itu.

Selama perjalanan pulang, kami hanya saling terdiam hingga akhirnya motor Juho berhenti di depan rumahku. Aku pun turun dari motornya. Dia tersenyum padaku dan mengatakan akan menjemputku besok pagi. Dan aku hanya mengangguk. Aku sempat menawarinya mampir ke rumah tapi dia tidak mau dan memilih untuk langsung pulang. Setelah memastikan dia pergi, aku segera masuk ke dalam rumah. Pasti Hoseok Oppa mengkhawatirkanku.

“Aku pulang!” teriakku sembari melepas sepatu. Lalu aku menaruh sepatuku di rak yang ada di dekat pintu. Kemudian aku masuk ke dalam dan langsung menjatuhkan diri di sofa ruang tengah.

“Kau sudah pulang? Darimana saja? Tumben pulang terlambat tanpa memberi kabar.”

Aku mendonggak dan mendapati Hoseok Oppa tengah berajalan ke arahku. Lantas dia duduk di sebelahku. Ku hela napas sejenak lalu aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Tangan kakakku terulur untuk mengusap rambutku. Aku pun memeluk tangannya.

“Maafkan aku, Oppa! Aku pergi bersama Juho. Dia memintaku untuk menemaninya berkeliling.”

“Apa? Kau pergi dengan Juho? Kenapa? Bukankah oppa sudah bilang jangan dekat-dekat dengannya? Apa kau tak ingat apa yang dulu ia lakukan pada Junhoe? Dia hampir membuat Junhoe kehilangan nyawa. Kau tahu bagaimana watak Juho kan?”

Huh! Oppa! Semua orang bisa berubah dan Juho sudah berubah. Dia tidak lagi jahat seperti dulu. Jangan berpikiran negatif terus padanya! Cobalah untuk mempercayainya, Hoseok Oppa!”

“Aish, kau ini keras kepala sekali! Apa buktinya dia sudah berubah? Aku yakin dia masih mengganggu Junhoe di sekolah. Iya kan?”

“Dih, jangan sok tahu, Oppa! Juho bersikap baik pada Junhoe tapi Junhoe yang menolak sikap baik Juho. Dia selalu berbuat kasar padanya. Aish, menyebalkan sekali pemuda itu! Dia benar-benar sudah berubah. Aku tak mengenalnya lagi, Hoseok Oppa!”

“Terserah kau saja lah. Tapi aku harap kau selalu berhati-hati dengannya. Jangan sampai dia berulah lagi!”

Araseo. Tenang saja! Ya sudah, aku ingin membersihkan diri lalu tidur. Selamat malam, Hoseok Oppa!” Aku pun beranjak dari sofa lalu berjalan ke arah kamarku di lantai dua.

“Kau tidak makan malam?”

Aniya! Aku masih kenyang, Oppa! Jaljayo!” Aku pun segera masuk ke dalam kamarku dan bergegas membersihkan diri. Ah, aku benar-benar lelah hari ini. Ingin rasanya cepat-cepat tidur.

TBC

Halo halo. Maaf baru update. Baru kelar UN nih wkwk. Oke, langsung aja. Silahkan di baca dan jangan lupa tinggalkan jejak ya! Maaf jika ada typo hehe ^^

Advertisements

2 thoughts on “The Story of Miracle Generation [Chapter 4]

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s