[Vignette] Wishing for Your Happiness

jinhwan

WISHING FOR YOUR HAPPINESS

.

Slice-of-life, Hurt-comfort, Romance, Song-Fic || Vignette || PG-13

.

Starring
iKON’s Jinhwan, Rizuki’s OC Claire Jung

.

Inspired from
Dear, Bride by BTOB

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot. Poster By: Mingi Kumiko @ Story Poster Zone

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

While telling me that you found someone, you laughed with an expression I’ve never seen before.

.

Dwimanik Jinhwan terpaku menatap layar. Pandangannya nanar. Tangannya yang sejak tadi bergerak untuk men-scroll halaman layar pun ikut terdiam. Terdengar sebuah helaan napas pelan, seraya binar matanya meredup.

Well, Jinhwan sendiri memang datang ke kantor pagi ini dengan perasaan kacau. Ia agak tidak enak badan, padahal banyak deadline menanti. Kemudian sebuah pesan yang masuk ke inbox email-nya menambah porak poranda hatinya.

Meski sudah bisa menerka isi surat elektronik tersebut dari subjek pesan, namun Jinhwan tak dapat menahan jari telunjuknya untuk membuka pesan itu.

To: Kim Jinhwan
From: Jung Claire
Subject: INVITATION

Pesan yang tertulis sangat singkat. Hanya sebuah kalimat. Benar-benar mencirikan Claire yang memang jarang bicara.

Kau akan datang, kan?

Karena itulah, atas dasar kuriositas, Jinhwan pun membuka file gambar yang juga dilampirkan dalam e-mail tersebut.

Rupanya justru dalam gambar yang didominasi warna merah jambu muda itulah semuanya dijelaskan. Undangan pernikahan Jung Claire beserta Kim Sunggyu – pasangannya, tempat dan waktu baik pemberkatan nikah pun resepsi, hingga ucapan doa kebahagiaan serta permohonan untuk dapat hadir. Jinhwan membaca setiap kata yang tertera, tanpa ada satu pun yang terlewat, tanpa menyadari bahwa semakin ia membaca, hatinya semakin sesak.

Sadarlah ia bahwa kesempatan untuk memiliki Jung Claire sudah musnah. Bila selama ini ia masih menyimpan secuil asa untuk dapat memperbaiki kembali hubungan mereka yang sempat retak, akan lebih baik kalau ia membuang harapan itu sekarang juga. Segala angan untuk merebut kembali hati sang dara dan melanjutkan kisah romantis mereka yang sempat putus pun sudah harus dikubur dalam-dalam.

Jinhwan menatap foto Claire yang juga tertera di foto, sedang menggandeng lengan calon suaminya; sebelah tangan lagi memegang buket mawar merah. Tubuhnya dibalut oleh gaun putih gading yang body press, membuatnya tambah terlihat cantik. Wajah gadis itu berseri, senyumnya lebar penuh kebahagiaan, seolah tak ada beban hidup yang harus ia pikul.

Jinhwan mendesah. Dahulu, mudah baginya mengukir senyum yang sama di bibir Claire.

Namun, mungkin sekarang ia harus merelakan orang lain yang melakukannya.

Tak tahan, pemuda Kim itu pun memutuskan untuk keluar dari akun e-mail-nya. Jinhwan menelungkupkan wajah di atas meja. Mungkin tidur sepuluh menit dapat membuat perasaannya lebih baik.

.

You changed each time we met, and I loved to experience all of you.
I even liked the times you became a child-like girl

***

Since you’re gonna go, you’ve got to promise me
You’re gonna live the rest of your life happily

.

Malam sebelum resepsi pernikahan Claire. Jinhwan menatap layar ponselnya. Matanya terpaku pada satu kontak yang kini tengah ia buka dalam ponsel. Jung Claire. Gulanda menguasainya, galau sekaligus ragu.Satu sisi Jinhwan ingin menggunakan kesempatan terakhirnya untuk menghubungi sang dara Jung, mendengar suaranya, bercakap-cakap dengan gadis itu sebelum esok menjelang dan ia telah menjadi milik orang lain. Jinhwan sadar betapa ia sebenarnya masih merindukan dan menyayangi gadis itu.

Namun di sisi lain Jinhwan tak berani. Ia tak yakin bagaimana harus berespon terhadap mantan kekasihnya. Jinhwan takut kalau-kalau emosinya tak terbendung dan ia harus meneteskan air mata lagi. Pemuda itu khawatir jika ia melanggar perintah otaknya, ia semakin tak mampu untuk merelakan Claire.

Jinhwan bimbang. Resah. Apakah pantas ia menghubungi mantan kekasih yang dalam beberapa jam akan mengganti status sebagai pasangan hidup orang lain? Apakah ia tampak seperti pengganggu hubungan orang lain? Apakah ia akan terlihat bagai insan yang mengharapkan calon istri orang? Tidakkah ia tampak memprihatinkan?

Belum selesai ia mempertimbangkan, tahu-tahu ibu jarinya menekan tombol panggil, dan layar ponsel pun memberi tahu bahwa sebuah panggilan sedang ditujukan pada Jung Claire.

Sebelas nada sambung berlalu. Jinhwan pun menghela napas. Well, ia sendiri memang tak terlalu berharap Claire akan mengangkat teleponnya. Ayolah, ini tinggal beberapa jam sebelum resepsi pernikahan, pasti gadis itu sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu bersama keluarga dan tentunya calon suaminya.

Atau … Claire memang tak mau menjawab panggilannya.

Tepat ketika Jinhwan hendak menutup telepon, terdengar suara di ujung sambungan. “Halo?”

Jinhwan buru-buru menelan ludah. Kalimat yang tadi telah ia rancang menguap seketika, dan kini ia tak tahu harus berkata apa.

“Oh, Claire-ah … “ ujar Jinhwan akhirnya. “Kau sibuk?”

“Tidak juga. Terus terang saja, aku sedang berbaring di ranjang dengan berpiyama, bersiap untuk tidur.”

“Dengan calon suamimu?”

“Kami belum resmi menikah, Jinhwan-ah. Jadi belum diizinkan tidur bersama.”

“Ah, benar juga ….”

Sepuluh detik selanjutnya terlewat dalam hening. Jinhwan kehabisan – lebih tepatnya tidak punya – ide pembicaraan, sementara Claire yang pendiam tentu tak bisa diharapkan untuk menyumbang topik.

“Ada apa menelepon, omong-omong?” Clairelah yang menjadi pihak pertama pendobrak keheningan.

Pertanyaan sederhana, namun rasanya Jinhwan bagai ditodong. Gadis itu benar. Apa tujuan awalnya ia menghubungi Claire? Sekedar mendengar suaranya, percakapan terakhir sebelum Claire menjadi istri orang lain, atau mengatakan bahwa sebenarnya ia masih menyayangi Claire? Lalu, apa yang ia harapkan? Claire akan kembali ke pelukannya?

Harapan bodoh.

“Semoga kau bahagia,” tukas Jinhwan akhirnya.

“Hmm?”

“Pernikahanmu,” ulang Jinhwan, “semoga kau bahagia.”

“Oh …. Terima kasih.”

“Aku tak bilang aku akan melupakanmu,” lanjut pemuda itu. “Jujur saja, aku bahkan masih menyimpan rasa padamu. Tapi aku rela melepasmu. Aku bukan bajingan yang akan mengganggu rumah tangga mantan kekasihku hanya karena aku masih menyayanginya. Namun, berjanjilah padaku satu hal: Kau akan bahagia.”

“Baiklah, aku berjanji,” balas Claire. “Kau juga. Cepatlah cari kekasih, agar aku tak perlu mencemaskanmu.”

Junhwan hanya merespon kata-kata Claire dengan tawa kecil.

“Omong-omong, besok kau akan datang, kan?”

Untuk beberapa saat, sang pemuda tercenung. Kalau mau jujur, hatinya menolak untuk hadir. Ia tak yakin apakah ia kuat melihat Claire berjalan menghampiri altar, bagaimana perasaannya ketika menyaksikan seseorang menyematkan cincin pada jari manis gadis itu. Jinhwan memang bukan orang melankolis, tapi, tetap saja, hadir dalam acara pernikahan mantan kekasih pasti memberi rasa sesak tersendiri.

Namun, Jinhwan sudah memutuskan. “Tentu. Aku pasti datang.”

.

.You’re the world’s most beautiful person. Time started to move on slowly
For now, I’ll have to hold back my tears

***

I always said you were my first love, but you probably go around saying he’s your first love
My love for you is like your wedding bouquet; thrown away, yet I still congratulate

.

Seluruh jemaat pada kapel kecil tersebut bertepuk tangan begitu Jung Claire memasuki ruangan, tak terkecuali Jinhwan. Setiap pasang mata terfokus pada sang pengantin yang kini tengah menguntai langkah di sepanjang karpet merah, menuju altar. Kedua tangannya memegang buket Gerbera ungu muda dengan beberapa Baby’s Breath putih. Tubuhnya berbalut dress model Cathedral Length Train warna gading yang menyapu lantai. Surai kecoklatannya tergelung, dihiasi oleh mahkota dengan hiasan berlian.

Kurva bahagia yang terulas pada plum kemerahan Claire seolah melengkapi penampilan sempurnanya.

Seseorang menyikut perut Jinhwan. Rupanya itu adalah Kim Namjoon, sahabat Claire, yang kebetulan duduk di sebelah Jinhwan.

“Claire cantik, ya?” celetuk Namjoon.

Jinhwan hanya tersenyum. Baginya, Claire akan selalu cantik. Bahkan dengan rambut bagai surai singa karena baru bangun tidur pun Claire tetap cantik. Apalagi ketika didandani layaknya sekarang.

Di altar, calon suami Claire telah menunggu. Berbalutkan tuxedo all white dan dasi hitam, ia berdiri dengan wajah penuh penantian. Jinhwan menyadari, bahwa sejak tadi Claire tak mengalihkan pandangan dari lelaki tersebut.

Tak bisa dipungkiri, suara Claire terdenganr merdu ketika mengucapkan janji pernikahan, ketika berikrar bahwa ia akan mencintai suaminya, setia pada suaminya, baik dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan mereka.

Suasana menjadi hening dan khidmat saat proses penyematan cincin, seolah memberi penghormatan pada kedua pengantin untuk mengukuhkan ikrar suci mereka. Sedang detik-detik berlalu, Jinhwan dapat menangkap kegugupan yang tersirat di balik wajah bahagia Claire. Pemuda itu pun memilih untuk memalingkan wajah, seiring dengan perasaannya yang bergejolak. Tanpa ia sadari setetes likuid bening jatuh. Jinhwan mendapati dirinya bertanya apakah itu air mata pilu atau air mata bahagia.

Acara pemberkatan nikah pun usai, dilanjutkan dengan foto bersama sebelum pengantin dibawa menuju tempat resepsi. Jemaat yang hadir berbondong-bondong menuju altar, mencoba mencari posisi yang bagus serta pose yang menarik untuk mengabadikan momen berharga tersebut bersama kedua pengantin.

Di tengah keramaian itulah Jinhwan merasa seseorang menarik lengannya. Malang untuk dirinya yang bertubuh agak kecil, Jinhwan tak dapat menolak. Karena itulah, ia seolah menurut saja akan kehendak orang yang menariknya tersebut. Rupanya, lagi-lagi itu adalah ulah Namjoon. Dan karena sahabat Claire itu pulalah tahu-tahu kini Jinhwan berdiri tepat di sebelah pengantin wanita.

Di sebelah kiri Jung Claire.

Jantung Jinhwan berdegup kencang. Rasanya agak canggung kalau harus berdiri di sebelah mantan kekasihnya. Ia pun hanya bisa menunduk, memainkan ibu jarinya, mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya berkali-kali, mencoba memadamkan gejolak hatinya yang makin tak keruan.

Ia melemparkan sebuah tatapan penuh tanya pada Namjoon, yang hanya direspon oleh lelaki itu dengan senyuman bermakna percaya saja.

Di hadapan mereka, seorang fotografer sedang sibuk mengatur posisi.

Jinhwan menolehkan kepala ke kanan, demi melihat Jung Claire. Mungkin ini bukanlah akhir dari pertemuan mereka. Jinhwan yakin di waktu selanjutnya pun mereka pasti akan bertemu. Mungkin saat itu Claire sudah bahagia dengan keluarga barunya, begitu pula dengan Jinhwan.

Tapi setidaknya, untuk hari ini saja, ia ingin menyimpan kenangan seorang Jung Claire yang terlihat bagai bidadari dengan gaun pernikahannya, lengkap dengan kurva bahagia.

“Satu ….”

“Dua ….”

“Tiga!”

KLIK!

Lampu flash kamera yang berkedip menandakan bahwa sebuah gambar berhasil diambil. Jinhwan sadar, saat pengambilan gambar, ia masih dalam posisi sedang menatap Claire.

Tak apa. Jinhwan tak peduli. Justru itu adalah indikasi awalnya.

Jinhwan ingin, suatu hari nanti, ketika Claire melihat foto tersebut dan menyadari posisinya yang tak menatap kamera, Claire mengerti bahwa jauh di suatu tempat, Jinhwan sedang berdoa untuknya. Berharap bahwa Claire selalu diberi kebahagiaan, meski tak bersama dirinya.

.

It’s true, I hated that guy standing next to you
But your smile made me realize how big a fool I was
But now I see if I want you to live happily,
I gotta let you be

.

.

.

Please God, always protect these two people
Even in times they fall sick and in times they are healthy

–Dear, Bride (BTOB)

-fin-

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s