[Oneshot] Undesirable Flawless

https://indofanfictionsarts.files.wordpress.com/2016/11/undesirable-flawless.jpg?w=440&h=660

Underisable Flawless

(Kesempurnaan yang tak diinginkan)

RHYK STORYLINE

Oh Sehun // Han Se Ahn

Park Chan Yeol as Chan So

Kim Min Seok as Heo Young

PG -15

Alternate Universe |Sad/Angst|School –life

Poster from Veokim on IFA

Inspired from film

‘ME BEFORE YOU’

‘Jealousy Incarnate’

!!ALL RIGHT RESERVED!!

2016

*Seluruh cast milik TUHAN YME, sedikit inspirasi dari title film dan drama diatas. Plot dan seluruh cerita dari pemikiran saya! NO PLAGIATRISM!

So if I Die, who will be sad?”

=PROMPT=

=||=||=||=

Hujan turun dengan lebatnya,sementara langkah kakinya tergesa mencari tempat perlindungan terdekat setelah ia berjalan cukup jauh dari stasiun subway.

 

Nafasnya masih memburu begitu kedua netra legamnya terfokus pada sebuah garasi rumah yang cukup besar, tempatnya memang tak sebersih halaman rumah lainnya namun masih sanggup menampung dirinya yang sudah hampir menggigil karena bajunya yang kuyup.

 

“Syukurlah..” ia bergumam pelan dengan mulut berbentuk huruf o setelah merasa lega ia selamat dari guyuran hujan lebih banyak lagi,walau berteduh di tempat tinggal orang lain bukanlah hal yang baik.

 

Rambutnya setengah basah,lantas tangannya dengan cekatan mengambil jadi satu rambutnya dan menguncir dengan karet yang melingkar ditangannya. Matanya menyipit begitu sebuah lampu LED mobil menerangi diri gadis itu yang membuatnya mengernyit hebat karena silau,melaju pelan menuju pintu garasi dimana si gadis  berdiri.

 

Alih -alih fokusnya dibuat penasaran siapa yang ada didalam mobil sedan hitam itu ia tak sadar bahwa sang pengemudi sedang mengklakson begitu panjang agar gadis itu segera menyingkir dari depan pintu garasi yang terbuka otomatis.

 

Kepala sang pengemudi keluar dari jendela dengan tatapan kesal “Hei!bisa kau minggir!!?” Pengemudi lelaki itu berkata dengan nada tinggi.

 

Gadis itu gelagapan dan segera melangkah beberapa meter hingga ujung pintu garasi berada.Sementara mobil kembali melaju, fokus gadis itu tak sengaja melihat pada kursi penumpang dibelakang, ada seorang lain disana, mengenakan setelan jas berwarna gelap dengan warna kulit yang sangat ia kenal, bentuk mata sabit ketika senyum yang pernah dalam kurun waktu singkat tak asing, namun sekarang sudah tak ada lagi pemandangan yang membuat tubuh gadis itu menghangat ketika menikmatinya.

 

Seperti sihir, netranya tak berhenti memandang mobil itu hingga pintu garasi kembali tertutup rapat.

 

Angin berhembus, sementara hujan telah reda entah sejak kapan, ia tak terlalu sadar dengan hal itu. Namun, pelan ia mengusap dadanya dalam diam. Detak jantungnya normal -normal saja, namun terbesit sebuah emosi yang tak dapat ia jelaskan dibawah darahnya yang terasa mengalir deras dibawah desiran angin yang dinginnya terus menusuk tulang dan jemari tangannya.

 

Diam – diam untuk kedua kalinya ia bergumam.

 

Menyebutkan sebuah nama yang tak sepatutnya ia jadikan sebuah kisah lama dengan hal -hal yang tak seharusnya juga disebut ‘Kenangan’

 

“Oh Sehun…–‘

 

Her POV

 

Tidak,kalian fikir siapakah aku bagi seorang Oh Sehun?

 

Tidak ada.

 

Jika ada yang bertanya mengapa,Oh Sehun tak seharusnya disebut kenangan hanya ada satu alasan biasa yang tak berpengaruh pada apapun.

 

Karena dirinya terlalu sempurna.

 

Sosoknya tampan,pintar, dan juga kaya hidupnya damai dan semua orang bangga padanya.

 

Sejujurnya, setiap manusia menginginkan kesempurnaan yang dimiliki Sehun, normalnya tentu saja orang sepertiku juga ingin.

 

Itu manusiawi.

 

Namun, kisah lama itu membuat sejarah baru hidup seorang gadis sepertiku yang awalnya sama sekali tak terlintas diotakku.

 

Her POV end

 

 

Jika saja, gadis itu tak pergi keatap hari itu, seandainya rasa ingin tahunya lebih bisa terkontrol seperti sekarang.

 

Yang jelas ia tak akan bertemu Oh Sehun ‘kan?

 

Dan, inilah yang disebut takdir.

 

Seingin apapun rasa kau ingin menghindarinya, lambat laun kau juga akan melaluinya dengan rasa mau tak mau.

 

[1000 hari sebelum hari ini]

 

“Se Ahn?’ begitu suara cempreng masuk kedalam kedua telinganya begitu bunyi bel usai berbunyi. Lantas, ia hanya menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.

 

“Bisa kau membersihkan penghapus ini?” perintah Heo Young si seksi kebersihan, tentu ia menyuruh gadis bernama Se Ahn bukan tanpa alasan melainkan karena hari ini adalah jadwal piketnya sehingga kewajiban sebagai anggota kelas harus ia tunaikan sekarang juga.

 

“Baiklah..–‘ Se Ahn menjawab singkat tak membantah ia mengambil alih penghapus -penghapus itu dari tangan Heo Young lantas ia berjalan keluar kelas.

 

“Se Ahn–‘ panggilan dari Heo Young sekali lagi membuat Se Ahn memutar matanya malas lalu menoleh, “…bersihkan itu di atap. Guru Kang bilang debu -debu itu mengganggu.”

 

Se Ahn mengenyit sebentar yang jelas raut wajahnya berubah begitu mendengar kata “atap” keluar dari mulut Heo Young, bukannya apa, hanya saja..

 

“Kenapa?kau takut?desas-desus hantu itu tak benar. Jangan khawatir..”

 

=||=||=||=

 

Se Ahn menghela nafas dalam diam, pintu atap memang tidak dikunci. Deritan pintu terdengar nyaring begitu Se Ahn melangkahkan kaki kanannya. Kepalanya melongok sebentar dan kedua fokusnya membulat sempurna,bayangan mengerikan mengenai atap sekolahnya sendiri tak seburuk dugaannya atau sempurnanya ia salah besar. Buktinya, yang ia lihat hanya beberapa pipa besar, bangku yang sudah tak terpakai dan lumut hijau menempel di dinding beton itu.

 

Tempat yang sempurna untuk merenung dan juga beristirahat, pikir Se Ahn seraya menyunggingkan sebuah senyum disudut bibirnya yang tipis.

 

Gadis itu mulai menepukkan penghapus itu dan debunya cukup membuat Se Ahn terbatuk beberapa saat, jika dipikir kenapa juga ia percaya pada kata -kata Ee Young pada tahun pertama ia berada disini rasanya sudah terlambat mengetahui ada tempat sesunyi ini di sekolah selain perpustakaan tentu saja, mengingat ia sudah tahun ketiga sebelum kelulusan sekitar 3-4 bulan lagi.

 

Pekerjaannya usai, ia melirik pada tembok beton tak jauh dari tempatnya berdiri.Ia mengernyit sebentar begitu melihat tulisan berbahasa inggris memang itu hanya tulisan tapi tidak dengan maknanya.

 

Tulisannya seperti ini “If I Die,, who will be sad??”

 

“Memangnya dia pikir kematian itu bukan duka? Tentu saja, yang namanya seseorang mati pasti akan ada yang bersedih..–‘

 

Se Ahn terdiam sebentar, lantas ia mengeluarkan pulpen yang ia bawa dan menuliskan sesuatu disana. Yah, paling tidak ada tanda bahwa seorang yang paling tak terlihat disekolah bernama Han Se Ahn pernah ke atap yang kata orang ini adalah tempat terangker yang ada di sekolah.

 

Setelah itu ia pulang, yang jelas entah mengapa perasaan Se Ahn merasa bahagia hari itu. Ia juga penasaran, siapa yang pernah lebih dulu ke atap ini?

 

=||=||=||=

 

Lelaki itu membuka loker miliknya, beberapa hadiah dari para siswi perempuan yang menggilainya seperti dirinya idol hallyu yang bersekolah di sekolah mereka tak juga digubris olehnya.

 

Ia mengambil sebuah botol obat dan air mineral dari sana.Kulit putih susunya dengan wajah pucatnya membuat lelaki ini terlihat bukan seperti manusia lagi justru kelihatan bak vampir atau porselen jika saja Sehun tak mempunyai roh dalam raganya yang benar -benar jauh dari cacat.

 

Sehun terlihat sempurna dari perspektif manapun.

 

Seperti biasa ia pergi ke sebuah tempat yang menurutnya bisa melepaskan segala kesempurnaan yang ia miliki, jika saja ia bisa melakukan hal itu.

 

Langit terdiam hari itu tanpa alasan.Lelaki bernama Oh Sehun itu melangkah pelan berjalan menyusuri atap sekolah, satu -satunya teman untuk melawan sepi yang menerjang dirinya.Mungkin waktunya tak banyak lagi untuk menikmati sedesir angin dan riuh -riuh yang terdengar dari bawah.Untuk itu, ia harus memanfaatkannya sebisa mungkin.

 

Lelaki itu membaca tulisan random yang sengaja ia tinggalkan hari itu.Hari dimana ia ingin mengakhiri hidupnya atas kesempurnaan yang sama sekali ia tidak inginkan. Namun, ada yang berbeda begitu ia melihat tulisan itu, ada tulisan tangan yang tentu saja bukan dirinya yang menulis itu.

 

= “If i die, who will be sad?” =

 

= “Manusia yang mendengar kematian pastilah berduka, entah apa ia mengenalmu atau tidak,yang pasti manusia diberikan perasaan untuk meresapi apa itu kebahagiaan dan duka atau cinta atau luka..” =

 

= “P.S “Jika bukan manusia yang bersedih ketika kau mati, langit pasti akan menggantikan manusia untuk bersedih pada hari kematianmu..” =

 

=||=||=||=

 

Setelah ke atap membersihkan penghapus pada minggu lalu, kini ke atap adalah kegiatan rutinnya setelah jam belajar usai.

 

Hal pertama yang gadis itu lakukan ketika tiba di atap adalah melihat tulisan tangannya hari itu. Namun, tak ada jawaban lebih lanjut dari seseorang yang menulis beberapa kalimat bahasa inggris itu.

 

“Dia..tak pernah datang..” gumam gadis itu dalam hati.

 

Se Ahn diam -diam ingin bertemu dengan orang itu secara langsung, dan bilang bahwa ia tak perlu memikirkan siapa yang bersedih ketika ia mati. Karena, Se Ahn yang akan menjadi orang itu.

 

Suara langkah lain terdengar dibelakangnya, membuat Se Ahn menoleh kearah sumber suara dan mendapati seorang lelaki bak tiang listrik dengan kulit vampirnya sedang berdiri dihadapannya, dengan sebuah botol air mineral digenggaman tangannya. Matanya membelalak kaget, sementara yang dijadikan objek hanya menaruh tangannya yang kosong disaku celana lalu berjalan mendekat kearah Se Ahn.

 

Se Ahn melangkah mundur begitu lelaki itu terus berjalan kearahnya.Tapi, seharusnya ia tak perlu begitu ‘kan? lagipula ia tak melakukan salah apapun. Kecuali, mencoret tembok sekolah. “Um, hei– berdamailah sedikit denganku dan biarkan aku pergi. Yah?” ujar Se Ahn terbata, keringat dingin keluar dari pori -porinya yang membengkak sejak kemarin, ia sedikit sensitif dengan daerah luar. Terutama dingin.

 

Ia terlalu fokus pada lelaki itu hingga tak sadar jika ia sudah mementok tembok balkon dan hampir saja ia terjungkal kebawah jika saja lelaki itu tak cekatan menampung badan Se Ahn.

 

Ouh,berhati-hatilah lain waktu, Nona Han–‘ lelaki itu bersuara, cukup dingin namun terdengar seperti orang yang sedang tebar pesona kepada para wanita di club. Se Ahn terperanjat kaget begitu ia masih dalam posisi yang sama, setidaknya ia harus mengakhiri posisi itu jika tidak ingin orang berkata aneh tentang mereka, walau sebetulnya ia bisa saja membiarkan hal itu sedikit lebih lama, lagipula siapa yang akan naik ke atap selain dirinya, dia ataupun yang tak diketahui itu.

 

“Kau tahu namaku?” tanya Se Ahn dengan alis bertaut, lelaki itu tanpa ragu menunjuk tag nama yang ada pada seragam Se Ahn.

“Ah, jadi kau..” lelaki itu berkata sambil menunjuk -nunjuk Se Ahn, seperti gadis itu sudah salah besar padanya.

“Apa?”

“Tukang coret tembok sekolah..”

Se Ahn mendesis kesal lalu meletakkan jarinya di bibir Sehun.Menyuruh lelaki itu untuk diam.Ia melakukan itu secara reflek sementara Sehun cuman diam.

 

=||=||=||=

 

“Jika aku mati, siapa yang akan bersedih?–‘

Se Ahn datang bersama dengan Sehun hari ini. Tempat seperti atap adalah basecamp paling bagus yang pernah ia temui. Dan, yang lebih bagus lagi karena ia bertemu dengan idol sekolah ditempat ini. Sedikit tidak wajar sih memang, tapi siapa perduli? kalaupun yang ia temui sekarang adalah hantu tak masalah, soalnya wajahnya tampan, dan enak dilihat juga. Tapi, bukan berarti mereka dalam hubungan khusus, yah Sehun dan dirinya cuman berteman.

 

Sehun mengangkat alisnya heran, tak mengerti apa yang digumamkan Se Ahn. Gadis ini memang terlalu sering bergumam tak jelas, jika begini bagaimana bisa ia lulus tes reporter jika pelafalan masih tak jelas, pikir Sehun. Memang, sejak hari itu Sehun tak lagi hanya berteman dengan angin dan riuh-riuh fatamorgana yang ada dibawah, ia bersama dengan Han Se Ahn.Diam -diam ia mensyukuri itu, lagipula itu cukup mengobati rasa sepi yang menerjang dirinya sejak lama.

Dan, ia sedikit berkurang mengonsumsi obat -obat keras itu.

 

“Maksudmu?”

Se Ahn menunjuk tembok yang ada tulisan itu dan sisa coretan pulpen darinya yang sudah menghilang karena terkena air hujan.

“Yah,tulisan ditembok itu. Apa yang menulis itu kau?” terka gadis itu dengan tatapan menyelidik.

 

“Bukan.” pungkasnya singkat,lalu membuka kaleng minuman yang baru saja diberikan oleh Se Ahn.

 

Kebohongan kecil dimulai oleh lelaki itu.

 

“Bohong. Selain kau dan aku siapa yang akan mengunjungi tempat ini?Huh?” tanya Se Ahn masih dengan wajah penasaran.

Sementara Sehun hanya mengangkat bahu dan tersenyum samar.

“Mungkin saja orang lain, dan orangnya sudah mati. Banyak orang sebelum kita mengunjungi tempat ini, Se Ahn..”

 

“Astaga!jangan sok tahu.” ujar Se Ahn memutar matanya, ia bersedekap dan ikut menikmati minuman yang Sehun pegang.

 

“Memang kenapa dengan tulisan itu?” tanya Sehun ragu, mungkin ia akan ketahuan jika ia tengah berbohong saat ini, suaranya sangat bergetar. Sementara dalam hitungan detik, air mukanya berubah menjadi sendu, dan iba.

“Kau tahu.. dia seperti kesepian, dunianya mungkin tampak ramai tapi tak ada yang tahu bahwa selalu ada celah diantara keramaian itu.”

 

Sehun terdiam begitu mendengar perkataan Se Ahn. “Kenapa kau diam saja?” tanya gadis itu melirik Sehun lantas ia memejamkan matanya sementara ia merenggangkan tangannya seperti orang yang siap memeluk.

 

“..dan kau seharusnya mengerti, bahwa dia sampai menulis seperti itu karena tak ada seorangpun yang mengerti tentangnya sampai ia harus mengkhawatirkan siapa yang akan bersedih jika ia mati nanti. Yah, tapi terlambat.. mungkin ia sudah di surga..” ujar Se Ahn, sementara lelaki itu hanya melihat bahwa gadis itu meneteskan air mata dengan mata terpejam tanpa gadis itu sadar bahwa yang menatapnya sekarang dengan jenis tatapan luka juga tengah menahan agar likuid itu tak jatuh, agar gadis itu tak perlu tahu yang sebenarnya.

 

“Seandainya, jika dia adalah diriku kau ingin mengatakan apa?”

 

Gadis itu menoleh, ia mengernyit sejenak lalu tertawa kecil sambil menunduk seraya mengusap air matanya. Kemudian, tangannya ringan menepuk bahu Sehun pelan.

“Kau terlalu sempurna.Hidupmu akan baik -baik saja, kau akan mati dengan damai dan tenang, saat itu akan datang banyak orang yang tak merelakan bahkan menangisi kepergianmu, Tuan Oh..–‘

 

“Maka, buatlah pengandaian..’

 

“Baiklah jika itu yang kau minta..’

 

“…jika tak ada seorangpun yang menangisi ataupun bersedih saat kematianmu, maka aku akan menjadi orang itu. Dengan rasa tulus, aku akan menjadi orang yang paling bersedih ketika kau tiada.. biarkan rasa sakit ini kau tumpahkan padaku, aku akan menerimanya. Maka, aku akan jadi orang itu. Membayangkannya membuat aku menangis seperti ini, aneh ya..” ujar Se Ahn seraya tertawa renyah, ia tak lagi menatap netra Sehun yang masih sibuk menatapnya dengan artian yang sukar didefinisikan.

 

“Aku sama sekali tak menginginkan kesempurnaan ini, Se Ahn.”

 

“Kau sama sekali tak mensyukuri hidup.Jujur, aku ingin sepertimu..”

 

“Kau akan merasa berada di Neraka..”

 

“Lalu, apa kau sekarang merasa di surga dengan obat-obatmu itu?–‘

 

“.. tak bisakah kau berhenti?”

 

“Sejak kapan kau tahu? kau tak bilang pada siapapun ‘kan?”

 

“Itu urusanku,aku minta berhentilah sekarang juga.”

 

“Kau harus menjaga rahasia ini, berjanjilah?!?”

 

“Hidupmu akan hancur, Tuan Oh..”

 

“Aku mohon padamu..”

 

“Akupun meminta hal yang sama padamu, Sehun.. memang apa yang kau dapat dari semua obat-obatan itu? hidupmu akan rusak, kau tahu?”

 

“Aku tahu. Tapi, aku tak bisa berhenti. Aku bisa mati tanpa obat -obatan itu.”

 

“Justru itulah yang mengirimmu pada kematian.”

 

“Se Ahn, tunggu sebentar..’

 

“Lepaskan!”

 

“Aku tak bisa menjelaskan itu padamu sekarang.”

 

“Lepaskan sekarang, aku tak ingin mendengar apa -apa lagi darimu!Kau adalah orang paling egois yang pernah ku kenal.. Oh Sehun!”

 

Hari itu adalah hari terakhir mereka bertemu, setelah hari itu berlalu mereka sama -sama tak mencari keberadaan masing -masing. Atap sekolah semua gedung SMA Se Ahn berada ditutup selamanya karena ada siswa yang mencoba bunuh diri, walau gagal. Hingga hari ini tiba, hanya ada salah satu dari mereka yang menatap netra legam itu, dan orang  itu adalah Se Ahn.

 

Dua musim berlalu sejak hari itu.Tak ada kisah indah seperti yang pernah terjadi dulu sehari setelah ia bertemu lagi dengan lelaki itu, semuanya berjalan sama dan cenderung tanpa pengaruh apapun. Dan, hari ini adalah reuni pertama untuk angkatan Se Ahn, yang pastinya itu juga angkatan Sehun.

 

Diam -diam Se Ahn menantikan kehadiran Sehun disana. Apa ia baik -baik saja? Bagaimana ia hidup? Se Ahn penasaran dengan itu semua. Dan, mungkin jika saja ia diberikan kesempatan untuk kembali pada hari itu, ia tak akan pergi dari atap ketika Sehun memintanya untuk tetap tinggal disisinya dan mendengarkan penjelasan darinya walau mungkin itu akan menyakitkan untuknya.

 

Mungkin, ini bukan sekedar harapan tapi permintaan.

 

“Se Ahn!” panggil seseorang,lamunannya tentang Sehun buyar seketika. Ia sadar, bahwa ia sudah punya seseorang yang membuatnya berarti lebih dari apapun. “Kau dengan suamimu?”

“Ah iya,kenalkan ini temanku, Heo Young.. dan ini suamiku, Chan so.” ujar Se Ahn, suaminya segera membungkukkan badan dengan sedikit mengulas senyum.

 

Waktu berlalu, dan acara reuni usai. Namun, tak sedikitpun ada tanda bahwa Sehun hadir dalam acara tersebut dan tak banyak juga yang berbincang mengenai dirinya. Chan so tak bisa ikut acara hingga akhir karena ada urusan di Rumah Sakit.Dan, ia berencana ke Rumah Sakit membawakan ponsel sang suami yang tertinggal bersamanya.

 

Dalam hitungan menit Se Ahn tiba di RS karena jaraknya yang tak jauh dari tempatnya reuni. Pikiran Se Ahn tak tertuju pada Chan So saat ini, entah mengapa hanya Sehun yang ia pikirkan sejak ada berita bahwa reuni akan dilaksanakan, bahkan hingga acara itu usai ia sama sekali tak memikirkan orang lain, selain Sehun.

Hingga akhirnya ia menabrak seseorang, dan Se Ahn terjatuh ia yang hanya mengenakan rok celana diatas lutut membuat lututnya tergores dan memar. “Maaf.. aku tidak sengaja.” kata lelaki berpakaian pasien itu lantas ia segera pergi tanpa menolong Se Ahn bangkit. Namun, Se Ahn hanya terdiam begitu suara berlalu melewati gendang telinganya, tak perduli lagi dengan kakinya yang terluka ia tetap mengejar lelaki itu yang sudah melangkah jauh.

 

“Tuan?bisa kau berhenti sebentar?” teriak Se Ahn mempercepat langkahnya yang terpincang.

Ia hanya yakin, itu Sehun.

Se Ahn terus memanggil lelaki itu hingga akhirnya, nama yang tak ingin ia sebut lagi terlontar begitu saja dari mulutnya dengan suara bergetar.

 

“Tuan, berhenti sebentar..’

“..berhenti kataku,Oh Sehun!”

 

Lelaki itu menghentikan langkahnya,ia membalikkan badannya menghadap Se Ahn yang berdiri beberapa meter dari tempatnya berdiri. “Lama tak bertemu, Nona Han?” katanya dengan sebuah senyum simpul.

 

=||=||=||=

 

“Menghirup aromamu, adalah hal yang paling ingin aku lakukan..”

 

“Maafkan aku,meninggalkanmu sendirian..”

 

“Seandainya kau dapat menjelaskan semua padaku hari itu..”

 

“Apa kau tetap tinggal bersamaku?”

 

“Aku akan selalu memelukmu, Oh Sehun.”

 

“Aku harus jujur satu hal padamu,Se Ahn..”

 

“Apa?”

 

“Aku yang menulis kalimat itu..”

 

“Aku tahu..terlihat jelas dari matamu saat itu.”

 

“Kenapa kau harus menghilang setelah hari itu?”

 

“Agar kau tak perlu tahu jika aku tiada dan kau tak akan bersedih. Aku tak pernah berharap bahwa kau akan bersedih ketika aku meninggal nanti.”

 

“Maka, tetaplah disisiku dan jangan mati itu adalah perintah dariku.”

 

“Memangnya kau Raja Joseon?”

 

“Aku tak bercanda, Oh Sehun.”

 

“Aku juga, kau punya Chan so. Berbahagialah dengannya, aku bahagia karena aku punya Han Se Ahn dihatiku dan kau bisa melakukan hal yang sama untukku ketika aku tak ada lagi disisimu. Hidupmu sudah sempurna tanpa kehadiranku, Han Se Ahn.”

 

=||=||=||=

 

Gadis itu membuka matanya,begitu ketika ia tersadar tak ada lagi suara monitor yang menyala memperlihatkan tanda vitalnya. Para dokter telah berdiri dengan tatapan pasrah, tangan yang gadis itu genggam yang tadinya hangat kini telah dingin membeku, kulit vampire yang sering ia jadikan bahan ejekkan telah kering.

 

Ia tak percaya, lelaki itu telah tidur untuk selamanya.

“Sehun? –kau tak boleh mati tanpa seizinku! buka matamu!”

Se Ahn mengguncangkan tubuh lelaki yang ia ingin temui sejak ia meninggalkan lelaki itu di atap hari itu, namun tak ada respon.

=||=||=||=

Banyak hal yang berputar dikepala lelaki dengan baju olahraga yang belum sempat ia ganti, baru saja ia mendapat kabar bahwa diagnosa dokter mengatakan lelaki itu menderita kanker stadium 3. Ia tak mengerti, sudah cukup ia menderita tanpa orang tahu bahwa hidup dirinya yang sempurna seperti orang lain inginkan tidaklah mengenakkan. Ia harus mengalahkan sepi yang mendera, perasaan luka ditinggal orang yang ia cintai kenapa harus juga ia diberikan penyakit seperti ini? Likuidnya mengalir begitu saja lantas ia mengeluarkan spidol dan menuliskan ditembok beton milik sekolah, sebuah kalimat yang ia ingin tanyakan pada Tuhan.

 

=If i die, who will be sad?=

 

— TAMAT–

 

catatan kecil;

halo semua? ada yang inget sama autor gak sih? wah moga aja ada yaa..

maaf atas hiatus yang begitu lama dan jarang nongol juga disini, jadi kalau ada yang lupa saya siapa,

author adalah yang menulis THE SECOND TIME dan Story love murder.. oh ya cuman mau buat pengumuman kecil bahwa second time akan dirilis ulang dengan penulisan yang lebih bagus dan lebih baik lagi dan alur cerita yang akan sedikit diubah tapi tetep pada satu inti, jadi gak usah bingung buat yang sudah baca setengah jalan yaa. dan, kenapa saya hiatus? karena saya abis selesai UN dan engieng I’M BACK!!!

Sebetulnya, inginnya balik nulis pas udah selesai bulan mei atau juni,, tapi yasudahlah aku mau tetep nulis 🙂 lagipula hanya dengan menghilangkan stress menulis ff bisa buat author hepi

 

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s