[Multichapter] #5 Seiryu High School: Challange [4]

SEIRYU HIGH SCHOOL

“Ever tried, ever failed. No matter what, try again, fail again. Then, fail better—The best way out is always trough….”

A fanfic by BluebellsBerry

|| Prolog || 1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 || 7 || 8 || 9 || 10 ||

Starring by:

SF9’s Baek Juho || NCT’s Lee Taeyong || Actor’s Kim Woobin || INFINITE’s Kim Myungsoo || BTS’s Kim Seokjin || NUEST’s Choi Ren || BTS’s Min Yoongi || BTS’s Kim Taehyung || OC’s Ahn Minji / Kim Yena / Han Jihyun / Kim Yuna / Lee Nayoung / Go Yun Ae (Yeollane Kayonna Earth) / Park Chanmi / Park Mina ||

Other cast by:

Actres’s Kim Tae Hee & T-ARRA’s Park Jiyeon || OC’s Han Sun Kyo & Super Junior’s Choi Siwon || Actres’s Go Hyeon Jong & OC’s King Andrew Kayonna Earth || EXO’s Lay Kayonna Earth (crown prince of Andorra) & MISS – A’s Suzy Kayonna Earth (crown princess of Andorra) || Actor’s Ahn Jae Hyun & Actres’s Go Hye Sun || Actres’s Han Hyojo || Others ||

Genre: School Life, Drama, Family, Friendship, Romance

Disclaimer:

All cast belong to God; their self, family, agency and fans. All plot and storyline are belong to author. Cerita ini hanyalah fanfiction semata, apabila ada kesamaan nama, tempat kejadian, atau pun cerita, maka itu semua hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesenganjaan dari penulisnya.

Rating: PG-13

Warning!

Tidak disarankan bagi para pembaca berkategori silent readers untuk sekedar penasaran atau bahkan membaca. Ada kemungkinan dapat menyebabkan ketagihan dan halusinasi berlebihan terhadap tokoh-tokoh utama. Tinggalkan komentar setelah membaca, dilarang memberikan komentar yang memicu keributan. BE A GOOD READERS PLEASE!

Don’t copy, claim or sharing this fiction without permission!

.

.

.

And the story is begin

__oO0__

_shs_cover_cast

Chapter 5: Challenge [4]

 

oOo

Other Cast: || Park Jiyeon | Kim Taehee | Juniel | Baek Jiyoung | Kim Do Yeon | Lay | Han Hyojo | Kim Seungwoo ||

oOo

“Setiap yang hidup bertahan karena orang lain. Lalu  yang bertahan akan menanam benih kepercayaan, menyiram dan memupuknya hingga tumbuh menjadi keyakinan yang besar. Dan pada akhirnya kita semua tersakiti karena kepercayaan yang di khianati. Sebenarnya…apa kepercayaan itu?”—Yuna Lazuardi Lockhart

oOo

 

Jam sudah menunjukan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit ketika Juho menyelesaikan tugas terakhirnya—memupuk seluruh kebun bunga lily yang luasnya sama dengan lapangan bola voli. Dan saat itu juga netranya menangkap sosok yang sudah cukup dia kenal, mengingat ini sudah memasuki minggu pertamanya di Seiryu—dan sialnya, di minggu pertama ini juga dia sudah mendapat hukuman yang cukup menguras tenaga. Jelas pemuda itu tahu, bahwasanya sosok yang dia lihat barusan adalah biang keroknya.

“O—oi, kau!” pemuda itu menarik napas, “Berhenti disana.”

Yang dipanggil itu menoleh, “Kau bicara padaku?”

“Tentu, memangnya ada orang lagi?” sengitnya—ya Tuhan Baek Juho, sabar. Dia adalah perempuan.

“Kenapa sewot? ck,” dia berdecak, “Aku cuma memastikan.”

“Apa yang kau lakukan malam itu?” Juho memacu langkah, memperpendek jaraknya dengan gadis itu. Dan tak lupa memberikan tatapan kesal padanya.

“Memangnya kenapa?” yang ditanya justru balik bertanya, “Apa pedulimu?”

“Kau adalah perempuan aneh yang mengintip saat aku keluar semalam.” Jelas Juho acuh.

Dan wanita muda itu sama sekali belum mengerti maksud Juho, “Iya, lantas kenapa?”

“Astaga!” Juho meremas kasar rambutnya, “Jangan-jangan selain aneh, kau juga bodoh?”

“Jaga ucapanmu!” gadis itu mendengus, “Dari pada mengatai orang lain aneh atau bodoh, lebih baik perjelas dulu maksud perkataanmu.”

“Kau gadis an—”

“Ahn Minji.” Pontongnya cepat—terlalu cepat, “Aku bukan gadis aneh atau bodoh atau apapun itu. Aku punya nama, Ahn Minji—kalau kau tuan-yang-sok-tahu mau bicara denganku, sebaiknya bicaralah yang benar. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi orang yang ambigu sepertimu.”

“Apa?”

“Kau.” Gadis Ahn itu menunjuk Juho tepat di wajahnya, “Tolong-katakan-dengan-jelas-apa-yang-kau-inginkan-dariku.” Dia berucap penuh penekanan.

“Kau kan’ orangnya?” Juho bertanya langsung.

Kening Minji berkerut, “Apa?”

“Kau yang mengadu pada Yong-ssaem kalau aku menyelinap keluar semalam.” Juho melanjutkan, “Kau gadis licik yang mengikutiku, lalu pura-pura polos dengan bilang tidak akan mengadu, dan pada akhirnya kau mengadukanku pada ssaem.”

“Apa?” Minji memijat keningnya, “Aku mengadu?”

Juho mengangguk mantap, “Iya, kau nona Ahn.”

“Kau gila?!” suara Minji meninggi, “Kau menuduhku? Heol.”

“Lalu siapa lagi?” Juho menarik napas, seolah hipotesanya soal Minji yang mengadu itu sudah tidak dapat ditolak lagi, “Cuma kau yang ada disana, yang entah apa tujuannya mengikutiku lalu bicara denganku—dan otomatis melihatku pergi keluar diam-diam.”

“Kau benar-benar menuduhku?” tanya Minji tak percaya, “Apa buktinya? Memangnya Yong-ssaem bilang padamu kalau aku yang mengadu?”

Juho mendengus, “Identitas pengadu tidak mungkin dibocorkan. Tapi cuma kau yang ada disana, menguntit dan bicara padaku soal izin sialan itu—dan lihat, karenamu aku harus mengurus kebun di tanah seluas seratus meter persegi ini selama seminggu. Mau bukti apa lagi, huh?”

“Demi Tuhan, itu bukan aku!” Minji berseru, “Apa untungnya mengadukanmu?” dia menarik napas dalam-dalam, “Memangnya kau pikir tidak ada orang lain lagi selain—” Ucapan Minji terhenti, dan kinerja otaknya lebih cepat dari biasanya. Dia ingat bahwa semalam ada orang lain yang juga mengetahui bahwa Juho keluar tanpa izin. Orang itu adalah…

“Lihat, kau diam.” Juho tersenyum miring, “Apa kau baru sadar atas apa yang telah kau lakukan?”

“Sumpah, bukan aku yang lakukan.” Minji membalas cepat, “Aku tidak akan membenarkan hipotesamu itu, karena pada dasarnya bukan aku pelakunya. Tapi aku akan segera memastikan siapa pelakunya—kalau hipotesaku benar maka kau harus minta maaf”

“Kau yang harus minta maaf.” Kukuh Juho.

“Aku tidak akan minta maaf pada apa yang bukan bagian dari kesalahanku. Kalau hipotesaku benar, kaulah yang harus minta maaf.” Minji melanjutkan langkahnnya, melenggang begitu saja meninggalkan Juho yang masih sinis padanya.

Sepeninggal Minji, seseorang yang sedari tadi duduk di bangku taman tak jauh dari sana menurunkan buku yang dia baca—menarik lengkung sinis pada dua insan yang tengah berdebat disana. Disisi lainnya Kim Yena baru saja selesai menjemur cucian ketika matanya menangkap sosok yang cukup akrab itu tersenyum aneh.

oOo

 

Ponsel pintar seri terbaru itu bergetar beruntun di atas meja, membuat Juniel, Jihyun, dan Chanmi menatapnya lekat-lekat. Yun Ae menarik napas dalam-dalam, terutama ketika netranya melihat sederet pesan singkat yang masuk beruntun. Dia tahu jelas siapa pengirim pesan itu—dan tolong, jangan katakan kalau orang itu akan melakukan hal gila lainnya.

“Ponselmu,” Jihyun melirik sekilas.

Chanmi penasaran, “Siapa?”

“Bukan siapa-siapa. Abaikan saja.” Gadis itu mendengus dan berdecak sekaligus, “Akhir-akhir ini ponselku terlalu berisik.”

“Kau yakin itu tak masalah?” Juniel bertanya, “Kalau sudah keterusan, berarti teror namanya.”

“Eh, serius?” Tahu-tahu Mina menimbrung, “Kau pernah membuka pesannya?”

Go Yun Ae menggeleng, “Aku mencoba sekuat tenaga untuk mengabaikannya.” Dia menarik napas, “Dan omong-omong, apa kalian sudah menyelesaikan challengenya?”

Chanmi tersenyum simpul, mengingat sesuatu yang semalam dia lakukan dengan Taehyung, “Kurasa aku sudah menyelesaikannya…dengan sedikit manis?”

“Whoah, daebak—Park Chanmi-jjang!” mereka berseru kompak.

“Tolong abaikan, itu cuma perumpamaan yang berlebihan.” Tukasnya kemudian, “Bagaimana denganmu Ji?” dia mengalihkan netranya pada Jihyun, yang di jawab gadis itu dengan gelengan cuek. Dan makan siang mereka berjalan santai seperti biasa.

.

.

.

Jiyeon mengetuk pintu tepat ketika ponselnya berbunyi—wanita itu baru saja mendapati panggilan dari kakaknya.

“Ada apa?” dia bertanya cepat seraya meletakan setumpuk berkas dan dokumen di meja Taehee, “Tidak biasanya unnie menelepon.”

“Aku butuh bantuan, Jiyi.” Wanita itu memandang lurus-lurus ke luar jendela, “Ada seseorang yang harus ditemukan.”

Jiyeon mengerutkan keningnya, “Siapa?”

“Seorang wanita bernama Baek Jiyoung.” Taehee menarik napas, “Kita harus menemukan wanita itu.”

“Siapa dia?”

“Kalau kau ingat, dulu oppaku pernah tergila-gila pada seorang wanita…dan menghamilinya. Tapi karena satu dan lain hal wanita itu menghilang—tak lama setelahnya dia kecelakaan dan mati.” Kim Taehee menarik napas, “Kau mungkin pernah mendengar cerita ini dari eomma dulu, bahwa kau akan punya seorang oppa yang brengsek kalau kau memutuskan untuk masuk kedalam keluarga kami—dan beruntungnya dia mati sebelum kau datang.”

“Lalu?”

Lagi-lagi wanita itu menarik napas, “Sepertinya kita akan bertemu dengan anak dari wanita itu—kalau perkiraanku benar maka…dia akan berada disini.”

“Itu berarti kita hampir menemukan pewarisnya, kan’?” Jiyi menarik napas, “Dan kalau anak itu sudah ditemukan maka pengalihan perusahaan atas nama ayahku akan batal demi hukum—dengan begitu maka kau bisa menyelamatkan semuanya…”

“Kau benar,” wanita itu berbalik, menatap lurus-lurus pada manik mata Jiyeon, “Maaf Ji, tapi aku harus melakukannya…karena ini sudah dimulai bahkan sebelum aku tahu kalau kau ada…”

Gadis Park itu tersenyum simpul, “Aku percaya bahwa apa yang kita lakukan sekarang bisa menghentikan obsesi ayahku. Justru aku yang harus minta maaf, kan’?”

oOo

 

Lantas begitu jam makan siang berlalu Jihyun melangkahkan kaki keluar gerbang depan Seiryu. Gadis yang tampak kesal itu memegang ponsel di telinganya dan tengah bicara dengan seseorang. Tak lama kemudian sebuah van hitam datang dan menjemput gadis itu. Tepat di sebrang jalan Yena dan Nayoung masih menunggu bus yang akan mereka tumpangi. Hari ini kedua gadis itu memiliki agendanya sendiri, dan kebetulan satu arah dari Seiryu.

“Ada masalah, Yena-ah?” Nayoung menatap gadis itu lekat-lekat.

“Eh?”

Nayoung berdecak, “Kau menatap Han Jihyun yang terkenal itu sampai melotot.” Dia menarik napas, “Apa kalian ada masalah?”

Yena tidak menjawab satupun pertanyaan Nayoung. Kepalanya justru dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tak bisa dia jawab. Ingatannya seperti kembali tersedot kemasa beberapa jam yang lalu—tepatnya semalam, ketika dia menemui Kim Seungwoo dari D-ent. Dan seketika itu juga dia melihat sesuatu yang mungkin tidak seharusnya dia lihat.

“Kim Yena, kau dengar aku?” Nayoung berdecak dan mendengus sekaligus, “Apa masalah kalian benar-benar serius?”

“Tidak, bukan begitu,” Yena menyanggah cepat-cepat, “Akhirnya aku tahu kenapa Han Jihyun yang terkenal itu begitu membenci ibunya—karena ini bukan sekedar rumor.”

“Apa?”

Yena menarik napas, “Sudah, lupakan saja. Aku pasti salah lihat.”

“Apanya?” Nayoung berdecak lagi, “H—hei, Kim Yena!”

“Lupakan saja, bisnya sudah datang.” Gadis itu mengabaikan protes temannya dan langsung naik ke dalam bus.

.

.

.

 

Di Myeongdong Myungsoo baru saja keluar dari salah satu tempat laundry langganannya ketika ujung matanya menangkap sesosok pria tak dikenal tengah mengintai dirinya. Dia tahu betul bahwa seseorang tak dikenal yang membuntutinya itu pasti paparazi—dan ayolah, Kim Myungsoo tengah menjadi tranding topik nomor satu di mesin pencarian terkait skandalnya dengan nona X yang dengan begitu kurang ajarnya menyebar rumor dan menghancurkan hidupnya.

“Tunggu!”

Suara khas remaja SMA itu menghentikan langkah kakinya, dan dengan hati-hati Myungsoo mengalihkan pandangannya. Mencoba sebisa mungkin untuk tidak membuat keributan di muka umum.

“Kau…” gadis SMA itu tampak berpikir sejenak, “Wajahmu familiar sekali, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Tolong, jangan hari ini—Kim Myungsoo harus pulang tepat waktu ke asrama untuk  mengikuti makan malam peresmian murid baru di Seiryu.

“Aku tidak tahu. Mungkin kau salah lihat, permisi.”

Dia masih disana, tampak berpikir keras—sementara Myungsoo sibuk mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dan tanpa dia sadari sepertinya sudah menjadi rahasia umum kalau soloist Kim Myungsoo yang terkenal itu biasa mencuci di Myeongdong—ini membuktikan bahwa stalker is real dan dibuktikan dengan deretan orang-orang berkamera yang tersebar di sisi jalanan.

Omo!!” remaja SMA itu memekik, dan Myungsoo tahu apa akibat dari pekikan itu, “DIA KIM MYUNGSOO!!!”

Dan…Boom!

Detik berikutnya pemuda itu memacu tungkainya cepat-cepat, berlari menerobos kerumunan orang-orang di sekitar trotoar—dibelakangnya ada banyak orang dengan kamera yang mengikutinya disertai cahaya flash yang menyilaukan mata. Kim Myungsoo…ketahuan. tentu saja tak butuh waktu lama agar kabar itu tersebar di media, bahwa si artis dengan skandal terheboh seantero Seoul itu baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.

Di salah satu toko ice cream Min Yoongi masih menikmati semangkuk penuh soondae mint chocolate-nya dengan tenang. Di tangannya sebua gadget menampilkan berita terbaru dari konten paling di sorot, Kim Myungsoo—dan netranya fokus membaca pada baris demi baris dari artikel gosip yang masuk itu.

“Dia ketahuan.” Gumam Yoongi pelan.

Seokjin yang baru saja selesai memesan dessert-nya mengambil tempat,“Siapa?”

“Kim Myungsoo, artis terkenal yang gosipnya dicari langsung oleh kepala sekolah.” Dia menyuap ice cream-nya lagi.

“Oh, orang yang mukanya sombong itu?” Seokjin mendengus, “Eh…”

Yoongi mengikuti arah pandangan Seokjin, “Kenapa Jin?”

“Itu dia!” serunya, “Kim Myungsoo.”

“Ayo,” Yoongi bangkit dari kursinya.

“Kemana?”

Yoongi terkekeh, “Selamatkan orang sombong itu.”

“Kau mau…apa?”

“Buat dia berhutang budi pada kita, siapa tahu nanti ada gunanya.” Pemuda itu tertawa lagi, “Biasanya orang yang mukanya sombong seperti dia pantang menerima bantuan.”

Seokjin menarik napas, “Sok tahu!” dia berdecak, “Awas, nanti kena karma!”

“O—oi!”

oOo

 

“Namamu Kim Doyeon?”

Yura menatap lekat-lekat seorang gadis yang duduk berhadapan dengannya sekarang. Dia cukup manis dengan setelan blus tiga perempat lengan dan rok polkadot selutut yang dikenakannya. Surainya legam dan panjang terurai, matanya khas dan tubuhnya mungil. Satu hal yang bisa dipastikan adalah…gadis didepannya ini sama sekali tidak sedang hamil—dari sisi manapun dan entah berapa kalipun Yura menatapnya, dia bukan perempuan yang tengah mengandung.

“Kenapa kau melakukannya?” tanya Yura lagi, masih menatap lurus pada perempuan Kim itu.

“Siapa kau?” dia balik bertanya, “Apa hubunganmu dengan Kim Myungsoo sampai harus mencariku seperti ini?”

“Siapa yang menyuruhmu?” Yura bertanya lagi, mengacuhkan pertanyaan gadis itu,
“Berapa uang yang kau terima setelah menyebar rumor mematikan seperti itu?”

“Kenapa kau penasaran?” dia kukuh bertanya, “Apa kau pacar barunya Myungsoo, huh?”

“Jawab aku!” suara Yura meninggi, “Kau wanita jalang yang menghancurkan hidup orang lain, jawab aku.”

Kim Doyeon terkekeh, “Memangnya apa hakmu bicara begitu?” dia mendengus, “Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku, jadi kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?”

“Kau sudah merencanakan ini dari awal, ya?” Yura masih kukuh dengan pendiriannya, “Mendekatinya, pacaran dengannya lalu mencetuskan skandal. Berapa banyak uang yang kau dapat?”

“Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab semua pertanyaanmu, dan aku punya hak untuk diam.” Gadis itu menarik napas, “Kalau kau masih keras kepala begini, nantinya kau juga yang akan repot, Kim Yura-ssi,”

Yura menarik senyuman miring, “Kau tahu siapa aku?”

“Tentu saja, menurutmu cuma kau yang tahu siapa aku?” dia terkekeh, “Kalau kau segitu penasarannya, kenapa tidak datang dan temui ayahmu? Kurasa Kim sajangmin akan lebih tahu jawabannya dari pada aku.”

“Apa?”

“Dan jangan menduga-duga seperti itu. Kalau bukan karena gadis manja yang tidak tahu malu sepertimu…Myungsoo tidak akan sesial ini—dan aku juga tidak akan berubah pikiran apalagi bertindak sampai sejauh ini. Pikirkanlah…” Doyeon tersenyum simpul, “Myungsoo bahkan tidak sekalipun mengakuimu, kenapa masih repot-repot?”

.

.

.

 

Tepat diluar Seiryu, dua sedan hitam terparkir lama. Dari dalam tampak sekilas beberapa orang dengan setelan jas formal rapi mengamati Seiryu yang masih cukup ramai dengan siswa di jam-jam istirahat sore. Mereka memegang sebuah ponsel pintar yang diarahkan pada gerbang sekolah dan memotret beberapa kali.

Kembali ke Myeongdong, Kim Myungsoo masih mempertahankan kecepatan larinya, berusaha menghindari kejaran para wartawan yang lama-lama semakin meresahkan itu, dan tiba-tiba tangannya di tarik, masuk ke dalam sebuah van hitam yang tidak dia kenal.

Gwenchanna?” Jihyun menghela napas lega ketika melihat ke belakang, “Bagaimana bisa kau seceroboh itu, Kim Myung?”

Myungsoo tidak menjawab. Yang dia lakukan cuma mengatur napas yang masih tersengal. Dia sama sekali tak bisa mengucapkan apa-apa sekarang. Yang Myungsoo tahu bahwa dia pernah beberapa kali melihat Jihyun di acara penghargaan musik—tapi ia sama sekali tidak tahu kalau gadis itu punya mobil van nya sendiri. Apa dia artis sekarang?

“Jangan lihat aku seperti itu. Ini van eommaku—dan aku sama sekali tidak menandatangani kontrak apapun yang berkaitan dengan dunia hiburan, kecuali kenyataan kalau Han Hyojo yang terkenal itu adalah ibuku.”

“Aku tidak bilang apa-apa.” Myungsoo menarik napas, “Terimakasih.”

“Sama-sama.” Jihyun menatap Myungsoo, “Apa sangat sulit?”

“Apa?”

“Jadi idol, tentu saja.” Dia mengalihkan netranya, “Kau berbakat, terkenal dan punya banyak fans. Kabarnya kepala sekolah bahkan menemuimu langsung untuk masuk Seiryu.”

“Iya, terkenal heboh skandalnya, kan’?” dia tersenyum miring, “Ini sulit, tapi aku menyukainya.”

“Eh?”

“Jadi idol, aku menyukainya.” Myungsoo mengulang ucapannya, “Aku menyukai ketika setiap lagu yang kutulis dapat menginpirasi banyak orang. Aku menyukai saat-saat dimana mereka memberikan dukungan dan menyemangatiku. Aku menyukai bagaimana rasanya di tatap jutaan pasang mata saat bernyanyi di panggung. Aku menyukai semua itu…walau sangat sulit.”

“Apa menurutmu eommaku merasakan hal yang sama?” tanya Jihyun sakartis, “Jadi aktris adalah mimpinya.”

“Entahlah. Tapi mungkin saja dia begitu menyukainya.” Myungsoo menjawab sekenanya.

“Menurutmu, itu obsesi atau apa?” Jihyun bertanya lagi, “Uri eomma,”

“Aku tidak tahu. Mungkin dia memang sangat menyukai pekerjaannya?” pemuda itu mengalihkan padangannya, “Aku pernah beberapa kali melihat ibumu. Dia…luar biasa,”

“Apanya?”

“Tentu saja, eommamu.” Myungsoo mengendikan bahu, “Dia bisa memperjuangkan semuanya sampai titik darah penghabisan—terlepas dari bagaimana dia mendapatkannya.”

Jihyun menatap Myungsoo lekat-lekat, “Jadi menurutmu dia hebat?”

“Entahlah. Tapi yang jelas dia sudah melalui banyak hal…dengan banyak rasa sakit.” Myungsoo tersenyum simpul, “Kau harus baik-baik padanya, biar bagaimanapun dia tetap ibumu.”

“Dia wanita kotor yang rela menjual harga dirinya demi pekerjaan itu—yang katanya adalah mimpinya sejak lama.” Jihyun mendengus, “Dia bahkan meluluhkan diri pada godaan ayahnya Yura. Kurang memalukan apa lagi?”

“Yah, itu urusan orang dewasa.”

“Aku membenci mereka. Sangat.” Jihyun tertawa, “Omong-omong, apa hubunganmu baik dengan Yura? Kabarnya dia menemui gadis itu hari ini—perempuan yang menyebar skandal…dia yang mengaku-ngaku mengandung anakmu, Kim Doyeon.”

“Aku tidak akan menjawabnya.” Pelan Myungsoo, “Aku berhak diam.”

“Yah, tidak masalah. Aku juga tidak penasaran.” Jihyun terkekeh lagi, “Apa kau mau poin?”

Myungsoo mendengus malas, “Kau suka padaku, ya?”

“Fans. Anggap saja begitu,” Jihyun mengambil ponselnya, “Aku cuma mau membuat Kim Yura kesal—sebagaimana ayahnya membuatku kesal karena melakukan hal menjijikan itu.”

“Yah, lakukan saja apa yang kau mau.”

 

NOTIFICATION [Mission Succes]

 

Masih di Myeongdong, Kim Seokjin dan Min Yoongi berdiri di sebuah lorong sempit yang gelap—diapit oleh dua ruko yang dijadikan toko bunga dan restoran keluarga. Jin masih sibuk dengan permen apelnya, sementara Min Yoongi melihat-lihat kesekitar dengan seksama.

“Kau yakin disini, Yoon?” Jin mulai jengah, “Kita sudah hampir setengah jam berdiri disini, dan keadaan sepi-sepi saja.”

“Tadi kau lihat sendiri kan’ dia berbelok kesini di perempatan depan?” Yoongi berdecak, “Dia pasti lewat sini. Nanti kalau kau melihatnya, kita harus cepat-cepat menariknya kesini.”

“Bagaimana kalau dia sudah ditolong orang lain?” Jin mendengus, “Bukanya kita kelihatan terlalu niat menolongnya?”

“Siapa yang bisa menolong dia?” Yoongi menarik napas, “Cuma kita yang melihatnya lari-lari dikejar wartawan.”

Jin tertawa hambar, “Ini tidak akan berhasil. Sampai kapan kau mau menunggu?”

oOo

 

Yun Ae, Chanmi dan Mina duduk berjejer di bangku panjang koridor dekat aula. Mereka bertiga masih menatap puluhan pesan masuk yang masih berlanjut di ponsel Yun Ae sejak tadi siang.

“Kita harus melaporkan ini.” Mina membuka suara.

“Iya, ini teror namanya.” Susul Chanmi, “Kau tidak bisa mengabaikannya terus-terusan.”

“Aku tidak bisa melakukannya!” seru Yun Ae tiba-tiba. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil meremas kuat surai panjangnya, “Dia bukan orang yang bisa kita laporkan sembarangan walau sudah melakukan teror.”

Chanmi berdecak, “Siapa dia sebenarnya?”

“Seseorang yang penting?” Mina menarik napas, “Kau yakin itu tidak apa-apa?”

“Entahlah, ini membuatku gila.” Dia mendengus, “Apa kumatikan saja ponselnya?”

.

.

.

 

Kim Yura baru saja memasuki Seiryu tepat ketika van hitam milik Jihyun berhenti di depannya. Tak lama kemudian, Jihyun keluar disusul Myungsoo yang sepertinya tampak kelelahan. Dan entah kenapa mereka jalan beriringan bertiga hingga memasuki lobby, sebelum akhirnya berpisah di koridor yang terhubung dengan asrama.

“Han Jihyun,” panggil Myungsoo pelan, menghentikan langkah Jihyun dan Yura yang sudah menuju hampir ke asrama, “Terimakasih atas tumpangannya, dan juga…poinnya.”

“Kau memberinya poin?” tanya Yura langsung, di depan mereka berdua sekaligus, “Apa yang sudah terjadi?”

Myungsoo berucap datar, “Kim Yura, hentikan.”

“Apa?”

“Kau harus benar-benar berhenti melakukan semuanya—apapun kau lakukan untukku itu sama sekali tidak berguna. Dan lain kali tidak perlu repot-repot menemui Doyeon. Aku akan mengurusi masalahku sendiri.” Myungsoo menarik napas, “Kalau kau punya banyak waktu luang, sebaiknya pergi temui ayahmu dan bilang padanya, tolong jangan ganggu aku lagi.”

Gadis Kim itu membelalakan mata, “Apa?”

“Kau harus berhenti bersikap seperti ini.” Myungsoo tersenyum miring, “Terutama kalau tidak mau semakin banyak orang yang terganggu karena sikap annoying itu.”

Yura bergeming, sama sekali tidak menanggapi kalimat terakhir Myungsoo yang jelas-jelas ditujukan padanya itu. Sementara Jihyun menatap kedua manusia beda gender itu dengan seksama, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya kembali ke asrama.

“Dan untukmu, Han Jihyun,” Yura berucap tiba-tiba, “Tolong jangan memprovokasi Myungsoo.”

“Yang benar saja,” Jihyun menghentikan langkahnya, “Aku memberinya tumpangan saat dia dikejar wartawan, dan memberinya poin juga…” ia terhenti, “Apa kau memang semenyebalkan ini, Kim Yura?”

“Kau!”

Jihyun menatap Yura lurus-lurus, “Dan tolong, kalau kau mau mengunjungi ayahmu…sampaikan juga padanya agar tidak terlalu sering menggoda ibuku. Itu terlalu menjijikan, kau tahu?”

“Oh, kalau soal itu aku tidak bisa jamin…” dia tersenyum mengejek, “Bukanya ibumu yang selalu datang untuk mengemis job, Jihyun-ah?”

“Aku tahu,” jawab Jihyun cepat—terlalu cepat, “Tapi dia cuma menerima tawaran—tawaran yang sangat menjijikan.”

Yura sudah mengangkat lengannya tinggi-tinggi, melotot pada Jihyun dan bersiap memukul gadis itu—setidaknya itu yang akan terjadi kalau Kim Yena tidak menahannya, sementara Nayoung cuma menatap pemandangan itu tanpa bisa mengatakan apa-apa.

“Tolong jaga sikapmu, kita harus menghindari masalah.” Yena menghela napas, “Kau bukan anak kecil lagi, Kim Yura… dan Jihyun-ah, maaf karena mungkin ini kelihatan sangat tidak sopan—tapi tolong, jangan memancing Kim Yura.” Dia terhenti, “Karena gadis ini akan sangat merepotkan nantinya.”

Jihyun tersenyum sinis sembari pergi, “Aku tidak akan disini kalau dia tidak memulainya.”

“Ayo hentikan ini sebelum ketahuan.” Nayoung membuka suara, “Terlibat pertengkaran bisa memotong poin sampai lima puluh persen.”

“Nayoung benar,” Yena menarik lengan atas Yura, “Dan kau juga harus minta maaf pada Minji nanti.”

“Eh?”

oOo

 

Jam sudah menunjukan pukul enam lewat lima belas menit, sementara langit jingga kemerahan itu juga sudah tampak semakin nyata. Lampu-lampu jalanan sudah menyala sedari tadi—dan aula utama Seiryu sudah di penuhi dengan para siswa baru yang duduk rapi mengelilingi meja.

“Katanya mereka akan merilis game baru.” Juho bersuara, “Dan kabarnya ini akan menghasilkan cukup banyak poin.”

“Kau tahu dari mana?” Woobin tersenyum simpul, menyeruput secangkir cokelat panas yang tersedia di meja.

“Beberapa ssaem dan senior membahasnya sepanjang hari ini.” Taehyung menimpali, “Sepertinya game kali ini akan benar-benar berpoin besar.”

“Sudah lihat yang lain?” Ren langsung mengambil tempat duduknya tepat di sebelah Taehyung, “Sepertinya ada sedikit masalah juga.”

Myungsoo merangkul ren sembarang, “Ada apa?”

“Pihak panitia tampaknya agak kesulitan menghadapi sesuatu,” Taeyong menjawab, kemudian menunjuk ke arah pintu, “Kepala sekolah sampai turun tangan langsung…”

Kim Seokjin dan Min Yoongi langsung bergabung, “Apa masalahnya serius?” Jin menjawil buah ceri di cake.

Berbeda dengan meja sebelah mereka, Go Yun Ae, Park Chanmi dan Park Mina masih memandangi ponsel pintar milik Yun Ae—yang entah kenapa setelah diaktifkan kembali semakin banyak pesan masuk berlanjut dari tadi siang. Jihyun masih bolak-balik menelepon seseorang, sedangkan Kim Yura menatap dengan aura membunuh. Ahn Minji sibuk mengobrol dengan Nayoung dan Yena.

“Acara penyambutan siswa baru Seiryu Highschool akan segera dimulai,”

Suara khas dari narator menggema ke seluruh aula melalui pengeras suara. Dan seketika itu juga para siswa tahun pertama itu mengalihkan segenap atensi mereka pada sebuah panggung dengan podium di depan. Tampak dua orang wanita muda yang dibalut gaun semi formal berdiri berdampingan.

“Setelah empat puluh satu tahun berdiri, Seiryu telah memberikan banyak kontribusi di dunia pendidikan selama kurang lebih empat dekade terakhir…dan hari ini sekali lagi kita akan menyambut kedatangan para siswa baru, bibit-bibit unggulan yang akan menjadi generasi penerus bangsa.” Kim Tae Hee memulai pidato sambutannya, “Dan oleh karena itu, kami sebagai fasilitator siswa akan mendukung sebagaimana mestinya sistem belajar-mengajar, pemenuhan fasilitas sarana dan prasarana, serta para tenaga pengajar yang diberdayakan untuk mencapai impian dari masing-masing siswa Se—

.

.

.

 

Woobin memacu tungkainya cepat-cepat keluar dari aula utama Seiryu, meninggalkan acara yang baru sepenggal dimulai itu. Tangannya memegang ponsel yang tengah melakukan panggilan.

“Anda harus ikut kami, tuan,”

Suara bariton yang khas itu menyapa rungu Woobin dalam satu kalimat perintah bernada pelan, namun lelaki itu tahu persis apa yang akan di hadapinya. Dan benar saja, begitu ia menoleh netranya mendapati segerombolan tukan pukul milik ayahnya sudah berkumpul disana. Mereka tidak menyeramkan, bertato atau bertubuh tinggi besar dengan kepala botak—orang-orang itu justru berpakaian formal dengan tubuh ideal, berambut cepak rapi lengkap dengan sepasang pantofel.

“Kami membawa perintah dari tuan Kim,” salah satu ketuanya berbicara lagi, “Saya harap anda akan ikut dengan tenang dan sukarela.”

“Kenapa?”

“Tentu saja karena ini perintah.” Dia menjawab tenang.

Woobin mendengus, “Kalau aku tidak mau?”

“Anda tetap harus ikut.” Kukuhnya, “Kami tidak datang kesini untuk menerima penolakan.”

“Ini sekolah, kalian tidak bisa membuat keributan!” seru pemuda itu tiba-tiba, “Pulanglah, dan katakan padanya kalau aku akan menemuinya nanti.”

“Tuan,”

“APA?!” suara lelaki itu meninggi, seraya dengan rasa kesal yang memuncak di ujung ubun-ubunnya.

Dia ingat kalau orang ini adalah bodyguard yang dulu selalu menemaninya dan menjaganya kemanapun, kapanpun, dan dimanapun. Bahkan mereka pernah menghajar teman-teman yang dulu sering mempengaruhinya pergi main—atas perintah ayahnya tentu saja. Dan bukan tidak mungkin kalau sekarang dia akan diperlakukan sama.

“Tolong,” pelannya, “Lepaskan aku kali ini saja, ajusshi….”

Pria itu masih bergeming, membatu ditempatnya, “Maaf, aku tidak bisa.”

“Ini sekolah, kumohon….” Woobin menarik napas, “Aku sendiri yang akan datang padanya nanti.”

“Justru karena ini sekolah, Woobin-ah,” dia ikut menarik napas, “Jangan membuat kami melakukan tindakan yang tidak diinginkan….”

Andwe, sireo!

 

Sreeettt—buaghh!!

Dalam satu gerakan cepat empat orang di belakang langsung menyerang sekaligus, melumpuhkan segala perlawanan Kim Woobin. Pemuda itu sadar, bahwa dia tidak akan bisa mengalahkan orang-orang ini—dia yang sendirian sudah pasti kalah jumlah.

Bruuuk—sreeettt,

Woobin mengayunkan tinjunya, menyerang secara membabi buta pada empat orang yang sedang berusaha meringkusnya. Walaupun entah bagaimana hasilnya, meski dia tahu bahwa tidak akan berhasil menghentikan mereka…yang bisa dia lakukan cuma menyerang—dan bertahan agar tidak kehilangan kesadaran.

Buaghh—braaakk!!

“Kyaaaa!!!”

Go Yun Ae menutup mulutnya rapat-rapat, matanya membulat terbelalak sempurna dan keningnya berkerut. Ponselnya sudah terjun bebas sejak beberapa detik yang lalu, mengiringi keterkejutan gadis itu—ditambah dengan pemandangan yang dilihatnya sekarang…gadis itu benar-benar tidak bisa berkata-kata.

“Woobin-ah!” Juho tiba-tiba saja berdiri disana.

“Pergi, kumohon,” pelan Woobin, “Pura-pura saja tidak lihat, oke?”

Orang-orang itu mulai menyeret Woobin.

“Berhenti.” Yun Ae membuka suara, “Kalian tidak bisa membawanya begitu saja.”

“Anda tidak berhak ikut campur, nona.”

Juho menarik napas, “Disini ada peraturan, bukan tempat dimana orang bisa masuk atau keluar seenaknya.”

“Kami memiliki izin dari orang tuanya.”

“Dia tercatat sebagai salah satu siswa baru, kalian tidak bisa membawanya!” Yun Ae meninggi, “Siapa sebenarnya kalian?”

“Sekali lagi, ini tidak ada sangkut pautnya dengan anda, nona,” pria itu masih bergeming, “Lebih baik anda kembali ke asrama.”

“Oke, begini saja,” Juho menatap tukang pukul berseragam formal itu lekat-lekat, “Sekarang acara resmi tengah berlangsung, dan kalian tidak bisa membuat keributan—beri dia waktu, setidaknya sampai acaranya selesai dan izin kepala sekolah diurus.”

“Tidak bisa.”

Dua kata pendek itu mengakhiri segalanya, Kim Woobin dibawa paksa hingga ke pelataran parkir utara yang sepi. Juho dan Yun Ae sama-sama mengekor dibelakang, berjaga-jaga kalau nantinya akan terjadi sesuatu pada pemuda itu.

“Tolong, lepaskan saja dia.” Gadis itu menarik napas, memegang ujung kemeja Woobin yang sudah ternoda bercak darah. “Ini akan menyulitkan teman-temannya nanti—terutama kalau dia sampai ketahuan pergi diam-diam.”

“Tolong minggir, nona.”

Yun Ae memukul lengan para pria itu—mereka yang menyeret Woobin tanpa perasaan, “Ajusshi!”

“Minggir sana!” dia yang paling kanan mendorong gadis itu hingga tersungkur—yang untungnya ditahan Juho hingga Yun Ae tidak benar-benar jatuh.

Pimpinan mereka bicara lagi, “Tolong anda berdua tidak perlu ikut campur…” dia menghela napas panjang, “Ini bukan masalah yang harus diributkan anak kecil.”

“Dan dia bukan anak kecil yang bisa diperlakukan orang dewasa seenaknya!” tegas Juho kemudian, “Kami terlalu muak dengan tingkah menjijikan orang dewasa.”

Dia yang paling tinggi maju selangkah, menyejajarkan diri dengan Juho kemudian menatap nyalang pada pemuda itu. Dia meludah kasar dengan mimik meremehkan—dan sejurus kemudian tangan yang terkepal itu siap menghantam rahang Juho, memberikan bogem mentah pada lelaki itu. Namun…

Sreeettt!—Hup!

Ada tangan lain yang menyangga pukulan itu. Dia mencekal kuat pergelangan tangan pria itu dan menatapnya dengan aura membunuh.

“Hentikan.”

Suara bariton itu kemudian menyapa rungu Yun Ae, dia yang awalnya beratensi penuh pada Juho dan Woobin kini tercekat—bergeming ditempatnya, membatu. Lidahnya kelu dan salivanya sangat sulit  ditelan. Dia tahu betul siapa pemilik suara itu.

Sejurus kemudian gadis itu terbelalak, “Kakak?”

“Oh—Yeollane, adik kesayanganku!” dia terkekeh, kemudian menatap lamat-lamat gadis itu tepat di maniknya. “Aku menemukanmu…”

 

oOo TBC oOo

 

Halooo gaes, Sun’s back!

Pastinya kali ini bukan dengan cerita receh yang biasa update di wattpad, melainkan cerita legendaris (?) yang memicu tenarnya open rekues FF. Dan setelah sekian lama vakum (awalnya ngaku cuman 2 minggu…trus lama-lama nambah jadi empat minggu…trus lama-lama keburu hilang feel dan sempat teronggok selama beberapa bulan karena menunggu hidayah datang wkwkwkwk…

Aku ga tau apa jadi apa ff ini sebenarnya karena meskipun udah berusaha memunculkan masalah tapi sepertinya aku merasa bahwa ada yang kurang. Mungkin ngefeel atau apa aku gatau juga wkwkwk yang jelas ini posting kan…. dan senin aku UTS. So, minimal aku bebas tagih HAHAHAHA….

Berikutnya soal pemenang kuis… jeng… jeng… jeng…!! Sesuai janji aku sebelumnya yang menang kuis akan dapet hadiah fee fanart. Jadi buat yang menang tolong langsung pc aku sebelum lupa dan hadiahnya gagal claim wkwkwkkwwk. Jadi pemenang adalah…. jeng… jeng…jeng…!!!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

PAK SHAFA~ YEAH!! alias CHANMI!

Selamat untuk pememang~ dan yang belum menang jangan berkecil hati, karena kalau mood Sun akan ngadain lagi kuis-kuis kecil berhadiahkan FF atau Fanart (Kalau lagi punya modal aku kasih tema line deh ahahahha—ini indikasi tekor gara-gara ngeprint jurnal dan proposal yg dicoret-coret dosen… hiks…)

Sekian dari Sun kali ini, see you at the top!!

Best regards, Bluebellsberry :*

 

 

 

 

 

Advertisements

11 thoughts on “[Multichapter] #5 Seiryu High School: Challange [4]

  1. Yuhuuu…. Minju datang!! Thank for minji&juho special scene. Yura punya niat baik, bagus sih. Cuma caranya yg salah. Menurutku, mulai keliatan masalah masing2 tokoh itu berhubungan gitu. Atau cuma intuisi sok tau saya? Wakak.

    • Kan aku udh spoiler dr awal kalau mereka ini punya benang merah yg kusut di tengah2 wakakkaka… udh tungguin aja min… setiap chara punya bagiannya sendiri.

  2. Sebenernya sih Yun, aku udah baca chapter ini sebelum aku baca ulang dari awal, makanya aku tinggal langsung komen aja, wkwkwkwkwk

    Awalnya aku gak ngerti kenapa tiba2 alurnya jadi kayak gini, tapi setelah aku baca chapter sebelumnya yang rupanya terlewatkan, sekarang aku ngerti. Kasian deh aku sama Minji yang dituduh sama Juho dan aku bener2 merasakan feel mereka berdua di sana. Soal orang yg ngintip itu, aku menduga itu adalah Yura. Benar, kan? Terus soal masalahnya Yura sama myungsoo ternyata dugaan ku waktu itu salah ya, ternyata yg hamil itu adalah doyeon, wkwk sial aku tertipu. Tapi aku masih gabisa nebak kenapa Yura kayak pengen lindungin myungsoo banget, apakah karena suka? Embuh deh, kayaknya aku melewatkan sesuatu juga di chapter2 sebelumnya.

    Nah sekarang soal Jihyun, sumpah, aku bener2 gak nyangka ternyata ibunya Jihyun ada hubungannya sama bapaknya Yura, kayaknya tokoh Yura di sini bikin sebel bgt ya. Dan aku suka dgn cara kamu membicarakan masalah Jihyun dan myungsoo ttg idol itu, entah kenapa dapet bgt feel-nya pas myungsoo tiba2 ditarik sama Jihyun buat masuk ke Van. Terus si Agus bego2 unyu deh kayaknya, mau nungguin sampe kapan coba lu di sana, wong myungsoo udah diselamatkan sama Jihyun , wkwk pengennya minta balas Budi sih 😂😂

    Oh iya, aku belum bisa nebak kenapa Jihyun tiba2 di teror kayak gitu, ada penjelasan sebelumnya kah? Aku berasa ngambang bgt nih alur cerita yg kemarin, datang dan pergi gitu jadi lupa2an, mungkin ini tandanya kamu jgn kelamaan apdet kali ya Yun biar aku gak gampang lupa 😂😂

    Sekarang aku mulai agak nebak dikit sih soal tae-hee jiyi dan Juho, udah duga dari chapter sebelumnya dan kayaknya dugaan ku makin kuat setelah baca scene mereka. Tapi aku gamau omongin dugaan ku dulu, biarkan aku berspekulasi dgn diriku sendiri sampai mendapatkan jawabannya, hahaha

    Dan untuk ending, aku agak bingung. Itu ada kakaknya yunae tiba2 dateng apa gimana? Aku baca berulang-ulang tapi belum paham Yun, mungkin otakku jg masih dipenuhi materi ujian tadi pagi makanya jadi makin mumet gini mikirannya, haha

    Aku baru ngeh kalo ternyata dua chapter terakhir ini dibagi fokus per karakternya. Kemarin masalahnya si a,b,c,d, chapter ini masalahnya d,e,f,g. Tapi kayak gini lebih enak dibaca sih, karena gak terlalu numpuk dan bikin reader juga fokus sama satu permasalahan dulu yg saling berkaitan. Good job lah Yun! Alurnya bener2 keren!

    Kutunggu lanjutannya yeeeesss, jangan lama2 ya Yun, jangan biarkan aku lupa lagi dan kudu baca dari awal lagi biar bisa inget 😂😂 Pokoknya tetap semangat yaaaw~ salam cinta dari istrinya Taehyung muah muah 😘😘

    • Hai hai hai zul wkwkkwk…

      Soal minji juho aku belom tau mau dibawa kemana hubungan mereka.. krn sebetulnya ini baru kulitnya aja.. mungkin nanti kalau udh mencapai inti masalah masing2 chara aku bakal pisahin dgn pembagian yg lebih spesifik. Bukan 44 tapi mungkin 22 per chapter. Jd kalian mesti lebih sabar sih.. karena namanya inti masalah kan butuh pembahasan yang lbih fokus.

      Soal yura dan myungsoo mereka sebetulnya more than that (?) Tapi yg jelas *minjem tagline ff zul* ada rahasia dibalik rhasia. Soal jihyun ntar dia punya scene nya sendiri yg menjelaskan sikap dia. Dan soal yun ae akan ku bahas pelan2 karena dia termasuk rumit sih karena profilenya itu *agak menyesal* #plaaakk

      Aku juga udh spoiler dan kasih petunjuk sih sebetulnya siapa duluan yang bakal di bahas. Da keknya bahasan mereka bakal panjang. Tapi balik lagi… msh ada 1 chapter pengenalan lagi sampe eps bertajuk #challange ini selesai wkwkwkwk… makasi zul^^

      Btw semoga ntar setelah uts aku bisa lebih sering update ff hahahaha #mengingat ff aku banyak bgt#

  3. Yuuhuuu…. q datang…
    Akhirnya ini ff terupdate juga ya yunn.. ciyee… minji ma juho malah-malahan yar jadi endingnya kepincut loh sama lain, wkwkkw 😂😂😂

    Dan akhirnya setelah sekian lama.menunggu akhirnya jihyun keluat juga dari kandangnya, wkkwwk 😂😂😂 ceneng na hatiku 😍😍😍 meskipun sikap jihyun sinis dan rada songgong ya? tapi ndak apa-apa lah… yg penting org yang punya gak kaya gitu 😂😂😂

    Itu si jihyun kaya org sibuk ya, kerjaannya nelepon.mulu… capa tuh yg ditelepon??? #Tiba-tibaKepo#

    Meskipun di part ini gak ada momen jihyun ma woobin gak apa-apa lah… momen myungji juga diriku suka, wkkwkw 😂😂😂

    Selamat ya buat pemenang challeng na… n aku tunggu part selanjutnya. Keep writting n fighting! Cemangat juga ya yun buat skripsinya 💪💪💪

    • Haloo kak jihyun wkwkwk
      Tenang kak.. ada rahasia di balik rahasia #pinjem tagline zul lagi # wkwkwkwkk

      Soal jihyun ntar dia tobat pada waktunya dan ketemu bang wobin pada waktunya hahahaha

  4. HAIIII YUNNNNNN AKU DATANGG

    Sebenernya di setiap scene banyaaaaak banget yang pingin aku komen. Udah gatelllllll banget pingin spam komen tapi apa daya ini bukan wattpad (eh nyebut merk 😂😂😂😂)

    Sebenernya karena karakternya banyak aku jadi lupa sama alurnya but aku baca ulang chap empat mayan lahh ada gambaran kwkwkwk aku penasaran sama challage berikutnya yang katanya bakal ngasih banyak poin… hmmmm sepertinya akan lebih tidak terduga dari yg sebelum sebelumnya. Dan omaigattt endingnya kenapa bikin gregett. Kenapa semua ini harus disudahi ketika sedang seru-serunyaaa -______- tp emang itu poin utamanya bagian ending tbc ya jd gak apa apa deh aku ikhlas 😂😂😂😂 btw kakaknya si yeollane siapaaa? Chapter sebelumnya udah diungkap kah? Apa belum ya? Kwkwkwkwkwk ini nih otak aku yg terlalu lemot emang susah nginget 😂😂😂

    BTW aku pingin jitak Suga deh sumpah… agak kasian juga sih sebenernya karena gak jadi nolongin myung krn keduluan jihyun. But pleaseee alasan dia nolongin konyol bangett 😂😂😂 makanya banggg niat nolong itu harus ikhlasss jangan ada maunyaaa kwkwkwkwk

    Oke sebenernya aku sedih krn Chanmi blm dipertemukan sama Agus buttttt aku suka karena mencium bau-bau Taehyung-Chanmi moment. Enggak sama mas agus, makhluk kerdus juga jadi dong 😆😆😆

    BTW juga… aku sebenernya kasian sama Yura… dia semacem diabaikan oleh Myung krn keliatan ikut campur but exactly mungkin maksud doi baik. Dann aku sebenernya sebel sama Jihyun sih… emang sih si Yura nyebelin, cuma kan yang punya masalah langsung sama dia itu ayahnya Yura bukan Yura, kenapa dia enggak benci sama ayahnya ajasih elahhhh 😑😑😑

    Okee yunnn mungkin cukup sekian dulu komenku. Banyak yang mau aku komen cuma lupaa yunn… seandainya ini wattpad mungkin aku udah sepam banyak komen kayaknya bwakakakaka

    Keep writing and hwaiting!!!

    P.S: YEAAAAAAAYYYYYYYY AKU MENANG AKU MENANGGGG UNCHHHHH I LOPE U FULLL LAH YUNNN. Gak nyangka aku menang soalnya pas aku jawab kuis diriku lagi berada dalam posisi pusing sama tugas produksi kwkwkwkwkwk thanks yaaaa yunnn nanti aku langsung pc kamu dan tidak akan membiarkan klaim hadiahnya hangus bwakakakakaka 😘😘😘😘😘

    P.S 2: Video entaran yaaa. Kalau kau masih rela menunggu akan aku buatkan 😂😂😂😂😂😂

    • Haii pak ahahaha… sebetulnya aku sudah pernah balas ini.. tp entah mengapa wp ini nyebelin. Udh ketik panjaaang bgt ternyata komennya hilang kayak waktu itu.. jadi—yasudahlah.. ku pasrah saja.. dan sambil ngurus2 blog aku baru sadar kalau komen ini blm dibales ahahha.. pokoknya fighting pak^^ mangatsss wahai pejuan skripsii😂😂😂😂

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s