[Vignette] Why?

why

Why?

Author : Jinho48

Genre : Angst, Sad, Hurt

Cast :

  • Koo Junhoe (iKON)
  • Son Chaeyoung (TWICE)

Length : Vignette

Summary : “Kenapa begini akhirnya? Kenapa harus bertemu bila akhirnya berpisah? Kenapa kau menghancurkan kebahagiaanku? Kenapa, huh? Kenapa?”

HAPPY READING! ^^

% % %

Langit biru bersih telah berganti kelir menjadi kelabu. Gerombolan burung berbondong-bondong kembali ke sarangnya. Sang mentari pun beranjak kembali ke peraduaannya. Deru ombak yang saling berkejaran terdengar seperti melodi pengiring menutup hari.

Desau angin di daerah pesisir menerbangkan benda ringan yang ia lewati. Pasir putih yang tadi kering kini mulai basah dan tergenang air seiring dengan naiknya air laut. Lampu-lampu yang ada di pinggir pantai mulai di nyalakan untuk menerangi tempat itu.

Orang-orang bergegas menyingkir dari bibir pantai dan menikmati panorama yang ada dari pinggir pantai sembari makan malam bersama keluarga ataupun mengobrol bersama teman. Tapi tidak dengan seorang gadis bersurai kecokelatan tersebut.

Gadis tersebut masih setia menyusuri bibir pantai kendati air laut telah menenggelamkan kaki hingga lututnya. Di eratkannya mantel cokelat tua yang membalut tubuhnya mengingat udara semakin dingin. Gaun putih selutut yang di pakainya ia biarkan basah.

Pikirannya melalang buana entah kemana. Banyak hal yang berkecamuk di otaknya. Akhir-akhir ini ia terlalu banyak mendapat tekanan dari berbagai pihak. Hingga membuat batinnya tersiksa dan emosinya menjadi sering berubah-ubah.

Kenapa?

Satu pertanyaan dengan sejuta makna. Ada banyak pertanyaan semacam itu yang mengisi otak dan hatinya. Kenapa begini? Kenapa harus aku? Kenapa dia pergi? Kenapa berubah? Kenapa ingkar? Dan masih banyak lagi pertanyaan ‘kenapa?’ yang ada di benaknya.

Teringat olehnya percakapan terakhirnya dengan pemuda itu sebelum mereka berpisah. Pemuda itu mulai berubah beberapa hari sebelum hari yang mestinya menjadi hari jadi mereka yang ketiga -jikalau mereka masih bersama. Menjadi lebih diam dan dingin terhadap gadis tersebut. Dia berbeda dari sebelumnya.

“Chae…”

“Iya, Jun? Waeyo?”

“Maaf!”

“Ha? Untuk apa?”

“Segalanya. Maaf!”

“Ah, tidak perlu minta maaf. Kau tidak salah apapun padaku.”

“Maaf tapi dia memintaku untuk menjauh darimu.”

“Apa? Dia? Siapa yang kau maksud?

“Somi. Ia tak suka dan tak mau kita dekat lagi. Apapun bentuk hubungan kita.”

“Tapi, Jun… Kau pernah bilang ini hidupmu sendiri jadi dia tidak berhak mengaturmu ‘kan? Meski dia kekasihmu, mestinya dia tidak berhak mengatur kau ingin dekat atau berteman dengan siapapun. Kenapa jadi seperti ini? Kita kan hanya berteman.”

“Aku tahu. Tapi, apa kau tak ingat? Dia telah memaafkan kesalahan kita di masa lampau. Aku mengerti perasaannya. Ia hanya mencoba melindungi apa yang telah menjadi miliknya dan tak mau hal yang sama terjadi lagi. Lagipula…”

“Lagipula apa, hmm? Aku juga paham perasaannya. Tapi apa salahnya kita berteman? Kau dan dia sama-sama tahu aku telah memiliki Jungkook. Untuk apa dia masih cemburu dan curiga? Itu tidak akan terjadi lagi. Aku dapat memastikannya.”

“Chae, tidak salah kita berteman. Namun, aku ingin menurutinya sekali ini saja agar dia tidak tersakiti lagi. Lagipula… aku sudah merasa tidak nyaman. Aku tak ingin melakukan kesalahan dan terjatuh pada lubang yang sama. Mengertilah, Chaeyoung!”

Chaeyoung hanya diam. Dia menatap nanar ke arah pemuda jangkung yang ada di hadapannya. “Junhoe, kenapa kau ingkar? Kau bilang akan selalu menemaniku. Tapi nyatanya? Kenapa kau setega ini padaku? Bukankah kita teman? Jun… Kumohon! Tetap bersamaku hingga musim semi berakhir. Jebal!”

Helaan nafas terdengar dari mulut Junhoe. Dia menatap sendu gadis yang pernah menjadi miliknya dulu. Tangannya terulur untuk mengusap pipi gadis itu. “Chaeyoungie, mianhae. Aku tidak bisa. Lupakan aku, Chae! Anggap saja kita tidak pernah kenal sebelumnya,” lantas dia menjeda ucapannya sebelum kembali berbicara. “Oh ya, ini. Datanglah bersama Jungkook!”

Koo Junhoe & Jeon Somi

Itu adalah sebuah undangan. Junhoe menyodorkan sebuah amplop berisi undangan kepada Chaeyoung. Sebuah undangan pertunangan antara pemuda bermarga Koo dengan seorang gadis cantik bernama Jeon Somi, adik Jeon Jungkook.

“Jaga dirimu! Kau harus menjadi gadis yang kuat! Berbahagialah dengan Jungkook! Hiduplah dengan baik, eoh! Selamat tinggal!”

Tanpa memberi Chaeyoung kesempatan untuk berbicara, pemuda itu beranjak meninggalkannya. Meninggalkannya dalam keterkejutan dengan segala perasaannya yang bercampur aduk. Air mata mengalir bebas di kedua belah pipinya. Ia hanya mampu menangis dalam diam sembari menatap kepergian Junhoe.

Ingatan tentang percakapan terakhir mereka itu membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Dengan kasar ia mengusap pipinya, berusaha menghapus air mata yang terus mengalir di pipi tirusnya. Tubuhnya mendadak lemas. Ia jatuh terduduk di pasir.

Dadanya bergemuruh. Matanya terpejam erat. Tangannya memukuli dadanya untuk mengurangi rasa sesak yang ada. Dia butuh asupan oksigen lebih untuk rongga dadanya yang menyempit. Gadis itu sungguh merasa sesak. Rasa sakit itu membuatnya tersiksa.

“ARRGGHH!!! KOO JUNHOE!!” teriakkan frustasi itu akhirnya keluar dari mulut gadis mungil tersebut.

“Jun, kenapa kau meninggalkanku di saat aku membutuhkan penopang? Kenapa kau ingkari janjimu untuk selalu menjadi rumahku untuk kembali? Kenapa kau menorehkan luka sedalam ini padaku? Kenapa begini akhirnya? Kenapa harus bertemu bila akhirnya berpisah? Kenapa kau menghancurkan kebahagiaanku? Kenapa, huh? Kenapa?”

“Kau tahu bukan jika kebahagiaanku hanya berotasi padamu? Setelah ini, aku harus apa? Bagaimana caraku untuk menemukan kembali kebahagiaanku? Jungkook? Kau pikir dia bisa menjadi solusinya? Tidak, Jun. Jungkook pun tak cukup untuk mengembalikan kebahagiaanku.”

“Aku lelah terus memasang topeng ini. Seolah-olah aku baik-baik saja. Padahal ketika melihatmu tersenyum bersama gadis itu hatiku menangis pilu kendati bibirku tersenyum. Kau tahu? Aku hanya butuh dirimu. Bukan sebagai kekasih, cukup sebagai kakak atau sahabat yang selalu ada untukku. Apa itu terlalu sulit? Hah!”

Setelah mengeluarkan semua emosinya, dia kembali diam dan berusaha untuk lebih tenang. Ia menunduk dan akhirnya kembali menangis. Bibirnya terus merapalkan nama pemuda bermarga Koo itu bak tengah merapal mantra ajaib. Bahunya tampak bergetar.

“Sudah selesai?”

“Apa itu dapat membuatmu lega?”

“Kau merasa puas?”

Cecaran pertanyaan itu membuat Chaeyoung mendongak. Maniknya bersirobok dengan iris kelam milik orang yang mengajukan pertanyaan tadi. Senyuman tipis terulas di bibir pemuda itu dan tangannya terulur untuk menghapus sisa air mata di pipi gadis tersebut.

“Junhoe?”

“Hmm. Apa kabar, Chae? Merindukanku?”

Chaeyoung kembali menunduk. Ia menggigit bibir bawahnya. Tangannya bergerak meremas ujung roknya. Lantas dia tersentak ketika bahunya di remas lembut oleh Junhoe. Refleks, ia mendongak namun mengalihkan pandangannya ketika netranya bertemu dengan manik pemuda itu.

“Tatap aku, Son Chaeyoung!” pinta Junhoe dengan suara beratnya. Chaeyoung pun menatap sosok yang amat ia rindukan itu.

Waeyo?” tanya gadis itu lirih.

“Kenapa kau seperti ini? Tidak ada gunanya. Ini tak akan mengubah apapun. Bukankah sudah ku bilang untuk melupakanku? Jangan menyiksa dirimu! Kau terlihat menyedihkan. Bukan seperti biasanya. Kemana Son Chaeyoung yang tegar dan kuat?”

“Memang mudah mengatakannya tapi sulit untuk melakukannya. Kau tidak akan pernah paham bagaimana perasaan seorang wanita yang tulus mencintaimu. Jika semudah itu, Somi pasti akan melupakanmu dan tidak akan menunggumu untuk berpaling kepadanya.”

Junhoe terdiam sejenak mendengar ucapan gadis itu. Dia menjauhkan dirinya. Ia berdiri tegak dan memilih untuk menghadap ke laut. Netranya mengamati hamparan air laut yang tak terlihat dalam kepekatan malam. Helaan nafas kasar terdengar jelas.

“Chae, apa kau tidak merasa ini adalah obsesi semata? Maksudku, aku merasa daripada cinta, ini mungkin hanya obsesi yang tak berujung.”

“Maksudmu, aku terobsesi padamu? Bukan mencintaimu? Heol! Jika aku terobsesi padamu, aku akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkanmu meski itu harus membunuh orang. Tapi apa aku melakukannya? Tsk! Jaga ucapanmu jika kau tak tahu apapun tentang perasaanku, Jun!”

“Oh, baiklah. Maafkan aku! Jangan tersinggung! Aku tak bermaksud begitu. Hanya mengutarakan pikiranku. Hmm, jadi, aku minta padamu untuk berhenti menyiksa dirimu. Aku tahu aku juga salah karena pergi begitu saja. Tapi aku punya alasan untuk itu. Demi kebaikan kita semua, Chae. Kau pasti mengerti.”

“Kebaikan kita semua? Hah! Kurasa hanya untuk kebaikanmu dan gadis itu. Aku sama sekali tak merasa baik.”

“Chaeyoung! Tolonglah! Jangan seperti ini terus! Kau sudah punya Jungkook. Cobalah untuk menjadikan dia sebagai rotasi kebahagiaanmu. Lupakan aku dan perasaanmu padaku!”

“Junhoe! Apa kau tak mengerti? Ini bukan soal perasaanku. Aku hanya ingin kau tetap berada di dekatku sebagai seorang kakak ataupun seorang sahabat. Tidak lebih. Apa itu salah?”

“Salah jika kau masih memiliki perasaan itu, Chae. Enyahkan perasaanmu dan jadilah teman biasa tanpa ada rasa cinta yang lebih. Cukup rasa cinta antar teman, bisa? Apa kau bisa?”

Kini giliran Chaeyoung yang terdiam. Ada hal yang ia pikirkan. Bukan soal mampukah ia melupakan perasaan itu. Tapi, bisakah orang lain menerima pertemanan mereka? Meski hanya teman biasa, ia yakin ada orang yang tak bisa menerima itu. Dulu dia pernah merasakannya, pertemanan yang di tentang.

“Tidak bisa kan? Diam berarti-”

“Bukan masalah itu, Jun. Bukan masalah sanggup tidaknya aku mengenyahkan perasaan itu. Hanya saja yang ku pikirkan adalah mampukah orang lain menerima pertemanan kita? Ku harap kau tidak lupa bahwa pertemanan kita pernah di tentang meskipun kita hanya teman biasa.”

Junhoe menghela nafas berat. Ia tidak mengerti dengan pemikiran gadis itu kendati apa yang di pikirkan gadis itu ada benarnya. Dia yakin akan terjadi hal yang sama bila mereka kembali berteman seperti sebelum perasaan cinta itu tumbuh.

Apalagi semua orang tahu bahwa mereka berdua dulu pernah saling mencinta. Pasti banyak menimbulkan kekhawatiran dan kecurigaan. Terutama dari pasangan masing-masing. Yah, itu sudah pasti. Somi tidak akan membiarkan mereka dekat kembali.

“Entahlah, Chae. Aku rasa memang ini yang terbaik. Kita hanya perlu menjaga jarak. Dan ku rasa semuanya akan baik-baik saja.”

Chaeyoung berdiri. Ia menghapus jejak air mata yang masih tertinggal di wajahnya. Dia menatap Junhoe sembari tersenyum. Begitu pula dengan pemuda itu. Junhoe menatap Chaeyoung sambil tersenyum kecil.

“Baiklah, kita memang tak bisa kembali menjadi teman. Jika memang ini jalan untuk kita, aku akan melangkah di jalan yang memang sudah di takdirkan oleh Tuhan. Mulai saat ini, mari kita hidup di jalan kita masing-masing, Jun. Dan berjanjilah untuk selalu bahagia dan menjadi orang yang sukses. Yaksok?” ujarnya seraya mengacungkan jari kelingkingnya ke arah pemuda jangkung itu.

Pemuda itu menyambut jari kelingking itu dengan menautkan jari kelingkingnya ke jari Chaeyoung. Keduanya tersenyum tulus. Junhoe mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut gadis itu. Lantas mereka memutuskan untuk meninggalkan pantai tersebut.

Mereka berjanji pada diri mereka sendiri untuk berusaha menepati janji yang tadi mereka buat. Tak masalah jika mereka tak bisa dekat kembali. Diam-diam keduanya berharap dapat bersatu kembali di kehidupan selanjutnya.

Yah, tak dapat di pungkiri bahwa Junhoe pun masih menyimpan sedikit rasa untuk gadis itu. Keduanya mengerti arti cinta sesungguhnya setelah melalui banyak hal selama ini. Mereka berdua berharap bisa menjadi lebih dewasa dan bijak dalam menghadapi cinta.

END

Annyeong! Hajin is back 😀
Kali ini ga bawa cerita Hajin-June. Sedang ingin ganti pemain haha 😀
Maafkan karena cerita ini gaje dan ini murni imajinasiku lho ya. Jangan mikir ini merupakan pengalaman pribadi. Ngga kok wkwk 😀
Oke, di tunggu commen dan like nya ya! Maaf atas typo nya. See you in the another story guys! ^^

 

 

 

 

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s