[Oneshoot] Percayalah

autumn-tumblr-wallpapers-hd

Percayalah

By : Shannellerush

 

Cr. Pic

 

♣♣♣

♣♣♣

Termenung ia kala mendapati sebuah musik yang mampu menyuarakan sejuta kesedihan dalam jiwanya. Sampai saat ini, ia masih belum sanggup untuk mengungkap keseluruhan kenangan yang lalu. Terlalu sakit untuk memikirkan hal sepele semacam itu. Bahkan, ketika hidupnya masih dibantu sekalipun, ia tak sanggup. Ia hanya terbaring tanpa tahu kabar-kabar yang berhembus bagaikan angin. Semua orang percaya jika ia mendengar kabar ini, ia akan mengalami kesedihan seumur hidupnya. Entah sampai kapan ia akan sadar dari petualangan setahunnya. Satu-satunya orang yang tahu akan sebuah kebenaran dari peristiwa itu, telah tiada. Bagaimana mungkin ia bisa ingat semuanya sementara orang yang tahu kebenaran telah tiada?

Ini begitu mustahil. Tapi jika orang-orang mau memberitahu sedikit berita, ini tidak akan mustahil lagi.

Hal terakhir yang ia ingat adalah pertemuannya dengan orang itu, di malam musim gugur di bulan November. Sebelum kejadiannya itu.

♠♠♠

Son Chaeyong terus saja berkutat dengan ponselnya, padahal saat ini ia sedang belajar untuk mempersiapkan ujian. Pikirannya benar-benar tak fokus dalam belajar, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Ia menghela napasnya. Sudah beberapa kali ia mengulang lagu yang sama dalam playlistnya. Hal yang tak mungkin bila ia harus mengingat semuanya, termasuk pelajaran. Ia lelah. Begitu lelah. Sudah setahun ia tinggal di Kota London ini dan menjalani aktivitas di Birmingham. Dan setahun pula ia mencoba mengingat semua yang pernah terjadi padanya. Tapi itu semua tidak berhasil. Amnesia yang ia derita belum pulih juga. Terkadang ia begitu frustrasi lantaran tidak bisa mengingat apapun yang terjadi dahulu. Kembali ia menghela napas, kemudian ia memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Pasalnya, selama ia berada di dalam kamar ini, ia kekurangan pasokan oksigen yang masuk ke paru-parunya. Ia meletakkan ponsel dan meninggalkan alat tulisnya, lalu pergi begitu saja.

Udara malam ini begitu dingin sampai-sampai jaket yang ia kenakan sekalipun tak cukup untuk menghangatkan tubuhnya. Ia menggosok-gosokan kedua telapak tangan kemudian meniupnya hingga ia merasa lebih hangat sekarang.

Jalan-jalan di malam hari seperti ini sangat mengasyikkan rupanya. Hal yang jarang ia lakoni ternyata begitu menyenangkan dibanding ponselnya selama ini. Hanya berbekal pakaian, jaket dan sepatu saja membuatnya merasa lebih baik dibanding berkutat dengan ponsel atau buku pelajaran.

Lama Chaeyong berjalan, akhirnya ia berhenti tepat di atas sebuah jembatan yang berdasar sungai. Bukan apa-apa, ia hanya ingin menikmati indahnya sang malam bertahta kelas-kelip bintang dan sinar sang dewi malam. Walaupun temaram, tapi cahaya sang bulan mampu menarik atensinya untuk terus memperdalam makna dari sang dewi malam.

Hal yang sama, ternyata dilakukan pula oleh Vernon Chwe. Lelaki itu memantapkan diri untuk keluar dari peristirahatan. Ia menarik senyum lepas tatkala sinar sang rembulan  menerpa bintang-bintang dan menerangi malam. Ia sebenarnya berdelusi, tapi ia mencoba mengisinya dengan keindahan coretan langit sang Mahakuasa. Malam yang begitu indah dan berbeda dari malam sebelumnya.

Obsidian coklat miliknya tiba-tiba menangkap sosok yang mengisi hatinya selama ini. Jiwanya kembali bergetar. Perasaannya masih ada. Tapi ia tak dapat merasakan detak jantungnya. Ini aneh. Biasanya detak jantungnya akan terasa hebat tatkala menatap sosok yang berhasil membuatnya jatuh hati.

Perlahan, Vernon Chwe mendekat ke arah gadis itu. Ia hanya ingin memastikan apakah gadis itu baik-baik saja atau tidak. Ia mengenal gadis itu. Tapi, ia tak yakin jika gadis itu mengingatnya.

“Son Chaeyong?” Ia bicara dengan nada bertanya. Takut-takut jika gadis itu bukan orang yang ia maksud.

Gadis itu menoleh. “Iya, benar. Kamu mengenal ku?” Tanyanya.                                                   

Vernon tersenyum, ia ternyata tidak salah. “Aku Vernon. Apa kamu tidak mengenalku?”

“Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi aku tidak tahu kamu.” Sahutnya.

Vernon kembali tersenyum. Kali ini ia mengehela napasnya. Walaupun ia tidak mengenalku, tapi setidaknya ia baik-baik saja sekarang. Pikir Vernon.

“Tidak masalah. Sebenarnya, kamu dan aku dulu punya masa-masa yang indah. Sayangnya, Sang Mahakuasa tidak mengijinkan masa indah itu bertahan lama. Tidak apa, yang terpenting kamu baik-baik saja dan itu sudah membuatku cukup tenang.” Katanya.

Son Chaeyong sama sekali tak mengerti dengan maksud lelaki itu. Ia ingin bertanya. Tapi, tiba-tiba kepalanya pusing, rasanya seperti akan pecah. Lamat-lamat ia dapat melihat sosok lelaki itu sudah menghilang dari hadapannya. Ia tak mempermasalahkan itu. Tapi, sakit di kepalanya benar-benar mengganggu. Sakit sekali. Ia tak sanggup menahannya lagi. Ia memegang kuat-kuat besi pegangan jembatan, sementara tangan yang lain memegangi kepala. Sekitar tiga detik ia bertahan, akhirnya ia terkapar diatas trotoar. Malam itu sangat sepi, tak ada seorang pun yang melewati jalan tersebut.

♠♠♠

Monitor penunjuk detak jantung itu masih berbunyi. Semerbak aroma khas obat-obatan masuk melalui indera penciuman.

Selama ini, hanya monitor itu yang meramaikan ruangan ini. Kadang pula, terdapat suara sesenggukan tangis yang menyuarakan kesedihan orang-orang sekitarnya. Tapi, kali ini setelah sekian lama, akhirnya ia dapat membuka obsidian hitamnya dari peristirahatan. Napasnya masih belum teratur dan masih dibantu oleh alat. Setidaknya, ia dapat hidup dan mengetahui dunia sekarang.

“Chaeyong? Kau sudah sadar?”  Son Naeun tersenyum bahagia kala mendapati adiknya sudah tersadar dari koma. Ia lantas sedikit berlari menuju pintu untuk memanggil keluarganya.

“Ibu, lihatlah! Chaeyong sudah sadar.” Seru Naeun. Sang ibu tak kalah bahagianya, ia lantas mencium puncak kepala Chaeyong. Sampa-sampai air matanya menitik, air mata ini berbeda dari air mata sebelumnya. Air mata ini adalah gambaran dari kebahagiaannya.

“Sayang, cepat panggil dokter.” Titah ibu ada Naeun. Naeun pun mengangguk cepat, kemudian pergi berlalu.

Sang ibu mengelus-elus puncak kepala sang anak sesekali mencium punggung tangan Chaeyong. Ia benar-benar bahagia sekarang.

Setelah melakukan pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa sekitar dua atau tiga hari Chaeyong dapat pulang. Ini adalah berita bagus. Ditambah lagi dengan jantung Chaeyong yang berfungsi dengan baik dan sehat. Kabar ini bagaikan sebuah keajaiban yang berlapis bagi keluarga Son.

♠♠♠

Hari ini, Son Chaeyong sudah dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa walau masih duduk diatas ranjang dengan tangan yang masih terpasang infus. Aktivitas yang ia lakukan tidak berat, hanya membaca beberapa novel dan buku, bermain dengan ponselnya atau mendengarkan musik. Ada sesuatu yang ia ingin tanyakan sejak dua hari yang lalu. Karena semenjak ia sadar, ada suatu keanehan yang terjadi. Sepertinya orang-orang menyembunyikan sesuatu darinya. Ia tak yakin apa itu.

Belakangan ini, kekasihnya sama sekali tak mengunjunginya ataupun membalas pesan. Ini benar-benar aneh. Ada apa sebenarnya?

Otaknya terus ia gunakan untuk berpikir dan bertanya. Apa sebenarnya yang terjadi?

Saat ia sedang termenung sendirian, tiba-tiba sang kakak datang membawa nampan berisi makanan untuknya. Ini bagus. Pikirnya. Bukan masalah makanan, tapi masalah apa yang sebenarnya terjadi.

“Kau makan ya sekarang?” Ujar Naeun, setelah ia duduk di samping ranjang Chaeyong. “Aku yang suapi.” Tangan Naeun sudah memegang sendok dan bersiap untuk menyuapi sang adik makan.

“Kakak, apa aku boleh bertanya sesuatu?”

Naeun mendongak, kemudian ia tersenyum. “Mau tanya apa?”

Chaeyong mulai menggigit bibir bawahnya, memainkan jemarinya sesaat. Lalu berkata, “tentang Vernon.”

Senyum di wajah Naeun tiba-tiba memudar. Bahkan, tangannya mulai bergetar hingga makanan yang di pegangnya terjatuh.

“Kakak, kau kenapa? Apa aku salah bertanya?” Chaeyong nampak sedikit panik.

“T-tidak apa-apa. H-hanya… Ini hanya karena aku kaget.” Kembali Naeun memasang senyum. Dan senyuman itu adalah senyuman getir.

“Oh ya, beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Vernon. Dia aneh sekali bicaranya dan dia juga memakai pakaian putih. Aku bahkan tidak mengingatnya, bukan kah ini aneh? Dia pacarku tapi aku tidak mengingatnya…” Chaeyong terus saja berceloteh sementara sang kakak tak bisa mengatur napasnya, ia hampir saja pingsan. Matanya tak berhenti melebar sejak nama Vernon itu disebut. Ia bingung harus bicara seperti apa pada adiknya. Bibirnya bergetar, pikirannya meracau dan ia lupa tujuannya datang ke kamar rawat sang adik.

“Kakak?” Panggil Chaeyong. “Kau dengar aku kan?”

“Ah.. Iya, aku mendengarnya. Sangat jelas.” Naeun mengangguk ragu.

“Katakan padaku, dimana Vernon? Kenapa dia tidak pernah mengunjungi ku? Hm… Bisa kakak hubungi dia untukku? Aku ingin berbicara dengannya. Aku merindukannya, kakak.”

Naeun memaksa seulas senyum, walau ia masih bergetar gugup.

“Chaeyong, maafkan aku. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Vernon dia…. Dia ada di jantung mu.”

“Aku tahu, kakak. Dia itu pacar ku. Tentu saja ia adalah jantung hatiku.”

“B-bukan itu. Maksudku, Vernon dia memberikanmu jantung miliknya. Dia membiarkan mu hidup dengan jantungnya. Setiap aliran darah di tubuhmu itu sebenarnya milik Vernon.”

Chaeyong tidak percaya, ia menggelengkan kepalanya. “Ini pasti bohong. Yah… Bohong. Vernon tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu. Tidak mungkin. Tidak….”

Air mata Chaeyong tiba-tiba saja tumpah tanpa aba-aba.

“Itu adalah kenyataannya. Maafkan aku. Aku hanya menjalankan pesan terakhir dari Vernon.”

Naeun ikut menumpahkan air matanya.

Kesedihan yang paling mendalam. Ia tak sanggup. Detik itu juga, Chaeyong rapuh. Ia sakit. Ia tidak bisa hidup tanpa belahan jiwanya. Jantung ini adalah satu-satunya yang masih bertahan.

Chaeyong menangis sejadi-jadinya. Ia memegangi dada kirinya. Hal terbodoh yang dilakukan oleh Vernon Chwe adalah mendonorkan jantungnya sendiri untuk Son Chaeyong, satu-satunya gadis yang ia cintai. Kenapa lelaki itu begitu bodoh?  Ia mengorbankan jiwanya untuk seorang yang ia cintai, bukan kah itu hal yang bodoh?

“Kenapa? Kenapa…” Chaeyong tak bisa menahan tangisnya. Ia sudah tak bisa berbicara lagi.

“Maafkan aku. Kau koma selama setahun setelah kecelakaan itu. Kata dokter, jantungmu tidak normal dalam memompa darah sehingga kau kekurangan darah. Bersamaan dengan itu, Vernon juga mengalami sekarat, tapi sebelum itu ia berpesan untuk memberikan seluruh hidupnya untukmu, segala yang ia punya akan di serahkan untukmu. Kau hidup sekarang ini pun karenanya. Dia telah membiarkan mu hidup, Chaeyong.”

♠♠♠

Chaeyong menatap nisan di depannya dengan mata nanar. Butuh waktu beberapa minggu untuk memahami kenyataan bahwa orang yang dicintainya telah tiada. Sebaris kata pun rasanya tak cukup untuk mengungkap segala kesedihan di jiwanya. Cintanya begitu besar sampai rela mengorbankan hidupnya untuk orang yang di sayangi. Andaikan ia berada disini, Chaeyong ingin memukulnya, memeluknya, menangis di pelukannya dan….

 Ia tak bisa berkata-kata lagi. Chaeyong hanya dapat duduk diatas kursi roda, sementara Son Naeun berada di belakanganya.

Chaeyong kembali mengairi wajahnya dengan air mata. Bunga krisan itu ia letakkan di atas makam. Rasanya begitu berat. Isakan tak henti-hentinya keluar. Pikirannya masih merangkai sebuah kalimat untuk dilontarkan pada Vernon Chwe.

“Aku masih tak bisa melepaskanmu. Kamu telah membuatku jatuh hati. Aku tak bisa melupakanmu, apalagi di tubuhku ada jantungmu. Aku makin tidak bisa…”

“Apa kamu bodoh? Kamu memberikan seluruh hidupmu untukku. Kamu harus nya tidak melakukan hal sebodoh itu. Kamu sama saja membiarkan ku hidup dalam penderitaan… Kamu adalah orang yang paling kusayangi dan kucintai, tapi kenapa kamu tega meninggalkan ku? Apa kamu tidak mau menunggu sampai aku sembuh? Kenapa kamu melakukan semua ini?”

Chaeyong tak bisa lagi menahan semuanya. Ia menangis sangat keras. Kentara sekali tangisan itu adalah tangisan kehilangan.

Musim gugur kali ini benar-benar musim paling menyedihkan bagi Son Chaeyong. Cintanya hilang di telan ribuan dedaunan yang berguguran. Sampai kapan pun ia tak akan melupakan ini semua. Bahkan, seumur hidupnya ia akan tetap mencintai Vernon Chwe meski dunia dan akhirat yang membatasi.

 

 

-FIN-

 

Wee woo wee woo wee~ halo semua~ Aku kembali lagi membawa fiksi gaje wkwk, sebelumnya aku mau tanya, ada yang ngerti sama maksud ceritanya? Aku harap sih ada yang ngerti. Soalnya aku beberapa kali revisi ini cerita tapi hasilnya ya seperti ini. Terus cerita ini juga udah pernah aku post di blog pribadi —sama kayak Goodbye Summer— Aku harap aku bisa menghasilkan karya disini agar bisa kalian nikmatin, yah walaupun ceritanya rada nyelekit wkwkwk rencananya sih mau aku bikin semacam seri 4 musim, tapi yah gimana nanti sih wkwk

Oke, sepertinya dah cukup nih cuap-cuapnya, kalo misalnya ada kesalahan mohon kritik dan sarannya ya supaya kedepannya saya bisa lebih baik dalam berkarya 🙂 Thankseu ^^

 

 

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s