[Part-3] Imprisoned

imprisoned

|| Title: Imprisoned || Author: Phiyun || Genre: Family | Romance|| Rating: 16+ || Cast: Park Shin Hye | Jung Yong Hwa ||

Note: Nama Cast sewaktu-waktu akan bertambah maupun berkurang.

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. FF ini terinspirasi dari film maupun buku yang pernah ditonton dan dibaca oleh author.  Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Please Don’t Be Silent Reader!

 

– Preview: Part 1Part 2

*** Happy  Reading ***

~ Quote ~

“Bagaimana mungkin aku bisa berlari jauh darimu, bila hatiku telah kau tawan bahkan sebelum aku menyadarinya.”

~OoO~

 

 

Tempat tidur Shin Hye begitu terasa nyaman dan itu mengingatkannya pada waktu ia masih kecil, ketika sang Bunda selalu menina-bobokannya dengan mengisahkan dongeng-dongeng sebelum ia tertidur. Namun kini tak ada kisah-kisah itu sebelum ia tidur yang ada hanya kemiripan nasipnya dengan kisah ‘Beauty and The Beast.’

 

Shin Hye tidak ingin tidur, namun rasa lelahnya mengalahkan niatnya dan ketika ia membuka matanya, kamar itu sudah bermandikan sinar matahari. Sejenak Shin Hye sulit mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya. ia berusaha mengingatnya, dimana ia berada sekarang. Beberapa saat kemudian gadis itu tersadar dimana dirinya sekarang. ia teringat akan kemalangan nasipnya, yang terkurung di sebuah rumah yang entah dimana letaknya.

 

Ia menarik tangannya dari bawah selibut tebalnya dan kemudian memandang ke arloji. Jarum-jarum halus di dalam kaca arlojinya menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit. “Tak mungkin aku tidur begitu nyenyak! Harusnya tidak!!” runtuk Shin Hye. Karena hampir sepuluh jam ia tertidur. Seharusnya ia tidak boleh terlena dengan kenyamanan yang diberikan oleh Tuan muda keras kepala itu kepada dirinya.

 

Shin Hye lalu melepaskan tubuhnya dari selimutnya, meloncat turun dari tempa tidur dan melangkah ke depan jendela. Sekarang , langit sangat cerah dan itu memungkinkan dirinya untuk mengetahui dimana dirinya sekarang. ia berharap bila dirinya menemukan seseorang warga di sekitar dirinya namun Shin Hye harus menelan pil pahit karena hampir satu jam ia berdiri, ia tidak menemukan satu pun manusia yang melintas di sana.

 

Ia hanya dapat melihat hamparan salju tebal yang meratakan sekeliling pandangannya. namun ada jalan setapak yang sudah dibersihkan oleh seseorang tepat di bawah jendelanya. “Mungkin David yang telah membersihkannya.” pikir Shin Hye. Halaman terliat bersih dan di sana ada bekas-bekas telapak sepatu yang mulai mencair menjelaskan, bahwa seseorang telah pergi keluar.

 

Dada Shin Hye semakin sesak saat menyadari dirinya telah tersekap di dalam rumah ini. Ia lalu menutup tirai jendela—memandang kesekeliling kamarnya—berjalan ke arah kamar mandi. Shin Hye ingin membersihkan dirinya disana ia membasuh wajahnya dan kemudian kembali ke kamarnya. Untuk mengenakan pakaiannya. Saat Shin Hye akan mengancingi kemejanya ia mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Seketika jantungnya berdetak kencang, sejenak ia berdiri mematung sambil memikirkan siapa yang telah datang di depan kamarnya.

 

“Nona Park? Nona Park, apakah Anda telah bangun?” suara itu terdengar familiar di telinga Shin Hye. Ya, suara bariton itu adalah David.

“Ya, tunggu!” sahut Shin Hye. “Apa yang kau inginkan?” tanya Shin Hye di balik pintu.

“Saya membawakan Anda sarapan pagi, Nona. Karena Saya pikir Anda pasti merasa lapar.”

 

Shin Hye merasa bimbang. Ia ingin menyuruh David pergi ke Tuannnya—mengatakan bahwa ia (Shin Hye) sedang melakukan mogok makan, sampai mereka membiarkannya pergi. Namun pikiran itu sirna saat gadis itu menyadari, taktik semacam itu tak akan diacuhkan oleh orang semacam Jung Yong Hwa.

 

“Tunggu sebentar!” sahutnya kembali, dan kemudian membuka pintu. David berdiri di luar, tubuhnya yang jangkung dan besar menutupi pemandangan luar saat Shin Hye membuka pintunya.  Kedua tangan lelaki itu memegang nampan yangpenuh dengan makanan yang masih mengepul. Ia menatanya dengan rapih di atas nampan tersebut.

 

“Saya membawakan roti panggang, salad, steak, pasta, dan secangkir capucinno dan Orange Juice.” katanya menjelaskan. ”Apakah itu belum dapat memancing selera Anda, Nona Park?”

 

Shin Hye memandang ke nampan dan kemudian ke David, kedua pipi nya nampak memerah. “Kedengarannya begitu lezat!” gadis itu mengakuinya dengan jujur.

 

“Tuang Yong Hwa mengira Anda munkin merasa lapar,” kata pemuda plontos itu kering. Seketika Shin Hye mengantup bibirnya rapat-rapat.

“Oohh… benarkah ia berkata seperti itu?”

 

David mendesah. “Anda tidak sedang akan menyuruhku kembali ke dapur dengan semua ini, bukan?” serunya.

 

Shin Hye merasa bimbang. “Sepertinya tidak. Saya menginginkannya.” Gumam Shin Hye  seraya menganggung pelan.

“Mengapa Anda harus menyiksa diri Anda sendiri, Nona? Tuang Yong Hwa tidak akan terpengaruh, meski Anda memutuskan untuk mogok makan.”

Shin Hye menganguk kembali. “Saya tahu.”

 

“Maka dari itu janganlah Anda melakukan hal bodohitu.” David lalu menaruh nampan berisi makanan itu di atas meja kecil tak jauh dari depan jendela. Kemudian berjalan kembali ke depan Shin Hye. “Silakan bersantap, Nona.”

Shin Hye menatap David dengan ragu kemudian berkata. “Berapa lama aku akan tetap di sini? Aku harus pergi!” David engan menjawab. Pria bertubuh besar itu malah melangkahkan kakinya keluar pintu. “Santaplah makanan pagi Anda Nona Park. Saya akan kembali untuk mengambil nampannya.” Setelah itu ia meninggalkan gadis itu sendirian.

 

Setelah pintu tertutup Shin Hye tersadar, mengapa ia mengira David merasa simpati terhadap dirinya. seharusnya ia sadar bila semua itu sia-sia untuknya. “Bodoh…” runtuk gadis itu sambil tertawa geli pada dirinya sendiri.

 

Gelak tawa gadis itu terhenti secara tiba-tiba saat ia mencium keharuman aroma makanan yang telah di sajikan David di atas meja kecil yang tak jauh dari bangku santai. Bau masakan itu membangkitkan rangsangan seleranya. Dengan langkah cepat gadis itu berjalan setengah berlari kesana dan memakan dengan rakus karena perutnya memang merasa sangat lapar. Tak sampai setengah jam makanan yang disajikan oleh David sudah habis ia santap. Sekarang ia nampak sangat kenyang dan segar.

 

Setelah selesai menyantap semua makanannya, Shin Hye berjalan kembali ke depan jendela. Gadis itu memikirkan apa yang akan ia lakukan. Suasana pagi ini begitu indah dan itu membuat ia ingin keluar untuk menikmati udara segar. Memikirkan hal itu membuat kepala gadis itu menjadi pening. Perasaan ia sangat terpukul, karena sebelumnya ia telah berniat untuk pergi dari pertunangan yang sedang dibuat oleh sang Ayah.

 

Lalu sekarang ia berpikir apakah Ayahnya telah menemukan suratnya sekarang? ia menaruh surat pelarian dirinya di meja kamarnya sehari sebelum ia pergi ke arah selatan. Jika sebelumnya ia tak ingin kepergiannya di ketahui oleh seseorang kini ia berharap jejaknya sudah ditemukan orang. Namun siapa yang akan menemukan dirinya disini sekarang? Jika Jung Yong Hwa sudah bertahun-tahun tinggal disini, maka dipastikan tak seorang pun yang mengetahui kehadirannya.

 

Mendadak pikirannya terputus karena bunyi ketukan pintu.

“Iya…”

David membuka pintu dan memandang sekeliling ruangan sesaat sebelum ia berjalan menghampiri Shin Hye. “Apakah Anda sudah selesai?” Shin Hye mengangguk, menunjuk ke nampan yang telah kosong. “Terimakasih, atas makanannnya. Masakanmu sangat lezat.”

 

David menyeringai. “Tidak perlu sungkan Nona. Itu memang pekerjaan Saya. Pikiran akan lebih jernih jika perut terasa kenyang.”

“Apakah menurutmu begitu?”

“Iya…” David membuka pintu lebar-lebar dan melangkah keluar namun sebelum ia menutup pintu lelaki itu menawarkan sesuatu yang membuat hati Shin Hye senang. “Apakah Nona ingin turun?”

“Apakah aku boleh melakukan itu?” ucap Shin Hye ragu.

“Anda boleh melakukan apa saja, Nona.”

“Benarkah?” tanya Shin Hye meyakinkan apa yang baru ia dengar.

David mengiyakan dengan anggukan pelan. “Lalu dimana Tuanmu?” tanya Shin Hye sakartis

“Ia ada di dalam ruang kerjanya. Tuan tidak mengijinkan Saya untuk menggangunya.” Shin Hye menatap lekat-lekat pemuda itu lalu berkata. “Apakah aku akan diizinkannya untuk masuk ke dalam ruangannya?”

 

David mengangkat bahunya. Kemudian ia memandang pakaian yang berantakan di dalam koper-koper. “Saya akan membereskan barang-barang Anda, Nona. Setelah saya merapikan tempat tidur.”

“Ti—tidak perlu! Ma—maksudku.. tidak usah memikirkan hal sepele semacam ini.”

“Tapi itu tugas Saya Nona.”

“Aku bisa membereskannya sendiri!”

 

David tidak berkomentar apa-apa lagi. “Pagi ini sangat indah. Apakah Anda tidak ingin pergi keluar?”

Shin Hye menatap tajam kepada lawan bicaranya. “Keluar?” ia menggelengkan kepala dengan frustasi. “Apa yang kau katakan? Bila aku melakukan itu, mungkin aku akan melarikan diri!”

“Saya tidak mengusulkan Anda untuk mencobanya, Nona Park. Caesar sangat terlatih untuk berburu rusa. Saya tidak ingin melihat Anda menjadi mangsanya.” balas David dengan tatapan yang mengejek.

 

“Beruntung sekali kau tidak bersama kami kemarin.” Kata Shin Hye dengan suara yang gemetar karena mengingat kejadian waktu silam saat dirinya nyaris menjadi mangsa hewan bergigi runcing tersebut.

“Ya Nona.” Lalu pria berkepala pelontos itu pergi. Shin Hye melayangkan atensinya sekilas ke sekeliling kamarnya dan kemudian mengikuti pria itu. David memasusi pintu di belakang tangga, dan secara naluriah Shin Hye mengikutinya.

 

Tak beberapa lama kemudian ia menemukan dirinya sudah ada di ruang dapur yang luas, dengan perlengkapan-perlengkapan yang cukup moderen. Sebuah pintu sebelah kanan terbuka memperlihatkan ruangan pendingin, namun disana tidak ada daging yang tergantung di langit-langit—kosong tak ada apa pun.

 

David meletakkan piring-piring yang dibawanya keatas tempat cucian lalu berkata. “Anda pasti berpikir bahwa pekerjaan ini tak cocok denganku, bukan?” seraya mengangkat sebelah sudut bibirnya dengan malas.

 

Shin Hye mengangkat kedua bahunya dan kemudian mendekati sebuah meja yang terbuat dari kayu mahoni yang ada di tengah-tengah ruangan. “Aku tidak merasa aneh melihatnya di zaman moderen ini, namun penampilanmu memang sedikit tidak sesuai.”

 

David tertawa geli saat mendengar perkataan gadis bersuarai kecoklatan tersebut. Shin Hye langsung menatap wajahnya heran. “Ini bukan pekerjaan pertamamu kan? Maksudku—sebelumnya pekerjaan ini bukan satu-satunya yang pernah kau lakukan, bukan?”

 

“Nona bisa mengatakanku sebagai orang yang serba bisa. Awalnya Saya adalah seorang anggita tentara, sewaktu Saya masih remaja. Setelah keluar, Saya menjadi seorang penggulat. Namun pekerjaan itu membuatku bosan lalu, saya pun berhenti dan kemudian menjadi ahli tehniksi dibidang montir kendaraan.” Untuk beberapa detik ia berhenti dan kemudian mengakhiri ucapannya dengan mengatakan sekarang ia menjadi seorang pelayan.

 

“Kau pasti sangat mengagumi Tuan Anda, bukan?” tanya Shin Hye

“Ia adalah pria yang sangat hangat dan pengertian.” sahutnya dengan hati-hati.

 

“Ya… sudah kuduga kau akan mengatakan hal itu padaku.” cibir Shin Hye. “Maaf jika kau tidak menyetujui pendapatmu.” David mengerutkan keningnya saat mendapati balasan yang kurang mengenakkan untuk Tuannya. Namun sayangnya Shin Hye sama tidak peduli dengan ekspresi yang di perlihatkan oleh David kepada dirinya. Gadis itu malah dengan wajah polosnya ia bertanya kembali kepada pria kekar yang ada di depannya. “Jadi, David… sudah berapa lama kau mengenal dirinya?”

 

“Dua puluh lima tahun lebih satu bulan atau tiga bulan?” jawab David ragu diakhir kalimatnya.

“Tapi kau belum bekerja padanya selama itu, bukan?”

“Untuknya—tak menjadi soal Ayah Tuan Yong adalah komandan pasukan saya, sewaktu saya masih bertugas di Angkatan Darat.”

 

Shin Hye mengangguk-angguk seolah ia memahami maksud penjelasan pria tersebut. “Jadi—tolong ceritakan padaku bagaimana caranya kau mendapatkan bahan makanan? Seperti menerimanya atau menerima surat-surat misalnya?”

David pun menjawab semua pertanyaan Shin Hye  tanpa sedikit pun berprasangka buruk. Pria itu mencerita sedetail-detailnya tentang surat-surat yang sering mereka dapatkan. maupun dari mana pasokan makanan yang mereka dapati. “Kami memiliki sepasang sapi serta beberapa ekor ayam. Di musim panas kami menanap sayur-mayur dan buah-buahan, yang hasilnya kami bekukan untuk persediaan musim dingin. Bahkan Saya bisa membuat roti sendiri, mengapa memangnya Nona?”

 

“Nona Park sedang berusaha memata-matai kita, David.” Tukas sebuah suara yang bernada menyindir dari belakang mereka. Dengan cepat Shin Hye membalikkan tubuhnya untuk melihat Yong Hwa yang saat ini sedang bersandar di pintu. Pria itu mengangguk sopan ke Shin Hye, dan melanjutkan. “Selamat pagi, Nona Park Shin Hye. Aku meyakini bila tidurmu sangatlah nyenyak tadi malam, Nona Park. David juga mengatakan kepadaku, bila kau sudah bersedia makan. Apakah makanannya cukup lezat?”

 

Shin Hye menjawabnya dengan nada benuh cibiran. “Menurutmu bagaimana bila Ayahku akhirnya dapat menemukanku di sini?” Yong Hwa berdiri tegak. “Aku kira hal itu akan membuat keadaanmu menjadi lebih sulit.”

 

“Mengapa aku harus mengalami kesulitan? Adanya kau yang akan terlibat dengan kesulitan itu! Apakah kau pikir Ayahku akan berdiam diri begitu saja.” Shin Hye mengingatkan. “Ia pasti akan menemukanku dan bila sesuatu terjadi pada diriku, Ayahku akan mencarimu dimana pun kau berada meskipun kau terkubur dilubang semut pun, ia akan tetap menemukanmu, camkan itu!”

 

“Oh… benarkah??” sorotan mata Yong Hwa nampak mengejek. “Maaf jika aku meremehkan kekuatan regu pencarian Ayahmu. Jika seluruh media pers tidak sanggup menemukanku beberapa tahun yang lalu, maka aku tak akan merasa cemas terhadap usaha Ayah Anda, Nona Park Shin Hye-shii.”

“Ia akan menceritakannya semua kepada media pers! Ayahku juga mampu menyewa beberapa orang detektif!” suara Shin Hye semakin meninggi.

 

“Dapatkan dia?” tanya Yong Hwa dengan mencemooh. “Itu sangat menarik. Dan ini adalah ucapan seseorang yang kemarin memaksaku untuk membebaskannya—dengan janji tidak akan menceritakan apa pun kepada satu manusia pun di luar sana?”

 

Seketika kedua pipi Shin Hye memerah. “A—aku akan melakukan apa yang telah ku katakan padamu yang tadi malam.”

“Benarkah? Namun sekarang kau telah berubah pikiran.”

 

“Y—ya.. Ti—tidak. Maksudku …” Shin Hye berusaha mencar-cari kata yang tepat. ”Aku hanya ingin mengingatkan bahwa apa yang kau lakukan sekarang akan berdampak buruk kedepanya.”

“Ancamankah itu, Nona Park?”

 

Shin Hye menggeleng kepala dengan cepat. “Berhentilah bermain kata kepadaku! lebih baik kau melepaskan aku dan aku akan melupakan semuanya. Dan bila kau tetap tidak bersedia melepaskanku, maka aku tidak akan bertanggung jawab dengan apa yang akan terjadi kepadamu nantinya!”

 

“Itu sangat menarik.” Lalu melirik kearah David. “Bagaimana bila kau membuatkan aku kopi, David.” Pria berkepala pelontos itu mengangguk dan Shin Hye menghentakan kakinya—ia merasa dianggap sebagai anak kecil yang menggelikan.

 

“Bersediakah kau menemaniku meminum kopi?” tawarnya dengan lembut, dan Shin Hye lalu menatap tajam-tajam wajahnya.

“Aku tidak haus!” sahutnya kasar.

“Baiklah, terserahmu.”

 

Yong Hwa menaikan tinggi-tinggi kedua pundaknya lalu menurunkannya secara bersamaan dan kemudian pemuda itu melangkah keluar, meninggalkan pintu menutup sendiri.

 

Dengan kesal Shin Hye mendudukan tubuhnya di sebuah kursi kayu dan kemudian memandang David yang sedang menyiapkan kopi untuk Tuannya.

“Apakah Anda ingin menyerahkannya langsung?”

Shin Hye menatap wajahnya dengan bingung. “Maksudmu?”

“Anda telah tahu maksud pembicaraan Saya. Apakah Anda ingin membawanya langsung ke Tuan Yong?”

“Jika Kau menginginkannya demikian, baiklah.” Shin Hye menyetujuinya.

Tak sengaja David melihat warna kemerahan di kedua pipi milik Shin Hye. “Apakah Anda memerlukan sebuah saran yang mungkin akan berharga bagi diri Anda.”

Gadis itu mengerutkan dahinya, “Saran macam apa?”

 

“Bersabarlah menghadapi ancaman itu, Nona Park. Tuan Yong bukanlah semacam pria yang menganggap enteng sikap seperti itu.”

“Oh… benarkah?” sahut Shin Hye. “Dan apa yang kau harapkan untukku lakukan? Menunggu hingga ia memutuskan untuk membiarkanku pergi?”

 

“Itu mungkin pilihan yang bijaksana, Nona.”

“Kau sedang tidak becanda kan?”

“Jangan meremehkan Saya, Nona. Anda jangan pernah berpikir bila kecacatannya, Tuan Yong bukan merupakan seorang pria lagi.” tegas David.

 

Shin Hye langsung berdiri dari kursinya dengan wajah yang merah padam. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Jangan berbohong padaku, Nona. Kau jelas tahu apa yang sedari tadi kita bicarakan. Anda mengetahui itu tapi Anda selalu menepisnya.” lirih pria bertubuh kekar itu tampa sedetik pun melepaskan atensinya kepada gadis yang kini ada di hadapannya.

 

-TBC-

~OoO~

 

Annyeong!!! ketemu lagi kita disini ^^

Akhirnya bisa juga update. Maap ya, kalau lama soalnya Miminnya lagi sibuk jarang bisa buka lappy untuk ngetik, meskipun begitu aku harap kalian tetep suka ya ma cerita yang kubawain.

 

Btw jangan lupa Vote + Komennya, ya teman-teman semuanya,  setelah baca ff gajeku  ini biar daku makin semangat lagih buat nulis kelanjutannya, ciiiyuu… ❤

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “[Part-3] Imprisoned

  1. Akhirnya update jg ni ff…ceritanya makin seru & bikin penasaran dg cerita selanjutnya…di tunggu next partnya..keep hwaiting buat authornya..

  2. PERTAMAX GAN!!!
    Aku kepo sama visualnya David masa. Wkwk. Btw, masih ada rasa penasaran dengan identitas Yong Hwa yang sebenarnya, masih blm jelas dia siapa. Terus kak, kayaknya masih ada kesalahan kata, bukan typo. Nasib jadi nasip dan mengangguk jadi menganggung. Hehehe…
    Ku tunggu kelanjutannya kak

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s