Vous Déteste #1—PutrisafirA255

92 copy.jpg

Vous Déteste

.

starring Sehun Hesler and Hanna Johnson co-starring Im Changkyung and Anastasia Dornan duration chaptered genre AU, Romance, Friendship, Angst,etc rating PG-16

.

#1 [Begin](now)

.

Love is that condition in which the happiness of another person is essential to your own

— ROBERT A. HEINLEIN

.

.

.

.

.

Langit sudah secerah matahari bersinar. Gumpalan awan yang menghiasi langit bak permen kapas pun menjadi pelengkap. Baik pria maupun wanita berlalu-lalang menuju destinasi masing-masing. Entah untuk menunggu pesawat akan lepas landas, ataupun hanya sekedar menemani orang-orang tercinta yang hendak berpergian meninggalkan kampung halaman.

Seorang pria dengan setelan jas hitam dan celana linen yang senada pun mengangkat kertas putih bertuliskan nama seseorang ketika pesawat yang berasal dari Korea Selatan datang. Ia dengan sabar menunggu sembari menelisik satu persatu penumpang yang telah turun dari pesawat. Orang yang ia jemput bukanlah orang biasa. Melainkan salah satu keturunan Johnson yang memiliki otak paling cerdas dari semua keturunan.

Tak lebih dari tiga menit menunggu, akhirnya datang juga gadis pemilik nama yang ia tuliskan dalam kertas putihnya. Tangannya pun kemudian turun, dan menghampiri si gadis. “Good morning, Miss Johnson.” Sapanya ramah.

Gadis yang bermarga Johnson itu lantas tersenyum tipis. “Good morning, José.” Balasnya menyapa si pria yang sudah sudi menunggunya. Keduanya pun melangkah beriringan menuju mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari airport. Tak lupa si pria berkebangsaan Perancis itu membantu gadis yang lebih muda darinya itu memasukkan kopernya ke bagasi.

Thank you,” ucapnya berterima kasih atas bantuan yang sudah diberikan. José pun mengangguk dan menempati kursi pengemudi. Kemudian bergerak menuju jalan, membelah kota New Jersey yang lumayan lenggang menuju sebuah tempat.

“Langsung ke kantor, Miss Johnson?” tanyanya menayakan tujuan perjalanan selanjutnya si gadis. Tak langsung menjawab, ia justru mengalihkan pandangannya ke jendela mobil dan menatap gedung paling tinggi di antara gedung lainnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Ayah ada di sana, bukan? Aku ingin bertemu dengannya,” tutur si gadis, lantas melanjutkan kembali kegiatannya mengamati kota kelahirannya yang sudah ia tinggal selama lebih dari lima tahun. Kenangan yang pernah ia lewati pun menyeruak ke permukaan, membuat dirinya ingat mengenai beberapa peristiwa; entah itu baik maupun buruk.

Ia pun lekas menggelengkan kepalanya, mengaburkan semua ingatan itu di saat José memanggilnya dan memberitahu bahwa ia sudah sampai. Oh, hanya karena semua ingatan itu, dirinya tak nenyadari jika sudah sampai menuju kantor sang ayah.

See you later, José.” Katanya. Ia pun keluar dari mobil dan menata ke arah lobby. Ia tahu dimana ia berpijak. Jhonson & Johnson—perusahaan multinasional terbesar ke tujuh di dunia yang bergerak di bidang peralatan medis, farmasi dan barang konsumen dalam kemasan. Didirikan pada tahun 1886 oleh tiga bersaudara bermarga Johnson yang sukses membawa perusahaan itu hingga menjadi seperti sekarang.

Belum sempat dirinya memasuki lobby, seorang pria yang sama seperti José—namun berbeda gaya rambut—itu menghampirinya. Tubuhnya lebih tinggi dari José dan tatapannya tajam, cukup mengintimidasi. Tetapi, itu semua tak berpengaruh baginya yang sudah terbiasa mendapati hal seperti itu dalam hidupnya.

“Miss Johnson, beliau sudah menunggu Anda di ruangannya.”

Kalimat formal itu tersampaikan dengan begitu datar. Entah itu bagian dari menghormati, atau mengejek, yang pasti ia tak peduli untuk saat ini. Karena, tujuannya dari lima tahun yang lalu hingga sekarang adalah bertemu dengan ayahnya. Meluruskan apa yang sudah seharusnya, dan ini adalah waktu yang tepat.

Tak menunggu lebih lama, ia pun mendahului pria itu dan melangkah menuju lift. Jantungnya berdegup dengan kencang, sangat. Ia merasa seperti bertemu dengan malaikat pencabut nyawa dan menyerahkan dirinya secara sukarela. Tetapi, tameng dari egonya sudah siap mengelabuhi melalui mimik muka. Maka, tak heran jika wajahnya begitu tenang, namun terbesit rasa tegang yang luar biasa.

“Beliau ada di dalam,” tangan kekarnya membuka pintu, memberikan akses lebih untuknya masuk. Ia mengangguk, tak ada basa-basi seperti dengan José. Kaki jenjangnya mengukir langkah tak kasat mata menuju ruangan itu. Tangannya mengepal di sisi tubuh, tetapi setelahnya ia memasukkannya ke dalam saku rok selututnya.

Sambutan yang sudah ia duga pun tiba. Pria yang tak lain adalah ayahnya itu menatapnya dalam diam. Seperti menimang-nimang hukuman apa yang pantas ia berikan. “Hanna,” gumamnya, nyaris berbisik. Sudah lama tak bertemu membuatnya tertegun beberapa detik. Ingin rasanya merengkuh putrinya itu, tetapi tak bisa.

Are you miss me, dad?” tanya Hanna dengan ragu, namun tak peduli. Kuriositasnya terlalu tinggi untuk tahu bagaimana perasaan yang bernama rindu—yang digadang-gadang membuat semua orang terluka ketika merasakannya. “Are you?” ulangnya lagi, dengan makna pertanyaan yang masih sama.

Seorang William Johnson yang terkenal dengan mulut pandainya untuk menarik investor itu terdiam—bungkam seribu bahasa. Seolah apa yang telah diajarkannya untuk mengungkapkan perasaan melalui kata-kata itu menguap entah kemana. Tubuhnya yang sudah bangkit dari kursi kebangaannya sebagai pemilik perusahaan pun ingin rasanya tumbang, namun tak bisa.

Hening mendominasi, sebelum Hanna menyuap oksigen dan menghembuskan karbon dioksidanya kembali ke udara. Kekehan bodohnya pun lolos, tak tahu menertawakan apa. Yang jelas, hatinya tak bisa lagi menyadari keadaan yang masih sama seperti sebelumnya.

Sure you not,” tukasnya, diperjelas dengan gelengan kepala syarat akan ketidakmampuan menerima kenyataan. “You never call me although you can. Sure you never miss me.” Ia tersenyum miris, hatinya terluka akibat sikap sang ayah yang tak berubah selama lima tahun lamanya.

“Kakek memintaku untuk kembali dan menjalankan perusahaan cabang. Aku rasa ayah sudah tahu mengenai itu. Aku tiba kemarin sore dan menetap di penthouse ibu. Kurasa, hanya itu yang ingin kusampaikan. Maaf sudah menganggu pekerjaanmu, ayah.” Ia membungkuk sebentar guna memberi penghormatan. Agaknya masih terbiasa dengan adat di Korea yang selalu menghormati orang yang lebih tua. Setelah dirasa cukup, ia meninggalkan kantor ayahnya tanpa ada lagi tegur sapa maupun kata-kata.

Hari ini adalah hari tersial yang pernah Hanna alami. Ketika ia menginginkan semuanya berubah menjadi lebih baik—setidaknya hubungan antara dirinya dan juga ayahnya—daripada sebelum ia pergi. Namun, yang ada hanyalah pengharapan yang tak sesuai dengan kenyataan.

.

.

.

.

Screenshot_20170317-232953 copy.jpg

Ia hanya menatapnya sekilas, kemudian membuangnya ke sofa. Hadiah yang diberikan padanya itu tak membuat suasana hatinya lekas membaik. Seharusnya—menurut skenarionya—ia dan pacarnya berlibur hari ini. Namun, yang terjadi hanyalah sebuah perpisahan yang tak ia harapkan. Selesai sudah.

Disaat otaknya enggan kembali berpikir, ponsel lima inchi-nya berdering. Meminta atensi sang pemilik agar lekas menerima panggilan. Dengan malas yang menyerang, ia akhirnya mengalah dan menerimanya hingga sebuah suara bariton menyapa.

“Dr. Hesler, where are you?” tanyanya dengan nada cemas yang begitu kentara. Yang terpanggil pun hanya menghembuskan napasnya pelan, kemudian menjawab dengan agak enggan. “Paris. Kemarin ada undangan makan malam dari seorang sahabat.” Setidaknya, itu yang terjadi sebelumnya.

“Rumah sakit membutuhkanmu. Bisakah kau kembali sekarang? Ada rapat yang harus kau hadiri besokmenggantikan Dr. Kavanagh yang sedang sakit,” mohonnya. Ia sebenarnya rak mau repot-repot mengurusi urusan yang bukan seharusnya ia selesaikan. Tapi, mau bagaimana lagi? Otaknya yang terlalu pintar itulah yang membuatnya selalu menjadi pengganti atasan.

Okay, I’ll be there tomorrow.” Ucapnya, lalu mematikan sambungan lebih dahulu tanpa sepatah katapun. Ia menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur, dan menatap langit-langit. Bayangan akan mantan yang tak bisa hilang dari ingatannya terus saja menghantui. Apalagi jika ia mengingat bagaimana hubungannya berakhir dengan sepihak. Ingin sekali rasanya datang dan menanyakan penyebabnya, tetapi tak sampai hati.

Jika saja dirinya egois, maka sejak kemarin ia mencari mantan kekasihnya itu dan menanyakannya langsung. Tetapi, ia pernah mengingat pepatah yang mengatakan bahwa ‘Love is that condition in which the happiness of another person is essential to your own‘ (Cinta adalah suatu kondisi di mana kebahagiaan orang lain menjadi penting bagi kebahagiaanmu).

Dulu—dulu sekali—ia pernah mengutuk pepatah itu. Bagaimana mungkin kebahagiaan orang lain lebih penting dari kebahagiaannya sendiri? Tetapi, ia akhirnya menyadari setelah ia kehilangan orang yang ia cintai. Bukankah penyesalan selalu datang diakhir? Seharusnya dirinya menyadari itu sedari dulu.

Mencoba mencari kesibukan lainnya, ia pun menghubungi seseorang. “Hai, Blaire. Bisakah kau carikan tiket ke New York besok?—jam sepuluh? Okay, thank you.”

Sekarang, ia hanya perlu memikirkan bagaimana caranya untuk menghindari kedua orang tuanya yang mungkin akan menanyakan sang mantan kekasih.

.

.

.

.

“Mrs. Hanna Jhonson?”

“Yes, I am.”

“This for you,”

Ia mengasurkan sebuah kotak berwarna biru dengan pita berwarna navi. Hanna pun menerimanya, meskipun dalam hati bertanya-tanya siapa yang mengirimnya. “Bisakah Anda tanda tangan di sini?” tanyanya sembari menunjuk sebuah kertas dan memberikan bolpoin. Hanna yang belum sempat bertanya pun mearih bolpoin, lantas menandatanganinya.

“Bisakah aku tahu siapa yang mengirimnya?”

“Tidak dicantumkan di sini. Terima kasih,” Ia pamit undur diri, kemudian meninggalkan penthouse milik ibunya itu. Ia masih memikirkan siapa sebenarnya yang mengirim, mengingat ia baru saja datang setelah sekian lama pergi mengembara.

From who, Hanna?” Sang ibu yang sedang memasak di dapur pun menoleh hanya untuk mengajukan pertanyaan. Hanna hanya menggendikkan bahunya dan berjalan menuju pantry. “Secret admirer, maybe.” Sahutnya, meninggalkan kotak itu di atas meja, kemudian berlalu menuju kulkas dua pintu yang tak jauh dari dapur.

“Tulisannya aneh, mungkin ini dari teman Korea-mu.” Katanya, menunjukkan kepada Hanna disaat gadis itu telah kembali. Ia pun membaca sekilas kartu ucapannya—yang ternyata ditulis dengan huruf hangul—lalu berujar, “He is my friend.”

“Just friend?”

Hanna mengangguk menanggapinya. “Yes, Miss Dornan. Sekarang, jangan tanya apapun mengenai dia. Aku dan dia hanya sebatas teman, tak lebih.” Sangkalnya, tak mau memperdebatkan permasalahan sepele yang akan menurunkan mood-nya pagi ini. Ia melirik isi yang ada di kotak itu. Sebuah jam tangan bermerk Rolex dengan warna soft yang ia suka. Tentu saja ‘teman’nya itu tahu. Pasalnya, ketika di Korea, hanya dialah yang mengerti dan memahami sosok Hanna yang sesungguhnya.

“Okay. Sekarang makan ini,” Beliau menyajikan sebuah sandwich yang diisi dengan beberapa lembar daun selada, tomat dan keju cheddar. Menu kesukaannya sejak remaja, ketika ia mencoba menurunkan berat badan yang menurutnya berlebihan kala itu.

“Ana tidak sarapan?” Hanna mencari topik pembicaraan baru dengan menanyakan keberadaan adik tirinya itu. Ibunya pun tersenyum, mengunyah sandwichnya lalu menjawab, “Dia sama sepertimu, workaholic. Jam delapan tepat ia sudah berada di kantornya membaca sebuah naskah, atau mungkin menyuntingnya. Dia editor yang dibanggakan oleh perusahaannya.”

Hanna hanya mengangguk sembari mendengarkan. Setelah berpisah dengan ayahnya kurang lebih enam tahun, mereka tak lagi akrab. Keduanya memiliki kehidupan masing-masing; ayahnya dengan perusahaan dan ibunya dengan keluarga barunya yang harmonis. Sedangkan Hanna, hanya menjadi pengganggu dalam hidup keduanya. Yah, itu hanya pemikiran Hanna sendiri.

“Hanna,” beliau memanggil. Si pemilik nama pun mendongak, menatap sang ibu yang ada di hadapannya dengan sedikit bingung. Pasalnya, raut muka ibunya itu berbeda dari sebelumnya yang ceria dan hangat. “Kau bisa tinggal di sini,” tuturnya lembut. Keinginan yang terpendam sejak lama itu ingin sekali diwujudkan.

Tetapi, Hanna gadis yang keras kepala dan tak suka pada apapun yang tidak ia inginkan. “Aku akan pindah setelah dapat apartemen murah dekat perusahaan cabang di New York.” Tangan lembut dengan jemari lentik itu mengusap kepalan tangan ibunya. “Aku hanya ingin mandiri dan membuktikan kepada kakek bahwa jabatan yang beliau berikan padaku itu tak salah. Jadi, kumohon ibu bisa mengerti.”

Istri pemilik marga Dornan itu pun mengangguk. “Terserah padamu. Kuharap, kau hidup dengan nyaman.”

.

.

.

.

Langkah lebarnya sudah menginjak pelataran NYU Medical Center. Meskipun di luar langit beralih mendung, bukan berarti rapat dibatalkan begitu saja. Yang ada, rapat justru diajukan setengah jam lebih cepat dari perjanjian awal. Dengan alasan para petinggi tidak bisa berlama-lama.

Ia jengah, bosan luar biasa. Gelarnya dokter, tetapi pekerjaannya hanya mengawasi dan menjalankan roda pemerintahan rumah sakit. Pekerjaannya bukan menyembuhkan, tetapi seperti pekerja kantoran.

“Sehun!”

Suara sopran seorang gadis berhasil menghentikan langkahnya. Gadis yang baru saja mengukuhkan jabatannya itu tersenyum merekah menyambutnya. Rambutnya yang lurus hitam pekat dibiarkan tergerai. Baju abu-abunya yang bermotif bunga itu membuat penampilannya malah menjadi semakin cantik.

Hi, little girl. Are you miss me?” tanyanya dengan tangan kanan yang mengacak puncak surai hitam itu gemas. “I miss you so much!” pekiknya kegirangan. Ia terlalu senang mendapati kabar bahwa Sehun sudah kembali dari Paris. Bahkan, ia meninggalkan ruangannya hanya untuk menemui pria Hesler itu.

Sehun masih membiarkan sudut bibirnya berjungkit ke atas. “I have to go, Jennie. I’ll call you later,” ujarnya, kemudian memberikan satu pelukan hangat. “See you later.” Sahut gadis yang dipanggil Jennie tadi. Ia kembali tersenyum dan melanjutkan perjalannya menuju lift yang akan membawanya ke ruang rapat.

Di dalam lift, ponselnya berdering memecah keheningan. Karena hanya ia sendiri yang ada di lift, maka tanpa pikir panjang ia menerima panggilang itu. “Hesler,” ucapnya dengan tak acuh, tahu bahwa yang disana akan merespon cepat. “Sudah kembali, bung? Aku mengetahuinya dari Jennie.”

“Ya, jam tiga pagi tadi.” Jawabnya tak sesuai dengan konteks yang dibicarakan. Kare ia tahu, si penelpon ini pasti mengerti maksudnya. “Okay, selesaikan rapatmu dan tidur dengan pacarmu sana! Aku pergi, bye!”

Tetapi, bukan ini yang Sehun inginkan. Sahabatnya tadi malah mengingatkannya pada mantan kekasihnya yang baru saja putus dirinya. Sungguh, sebenarnya mengapa ia sial sekali, sih? Batinnya menggeram benci.

Tanpa ia sadari, lift berhenti dan pintu terbuka. Menampakkan ruang rapat yang sudah menunggunya. Perubahan jadwalnya terlalu mendadak, sehingga Sehun mau tak mau harus terlambat karenanya. Tungkainya pun kembali mengukir jarak, sebelum netranya menemukan sesosok gadis yang tak asing baginya. Tunggu, Sehun tak salah lihat, ‘kan?

“Hanna?”

.

.

.

.

Annyeong, yeoreobun 😀

Aku author baru di sini, PutrisafirA255. Just call me Putri. Entah ini fanfict macam apa aku tak tahu, semoga anda semua tahu jalan ceritanya. Ini masih awal, jadi masih banyak fakta yang belum terkuak. Oleh karena itu, stay tune, ya!

Don’t be siders, komentar kalian sangat berguna bagiku untuk memperbaiki maupun nambah mood nulis, okay? Kalau ada kritik dan saran, silahkan. Thank you 😀

Introduce the main cast:

892a5683fca085c201a685ec0500c5f9

Sehun Hesler- 25 y.o

3bc992d9b34a847ac1162076df52db4c

Hanna Johnson-22 y.o

 

Advertisements

4 thoughts on “Vous Déteste #1—PutrisafirA255

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s