[Vignette] Forget

by Rijiyo

Starring

Luhan [EXO] & Sehun [EXO]

.

Creepypasta, Surrealism, AU! | Vignette | Teen

.

.

Jangan pernah membangkang perkataan orang tua bila kamu tidak mau celaka

.

.

Klak.

“Hei! Itu cokelatku!” teriak anak laki-laki berbadan kurus, Luhan.

“Salahkan saja dirimu yang membuat kita tersesat di hutan dua hari. Aku nggak mengerti kenapa ibu memberiku kakak sepertimu,” sahut anak laki-laki lainnya—Sehun—yang berbadan lebih besar dan tinggi dengan rambut model cepak dan membawa ransel hijau lumut di punggungnya. Mulutnya kembali mengunyah cokelat batangan setelah ia menyelesaikan kalimatnya.

Luhan merengut, pandangannya dialihkan ke arah tanah.

“Maaf… aku memang penarasan hingga membangkang larangan Mama. Aku sendiri—“ suaranya terhenti seketika. Ia melihat ke arah batu besar di hadapan mereka. Batu besar yang sekiranya sudah mereka lewati tiga kali sejak kemarin.

“Sial!” seru Sehun, yang sepertinya satu pikiran dengan Luhan. “Hutan apa sebenarnya ini! Apakah kita sudah pindah dari bumi dalam waktu 48 jam, hah?” Sehun tak kuasa menahan emosinya. Perut lapar dengan persediaan makanan yang semakin menipis. Hutan aneh yang seakan tak ada jalan keluar. Semua berpadu dalam keharmonisan emosi yang membuat dirinya geram. Konyol, hanya itulah yang ia pikirkan. Sebagai anak bungsu yang selalu mendapat beasiswa di sekolahnya, ia membenci hal-hal irasional.

Mereka terus berjalan, dengan bekal kompas yang sepertinya rusak. Sehun memeriksa kembali handphonenya yang tidak menunjukkan tanda-tanda kepemilikan sinyal. Benar-benar beruntung, batin Sehun.

Luhan melihat ke sekitar. Hanya ada pepohonan menjulang, bebatuan besar, dan tanah yang dipijaknya. Ia bahkan tidak mengetahui jenis-jenis dari pohon besar itu. Sesungguhnya, Luhan dan Sehun bergabung dengan klub pecinta alam, tapi bahkan mereka tidak mengetahui alam apa yang sekarang sedang mereka pijak.

Ini memang kesalahan besar, pikir Luhan. Seharusnya ia tidak menyepelekan nasihat orang tuanya. Seharusnya ia juga tidak memaksa Sehun menuruti keinginan di hari ulang tahunnya itu kemarin untuk ikut ke sini.

Luhan menyesal telah membohongi orang tuanya. Ia tahu, orang tuanya lebih membebaskannya karena Luhan bisa menjaga diri. Ia berkata akan mengikuti kegiatan klub pecinta alam di sekolahnya, namun pada kenyataannya, kegiatan itu tidak sepenuhnya benar. Ia hanya ingin pergi ke tempat yang seumur hidupnya selalu dilarang oleh orang tuanya. Tempat itu bernama “Hutan Lupa”. Rumor hanyalah rumor, pikir Luhan. Belum tentu rumor yang dikatakan orang lain adalah benar. Untuk alasan itu, ia membuktikannya sendiri.

Kakak beradik itu berjalan tanpa tahu arah. Luhan beberapa kali meminta untuk beristirahat dikarenakan punggungnya terasa sakit.

“Kamu sudah membawa peralatan paling ringan!” bentak Sehun. “Jangan manja, lihat saja tas punggungku, ukurannya 3 kali lipat dibandingkan punyamu.” Sehun berputar untuk menunjukkan tas berisi peralatan kemah, termasuk tenda dan alas tidur yang hampir terlihat seperti punuk unta. Luhan ingin tertawa, namun tidak setelah ia berkali-kali membuat ulah yang melibatkan Sehun dan membuatnya ikut kerepotan.

“Tunggu!” raut wajah Luhan terlihat serius sekarang. “Aku mendengar sesuatu… seperti … air?” Luhan sendiri meragukan pendengarannya, namun di hutan yang terasa semakin gelap ini, panca indra adalah senjata utama untuk bertahan.

Joan mulai berlari, mencari di mana titik suara tersebut kian terdengar, Sehun juga secara tak sadar mengikuti Luhan.

Mereka terus berlari, tanpa berbicara sepatah kata pun, hingga pemandangan menyajikan sebuah danau.

Danau biru, dengan air terjun di sisinya. Bebatuan besar dan… beberapa sosok yang membuat kedua kakak beradik itu menelan ludah.

Mereka berhenti serentak, Luhan tertegun, dan bergerak mundur. Seketika itu pula, sosok-sosok tadi melihat ke arah mereka.

Bagi Luhan, sosok itu tampak seperti putri duyung—dengan tubuh bagian kepala hingga perut yang menyerupai sosok wanita berambut panjang serta tubuh bagian bawah yang menyerupai ekor ikan berbias cahaya sehingga menimbulkan kemilau pelangi di sisiknya.

Namun Luhan menyadari, ada yang aneh dari aura mereka. Tepatnya, raut wajah mereka yang misterius. Sementara di belakang Luhan, Sehun mulai maju perlahan.

Salah satu dari putri duyung tadi mulai membuka mulutnya, mengeluarkan lantunan melodi. Sangat merdu dan indah. Suara itu membuat Luhan dan Sehun terpana hingga tanpa sadar mereka berdua bergerak maju.

Luhan dan Sehun seakan tidak sadar dengan pergerakan mereka. Terutama Luhan, ia tidak sadar bahwa ada akar besar yang mencuat dari tanah. Luhan maju perlahan, namun akar besar itu membuatnya tersandung dan jatuh. Luhan yang tersungkur mencium tanah, mendongakkan kepala dan membersihkan wajahnya dari tanah. Kesadarannya mulai kembali, ia tahu sebuah kisah tentang putri duyung bernama Siren yang membuatnya lekas menutup telinga.

“HEI! SEHUN! SADARLAH!” Luhan berteriak agar Sehun tidak terus berjalan dengan tatapan kosong ke arah para putri duyung tadi. Luhan berusaha bangkit sambil tetap menutup telinga. Segera ia berusaha berlari ke arah Sehun, mencoba untuk menarik saudaranya kembali, namun ia menyadari bahwa separuh tubuh Sehun sudah berada di dalam air danau.

“Sial!” pekiknya, saat melihat salah satu dari putri duyung tadi menghampiri Sehun.

Putri duyung yang sedari tadi bernyanyi kini sudah menghentikan nyanyiannya, dan ikut menghampiri tubuh Sehun yang masih separuh sadar. Sementara putri duyung yang sudah berada tepat di hadapan Sehun pun meraih tubuhnya dan memeluknya. Tak lama, putri duyung tadi tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi runcing dan lekas menggigit leher Sehun.

“Arrggghhh!” Sehun seakan kembali sadar, ia mencoba bergerak saat menyadari sudah ada empat putri duyung yang mengepungnya.

Luhan merasa kakinya sangat lemas. Ia mundur perlahan dan berlari menjauh dari danau tadi. Tak sadar, air matanya perlahan menetes. Luhan terus berlari dengan air mata yang mengaburkan penglihatan dan beberapa kali terjatuh karena tersandung bebatuan. Ia berlari. Terus berlari tanpa arah dan hanya mengandalkan instingnya.

Sampai instingnya membawa tubuhnya ke perbatasan hutan, di pinggir jalan raya.

“Aku selamat!” teriaknya senang diiringi rasa bersalah. Ia mengenal jalan raya ini. Tidak jauh dari jalan raya ada terminal bus, dan dirinya bisa sampai di rumah dengan selamat. Yeah, hanya dia yang selamat.

.

.

.

Selama di dalam bus, Luhan berpikir keras. Ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kejadian mengerikan yang menimpa saudaranya itu. Mama dan Papanya pasti akan marah besar, terlebih kecewa karena sudah dibohongi. Hukuman urusan belakangan, pikir Luhan. Ia harus memberi tahu rahasia “Hutan Lupa” kepada masyarakat sebelum yang lainnya ikut menjadi korban seperti Sehun.

Luhan bersiap berdiri dari duduknya. Pemberhentian di depan kompleks rumahnya sudah dekat.

.

.

.

Luhan berdiri di depan pintu rumahnya, menekan bel berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Apakah mereka sedang ada urusan? batin Luhan, menenangkan diri.

Hari sudah malam dan lampu rumah menyala terang. Mungkinkah orang tuanya belum pulang? Luhan kerap menekan bel sampai terdengar bunyi ‘Klek’ dari gagang pintu yang diputar.

Adalah Papanya yang menyambut Luhan dengan wajah bingung.

“Maaf, ada keperluan apa?” tanya laki-laki berambut putih yang menggunakan piama warna biru.

“Maksud Papa? Aku tahu Papa akan marah soal ini, tapi setidaknya biarkan aku memberi penjelasan.” Luhan tergagap saat mendapati tingkah laku aneh dari Papanya.

“Siapa itu, Sayang?” tanya seorang wanita yang juga memakai piama tidur berwarna biru. Ia berjalan mendekat ke pintu.

“Entahlah, anak ini … hei! Siapa tadi yang kamu panggil Papa? Apa kamu gila?”

Luhan tidak bisa menyembunyikan kekalutan di wajahnya. “Tapi… Ma, Pa, ini aku, Luhan, putra kalian!”

“Kamu menghina kami? Apa kamu mengejekku dan istriku karena tidak bisa punya anak di usia setua ini? Persetan kamu, Gelandangan! Pergi sana!” Itu ucapan terakhir dari pria yang dipanggil Papa oleh Luhan sebelum ia membanting pintunya.

Pintu terbuka lagi, menampakkan wajah wanita berbalut piama tadi. “Sebaiknya kamu cepat pergi, dia memang agak sensitif belakangan ini. Cepatlah, sebelum dia memanggil polisi,” ucapnya sebelum menutup pintu kembali.

Luhan tidak bisa berkata-kata. Ia bingung, takut, sekaligus sedih. Terlebih ia harus mencari cara sekarang agar ia bisa memberitahu kepada dunia bahwa legenda dari “Hutan Lupa” itu benar adanya. Bahwa jika seseorang bisa kembali dengan selamat dari hutan itu, maka orang tersebut akan menghilang dari ingatan semua orang yang dia kenal. Dengan kata lain, dilupakan.

Sekarang Luhan hanya berpikir untuk mencari cara memberi tahu ke semua orang tentang realita dari “Hutan Lupa” itu.

Namun sekarang ia bingung. Ia mencoba berpikir, apa rahasia dari “Hutan Lupa” itu? Apa yang membuat orang lain dilupakan?

Luhan pun bergumam. “Lagipula, kenapa aku pergi ke hutan itu, sendirian?”

.

.

.

.

.

_Fin_

Hai, ini FF pertamaku di sini ^^ Btw sebenernya ini ff kisah nyata dari Perancis atau Spanyol gitu, aku lupa 😀 Aku cuma menjabarkan aja hehehe, maaf kalo ada yg sudah tahu ^^ Review juseyo 😀

large.gif

Jangan pernah ngelawan orang tua ya ^^

Advertisements

5 thoughts on “[Vignette] Forget

  1. Halo rijiyo!
    Ku menunggu2 surrealism nya tapi ga berasa ya sampe akhir? AU nya yang emang nge-genre banget, but still nice!
    Huhu siyan sehun jadi putra duyung(?) apa mati ya 😂
    Luhan jadi antara ada dan tiada wk
    Biasanya pun aku ga baca yg castnya luhan tapi gatau kenapa ya tadi aku baca aku lupa /lah
    Ini remake kah? Diatas masih ada nama ‘Joan’ yg muncul soalnya hehe

    • Eh iyakah? Yg mana ya? Btw iya ini sebenernya orific, dan daripada membusuk di laptop & berhubung di sini juga nggak boleh orific, makanya ku ganti hunhan 😀

      Makasih kak sudah baca & komen ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s