The Story of Miracle Generation [Chapter 3]

162918-sekolah-mewah

The Story of Miracle Generation

Author : Jinho48

Genre : Friendship, School Life

Cast : Find it on the story

Length : Series

Summary : “Di sebuah SMA internasional bernama Kirin International High School hiduplah para murid yang tidak biasa. Mereka adalah generasi keajaiban SMA Kirin. Bagaimanakah kisah mereka? Mari kita simak bersama!”

HAPPY READING! ^^

% % %

Chapter 3

Dengan langkah terburu-buru, seorang gadis berambut kecokelatan berjalan menuju ke sebuah ruangan. Di belakangnya, teman gadis itu mengikuti dengan langkah santai. Tibalah ia di ruangan itu. Lantas dia mengatur nafasnya yang memburu. Orang-orang di ruangan itu menoleh ke arah gadis itu. Mereka menatap gadis tersebut dengan tatapan datar dan ada tatapan bingung.

“Nayoung-ah? Waeyo?” tanya salah seorang yang ada di ruangan itu. Sebelum gadis itu menjawab, temannya masuk ke dalam. Dia menepuk bahu Nayoung dan memberi kode agar gadis itu segera bicara.

“Ah, baiklah. Jadi begini, aku kemari untuk memberikan surat, Sunbae.  Hari ini Hajin tidak masuk sekolah. Tadi kakaknya menitipkan surat ini padaku.”

“Apa? Hajin tidak masuk?” tanggap sosok yang di panggil sunbae oleh Nayoung.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

“Hmm… begini… Hajin–“

“Jihyun-ah, ada apa dengan Hajin?”

Gadis yang di panggil Jihyun itu menghela nafas. Dia tidak suka kelakuan pemuda yang baru saja memotong ucapan Nayoung itu. Lantas gadis itu memberi kode pada temannya agar diam. Biar dia yang menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi pada Hajin. Pertama-tama, ia mengambil surat di tangan sobat karibnya lalu memberikannya pada ketua generasi keajaiban.

“Di dalam surat itu, Hajin ijin tidak masuk karena sakit. Tapi setelah kami selidiki, bukan karena itu. Hajin pergi dari rumah. Saat ini kakak Hajin, Sunkyo, dan teman-teman kakak Hajin sedang mencari keberadaannya.”

“Apa? Hajin mengilang?” tanya Taehyung   dengan tatapan terkejut. Baru kali ini Hajin menghilang. Biasanya, sekacau apapun dia, dia tidak akan kabur.

“Dia kabur dari rumah? Astaga! Anak itu benar-benar!” dumel Seokjin sembari memijat pelipisnya yang mendadak pening.

Hanya Mark dan Minji yang tidak memberikan respon apapun. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Minji terlihat marah walau wajahnya tetap datar. Sementara Mark, entah apa yang di pikirkannya. Sepertinya dia sedang memikirkan cara tepat untuk menyikapi hal ini. Dia tidak bisa tinggal diam. Lantas Seokjin membuka suara lagi.

“Nayoung, nanti kau ikut denganku mencari Hajin. Lalu Taehyung dengan Jihyun juga mencari. Kita berpencar. Ah, bagaimana dengan kalian? Mark? Minji?”

Minji bangun dari kursinya. “Aku tidak ikut. Ada urusan penting yang harus ku urus. Sampai nanti!” ujarnya lalu meninggalkan ruangan.

Seokjin menghela nafas sebal. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke Mark. Pemuda bersurai blonde masih saja diam dan itu membuat Seokjin semakin kesal. Selang beberapa detik, Mark mengalihkan pandangannya kepada orang-orang yang masih ada di ruangan. Dia melihat mereka secara bergantian.

“Jihyun, Nayoung, terimakasih atas informasinya. Kembalilah ke kelas! Sebentar lagi jam pelajaran pertama akan dimulai.”

Kedua gadis itu hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Karisma seorang Mark Tuan memang sangat kuat. Sulit untuk membantah perkataannya meski pemuda itu hanya mengatakan sesuatu yang biasa. Lantas ia kembali mengalihkan pandangan ke Seokjin dan Taehyung. Kedua pemuda yang tengah di tatap itu menunggu apa yang akan diucapkan ketua mereka.

“Kalian saja yang pergi mencari Hajin. Aku akan mengurus keadaan disini. Aku akan mengawasi Minji.”

“Ah, kau benar, Mark. Gadis itu perlu di awasi. Baiklah, serahkan saja pada kami!”

Mark hanya mengangguk saja. Tak lama guru sejarah memasuki ruangan itu lalu memulai pembelajaran. Ketiga pemuda itu mencoba untuk fokus meski pikiran mereka melayang entah kemana. Masing-masing dari mereka memiliki pemikiran yang berbeda. Ada yang fokus memikirkan Hajin dan ada pula yang memikirkan Hajin serta Minji.

Di sisi lain, Nayoung dan Jihyun tengah berjalan santai di lorong. Mereka sengaja mengulur waktu untuk masuk ke kelas. Keduanya tidak terlalu suka mengikuti pelajaran Kim Saem. Selama perjalanan kembali ke kelas, senyum lebar melekat di wajah Nayoung. Ia terus tersenyum sembari memikirkan hal yang membuatnya senang.

Saking senangnya, ia tidak sadar jika Jihyun memperhatikannya. Gadis itu menerka-nerka apa yang membuat sahabatnya tak mau melepas senyuman dari wajah ovalnya. Sebenarnya ingin bertanya namun ia urungkan. Dia tak mau mengganggu Nayoung yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.

Jihyun lebih memilih untuk memikirkan hal lain. Taehyung. Pemuda itu… ah, rasanya pemuda itu makin tampan saja menurut gadis bersurai hitam pekat. Sudah sejak lama mereka dekat dan hubungan mereka masih belum terdefinisikan. Di katakan teman dekat memang iya, tapi akhir-akhir ini Jihyun merasa hubungan mereka lebih dari itu. Entahlah. Dia tidak mau cepat-cepat menyimpulkan.

Tiba-tiba ponsel Jihyun berdering, dia pun segera mengangkatnya. Nayoung tersentak karena suara ponsel temannya itu sehingga ia tersadar dari pikirannya yang melayang entah kemana tadi. Dia memperhatikan Jihyun yang tampak berbicara dengan lawan bicaranya dengan nada serius. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Setelah menutup teleponnya, gadis itu menatap Nayoung.

“Nayoung-ah!”

“Eh? Waeyo, Jihyun-ah?”

“Bagaimana jika kita membolos saja? Kita cari Hajin. Aku mendapat firasat buruk.”

“Ha? Kau yakin? Tadi siapa yang meneleponmu?”

“Hoseok Oppa. Dia belum menemukan Hajin. Dia meminta bantuan kita. Aish, Jung Hajin!”

“Ah, baiklah. Kaja! Kita mulai dari tempat yang biasa kita kunjungi bersamanya.”

Lantas kedua gadis itu beranjak meninggalkan sekolah. Mereka bergegas mencari Hajin ke tempat-tempat yang mungkin di datanginya. Sejujurnya, semua orang di sekitar gadis bermarga Jung itu bingung dengan sikap gadis itu yang tak biasanya. Menghilang begini bukanlah seperti Hajin. Gadis itu tidak pernah begini sebelumnya. It’s not her style.

Nayoung dan Jihyun berharap sahabat baik mereka itu segera di temukan. Agar bisa meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Sepertinya ada hal yang tidak mereka tahu tentang Hajin. Akhir-akhir ini Hajin menjadi lebih pendiam. Entah apa sebabnya, keduanya pun tidak tahu. Makanya mereka perlu menemukan gadis itu dan meminta penjelasannya.

Minji POV

Tadinya aku berusaha keras untuk menenangkan diriku dan mengontrol emosiku. Tapi aku gagal. Semilir angin di atap pun susu kotak rasa cokelat favoritku tak mempan. Aku benar-benar tidak bisa berdiam diri saat ini. Ada yang harus aku lakukan. Ya, awas saja! Akan ku buat dia menyesal karena telah membuat magnae menjadi seperti ini.

Dengan emosi yang memuncak, aku begegas menuju ke kelas XII-2. Kelas pemuda brengsek itu. Aku tidak peduli kendati dia adalah seniorku atau apapun lah itu. Si brengsek itu harus merasakan tonjokanku. Ah, aku benar-benar tidak tahan. Ingin sekali ku remukkan tulang-tulangnya. Jangan remehkan seorang Ahn Minji pemegang sabuk hitam taekwondo dan silat ini!

Oh, sebenarnya aku melihat kejadian itu. Dimana pria itu bertengkar dengan uri magnae. Saat itu aku sangat kesal pada Hajin karena dia masih saja mempertahankan cintanya itu. Padahal pemuda seperti Koo Junhoe tidak pantas mendapatkan cinta yang tulus dari gadis sebaik Jung Hajin. Tapi aku juga kesal pada Junhoe. Dia terlalu kasar pada gadis itu.

Sampai kelasnya, aku mengetuk pintu kelas karena ada guru yang sedang mengajar. Aku pun masuk ke dalam dan meminta ijin untuk membawa Junhoe sebentar. Dan ya, tidak sulit untuk mendapatkan ijin seperti itu. Lantas aku menatap tajam ke arah pemuda itu. Ku beri isyarat agar segera beranjak dan mengikutiku keluar kelas. Dia pun mengekor dengan langkah malas.

Aku menarik blazer seragam yang di pakainya agar ia bergegas. Setelah sampai di tempat yang sepi, aku melepaskan tanganku. Sejenak kami terdiam dan menatap satu sama lain. Pemuda itu menatapku seolah bertanya ‘ada apa?’ sementara aku menatapnya dengan tatapan siap menghabisinya. Tanpa basa-basi, aku langsung melayangkan satu pukulan keras ke pipinya.

Junhoe tampak terkejut dengan perlakuanku yang tiba-tiba. Namun sejurus kemudian, ia mengembalikan ekspresinya menjadi datar. Dia mengusap sudut bibirnya yang agak berdarah. Aku tersenyum sinis. Ku dorong ia hingga punggungnya membentur dinding yang ada di belakangnya. Dia hanya menatapku dingin.

“Kau!” teriakku tepat di wajahnya. Aku menjeda ucapanku lalu kembali melanjutkannya, “Pemuda terbrengsek yang pernah ku temui, Koo Junhoe-ssi! Kau telah membuatku marah saat ini. Dan kau tahu kan? Membuat seorang Ahn Minji marah berarti siap berperang dengannya. Cih!”

“Lantas?”

“Hah! Kau bertanya lantas? Apa kau sudah siap? Baiklah! Kita mulai. Aku juga sudah muak berbasa-basi denganmu!”

DUG

“Brengsek! Apa yang kau lakukan pada Hajin, eoh? Kenapa dia jadi begini?”

DUGH

“Kenapa Hajin begitu mencintaimu? Padahal kau pemuda yang sangat buruk. Bisamu hanya menyakitinya.”

BUG

“Kemana Hajin yang periang? Kau merenggut kecerian di wajahnya, Junhoe! Aish, aku benar-benar membencimu!”

BUGH

“Pergilah darinya! Jangan buat dia menderita! Jangan permaikan dia! Jangan dekati dia!”

BUAGH  BRAK

“Terakhir, kau harus bertanggungjawab! Dia menghilang setelah bertengkar denganmu di lorong sepi itu. Temukan dia atau aku akan mematahkan lehernu!” pungkasku seraya menatapnya yang tengah tersungkur di lantai.

Tak peduli dengan wajahnya yang lebam, aku menendang perutnya untuk melampiaskan kekesalanku yang masih tersisa. Ia hanya meringgis kecil. Lantas ia berusaha bangkit dan menatapku lekat. Aku hanya diam sembari mengatur napasku yang terengah sehabis menghajar dan meluapkan semua emosiku.

“Menghilang? Hajin? Dia menghilang? Kau serius?”

YA! Apa aku terlihat bercanda, hah?”

Junhoe terdiam. Dia menundukkan kepalanya dan hendak berbali pergi meninggalkan tempat ini. Aku pun menahannya. “Siapa bilang kau boleh pergi? Apa hanya itu tanggapanmu? Sebegitu tidak pedulinya engkau pada gadis yang selalu memperdulikamu selama ini? Heol! Pria macam apa kau ini?”

Pria itu menatapku dingin. “Dia bukan urusanku. Aku tidak peduli,” jawabnya ketus lalu beranjak pergi. Aish, dia membuatku kesal lagi! Ku tendang kakinya hingga dia berlutut lalu aku menendang punggungnya hingga ia tersungkur di lantai. Aku menginjak punggungnya.

Aish, jawabanmu membuatku kesal. Jangan salahkan aku jika aku menghajarmu lagi!”

Tsk! Bodoh! Seharusnya kalau kau peduli dengannya, kau pergi mencarinya. Bukan menghajarku. Apa dengan menghajarku akan membuatnya ketemu?” ujar Junhoe sinis. Ucapannya semakin membuatku kesal. Aku menarik blazernya hingga berdiri dan aku membalik badannya agar menghadapku.

“Dengarkan aku! Aku menghajarmu agar kau sadar tentang kesalahanmu dan aku tidak suka dengan apa yang kau perbuat. Aku tak terima kau berbuat kasar dan melukai perasaannya. Kau yang membuatnya seperti ini jadi kau juga yang harus bertanggung jawab!”

“Ku tegaskan sekali lagi! Itu bukan urusanku. Dan aku tak peduli dengannya!”

Tepat setelah ia menyelesaikan ucapannya, aku mendorongnya lalu menendang perutnya kuat hingga ia sedikit terpental ke belakang. Aku menonjok perutnya beberapa kali hingga ia tersungkur tepat di lorong utama. Sontak semua mata memandang ke arah kami. Ada beberapa murid yang tengah berjalan di lorong. Mereka menatap kami dengan tatapan terkejut.

Namun persetan dengan hal itu. Aku menatap tajam ke arah Junhoe. Dia tengah terbatuk-batuk dan juga mulutnya mengeluarkan darah. Masa bodoh dengan kondisinya. Salah sendiri membuatku kesal. Aku medekatinya lalu berjongkok di depannya. Dia hanya menatapku datar. Bisa kulihat dia mencoba untuk menutupi ekspresi kesakitannya.

“Ku ingatkan padamu! Jangan membuatnya tersakiti lagi atau aku akan memberikan pelajaran yang lebih buruk dari ini!” aku menjeda ucapanku sejenak, lalu melanjutkannya. “Oh ya, kau harus–“

“Ahn Minji!” teriak seseorang yang sontak membuatku berhenti berbicara dan menoleh ke arah sumber suara.

“Mark?” Sial! Aku merutuk dalam hati. Semoga dia tidak menghukumku. Aish. Dia mengganggu saja.

“Apa yang kau lakukan? Siapa yang mengijinkanmu melakukan hal ini?”

“Hmm. Kau menggangguku saja, Mark. Ini bukan urusanmu.”

“Apa gunanya kau melakukan ini? Bisa membuatnya kembali?”

Heol! Kau sama saja dengan si brengsek ini. Terserah kalian lah!”

Aku pun hendak melangkah pergi namun aku mengurungkan niatku ketika melihat Junhoe bangkit dan mengangkat teleponnya. Ia tampak membulatkan matanya setelah mendengar ucapan lawan bicaranya di seberang sana. Samar-samar aku dengar dia menyebut nama Hajin dan juga menyebutkan pria itu. Aku memicingkan mataku.

Selesai berbincang melalui ponsel, Junhoe bergegas pergi dari tempat ini. Aku berusaha untuk mengejarnya dan menghentikannya. Tapi Mark menahanku dan dia menggelengkan kepala. Aku mendengus keras. Lantas pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan darinya. Masa bodoh dengannya. Aku butuh waktu untuk sendiri sekarang. Semoga saja Hajin segera ketemu dan akan ku marahi dia habis-habisan. Dasar merepotkan!

TBC

Hai hai… I’m back. This is chapter 3. Sorry if this story so absurd. Sorry fot typo. Don’t forget to RCL! See ya in the next chapter 🙂

Advertisements

7 thoughts on “The Story of Miracle Generation [Chapter 3]

  1. Yuhuùu…. ay cmbek…
    mian baru komen sekarang kemaren hp mati n pas nunggu ngecas ketiduran masa 😂😂😂

    Aigooo… hajin galoww mulu yah ma mas mantan, appeee deh 😂😂😂 ayolah jin mup-on. Masih banyak ikan di lautan sana#TarAkuPinjeminJaringDah# wkkkk 😂😂😂

    Sih tae emang playboy cap kadal yah, kerjaanya php-in anak gadis holang, untung si jihyun gak terlalu berharap tapi napa pas baca ngenes yah 😂😂😂

    Ciee… minji belain sih hajin#piwit# jangan bilang jodohnya minji sih mas mantan, wkwkww 😁😁😁#MaapkanKegajeanKu#

    Satu kata yg bisa aku ktakan ‘Next’ ditunggu part selanjutnya ya jin, keep writting n fighting! Semangat juga buat ujiannya.

    • kak piyun~~ gapapa kak. komen kak piyun always panjang haha 😀
      Hajin otw mup on. liat ntar kak wkwk. ntar juga tau sendiri 😀
      taehyung mah emang kerdus. biarkan waktu yang menjawab kak. taehyung bisa sama jihyun bisa juga sama yang satunya 😀
      Hahaha, minji kan sayang hajin kak. dan BIG NO! Minji ga sama June. enak aja. June punya hajin pokoknya 😀
      siap kak. makasih ya 🙂

      • Wkwkwkw…. dah kebiasaan jin. Nulis panjang-panjang ampe ff yg chapter kaga kelar-kelar 😂😂😂 abis enakan yang panjang sih 😂😂😅

        Aku mah sama cogan siapa aja mah hayuk, yang penting hajinnya seneng dan nasipnya jihyun happy end…

        Wkwkwk salah yah… berarti jodohnya minji sih tae dong? #MakinGaje# dah ah tar aku malah lebih ngawur lagih, 😅😂

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s