[SEG Event] Epiphanot

Cast :

Oh Sehun as Oh Sehun

Kim Ha Na

Do Kyungsoo as Do Kyungsoo

Yon Woo
Genre :Horror, mistery, school-life

Theme : Jurnalistic

Length :Oneshot (5.946 words)

Rating :PG-15


Hari ini siswa berkumpul di lapangan menyaksikan serah terima jabatan untuk semua ekstrakulikuler. Semua kepengurusan akan diserahkan kepada siswa kelas dua. Karena siswa kelas tiga akan disibukkan dengan seleksi universitas.

Kim Ha Na bisa bernafas lega ketika dirinya terbebas dari kerumunan orang di lapangan.

Hari ini dirinya resmi menjadi ketua dari eskul mading. Maka dari itu sebelum memasuki

kelas, ia mampir terlebih dahulu ke sekre eskul mading.

Kim Ha Na berjalan menyusuri halaman belakang sekolah yang memang sepi. Hanya ada

beberapa sekre eskul di sini. Hanya ada 4 eskul yang sekrenya  berada di belakang sekolah.

Sebagian besar terletak di halaman depan sekolah. Maka dari itu, daerah di sini selalu sepi.

Ha Na bisa merasakan jelas angin yang bertiup kencang pagi itu. Tapi ini lain, Ha Na tau persis rasanya. Bukan hanya angin yang menusuk dirinya,tapi juga seseorang berhasil

membuat bulu punduknya berdiri. Ha Na mencoba terlihat tenang. Memang dirinya sudah

biasa, tapi entah kenapa kali ini berbeda.
“Kau bisa melihatku ya?” Seseorang bertanya dengan suara beratnya. Sungguh Ha Na

mendengar semua itu dengan jelas.
“Kau pura-pura tidak melihatku?” Sosok itu bertanya lagi. Ha Na tetap fokus membereskan

beberapa berkas yang harus ia rapikan.
“Kau tidak sopan ya? Aku seniormu.” Sosok itu semakin mendekat membuat Ha Na sedikit menggeser langkahnya.

Tiba-tiba sosok itu menampakan wajahnya persis di hadapan Ha Na. Ha Na terlonjak dan tak sengaja menjatuhkan beberapa berkas yang ada di tangannya.

“Kau masih mau berpura-pura?” tanya sosok itu kemudian. Ha Na masih berusaha mengatur nafasnya kembali.

“Lalu apa maumu?” Akhirnya Ha Na menyerah.

“Aku tahu kau sudah mengenal aku.” Sosok itu menyandarkan tubuhnya ke sebuah almari di dalam ruangan itu.

“Tidak. Aku tidak pernah mengenal hantu,” jawab Ha Na tegas membuat sosok itu

memincingkan matanya merasa tertarik dengan gadis itu.

“Selamat. Kau menjadi ketua mading tahun ini!”

“Aku ketua mading 2 tahun lalu, aku rasa kau tahu tentang kasus ku.” Tanpa dipinta sosok itu mengenalkan dirinya pada Ha Na.

“Aku tidak perduli.”

“Kau harus perduli, karena aku perduli denganmu.”

“Terserah.” Ha Na bergegas untuk ke luar ruangan itu.

“Ha na.” Sosok itu menghentikan langkah Ha Na di ambang pintu.

“Jangan terlalu berambisi mengungkap kasus itu.” Tanpa menggubris Ha Na melanjutkan

langkahnya lalu menghilang ditelan kelokan.

“Atau kau akan bernasib sama denganku …”
“Selamat Do Kyungsoo!” Ucapan itu terdengar kesekian kalinya di telinga Do Kyungsoo.

Hari  ini ia dilantik menajdi ketua dari eskul mading di sekolahnya. Suatu kebanggan untuk Do Kyungsoo. Menurutnya, ini seperti awal langkahnya untuk menjadi seorang jurnalis. Itu

cita-citanya dan bagaimanapun ia harus seperti sang ayah. Jurnalis yang berani membuka

kasus yang sesungguhnya. Karena saat ini sulit sekali menemukan jurnalis yang

sesungguhnya.

“Apa rencanamu tentang headline majalah kita bulan depan?” tanya salah seoranga

anggota mading dalam forum pertama.

“Aku ingin tentang latar belakang guru favorit di sekolah ini.”

“Maksudnya tentang pak Yon Woo?”

“Memangnya siapa lagi?”
Ha Na menghela nafas berat ketika sang guru ke luar dari kelas. Sudah beberapa pelajaran

hari ini, namun tidak ada satu pun yang menempel di otaknya. Ia memang tidak berniat memikirkan sosok itu—siapa lagi kalau bukan arwah gentayangan itu? Seisi sekolah mungkin sudah tahu. Karena kematiannya yang misterius membuat setiap orang beranggapan arwahnya tidak tenang dan pasti akan bergentayangan. Dan memang begitu adanya, bahkan Ha Na jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri.

“Kim Ha Na, kau di panggil Sehun Sunbae.”

Ha Na menyatukan kedua alisnya saat mendengar nama itu. Untuk apa?

“Maaf aku tidak ada saat melantikmu,” ucap Sehun saat melihat Ha Na sudah di dekatnya.

“Aku memang tidak butuh kehadiranmu,” tukas Ha Na tanpa membalas tatapan Sehun. Sehun tau betul Ha Na ini sangat tidak menyukainya. Tapi sungguh Sehun tidak tahu dosa apa yang ia perbuat pada Ha Na. Bukankah harus ada alasan untuk membenci seseorang?

“Kau memang junior yang tidak sopan ya—”

“Aku hanya tidak sopan di depan senior sepertimu,” sela Ha Na membuat Sehun tercengang

untuk pertama kalinya. Gadis di depannya itu benar-benar berbanding terbalik dengan

dugannya.

“Selamat!” Sehun mengulurkan tangannya namun Ha Na hanya meliriknya sekilas.

“Hm, jadilah ketua yang benar ya!” Merasa tangannya ditolak, Sehun mengacak rambut Ha

Na dengan tangannya itu. Buru-buru Ha Na menepisnya.

“Aku tidak sepertimu. Tidak perlu menasihatiku!” Lagi-lagi Sehun hanya bisa

menghembuskan nafas berat mendengar tukasan tajam yang tidak berhenti dari bibir seorang Kim Ha Na.

“Baiklah. Semangat!” Ucap Sehun sebelum benar benar pergi meninggalkan Ha Na.

“Anak dan Ayah sama saja.” Desis Ha Na lalu berjalan kembali menuju kelasnya.
Sepulang sekolah Ha Na menyempatkan diri untuk mampir ke ruang mading untuk

membereskan beberapa berkas yang tadi belum selesai ia rapikan. Ia berjalan menyusuri

halaman belakang sekolah. Hanya ada beberapa siswa, karena memang jadwal eskul hanya

Jumat dan Sabtu.

“Kau sangat membenci Sehun? Kenapa? Bukankah dia baik?” tanya sosok itu membuat Ha

Na hampir terlonjak. Ia buru-buru membuka kunci ruangan itu lalu masuk ke dalamnya. Lalu ia menguncinya dari dalam.

“Aku ‘kan hantu, kau lupa aku bisa menembus pintu?” tanyanya lagi membuat Ha Na

meringis lalu memilih segera merapikan berkas-berkas itu.

“Lalu kenapa kau membenciku? Aku tidak sejahat Sehun, ralat—aku tidak sejahat Pak Yon Woo.” Ha Na terdiam ketika mendengar nama orang itu. Sosok itu tersenyum penuh

kemenangan ketika melihat ekpresi wajah Ha Na yang berubah saat itu juga.

“Kau juga membencinya ya?” tanyanya lagi membuat Ha Na memutar bola matanya,”

sebenarnya apa maumu? Kau menggangguku.” Ha Na membalas tatapan sosok itu untuk pertama kalinya.

“Karena aku tahu rencanamu,” balas sosok itu membuat Ha Na sedikit terkejut.

“Do Kyungsoo, aku tidak pernah menganggumu. Aku tidak pernah membicarakanmu, saat

kematianmu  pun aku tidak ikut membicarakannya seperti orang lain. Tapi kenapa kau senang sekali menggangguku?” Sosok yang dipanggil Kyungsoo itu terkekeh mendengar penjelasan

Ha Na.

“Iya aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku hanya tidak mau kau bernasib sama sepertiku.” Ha Na terdiam untuk beberapa saat.

Bagaimana pun Kyungsoo terlalu benar menebak semuanya.

“Tidak, lagi pula aku tidak melakukan apa pun.”

“Bagaimana dengan nanti?”

“Kau terlalu banyak bertanya.”

“Itu karena aku seorang jurnalis.” Ha Na memijat keningnya pelan. Berdebat dengan

Kyungsoo memang bukan yang terbaik.

“Kau harus menjadi teman Sehun kalau kau tidak ingin bernasib sama denganku.” Kali ini

Ha na menoleh dan menatap Kyungsoo dengan tatapan tidak mengertinya. Sadar Ha Na tidak mengerti maksudnya, Kyungsoo berdehem mencoba menjelaskan,”Sehun bisa

menyelamatkanmu.”


Sekali lagi Kim Ha Na melirik arlojinya. Sial, umpatnya dalam hati. Lima menit lagi bel

akan berbunyi, dan dirinya masih harus berjalan menyusuri jalanan menuju sekolahnya.

Sekolahnya tidak di di lewati rute bus, Ha Na harus berjalan sekitar 1 km untuk bisa sampai

pada sekolah. Hanya ada taxi kawasan ini, tapi Ha Na tidak akan membuang uangnya hanya karena ia malas berjalan. Uang yang orang tuanya dapatkan terlalu berharga untuk sekedar

membayar argo taxi.
Kalau biasanya Ha Na bisa berjalan santai, kali ini ia sebisa mungkin berlari cepat. Ia baru

menuruni bus lalu segera berlari mengingat hanya 3 menit lagi waktu yang ia punya.

Tak lama sebuah Mercedez hitam mengkilap memberinya sebuah klakson. Refleks Ha Na

menoleh, ketika kaca mobil itu turun perlahan menampakkan sosok dibalik kemudi itu.

“Kim Ha Na?” Ia mencoba membaca name tag yang tertera di blazzer milik Ha Na. Yang

ditanya hanya memutar kedua bola matanya malas. Demi apa pun, kalau ia tahu siapa yang

ada di dalam mobil itu, dirinya bersumpah tidak akan menghentikan langkahnya.

“Mau ikut denganku?” Ha Na tidak habis pikir dengan sosok yang menjadi lawan bicaranya

saat ini. Bagaimana bisa pria itu tidak mengenali Ha Na? Bukankah …

“Kau bisa terlambat.”

“Tidak. Terima kasih.” Mau tidak mau Ha Na membungkukkan tubuhnya memberi hormat,

walaupun terpaksa. Ia hanya menjalani tata tertib yang ada di sekolahnya. Jadi jangan beranggapan Ha Na adalah bagian dari siswi yang mengidolakan pria itu.

Ha Na berbeda dengan siswi lainnya. Ketika begitu banyak siswi yang mengidolakan sosok Pak Yon Woo, Hana justru sebaliknya. Mungkin bagi sebagian siswa, sosoknya adalah yang sempurna. Baik hati, ramah, dermawan, bijaksana, cerdas, dan hal lainnya yang dianggap sempurna. Tapi bukankah tidak ada yang sempurna di dunia ini? Ketika sempurna itu memang benar-benar ada, tidakkah ada sebuah kecatatan di dalammnya? Bagaimana kalau kesempurnaan itu di buat untuk menutupi kecacatan yang ada?

“Ayolah, kau akan terlambat.”

“Lebih baik begitu.” Tanpa basa-basi Ha Na kembali berlari meninggalkan pria tersebut tanpa menunggu responnya lebih dulu. Ha Na juga tidak melihat bagaimana sosok itu

memincingkan mata ke arahnya.

Sesampainya di pintu gerbang sekolah Ha Na mencoba mengatur nafasnya lebih dulu. Peluh di keningnya tidak ia hiraukan.

“Kau terlambat.” Seorang guru piket lengkap dengan wajah sangarnya menatap Ha Na tajam. Gadis itu masih mengatur nafasnya pelan.

“Kau berdiri di tengah lapang sekarang juga! Hingga bel pulang berbunyi.” Ha Na membuang nafasnya berat. Tak lama seorang laki-laki beraeragam sama dengan dirinya tiba dengan

mobil sport merahnya yang sangat mencolok mata.

“Selamat pagi. Maaf aku terlambat.” Ia berdiri di samping Ha Na setelah menyerahkan kunci mobilnya pada seorang satpam sekolah.

“Pagi Oh Sehun, kenapa kau terlambat?” Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyumnya membuat Ha Na memincingkan matanya. Bukankah tingkah intimidasinya terlalu buka-bukaan?

“Apa aku harus lari sebagai hukumannya?”

“Ah tidak perlu. Kau masuk saja.” Dengan cepat Ha Na melempar pandangannya pada wanita berkacamata dan bergincu merah itu.

“Lalu kenapa aku harus berjemur di lapang?” tanya Ha Na dengan nada kesalnya. Sehun

menatap gadis itu, lalu berpikir sejenak.

“Aku juga terlambat, jadi aku juga harus mendapat hukuman bukan?” tanya Sehun seolah

meminta hukuman untuk dirinya. Naif atau munafik memang beda tipis ya. Pikir Ha Na ketika mendengar kalimat terakhir Sehun.

“Tapi—”

“Ada apa Mrs. Hye Mi?” Suara berat itu membuat ketiganya segera menoleh.

“Sehun?” Tambahnya lalu berjalan mendekati Sehun dan Ha Na.

“Aku terlambat,” sahut Sehun tanpa menatap sosok di hadapannya itu.

“Hanya 10 menit ‘kan? Sudah sana masuk—”

“Bukankah sekolah tidak memberi toleran untuk siswa yang terlambat? Apakah aku bukan

siswa sekolah ini?” tanya Sehun sarkatis membuat Ha Na menatapnya heran.

“Sehun—“

“Sudahlah, beri aku hukuman yang sama dengan siswa lain.”

“Baiklah terserah kau,” balas pria itu hendak melengos namun sekali lagi menoleh pada

seseorang yang ada di samping Sehun.

“Apa aku harus membelikanmu minum Kim Ha Na? Kau tampak kehausan.” Ha Na mencoba mengatur nafasnya agar tidak terdengar memburu. Ada rasa ketakutan disana.

“Tidak. Terima kasih.” Ha Na membungkuk lalu bergegas berjalan menuju lapangan. Menyadari itu, Sehun segara menyusulnya.

Di sinilah keduanya berada saat ini. Lapangan basket yang kelewat luas dan  matahari yang

semakin terik membuat siapa pun berpikir dua kali untuk sekedar berjalan melewati tempat

ini.

“Kau baik-baik saja ‘kan?” tanya Sehun memecah keheningan yang terjadi sejak tadi. Ha Na menggeleng, tak sedikit pun mengeluarkan suaranya.

“Tapi wajahmu pucat.” Tambah Sehun tak di gubris oleh Ha Na.

“Kalau kau –-”

“Aku tidak apa-apa,” sela Ha Na seolah memberi penekanan agar Sehun tidak lagi bertanya. Kemudian semuanya menjadi hening kembali. Hanya ada hembusan nafas keduanya dan mentari yang semakin terik.

“Ha na …” Sehun berdehem terlihat ragu untuk memulai.

“Apa kau—”

“Kau ingin diberi hukuman lagi?” sela Ha Na membuat Sehun lagi-lagi mengambil nafasnya berat. Sepertinya Ha Na sudah kelewat membencinya.

Bel pulang berdering membuat Ha Na bisa menurunkan bahunya dan bernafas lega. Artinya

hukuman itu berakhir. Ha Na buru-buru berjalan meninggalkan Sehun yang terduduk lemas.

“Bukankah tadi dia yang terlihat pucat?”


Ha Na berjalan menyusuri taman belakang sekolah menuju ruangan sekre eskulnya. Kenapa

sepi sekali? Biasanya akan banyak sekali siswa eskul lain yang berlalu-lalang disini.

Ha Na terlalu fokus dengan apa yang ia pikirkan hingga ia tidak memperhatikan seseorang

dari lawan arahnya lalu menubruk sosok itu. Anehnya malah Ha Na yang terjatuh.
“Kau tidak apa apa?” Jantungnya hampir melompat mendengar suara itu lagi. Dengan ragu

Ha Na mendongak mencari pemilik suara tersebut, ia mencoba meyakinkan diri bahwa

dugaannya salah. Sialnya, semua itu benar.
“Kim Ha Na?” Pria berdasi itu mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu Ha Na

berdiri. Alih-alih meraih tangan itu, Ha Na membuang pandangannya ke arah lain. Kemudian pria itu membungkuk menyamai Ha Na yang masih terduduk.

“Apa kau terlambat karena membantu ibumu di pasar?” Bisik pria itu membuat Ha Na

bergidik ngeri. Cepat-cepat Ha Na bangkit lalu merapikan seragamnya yang sedikit kusut

akibat terjatuh tadi.

“Bukan urusanmu,” jawab Ha Na tanpa menatap pria di hadapannya itu.

“Kau sebenarnya tidak perlu repot-repot seperti itu. Aku bisa memberimu uang kapanpun kau mau.” Saat itu juga aliran darah Ha Na berdesir cepat sampai ke ubun-ubun. Ingin sekali

rasanya ia menendang pria ini, tentu ia masih sadar berada dimana dirinya sekarang.

“Aku tidak butuh uang dari orang sepertimu.” Dengan cepat Ha Na berjalan meninggalkan

pria itu yang tersenyum simpul.
Ha Na dengan buru-buru mengeluarkan kunci sekre mading dari dalam tasnya. Tangannya

yang bergetar membuatnya kesulitan. Berkali-kali kunci itu terjatuh dari tangannya. Sampai

akhirnya ia mendapatin sebuah tangan yang meraih kunci itu. Ha Na mendongak dan saat itu juga ia menghela nafas berat. Rasanya ujian hari ini terlalu banyak.
“Bagaimana harimu Kim Ha Na?” tanyanya memainkan kunci itu di tangannya. Oh ayolah

orang akan terkejut melihat sebuah kunci melayang bebas di udara.

Bukannya menggubris Ha Na terpikir untung menanyakan hal ini pada Do Kyungsoo.

“Aku ingin bertanya padamu.” Terkejut dengan permintaan Ha Na, Do Kyungsoo

mengerutkan keningnya.
Baiklah Ha Na tau ini gila, tapi dirinya sungguh tidak tahan dengan perlakuan pria itu. Ha Na melamun menyusuri koriodor sekolah yang sudah sepi. Ia terlalu bersemangat mengobrol

dengan Do Kyungsoo. Hingga lupa kalau sekarang sudah semakin petang. Ha Na tersadar

dari lamunannya ketika mendengar sebuah teriakan dari gudang sekolah yang jarang di lewati siswa karena katanya terlalu angker. Bukan katanya, karena memang ia melihat seorang

wanita tua dengan darah di dahinya. Oh ayolah kenapa tatapan itu harus bertemu?
“Nak, ada temanmu di dalam,” sahutnya tanpa mendekati Ha Na yang terpaku di tempatnya.

“Temanku?” tanya Ha Na tak yakin. Suara itu menghilang saat Ha Na menempelkan salah

satu telinganya di pintu gudang itu.

“Cepat, tolong dia!” Nenek itu tiba-tiba menghilang membuat Ha Na bergidik.

Baru saja Ha Na akan memutar kenopnya saat sebuah tangan menariknya.

“Kau sedang apa?”


“Kenapa kau tiba tiba ada di tempat itu?” Tanya Ha Na memecah keheningan di dalam mobil Sehun. Sungguh, Ha Na sudah menolak ajakan Sehun sejak awal. Tapi apa daya ketika ia

tahu bus sudah tidak akan melewati daerah itu lagi mengingat saat ini sudah larut.
“Aku memang baru pulang.” Jawabnya membuat Ha Na menatapnya penuh selidik. Rasanya

terlalu aneh untuk seorang Sehun  betah berlama-lama di sekolah hingga petang.

“Bukankah kelas 3 tidak boleh pulang sore?”

“Memang,” jawab Sehun menggantung.

“Tapi tidak akan diberi hukuman juga ‘kan?” Lanjut Sehun membuat Ha Na membuang nafas berat.

“Sehun, apa tadi kau mendengar jeritan seorang perempuan di gudang itu?” Ha Na teringat

pesan nenek tadi. Sehun terdiam tidak menjawab apa pun. Hanya kedua matanya yang fokus pada jalanan.

“Sehun?”

“Tidak.”

“Tapi aku—”

“Apa rumahmu masih jauh?” sela Sehun mengganti topik pembicaraan mereka. Ha Na sadar akan hal itu.

Ha Na menginjakkan kakinya di gerbang sekolah tepat pukul 06.50. Sepuluh menit sebelum

bel berbunyi. Ia berlari kecil menyusuri koridor sekolah. Ia terhenti saat melihat kerumunan

siswa dan guru di depan gudang angker itu. Ha Na mengerutkan keningnya.

“Ha na!” Panggil seseorang membuat Ha Na menoleh.

“Kau kenal So Hye?” tanya Do Kyungsoo dengan wajah tak sabarannya. Ha Na refleks

mengangguk. So Hye adalah teman satu kelasnya. Jadi sudah pasti dirinya kenal, tapi

tunggu—

Saat itu juga Ha Na menerobos kerumunan ketika teringat sesuatu kemarin. Apakah itu So

Hye? Tapi untuk apa gadis itu di dalam gudang sore-sore seperti itu? Ha Na terkejut ketika

melihat So Hye tergeletak di lantai gudang itu. Semua siswa yang melihat bergidik ngeri

melihat jasad So Hye yang memucat.

Kemudian Ha Na teringat sesuatu kemarin. Ia segera berlari mencari seseorang yang kini

terlintas di pikirannya.
“Ha Na, berheti mencari tahu segala hal yang terjadi di sekolah. Jangan membuat dirimu

sendiri celaka. Tutup mata dan kupingmu jika kau ingin bertahan.”
Ha Na bersumpah akan memukul laki-laki itu ketika ia menemukannya. Ha Na tahu dimana

sosok itu berada. Ia berlari menaiki tangga menuju atap sekolahnya. Sesampainya di sana Ha Na membanting pintu atap membuat seseorang bangun dari tidurnya. Sosok itu mengucek

matanya malas lalu menatap heran gadis di hadapannya yang terlihat seperti akan memakan

dirinya.

“Ini maksudmu? Kau menyuruh aku diam ketika aku tahu itu ternyata jeritan So Hye?!”

Suara Ha Na meninggi membuat Sehun tersentak. Ia bangkit lalu menatap kedua manik Ha

Na dengan lekat.

“Kau tau itu So Hye kan?!” Ha Na kini menarik kasar kerah seragam Sehun.

“Jawab aku brengsek!!” Ha Na mendorong tubuh Sehun dengan kencang.

“Kau tahu itu Ayahmu ‘kan?!” Kini ada cairan bening yang berhasil lolos dari kedua sudut

mata Ha Na. Ia terisak lalu ambruk karena tungkainya yang melemas.

Sehun hanya terdiam di tempatnya, menginggit bibir bawahnya lalu mengacak rambutnya

frustasi.

“Ha Na.” Sehun meraih bahu gadis itu namun segera ditepis.

“Ku mohon jangan ikut campur.”

“Kenapa? Karena dia ayahmu?!” tukas Ha Na tajam. Sehun mengambil nafas sebelum

akhirnya melanjutkan, “aku ingin kau tetap hidup. Aku ingin kau tetap tenang dengan

hidupmu. “

Ha na terdiam mencoba mencerna kata kata sehun barusan.

“Lalu bagaimana dengan yang lain? Kau tidak ingin mereka hidup?” tanya Ha Na serkatis.

“Mereka sudah mati, aku tidak ingin ada yang mati lagi. Jadi ku mohon bertahanlah.” Sehun kembali berdiri lalu melengos meninggalkan Ha Na yang masih terpaku di tempatnya.


Semenjak hari itu dimana jasad So Hye ditemukan, kegaduhan terjadi di sekolah. Media tak

henti-hentinya membahas kematiannya. Sekolah menjadi sorotan orang-orang saat ini,

mengingat kasus ini juga pernah terjadi sebelumnya. Tentu saja korban pertama ada Do

Kyungsoo. Kedua kasus ini memiliki persamaan yang cukup signifikan. Dimana kasus

keduanya dikatakan sebagai motif bunuh diri. Bukankah itu terlalu klise?
Sudah 2 hari semenjak kepergian So Hye, dan rasa bersalah masih menyelimuti perasan Ha

Na. Andai saja dia menghiraukan Sehun mungkin So Hye bisa selamat, gumamnya dalam hati.

 

“Ha Na.” Gadis itu menoleh mencari sumber suara itu. Suaranya terdengar familiar.

“So Hye?” Ha Na terkesiap melihat kehadiran So Hye yang mendadak. Padahal ini hari kedua sejak kematiannya, tapi Ha Na baru melihat temannya itu hari ini.

“Kau sedang memikirkan aku ya?” So Hye mengambil tempat duduk di samping Ha Na.

Keduanya tengah berada di taman belakang sekolah.

“So Hye, maafkan aku …” Ha Na berkata dan mulai terisak. Dirinya tidak sanggup menatap

So Hye lebih lama lagi. Karena ketika ia menatap mata itu, rasa bersalahnya semakin

berkecamuk di dalam dirinya.

“Kau tidak salah Ha Na, kau bahkan sudah berniat membantuku bukan?” So Hye

menyelipkan rambut ke belakang telinganya.

“Kalau saja si brengsek itu tidak menahanku …” Ha Na mengepal tangannya kuat teringat

wajah Sehun yang kini semakin ia benci.

“Tidak, sehun juga tidak salah. Dia hanya ingin melindungimu.”

“So hye,  tapi kenapa Pak Yon Woo membunuhmu?” tanya Ha Na membuat So Hye sedikit

terkejut.

“Aku menolak permintaannya untuk tidur bersamanya. Sementara ia sudah membayar

SPP-ku 3 bulan ini. Padahal aku tidak memintanya,” jawab So Hye memejamkan matanya

tak sanggup mengingat kejadian itu lagi.

“So Hye?”
Ha Na berjalan mengendap-endap menuju gudang tua itu. Ada yang harus ia cari di dalam

sana. Ha Na berpikir keras bagaimana caranya membuka kedua pintu gudang itu yang pasti

di kunci. Belum lagi garis polisi yang masih terpasang di sekitarnya. Akan menjadi masalah

besar kalau sampai seseorang menyadari keberadannya.
“Kau mencari kunci ya nak?” tanya nenek itu lagi tiba tiba sudah berada tepat di hadapan Ha Na.

“Gudang ini tak pernah dikunci, tapi memang perlu usaha untuk membukanya. Coba saja.”

Nenek itu tiba tiba menghilang membuat Ha Na menghela nafas berat. Kadang ia berpikir

dirinya bisa terkena jantungan kalau setiap saat hantu-hantu itu datang dan pergi semaunya.

Ha Na mulai memutar kenop pintunya. Ia mendorong pelan pintu itu, namun tetap juga nihil. Akhirnya Ia mencoba mendobrak sekuat tenaganya dan akhirnya …
“Apa kau punya bukti saat itu?”
“Aku sempat merekamnya di ponselku. Dan ponselku sepertinya tejatuh di sana.”
Ha Na memasuki gudang itu lalu kembali menutup pintunya. Tidak boleh ada satu pun yang

tahu keberadaannya. Kecuali sosok itu, iya Do Kyungsoo yang sedari tadi mengekori Ha Na.

“Kenapa tidak kau yang di depan?”

“Aku dengar, hantu disini sangat menyeramkan.”

“Kau juga hantu ‘kan?”

“Tapi aku tidak semenyeramkan itu.” Tukas Do Kyungsoo membela diri. Seingat Ha Na, Do Kyungsoo juga tidak kalah menyeramkan. Di lehernya selalu ada seikat tali tambang yang terikat.

Do Kyungsoo pernah menjelaskan itu, dirinya mati bukan karena gantung diri. Hanya saja

orang pintar itu berhasil merekayasa semuanya menjadi serapih ini.

“Aku punya nomor So Hye,” Ha Na mencari nomor itu di ponselnya. Untungnya nomor itu

masih bisa dihunbungi.

“Sepertinya di sana.” Do Kyungsoo menunjuk sudut dari gudang ini.

“Kenapa So Hye tidak ikut sih? Bukankan akah lebih mudah?” tanya Do Kyungsoo kembali mengekori Ha Na.

“Dia belum sanggup mengingat kejadian itu,” balas Ha Na semakin dekat dengan ponsel itu. Ponsel putih milik So Hye sudah terlihat, berada dibawah almari tua yang sudah dipenuhi

sarang laba-laba. Baru saja Ha Na akan mengambil ponsel itu ketika seseorang tiba-tiba

membuka pintu gudang itu. Ha Na dengan cepat mengambil ponsel itu lalu tiba-tiba saja

sebuah tangan menarik lengannya.

“Sehun?” tanya Ha Na lalu Sehun kembali membekap mulut gadis itu.
Tak lama pintu gudang itu terbuka lagi. Kali ini seorang pria berusia kira-kira pertengahan

kepala empat lengkap dengan setelan jas biru dongkernya. Pria itu menyusuri setiap inci

dari gudang tua ini. Ha Na yang mengintip dari almari tua itu tahu persis siapa yang

dilihatnya. Pasti orang itu mencari barang yang sama dengannya. Pria itu terus berjalan

sampai akhirnya mendekati almari tua itu. Ha Na hanya bisa menutup kedua matanya

ketakutan. Sehun bisa merasakan tubuh gadis ini bergetar hebat. Baru saja pria itu akan

membuka pintu almari tersebut ketika sesuatu di belakangnya tiba-tiba jatuh. Beberapa

barang yang tadinya tersimpan rapih di rak-rak yang berjejer tiba-tiba semuanya terjatuh

berantakan. Pria itu menoleh lalu menghampiri rak-rak itu. Tapi tidak ada apa pun di sana.

Lalu kenapa bisa terjatuh berserakan seperti itu? Entahlah. Pria itu lalu memutuskan pergi

dari gudang tua tersebut ketika di saat yang bersamaan Do Kyungsoo tertawa terbahak-bahak.
Ha Na menggigit tangan Sehun yang masih membekap mulutnya,”YA!”

Ha Na membuka almari itu lalu mencari sosok Do Kyungsoo.

“Pasti ulahmu ya?” Ha Na mendapati Do Kyungsoo sedang duduk di atas sebuah rak yang

cukup tinggi.

“Kau berutang padaku.”

“Kau orang yang pamrih,” balas Ha Na tidak menyadari Sehun yang sejak tadi di sampingnya dengan wajah melongonya.

“Kau—”Sehun ragu untuk melanjutkan pertanyaannya.

“Kau berbicara dengan siapa?” Sehun berdecak pinggang menuntut penjelasan Ha Na. Ha Na menggigit bibir bawahnya. Haruskah Sehun tahu? Selama ini siapapun tidak ada yang tahu

kelebihan yang dimiliki Ha Na.

“Katakan padanya, kau sedang berbicara denganku.” Sahut Do Kyungsoo kemudian.

“Aku sedang berbicara dengan Do Kyungsoo,” gumam Ha Na santai membuat Sehun

mengacak rambutnya frustasi.

“Kau bohong ‘kan?”

“Tidak. Oh ya, kenapa kau tiba-tiba ada di sini?” tanya Ha Na teringat keberadaan Sehun

yang tiba-tiba. Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Aku punya telepati denganmu.”
Sehun terduduk di jendela kelasnya yang berada di lantai dua sembari memandangi taman

belakang dari atas. Angin yang bertiup pelan seolah membuatnya sedikit tenang dari segala hal yang membuatnya frustasi akhir-akhir ini. Tak lama matanya mendapati seorang gadis

yang sedang berbicara sendiri. Sehun mengerutkan keningnya merasa penasaran dengan

gadis itu. Ia membuka jendelanya lalu berusaha sebisa mungkin mendengarkan pembicaraan itu. Keadaan sekolah yang mulai sepi menbuat Sehun bisa sedikit mendengar pembicaraan Ha Na.
“Ponsel? Di gudang itu?”
“Aku membutuhkan itu untuk bukti.”
Hanya itu yang bisa Sehun dengar. Ponsel? Bukti? Sehun akhirnya berhenti melanjutkan

aksinya. Lagipula Sehun belum terbiasa melihat orang yang bermonolog. Jadi ia

memutuskan keluar dari kelasnya.

“Ayah?”

“Sehun? Kau belum pulang?”

“Belum.”

“Kau duluan ya, Ayah harus mencari sesuatu dulu di gudang.”

Sebenarnya Sehun tidak perduli. Karena bagaiman pun ia tidak pernah tertarik untuk

pulang bersama ayahnya. Sehun kembali melanjutkan langkahnya. Tiba-tiba …

Gudang?

Sehun berlari kekencang mungkin menyusul sang ayah. Untungnya itu berhasil.

“Ayah!” Sang ayah menoleh lalu memutar tubuhnya.

“Mobilmu menghalangi mobilku,” tambah Sehun sembari mengatur nafasnya kembali.

Sang ayah hanya menyatukan kedua alisnya lalu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.

“Oh begitu? Baiklah, aku akan memundurkan mobilku,” balasnya kemudian berjalan

melewati Sehun yang masih terdiam di tempatnya. Secepat mungkin Sehun berlari menuju

gudang itu. Jangan sampai Ha Na menjadi korban sang ayah yang selanjutnya. Oh ayolah

Sehun tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.
“Telepati?” tanya Ha Na dengan nada ragu yang ia buat-buat.

“Dia berbohong. Dia menyelamatkanmu,” gumam Do Kyungsoo tiba-tiba. Ha Na memutar

bola matanya malas. Ia tidak percaya dengan hal-hal baik yang Sehun lakukan. Walaupun

memang tidak ada bukti laki-laki itu sama dengan sang ayah. Tapi bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?

“Apa, Do Kyungsoo ada di sini sekarang?” tanya Sehun membuat Ha Na kembali refleks

menoleh.

“Kau tidak percaya?”

“Beritahu dia, Do Kyungsoo lah satu-satunya orang yang tahu kebiasaan buruk Sehun

sewaktu kecil,” tambah Do Kyungsoo kini sudah ada di hadapan Ha Na.

“Dia barusan bilang padaku, hanya dia yang tahu kebiasaan burukmu sewaktu kecil.”

“Apa?” Ha Na segera menoleh ke arah Do Kyungsoo.

“Pup di celana.”

“Katanya, pup di celana.” Balas Ha Na kemudian terkekeh. Sehun hanya terdiam lalu

membasahi bibirnya.

“Tunggu, apakah kalian bersahabat satu sama lain?” tanya Ha Na kini membuat Sehun

menunduk berusaha menyembunyikan kesedihannya.

“Bukankah kalian berbeda satu tahun? Kenapa bisa bersahabat?”

Sehun terdiam begitupun Do Kyungsoo. Ha Na merasa keadaan menjadi canggung.

“Aku bukan sahabatnya yang baik,” balas Sehun kemudia berlalu meninggalkan Ha Na yang masih terdiam.

“Kau tak pernah memberi tahuku Sehun sahabatmu.”

“Karena terlalu pahit untuk sekedar aku ingat,” balas Do Kyungsoo melengos pergi.

“Bagaimanapun terimakasih,” sahut Ha Na kini tengah berada di dalam mobil Sehun.

“Apa itu bukti tentang kematian So Hye?” Sehun bertanya sembari menoleh lalu kembali

fokus pada jalanan.

“Apa kalau kau tahu, kau akan memberi tahu Ayahmu?” tanya Ha Na kini menatap lekat

Sehun.

“Sehun, Ayahmu sudah memakan banyak korban.”

Termasuk ibuku. Sehun mengeratkan tangannya pada stir mobil. Ketika teringat hal itu, demi apa pun Sehun selalu ingin membunuh ayahnya. Jangan mengira Sehun anak yang kejam,

Sehun punya alasan kuat untuk hal ini.
“Ha Na, apa aku bisa membantumu?”

Pagi ini Ha Na tidak langsung ke kelas, dirinya lebih dulu mampir ke sekre madingnya. Ada beberapa hal yang harus ia tanyakan pada seseorang. Siapa lagi kalau bukan Do Kyungsoo

yang tengah termenung di atas pohon depan sekre tersebut.

“Kau sekarang menjadi siluman monyet?” tanya Ha Na membuat Do Kyungsoo menoleh.

“Kau mencariku?”

Ha Na hanya mengangguk lalu disusul Do Kyungsoo yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu sekre mading.

“Kau bercanda?” Hanya itu yang keluar dari mulut seorang Do Kyungsoo ketika mendengar

semua rencana Ha Na.

“Aku serius, apa kau tidak sedih ketika keluargamu hanya tau kau gantung diri tanpa tau yang sebenarnya?” Perkataan Ha Na berhasil membuat Do Kyungsoo terpaku. Untuk beberapa saat matanya memanas seolah cairan bening itu memaksa untuk keluar. Tapi ia mencoba untuk menahannya.

“Menangislah. Semenjak kematianmu, kau belum pernah menangis ‘kan?”

Ha Na benar, gumam Do Kyungsoo dalam hati. Ia tidak perduli dengan pendapat kebanyakan orang tentang kematian dirinya. Hanya saja ia tidak ingin keluarganya, terlebih sang ibu

merasa sedih dengan kematiannya yang di sebut-sebut bunuh diri.

“File itu pasti ada dirumah Pak Yon Woo. Apa Sehun juga tidak tahu?”

“Sehun tidak menemukannya.”

“Kau masih ingat flahdisk mu seperti apa?

“Aku ingat, tapi apakah file itu masiha da? Aku yakin sudah terhapus.”

“Sehun bilang, Ayahnya tidak pernah menghapus file apa pun. Ia lebih suka membakarnya.”

“Artinya flashdisk itu sudab terbakar ‘kan?”

“Aku yakin belum ,Do Kyungsoo.”
Sore ini Ha Na buru-buru bergegas ke luar sekolah. Ia tidak punya waktu banyak. Ia sampai

di gerbang ketika sebuah mobil sports merah berhenti lalu memberinya klakson. Tanpa berpikir lama Ha Na segera memasuki mobil itu.

“Kau sudah berbicara dengan Kyungsoo?”

“Sudah.”

“Di menitipkan salamnya untukmu,” tambah Ha Na membuat Sehun segera menoleh.

“Dia?” Sehun mencoba meyakinkan apa yang baru saja ia dengar tidak salah.

“Kalau kau berhasil membantuku, ia akan memaafkanmu.” Seolah mengerti apa yang Sehun tanyakan, Ha Na menjawab dengan raut wajahnya yang tenang.

“Kalau tidak?”

“Kita harus berhasil,” balas Ha Na optimis. Ia tidak sadar sedari tadi keringat dirinya

membasahi tangannya.

Ha na tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat rumah Sehun yang lebih mirip sebuah

istana. Sehun berjalan di depannya diikuti Ha Na di belakangnya. Lalu keduanya sampai di

sebuah ruangan di lantai dua. Ruangan itu dikunci, tapi sehun sudah memegang kunci di

tangannya. Sepertinya Sehun sudah menyiapkan semuanya.

“Ini ruang kerja ayahku.” Ha Na mengamati jelas setiap sudut ruangan ini. Desainnya yang

elegan membuat siapapun akan takjub melihatnya. Ha Na tehenti ketika melihat sebuah

papan tulis hijau yang berisi foto-foto teman temannya disitu. Semuanya perempuan, juga …

Tunggu, bukankah itu dirinya? Ha Na mengambil fotonya lalu melihat semua foto yang

berada disitu. Disamping fotonya tersapat foto So Hye.

“Sehun,” guman Ha Na ketika Sehun mencoba membuka laci meja ayahnya.

“Kenapa fotoku ada di sini?” Sehun segera menghampirinya lalu mengambil foto itu dan

mencoba melihatnya sendiri.

“Apa Ayahku pernah meminta sesuatu darimu?” tanya Sehun ragu. Kemudian hanya kejadian itu yang tiba-tiba memenuhi otak Ha Na.
“Ha na, kau mau tidur denganku? Kau bisa bersekolah disini dengan gratis. Kau bisa

membelj apa pun yang kau mau.”
Ha Na ambruk karena tungkainya yang tiba-tiba melemas. Sehun tau gadis itu sedang

ketakutan.

“Kuatkan dirimu Ha Na. Kita akan segera membereskan ini semua.” Sehun mencengkram

erat bahu Ha Na seolah memberinya sedikit kekuatan. Ha Na sempat terisak tapi Sehun

segera menghentikannya, “Ha Na kita tidak punya banyak waktu.”
“Flashdisk Kyungsoo berbentuk mobil.” Ha Na teringat pembicarannya dengan Kyungsoo

beberapa saat lalu.

“Mobil apa?”

“Mobil sport seperti punyamu.”Sehun mengerutkan keningnya.

“Itu hadiah darimu katanya,” tambah Ha Na membuat Sehun berhenti menggeledah almari di ruang kerja ayahnya.

“Aku sepertinya pernah melihat,” gumam Sehun lebih pada dirinya sendiri.

“Dimana?”

“Itu dia, aku lupa.” Sehun buru-buru ke luar dari ruangan itu diikuti Ha Na dibelakangnya. Ia menuruni anak tangga lalu memasuki sebuah ruangan lagi.

“InI kamar ayahku.” Sehun mulai mencari di almari baju ayahnya. Sementara Ha Na mencari di sudut-sudut ranjang besar itu.

“Tidak ada.”

“Shit!” Umpat Sehun mengacak rambutnya frustasi.

“Sehun sudah jam 7!” Ha Na setengah memekik ketika melihat arlojinya. Ayahnya akan ada di rumah kurang dari 30 menit lagi. Sehun mengutuk dirinya dan memukuli kepalanya.

“Sehun! Hentikan!”

Ha Na mencoba menenangkan Sehun. Tak lama Sehun sudah sedikit tenang. Tunggu. Ia

sepertinya mengingat sesuatu.

“Akuarium!” Sehun segera berlari menuju taman belakang dimana akuarium itu berada.

Akuarium itu cukup besar, akan sulit mengambilnya.

“Sehun bukankah itu?” Ha Na menunjuk flashdisk itu.

“Tunggu disini. Aku akan mencari jaringnya.”

Sepuluh menit sudah Sehun belum juga kembali. Tak lama Sehun muncul dengan jaring

ditangannya. Jaring itu terlalu kecil untuk akuarium sebesar ini.

“Ha Na ambil guci itu.”

“Kalau kau memecahkannya Ayahmu akan curiga.”

“Lalu kau mau ini sia-sia?” Bentak Sehun membuat Ha Na tersentak. Sehun  lalu meminta

maaf. Dirinya terlalu tersulut emosi. Sehun mengambil guci itu sendiri lalu memecahkannya kepada guci itu. Pada saat bersamaan sang ayah memasuki rumahnya.

“Sehun? Apa yang pecah?” Teriaknya membuat Ha Na bergetar.

“Ini. Aku akan mengalihkan perhatian Ayahku. Saat itu lari sekencang mungkin, mengerti?”

Sehun mencengkram erat bahu Ha Na.

“Ayah? Kau sudah pulang?” Sehun berjalan lalu menutup pintu taman belakang dengan erat.

“Sehun sedang apa kau?” Sang ayah mengernyit curiga.

“Aku sedang memberi makan ikan.”

“Ayah, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”

“Apa?”

“Lebih baik Ayah ganti baju dulu,” jawab Sehun membuat ayahnya semakin tidak mengerti.

“Sehun?”

“Aku tunggu disini.” Sang ayah mengangkat bahunya tak yakin lalu berjalan menuju

kamarnya. Baru saja ia akan memutar kenop pintu, ketika seorang gadis berlari melewatinya. Kim Ha Na? Ayahnya segera mengeluarkan sesuatu dari belakang sakunya. Saat itu juga

Ha Na terdiam ketika mendengar sebuah tembakan di rumah itu.

“Berhenti atau kau akan ku tembak Kim Ha Na.”  Yon Woo melangkah perlahan sembari

menyodorkan sebuah pistol di tangannya. Sehun berjalan mengikutu sang ayah perlahan.

“Lari Ha Na!” Sehun menyeru ketika tembakan itu berhasil melesat dari tempatnya. Ha Na

tidak menoleh ia berlari sekencang mungkin ke luar dari rumah itu.

“Sehun!” Pekik sang ayah ketika melihat Sehun tergeletak karena peluru darinya.

“Sehun? Sehun kau tidak apa-apa?” Sehun terlalu lemah untuk sekedar menggeleng. Ha Na

yang sudah berhasil ke luar rumah itu hanya terisak ketika mendengar tembakan dan

teriakan Yon Woo yang memanggil nama Sehun. Sungguh ia berharap Sehun baik baik saja.

 

Ha Na menggenggam tangan itu kuat. Kemudian ia menyadari ada cairan bening yang

membasahi pipinya.

“Sehun! Kumohon sadarlah!”

Ia sedang menemani Sehun sejak kejadian beberapa jam lalu. Ia mungkin patut lega ketika

semua buktinya sudah ia berikan pada polisi. Polisi juga sudah menangkap Yon Woo.  Ia

terkena beberapa tuntutan. Pembunuhan, penggelapan dana sekolah, pelecehan terhadap siswi, dan penyiksaan terhadap istrinya sendiri. Selama ini dirinya mencoba menutupi gangguan jiwanya itu dengan sifat yang sesempurna mungkin.

Tapi sungguh, bukan ini yang Ha Na harapkan. Melihat Sehun terbaring lemah seperti ini Ha Na sungguh tidak sanggup. Bukankah itu artinya Sehun terluka karenanya ‘kan? Kalau Ha Na

tidak membawa Sehun dalam urusan ini mungkin akan lain cerita.

“Ini sudah terjadi. Sehun akan sembuh.” Seseorang mencengkram erat bahu Ha Na. Setelah

kejadian tadi, Do Kyungsoo tiba-tiba berada di depan rumah Sehun. Tak lama tangan Sehun

bergerak sedikit membuat Ha Na terkejut.

“Sehun?” Ha Na melihat kedua mata Sehun mulai terbuka.

“Sehun kau bangun?” Pekik Ha Na lalu memeluk Sehun erat. Sehun meminta Ha Na segera melepasnya.

“Bagaimana dengan ayah?” tanya Sehun parau. Suaranya benar-benar terdengar lemah.

“Ayahmu sudah ditangkap.” Sehun terdiam lalu ia tersemyum.

“Sehun, kau tidak apa-apa?” Sehun sendiri tidak yakin. Tapi ia juga tidak ingin ayahnya

menjadi seorang pembunuh.

“Aku lega Ha Na, tapi hatiku juga sesak,” gumam Sehun kemudian terisak.

“Sehun …” Ha Na kemudian memeluknya kembali. Kali ini Sehun membalasnya lebih erat.
Sehun terbangun ketika sinar mentari mulai menyusul jendela kamarnya. Tangannya yang

masih diinfus lalu mengusap kepala seorang gadis yang tertidur di samping ranjangnya.

“Ha Na?” Yang dipanggil hanya melenguh gelisah. Lalu terbangun dan mengucek kedua

matanya malas.

“Bukankah katamu Kyungsoo akan pergi hari ini?” Ha Na kemudian terbangun sepenuhnya

setelah mendengar perkataan Sehun barusan. Tunggu, dimana Kyungsoo?

Ha Na segera berlari keluar dari ruangan lalu menyusuri koridor rumah sakit. Ia sama sekali

tidak bisa menemukan Kyungsoo. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar Sehun. Ketika ia

berniat memutar kenop pintu itu, terdengar jelas Sehun sedang berbicara.

“Aku minta maaf.” Kemudian hanya terdengar isakan dari dalam sana. Ha Na segera

memasuki kamar itu lalu mendapati Kyungsoo, So Hye, dan seorang wanita awal kepala 4

dengan darah di bajunya sedang memeluk Sehun.

“Ha Na, ini ibuku.” Seolah menjawab pertanyaan Ha Na yang belum ia lontarkan.

“Ibuku juga dibunuh ayah,” gumam Sehun pelan nyaris berbisik. Wanita itu tersenyum ke

arah Ha Na.

“Kau yang membantu Oh Sehun?” tanya wanita itu lalu menghampiri Ha Na.

“Terimakasih.” Wanita itu menggenggam erat tangan Ha Na dengan kedua matanya yang

berkaca-kaca .

“Kami bisa pergi tenang sekerang Ha Na, terima kasih,” sahut So Hye dengan senyum

mengembang di wajahnya. Tak lama Do Kyungsoo mengdekati Ha Na lalu memeluknya

sebentar.

“Ha na, terima kasih banyak. Hutangmu lunas,” gumam Do Kyungsoo menahan

kesedihannya.

“Ibuku sudah tahu aku dibunuh, walaupun mungkin itu sama saja sakitnya bagi Ibu.” Tambahnya lalu meneteskan air mata namun buru-buru ia hapus.

“Jaga dirimu baik- baik Kim Ha Na. Kau jurnalis yang hebat!” Kyungsoo mencengkram erat bahu Ha Na. Ha Na tidak bisa membohongi dirinya, ia kemudian terisak.

“Kami pergi, hiduplah bahagia Kim Ha Na,” gumam Kyungsoo lalu tak lama dirinya

menghilang dari hadapan Ha Na. Begitupun dengan So Hye dan ibunya Sehun.

“Sehun …” Rengek Ha Na lalu menghampiri Sehun yang sudah merentangkan tangannya

lebar-lebar untuk bersiap memeluk gadis itu.

“Mereka orang yang baik.” Gumam Ha Na dalam pelukan Sehun.

“Kau jauh lebih baik Kim Ha Na.”

“Sehun, kau bisa melihat hantu?” tanya Ha Na tidak menggubris perkataan Sehun

sebelumnya.

“Tidak, Kyungsoo bilang ini hanya pertama dan terkahirnya aku bisa melihat mereka.”

“Aku berharap bisa melihat mereka lagi nanti,” gumam Ha Na kemudian menghapus air mata dengan punggung tangannya.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Ketika keburukan selalu ditutupi dengan kebaikan

yang palsu, percayalah itu hanya sesaat. Bukankah pada akhirnya kebaikan selalu menjadi

pemenang?

 

 

Advertisements

One thought on “[SEG Event] Epiphanot

  1. Anyeong, sebelumx izin baca ya..
    ceritax keren dan alurnya juga jelas..

    tapi sayang untuk pembatasan antara cerita dimulai dengan akhir gk ada jeda, trus untuk Flasback juga gk diterangkan dibagian mana?

    Overall ceritanya bagus kq,,
    tetap berkarya ya Thor, salam kenal 😊

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s