[SEG Event] The Initial

THE INITIAL
Rating: PG-16 || Theme: Jurnalistic || Genres: Thriller, School-life & Friendship || Main Casts: (BTS) V / Kim Tae Hyung & (BTS) Park Ji Min || Additional Casts: (SVT) Jeong Han, (BTS) J-Hope, (SVT) Seung Cheol, (BTOB) Sung Jae, and others ||

HAPPY READING


“Tok! Tok! Tok!”

“Tae Hyung-a! Kim Tae Hyung!”

Keributan di luar kamar membuatku terbangun. Aish! Siapa yang berteriak-teriak itu?

“KIM TAE HYUNG!!!”

Ck! Jung Ho Seok!

Aku beranjak dari tempat tidur, beringsut menuju pintu. Begitu kubuka, kudapati Ho Seok berdiri di depanku.

“Ada apa?”

“Kepala Asrama Min mencarimu. Cepat temui dia!”

“Baiklah. Aku akan menemuinya.”

Setelah membasuh wajah dan merapikan pakaianku, aku lekas beranjak ke ruang kepala asrama. Sepanjang perjalanan, aku bertanya-tanya kenapa aku dipanggil. Beberapa hari belakangan, aku tidak melakukan sesuatu yang melanggar aturan asrama. Atau, mungkin aku melakukannya, tapi tidak menyadarinya atau tidak mengingatnya?

Ah! Itu mustahil!

“Tok! Tok!” Aku mengetuk pintu ruangan kepala asrama.

“Masuk!” Kudengar teriakan Kepala Asrama Min.

Kudorong bidang persegi panjang berwarna cokelat tua itu. Begitu aku masuk, seperti biasa kulihat Kepala Asrama Min duduk di kursinya. Tidak hanya Kepala Asrama Min, tetapi … aku juga melihat seorang pemuda sebayaku, duduk di depan meja beliau. Di dekat pemuda itu, aku melihat sebuah koper.

Ah, apa dia anak baru yang dikatakan Ho Seok kemarin?

Ho Seok berkata bahwa akan ada murid baru yang masuk ke sekolah kami. Dan, kemungkinan, aku akan sekamar dengan murid baru itu.

Ya, sekolah kami adalah sekolah khusus laki-laki yang memiliki fasilitas asrama. Kamarku berada di asrama D. Sebagian besar murid yang tinggal di asrama D adalah murid tahun kedua di sekolah. Sejujurnya, banyak murid yang tidak mau sekamar denganku. Aku terlalu berisik, kata mereka. Karena itu, sejak naik ke tingkat dua, aku dibiarkan menghuni kamarku seorang diri. Alih-alih merasa terkucilkan, aku malah merasa beruntung. Aku tidak perlu berbagi kamar, lemari, dan lainnya dengan seseorang. Namun, sepertinya, aku harus membiasakan diri berbagi kamar.

“Anda memanggil saya, Kepala Asrama Min?”

“Iya. Silakan duduk.”

Aku duduk di satu kursi kosong dari dua kursi di depan meja. Sementara Kepala Asrama sedang membuka sebuah buku catatan, aku menoleh, memerhatikan pemuda yang tidak kukenal di sebelahku. Pandangannya agak menunduk dengan bibir yang merapat. Kedua tangannya ditumpuk dengan rapi di atas sepasang pahanya yang merapat. Dia sepertinya murid yang pendiam, pemalu, juga sopan.

“Kim Tae Hyung,” Kepala Asrama menatapku sambil menutup buku yang tadi dibukanya. “Hari ini, sekolah kita mendapatkan seorang murid baru. Namanya Park Ji Min.” Kepala Asrama mengalihkan pandangannya ke sebelahku, refleks membuatku menoleh ke arah yang sama. Aku bertemu dengan pandangannya yang berada di balik kacamata bening.

“Annyeonghasimnikka. Kim Tae Hyung imnida. Senang bertemu denganmu.” Aku sudah memberikan sapaan hangat dan senyum ceria, lengkap dengan sebuah uluran tangan untuk dijabat. Bukannya menjawab sapaanku, dia hanya menatapku datar.

Dia lebih pendiam dari yang aku kira.

“Mulai hari ini, Park Ji Min akan sekamar denganmu. Tolong bantu dia jika kesulitan.” Suara Kepala Asrama membuatku lekas mengalihkan wajah ke arahnya.

“Baik, Kepala Asrama Min. Serahkan padaku.”

“Nah, Park Ji Min. Kau boleh ke kamarmu bersama Kim Tae Hyung. Jika butuh sesuatu, jangan sungkan untuk bertanya padanya atau bertanya padaku langsung.”

Park Ji Min hanya mengangguk.

Ketika pemuda itu ingin menyentuh pegangan kopernya, aku lebih dulu menyambar. Aku melihatnya, mendapati ia membulatkan kedua mata sipitnya. Dia lantas menatapku. Aku langsung tersenyum.

“Biar aku yang membawa kopermu. Kau teman sekamarku sekarang.”


“Maaf, ya, kamarnya agak berantakan.” Aku menyengir. “Ayo, sini, jangan berdiri di dekat pintu.”

Kuletakkan koper Ji Min di dekat tempat tidur, lalu segera menyingkirkan kertas-kertas dan laptop-ku dari sana. Kuambil sapu lidi, membersihkan secara kilat tempat tidur Ji Min.

“Nah, kau bisa tidur di tempat tidur ini, aku di sebelah sini. Mulai hari ini kita adalah teman sekamar, jadi tolong jangan malu meminta bantuan padaku. Oke?”

Ji Min tengah mengamati kamar kami saat kuajak bicara. Begitu selesai, ia menatapku, kemudian tersenyum. Itu senyum pertama yang dia berikan padaku. Dia duduk di tempat tidur, masih mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.

“Kau pindahan dari mana, Ji Min-ssi?” tanyaku sembari merapikan kertas-kertas yang kupindahkan ke tempat tidurku.

“Busan.”

“Oh, Busan. Aku juga berasal dari sana,” jelasku tanpa diminta. “Omong-omong, kau ditempatkan di kelas berapa?”

“Kelas 2B.”

Aku menengok ke belakang. “Benarkah? Kita sekelas kalau begitu.”

“Apa yang kau rapikan itu, Tae Hyung-ssi?” Ji Min akhirnya bertanya.

“Oh, ini artikel untuk edisi mading minggu depan. Aku anggota klub jurnalistik sekolah,” jawabku. “Oh, ya, kau sudah memilih akan bergabung di klub mana?

Pemuda berkacamata itu menggeleng.

“Mau bergabung dengan klub jurnalistik? Kebetulan, kami sedang membuka pendaftaran untuk anggota baru. Jika kau berminat,” aku membuka laci nakasku, mengeluarkan selembar kertas, lantas memberikannya pada Ji Min seraya berkata, “kau bisa mengisi formulir ini.”

Ji Min menerima kertas yang kuberikan.

“Tapi, kalau kau tidak suka, kau bisa bergabung dengan klub lain. Di sekolah ini ada banyak klub. Kau tinggal memilihnya saja.”

“Ya, terima kasih.”

Setengah jam berlalu. Kuhabiskan waktuku dengan bermain game di ponsel, sedangkan Ji Min merapikan barang-barangnya. Sesekali, aku mengajaknya berbicara kendati dia hanya merespons seadanya.

Dia pindah ke Seoul karena ikut dengan bibinya. Sebulan yang lalu, orang tua dan adiknya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ji Min sendiri yang memilih sekolah yang memiliki asrama lantaran ia tidak mau tinggal serumah dengan bibinya. Begitu kutanya, kenapa? Dia tidak menjawab.

Mungkin bibinya sangat galak.

Siapa pun tidak mau tinggal serumah dengan orang yang galak.


Ji Min memintaku untuk menemaninya berkeliling sekolah. Karena sedang tidak ada kegiatan, maka aku pun mengiyakan permintaannya. Kuajak Ji Min berjalan-jalan di sekitar asrama D terlebih dahulu, menunjukkan letak ruang-ruang penting di asrama seperti toilet umum, dapur, ruang santai yang merangkap ruang makan, dan ruang pertemuan.

Dari asrama D, kuajak Ji Min ke asrama C. Ji Min adalah murid baru. Dia akan lebih betah jika cepat punya banyak teman. Murid-murid kelas 2B hampir setengahnya berada di asrama C.

“Hoi, Tae Hyung!”

Aku sedang melintas di depan ruang santai asrama C ketika kudengar seseorang dari dalam menyebut namaku. Ah, anak itu. Kuajak Ji Min masuk ke ruang santai tersebut, menghampiri Sung Jae, Jeong Han, dan Seung Cheol. Mereka semua adalah teman-temanku sejak aku masih di Busan.

“Apa yang membawamu ke asrama C, hah? Mencari seseorang?”

“Tidak. Aku hanya menemani anak baru ini berkeliling.” Mereka berempat lekas menitikpusatkan pandangan mereka pada Ji Min. “Namanya Park Ji Min. Mulai hari ini, dia adalah teman sekamarku.”

Mereka tertawa, kecuali Jeong Han yang terlampau sibuk menatap layar laptop. Dia mungkin tidak mendengar pertanyaan Sung Jae, juga jawabanku tadi.

“Kuharap kau bisa tahan sekamar dengan Tae Hyung, Ji Min-ssi. Dia sangat cerewet!” ledek Sung Jae.

“Diam kau, Yook Sung!”

Mengabaikan teguranku, Sung Jae lalu berdiri, menjabat tangan Ji Min sekaligus memperkenalkan dirinya. Seung Cheol pun menyusul. Jeong Han masih sibuk dengan laptop-nya. Kurasa, dia sama sekali tidak tertarik dengan kehadiran Ji Min. Dia sama sekali tidak tertarik pada apa pun kecuali laptop dan sampo. Lihat saja rambutnya. Panjang dan halus. Persis seperti rambut bintang iklan sampo. Dasar!

Setelah mencoba membuat Ji Min akrab dengan teman-temanku itu, kuajak Ji Min lagi ke tempat lain di sekolah. “Seluruh asrama di sekolah ini didesain dengan bentuk yang serupa. Letak dapurnya, letak ruang santai, jumlah toilet, ruang kepala asrama, dan lainnya, dari asrama A sampai asrama F, semuanya sama,” tuturku sembari berjalan menuju gedung utama sekolah.

“Tae Hyung-ssi?”

“Ya?”

“Bisakah kita kembali ke kamar sekarang? Aku sedikit lelah.”


Ji Min memilih untuk bergabung dengan klub jurnalistik. Begitu jam istirahat, kuajak dia ke ruang klub jurnalistik untuk mengarsipkan formulirnya sekalian memperkenalkannya pada ketua klub, Seok Jin Sunbae.

“Oh, anak baru, ya? Selamat datang di klub jurnalistik,” ujar Seok Jin Sunbae begitu kuperkenalkan Ji Min padanya. “Apa Tae Hyung sudah memberitahumu tentang tahap seleksi bagi para anggota baru yang ingin bergabung dengan klub jurnalistik?”

“Memangnya ada tahap seleksi, Sunbae?”

“DUUK!!!” Seok Jin Sunbae memukul kepalaku dengan kertas yang ia gulung membentuk silinder.

“Ada. Kenapa kau tidak tahu? Bukankah kita sudah membicarakannya pada pertemuan beberapa waktu lalu?”

“Ehehehe, aku lupa, Sunbae.”

Seok Jin Sunbae saat ini duduk berhadapan dengan Ji Min. Keduanya diantarai oleh sebuah meja—meja khusus untuk ketua masing-masing klub. “Jadi, Ji Min, sebelum resmi diterima, kau harus melakukan beberapa hal sebagai bahan penilaian kami terhadap anggota baru.”

“Apa yang harus aku lakukan?” Jimin bertanya dengan nada datar.

“Semua peserta baru diwajibkan membuat tiga tulisan. Entah cerita fiksi, artikel, berita yang ada di sekolah, profil siswa berprestasi di sekolah. Khusus cerita fiksi, boleh cerita bersambung, boleh berupa cerpen. Karya calon anggota baru akan dipajang di mading sekolah. Sistem penilaiannya dilihat dari cara penulisanmu dan seberapa banyak murid yang menanggapi karyamu.”

“Menanggapi karya?”

“Ya. Begitu tahapan penilaian dimulai, kami akan membuka kotak tanggapan bagi murid-murid yang ingin menanggapi karya para calon anggota.”

Keraguan perlahan terlukis di mimik wajah Park Ji Min.

“Tenang saja. Kau pasti bisa membuat tulisan yang bagus. Aku akan membantumu.”

Kim Seok Jin Sunbae tiba-tiba berdehem. “Anggota klub jurnalistik dilarang membantu calon anggota baru. Kau tahu itu, kan, Kim Tae Hyung?”

Sekali lagi aku menyengir. Iya, ya. Lupa. Hehehe.

“Baiklah, Ji Min-ssi,” Seok Jin Sunbae berdiri dari duduknya, “aku tinggalkan kau dengan Tae Hyung dulu. Silakan tanyakan padanya jika ada yang tidak kau ketahui tentang klub jurnalistik. Dan, kau, Kim Tae Hyung, pastikan kau bisa menjawab pertanyaannya, oke? Kau anggota lama di klub. Jangan sampai tidak tahu seluk-beluk klub kita.”

“Siap, Komandan!” Aku memberi hormat layaknya seorang prajurit pada komandannya, tetapi Seok Jin Sunbae malah mengabaikanku, lekas keluar dari ruang klub.

Segera mengenyakkan tubuhku di kursinya—kursi putar layaknya kursi para guru di ruang guru. Sementara itu, Ji Min berdiri dari duduknya, melihat-lihat seisi ruang klub.

“Ruangan ini memang agak berantakan. Kertas berhamburan, alat tulis yang tergeletak sembarang di meja. Anak-anak klub jurnalistik jarang ada yang rapi, kecuali ketua klub hahaha.”

“Kau sering ke ruangan ini, Tae Hyung-ssi?” Ji Min bertanya sembari berjalan di sekitar meja komputer.

“Tidak cukup sering. Aku ke sini kalau bosan di kamar.”

“Ah, begitu.” Ji Min berhenti di satu titik. Tangan kanannya mencabut satu kertas yang tertempel di gabus. “Cerita ber-genre thriller. Kau yang menulis ini, Tae Hyung-ssi?” Ji Min memperlihatkan kertas yang ia pegang padaku.

“Begitulah. Tapi, tidak jadi dipajang di mading. Seok Jin Sunbae bilang, ceritanya kurang menegangkan. Aku masih harus mengeditnya lagi.”

“Kau suka menulis cerita thriller?” Ji Min menghampiriku.

“Iya. Cuma belakangan ini aku sudah jarang menulis cerita thriller. Lebih sering menulis artikel. Tidak ada ide.”

“Mau kuberi ide?”

Tatapan Ji Min agak berbeda. Tanpa sadar membuat bulu kudukku meremang. Namun, kusengaja mengeluarkan gelak untuk menyembunyikan perasaan aneh yang sempat terlintas. “Sebaiknya kau gunakan idemu untuk menulis tantangan dari Seok Jin Sunbae supaya kau bisa diterima menjadi anggota klub.”

“Baiklah.”


“THE INITIAL”

Part satu: CSC

Sekolah ini menyebalkan. Pelajarannya, guru-gurunya, dan yang paling menyebalkan, teman-teman sekelasku. Aku tidak tahu apa salahku sehingga mereka melihatku seperti sampah: menjijikkan dan layak untuk dijauhi. Mengapa aku senista itu di mata mereka? Apa yang sudah kuperbuat pada mereka?

Semua itu dimulai sejak empat orang teman sekelasku mulai meledekku. Satu di antara mereka sering sengaja menusuk-nusuk punggungku dengan penggaris saat pelajaran berlangsung. Satu lagi suka dengan sengaja mendorongku sampai aku jatuh. Satu orang lain senang sekali meledekku dan membuat kebohongan tentang diriku. Sementara itu, satu lagi hanya diam melihat apa yang dilakukan teman-temannya.

Dan, akhirnya kesempatan itu datang. Ketika segala penderitaanku akan terbalaskan. Aku akan memulainya malam ini. Dimulai dari dia, sang ketua kelas, Cho Sam Cheon. Dia akan meninggalkan dunia ini membawa luka tusukan di perut.

“WAAAH!!! Jantungku berdegup kencang saat membaca ini, Ji Min-ssi. Tidak kusangka kau berbakat menulis cerita thriller seperti ini.”

Ji Min baru saja memperlihatkan tulisannya padaku. Dia bilang, dia akan mengikutsertakan ceritanya itu ke tahap penyeleksian anggota baru klub jurnalistik. Saat kupuji, dia hanya tersenyum simpul.

“Masukkan karya ini di meja tim seleksi di ruang klub besok. Murid-murid di sekolah harus membaca cerita ini!”

Ji Min yang duduk di tepi tempat tidurnya, sekali lagi tersenyum simpul. Namun, kali ini dia pun berkata, “Terima kasih, Tae Hyung-ssi.”

Aku mengembalikan laptop Ji Min, bersiap untuk tidur. Sekarang sudah pukul sepuluh malam.

“Kau belum mau tidur?” tanyaku kala aku berbaring, tetapi Ji Min masih terlihat memangku laptop-nya di atas tempat tidur. Pemuda bermata sipit itu menggeleng pelan. “Baiklah. Aku tidur duluan. Selamat malam, Park Ji Min.”


Bunyi sirene yang meraung-raung membuatku terbangun. Dalam keadaan setengah sadar, kududukkan tubuhku di atas tempat tidur. Kulirik jam digital yang ada di atas nakas. Pukul dua pagi. Astaga! Kenapa ada bunyi sirene pukul dua pagi?

Kulirik tempat tidur di seberang. Ji Min tampak lelap sekali tidurnya. Dia bahkan tidak terbangun oleh suara sirene yang membangunkan orang-orang—aku mendengar suara orang-orang berlari di luar kamar.

Ada apa ini?

Kusambar jaketku, lalu keluar dari kamar. Tepat di saat itu, aku berpapasan dengan Ho Seok dari kamar sebelah.

“Ada apa, hah? Apa ada kebakaran?” tanyaku.

“Bukan kebakaran! Itu suara sirene ambulans”

Tidak ingin berlama-lama dilingkupi rasa penasaran, aku dan Ho Seok segera berlari mengikuti yang lainnya. Sebuah kerumunan telah terbentuk di depan pintu asrama C. Kujinjitkan kakiku untuk mencari tahu apa yang terjadi di depan, tetapi sulit sebab tertutup kerumunan.

“Mengenaskan. Aku pasti sudah pingsan jika aku yang melihatnya. Darah di bajunya banyak sekali.”

“Kasihan Seung Cheol. Dia harus meninggal dengan cara seperti itu.”

Seung Cheol?

“Hei! Maksud kalian, Choi Seung Cheol meninggal? Choi Seung Cheol murid kelas 2A, kan?” Aku langsung menyambar pembicaraan dua orang yang berada di depanku.

“Ya. Choi Seung Cheol dari kelas 2A. Aku tidak tahu apakah dia mati bunuh diri atau mati dibunuh. Yang jelas, dia perutnya tertikam oleh pisau.”

Aku mencoba menembus kerumunan. Ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin Seung Cheol meninggal secepat ini? Aku baru bertemu dengannya sore tadi. Tidak mungkin dia bunuh diri. Dia bukan tipe orang yang akan memendam masalah dan mudah berputus asa.

Begitu tiba di baris terdepan, kulihat beberapa tim medis menggotong sebuah tandu yang ditutupi kain putih. Tidak! Ini mustahil! Tidak mungkin Seung Cheol telah mati.


Pagi harinya, sekolah dalam keadaan berkabung. Kegiatan belajar-mengajar tidak diadakan. Semua teman sekelas Seung Cheol dipanggil pihak sekolah untuk mengikuti upacara pemakaman, juga beberapa teman dekat Seung Cheol, termasuk aku. Selain itu, pihak kepolisian pun sedang berada di sekolah untuk mengusut kasus kematian murid kelas 2A tersebut.

“Apa Seung Cheol punya musuh di asrama kalian? Atau, dia mungkin pernah menceritakan masalahnya pada kalian?” tanyaku pada Sung Jae saat kami akhirnya pulang dari acara pemakaman Seung Cheol.

Seperti yang sudah kuduga, Sung Jae menggeleng. Seung Cheol adalah teman yang sangat baik. Mustahil jika ada orang yang membencinya.

“Tapi, beberapa hari lalu dia pernah tidak sengaja mengeluh,” celetuk Sung Jae, membuat rasa penasaranku terusik.

“Maksudmu?”

“Anak itu bilang kalau dia sudah tidak sanggup dengan masalah yang dihadapinya.”

“Dia memberitahumu tentang masalahnya.”

“Tidak. Saat kutanya, dia malah tertawa dan menyuruhku untuk melupakan keluhannya.”

Jadi, apakah dia bunuh diri?


Satu minggu berlalu. Kabar-kabar tentang kematian Seung Cheol tidak begitu terdengar lagi. Hanya ada dua-tiga orang yang masih membicarakannya. Yang lainnya dengan mudah melupakannya.

Aku berada di ruang klub jurnalistik, membantu Seok Jin Sunbae memilah-milah karya calon anggota baru klub untuk minggu kedua tahap penyeleksian. Minggu lalu, ada banyak tulisan yang menjadi favorit para murid. Tulisan murid dari kelas 1A tentang rekayasa genetik, tulisan murid dari kelas 1D tentang politik, dan tentu saja, tulisan Park Ji Min.

“Tulisan teman sekamarmu itu mendapat banyak tanggapan. Rata-rata berisi tentang seberapa penasaran mereka tentang kelanjutan cerita yang dibuat Ji Min.”

“Aku juga penasaran, Sunbae. Tadinya aku ingin membaca ceritanya duluan sampai habis, tapi Ji Min melarangku. Dia punya privasi yang tidak bisa dilanggar.”

Ucapanku barusan berserobok dengan kehadian Jeong Han. Pemuda berambut panjang itu menghampiriku dan Seok Jin Sunbae. Ya, Jeong Han juga anggota klub jurnalistik, sama sepertiku. “Apa yang kalian bicarakan?”

“Hanya membicarakan karya para calon anggota baru. Tulisan-tulisan mereka segar dan ide yang mendasari tulisan mereka itu kreatif. Murid-murid jadi tertarik membaca mading.”

“Ya, aku memang mengamati tulisan beberapa orang yang banyak menarik pembaca minggu lalu,” urai Jeong Han. “Park Ji Min. Kupikir, dia bisa menjadi rekanku di bagian fiksi. Ceritanya menarik.”

“Ya, aku dan Seok Jin Sunbae juga berpikiran seperti itu.”

“Kupikir, dia akan mendapat banyak pembaca lagi minggu ini.”

Jeong Han memberikan dua lembar tulisan Ji Min padaku. Kelanjutan dari cerita yang ia tulis sebelumnya. The Initial. Part 2: YSJ.


Yoon Si Jin. Dia sedikit pun tidak menaruh curiga bahwa minuman yang kuberikan padanya mengandung zat adiktif yang mampu membuatnya mabuk. Dia meneguk minuman yang kuberikan hingga tandas, seolah itu adalah minuman terakhir untuknya.

Ya, itu memang minuman terakhir untuknya.

Di bawah pengaruh zat adiktif itu dia menjawab semua hal yang kutanyakan padanya. Mengapa dia dan teman-temannya menjauhiku? Mengapa mereka membuatku menderita? Dan, banyak pertanyaan lainnya. Si Jin menjawabnya begitu saja, tidak menyadari bahwa akulah objek dari pertanyaan itu.

Obat yang kumasukkan pada minumannya mungkin sudah mulai bereaksi.

“Aku sudah terlalu lama di sini. Waktunya pulang.”

Si Jin berdiri dari duduknya. Tubuhnya terayun ke kanan dan ke kiri bagai daun pohon kelapa yang ditiup angin. Obat itu benar-benar mulai bekerja. Dia … pelan-pelan mulai kehilangan kestabilan tubuhnya.

“Kau mau ke mana?” cegahku ketika kulihat dia berjalan menuju tangga. “Tangganya bukan di situ. Tapi, di arah sini.”

“Oh, kupikir tangganya di sini.” Si Jin melihat arah yang kutunjuk, kemudian segera memutar tubuhnya. Sempoyongan, laki-laki itu melangkahkah kakinya ke arah yang “benar”. Arah menuju gerbang kematian.


“Tae Hyung! Kim Tae Hyung, bangunlah! Hei, Kim Tae Hyung!”

“Uh? Ah? Ada apa, Ji Min-ssi? Kenapa membangunkanku, hah?”

“Sesuatu terjadi di luar!” Ji Min menyibak selimutku. “Cepatlah! Kita harus melihatnya!”

Aku meregangkan tubuhku sejenak di atas tempat tidur sebelum menyusul Ji Min yang telah berdiri di dekat pintu. Setelah menguap lebar, aku membuka pintu sembari bertanya pada Ji Min, “Ada apa, hah? Sesuatu apa yang terjadi di luar?”

“Aku juga tidak tahu. Murid-murid dari kamar sebelah telah berlari ke luar asrama sejak tadi.”

Uh? Sesaat, gambaran Ji Min barusan membuatku teringat pada malam kematian Seung Cheol. Semoga sesuatu yang terjadi di luar bukan tentang murid yang kehilangan nyawa.

Namun, sayang, dugaanku meleset.

Aku baru keluar dari pintu asrama bersama Ji Min ketika murid-murid yang tinggal di asrama D beramai-ramai berjalan ke arah kami. Mereka saling mengobrol satu sama lain dengan raut wajah yang nyaris serupa—melukiskan ketakutan dan kesedihan di saat yang bersamaan.

“Ho Seok-a, ada apa? Apa yang terjadi?”

“Yook Sung Jae dari asrama C,” Ho Seok menyahut.

Sung Jae?

“Apa yang terjadi padanya?”

“Dia ditemukan tewas di samping perpustakaan. Dia … mabuk dan jatuh dari loteng.”

“Mabuk?” Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Ya. Dugaan para guru seperti itu. Di dekat jasad Sung Jae ditemukan serpihan botol minuman keras. Para guru menduga, Sung Jae ingin meninggalkan loteng, tapi karena mabuk, di salah arah. Bukannya menuju tangga, malah ke tepi loteng.”

“OMONG KOSONG!” Tanpa sadar, aku berteriak. “Sung Jae tidak mungkin mabuk! Dia anak baik-baik! Aku kenal dia! Dugaan para guru salah!”

Ho Seok dan Ji Min menggeretku ke dalam asrama.

“Tidak! Sung Jae tidak mungkin mati. Bagaimana mungkin dia mati dan difitnah seperti ini? Dia temanku. Dia anak baik-baik. Aku kenal dia.”

“Semua sudah terjadi, Kim Tae Hyung,” bisik Ji Min. “Tabahkanlah dirimu. Masih banyak yang harus kau hadapi.”

Aku tidak tahu apakah takdir memang menyatakan bahwa kematian Seung Cheol dan Sung Jae harus berdekatan seperti ini? Bagaimana mungkin Tuhan mengambil dua orang teman baikku dalam waktu yang berdekatan? Apa salah mereka, Tuhan?


Tiga hari berlalu. Kabar-kabar tentang kematian Sung Jae tidak begitu terdengar lagi. Hanya ada dua-tiga orang yang masih membicarakannya. Yang lainnya dengan mudah melupakannya.

Aku berada di dalam kamar, meringkuk di dalam selimut cokelatku. Sore ini aku merasa kurang enak badan. Makan siang yang dibagikan saat jam istirahat masih berada di atas nakasku, belum kusentuh sedikit pun. Aku lapar, tapi rasanya malas untuk makan.

“Ddrrtt.”

Ponsel yang kuletakkan di bawah bantal bergetar. Kuambil benda persegi panjang itu, mencari tahu apa yang menyebabkannya bervibrasi. Ah, sebuah chat masuk.

Jeong Han: Apa dia ada di kamar?

“Dia” yang dimaksud Jeong Han adalah Park Ji Min. Posisi tubuhku yang berbaring membelakangi tempat tidur Ji Min, mau tak mau membuatku memaksa wajahku menengok ke belakang. Ji Min ada di sana, di atas tempat tidurnya.

Me: Ya. Dia sedang mengetik sesuatu di laptop.

Jeong Han: Pasti kelanjutan dari cerita itu.

Me: Mungkin.

Jeong Han: Bisakah kau membaca apa yang dia tulis selama Seok Jin Sunbae mengumpulkan semua anggota baru di ruang klub?

Me: Akan aku usahakan.

Jeong Han: Harus! Kita tidak tahu siapa yang akan mati berikutnya. Kuncinya adalah cerita yang ditulis olehnya.

Me: Aku mengerti.

Sejujurnya, yang membuatku merasa tidak enak badan karena aku memikirkan sesuatu: penyelidikan Yoon Jeong Han. Sejak awal aku memperkenalkan Ji Min padanya  juga pada Seung Cheol dan Sung Jae, ia telah merasa pernah melihat Ji Min sebelumnya. Dan, dugaan Jeong Han, Ji Min adalah … bocah laki-laki yang dulu sering kami—aku, Sung Jae, Seung Cheol, dan Jeong Han ganggu pada saat kami masih duduk di sekolah menengah.

Aku sama sekali tidak menaruh curiga. Pemilik nama “Park Ji Min” ada banyak di Seoul. Nama “Park Ji Min” tentu juga banyak dipakai oleh orang-orang Busan. Sedikit pun, aku tidak menganggap Ji Min yang sekamar denganku adalah Ji Min si culun.

Saat jam istirahat, Jeong Han mengajakku berbicara di ruang klub jurnalistik. Dia memperlihatkan cerita-cerita yang telah dibuat Ji Min selama dua minggu. Jeong Han menyadarkanku akan banyak hal.

Pertama, judul cerita itu, The Initial. Pada bagian pertama, Ji Min memberi sub judul CSC. Di dalam cerita, CSC adalah inisial dari tokoh Cho Sam Cheon. Namun, CSC juga merupakan inisial dari Choi Seung Cheol. Lalu, di bagian kedua, YSJ, Yoon Si Jin …, Yook Seung Jae.

Kedua, cara kematian sang tokoh. Cho Sam Cheon diceritakan mati karena luka tusuk di perut. Seung Cheol juga seperti itu. Kemudian, Yoon Si Jin dicerirakan mati lantaran terjatuh dari loteng. Bukankah Sung Jae juga seperti itu?

“Jadi, Kim Tae Hyung, kupikir, Park Ji Min datang ke sekolah ini untuk mencari kita. Dia ingin membunuh semua yang pernah membuatnya menderita. Seung Cheol dan Sung Jae sudah terbunuh. Sekarang, tersisa kau dan aku. Kita harus mencari tahu siapa yang akan dia bunuh berikutnya, juga caranya.”

“Tapi, bagaimana kita mencegahnya? Kau tahu, kan, dia baru menyetor kelanjutan cerita itu beberapa hari lagi.”

“Kau teman sekamarnya, Kim Tae Hyung. Cari di laptop-nya. Dia pasti sudah menulis kelanjutannya.”

“Kenapa tidak kita laporkan saja ulahnya pada guru? Ini sangat berbahaya, Jeong Han!”

“Guru-guru tidak akan percaya! Kau tahu bagaimana dia membunuh Seung Cheol dan Sung Jae? Dia membuat semuanya terlihat seperti kasus bunuh diri dan kecelakaan, bukan kasus pembunuhan!”

“Tapi ….”

“Tae Hyung kawanku. Salah satu di antara kita akan menjadi target selanjutnya. Kita tidak boleh membiarkan dia membunuh salah satu dari kita. Karena itu, kau harus mencari tahu siapa yang akan menjadi korban berikutnya. KTH atau YJH.”

Mengingat percakapanku dengan Jeong Han siang tadi membuatku tubuhku bergetar. Pelan-pelan rasa dingin menelusup ke balik selimut. Sungguh, aku tidak percaya bahwa pemuda yang ada di belakangku adalah seorang pembunuh.

Tapi, tunggu!

Jika benar dia ingin balas dendam, mengapa dia tidak membunuhku lebih dulu? Bukankah dia sekamar denganku? Akan lebih mudah menyingkirkanku sebab hanya ada kami berdua di dalam ruang tertutup ini.

Mungkinkah … dia sengaja … akan menyingkirkanku setelah Seung Cheol, Sung Jae, dan Jeong Han? Jika benar, maka … target selanjutnya … YJH. Yoon Jeong Han.

“Tae Hyung-ssi, kau tidak mau mengikuti pertemuan klub?”

Jantungku seperti ingin melompat keluar tepat di saat kudengar Ji Min bertanya. Pelan-pelan, kuambil posisi duduk. Ji Min sedang bersiap untuk hadir di pertemuan. Laptop yang ia gunakan masih berada di atas tempat tidur, berdekatan dengan bantalnya.

“A-aku masih tidak enak badan.”

“Ah, begitu? Baiklah. Perlu kulaporkan pada Seok Jin Sunbae bahwa kau tidak bisa hadir?”

“Ti-tidak u-usah. A-aku sudah mengiriminya pesan.”

Kalimat yang keluar dari mulutku terdengar terbata-bata lantaran ketakutan yang menyelimuti benakku. Aku tidak berani menatap Ji Min saat bicara. Sungguh. Aku sedikit takut. Siapa pun akan takut pada pembunuh, bukan?

“Kenapa kau menundukkan kepalamu saat bicara denganku hari ini? Kenapa kau tidak mau melihat wajahku?”

“A-ah, tidak. Ti-dak apa-apa. Tidak perlu dipikirkan.”

Alih-alih bergegas pergi ke pertemuan, Ji Min malah duduk di tempat tidurku. Lantas, tanpa permisi, laki-laki itu menjulurkan tangannya menyentuh daguku, kemudian mengangkat wajahku sehingga pandangan kami bertemu.

Tatapan itu.

Apakah dia juga memberikan tatapan mengerikan itu saat menusuk perut Seung Cheol?

Tatapan itu.

Apakah dia juga memberikan tatapan mengerikan itu saat melihat Sung Jae jatuh dari loteng?

Tatapan itu.

Apakah sekarang dia akan menyingkirkanku? Mungkin dengan cara mencekikku? Menghantamkan kepalaku pada dinding?

Tidak lama, kedua pipinya menyembul sebab terdorong oleh kedua sudut bibir yang terangkat lantaran ia tersenyum. “Tidak baik jika berbicara dengan seseoran tanpa melakukan kontak mata, Tae Hyung-ssi. Tidak sopan.”

Dia pun beranjak meninggalkanku.


Aku sengaja melewatkan waktu lima menit untuk memastikan Ji Min benar-benar pergi ke ruang klub jurnalistik. Setelah itu, kuhampiri laptop yang ada di atas tempat tidurnya. Ritme detak jantungku tidak terkendali setiap kali aku semakin jauh mengutak-atik laptop milik laki-laki itu.

File yang aku cari berhasil kutemukan.

THE INITIAL.

Part 3: YJH.

Dia laki-laki paling cantik yang pernah aku lihat. Yang Jung Hwan. Ya, aneh. Saat semua laki-laki terlihat tampan, dia malah kebalikannya. Dulu, aku pernah jatuh hati padanya. Sungguh! Aku tidak bohong. Namun, semuanya berubah setelah kutahu dia berteman baik dengan tiga orang yang paling kubenci di kelas. Sial!

Kurasakan kulitku meremang. Perasaan jijik terhadap sosok Park Ji Min mulai menelusup ke dalam benakku. Dia sungguh mengerikan.

Langit tengah beralih kelir dari biru menuju jingga manakala kuhampiri laki-laki itu. Sengaja kuminta waktu untuk bertemu dengan dalih ingin menanyakan sesuatu yang tidak kuketahui tentang tugas sekolah.

Perasaan takut ketahuan membuatku sesekali melirik ke arah pintu. Cerita yang tertulis pun kubaca dengan cepat, berbanding lurus dengan detak jantungku. Permukaan tombol panah ke bawah di keyboard Ji Min terasa lembab lantaran pori-poriku mengeluarkan keringat dingin sebagai efek dari kegugupanku.

Aku takut.

Namun, aku harus tetap membaca cerita ini.

“Kenapa kau memakai masker?” tanyanya saat aku menemuinya.

“Aku sedang flu.”

Kerutan menghias wajah cantiknya. Percayalah! Dia benar-benar laki-laki yang paling cantik yang pernah aku lihat. “Tadi pagi kau sehat-sehat saja.”

“Tiba-tiba,” kilahku. “Oh, ya, aku membawa sesuatu untukmu.” Segera kusodorkan sesuatu yang kumaksud padanya.

Sekali lagi, keningnya mengerut. “Bunga? Kau memberiku sebuket bunga?”

“Ya, kenapa?”

Sebuah gelak lolos dari mulutnya. “Ini agak aneh. Kau laki-laki, aku juga laki-laki. Kau memberikan bunga kepada seorang laki-laki. Tidakkah itu aneh menurutmu?”

Aku tahu yang kulakukan itu aneh. Memberi bunga pada seorang laki-laki. Ayolah! Tidak ada laki-laki yang akan melakukan itu. Namun, aku sengaja sebab semuanya telah aneh sejak awal aku mengenalnya. Aku … menyukai seorang laki-laki.

Perutku mendadak mual.

Apa karakter tokoh “aku” di dalam cerita ini sama dengan karakter Ji Min?

Jika, ya, berarti—astaga! Dia sungguh nista!

Kudengar suara Ji Min berbicara dengan seseorang di depan pintu. Sial! Kenapa dia kembali secepat ini?

Bergegas aku mematikan laptop-nya, mengembalikannya ke tempat semula sambil aku berpindah ke tempat tidurku.

“Iya, Bibi. Aku mengerti. Sudah dulu, ya.” Ji Min mengakhiri obrolannya dengan seseorang melalui telepon. Dia memandangku, kemudian tersenyum. “Bibiku menelepon untuk menanyakan kabarku.”

“A-Ah, begitu. Mungkin dia mencemaskanmu,” aku merespons seadanya sembari  melirik laptop-nya. Lampu penanda power-nya masih menyala. Sial! Masih proses shut down. Kuharap Ji Min tidak memerhatikan lampu berwarna kuning itu.

Ji Min duduk di tempat tidurnya, menyambar laptop-nya. “Aku izin sebentar untuk mengambil laptop-ku.”

Percayalah, jantungku bertalu-talu sedemikian kerasnya hingga membuatku menahan napas ketika Ji Min meraba permukaan laptop-nya. Pasti masih terasa panas. Kuharap Ji Min tidak menanyakan …

“Laptop-ku masih terasa hangat. Padahal, aku sudah mematikan power-nya sejak tadi. Aneh sekali, ya?”

Gawat!


Jeong Han: Dia memintaku bertemu malam ini di ruang jurnalistik. Dia bilang, dia ingin mendiskusikan cerita yang ditulisnya denganku. Apa kau sudah membaca cerita yang dia tulis? Katakan padaku, Tae Hyung-a, apakah inisial selanjutnya adalah YJH? Yoon Jeong Han?

Me: Saat bertemu dengannya, pakailah masker. Dia akan memberi bunga yang telah disemprotkan dengan parfum yang mengandung gas sianida. Aku akan mengawasimu.

Jeong Han: Tolong lindungi aku, Tae Hyung-a.

“Mau ke mana?” tanyaku pada Ji Min setelah kami dan seluruh anggota asrama D lainnya menyantap makan malam.

Sambil menggendong ransel yang kerap ia gunakan untuk membawa buku-bukunya ke ruang kelas, Ji Min berpamitan padaku. Dia bilang dia ingin menemui seseorang untuk membicarakan cerita yang ia buat.

Jeong Han!

Dia pasti ingin menemui Jeong Han!

Sengaja bersikap seolah aku tidak tahu apa-apa, aku pun menimpali, “Baiklah. Segera kembali sebelum jam sembilan. Kau tahu kan Kepala Asrama Min akan mengecek kamar para murid satu per satu?”

Ji Min tertawa kecil. “Aku paham.”

Laki-laki itu pun keluar dari kamar. Selang lima menit, aku beranjak menuju ruang klub jurnalistik. Jendela ruang jurnalistik yang terhalang oleh gorden membuatku tidak bisa melihat ke dalam. Satu-satunya pilihan yang ada, aku menunggu di dinding samping, berjaga-jaga kalau-kalau Jeong Han berteriak meminta pertolongan.

Me: Apakah Ji Min sudah ada bersamamu? Aku berada di samping ruang klub.

Agak lama aku menunggu sampai aku mendapat balasan dari Jeong Han.

Jeong Han: Ya. Aku sedang membaca ceritanya sekarang. Tapi, Tae Hyung-a, sepertinya ada sesuatu yang berbeda.

Me: Apa yang berbeda?

“Ceritanya salah!”

Refleks, aku menengok ke asal suara. Kedua mataku membeliak ketika kulihat Ji Min menatapku, lengkap dengan bibirnya yang membentuk seringaian. Aku hendak berteriak, tetapi Ji Min lebih dulu membekap mulutku dengan sebuah sapu tangan lembab, seperti mengandung sesuatu. Hidungku mau tidak mau menghirup aroma yang membuat kepalaku pening. Energi perlahan melemah hingga kurasakan Ji Min menyeretku entah ke mana. Penglihatanku mulai kabur. Aku tidak bisa berpikir dengan baik. Aku … tidak melihat apa-apa lagi.


Aku pelan-pelan membuka mata, samar-samar kulihat sebuah bidang persegi panjang berwarna cokelat. Segera kupejamkan lagi kedua mataku, kemudian membukanya sekali  lagi secara perlahan. Namun, di saat yang sama aku menyadari sesuatu—ada tali yang membatasi pergerakanku.

Secara impulsif aku membulatkan kedua mata. Ji Min berada di dalam area pandangku, beringsut menghampiriku. Instingku memerintahkanku untuk menyelamatkan diri, tapi tubuhku yang terikat di sebuah kursi membuatku tidak bisa beranjak ke mana-mana.

“Kenapa, Kim Tae Hyung? Kau takut?”

Seringai yang menghiasi wajah laki-laki itu membuat nyaliku ciut. Debaran jantungku semakin menggila, tulang rusukku bisa saja patah dari dalam. Sekujur tubuhku bergetar dan deru napasku tidak beraturan. Semakin dia mengeliminasi jarak di antara kami, semakin rasa takut itu menguasai benakku. Kendati aku berupaya untuk memperlihatkan keberanian, tapi … siapa yang mampu menyembunyikan ketakutan dari makhluk yang sejatinya tidak diberi tugas mengakhiri hidup seseorang?

Dan, yang paling aneh, Jeong Han!

Apa yang terjadi sebenarnya?

Mengapa … Ji Min tidak menghabisinya?

Maksudku, aku tidak berharap Jeong Han mati, tapi … bukankah cerita yang ditulis Ji Min seperti itu? Harusnya Jeong Han mati karena menghirup gas sianida, alih-alih duduk di kursi dan bersikap seoalh ia tidak melihat apa yang dilakukan Ji Min padaku.

Ada apa sebenarnya?

“Ceritanya salah, Kim Tae Hyung,” Ji Min membisikkan itu tepat di telingaku, dalam sekejap membuat pori-poriku bereaksi, meremang.

“Kau pikir aku tidak tanu rencanamu dengan Jeong Han? Kau pikir aku tidak tahu kau menyalakan laptop-ku saat aku meninggalkan kamar? Kau pikir aku tidak tahu kau membaca cerita yang kutulis, hah?” Ji Min memperlakukan rambutku seperti rumput yang hendak ia cabut. “AKU TAHU SEMUANYA!!!”

“Aku sudah lama menanti-nantikan kesempatan ini, Tae Hyung-a! Saat aku bisa menghabisi nyawa teman-temanmu satu per satu. Aku sudah lama mencari keberadaan kalian, mencari tahu semua hal tentang kalian, dan … akhirnya Tuhan memberiku kesempatan ini.” Tatapan Ji Min membuatku menelan ludah. “Aku akan menghabisi kalian semua.”

“AKKH!!!”

Sebuah jerit kesakitan lolos lantaran Ji Min menarik rambutku terlampau keras. Raut kesakitan yang tidak mau kugambarkan di wajah, mau tidak mau harus terlihat. Dan, Ji Min tersenyum puas.

“Jeong Han-a?”

“Iya, Sayang?”

Sayang?

What the kind of sh*t is this?

“Kenapa? Kaget?” Ji Min bertanya seperti hal barusan adalah hal yang sudah  biasa dia lakukan. “Sudah kubilang, Tae Hyung-a, jalan ceritanya salah.”

Aku masih belum bisa percaya dengan apa yang terlintas di pikiranku sendiri. Jeong Han tidak mungkin punya perilaku menyimpang seperti itu. Ini mustahil! Terlalu mengerikan untuk menjadi sebuah kenyataan.

“Kau tahu plot twist, bukan? Kau biasa menemukan itu dalam sebuah cerita, kan? That’s what’s going on here, Buddy. Cerita yang kau pikir kau tahu akhirnya, nyatanya tidak seperti itu. Kau yang akan mati malam ini, Kim Tae Hyung, bukan Yoon Jeong Han.”

“Ji Min Sayang, kupikir Tae Hyung perlu tahu bagaimana cerita terakhir yang sebenarnya.” Jeong Han berbicara demikian sembari memainkan sebatang pulpen. Sedari tadi dia tidak menatapku, hanya sibuk bermakin dengan barang-barang di atas meja.

Ji Min melepaskan rambut-rambutku, lantas mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku celananya. “Sebaiknya langsung kuceritakan saja.”

Bagian tajam pisau itu terlihat di dalam pandanganku. Aku menggerak-gerakkan tubuhku sedemikian rupa, berharap talinya melonggar. Namun, yang kulakukan hanyalah sebuah kesia-siaan. Sebuah gelak membahana.

“Kau tidak bisa ke mana-mana, Kim Tae Hyung.”

Ji Min menyentuhkan ujung pisau itu di wajahku.

“Sebagai pengantar tidurmu untuk selama-lamanya, aku akan menceritakan sebuah cerita yang tidak akan pernah kau lupakan.”

Tanpa sadar air mataku meleleh. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat ini adalah … pasrah. Kendati aku memohon, kutahu Ji Min tidak akan melepaskanku begitu saja. Dia sudah membunuh dua orang, satu lagi mungkin tidak akan menjadi masalah baginya.

“Setengah jam waktuku terbuang hanya untuk menunggu laki-laki yang telah kuikat di kursi itu sadar. Begitu kulihat efek dari kloroform itu menghilang, sengaja kumunculkan diriku dalam area pandangannya. Kang Tae Hyuk membulatkan kedua matanya saat melihatku beringsut mendekatinya.”

Napasku tertahan seiring Ji Min menuturkan ceritanya lantaran ujung pisunya itu ia biarkan menjelajah di tepian wajahku. Kapan saja dia bisa menggores wajahku.

“Dia tahu terlalu banyak. Oh! Aku yang segaja membuatnya tahu terlalu banyak. Aku sengaja. Bukankah dia yang sedari dulu memang bersikap sok tahu tentang diriku? Padahal kenyataannya dia tidak tahu apa-apa. Sengaja kubuat dia tahu tentang rencanaku. Sampai, aku menemuinya secara langsung dan berkata … ‘semuanya salah’.”

“Sssh …”

Aku mendesis tertahan karena sakit yang terasa di bagian dahi. Ji Min baru saja menggoreskan ujung pisaunya. Kurasakan cairan kental mengalir menuju mata kiriku. Entah seberapa lebar Ji Min membuat luka di sana.

“Raut wajah ketakutannya membuatku tertawa. Terlebih saat kuperlihatkan ‘temanku’, sebuah pisau tajam yang akan gunakan untuk memotong umurnya. Oh, sudah lama sekali aku ingin melihat wajah memelas minta ampunnya itu. Kuharap dia ingat apa yang telah ia lakukan padaku dulu. Aku memelas padanya. Aku menangis meminta sebuah ampunan yang semestinya tidak kuminta.”

Apakah penglihatanku yang salah atau memang benar kristal bening itu menghiasi sudut matanya.

Dia menangis.

Terbersit penyesalan atas kenakalan masa lalu yang kubuat bersama teman-temanku. Park Ji Min. Dulu, dia adalah seorang murid lemah yang sering aku dan teman-temanku bully. Aku ingat, dulu aku sering meledeknya. Kuberitahukan kepada semua orang tentang kebohongan-kebohongan yang sengaja kubuat untuk lelucon—bagiku dan teman-temanku.

Dulu, tidak pernah terpikir dia akan melakukan hal ini.

“Apa salahku, Kim Tae Hyung? Apa yang kulakukan padamu sampai kau sejahat itu padaku?” Air matanya mengalir, juga tangannya yang menggerakkan pisau untuk menggores-gores pipiku.

“AKH! Ji Min-a, hentikan! Sakit! AAKH! AAKH!”

“Sakit yang kau rasakan sekarang tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau dan teman-temanmu berikan. Penderitaan singkat yang kau rasakan sungguh tidak sebanding dengan penderitaan yang kurasakan selama satu tahun. Tidak punya teman. Sendirian. Itu lebih menyakitkan daripada semua luka ini, Kim Tae Hyung.”

“SRET!”

“AAAKKKHHHH!!!” Aku menjerit keras sebab Ji Min menggoreskan pisaunya begitu saja di pipiku. Air mataku mengalir deras sebab tak sanggup menahan sakit. Darah kental terasa begitu banyak mengalir dari sana.

“Hidupmu … akan berakhir di detik selanjutnya.”

“HENTIKAAAAN!!!”


“Tok! Tok! Tok!”

“Tae Hyung-a! Kim Tae Hyung!”

“Haah! Haah!” Aku terbangun dalam kedaan terkejut. Jantungku berdetak kencang. Aku bahkan merasakan tubuhku basah oleh keringat. Mimpiku barusan sangat mengerikan. Astaga. Ya Tuhan.

“KIM TAE HYUNG!!!”

Suara Jung Ho Seok!

Aku beranjak dari tempat tidur, beringsut menuju pintu. Begitu kubuka, kudapati Ho Seok berdiri di depanku.

“Ada apa?”

“Kepala Asrama Min mencarimu. Cepat temui dia!”

“Untuk apa?”

“Ingat anak baru yang kuceritakan padamu kemarin. Dia sudah ada di sekolah.”

Untuk sedetik, kurasakan jantungku berhenti berdetak. Mimpiku.

“Ho Seok-a, apa kau tahu siapa nama murid baru itu?”

“Kudengar namanya Ji Min. Park Ji Min.”

-THE END-

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s