[SEG Event] Old Friend

“Ketika kau membenci musim semi yang tak bersalah. Ketika diriku sendiri tidak menyadari bagaimana perasaanku. Kau tanya mengapa aku begini? Akupun tak tau…”

Cast :

Jeon Jeong-guk (Jungkook BTS)

Lalice Manoban (Lisa Blackpink)

Myung Yoomi (Peran tambahan)

Genre : Romance, non-marriage Life.

Rating : 15


Catatan Penulis : Hasil karya buatan sendiri. Sangat di meminta untuk kritik&saran-nya, karena saya masih pemula. Mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang di pahami atau dapat menyinggung perasaan para pembaca. Dimohon untuk bisa membedakan sedikit tanda baca pada cerita ini. Terimakasih sebelumnya.

**
Seoul, South Korea.
“Salju pertama” gumam seorang anak laki-laki yang keberadaannya sedang di depan rumahnya. Bisa di perkirakan mungkin berusia sekitar 10 tahun. Lalu anak laki-laki tersebut mengangkat masing-masing ujung bibirnya, sehingga menunjukkan lesung pipinya. Tersenyum? Ya, dia tersenyum.
Tiba-tiba dia masuk ke dalam rumahnya, dan mengambil pakaian musim dinginnya yang berda di dalam lemari kamarnya. Sambil berlari dia keluar lagi dari dalam rumahnya, langsung berlari keluar dari pekarangan rumahnya dan menuju rumah yang sering dia kunjungi.
“Lisa-ah!”
“Ya! Lisa-ah!” berkali-kali dia berteriak di depan rumah yang di panggilnya barusan. Tak lama kemudian datanglah seorang anak perempuan menghampirinya, yang bisa di perkirakan usianya sama dengannya. Lisa.
“Jungkook-ah? Mengapa kau berada disini?” Tanya Lisa dengan alis yang setenganya terangkat. Jungkook yang di tanya malah menyunggingkan senyumannya. Membuat Lisa semakin kebingungan di buatnya.
“Ohh ayolah. Masa kau tak lihat? Ini pertama kali salju turun di tahun ini, Lisa. Kau tak ingat?” Ujarnya dengan bersemangat. Setelah mendengar perkataan barusan, Lisa melakukan hal yang sama dengan apa yang Jungkook lakukan. Yaitu masuk kedalam rumahnya dan mengambil pakaian musim dinginnya.
Mereka berdua sudah menantikan datangnya salju pertama ini. Mengapa? Karena mereka berdua akan menikmati turunnya salju pertama kali ini. Dan mereka sudah di perbolehkan keluar rumah. Tapi dengan syarat tidak jauh-jauh dari daerah rumahnya. Agar dapat mudah di cari apabila terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Mereka akhirnya memutuskan hanya untuk pergi ke lapangan yang berada di pusatnya perumahan mereka. Duduk di tempat yang sudah di sediakan. Tak banyak yang mereka lakukan. Hanya saling diam, dan menatap langit yang sesekali menurunkan butiran-butiran salju. Terjadi keheningan selama beberapa saat kemudian. Satu sama lain tidak ada yang ingin memulai pembicaraan.
“Jungkook-ah” Lisa, pada akhirnya yang angkat bicara.
“Hm?” Tanya Jungkook. Jungkook hanya menjawabnya, tanpa memalingkan wajahnya yang sedang menatap keindahan langit. Terdengar helaan nafas dari sebelah Jungkook.
“Bolehkah aku memanggilmu hyung?” Tanya Lisa dengan sedikit keraguan. Mengapa Lisa mendadak berbicara soal ini? Pikir Jungkook. Jungkook tidak menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ sebagi jawabannya. Dia hanya bisa terdiam.
“Waeyo?” Lisa kira Jungkook akan marah. Karena Lisa tau, Jungkook tidak memiliki seorang adik. Jadi untuk apa dia di panggil hyung?
“Aku bukan tidak ingin di panggil hyung olehmu. Hanya saja aku ingin mendengarkan apa alasanmu memanggilku dengan sebutan itu.” Lanjut Jungkook memaparkan apa yang ada di dalam pikirannya tersebut.
“Aku hanya” Lisa bingung, dia harus menjawab apa kepada Jungkook? Apa Lisa harus jujur saja pada Jungkook?
“Aku Aku tidak memiliki alasan apapun untuk itu. Aku hanya ingin memanggilmu hyung karena kau memang pantas menjadi hyung.” Jawaban macam apa itu Lisa? Pikir Lisa. Semoga Jungkook tidak akan marah. Ehh, apa Jungkook pernah marah kepadaku? Dalam hati Lisa bertanya kepada dirinya sendiri. Lisa merutuki pemikirannya barusan. Jelas saja Jungkook tidak pernah marah ataupun membentak terhadap Lisa.
“Tidak ada hal yang melarang itu semua.” Ungkap Jungkook.
Apa? Hanya itu? Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Lagi-lagi Lisa mengucapkan kalimat tersebut di dalam hatinya. Apa mungkin
“Baiklah. Kau boleh memanggilku apa saja. Asalkan itu kau.” Akhirnya Jungkook mempermudah semuanya. Lisa senang di buatnya. Hingga tanpa sadar, Lisa berdiri dan menari-nari tidak jelas. Membuat Jungkook yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari terkekeh. Dia ingin sekali tertawa melihat kelakuan Lisa yang satu ini.
“Wahh, jinjja itu kau? Ya! Lisa-ah! Berhenti seperti itu!” Tegur Jungkook yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Lisa. Sebetulnya Jungkook hanya bercanda. Jungkook hanya tidak ingin Lisa melihat tawanya. Jadi, Jungkook menegurnya.
“Wae?” Lisa akhirnya berhenti dan duduk kembali di sebelah Jungkook.
“Tidak apa. Aku hanya ingin berbicara padamu.” Ujar Jungkook. Ini pula bisa di sebut bentuk mengalihkan pembahasan. Tapi tidak sepenuhnya. Karena sepertinya yang akan di bicarakan kali ini akan serius. Terlihat dari cara tatapan Jungkook terhadap Lisa. Lisa hanya diam tak menjawab. Dia hanya menunggu apa yang akan Jungkook ucapkan selanjutnya.
“Aku ingin hadiah ulang tahunku kali ini, kau dan aku pergi ke festival musim semi.” Ujar Jungkook. Lisa kaget. Tentu saja bukan main. Jungkook mengajaknya ke acara festival musim semi nanti?
“Ya! Hyung-ah jangan bercanda! Mana bisa hanya aku dan kau saja yang pergi. Kita masih kecil hyung-ah. Kalau hanya untuk bermain di Ski Resort untuk merayakan ulang tahunmu seperti biasa, bersama keluargaku dan keluargamu itu mungkin bisa. Karena kita sudah sering melakukannya.” Ujar Lisa berusaha untuk membujuk keinginan Jungkook itu.
Darimana Lisa bisa tau bahwa Jungkook sering merayakan ulang tahunnya di akhir tahun? Walaupun Lisa tau, Jungkook berulang tahun di bulan September. Itu karena, waktu itu keluarga Lisa akan pergi berlibur di akhir taun. Awalnya mereka akan pergi ke tempat yang bisa terbilang jauh, tetapi di karenakan cuacanya yang tidak memungkinkan untuk berpergian jauh, jadi mereka memutuskan hanya akan mengunjungi Ski Resort yang terdekat dari daerah mereka. Disitulah pertemuan antara keluarga Lisa dan keluarganya Jungkook. Sehingga mereka semua selalu merayakan akhir tahun dengan cukup pergi ke Ski Resort.

“Baiklah. Mungkin tahun ini kita akan bermain ski lagi. Aku tidak akan mengajakmu kali ini. Pokoknya nanti kalau kita sudah dewasa, kau mau pergi ke festival musim semi bersamaku?” Tanya Jungkook pada akhirnya. Lisa tampak berfikir sejenak sebelum mengambil sebuah keputusan.
“Ne.”
“Jeongmallo? Yaksok Lisa-ah?” Jungkook mengangkat jari kelingkingnya kedepan, tepat di depan wajah Lisa.
“Kau itu lucu sekali hyung-ah.” Lisa terkekeh melihat kelakuan Jungkook barusan. Memangnya apa yang salah? Tidak ada. Hanya saja Jungkook terlihat sangat menggemaskan di mata Lisa. Di usianya yang sudah menginjak 11 tahun di bulan September kemarin, sekitar 2 bulan yang lalu.
“Ne, hyung.” Pada akhirnya Lisa mengaitkan jari kelingkingnya juga. Mereka berdua tersenyum bersamaan. Tapi, tanpa mereka tau mungkin kaitan kelingking barusan adalah tanda perpisahan.
*
“Pada hari ini, hari dimana salju pertama turun. Tepat pada saat aku pulang dari lapangan, kedua orangtua ku memberikan kabar yang tidak ingin ku dengar sebenarnya. Tetapi sepertinya mereka ㅡkedua orangtua kuㅡ senang dengan kabar yang mereka sampaikan.
Memang kami semua pada saat ini hanya menumpang di rumah haraboji dan harmoni (kakek&nenek) ku. Tetapi keputusan semua itu, mengharuskanku meninggalkan hyung-ku. Hyung? Ya, aku telah sepakat memanggilnya dengan sebutan tersebut karena, dia memperbolehkan ku memanggilnya hyung.
Jeon Jeong-guk. Aku pasti merindukanmu.

Bogosiopoyo.
Mungkin aku tak bisa menepati janji itu. Tapi aku akan berusaha sebisaku. Sungguh.
Lalice Manoban”
**
“Awal tahun ini kita akan pindah rumah” ucap seorang lelaki dengan tegasnya, yang mungkin di perkirakan usianya sekitar berkepala empat. Di ruang keluarnya, dimana terdapat sang kepala keluarga, istri sang kepala keluarga dan juga anak mereka yang baru menginjak usia 10 tahun, beberapa bulan kebelakang.
“Pindah? Jinjja? Bagaimana dengan sekolahku?” Tanya sang anak tersebut, setelah mendengarkan keputusan appa-nya.
“Sekolahmu juga akan pindah sayang.” kini yang angkat bicara adalah omma-nya. Ommanya terlihat bahagia ketika mendengar keputusan mereka akan pindah. Tetapi, tidak dengan anaknya.
**
Tokyo, Jepang.
10 tahun kemudian
Seorang gadis sedang duduk termenung di balkon kamarnya. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya berpisah dari gabungan orang-orang yang berada di dalam rumah. Seharusnya dia merasa bahagia, karena ini adalah malam natal, malam yang spesial baginya.
Masih terbayang olehnya dengan perkataan kedua orang tuanya, sekitar beberapa tahun yang lalu. Padahal semua itu sudah berlalu. Akan tetapi setiap perkataan kedua orang tuanya waktu itu masih terekam dengan jelas di dalam pikirannya.
Mengharuskannya untuk meninggalkan dia. Dia? Ya, dia Jeon Jeong-guk. Jungkook itu adalah sahabat dari seorang Lisa tersebut. Sahabat kecil mungkin?
Lisa itu dan dia bersahabat sekaligus bertemu dengannya pada saat mereka menduduki bangku Sekolah Dasar. Mungkin benar pada saat Sekolah Dasar, tapi tidak dengan Lisa. Lisa telah melihat Jungkook sejak pertama kalinya dia keluar dari rumah harmoninya. Mungkin saat dia masih kecil? Anehnya Lisa masih mengingat semua itu. Tapi mungkin tidak dengan Jungkook.
Kembali lagi. Bisa terbilang mereka sejak dulu dekat, atau bahkan sangat dekat, sehingga ada yang mengatakan bahwa mereka berdua itu adik kaka. Lebih parahnya lagi, ada yang menyangka bahwa mereka itu kembar. Kembar? Ya kembar. Padahal wajah mereka berdua jika di bandingkan, itu bisa terbilang berbeda, atau bahkan mungkin sangat berbeda. Tapi yaa, begitulah mereka.
‘Asalkan kau tau, aku tidak bahagia disini.’ Mungkin itu kalimat yang tepat untuk Lisa saat ini. Memang benar kenyataannya begitukan?
“Satu”
“Dua”
“Tiga”
“Empat”
“Lima”
“Enam”
“Tujuh”
“Delapan”
“Sembilan”
“Sepuluh”
“Sepuluh tahun yaa?” Dia menghitung menggunakan jarinya. Seperti sedang bermonolog. Lalu dia menatap atas, lebih tepatnya ke arah langit. Langit malam yang di penuhi dengan bintang yang bersinar.
“Aku merindukannya. Tapi apa dia merindukanku juga?” Lisa itu seperti sedang mengajak sang bintang untuk berbicara. Meskipun dia tau bahwa bintang tak akan mungkin menjawab pertanyaannya itu.
“Mungkin dia tidak. Tapi mungkin juga iya. Atau, dia sudah lupa denganku?” Lisa itu mendesah kecewa dengan perkataanya sendiri.
“Bagaimana dengan janji itu?”
*
“Ini sudah ke-sepuluh tahun. Sudah lama ternyata. Sepuluh tahun pada saat ulang tahunnya tanpa kehadiranku. Sepuluh tahun tanpa bermain ski resort yang biasa keluarga kami kunjungi bersamaan dengan keluarganya. Sepuluh tahun tanpa kehadirannya. Sepuluh kali salju pertama tanpa bermain dengannya. Sepuluh tahun tanpa dia itu terasa ada yang hilang.
Jeongmallo, aku benar-benar merindukanmu. Jeon Jeong-guk.

Apa kau masih ingat denganku?

Apa kau masih ingat dengan janjimu itu?
Lalice Manoban”
*
“01 September. Hari ini, hari dimana kamu bertambahnya umur menjadi 20 tahun. Aku senang. Yaa, walaupun aku tau, bahwa aku tak bisa berada di sisimu saat ini. Sungguh, aku benar-benar tidak sabar. Mengapa? Karena akhir musim dingin ini, akan menjadi hari terakhir aku berada di Tokyo, Jepang ini.
Jepang? Iya. Selama ini kami sekeluarga pindah ke Jepang, karena masalah bisnis mungkin. Entahlah dulu aku tidak mengerti apapun itu, dan aku tidak peduli tentang itu semua.
Sekarang, aku bahagia sekali. Akhirnya doa ku selama ini tidak sia-sia. Karena aku meminta untuk bisa kembali lagi ke kota Seoul, tempat kelahiranku. Meskipun rumah kami yang dulu, dengan rumah yang akan kami tempati di awal tahun ini berbeda, tapi tak akan menjadi masalah. Paling penting aku bisa kembali lagi ke sana. Setelah penantian panjangku selama bertahun-tahun, semoga saja aku bisa bertemu denganmu, hyung. Aku harap musim dingin cepat berlalu. Bunga mekar, tunggu aku yaa!!
Aku selalu merindukanmu.

Bogosipoyo
Jeon Jeong-guk.

Lalice Manoban”
**
Seoul, Korea Selatan.
Tak terasa akhirnya musim semi tiba. Lisa sudah berada di Seoul, Korea Selatan sekarang. Tidak terhitung betapa bahagianya Lisa berada disini. Lisa senang bisa menghirup kembali udara yang berada di Seoul ini. Masih tak bisa menyangka bahwa kali ini Lisa berada di Seoul, tempat kelahirannya. Lisa tidak sabar ingin melihat hyung, Jeon Jeong-guk.
Lisa merasa moody ketika mengingat tentang beberapa suratnya yang telah dikirim ke alamatnya yang dulu di tempati oleh hyung. Kenapa? Karena tidak ada satupun balasan darinya. Tak ingin mengingatnya lagi, Lisa langsung memasukkan barang-barang ke dalam rumah barunya. Membatu kedua orangtuanya untuk mengatur segala-galanya kembali.
**
Sore harinya, ketika Lisa sudah selesai membenahi barang-barangnya, Lisa langsung pergi menuju rumah lamanya. Seakan tidak ada hari esok bagi Lisa, untuk segera mengunjungi Jungkook. Melihat keadaan Jungkook, bagaimana dengan kabarnya?
Lisa sudah sangat tidak sabar. Saking tidak sabarnya, membuat dia tidak sadar, bahwa dirinya telah berada tepat di depan rumah Jungkook.
“Jungkook-ah” Lisa berteriak di depan rumah Jungkook, sambil berusaha membuka pagar rumahnya. Tapi nihil. Pagarnya terkunci. Lisa menghela nafasnya. Tapi dia tidak akan menyerah begitu saja.
Bukan Lisa namanya jika dia hanya bisa mengeluh. Lisa pasti akan membuat sesuatu yang di inginkannya itu tercapai. Meskipun dia harus berusaha semaksimal mungkin.
“Jungkook-ah” berkali-kali Lisa memanggil nama ‘Jungkook’. Tapi, yang di panggil tidak menunjukkan batang hidungnya sedikitpun. Pintunya pun masih tertutup rapat. Sama sekali tidak ada yang membukanya. Biasanya, apabila ada orang di dalam pasti akan membukakan pintunya. Siapapun itu orangnya. Rumah ini seperti tidak ada yang penghuninya. Kosong.
“Cihh” Lisa mendesis, kesal juga dia setelah menunggu sekitar 15 menit. Mungkin itu waktu yang sebentar, tapi bagi Lisa 15 menit, bagaikan 5 jam baginya. Terdengar melebih-lebihkan memang. Mengapa? Karena Lisa tidak sabar, jadi yaa kesal sendiri juga akhirnya.
“Ya! Hyung-ah” terakhir Lisa berteriak dengan kata ‘hyung’. Mungkin saja membuat sang pemilik rumah, atau siapapun itu keluar.
“Annyeong haseyo, Ahjumma” Lisa tak sengaja menyapa salah seorang Ahjumma yang kebetulan lewat. Dulu Lisa sering melihatnya, seingatnya.
“Tangsin eun? Lisa-ah?” Tanya Ahjumma tersebut, sambil sebelah jari telunjuknya menunjuk Lisa.
“Ne, Ahjumma” ujar Lisa, tak lupa dengan senyumannya yang selalu di tunjukkannya terhadap orang yang lebih dewasa darinya, serta sedikit menganggukkan kepalanya.
“Jeongmallo? Aigo, ternyata kau sudah besar rupanya.” Ahjumma itu sedikit kaget ketika melihat Lisa. Dia tidak menyangka bahwa waktu sangat cepat berlalu. Padahal seperti baru saja kemarin Ahjumma itu bertemu dengan Lisa ketika masih menggendong tas sekolahnya. Senyum tak pernah luput dari wajah Lisa.
“Ahh, kau mencari Jeon Jeong-guk-ah?” Lanjut Ahjumma tersebut ketika menyadari bahwa Lisa sedang berada tepat di depan rumahnya Jungkook.
“Ne, Ahjumma. Kau tau dia pergi kemana? Karena sudah dari tadi kupanggil tak ada yang menyahut sama sekali.” Sahut Lisa dengan sopan menanyakan keberadaan sang penghuni rumah tersebut.
“Sayang sekali Lisa-ah. Jungkook sudah lama pindah dari sini, sudah cukup lama.” Ketika melihat ekspresi wajah Lisa membuat Ahjumma itu pun ikut sedih.
“Mwo? Pindah? Waeyo? Kenapa bisa dia pindah Ahjumma?” Lisa melontarkan berbagai pertanyaan kepada Ahjumma. Kaget? Tentu saja.
“Entahlah, Ahjumma pun tak tau tentang itu. Pada hari itu, tau-tau Ahjumma mendapat kabar bahwa Jeon Jeong-guk pindah.” Ungkap Ahjumma.
“Ahh Ne, Ahjumma. Tapi apa kau tau, dimana dia tinggal sekarang?” Lisa masih penasaran. Atas alasan apa Jungkook pindah? Lisa jadi mengingat tentang surat itu. Pantas saja berkali-kali Lisa mengirim surat, dan tak ada satupun suratnya yang pernah di balas oleh Jungkook. Nyatanya dia juga pindah, dan entah kemana itu.
Ahjumma hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tidak ingin membuat Lisa semakin sedih di buatnya.
“Ne, araseo. Kamsahamnida Ahjumma. Mianhae, telah mengganggu waktumu.” Ucap Lisa dengan sedikit penyesalan, karena dia telah mengajak bicara panjang dengan Ahjumma.
“Aniyo. Ahjumma senang bisa memberitahumu.” Ujar Ahjumma disertai dengan senyumannya yang terlihat tulus itu.
“Ne. Kamsahamnida Ahjumma, Kamsahamnida.” Ucap Lisa lagi dengan sedikit membungkukkan badannya, tanda menghormati dan bersikap sopan terhadap Ahjumma, yang lebih tua darinya.
Lisa tidak habis fikir dengan kepindahannya Jungkook. Mengapa juga Jungkook bisa pindah? Atau harus pindah? Sekarang Lisa harus mencari Jungkook kemana?
Musim semi yang benar-benar di nantikannya tidak berarti apa-apa. Bunga yang bermekaranpun tak bereaksi apapun terhadap Lisa. Padahal Lisa ingat betul dengan janjinya Jungkook waktu itu. Janji? Ahh ya! Festival! Jungkook kan sangat ingin betul pergi ke festival musim semi waktu itu.
Tanpa pikir panjang Lisa langsung melangkahkan kakinya menuju tempat pemberhentian bus.
**
Yeouido Park. Taman ini sering di gunakan untuk festival musim semi di bulan April. Meskipun sekarang bukan bulan April, tapi Lisa ingin mencari keberadaan Jungkook disini. Siapa yang tau kalau Jungkook ada atau tidaknya disinikan? Lisa tidak ingin menyerah sebelum mencoba.
Lisa mengelilingi taman tersebut. Hari sudah gelap. Sehingga membuat lampu yang awalnya mati, menjadi menyala menyinari keindahan bunga sakura yang bermekaran. Tidak hanya siang hari, bahkan pada saat malam pun terlihat lebih indah dan lebih berwarna dengan lampu berbeda warna di sisi jalannya.
Awalnya hanya mengelilingi taman, tapi siapa sangka Lisa akan bertemu dengan Jungkook. Jungkook? Ya! Jungkook!
Ku ulangi Jungkook!
Lisa bingung. Apa benar itu Jungkook? Lisa berharap semoga saja itu bukan Jungkook. Kau tau? Terlihat sepasang kekasih, atau mungkin mereka bukan kekasih. Suami istri? Hubungan apapun itu Lisa tak peduli.
Lisa tidak mungkin dibuat terdiam seperti ini, kalau tidak ada alasannya. Apa Lisa salah lihat? Apa yang di lihatnya itu benar-benar Jungkook? Hyung? Apa mungkin ini efek terlalu memikirkannya sehingga melihat sepasang kekasih yang ternyata laki-lakinya adalah Jungkook? Atau mungkin ini efek gelapnya malam hari?
Bukan! Bukan masalah sebetulnya kalau Jungkook sedang bersama dengan seorang wanita. Tidak masalah sama sekali sebetulnya. Tapi, mereka berpelukan! Ingat itu berpelukan! Tidak. Tidak. Bahkan baru saja Lisa melihat Jungkook merangkul wanitu itu. Merangkulnya.
Disisi lain, Jungkook yang merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka. Hingga akhirnya, ketemu. Kedua bola mata mereka saling beradu. Dapat terlihat bahwa dari tatapan mereka masing-masing menunjukkan betapa rindunya terhadap satu sama lain. Mereka sangat terlihat ingin sekali melepas rindu satu sama lain.
Tapi, Lisa sadar. Jungkook bukan lagi hyungnya. Lisa seperti merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Bukan! Bukan karena Lisa jatuh terhadap tatapan Jungkook. Melainkan Lisa merasakan sesak. Seakan-akan suhu udara di taman ini menipis. Padahal ini di luar rungan. Apa Lisa cemburu?
Akhirnya Lisa memutuskan kontak matanya dengan Jungkook. Lisa berbalik dan ingin sesegera mungkin meninggalkan tempat ini. Tempat dimana Lisa tak ingin menginjakkan kakinya lagi kesini. Tanpa Lisa tau, bahwa seseorang mengikuti langkahnya. Langkah kakinya, sehingga Lisa menginjakkan kakinya di depan rumahnya.
**
Bulan April pun tiba. Hari dimana seharusnya Lisa pergi mendatangi festival musim semi yang bertahun-tahun telah di nantikannya. Tetapi, Lisa tidak ingin melihat festival itu. Lisa tidak ingin kejadian yang telah terjadi akan terjadi kembali. Karena apabila ada yang pertama, pasti ada yang kedua dan juga seterusnya.
Untuk membunuh rasa jenuhnya, Lisa akhirnya keluar rumah. Sedikit menghirup udara di sore hari. Lisa mungkin akan pergi ke Supermarket terdekat, untuk membeli makan ataupun minuman. Tanpa Lisa tau, ternyata terdapat langkah kaki seseorang yang mengikutinya.
Lisa akhirnya pergi ke Supermarket untuk membeli beberapa cemilan. Saat hendak membayarnya ke kasir, Lisa tidak sengaja menabrak seseorang.
“Aishh, choesonghamnida Ahjussi.” Setelah Lisa mengambil barangnya yang terjatuh, lalu Lisa sedikit membungkukkan badannya. Tepat pada saat Lisa menegakkan kembali badannya, mata Lisa membulat sempurna.
“Oraenmaniya.” (Sudah lama tidak bertemu). Entah itu sebuah pertanyaan atau penyataan yang di lontarkan oleh orang yang berada di hadapan Lisa sekarang. Lisa tidak menjawab sama sekali. Lisa mengabaikannya, dan Lisa menuju kasir. Merbiarkan orang yang baru saja tidak sengaja menabraknya.
Sedangkan orang itu hanya mengikuti langkah Lisa di belakangnya. Tanpa ada niatan mau menggangu aktivitas apapun yang sedang di lakukan oleh Lisa. Melihat Lisa saja, itu sudah cukup baginya. Tapi, Lisa sepertinya tidak merasa terganggu. Atau mungkin belum?
Saat keluar dari Supermarket pun, Lisa masih di ikuti oleh orang itu. Lisa pada akhirnya Lisa menemukan tempat duduk yang kosong, berniat untuk duduk. Lumayan, pegal juga jalan dari rumahnya menuju Supermarket. Memang jaraknya itu tidak jauh, tapi tidak juga dekat. Apabila jalan kaki, bisa menguras tenaga juga.
Orang itu mengikuti apa yang Lisa lakukan. Dia duduk tepat di sebelah Lisa tanpa merasa terusik dengan tatapan Lisa yang memandangnya aneh.
“Ya! Jeon Jeongguk-ah! Kenapa kau terus mengikutiku, hah?” Tanya Lisa dengan kesalnya. Jeon Jeongguk? Yap! Betul, Jungkook lah yang bertemu dengan Lisa di Supermarket barusan.
“Kenapa juga kau mengabaikanku?” Jungkook, sungguh dia bukan tipe orang yang peka. Lisa sedang marah, Jungkook tidak berfikir untuk merayu atau apapun itu. Tapi yang ada dia juga parahnya malah ikutan marah.
“Mengapa juga kau tak menjawab pertanyaanku? Cih dasar, kau memang pandai mengalihkan pembicaraan.”
“Ya! Mengapa juga kau meninggalkanku selama sepuluh tahun? Tanpa aku tahu bagaimana kabarmu? Tanpa aku tau dimana kau berada saat itu? Kau pergi begitu saja tanpa meninggalkan apapun itu. Bahkan pada saat ulang tahunku yang selalu di rayakan pada akhir tahun pun kau tak datang. Kemana saja kau selama ini?” ‘Aku, disini menunggumu! Kau pergi tanpa memberi kepastian apapun. Mana janjimu? Atau kau lupa dengan janji itu? Mungkin kau memang sudah lupa dengan janji itu. Atau bahkan kau mungkin sudah membenciku. Entah dengan alasan apa itu.’ Sayangnya Jungkook hanya melanjutkan beberapa kalimat di dalam hatinya. Lisa terlihat menunduk. Sungguh, Jungkook tak bermaksud untuk memarahi Lisa.
‘Jebal, jangan menangis.’ Harap-harap Jungkook di dalam hatinya. Apabila Lisa menangis, Jungkook akan merasakan sesuatu yang tergores di dalam sana, entah apa itu. Sakit? Tentu saja. Seakan Jungkook diharuskan untuk merasakan apa yang Lisa rasakan.
“Mianhae, Jungkook-ah. Mianhae. Aku mengaku. Aku memang pergi tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Kabar? Kau salah Jungkook-ah. Kau sangat salah. Kau tau? Aku berpuluh-puluh kali, atau mungkin beratus-ratus kali mengirim surat kapadamu. Aku yang seharusnya menanyakan kabarmu.” Akhirnya Lisa mengangkatkan kepalanya menatap Jungkook.
‘Tes’
Setetes air mata turun dari kelopak matanya. Jungkook tidak ingin melihat Lisa menangis. Lisa sakit seperti ini, seakan-akan Jungkook pun ikut merasakan sakitnya.
‘Berhenti Lisa, jebalyo.’ Pinta Jungkook, sayangnya kalimat tersebut tidak dapat di lontarkannya secara langsung.
“Bahkan tidak ada satupun balasan dari surat yang ku kirim. Kau tau betapa tersiksanya aku disana? Kau tau? Setiap hari aku selalu merindukanmu. Aku selalu menanti bahwa suatu hari nanti aku bisa pergi dari sana dan menuju kesini hanya untukmu Jungkook-ah, tapi apa balasanmu begini?” Lanjut Lisa. Jujur, Lisa sudah tidak tahan dengan semuanya. Penantiannya terasa sia-sia, percuma kalau Jungkook menerimanya begini. Air mata yang awalnya hanya setetes pun bertambah banyak.
Ketika Lisa berbicara dengan nama asli atau nama panggilan biasa ㅡJungkookㅡ itu artinya, Lisa sedang serius dengan pembicaraannya. Lagi pula Lisa mungkin memang sudah tidak pantas untuk memanggil Jungkook dengan sebutan hyung.
Jungkook meraih punggung Lisa, mendekapnya. Tak ingin membuat tangisan Lisa semakin kencang. Mungkin bisa membuat Lisa sedikit tenang.
Ini semua Jungkook yang salah. Jungkook mengakui itu. Dia salah, seharusnya dia menunggu kabar dulu dari Lisa setelah kepindahannya. Disaat yang bersamaan pula, hal yang tidak seharusnya terjadi pada saat itu malah harus terjadi. Itu pula yang mengharuskan Jungkook meninggalkan rumah lamanya, dan pergi ke Busan.
Setelah tangisan Lisa mereda, Jungkook merenggangkan dekapannya terhadap Lisa. Lalu menghapus air mata Lisa yang masih berada di pipinya menggunakan kedua ibu jarinya.
“Kau tak apa?” Tanya Jungkook hati-hati. Lisa hanya bisa mengangguk sebagai jawaban. Lalu setelah Jungkook merasa lega, dia meraih kedua tangan Lisa dan menggenggamnya.
“Mianhae, Lisa-ah. Setelah kau pergi pada saat itu, tidak lama keluargaku mendapat kabar dari Busan, tempat kelahiranku. Rumahku dulu, sebelum aku menempati rumah di dekat rumah haraboji dan harmoni mu dulu.” Jungkook menjeda sejenak ucapannya.
“Bahwa ternyata, Myung Yoomi kecelakaan. Aku tidak tau siapa itu Yoomi. Pada akhirnya kedua orang tuaku menjelaskan bahwa dia adalah adikku. Adikku yang berbeda 2 tahun usianya denganku. Adik yang sebenarnya tidak di ketahui oleh siapapun kecuali ayah dan ibu. Mengapa dia tidak di bawa saja ke Seoul, dan di rawat bersama-sama denganku? Aku pun tidak tau alasannya. Memang, dulu sewaktu aku masih kecil mungkin aku tidak ingat bahwa aku pernah di tinggal oleh kedua orang tuaku selama 2 tahun, dan memang mereka pergi ke Busan untuk mengurus segala sesuatu perkerjaan. Mungkin pada saat itulah mereka mempunyai anak perempuan.” Jelas Jungkook. Sebetulnya Lisa masih mencerna apa yang barusan Jungkook katakan.
“Ohya, yang kau lihat saat di Yeouido Park waktu itu, itu adalah adikku. Kau jangan marah-marah tak jelas seperti itu.” Jungkook memaparkan isi pemikirannya, dan itu sangat tepat sasaran. Lisa membulatkan kedua bola matanya, tak menyangka bahwa Jungkook akan berprasangka seperti itu.
“Ani. Siapa juga yang marah-marah tidak jelas.” Lisa tidak tau harus menyangkal dengan kata apa lagi.
“Jangan kau pikir aku tidak tau.” Jungkook menyeringai. Lisa tersipu malu di buatnya, sehingga membuat pipinya sedikit merona.
“Aku pada saat itu tidak yakin bahwa itu kau. Aku masih tak percaya, sehingga pada akhirnya aku mengikutimu sampai kerumahmu itu. Semenjak saat itulah aku sering mengunjungi rumahmu. Yah, walaupun aku tidak bertamu. Tapi sayang, kau jarang keluar rumah.” Jelas Jungkook sedikit kecewa.
Jadi selama ini? Selama ini Jungkook mengikutinya? Kenapa bisa Lisa tidak sadar dengan semua itu?
“Jadi sekarang apa kau masih punya alasan untuk marah padaku?” Lisa hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika menjawab pertanyaan Jungkook barusan.
“Sekarang kau harus memenuhi janjimu itu.” Ucap Jungkook.
“”Yaksok?” Lisa terlihat kebingungan ketika Jungkook mengatakan tentang janji.
“Jangan bilang kau hilang ingatan karena menangis barusan.” Jungkook mengejek Lisa. Membuat Lisa mencubit lengannya Jungkook dan Jungkook meringis kesakitan sambil mengusap bekas cubitan perbuatan Lisa itu.
“Sekarang, apa masih berlaku aku memanggilmu hyung-ah?” Tanya Lisa dengan polosnya. Membuat Jungkook yang melihatnya terasa menggemaskan. Jungkook menarik hidungnya Lisa menggunakan sebelah tangannya.
“Tentu saja, kenapa tidak? Kajja.” Ajak Jungkook pada akhirnya sambil berdiri. Lisa pun ikut berdiri walaupun dengan sedikit wajahnya yang cemberut.
Akhirnya Lisa dan Jungkook pergi menemui Yeouido Spring Flowers Festival, yang berlangsung di Yeouido Park. Hari mulai gelap, tapi tempat itu masih saja ramai dengan para pengunjung maupun orang yang membuka stand.
“Lisa-ah” panggil Jungkook, Lisa menoleh menatap Jungkook yang memang sedang menatapnya.
“Wae?” Tanya Lisa heran dengan kelakuan Jungkook kali ini.
“Saranghae” coba ulangi sekali lagi, batin Lisa menjerit.
“Saranghae, Lisa-ah” ujar Jungkook dengan tulus. Lisa mencoba menilisik kedalam bola matanya. Siapa tau dia menemukan kebohongan. Tapi, nihil. Lisa tak menemukannya.
“Nado, saranghae. Hyung.”


“Lisa-ah, kau sedang melihat apa? Serius sekali.” Tanya Jungkook ketika melihat Lisa sedang melihat-lihat catatan kecilnya.
“Aniyo. Aku hanya sedang melihat catatan tulisanku, diary mungkin?” Ungkap Lisa sedikit tidak yakin dengan jawabannya itu.
“Mengenang, hm?” Sindir Jungkook tepat sekali.
“Ne, mengenang. Mengenang masa-masa sulitku. Ketika aku berpisah denganmu. Aku tidak menyangka, pada akhirnya kita akan saling memiliki, satu sama lain.” Ungkap Lisa yang masih tidak bisa menyangka bahwa hari-hari berlalu begitu cepat. Saling memiliki? Ya, mereka hari ini sudah di restui sebagai sepasang suami dan istri.
“Ya! Siapa juga yang meninggalkanku? Mengingkari janji, huh?” Tanya Jungkook yang berusaha mengungkit masa-masa pada saat itu. Pada saat dimana mereka terpisahkan.
“Mianhae, hyung-ah.” Ucap Lisa dengan sedikit penyesalan. Pada akhirnya Lisa-lah yang harus mengalah.
‘Cup’
Mata Lisa membulat tak percaya ketika Jungkook mengecupkan bibirnya ke pipi Lisa.
“Saranghae.” Ucap Jungkook. Lisa tersenyum mendengar ucapan yang di lontarkan Jungkook barusan.
“Nado, saranghae. Hyung.”
THE END

Sepenggal kalimat.
“Catatan kecil, tentang ku yang meridukkannya.
Ketika aku mengatakan bahwa aku ingin bertemu denganmu. Aku semakin ingin bertemu denganmu. Ketika aku melihat foto-fotomu. Membuatku semakin ingin bertemu denganmu.
Waktu begitu kejam. Aku benci kita. Sekarang bertemu saja sangat sulit, meskipun itu hanya sekali. Disini sudah musim dingin. Aku menunggu datanya musim semi.
Aku ingin menggenggam tanganmu dan membawamu ke belahan bumi lainnya, dan mengakhiri musim dingin ini. Lewati musim dingin bersamamu. Sampai musim semi datang kembali. Sampai bunga-bunga mekar, akankah kau tetap tinggal?
Aku tak tahu apakah kau telah berubah ataukah aku yang telah berubah. Sepetinya kita telah berubah, aku benci waktu berlalu.
Berapa kali aku harus kehilanganmu. Berapa lama harus jatuh seperti salju, untuk menunggu datangnya musim semi.
Ya aku membencimu

Kau telah pergi, tapi

Tak sehari pun

Aku lupa tentangmu.
Jujur, aku ingin melihatmu

Tapi kini aku akan melupakanmu

Karena itu tak lebih menyakitkan

Dari membencimu.
Aku bilang bahwa aku akan melupakanmu. Tapi sungguh, aku belum rela melepasmu.
Kaulah teman terbaikku

Aku ingin melihatmu

Aku ingin merindukanmu

Berapa lama aku harus menunggu? Berapa banyak malam aku harus terus terjaga? Untuk menunggumu? Untuk menantimu?

Aku ingin melihatmu

Aku ingin merindukanmu

Lalice Manoban

Jeon Jeong-guk.”

“Untuk yang sepenggal kata, saya sendiri terinspirsai dari lagunya Spring Day – BTS. Mungkin memang ada beberapa kata yang di ambil dari kata Sping Day. Atau bahkan hampir semua di ambil dari lagu tersebut. Terimasih sebelumnya. Mohon maaf apabila terdapat kesalahkan kata.”

Advertisements

4 thoughts on “[SEG Event] Old Friend

  1. Whoaa, aku gak nyangka. Ternyata semua ini cuma flashback ya(?) Ehh, bener gak sih? Ahh gatau deh. Pokonya aku nebaknya dari liat yang sebelum ending itu. Semangat unni!!!😄 fighting!!😆

  2. Sukaaa💕 alurnya simple sebenernya. Tapi, bakal lebih bagus lagi kalau ini jadi beberapa part *mungkin. Apalagi ini buat kamu yang baru awalan. Suka. Segitu aja udah bagus. Sebetulnya ada sedikit kesalahan kata. Tapi, aku bisa maklum karena kamu pemula.
    Semangat kaka!😃 ahh, mianhe aku bicara yang gak jelas. Jhehe😂 semoga bisa menjadi masukan kak!🙏 fighting!!!😍

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s