[SEG Event] Hunting News and Blooming Flowers

Hunting News and Blooming Flowers

Cast : Jeon Jungkook (BTS) and Bom(OC), other BTS’ members

Theme : Journalist, Spring and Werewolf

Genre : Romance, Action, & Fantasy
Suara gemeresak terdengar di sekeliling hutan. Seekor makhluk hitam melesat di bawah sinar rembulan, menghasilkan suara langkahan yang lembut. Angin dingin berdesir menerpa bulu-bulu tebal serigala itu. Tiba-tiba ia berhenti berlari. Dengan mata coklatnya, ia menangkap pemandangan yang tidak biasa di sekeliling hutan.

Hari itu minggu pertama musim semi, namun daun-daun di pohon mulai muncul. Bunga-bunga yang berwarna-warni mulai bermekaran. Serigala itu mendengus, mengeluarkan sedikit kabut di udara. Mengerjapkan mata cokelatnya, yang berubah menjadi warna emas sejenak, ia merasakan suatu kekuatan sihir, yang menyebabkan hal aneh ini terjadi.

Mendengus sekali lagi, ia melanjutkan perjalanannya ke luar hutan. Mobil citycar berwarna hitam terparkir di jalan. Serigala itu berhenti berlari, lalu perlahan, bulu-bulu hitam yang lembut mulai menghilang, seperti masuk ke kulitnya. Telapak kaki depan yang bercakar itu berubah menjadi tangan manusia. Serigala hitam itu pun berubah, menjadi seorang manusia laki-laki yang telanjang bulat.

Laki-laki berambut coklat itu melepas kalung yang tergantung di lehernya. Ia memegang kunci mobil yang menjadi hiasan kalungnya. Menekan tombol kuncinya, lampu mobil berwarna hitamnya menyala, menandakan kunci mobilnya terbuka. Ia memasuki mobilnya, lalu memakai pakaian yang selalu ia sediakan di kursi belakang. Akhirnya, lelaki berwajah tampan itu menyalakan mobilnya dan melesat di kegelapan malam.
“Heiii~ Lepaskan akuuu~” ucap remaja laki-laki itu dengan mabuk. Ia menarik-narik tangannya yang sedang digenggam oleh polisi.

“Diamlah, kamu akan lebih kesakitan jika aku tidak melakukan ini,” jawab polisi itu dengan santai.

Mereka terduduk di dalam mobil sedan yang menubruk tiang listrik. Sudah 5 menit kira-kira lamanya setelah seorang polisi bertas ransel mendatangi mobil itu dan menemukan seorang remaja mabuk dengan dahi yang berdarah. “Lee Chan, hah… Akhirnya aku bisa menangkapmu, hm?” goda polisi itu sambil menyeringai.

“Kamu…Tidak bi..saaa me-menangkapku, Tuan, umm,” Lee Chan melihat label nama di seragam polisi itu, “Tuan Namjoon,” lanjutnya.

“Yah, terserahmu saja,” jawab Namjoon yang akhirnya melepaskan genggamannya dari tangan Lee Chan.

Tiba-tiba, kaca mobil mewah milik Lee Chan itu diketuk. Polisi itu tersenyum, melihat siapa yang mengetuk. Namjoon membuka jendela mobil rusak itu, “Jungkook, akhirnya!”

Lelaki yang tadinya serigala hitam itu tersenyum lebar menyambut Namjoon, “Hyung! Ayo!”

Namjoon keluar dari mobil sambil menggiring Lee Chan menuju mobil Jungkook. Jungkook membukakan pintu kursi belakang bagi Namjoon, lalu membantu memasukkan Lee Chan yang masih mabuk berat.

“Kook, lakukan kerjaanmu, aku akan menyetir,” ucap Namjoon. Jungkook mengangguk dan melemparkan kunci mobilnya ke Namjoon, “Jangan merusak mobilku ya, Hyung,” candanya lalu masuk ke mobil, menemani Chan.

“Semoga,” jawab Namjoon terkekeh.

Jungkook memandang Chan, menawarkan senyumnya. “Jadi, Lee Chan, huh? Penerus Carat Corp.? Perbuatan yang bagus,” Jungkook mengambil buku catatan dan bolpoin yang ada di sebelah kursi kemudi.

“Oke, beritahu aku. Apa yang kamu lakukan?” tanya Jungkook.

Namjoon langsung menjawab, “Menyetir dalam keadaan mabuk dan ia bahkan belum cukup umur untuk melakukan semua itu!”

“Hyung, aku tahu kalau itu. Maksudku, bagaimana caramu mendapatkan alkoholnya? Mencuri? KTP palsu?”

Chan duduk menghadap Jungkook, “Aku membelinya secara legaall~”

Wajah Chan perlahan berubah menjadi lebih tua, memiliki kumis dan kulit agak berkerut. “Dengan hadiahku ini, aku bisa melakukan apa saja,” Chan menyeringai, masih keadaan mabuk.

“Oke, terima kasih,” Jungkook menuliskan informasi di catatan kecilnya. “Oh ya, Jeon Jungkook, jurnalis BigHitNews.com, dan aku akan menjadi orang pertama yang meliputmu, selamat!”

Mata Chan terbelalak. Ia seakan tertampar oleh sesuatu, membuatnya sadar dari kemabukkannya. “Kamu akan memasukkanku ke dalam berita?”

Jungkook mengangguk, masih menulis di catatannya. Chan tiba-tiba memegang lengan Jungkook dengan erat, “Jangan masukkan aku di berita,” mohonnya.

“Hm? Aku hanya melakukan pekerjaanku. Lagipula, kenapa kamu mabuk?” balas Jungkook santai.

Chan diantar ke rumah sakit dengan keadaan masih memohon Jungkook. Namjoon segera mendaftarkan Chan, dengan Jungkook sebagai orang yang dapat dikontak jika suatu saat Chan menghilang.

“Kenapa tidak kamu saja, Hyung?” tanya Jungkook geram.

Namjoon tertawa, “Aku sibuk, Kook. Polisi terhebat di Seoul, ingat?” jawabnya menyombongkan diri.

Jungkook melototi Namjoon, “Lalu aku tidak sibuk? Aku harus berburu berita, tahu?”

“Setidaknya kamu tidak sesibuk aku,” Namjoon menutup bolpoin yang ia pegang, tanda sudah menyelesaikan formulir pendaftaran.
Sebuah cahaya kecil, seperti kunang-kunang, berterbangan di hutan yang dilanda musim semi. Kelopak-kelopak bunga warna merah muda mengikuti gerak Si Cahaya. Tidak hanya itu, seekor serigala kecil berwarna hitam menggonggong mengejarnya.

Anak serigala itu sekali-kali berdiri di atas dua kakinya, berusaha meraih Si Cahaya. Lidahnya terjulur keluar dan ekornya bergoyang dengan cepat. Si Cahaya, merasa kasihan melihat Si Serigala yang terus mengejarnya pun akhirnya mengalah. Ia mendarat tepat di hidung Si Serigala.

Telinga Si Serigala menurun, ia memandang Si Cahaya yang berkilau itu dengan mata cokelatnya. Ia bisa bersumpah bahwa ia melihat dua kaki manusia di cahaya itu, sebelum akhirnya ia bersin. Cahaya itu terpental jauh darinya.

Si Serigala segera berlari ke arah Si Cahaya yang tergeletak di rumput. Ia mengendus-ngendus temannya itu sambil merengek meminta maaf. Si Cahaya melayang lagi, tanda ia baik-baik saja.

Si Serigala pun menggonggong senang, lalu duduk dengan lidah terjulur dan ekor yang menepuk rumput. Cahaya berwarna emas itu mendarat lagi di hidung Si Serigala, yang berusaha agar tidak bersin lagi. Si Serigala mendongakkan kepalanya, menyebabkan Si Cahaya meluncur dari moncong ke punggungnya. Dengan berhati-hati, ia duduk di rerumputan yang tebal itu dan meletakkan kepalanya.

Si Serigala Hitam membiarkan cahaya itu ‘tidur’ di punggungnya yang penuh bulu, menjaganya agar tetap merasa hangat, sampai ia dipanggil oleh seseorang.

“Jungkook!”

Ia merasa yang memanggil itu ibunya.

“Jungkook!”

Kepala Jungkook terpukul oleh sesuatu. “Hoi, Jungkook, bangun!” perintah seseorang.

Jungkook membuka matanya. Ia melihat langit-langit yang berwarna putih dan Seokjin yang memukuli wajahnya dengan guling.

Jungkook mengerang, “Hyung!” Ia menutupi wajahnya dengan bantal.

“Ini sudah jam 7! Cepat sarapan dan pergi berburu berita sana!” perintah Seokjin sambil terus memukulinya dengan guling.

Jungkook menggeram, membiarkan sisi serigalanya mengambil alih karena Seokjin telah mengganggu tidurnya.

“Oohh?!” Seokjin menyentak dengan berlebihan. “Itu balasanmu untuk orang yang telah membangunkanmu dan membuatmu sarapan?!”

Sebelum Seokjin mengomelinya lebih panjang lagi, Jungkook akhirnya menyingkirkan bantalnya dan bangun dari tidurnya. “Oke, oke, aku bangun, Hyung!” ucapnya sambil mengusap wajahnya.

“Bagus, mandi dan sikat gigi, lalu makan! Kamu harus berburu berita, anak muda!”

Jungkook hanya menggerutu dan akhirnya beranjak dari kasurnya.
Jungkook berlari dalam wujud serigala hitamnya. Ia sudah mengirimkan berita tentang hutan yang sudah bertumbuh subur ini, meskipun masih minggu pertama musim semi. Jurnalis BigHitNews.com bekerja dengan cara siapa cepat dia dapat, siapa yang tercepat melaporkan berita, ia yang akan bertugas meliput berita itu. Dalam satu hari, mereka harus mendapatkan 1 berita dan mengirimkannya ke website, jika tidak, gaji mereka akan dipotong.

Jungkook menyukai lembutnya rumput hutan. Jungkook menyukai terpaan angin yang lembut. Jungkook menyukai bau tanah dan daun yang terbasahi air. Di antara anggota pack nya, Jungkook adalah yang paling mengandalkan insting serigalanya. Tidak heran ia sering ditemukan tertidur di hutan sampai larut malam, dalam wujud serigala.

Seperti hari-hari biasanya, ia berlari ke suatu tempat di hutan, tempat ia biasanya tidur dan berbaring disana. Entah sampai kapan ia berbaring, tergantung pekerjaannya. Pekerjaannya sudah selesai sekarang, jadi ia dapat berbaring sesukanya.

Matanya melihat daun-daun di hutan yang mulai tumbuh dan rerumputan yang ia tindih. Seharusnya es baru saja mencair dari musim dingin, namun, tempat ini sudah menjadi hutan yang hidup, tanpa sisa es sedikit pun. Telinga Jungkook bergerak tiba-tiba, lalu ia memejamkan matanya. Ia tidak mempunyai waktu untuk memikirkan ini, ia hanya ingin tidur.
Jungkook menggeram saat ia merasakan sesuatu menggelitik telinganya. Biasanya serangga, tupai, atau burung akan pergi ketika mereka mendengar geramannya. Namun, sesuatu yang menggelitiknya ini tidak kunjung pergi. Merasa jengkel, ia menggeram lagi, kali ini menarik bibirnya hingga menunjukkan taringnya yang tajam.

Sesuatu yang menggelitiknya itu tetap saja di atas kepalanya, bahkan menyebar ke sekujur punggungnya. Dengan menggeram sekali lagi, ia berdiri dari tidurnya dan langsung membalikkan badannya, melihat siapa yang berani mengganggu tidurnya. Bunga-bunga dan dedaunan?

Bunga-bunga dan dedaunan itu seperti dihidupkan oleh angin, terbang kesana-kemari, mengganggu Jungkook. Jungkook memiringkan kepalanya, melihat bunga dan dedaunan yang ingin mendekatinya lagi. Ia seperti pernah melihat ini sebelumnya. Tiba-tiba, kepala dan telinganya menjadi tegak, bunga dan dedaunan itu muncul di mimpinya tadi pagi.

Bunga dan dedaunan itu sepertinya mulai bosan, melihatnya menjauhi Jungkook. Mereka mulai melayang menelusuri hutan. Jungkook, menjadi orang yang penasaran, mengikuti mereka. Ia tidak khawatir akan tersesat, ia selalu dapat menemukan jalannya kembali ke rumah. Selalu.

Jungkook diantarkan ke suatu tempat di hutan, di mana terbentang sungai yang jernih, hingga kamu dapat melihat ikan-ikan dengan jelas. Ia melihat seorang gadis, yang duduk membelakangi sungai. Gadis itu berambut kuning keemasan, dengan wajah yang tirus dan hidung yang mancung. Pakaiannya terbuat dari dedaunan dan bunga, berbentuk seperti bra untuk menutup dada dan rok untuk kemaluannya. Gadis itu berkonsentrasi menumbuhkan bunga-bunga di sekitar rumput yang ia duduki.

Selama hidupnya, Jungkook tidak pernah melihat sesuatu yang begitu indah dan cantik. She looks ethereal, sampai Jungkook tidak yakin bahwa gadis di hadapannya itu berasal dari bumi. Itulah yang membuatnya berubah menjadi manusia tanpa sadar dan menanyakan sesuatu yang menggelikan, seperti : “Apakah kamu seorang malaikat?”

Gadis itu mendongak, melihat Jungkook telanjang bulat di depannya sekilas, lalu ia berteriak. Ia menutup mata dengan tangannya dan pipinya memerah. “Setidaknya pakailah baju atau sesuatu!” perintahnya dengan suara yang teredam tangannya.

Tersadar, Jungkook melihat keadaan tubuhnya yang telanjang itu. Ah, dia telah merusak kesan pertamanya. “Maaf,” ucapnya lalu berubah menjadi serigala hitam lagi. Ia menggonggong sekali dan duduk di rumput.

Si Gadis itu membuka tangannya dan bernafas lega, setidaknya ia tidak melihat tubuh telanjang lagi (walaupun ia menyukai tubuh Jungkook yang penuh otot). Gadis itu tersenyum, sangat bersinar hingga Jungkook merasa tersihir lagi oleh kecantikannya. “Aku bukan malaikat, maaf mengecewakanmu,” gadis itu tertawa kecil, bagaikan musik yang merdu di telinga Jungkook, “Tapi aku adalah peri, peri musim semi.”

Jungkook melihat bunga-bunga dan dedaunan yang melayang di sekitar mereka, kali ini lebih banyak. “Ehm…Apakah tempat ini wilayah teritorialmu?” peri itu tahu bahwa Jungkook adalah werewolf, dan werewolves pasti memiliki wilayah teritorial.

Jungkook menganggukkan kepalanya. Ia tidak bisa berbicara dalam wujud serigala. Peri itu pelan-pelan merangkak mendekatinya dan Jungkook tetap diam di tempat. Tangan gadis itu meraih puncak kepala Jungkook dan mengelusnya. Jungkook merengek dan menyandarkan kepalanya ke tangan gadis itu, meminta lebih. Peri itu tertawa, lalu menggaruk dan mengelus kepala Jungkook, serta daerah di sekitar telinganya.

Jungkook menundukkan kepalanya, lalu berguling, menunjukkan perutnya dan ekornya yang bergerak sangat cepat. “Oh, do you want a belly rub?” tanya Si Gadis itu yang disambut gonggongan senang dari Jungkook. Dengan senang hati, ia menggosok perut Jungkook.

Sebagai anggota termuda di packnya, Jungkook menerima banyak kasih sayang dari para Hyungnya. Namun, biasanya ia menghindar dari tangan mereka yang mau mengelusnya. Ia heran dengan dirinya sendiri yang dengan mudahnya menyerahkan diri ke gadis yang baru saja ia lihat. Mungkin, dia pengecualian baginya. Lagipula, sisi serigalanya tampak sangat bahagia dan nyaman.

Merasa puas, Jungkook akhirnya berguling kembali dan berdiri. Ia memandang gadis itu dan menyalak sekali, lalu mengayunkan kepalanya ke depan. Jungkook mengajaknya ke markas packnya, menyadari bahwa gadis itu butuh pakaian yang lebih layak di hawa yang dingin ini.

“Kamu mau aku mengikutimu?” tanya peri itu. Jungkook menyalak lagi mengiyakan. Ia kemudian memimpin perjalanan mereka. Ia berjalan di samping kaki gadis itu, dengan tingginya yang mencapai pinggang Si Gadis.

Saat sebuah rumah besar terlihat, Jungkook segera berlari ke pintu berwarna biru itu dan memukulnya dengan kedua kaki depannya. Suara langkahan terdengar dari dalam. Jungkook menoleh ke arah Si Peri, mengisyaratkannya untuk mendekat. Dengan ragu-ragu, ia mendekat.

Pintu biru itu terbuka oleh seorang pria berambut pirang kecoklatan. “Jungkook, siapa dia?” tanyanya.

Jungkook langsung menyelinap masuk dan berlari ke kamarnya, meninggalkan Hoseok dan Gadis itu berdua. Hoseok adalah Hyungnya yang baik, jadi ia pasti akan mempersilahkan perempuan itu masuk, tidak seperti Yoongi Hyung yang mungkin akan menutup pintu setelah Jungkook masuk.

“Ayo masuk,” Hoseok mempersilahkan gadis itu dengan senyum ramah. Gadis itu membungkukkan badannya, mengucapkan terima kasih, lalu masuk ke rumah yang terlihat nyaman itu. Gadis itu menganga, melihat rumah indah yang disuguhkan kepadanya.

Rumah itu terbuat dari kayu, namun, perabotan dan peralatannya modern. Ia melihat sofa yang di depannya ada tv, dapur yang memiliki kulkas, kompor listrik, dan oven, tangga memutar yang membawa ke kamar-kamar lantai dua dan juga rak buku di sudut lantai satu.

“Bagus, kan? Aku yang merancangnya,” ucap Hoseok yang mempersilahkan gadis itu duduk. Ia mengulurkan tangannya, “Jung Hoseok, namamu?”

Perempuan itu menyambut tangan Hoseok, “Aku tidak mempunyai nama biasanya, namun, orang-orang yang pernah melihatku memanggilku Bom.”

Jungkook tiba-tiba turun dari tangga, “Hei, itu tidak adil! Aku bertemu dengannya duluan tapi aku belum tahu namanya!”

“Salahmu sendiri kamu dalam wujud serigala!” balas Peri itu.

Jungkook menggerutu lalu mengulurkan tangannya, “Jeon Jungkook,” ucapnya sambil tersenyum, menampakkan giginya yang seperti kelinci.

“Bom,” Bom menggenggam tangan Jungkook sambil membalas senyumannya.

“Oke, Bom. Emmm… Kamu mau meminjam pakaianku? Aku yakin mereka lebih nyaman dipakai daripada daun dan bunga,” tawar Jungkook sambil mengusap lehernya.

Bom melihat pakaiannya sendiri. Pelan-pelan pipinya memerah. Sebagai peri, ia tidak terlalu polos tentang dunia manusia. Ia mengerti kegiatan dan kebiasaan manusia. Ia dulu sering bergaul dengan manusia, sampai akhirnya ia harus terus berpindah tempat agar tidak terbunuh. “Aku mau, hehe…” jawabnya.

“Oke, ikut aku,” Jungkook mengajaknya naik ke lantai 2, menuju kamarnya.

Hoseok hanya menggelengkan kepalanya, heran melihat Jungkook yang jarang bersikap seperti itu ke perempuan.
Jungkook menggali tumpukan baju lamanya dan memberikan hoodie dan celana pendek yang terkecil kepada Bom. Menariknya, Bom langsung memakai hoodie dan celana itu tanpa membuka busana daun dan bunganya. Melihat tatapan Jungkook yang bingung, Bom tersenyum, “Daun dan bunga ini akan langsung mengecil dan membesar sesuai ukuran tubuhku,” jelasnya.

Kini Jungkook bertambah bingung, sambil terus memandang Bom yang memakai hoodienya (mungkin Jungkook agak senang melihatnya).

“Ah…sebelum aku menunjukkan apa yang aku maksud,” Bom diam sebentar, merenung apakah ia harus mengatakan sesuatu, “Jungkook, kamu dulu tinggal di Busan?” tanya Bom, dengan wajah berharap.

Wajah Jungkook berubah menjadi kaget, “Ya, bagaimana kamu tahu?”

Bom tertawa kecil sambil menepuk tangannya, “Kalau begitu ini akan mengingatkanmu!”

Tubuh Bom tiba-tiba memancarkan cahaya dan dalam sekejap, tampak cahaya kecil seperti kunang-kunang, wujud yang sama seperti makhluk yang Jungkook mimpikan. Jungkook secara refleks tidak bisa menyaring kata-katanya, “HOLY SHIT! IT’S REAL,” dengan volume yang besar pula.

Hoseok yang sedang menyiapkan teh untuk Bom tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Ia berjalan ke ruang tamu dan memandang kamar Jungkook, “Jungkook kamu tidak apa-apa?” teriaknya dari bawah.

“Tidak apa-apa, Hyung!” balas Jungkook berteriak.

Setelah Hoseok berteriak oke, Bom kembali dalam wujud aslinya dan memakai hoodie serta celana Jungkook lagi. “Nah, daun dan bunga tadi tetap melekat di tubuhku,” celetuk Bom menjelaskan maksudnya tadi.”

Jungkook menarik kursi kerjanya dan segera duduk, “Oke, aku masih butuh waktu,” Jungkook mengusap wajahnya. “Jadi, mimpiku tadi pagi, aku saat masih kecil, saat di Busan, bermain dengan cahaya kecil seperti kunang-kunang, itu asli? Kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Hmm! Kamu lupa ya? Yah…Kamu masih berukuran kecil,” Bom membuat isyarat dengan tangan, tangan kiri di depan perutnya dan tangan kanan di depan dagunya, memperlihatkan betapa kecilnya Jungkook dulu, “Jadi, tidak apa-apa jika kamu lupa.”

“Hei, aku tidak sekecil itu, tahu,” Jungkook mencibir. “Jadi…Kamu…Jauh lebih tua daripadaku?” tanya Jungkook. Jungkook tidak tahu bahwa Bom sudah tua, wajah gadis itu terlihat terlalu… muda.

“Oh, seperti werewolves yang umur mereka berhenti saat berumur 20 tahun, peri juga berhenti, namun saat 16 tahun.”

Jungkook mengangguk mengerti. Memori-memori masa kecilnya di Busan mulai berputar di benaknya. Ia ingat dulu, dalam wujud serigalanya, ia bermain-main dengan Bom di hutan, sampai sore tiba. Ia ingat berlari kencang ke hutan saat pulang sekolah, hanya untuk bermain dengan Bom Kecil.

“Senang bertemu denganmu lagi, Bom,” Jungkook tersenyum, menampakkan gigi kelincinya dan daerah sekitar matanya yang berkerut.
“Aku akan mencarinya,” jawab Jungkook kepada Si Perawat Wanita. Si Perawat Wanita itu mengangguk, lalu berjalan menjauhi Jungkook. Jungkook menghembuskan nafasnya kasar. Ia mengambil bantal yang berada di kasur rumah sakit itu, dengan sprei yang kusut. Ia menerima telepon dari pihak Rumah Sakit bahwa Chan menghilang.

Jungkook menghirup aroma keringat yang menempel di bantal, berusaha mengingat aroma Chan dalam benaknya, untuk mencari keberadaan anak itu. Ia yakin, anak itu menuakan dirinya lagi agar tidak diketahui para perawat. Jungkook akan memarahi anak itu karena telah mengganggu perbincangannya dengan Bom nanti.

Mendapatkan bau Chan di udara, Jungkook segera mengikuti jejak bau tersebut. Ia mengerutkan alisnya, berusaha menebak motif apa yang dipunyai Chan hingga dia kabur. Hingga, bau itu menuntunnya ke lift. Oh, tidak, ucapnya dalam hati.

Jari telunjuknya menekan tombol naik lift, yang membuatnya semakin berkeringat. Tidak lama kemudian, lift itu berdenting dan membuka pintunya. Jungkook segera memasuki lift itu dan mengendus bau di tombol-tombol lift tersebut. Hidungnya berhenti di angka paling besar di antara tombol-tombol yang lain. Jungkook menelan ludahnya dan segera menekan tombol itu lalu berdoa, semoga dia tidak terlambat.

Kali ini, Jungkook langsung melesat ketika pintu lift terbuka. Dengan cepat, Jungkook menemukan pintu menuju atap rumah sakit dan langsung membukanya, menemukan tangga. Bau Chan semakin menguat, tandanya, ia berada di dekatnya. Tanpa ragu, Jungkook berlari naik.

Menjadi werewolf, itu artinya kamu memiliki indra penciuman, pendengaran, dan penglihatan yang lebih kuat. Satu lagi, kamu tidak cepat lelah. Tanpa terengah-engah karena berlari menaiki tangga, Jungkook membuka pintu ke atap dengan kasar, yang membuat pintu tersebut terbanting ke dinding. Benar, ia menemukan Chan di atap. Di ujung atap, siap untuk melompat.

Chan menolehkan kepalanya, terkejut dengan suara pintu yang dibanting terbuka. Ia mengenalinya, wajah seorang jurnalis yang memuat beritanya. Chan meringis, menunjukkan wajah polosnya.

Jungkook menarik nafasnya dan mendekati Chan. Ia tidak terlalu mahir dalam berkata-kata. Apalagi meyakinkan seorang anak untuk tidak bunuh diri. “Chan, apapun yang kamu pikir akan kamu lakukan, hentikan sekarang,” ucapnya agak bergetar.

Chan menaikkan sebelah alisnya, “Kenapa? Memangnya apa yang akan aku lakukan?”

“Apakah kamu bercanda? Jika seseorang berada di tepi atap yang tidak ada pagarnya, apalagi yang ia lakukan kecuali ingin melompat?” Jungkook menaikkan volume suaranya, merasa jengkel.

“Ah…Aku ingin melihat pemandangan di bawah sana, hehe,” Chan tertawa kecil.

“Omong kosong!” bentak Jungkook. Jungkook menarik nafas dalam-dalam, berusaha menahan emosinya. Memang, di antara hyungnya yang lain, emosinyalah yang paling mudah terpancing. “Ayolah, mendekat kepadaku, umurmu masih panjang dan masa depanmu masih cerah,” Jungkook melembutkan suaranya, berusaha meyakinkan Chan dengan putus asa.

“Masa depanku?” Chan memandang jauh ke depan, ke arah kota yang gemerlapan indah di kegelapan malam. “Aku rasa masa depanku sudah menjadi suram, sejak aku kecil, sejak orang tuaku tidak peduli kepadaku.”

Chan kini menghadap ke arah Jungkook, “Kau tahu? Sejak tadi pagi, aku melihat ke pintu, menunggu kedatangan orang tuaku yang mungkin hanya datang ketika aku berbuat onar. Yah, mungkin aku berharap terlalu banyak, karena mereka selalu sibuk. Yang datang hanyalah sekretaris mereka, selalu sekretaris mereka, yang memberi pesan bahwa aku sudah bukan menjadi anak mereka lagi.”

Mendengar cerita Chan, Jungkook mengepalkan tangannya. Orang tua macam apa yang memperlakukan anaknya seperti ini? Jungkook tidak habis pikir. Mungkin, itulah pikiran orang-orang milyuner yang tak berhati.

“Kamu bisa tinggal denganku, dengan hyung-hyungku juga. Kita akan membantumu, memberimu tempat tinggal yang aman dan nyaman, dan…” Jungkook teringat kata-kata yang dilontarkan Namjoon ketika ia direkrut menjadi anggota packnya, “Kamu akan bertemu keluargamu yang baru.”

Chan terdiam, seperti merenungkan perkataan Jungkook. Senyumannya tiba-tiba merekah di wajahnya. Jungkook mulai rileks, berpikir bahwa dia sudah menghentikan Chan.

“Terima kasih. Di detik-detik kepergianku ini, kamu telah menunjukkan kasih sayang dan kepedulian kepadaku,” ucap Chan dengan tersenyum, yang mencapai matanya.

“Namun, aku sudah lelah. Aku rasa aku tidak sanggup lagi menghadapi semuanya ini,” Chan perlahan mengambil langkah kebelakang.

“Tidak, tidak!” Jungkook membentak dan dengan cepat ia berubah wujud menjadi serigala, mengabaikan hoodie yang masih tergantung di badannya. Ia berlari dengan kecepatan yang tinggi, mungkin menjadi rekor tercepatnya seumur hidup.

Gigi-gigi tajam Jungkook berhasil menangkap kerah baju rumah sakit yang dipakai Chan. Jungkook merasakan sesuatu yang dingin, merayap di belakang tubuhnya yang berbulu tebal. “Jangan ikut campur, wolf boy,” bisik suatu wujud manusia yang berjubah hitam dengan bertudung, namun tanpa wajah. Bisikan itu menyebabkan sekujur tubuh Jungkook menggigil.

Chan memandang manik mata serigalanya, lalu tersenyum, seperti merasa tidak bersalah. Dengan cepat, wajah Chan menjadi muda dan tubuhnya menyusut.

Itu semua terjadi dengan sangat cepat. Tubuh Chan menjadi kecil, berwujud seperti bayi. Celana rumah sakit jatuh terlebih dahulu, diikuti Chan, yang berwujud bayi. Bayi itu terjatuh dari atap rumah sakit, lalu terbanting keras di depan pintu kaca rumah sakit.

Jungkook terdiam selama beberapa saat, berusaha memproses semuanya dalam otak. Gigi tajamnya perlahan melepaskan cengkraman baju Chan, membuatnya melayang di udara. Wujudnya berubah kembali menjadi manusia, lalu melihat beberapa orang telah mengerumuni bayi Chan yang bersimbah darah di bawah sana. Dengan pandangan kosong, Jungkook menuju ke celananya yang tergeletak tidak jauh darinya.

Wujud tak berwajah yang memakai jubah hitam tadi mengikutinya, memancarkan hawa dingin kemana ia pergi. Ia berdiri di sebelah Jungkook yang memakai celananya kembali. “Chan seharusnya sudah meninggal kemarin, sejak ia menabrak tiang, namun, pemimpinmu menyelamatkannya dengan mengambil rasa sakit anak itu,” ucap wujud mengerikan itu.

“Apa tujuanmu mengatakan itu, Grim Reaper?” Jungkook memandang wujud tak berwajah itu dengan tatapan sinis. Werewolf sepertinya dapat melihat Grim Reaper.

“Anak itu telah bertahan dari kecil. Ia anak yang kuat. Namun, bahkan orang terkuat pun, tanpa kasih sayang dan kepedulian, akan hancur.”
Jungkook menutup pintu rumah dengan keras, menyebabkan kepala semua orang yang menonton TV memandang ke arahnya. Semua hyungnya, kecuali Namjoon, sudah pulang dan sedang menonton TV. Ia juga melihat Bom di ujung sofa.

“Hari yang buruk, Kook?” tanya Yoongi yang kepalanya sudah mengarah ke TV lagi.

Jungkook tidak menjawab dan malah pergi ke dapur, mengambil sebotol air dingin dari kulkas dan langsung meminumnya. Ia kemudian berjalan lagi ke arah ruang tamu, mendekati sofa, ikut menyaksikan tayangan berita di TV.

Jimin memperhatikan raut wajah Jungkook. “Sudah pasti hari yang buruk,” ucapnya.

Tayangan TV itu justru malah membuat Jungkook semakin buruk. Berita itu meliput jatuhnya bayi dari atap rumah sakit, yang tidak lain adalah Chan.

“Wow. Itu hal yang gila,” celetuk Taehyung, mengomentari tayangan berita itu.

Tiba-tiba, pintu rumah terbuka dengan keras lagi. Kali ini pintu itu hamper terjatuh. “Namjoon, tolong! Pintu itu sudah diganti beberapa kali karenamu!” Seokjin memarahinya.

Namjoon menggumamkan maaf sebelum akhirnya ia memandang Jungkook. “Jungkook. Itu bukan salahmu,” ucapnya lembut.

Jungkook hanya berdeham dan meneguk air dingin lagi.

Namjoon mengusap rambutnya kebelakang, frustasi. “Chan dari dulu sudah tidak dianggap oleh orang tuanya. Ia hanya bisa hidup karena sekretaris orang tuanya yang mempersiapkan semuanya dari awal. Uang, sekolah, transportasi, semuanya. Namun, sekretaris itu hanya melakukannya karena ia tidak mau orang tua Chan disorot karena telah mengabaikan putranya. Penerus Carat Corp? Omong kosong. Itu hanyalah sebuah imej yang dipasang agar terlihat Chan adalah putra mereka yang tersayang, tetapi, mereka sudah memiliki penerus yang lain.”

Jungkook mengepalkan tangannya lagi. Mungkin kali ini kuku-kuku jarinya meninggalkan bekas di telapak tangannya. Nafasnya mulai tidak teratur, emosinya meluap lagi. Bahkan ia menahan geraman yang akan kabur dari tenggorokkannya.

Bom yang duduk di ujung sofa menyadari itu dan segera meraih tangan Jungkook. Ia menggeser ibu jarinya naik turun, menenangkan Jungkook. Herannya, Jungkook langsung tenang. Ia melirik Bom yang tersenyum kepadanya.

Jungkook menghembuskan nafasnya dan perlahan ia melepaskan genggaman hangat Bom. “Aku butuh istirahat,” ujarnya, lalu menaiki tangga.

Semua orang memandang Jungkook yang memasuki kamarnya. Kini, Yoongi memandang Namjoon, “Kamu harus menjelaskan apa yang terjadi, dari awal.”
“Ayo kita bermain kejar-kejaran!” ajak Bom kepada Jungkook yang sedang duduk di sofa sambil membaca koran.

Jungkook mengalihkan pandangannya dari koran, “Yakin? Kamu selalu tertangkap dengan cepat,” ejek Jungkook.

“Tapi,” Bom duduk di sebelah Jungkook, “kali ini berbeda! Kamu harus tetap dalam wujud manusiamu,” Bom memandangnya dengan mata yang licik.

Jungkook menolehkan kepalanya, sadar bahwa wajah mereka berdekatan. Ia menyeringai, “Dan kamu dalam wujud manusiamu juga?”

Bom tersenyum licik, mengikuti Jungkook, “Tidak! Aku pasti kalah kalau begitu. Kamu harus mengejarku yang dalam wujud kecil dengan tubuh manusiamu!”

Jungkook mendengus dan Bom berani bersumpah ia merasakan hembusan nafas Jungkook di wajahnya, mengingat dekatnya wajah mereka. Jungkook menyentil hidung Bom, “Siap, bos kecil.”

Bom menjauhkan wajahnya dari Jungkook, dengan semburat warna merah muda yang mulai muncul di pipinya. Ia bangkit berdiri, “Ayo, kalau begitu! Sekarang saat yang bagus untuk merasakan angin musim semi!” Bom lalu menyingkir dari sofa dan berjalan menuju pintu.

Jungkook hanya menggeleng-geleng heran. Sudah sebulan Bom tinggal di rumah nyaman di tengah hutan itu. Selama sebulan itu juga, Bom selalu berusaha menyemangati Jungkook dengan cara mengajaknya bermain di hutan. Agak kekanak-kanakkan memang, namun, Jungkook suka dengan terpaan angin yang bertiup di bulu-bulu tebal serigalanya. Bisa dikatakan, Bom berhasil membuat Jungkook bangkit dari keterpurukannya atas kejadian Chan.

Diluar, Bom sudah menunggu. “Ayo, kenapa kamu lambat sekali? Aku sudah mencium bau-bau kekalahan di dirimu,” Bom meledeknya lagi.

“Aku harus memasang sepatu, oke? Wujud serigalaku tidak membutuhkan sepatu, namun wujud manusiaku membutuhkannya,” ucap Jungkook yang akhirnya keluar dari rumah dan menutup pintu.

Tidak ada siapapun di rumah, mengingat hyung-hyungnya yang sedang bekerja. Jungkook biasanya juga memburu berita di jam-jam sore seperti ini, namun, ia sudah mendapatkan berita tadi pagi. Jadi, ia bisa bersantai di rumah.

“Kamu siap?” tanya Jungkook, memandang mata Bom yang sudah berapi-api dengan semangat ingin mengalahkannya.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu,” Bom tertawa licik. “Kamu siap untuk menangkapku?”

“Oh, aku lebih dari siap.”

“Bagus. Dalam hitungan ketiga, kita mulai.”

Jungkook mencondongkan badannya, bersiap untuk berlari. Karena ia tahu, Bom itu sebenarnya licik, jadi, ia akan langsung mengucapkan tiga.

“TIGA!” teriak Bom yang dengan sigap mengecilkan dirinya, merubah wujudnya menjadi seperti kunang-kunang yang menyala terang.

Cahaya itu melesat dengan kencang, membuat Jungkook yang dalam wujud manusianya tertinggal. Biasanya, ia dapat dengan cepat melompat ke arah Bom, menyampaikan isyarat bahwa ia sudah tertangkap. Namun, sekarang, terdapat jarak yang lumayan jauh diantara mereka.

Mungkin kecepatan maksimal Jungkook tidak dapat mengalahkan kecepatan makhluk kecil itu. Atau mungkin, Jungkook memang sengaja meninggalkan jarak bagi mereka, membiarkan Bom merasa menang. Yah, mungkin sekali-sekali ia akan berpura-pura kalah.

Tidak beberapa lama kemudian, mereka sampai di dekat sungai, tempat mereka pertama kali bertemu. Bom terlihat menghentikan terbangnya. Melihat itu, Jungkook memelankan larinya dan berpura-pura membungkuk, mengatur nafas. Padahal ia tidak lelah dan terengah-engah. Ia hanya ingin membuat Bom merasa senang telah mengalahkannya.

“Yay! Kamu tidak bisa menangkapku! Oh, aku sudah tahu kelemahanmu sekarang~” ledek Bom yang sudah kembali dengan ukuran manusia. Ia menjulurkan lidahnya kepada Jungkook.

“Kamu tidak tahu rasanya berlari dengan dua kaki mengejar sebuah cahaya yang melesat dengan cepat,” jawab Jungkook lalu duduk di atas rumput dan merebahkan dirinya. Mungkin Taehyung akan memujinya atas kehebatan aktingnya.

Bom pun ikut merebahkan dirinya di rumput, di sebelah kanan Jungkook. “Oh, ayolah, apakah kamu sudah lelah?” tanyanya sambil menolehkan kepalanya ke arah Jungkook.

“Menurutmu?” Jungkook menolehkan kepalanya, memandang wajah puas Bom. Jungkook tersenyum, menampakkan gigi kelincinya sambil terus mengatur nafasnya hingga terlihat ia terengah-engah.

Bom memperhatikan dada Jungkook yang naik-turun dengan cepat, “Pasti,” jawabnya lalu terkekeh.

Mereka terdiam, menikmati terpaan angin yang menyejukkan, mendengarkan aliran sungai yang menenangkan, dan menonton langit sore yang indah. Bom memandang ke sekelilingnya, melihat hanya rumput hijau yang berada di dekatnya.

Ia menyapukan tangannya ke rumput, membawa lengannya turun dari sebelah kakinya sampai ke atas kepalanya. Bunga-bunga primrose dan tulip yang berwarna ungu, biru, kuning, dan merah mulai tumbuh di sekitar mereka.

Jungkook memiringkan badannya, memandang Bom yang tersenyum tipis melihat hasil kerjanya. Jungkook mendengus, “Kita harus melompati mereka nanti,” ia teringat bahwa dulu Bom pernah memarahinya karena telah menginjak bunga.

“Harus,” Bom melototkan matanya.

Mereka berdua dilanda kediaman lagi, kali ini wajah mereka saling memandang. Jarak mereka dekat, yang mereka baru sadari sekarang, walaupun tidak sedekat tadi di sofa.

Kelopak mata Jungkook terasa berat, hal yang umum sekali terjadi saat ia membaringkan dirinya di atas rumput. Lama-kelamaan, kelopak matanya menutup. Bom mengulurkan tangannya ke arah kepala Jungkook.

Ia mengusap rambut Jungkook perlahan, membuat laki-laki di depannya itu menghela nafas yang rileks. Ia bahkan lebih mendekatkan kepalanya ke tangan Bom. Bom tertawa sebentar melihat tingkah Jungkook, lalu membuat mahkota bunga berwarna biru di kepala laki-laki yang setengah sadar itu.

Jungkook membuka matanya perlahan, merasakan kantuk yang mulai menyerangnya. Ia menyaksikan Bom yang membuat mahkota bunga berwarna merah muda di kepalanya sendiri. Jungkook tersenyum simpul, “Jadi, kita seperti…Pangeran dan putri musim semi?” tanyanya berbisik.

Bom tersenyum, menampakkan eye smilenya, “Yah, kamu bisa anggap seperti itu.”

Setelah itu, Jungkook memejamkan matanya lagi, diikuti dengan Bom.

Tertidur dikelilingi oleh bunga-bunga yang berwarna-warni dan dimahkotai bunga, mereka benar-benar tampak seperti pangeran dan putri musim semi yang saling mencintai.
“Jungkook. Dia hanya seekor anjing.”

Sudah satu setengah bulan Bom tinggal bersama Jungkook. Mereka berdua semakin dekat, sampai para penghuni rumah heran, kenapa mereka tidak (belum) berpacaran. Hari ini hari minggu, semua hyung Jungkook, kecuali Namjoon, tidak bekerja. Oleh karena itu, mereka menyuruh Jungkook dan Bom untuk pergi ke supermarket, karena mereka masih ingin beristirahat.

Jungkook dan Bom sudah menjadi sangat dekat sampai mereka mengenal kebiasaan masing-masing. Seperti Bom yang selalu tidur tepat jam 10 malam, selalu meminum coklat panas tiap hari, dan selalu menghabiskan waktunya menonton TV atau bermain di hutan. Lalu Jungkook yang selalu terlambat bangun tidur, selalu berlari pagi menyusuri hutan dengan wujud serigalanya, dan selalu melakukan push-up 100 kali sehari.

Memang mereka dekat, namun, Bom masih heran mengapa Jungkook menggeram ke anjing kecil berwarna coklat sekarang.

Anjing itu menggeram dan menampakkan gigi taringnya. Geraman itu dibalas oleh Jungkook yang tidak kalah menggeram dengan suara yang lebih keras, bahkan, ia ingin meraung, tetapi, ia menahannya. Iris mata Jungkook menyala warna merah.

Jungkook tidak biasanya menggeram kepada anjing seperti ini. Ia bahkan cinta kepada anjing. Tetapi, anjing kecil berwarna coklat yang kurang ajar ini telah mengencingi roda mobil Jungkook.

“Jungkook, dia hanyalah seekor anjing kecil! Hentikan!” Bom memohon sambil melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang yang melihat kejadian konyol ini.

Bom sudah berusaha mengusir anjing itu, namun anjing itu tetap berada di tempatnya, menggeram dengan berani ke arah Jungkook. Mungkin anjing itu masih belum tahu seberapa bahayanya menantang Jungkook.

Sudah dua menit kiranya berlalu, dan keduanya masih saling menggeram. Bisa gawat kalau orang-orang melihat ini. Bom meletakkan tas kertas belanjaan yang daritadi dipeluknya di jalan, lalu meraih tangan Jungkook. Biasanya, Jungkook langsung tenang, namun, kali ini tidak.

Mereka berdua tetap menggeram, bahkan anjing itu dengan berani menggonggong ke arah Jungkook. Menyadari bahaya setelah mendengar gonggongan itu, Bom berpikir dengan terburu-buru, apa yang harus ia lakukan sebelum Jungkook menyabik-nyabik anjing itu.

Tidak ada cara lain. Bom menarik nafasnya lalu dengan sigap mencium pipi Jungkook. Semoga saja hal itu dapat membuat Jungkook diam.

Berhasil. Jungkook terdiam dan membelalakkan matanya. Ia menolehkan kepalanya ke arah Bom, masih memproses apa yang barusan terjadi. Did she just kiss me? Pikirnya.

Bom memanfaatkan momen itu untuk mengusir Si Anjing Yang Kurang Ajar. Menyadari anjing itu tetap tidak menyingkir, Bom segera menggendong anjing itu dan membawanya jauh dari Jungkook.

Setelah beberapa saat, ia kembali sambil membersihkan tangannya. Ia melihat Jungkook yang masih terdiam. “Jungkook, ayo masuk,” ucapnya pelan. Ia merutuki dirinya karena telah mencium pipi Jungkook tanpa berpikir lebih jauh. Memang, penyesalan selalu datang di akhir (tetapi Bom sebenarnya tidak menyesal).

Jungkook mengambil kunci mobilnya dan membuka pintu kursi belakang, meletakkan tas belanjaan yang ia peluk dengan satu tangan daritadi dan tas yang diletakkan di jalan oleh Bom tadi. Bom segera membuka pintu kursi penumpang dan langsung masuk.

Jungkook tersenyum lebar saat ia memasuki mobil. “Jika aku mengetahui itu yang akan kamu lakukan kepadaku, mungkin sudah dari dulu aku menggeram kepada seekor anjing,” celetuknya.

Bom hanya melirik Jungkook yang tersenyum seperti orang mabuk, yah, mungkin mabuk oleh cinta. “Jungkook, ayo pulang. Semuanya menunggu di rumah,” perintahnya.

Jungkook akhirnya mengalihkan pandangannya dari Bom dan menyalakan mesin mobil. “Siap, Putriku,” ujarnya dengan nada jahil.

Bom hanya mendengus sambil menghindari menatap wajah Jungkook, karena wajahnya pasti memanas jika melihat wajahnya.

Di perjalanan Jungkook menyodorkan tangan kanannya (mobil di Korea setirnya berada di sebelah kiri) di depan wajah Bom. “Tangan kananku merasa kedinginan, mau menghangatkannya?” goda Jungkook.

Bom kali ini menolehkan kepalanya, “Jungkook. Kamu adalah werewolf! Kamu tidak akan kedinginan,” Bom memandangnya geli.

“Oh, kalau begitu, ia merasa kesepian, mau menemaninya?” Jungkook menggoyangkan tangannya di depan wajah Bom.

Bom menghela nafasnya, heran dengan tingkah Jungkook yang aneh sejak dari ia menggeram kepada anjing kecil. Ia akhirnya menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Jungkook, “Menyetirlah dengan benar,” perintahnya sekali lagi.

Senyum Jungkook kini bertambah lebar, “Aku sudah terbiasa menyetir dengan satu tangan, kita aman,” Jungkook memastikan. Ia menarik tangan Bom yang sedang ia genggam dan mencium punggung tangan sang dara.

Bom ingin menarik tangannya, melepaskan genggaman Jungkook, namun, Jungkook menahannya. Bom tahu sendiri kalau melawan kekuatan Jungkook adalah suatu kesalahan besar, jadi, ia pasrah.

Jungkook tertawa lepas melihat telinga dan pipi Bom yang memerah. “Kenapa kamu baru malu sekarang? Kamu tadi berani mencium pipiku. Kamu harus bertanggung jawab jika aku menginginkannya lagi.”

“Jungkooook…” Bom menyembunyikan wajahnya dengan tangan kirinya.

Jungkook tertawa lagi melirik Bom. Kini, mobilnya berhenti karena lampu merah. Ia mendapatkan ide.

“Bom, singkirkan tanganmu dari wajahmu,” perintahnya lembut. Bom perlahan menurutinya. Jungkook akhirnya melancarkan idenya. Ia mencium pipi Bom sekilas.

“Setiap kali mobil ini berhenti karena lampu merah, aku akan mencium pipimu sampai kamu menerimaku menjadi kekasihku,” Jungkook menjelaskan idenya.

“Jung-” perkataan Bom terpotong oleh ciuman lembut Jungkook di bibirnya. Jungkook hanya melepas ciuman itu ketika ada suara klakson.

Jungkook segera kembali memperhatikan jalan dan tanpa melepaskan genggamannya, ia memajukan mobilnya lagi. “Anggap itu sebagai bonus,” ucap Jungkook.
Lampu lalu lintas Seoul sepertinya bekerja sama dengan Jungkook. Mobil Jungkook terhentikan oleh lampu merah selama 3 kali, bahkan mereka baru separuh perjalanan. Dengan pipi yang sudah sangat merah, Bom akhirnya berkata, “Jungkook, oke, stop! Aku akan menjadi kekasihmu.”

“Hah, akhirnya. Kamu tidak bisa mengabaikan pesonaku, kan?” Jungkook menyentuh pelan hidung Bom.

Bom tersenyum, “Yah…Kamu sudah menarik hatiku sejak kecil.”

Jungkook terdiam sejenak, kali ini gilirannya yang tersipu malu. “Wow. Oke. Kalau begitu ayo kita ulang,” Jungkook menarik nafasnya, bersiap mengatakan sesuatu yang memalukan, seolah-olah perbuatan sebelumnya itu tidak menggelikan. “Bom, Putri Musim Semi. Maukah kamu menerima Jeon Jungkook sebagai pangeran musim semimu?”

Bom mengerang, mulai berpikir seberapa jauh Jungkook bisa melakukan dan mengatakan hal-hal menggelikan itu. “Pangeran Musim Semi? Jungkook, aku adalah peri musim semi, bukan putri musim semi,” bantahnya lalu terkekeh.

“Tapi aku menganggapmu sebagai Putri Musim Semi,” Jungkook mengecek lampu merah di luar mobilnya. “Cepat, kamu mau menerimaku atau tidak?”

Bom mendekatkan mulutnya ke telinga Jungkook, lalu berbisik, “Tentu saja aku mau.” Bom mengecup pipi Jungkook sekali lagi.

Jungkook membelalakkan matanya lagi, namun dengan cepat pundaknya dipukul oleh Bom, “Jungkook, lampu hijau!”

“Hyung! Ada kecelakaan di Jalan Yongdu cepatlah kesana dan kirim ambulans!” ucap Jungkook di telepon, menghubungi Namjoon. Ia dengan cepat mematikan teleponnya dan keluar dari mobil, berlari ke arah pria yang tergeletak itu.

Jungkook berusaha mengingat plat nomor mobil yang pengemudinya menyadari bahwa ia sedang berlari. Pengemudi mobil tersebut segera memasuki mobilnya dan melesat pergi, meninggalkan pria yang tergeletak bersimbah darah di tengah jalan.

Setelah mengirimkan pesan plat nomor mobil itu ke Namjoon, Jungkook menyimpan ponselnya dan berlutut di sebelah pria itu. Ia menggenggam tangan Sang Pria dan mengambil rasa sakit yang diderita pria yang sudah berumur itu. Jungkook menggenggamnya dengan sangat erat, berusaha mempertahankan agar pria itu tetap hidup bersamanya.

“Bertahanlah,” ucap Jungkook yang masih memegang tangan pria yang bajunya sudah basah karena darah. Jungkook meletakkan kepala pria itu di pangkuannya sambil menunggu ambulans atau Namjoon Hyungnya datang.

Menunggu 5 menit, akhirnya Namjoon datang dengan wujud serigalanya yang berwarna coklat dan hitam, dengan membawa tas ransel kecil di punggungnya. Ia berlari ke arah Jungkook dan langsung merubah wujudnya menjadi manusia, lalu ikut menggenggam tangan pria itu yang satunya.

“Hyung,” ucap Jungkook dengan lirih. Menyerap rasa sakit membutuhkan energi yang sangat banyak, apalagi menyerap rasa sakit itu artinya kamu memindahkan rasa sakit itu ke tubuhmu. “Pakai pakaianmu dulu.”

“Jungkook, menolong orang ini lebih penting daripada aku memakai pakaianku. Dahulukan orang lain sebelum dirimu, ingat?” bantah Namjoon.

“Hyung, tidak apa-apa. Aku akan menjaganya.”

Namjoon menghela nafasnya. “Bertahanlah, aku akan memakainya dengan cepat,” ucapnya sebelum melesat ke belakang mobil Jungkook dan memakai baju disana.
Jungkook disuruh Namjoon untuk pulang dan beristirahat setelah ia mengirimkan beritanya. Jadi, sekarang Jungkook berada di kamarnya, mengetikkan berita yang ia dapat dari kecelakaan tadi. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintunya.

“Ya?” jawabnya pelan. Kejadian tadi benar-benar menguras tenaganya. Ia tahu siapa yang ada diluar, mengenali baunya.

“Jungkook, bisa tolong bukakan pintumu? Hehe,” pinta Bom dari luar.

Jungkook mau tak mau membukakan pintu untuk seseorang yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu. Ia disambut oleh Bom yang membawa dua cangkir coklat panas dengan beberapa permen marshmallow di dalamnya.

“Coklat hangat?” tanya Bom sambil menyodorkan secangkir coklat hangat ke Jungkook.

Jungkook tersenyum tipis dan mengambil cangkir berwarna hitam itu, “Trims,” ucapnya sebelum meminum coklat hangat tersebut.

Bom mengangguk, lalu mengikuti Jungkook yang duduk di kursinya lagi. Jungkook meletakkan cangkirnya di meja. Bom juga menaruh cangkirnya di meja lalu memijat pundak Jungkook. Jungkook mendongakkan kepalanya, memandang wajah Bom.

“Sudah selesai?” tanya Bom sambil terus memijat Jungkook.

“Belum, sebentar lagi,” jawab Jungkook yang masih memandang Bom.

“Selesaikan dulu, nanti aku ceritakan sesuatu,” Bom mengacak rambut Jungkook lalu mengambil cangkir coklat hangatnya. Ia mengedarkan pandangannya ke arah rak manhwa Jungkook dan mengambil salah satu buku itu yang menurutnya menarik.

Tidak beberapa lama kemudian, Jungkook sudah mengirimkan beritanya dan sudah menghabiskan coklat hangatnya. Ia melemparkan dirinya ke kasur, berbaring di sebelah Bom, yang juga tiduran membaca manhwa.

“Jadi, apa yang ingin kamu ceritakan?” tanya Jungkook yang tubuhnya menghadap ke Bom.

“Jadi…Hmm,” Bom juga memiringkan badannya, “sebelum hubungan kita bertambah dekat lagi, aku harus memberitahumu sesuatu.”

“Kamu sering mendapatiku tertidur, kan? Lalu sulit dibangunkan?” tanya Bom.

Jungkook mengingat bahwa ia mendapati Bom tertidur di tengah hutan, saat hari sudah hampir gelap. Ia sudah mencoba membangunkannya, namun, tidak berhasil. Padahal, setahunya, Bom sangat mudah dibangunkan dengan suara sekecil apapun atau dengan sekali sentuh. Tidak hanya itu juga, ia sering melihat Bom tertidur di sofa, di meja makan, bahkan di lantai, yang mengharuskannya menggendong Bom ke kamar tidur tamu berkali-kali.

“Ah itu, sebenarnya, aku dan para hyung ingin menanyakan itu kepadamu. Apa yang terjadi?” Jungkook diam-diam berdoa, semoga saja tidak terjadi apa-apa terhadap Bom.

“Aku adalah peri musim semi. Aku…” Bom terdiam sejenak. “Hanya hidup saat musim semi. Waktuku mulai menipis,” jelas Bom.

Jungkook mengerutkan dahinya, “Apa maksudmu?”

“Jika sudah berganti musim, aku akan tertidur sangat lama, sampai musim semi tiba lagi. Aku hanya aktif selama tiga bulan dan ini sudah satu setengah bulan, aku mulai melemah dan sering tertidur tanpa sadar. Oleh karena itu, aku bertanya kepadamu, apakah kamu masih ingin melanjutkan hubungan kita?”

Jungkook diam untuk beberapa saat. “Kamu hanya tertidur, kan? Kamu masih bisa bangun lagi saat musim semi?” tanyanya dengan harap.

“Ya, aku tetap hidup, hanya saja, aku tertidur sepanjang tahun, apakah ka-”

“Tidak masalah,” perkataan Bom segera diputus oleh Jungkook. “Aku akan menunggumu. Sampai musim semi tiba lagi, aku akan menunggumu. Aku akan menemuimu saat kamu terbangun nanti dan aku akan membuatmu teringat kembali kepadaku, jika kamu melupakanku.”

Bom tersenyum simpul mendengar perkataan Jungkook. “Terima kasih, Jungkook,” ucapnya lembut.

“Anything for you, my princess,” jawab Jungkook yang matanya mulai menutup.

“Tidur, kamu pasti lelah,” Bom mengusap jarinya ke pipi Jungkook.

Jungkook menggenggam tangan itu, “Tidurlah bersamaku?”

“Jungkook, Seokjin Oppa akan memarahimu jika aku tidur bersamamu,” Bom menyentil dahi Jungkook.

Jungkook mendengus, “Biarkan saja,” ia meraih saklar lampu kamarnya yang terletak di dekat kasur. Kemudian, ia memeluk Bom dan menempelkan dahi mereka. “Selamat tidur,” ucapnya lirih.

“Selamat tidur, Jungkook.”
Setengah bulan lagi, Jungkook mendapat telepon dari Namjoon, bahwa daerah territorial mereka telah diserbu oleh sekelompok manusia. Namjoon memiliki keistimewaan seperti itu, merasakan kehadiran makhluk-makhluk di daerah teritorialnya, menjadi ketua dari pack mereka. Namjoon memberitahunya dengan terburu-buru, merasa panik karena selama mereka hidup disana, tidak ada yang berani melangkahkan kakinya di hutan itu.

Jungkook disambut oleh pemandangan keenam hyungnya yang mengitari hutan dengan wajah khawatir dan panik. Ia segera berlari ke arah mereka, dalam wujud manusia, “Apa yang terjadi?”

“Pemburu,” jawab Hoseok singkat. Ia mencabut panah hitam yang tertancap di pohon.

Taehyung berjongkok di dekat pohon yang tertancap panah, memandang rerumputan dan bunga warna-warni yang berada di sekitar pohon itu. “Aku rasa Bom telah ditangkap,” ucapnya ragu-ragu.

Sebelum Jungkook mengucapkan sesuatu, Yoongi membentaknya, “Bukankah ini salahmu?” Ia menggeram.

“Mengapa aku?” Jungkook balik menggeram.

“Kamu mengekspos hutan ini ke beritamu, ingat?” Seokjin bertanya dengan pelan, tidak ingin memancing emosi Jungkook lebih jauh lagi.

“Itu…” Jungkook memasang wajah kosong. “Itu bulan lalu! Hutan ini tenang-tenang saja sebelumnya,” Jungkook membantah.

“Kamu tidak tahu apa rencana para pemburu, Jungkook,” sahut Jimin. Ia kemudian mengendus panah yang dicabut Hoseok, “Aku rasa ini bukan pemburu yang biasa kita temui dulu.”

“Lalu apa yang kita harus lakukan? Kita harus menyelamatkan Bom,” Jungkook berkata pasrah. “Aku minta maaf atas kelalaianku.”

Yoongi menubruk bahu Jungkook dengan kasar, “Lain kali berpikir dulu sebelum bertindak, Jeon Jungkook,” ia menggeram, kali ini mungkin geramannya sudah tidak terdengar manusiawi lagi.

“Yoongi, tenang,” Seokjin menengahi sebelum Yoongi dapat membuat Jungkook meluapkan emosinya.

“Kita harus berhati-hati,” ucap Namjoon yang baru saja menutup teleponnya, setelah menelepon 2 orang. “Wonho, pemburu yang sering kita temui dulu, mengatakan bahwa yang menangkap Bom adalah kumpulan pemburu dari beberapa klan. Kita akan memasuki markas pemburu, jadi, kita butuh bantuan.”

“Wonho tidak terlibat dalam ini?” tanya Taehyung memastikan. Memang, Wonho, pemimpin kelompok pemburu makhluk-makhluk ajaib yang paling tenar, namun, mereka sudah menjalin hubungan damai sejak 5 tahun yang lalu.

“Tidak. Kita mendapat bantuan dari beberapa temanku di kepolisian, karena itu akan menjadi tindakan bunuh diri jika kita kesana sendirian,” jelas Namjoon, memandang wajah anggota packnya.

“Jadi, ada yang tidak mau ikut?” tanya Seokjin memastikan. Bom adalah teman mereka sekarang, atau, mungkin dapat dikatakan ia menjadi bagian keluarga mereka. Seokjin melihat tidak ada yang mengacungkan jari.

“Ayo, kita berangkat, sebelum semuanya terlambat,” ujar Jungkook, dengan iris matanya yang berubah menjadi merah sekilas.
Sebuah gudang tua yang terletak di pinggir kota mulai muncul di pandangan Jungkook. Berdasarkan informasi yang Namjoon dapatkan dari Wonho, para pemburu menyimpan Bom di situ. Seokjin yang duduk di kursi penumpang menoleh ke belakang, menghadap ke arah Jungkook yang sudah mulai memperhatikan gudang tua itu dengan mata yang berapi-api.

“Jungkook,” panggilnya lembut. Jungkook langsung menolehkan kepalanya ke Seokjin dan mengangkat sebelah alisnya.

“Apapun yang terjadi nanti, tolong kendalikan dirimu sebelum kamu bertindak,” Seokjin memperingatkan, tidak mau kejadian yang dahulu terulang lagi, dimana Jungkook selalu terluka karena ia langsung menyerang tanpa berpikir.

Jungkook mengangguk dan menolehkan kepalanya ke jendela mobil lagi, melototi gudang tua itu. Pikiran Jungkook mulai kacau. Ia merasa telah gagal melindungi kekasihnya, padahal, sebagai werewolf, melindungi orang yang mereka sayangi adalah hal yang utama.Werewolves terkenal sangat protektif terhadap orang yang mereka cintai, namun, Jungkook malah membahayakan nyawa orang yang dicintainya.

Mobil yang mereka kendarai berhenti, diikuti oleh segenap mobil polisi yang berada di belakangnya. Mereka segera keluar dari mobil dan berjalan menuju gudang tua itu. Namjoon dan beberapa rekan polisinya berada di deretan depan.

Amarah Jungkook mulai meluap. Ia menangkap bau darah Bom di gedung tua itu. Ia merasa marah, karena para pemburu dengan lancangnya telah menyakiti orang yang dikasihinya. Ia merasa marah, karena ia sendirilah yang membuat semua penderitaan Bo mini terjadi.

Namjoon menggedor pintu gudang itu, menyebabkan debu-debu berterbangan dan kayu-kayu yang membangun gudang itu berbunyi retak. “Ini polisi Seoul, jika anda tidak keluar sekarang, kami akan mendobrak masuk,” ujar Namjoon sambil terus mengetuk pintu.

Mereka menunggu beberapa detik, tetapi, tidak ada orang yang kunjung membuka pintu, padahal, para werewolves tahu, ada kira-kira 9 orang di dalam sana. Namjoon memandang ke arah polisi-polisi yang lain, yang kira-kira berjumlah 10, lalu mereka saling mengangguk. Dengan suara pelan Namjoon menghitung, “1…2… 3,” ia menendang pintu gudang dengan sangat keras, hingga pintu itu terjatuh terbelah dua.

Semuanya terjadi dengan cepat. Para pemburu yang sudah berdiri mengarahkan senapan mereka ke depan dan siap menarik pelatuk senapan mereka. Para polisi yang juga menyimpan senapan di saku mereka ikut mengarahkan senapan mereka. Kedua kubu itu saling menatap dengan tajam.

“Dimana kalian menyembunyikan Bom?” tanya Namjoon geram.

Pemburu yang di tengah menyeringai, “Di belakang, ada sebuah ruangan, ia kami tahan disana. Lagipula, kalian para werewolves tidak akan bisa kesana,” jawabnya dengan bangga. Pria itu terlihat seperti pemimpin mereka.

Jungkook menggeram, bersiap-siap mengaum dan berubah menjadi serigala mendengar perkataan itu. Jimin dan Taehyung yang berada di sebelahnya menahan Jungkook dengan tangan mereka. Melihat kejadian itu, pemburu yang di tengah menjadi lebih senang, “Oh, kalian mempunyai anggota yang sulit mengendalikan diri?”

Yoongi menggeram, “Kita memang seperti ini jika menyangkut keluarga kami.”

Mereka bercakap-cakap, mengalihkan perhatian mereka sehingga Hoseok mengambil bom asap yang ia siapkan di kantungnya. Dengan sigap, Hoseok melemparkan bom asap itu ke depan para pemburu.

Peluru-peluru mulai ditembakkan. Sesuai dengan rencana, Jungkook segera melesat mencari Bom. Tanpa bersusah payah, karena telah sering berlatih dengan bom asap bersama hyung-hyungnya, Jungkook dengan cepat lolos dari medan perang para pemburu dengan kelompoknya.

Ia menyusuri koridor gudang itu, sekarang terbebas dari asap. Ia mencium bau darah Bom yang mulai bertambah kuat, beserta bau seorang manusia. Tampaknya ia dijaga oleh seorang pemburu. Tanpa berpikir lebih jauh, berlawanan dengan apa yang sudah Seokjin katakan kepadanya, Jungkook segera berlari mencari sumber aroma darah Bom yang manis itu.

Ia tidak sadar. Ia seharusnya mengetahuinya dari awal. Kini, Jungkook terjebak di dekat pintu kamar yang menyimpan Bom disana. Ia seharusnya tahu, bahwa pemburu itu telah memperingatinya dan ia seharusnya ingat, bahwa pemburu pasti akan meninggalkan perangkap. Jadi, disinilah dia, satu meter dari pintu, terjebak di perangkap tak kasat mata dengan pemancar gelombang ultrasonic yang memekakkan telinganya.

Laki-laki itu jatuh berlutut sambil menutupi telinganya. Ia menutup matanya, mengerang kesakitan. Ia merasa putus asa, tidak bisa bergerak lebih jauh lagi. Ia merasa putus asa, tidak bisa menyelamatkan kekasihnya yang hanya terpisah jarak satu meter darinya.

Jungkook tersadar, bahwa semakin lama ia berdiam disini, semakin cepat nyawa Bom terkuras. Ia mendapat kabar dari Namjoon bahwa para pemburu menginginkan darah emas Bom, yang bisa menyembuhkan penyakit apapun di dunia ini. Jungkook memfokuskan pikirannya, ia harus bisa keluar dari jangkauan gelombang ultrasonik ini.

Dengan iris matanya yang berubah menjadi berwarna merah, Jungkook mengaum, mengeluarkan suara yang bukan seperti suara manusia lagi, lalu berdiri dengan perlahan dan berjalan meraih gagang pintu yang ada di hadapannya. Satu langkah, dua langkah. Ia melangkah dengan perlahan, melawan suara yang melemahkannya itu.

Akhirnya, Jungkook memutar gagang pintu dan menerjang masuk, hanya untuk ditembak oleh pemburu di bahu kirinya. Ia mengerang, tangan kanannya menutupi bahu yang tertembak itu. Laki-laki berambut coklat itu mendengar suara lirih Bom.

Pemburu laki-laki itu hendak menembaknya lagi, namun, dengan segenap kekuatannya yang tersisa, Bom mengeluarkan batang-batang pohon yang lentur dari telapak tangannya, menarik senapan itu dari genggaman sang pemburu dan melemparkannya jauh. Jungkook yang melihat itu langsung mengucapkan terima kasih dan menerjang si pemburu. Dengan sekali pukulan, pemburu itu jatuh tersungkur di lantai.

“Jungkook,” bisik Bom yang terlihat lemah menyandar di dinding. Di sebelah kirinya terdapat 3 buah kantung darah berwarna emas.

Jungkook duduk di sebelah Bom dan langsung memeluknya. Ia memeluknya dengan erat, lalu perlahan, mencium bibir lembut peri itu, mengambil alih segala macam rasa sakit yang dideritanya. Kekuatannya begitu kuat, hingga mungkin ia menyembuhkan sedikit luka-luka yang tersebar di tubuh Bom.

“Sshhh…Aku minta maaf,” ucap Jungkook seusai melepaskan ciuman mereka. Ia mengusap kepala Bom dengan hati-hati, takut menyakitinya. “Ini tidak akan terjadi lagi, kamu aman sekarang. Aku akan melindungimu.”

Bom menutup matanya, kali ini ia bisa bernafas dengan lega.
Butuh waktu satu minggu bagi Bom untuk memulihkan dirinya. Itu artinya, sudah satu minggu Jungkook menyalahkan dirinya dan menghindari semua orang. Hatinya merasa hancur ketika ia mengingat Bom yang penuh dengan luka dan wajah yang pucat itu, semua karena dirinya. Ia merasa tidak pantas lagi untuk berada bersama Bom.

Jungkook, ia sering disebut anggota paling kuat di packnya. Ia pintar dalam segala hal, melacak, melindungi, dan menyerang, ia mahir dalam hal itu. Namun, kelemahannya sejak dulu adalah…ia tidak mau berpikir sebelum melakukan sesuatu. Ia terlalu sering dikendalikan emosinya, sehingga ia tidak bisa berpikir secara jernih sebelum ia menerjang untuk menyerang.

Jungkook berhenti dari dunia jurnalis. Ia merasa tidak cocok lagi dengan pekerjaan yang membuat malapetaka bagi orang-orang. Ia menyadari betapa kejamnya dunia hiburan itu. Lelaki itu sadar, bahwa ia telah melakukan banyak kesalahan dalam hidupnya sebagai jurnalis.

Selama seminggu, Jungkook suka menyendiri di tepi sungai, tempat ia dan Bom pertama kali bertemu. Ia suka merenung dengan wujud serigalanya. Kini, ia berada di sana, melakukan hal yang sama, memikirkan nasib hidupnya.

Tiba-tiba, serigala hitam itu mendengar suara rumput yang terinjak. Ia menolehkan kepalanya. Sudah pasti. Bom sedang berjalan ke arahnya, terlihat lebih segar dan lebih hidup daripada keadaannya sewaktu di gudang. Ia baru kali ini melihat keadaannya, salahkan dirinya yang tidak berani melihat keadaan Bom saat ia dirawat di rumah.

Serigala itu segera berlari dengan kencang ke arah Bom, lalu mendekatkan badannya ke kaki perempuan itu. Memasang wajah khawatir, Jungkook merengek sambil memandang wajah Bom dengan mata coklatnya.

Bom tersenyum, sudah mengetahui apa yang dikatakan Jungkook, “Tidak apa-apa. Aku sudah kuat dan sehat seperti biasa.”

Mereka berdua berjalan ke tepi sungai yang mengalir tenang itu, duduk di tengah-tengah bunga yang pernah dibuat Bom waktu itu. Bom melihat tumpukan baju yang tergeletak di sampingnya. Ia mengambil baju itu dan menyerahkannya ke serigala hitam yang masih memandanginya dengan wajah khawatir.

“Jungkook, sembunyilah di belakang pohon itu,” Bom menunjuk ke arah pohon yang berdiri tidak jauh di samping kanan mereka. “Pakai bajumu, aku akan menunggu disini,” Bom pun duduk bersila setelah Jungkook menggigit tumpukan baju itu.

Tidak beberapa lama, Jungkook yang sudah memakai baju duduk di samping kanan Bom. Bom pun memusatkan perhatiannya kepada Jungkook. Ia melihat Jungkook yang masih memandang ke depan, takut akan dirinya. “Jungkook, lihat aku,” perintahnya lembut.

Jungkook terlonjak kaget dari lamunannya, yang membuat Bom tertawa kecil. Ia akhirnya memandang wajah Bom, wajah yang dirindukannya.

“Hyung-hyungmu memberitahuku bahwa kamu tidak pernah menjengukku selama aku tidak sadar. Aku juga tidak melihatmu mengunjungi kamarku saat aku sudah sadar. Kenapa?”

Jungkook kini memberanikan diri, “Aku merasa diriku tidak pantas lagi menjadi pangeranmu. Kamu tahu? Aku seharusnya melindungimu, bukannya malah menyakitimu.”

Bom meraih pipi Jungkook dan mengusapkan ibu jarinya, “Jungkook. Kamu telah menjadi ksatria yang menyelamatkanku dari situ. Setelah menyelamatkanku, kamu bilang, bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi, kan?”

Jungkook mengangguk. Ia bersumpah ia akan melindungi Bom 24 jam seminggu dan selamanya.

“Bagus, itulah yang ingin aku dengar,” ucap Bom, kini mendekatkan wajah mereka. “Aku memaafkanmu, jadi, jangan lakukan hal itu lagi,” perempuan itu semakin mendekatkan wajah mereka, lalu pelan-pelan mengecup bibir Jungkook.

Bunga-bunga primrose dan tulip yang berwarna-warni mulai bertumbuh lagi di sekitar mereka. Bau wangi bunga-bunga itu mulai berterbangan.

Di antara mereka, tercium bau cinta yang sangat kuat. Di antara mereka, tercium bau pengampunan yang tidak ada batasnya.
Jungkook kini bekerja sebagai guru tari, di tempat yang sama seperti Hoseok dan Jimin. Ia terkadang tampil di atas panggung, dengan Bom yang selalu menyorakinya dengan semangat, meskipun waktunya semakin menipis. Jungkook selalu menggendongnya ke kamar tiap hari, karena Bom yang sering tertidur tiba-tiba, namun, ia sama sekali tidak keberatan.

Hari terakhir musim semi, mereka berdua berjalan ke hutan pagi-pagi sekali. Bom sudah berpamitan dengan Seokjin, Yoongi, Namjoon, Hoseok, Jimin, dan juga Taehyung, yang sudah menjadi keluarganya. Mereka, sama seperti Jungkook, akan merindukan kehadirannya dan akan menunggu kehadirannya.

Sekarang, Jungkook dan Bom sudah berada di sebuah pohon yang besar, rumah Bom sebelum ia bertemu dengan keluarga kecilnya. Jungkook menggenggam pakaian lamanya, yang menjadi pakaian terakhir Bom, sebelum ia tertidur sepanjang tahun nanti. Ia mengendus pakaian itu, mencium aroma manis perempuan yang dicintainya.

Bom memandang Jungkook, lalu tiba-tiba memeluknya dengan erat. “Aku akan merindukanmu. Aku akan terus memimpikanmu dalam tidurku, dan aku akan selalu menunggu musim semi tiba,” ucapnya dengan matanya yang mulai berair.

Jungkook mengusap punggung Bom, “Aku juga akan merindukanmu. Aku juga akan terus memimpikanmu, dan aku juga akan selalu menunggu musim semi tiba,” Jungkook menirukan perkataan Bom.

“Jangan lupakan aku,” perintah Bom yang sudah melepaskan pelukannya.

“Aku tidak akan melupakanmu. Kamu juga jangan melupakanku,” Jungkook mengusap air mata Bom yang jatuh.

“Tidak akan.”

Keduanya berciuman untuk terakhir kalinya pada tahun ini, sebelum akhirnya Bom mulai merasakan kantuk yang menyerangnya. Mengucapkan selamat tinggal, Bom mengecilkan dirinya dan memasuki lubang kecil yang ada di pohon itu. Perlahan, lubang kecil itu menutup.

Jungkook menghela nafas panjang. Baru sedetik, namun ia sudah merindukan kehadiran Bom di sisinya. Ia meletakkan tangannya di pohon itu sejenak, lalu akhirnya berjalan kembali ke rumahnya.

Hanya dibutuhkan satu musim semi, untuk mengubah hidup seorang lelaki sepenuhnya.

Hanya dibutuhkan satu musim semi, untuk seorang lelaki memperbaiki dirinya.

Hanya dibutuhkan satu musim semi, untuk membuat dua makhluk hidup, yang seperti cahaya dan kegelapan, untuk menemukan cinta mereka.

 

Advertisements

40 thoughts on “[SEG Event] Hunting News and Blooming Flowers

  1. Ga salah aku dengerin rekomendasi temenku kalo fanfic yg satu ini bagus… Nyatanya ga cuma bagus… Tapi BENER BENER BAGUS BANGET…. Aku baca ini,, feel nya dapet banget :’)
    Good Job! Lanjutkan ya! 🙆

  2. Mantap , saya diberi tahu fans saya kalo ada cerita yang bagus , ternyata benar ,tidak sia sia saya membaca cerita ini

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s