EXISTENCE; Jiyeon Ver. [Chapter 5]

existence-jiyeon-ver

Existence by. Keiko Sine

{Jiyeon Ver.}

Sad-Romance || Angst || – Teen

Chaptered

Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Kim Jongin

Others.

Credit > Sfxo @IFA

I OWN THE STORY AND PLOT. DON’T COPY OR PLAGIARIZE!

PRE: [Chp1][Chp2][Chp3] [Chp4]

Ada sebuah legenda bahwa ketika kau membuat seribu origami burung bangau (crane) maka keinginanmu akan dikabulkan oleh burung-burung tersebut.”

***

“Apakah kau pernah melihat seseorang yang siap untuk mati?” Kata Jiyeon di tengah keheningan saat ia dan Kai berkeliaran di ruang istirahat, meminum kopi mengerikan itu lagi.

“Oh Tuhan, Jiyeon.” Kai berada tepat di depannya, “Aku tahu bahwa hampir setiap hari kau mengunjungi Rumah Sakit, tapi tetap saja berbicara seperti itu tidaklah baik.”

Jiyeon melambaikan tangannya di udara, “Bukan aku, bodoh.”

“Oh… Oh! teman barumu itu? ”

“Ya.”

“Aku tidak bisa mengatakan lebih karena aku tidak sedang mengalaminya. Tapi aku akan lebih suka menangis dan meratap tentang tidak bisa hidup lebih lama lagi.” Jawab Kai menatap lurus mata sahabatnya.

“Benar, tapi itu hanya…” Jiyeon meniup kopi di dalam cangkir styrofoam. “Ini semacam tindakan abnormal. Sesuatu yang tidak biasa, dia— tidak biasa.”

“Itu masuk akal… Katakanlah, apakah kau akan baik-baik saja di masa depan?”

“Tanyakan padaku lagi ketika aku sudah ada di masa depan.” Jiyeon tersenyum miris lalu berjalan mendahului Kai.

 

***

 

Kapan itu terjadi?

Apakah itu ketika pertama kalinya Myungsoo tersenyum padanya?

Apakah itu ketika mereka mengalami kemajuan dalam berinteraksi dan percakapan bisa mengalir begitu lancar?

Kapan tepatnya ia mulai membiarkan Myungsoo menempati tempat khusus di hatinya?

Pertanyaan-pertanyaan ini berputar-putar di benaknya saat ia melihat perawat Lee mengubah infus peralatan lelaki itu.

Kapan?

Mengapa?

Bagaimana?

Sebenarnya, pertanyaan tentang bagaimana hal itu terjadi dapat dengan mudah dijawab Jiyeon. Bagaimana bisa dia tidak marah ketika Myungsoo mencibirnya dengan ucapan-ucapan sarkasme? Bagaimana bisa dia tidak menertawakan setiap hal kecil yang keluar dari mulut lelaki itu? Bagaimana bisa dia tidak jatuh untuk kepribadian Myungsoo yang sangat lucu dan aneh?

Sangat mudah sebenarnya untuk dijawab, tetapi apa yang terjadi sekarang?

Kepalanya mulai terasa berat saat pikirannya berteriak tidak, tidak, dan tidak.
Apa yang terjadi sekarang?

Dadanya terasa sesak dan amarah berkecamuk di dadanya.

Dia sudah tahu apa yang akan terjadi.

 

Myungsoo akan mati dan mengakui cintanya kepada lelaki itu tidak ada gunanya lagi.

Jadi dia tidak mengatakan apa-apa demi melindungi Myungsoo.

 

Duduk di kursi biasa, gemerisik dari sakunya mengalihkan perhatian Jiyeon saat Myungsoo melipat kertas dengan sangat lambat. Suara di sakunya mengingatkan bahwa Jiyeon telah mengambil fortune cookie. Dia membuka kue, secarik kertas kecil keluar radi dalam kue kering tersebut.

Dengan cepat membacanya dalam hati, Jiyeon meremas kertas kecil tersebut di telapak tangannya, mencemooh ironi. Sontak Myungsoo berhenti melipat, menatap ke arah Jiyeon.

“Apa yang dikatakan fortune cookie itu?”

“Kebahagiaan merayap kepadamu secara diam-diam hingga kau tidak dapat melihatnya, tapi kemalangan datang dengan sangat tiba-tiba.”

“Itu kue keberuntungan itu cukup akurat.” Myungsoo tersenyum getir.

“Sejak kapan fortune cookies menjadi begitu akurat?”

“Setidaknya sesuatu di dunia ini akan benar. Kita semua membutuhkan kebaikan dan keberuntungan kecil dengan cookie itu.”

Jiyeon hanya tertawa, “By the way, anak-anak rindu melihatmu.”

 

Mengalihkan pandangannya ke arah jendela, kertas crane terletak di pangkuan Myungsoo saat ia berbicara dengan lembut. “Itu bagus.”

Itu bukan reaksi Myungsoo yang Jiyeon harapkan.

Bahkan, sikap menjengkelkannya pun tampaknya dia sangat kesakitan.

.

.

***

” Jiyeon-ssi.”

Jiyeon selesai minum syrup peach saat Perawat Lee berjalan di koridor. Menyipitkan matanya, dia memperingatkan Jiyeon, “Aku masih mememperhatikanmu.”

Jiyeon hanya tersenyum malu-malu, “Maaf, kami cukup membuat kerusuhan hari itu.”

“Uh huh.” Perawat Lee berbalik untuk pergi, tapi berhenti untuk mengucapkan beberapa kata lagi. “By the way, tuan Kim selalu tampak kecewa ketika saya membuka pintu kamarnya.”

Jiyeon tersenyum, memahami implikasi dari kata-kata Perawat Lee. “Dia pasti mengharapkan aku yang membuka pintu itu.”

“Saya juga berharap begitu.” Perawat Lee tersenyum saat ia kembali berjalan pergi.

Kadang-kadang, Dahye tidak bisa memahami karakter seperti apa yang sedang dimainkan perawat itu. Terkadang sangat cuek dan kasar, dan sewaktu-waktu bisa menjadi lebih baik dari yang dapat ia bayangkan.

..

..

..

 

Muyngsoo harus melihatnya datang.
Tapi ia hanya tidak tahu kapan. Apa yang dia tidak tahu adalah bahwa akibatnya tidak akan dapat diterima. Setelah lelaki itu pergi, semuanya akan berakhir, dan akan meninggalkan benang yang tak terlihat dan kenangan-kenangan mereka

Dan itu tidak akan pernah cukup.

 

Jiyeon berhenti di depan pintu, tidak mampu membawa diri untuk membukanya.

Bagaimana jika malam ini adalah malam ‘itu’?

Bagaimana jika di balik pintu itu, yang berbaring di tempat tidur yang adalah tubuh dengan jantung yang berhenti berdetak?

Mengambil napas dalam-dalam, menampakkan senyum terpaksanya saat pintu slide terbuka.

Nampaknya Myungsoo masih terjaga, tangannya gemetar saat ia berjuang untuk menulis pada selembar kertas. Perlahan-lahan, dia menutup matanya saat ia menyingkirkan tangannya, meletakkan notebook dan pena disamping tubuhnya.

“Hai.”

“Hai, apa yang ingin kau tulis? Aku akan menuliskannya untukmu.” Memantapkan tangannya, Jiyeon berujar dengan penuh perhatian. Dia mengambil notebook biru milik Myungsoo, berusaha membantu si pirang untuk menuliskan puisinya.

“Roses are red, violet are blue, aku terlalu lemah untuk melakukan sesuatu, sial, aku bahkan tidak bisa menyanyi.”

Jiyeon berhenti menulis, mengerutkan kening saat ia memperhatikan wajah pucat lelaki disebelahnya.

“Apakah itu yang benar-benar kau inginkan untuk kutulis? Yang bahkan sajaknya tidak diletakkan dengan cara yang benar. ”

“Tidak ada cara yang tepat untuk meletakkan sajak.”

“Oh yang benar saja.”

Perlahan-lahan, Myungsoo berbicara.

I am not who I used to be

In fact, I am better

What I have gained

Cannot be measured by tangibility

Jiyeon berhenti berkedip, menatap mata Myungsoo, mencoba membaca wajahnya. “Is that all?”

Myungsoo hanya tersenyum, kemudian menutup matanya, “Itu saja. Terima kasih. Aku akan tidur siang sekarang. ”

“Myungsoo.”

“Hrm?” Dia membuka sebelah matanya.

“Kau benar-benar romantisis.” Ucap Jiyeon pelan sambil menarik bibirnya menjadi sebuah senyuman.

Mereka berdua tersenyum.

.

.

***

 

Jiyeon mulai bermimpi, mulai menyusun ide-ide dan pemikiran seperti apakah keadaan Myungsoo jika ia sehat. Ini sangat jelas— dia bisa melihat si lelaki pirang duduk di bawah pohon oak di atas rumput hijau, menulis puisi, dan menyangkal bahwa dia romantis. Jiyeon melihat senyum cerah dan mendengar suaranya saat ia membacakan puisi-puisinya. Dia melihat mata cokelat indah Myungsoo yang dipasangkan bersama-sama dengan seringai andalannya.

Dan kemudian Jiyeon terjaga.

Mimpi ini melakukan apa saja yang ia bisa, kecuali menjadikan mimpi itu keluar dari layar dan menjadi kenyataan. Mimpi itu mengejeka ketika Jiyeon menutup matanya, membuatnya tidak ingin membuka mata selamanya.

Ini kejam, benar-benar, dan mimpi-mimpi itu tidak akan berhenti. Jiyeon berpikir mimpi secara alami datang karena dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk tahu seperti apa keadaan Myungsoo jika lelaki itu sehat. Rasa ingin tahu yang tidak akan pernah puas.

Terus terang, dia tidak tahu apakah dia akan bisa melihat si pirang sehat.

 

***

Mimpi terburuknya menampar Jiyeon dengan keras ketika di hari ia berjalan ke ruangan Myungsoo, namun kosong.

Myungsoo tidak ada.

Panik, Jiyeon bergegas kembali ke koridor, mata memindai sekitar untuk mencari Perawat Lee. Untungnya, Perawat Lee berada disudut koridor menyebabkan Jiyeon berlari dan tersandung ke arahnya dengan kaki gemetar.

“M-Myungsoo.” Mulutnya kering saat kata-kata berjuang untuk keluar. “Di mana Myungsoo?”

Perawat Lee menutup clipboard-nya saat membantu Jiyeon menstabilkan napas.

“Harap tenang… Myungsoo telah dipindahkan ke unit perawatan intensif.”

Terjadi.

Tidak ada banyak waktu yang tersisa.

 

..

..

..


Terdapat kabel yang melekat pada tubuh Myungsoo, membuatnya hampir terlihat tidak manusiawi. Tertidur, ia bernapas dengan lembut saat Jiyeon berdiri di hadapannya.

Myungsoo yang berada di tempat tidur, tapi malah Jiyeon yang gemetar di hadapannya, air mata mengancam tumpah.

Mengetahui bahwa lelaki itu akan segera meninggal tidak membuat hal itu lebih mudah bagi Jiyeon.
‘Dimana keluarga lelaki ini?’

***

 

Jiyeon merosot kembali ke kamar anak-anak untuk memeriksa mereka. Akan lebih baik untuk menghibur anak-anak bahkan ketika dia tidak merasa terlalu senang.
Kyungsan berjalan mendekatinya dengan perlahan saat yang lain duduk di tempat tidur mereka, mamandang Jiyeon khawatir.

“Apakah Sleepy Ahjussi akan baik-baik saja?”

Akhirnya terjadi. kakinya melemas saat ia jatuh berlutut di depan Kyungsan. Jiyeon hanya bisa memeluk anak kecil itu, dengan mata berair dan anggota badan gemetar.

“Ajhumma tidak tahu.”

“Aku suka Sleepy Ahjussi.”

“Aku juga, Kyungsan.” Air mata jatuh saat ia berbisik lembut. “Aku juga.”

 

***

Ketika Myungsoo terbangun, Jiyeon ada tepat di sisinya. Dia membutuhkan waktu beberapa menit untuk mengenali lingkungannya.

Perlahan-lahan dia berbicara, “Pagi.”

Jiyeon hanya mencemooh respon. “Pagi.”

Jiyeon ingin bertanya bagaimana keadaan lelaki itu, tetapi dalam kenyataannya, dia sudah tahu. Mereka berdua tahu.

Bahasa tubuhnya mengatakan itu semua tanpa Jiyeon harus repot bertanya. Di bawah selimut terdapat kaki yang serapuh tongkat, paru-paru yang kehabisan napas, dan lengan yang menjadi terlalu lemah dan tidak nyaman bahkan untuk melipat crane atau menulis.

“Ingat ketika aku bertemu dirimu untuk yang pertama kali, kau bisa naik ke tempat tidur dan berjalan sendiri, bergerak dengan cara yang kau inginkan.”

 

Myungsoo berbicara perlahan, “Inilah aku dua minggu setelah itu.”

“Bisakah kau percaya ini sudah empat bulan?”

“Terasa seperti selamanya.”

“Aku tidak berharap untuk menghabiskan setiap malam denganmu.”

“Aku tidak mengharapkan orang untuk—” Myungsoo menghentikan kalimatnya, “Tapi …”

“Apa?”

“…Tidak ada.”

 

Jiyeon hampir tidak mendapatkan istirahat, tapi dia masih muncul ke rumah sakit. Dia bahkan datang lebih awal dari biasanya. Ketika dia masuk ke ruangan ICU, dia tahu. Dia duduk di sebelah Myungsoo, tangannya menggenggam tangan si pirang.

Itu aneh untuk memegang tangannya. Ini adalah pertama kalinya mereka bersentuhan dan itu akan menjadi yang terakhir. Api yang pernah menyala di mata Myungsoo sekarang telah menjadi bara.

Sudah waktunya.

“Apakah kamu takut?”

Kalimatnya pendek dan memerlukan waktu untuk Myungsoo menjawab, “Tidak, tapi aku merinding.”

“Jadi kau memperhatikan cerita,” Jiyeon tersenyum miris saat mengingat dia pernah membacakan cerita untuk Myungsoo namun lelaki itu malah mengatainya ‘bodoh’. “Apakah setelah semua ini kau akan—.” Jiyeon menggantungkan kalimatnya.

“Mungkin.” Jawab Myungsoo singkat.

 

Jiyeon meremas tangannya dengan lembut, mata tidak pernah meninggalkan wajah Myungsoo.

“Apakah kau akan berbohong bahkan sampai akhir? Katakan saja langsung untuk kali ini saja. ”

“Aku tidak pernah berbohong kepadamu.”

“Aku tahu.”

“Aku pikir… tongkat abu-abu si ibu peri akan datang segera.”

“Kau benar-benar memperhatikan cerita yang kubacakan. Katakan padanya ‘halo’ untukku. ” Jiyeon semakin kuat menahan air matanya agar tidak tumpah.

Gigi Myungsoo membentuk senyum kecil. ” Jiyeon.”

 

“Ya?”

“Aku akan menemuimu di neraka.”

“… Bahkan sampai akhir kau akan terus bertingkah seperti ini.”

“Aku harus.” Myungsoo hanya tersenyum kemudian berbisik lembut. “Aku harus pergi.”

“Aku tahu.”

Jiyeon tahu apa yang akan Myungsoo katakan selanjutnya. Jangan katakan itu, tidakkah ia mendengar jeritan hatinya.

“Selamat tinggal untuk saat ini.”

“Selamat tinggal.”

Jeda lembut terjadi saat mesin balok disebelah mereka berbunyi dengan nyaring konstan saat jantung lemah itu telah benar-benar berhenti berdetak. Terus bergema saat Jiyeon meremas tangan itu untuk terakhir kalinya.

Sama seperti itu, dia sudah pergi.

.

.

-TBC-

Author Note:

Aihh.. Chapter 5nya sedih.. maapkan author yang menjadikan alur cerita seperti ini..

Jujur nih aku pas ngetiknya sempet mau nangis. L huhuuuu

Ayoo… komennya kalau gak mau chapter depan alias chapter akhir saya protect.

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

 

Advertisements

20 thoughts on “EXISTENCE; Jiyeon Ver. [Chapter 5]

  1. 😭😭😭 kenapa sesingkat itu kisah mereka. Myungsoonya bener meninggal hiks… belum ngungkapin perasaan. Atau memang lebih baik gitu ?

  2. yaaa Myung jangan mati donk..
    Myungpun belum ngungkapain perasaannya hiksss
    semoga Myung bangun lagi hiksss
    andwaeee

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s