Just Realize [Chapter 2]

PicsArt_03-10-11.48.46

Just Realize Chapter 2

By : purimtya

Main Cast : Lee Haesoo (IU), Song Mino (Winner), Kim Taehyung (BTS), Park Jiyeon (T-ara)

Genre  Romance, Teen, Friendship, Family

 

@Taehyung’s pov

Jam kecil berbentuk persegi panjang berwarna monokrom telah menunjukkan pukul 6 pagi. Cahaya menyilaukan yang bersumber dari jendela kamarku langsung menyeruak menerpa tubuhku sesaat setelah pelayan rumah membuka tirai kamarku. Aku yang masih mengantuk sedikit protes atas tindakannya. Aku memang sulit sekali jika disuruh bangun pagi, bahkan bunyi jam alarm pun aku tidak mendengarnya. Alhasil kedua orangtuaku selalu meminta para pelayan untuk membangunkanku jika sudah tepat jam 6 pagi agar aku lekas membersihkan tubuhku untuk berangkat sekolah. Appa dan eomma memang terkenal sangat disiplin dimata anak buah mereka, dan aku sadar kenapa aku juga harus didisiplinkan seperti mereka. Sebagai seorang anak tunggal, tentu kedua orangtuaku tidak akan mendidikku secara sembarangan. Meskipun mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka tidak pernah menelantarkanku layaknya orangtua sibuk pada umumnya. Mereka selalu menyempatkan waktu untuk sekedar menyapa putranya yang tampan ini.

“Taehyung-ah, ireona sayang, Sudah waktunya untuk mandi. Dan cepat turun kebawah, kita sarapan bersama.” Ucap eommaku hangat.

Eomma sangat cantik sekali, dia menularkan kecantikannya padaku. Ya.. Meskipun tidak berarti akupun juga cantik, melainkan tampan. Setidaknya kata penyemangat itulah yang sering kudengar dari teman-teman wanitaku.

“Ahh eomma, aku merasa belum tidur lama. Pasti appa mempercepat lagi kan jamnya  ?” Ucapku sambil menarik kembali selimut agar menutupi seluruh badanku.

“Tidak sayang, appamu belum kesini tadi, ini memang sudah jam 6 sayang.”

“Eomma, Taehyung masih mengantuk..”

“Ayolah sayang, kau harus segera mandi. Kalau tidak appamu akan marah nanti. Ayo cepat, eomma akan bilang pada appa kalau kau sedang mandi. Eomma tunggu dibawah sayang.” Ucap eomma seraya tangannya yang jahil menarik selimutku hingga jatuh ke lantai.

“Ahh eomma…” aku berteriak merajuk dan terpaksa harus bangun untuk pergi mandi sebelum orangtuaku yang jahil mencoba mengusiliku lagi. Kemarin appaku yang usil, ia mengubah laju jam dikamarku satu jam lebih cepat dari sebelumnya. Tentu saja aku kalang kabut, begitu para pelayan membuka tirai jendela aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Padahal sekolahku masuk pukul setengah 8 dan aku sama sekali belum bersiap-siap, mandipun belum. Ternyata para pelayan bilang kalau appa mengerjaiku, dasar Appa !

Seperti yang eomma minta, aku bergegas membersihkan diri di kamar mandi, tak butuh waktu lama aku sudah keluar dengan seragam lengkap khas anak sekolah. Tentu sedikit aku modifikasi, karena aku tidak suka jika harus mengenakan pakaian yang sangat formal. Seperti gayaku yang biasanya, kemeja sekolah kukeluarkan separuh agar terlihat sedikit lebih liar, dan jas almamaterku kubiarkan kancingnya terbuka. Benar-benar my style !

Aku menuruni tangga menuju ruang makan yang tepat disamping tangga ini. Kulihat kedua orangtuaku sudah menyantap terlebih dahulu makanan mereka.

“Good morning.” Seruku menyapa mereka berdua.

“Selamat lagi Taehyung-ah, ayo cepat habiskan sarapanmu.” Jawab ayahku.

Dengan beberapa potong roti tawar dan berbagai macam selai beraneka rasa, aku mulai mengoleskan selai rasa coklat ke atas rotiku.

“Bagaimana dengan sekolahmu Taehyung-ah ?” Appa memulai pembicaraan pagi ini dengan pertanyaan yang membosankan.

“Yah seperti biasa appa, menurutku tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Anakmu ini baik-baik saja appa.”

“Bukan itu yang appa maksud Taehyung, dasar kau ini. Maksud appa, apakah nilai-nilaimu menurun atau tidak.?”

“Ahh appa, yang aku maksud juga itu, nilaiku baik-baik saja. Hehe.” Gurauku melihat perubahan ekspresi appa yang sedikit kesal terhadapku.

“Oiya Taehyung-ah, appa dan eomma mendapat undangan dari ayahnya Haesoo untuk hari Selasa nanti. Apa pihak sekolah juga diundang ? Seperti yang kita tau, ayah Haesoo kan sangat dekat dengan pihak sekolah.”

Pertanyaan eomma sedikit membuatku mengerutkan kening sejenak, undangan apa ? Pesta kah ? Kenapa Haesoo tidak memberitahuku kalau dirumahnya akan mengadakan pesta.

“Mollayo eomma, Haesoo tidak membicarakannya padaku. Memang undangan apa eomma ?”

“Lohh, ini kan acara yang sangat penting bagi Haesoo ? Dia belum memberitahu teman-temannya ?”

“Acara yang penting untuk Haesoo ? Acara apa eomma ? Ulang tahun Haesoo kan masih lama.” Aku menghentikan kegiatanku memakan sarapan hanya karena terlalu penasaran dengan pembahasan kami pagi ini.

“Bukan ulang tahun bodoh, tapi pesta pernikahan ayahnya.” Ucap appa yang sedikit membuatku membelalakkan mata.

“Apa ? Pesta pernikahan ?” Pikiranku langsung teringat pada saat kemarin ia bilang appanya ingin membicarakan sesuatu padanya. Dan kemarin juga aku menelponnya dia menjawab telponku tapi tidak bicara apa-apa. Apa dia baik-baik saja ?

“Emm appa, eomma.. Taehyung berangkat sekarang ya. Kalian tidak ingin kan anak kesayangan kalian ini terlambat sekolah ? Aku berangkat ya. Appa nanti hati-hati dijalan, jangan biarkan paman Han menyetir dengan ugal-ugalan. Eomma hati-hati dirumah ya.. Anakmu berangkat dulu eomma ! Bye.”

Setelah mengecup pipi eomma aku langsung menuju garasi untuk mengambil mobil merah kesayanganku. Tidak tau kenapa aku sangat tergesa-gesa, mungkin karena aku menghawatirkan keadaan Haesoo.

@Author’s pov

Haesoo berangkat sekolah pagi-pagi sekali, tapi ia tidak langsung menuju kelas melainkan menuju ruang klub dance. Ia berdiam diri diruangan itu, menenangkan pikirannya dengan keheningan yang tercipta diruangan itu. Tak terasa Haesoo sudah didalam ruangan itu selama setengah jam tanpa melakukan kegiatan apapun. Dengan malas Haesoo berjalan menuju kelasnya. Sebenarnya ia sangat tidak ingin untuk sekedar masuk sekolah setelah apa yang terjadi kemarin, tapi Haesoo tidak punya pilihan lain. Jika ia tetap berada dirumah sekarang, ia akan selalu melihat muka perempuan yang akan menggantikan eommanya itu. Sekarang dia memang sudah tinggal di rumah Haesoo, karena appanya sudah memutuskan tanggal pernikahan mereka. Apa yang bisa Haesoo lakukan, entah kenapa untuk masalah ini appanya sama sekali tidak bisa dibujuk  oleh Haesoo. Mau tidak mau Haesoo memang harus menerima kenyataan. Haesoo berjalan seperti orang yang telah kehilangan arah, pandangannya kosong sehingga menabrak seseorang yang berdiri untuk melihat papan pengumuman dimading. Haesoo tersadar dan melihat orang yang baru saja ditabraknya. Sungguh ia sangat terkejut melihat sosok perempuan ini. Park Jiyeon. Jiyeon tampak dengan santai mengenakan seragam sekolah khas sekolah Haesoo.

“Ya! Kenapa kau ada disini. Apa yang kau lakukan pada seragam ini.”

“Eonni, mulai hari ini appa bilang kalau aku harus bersekolah disini dan berangkat bersama eonni setiap hari. Tadi aku diantar appa, tapi mulai besok harus berangkat bersamamu eonni.”

“Appa kau bilang ? Siapa ayahmu siapa ayahku ? Dia itu ayahku, kau tidak pantas memanggilnya appa.”

“Sudahlah eonni, ini permintaan appa. Lagipula beberapa hari lagi dia akan sah menjadi appaku juga.”

“Jangan bermimpi Jiyeon ! Sebenarnya apa sih yang kau inginkan ? Uang ? Tanpa harus mengorbankan eommamu, aku bisa kok memberimu uang, aku tau kau ini memang orang miskin !” Teriakan Haesoo cukup keras hingga berhasil membuat murid lain yang kebetulan lewat refleks  menoleh kearah mereka.

“Hei lihat, itu Haesoo, ada apa ya ? Kenapa dia marah-marah seperti itu ?

“Iya itu Haesoo, dengan siapa ya dia bicara ? Apakah murid baru ? Aku tidak pernah melihat orang itu sebelumnya. Tapi kenapa Haesoo langsung marah-marah ?”

“Kudengar ayah Haesoo akan menikah lagi, dan sepertinya itu anak calon ibu tirinya.”

Desas-desus para murid lain yang terdengar sangat jelas di telinga Haesoo membuatnya ingin membungkam mulut mereka satu-persatu. Tanpa memperdulikan Jiyeon dan dan murid lain, Haesoo berjalan meninggalkan mereka menuju ruang kelasnya. Masih pagi saja Haesoo sudah dibuat kesal bukan kepalang hanya karena bertemu Jiyeon hari ini. Entah Haesoo tidak tau apa jadinya jika harus bertemu dengannya setiap hari.

@Haesoo’s pov

Hahhh, aku bisa gila jika begini terus, bagaimana bisa appa langsung memindahkan Jiyeon begitu saja ke sekolahku. Aku menelungkupkan wajahku diantara lengan yang kuletakkan di mejaku. Sesaat setelah kurasakan ada yang membelai rambutku, akupun menengadah untuk melihat siapa orang itu. Seperti yang kuduga, orang itu adalah Taehyung.

“Taehyung-ah…” aku menghambur untuk memeluknya. Entah kenapa, aku merasa sangat membutuhkan dia sekarang.

“Aku sudah mendengar semuanya Haesoo, eomma dan appa sudah menerima undangan itu.” Ucapnya dengan jemari tangannya yang masih mengelus puncak kepalaku.

“Aku tidak menginginkan semuanya seperti ini Taehyung, baru kali ini appa menentang apa yang aku inginkan.”

“Mungkin sudah saatnya kau membuat ayahmu bahagia Haesoo, selama ini kan kau selalu bahagia dengan semua hal yang diberikan ayahmu secara cuma-cuma. Dan sekaranglah saatnya ayahmu mendapatkan kebahagiaan. Beliau pasti juga merindukan kasih sayang seorang istri Haesoo-ya.”

“Tapi aku belum pernah mengenalnya Taehyung, akan berbeda situasinya jika sebelumnya aku sudah mengenal mereka. Mereka juga bukan dari kalangan seperti kita.”

Aku memang agak risih dengan orang yang levelnya jauh dibawahku. Apalagi orang-orang seperti mereka sebentar lagi akan memasuki duniaku.

“Hei, untuk apa sih kau memikirkan itu ? Kalau appamu bahagia kau bisa apa Haesoo ? Sudahlah jangan seperti itu, mungkin itu yang terbaik untuk appamu, beliau sudah mulai menua Haesoo-ya, dia butuh pendamping yang akan mengurus hidupnya lahir maupun batin.”

Sepertinya Taehyung ada dipihak ayahku, ahh dasar. Dia sama saja !

@Jiyeon’s pov

Pagi ini aku merasa bahagia sekali. Kemarin aku sudah resmi pindah dari sekolahku yang dulu. Aku menghabiskan waktuku disana dengan sia-sia. Tidak ada yang benar-benar mau menerimaku menjadi teman mereka. Lagipula memangnya apa salahku ? Hanya karena aku miskin lalu itu bisa dipakai untuk alasan membenciku ? Aku tidak habis pikir mereka sekejam itu padaku. Untunglah hal itu tidak berlangsung selamanya, sekarang aku sudah pindah kesekolah yang lebih baik. Sekolah yang dulu mungkin hanya aku impikan dan tidak akan menjadi kenyataan. Disatu sisi aku juga sedih harus pisah dengan Mino. Mino kan malaikat penyelamatku ? Jika nanti aku tidak satu sekolah dengannya, siapa lagi yang mau melindungiku.

“Tapi sekarang keadaan sudah berbeda Jiyeon-ah. Apa sih yang tidak bisa didapatkan oleh uang. Uang mampu membeli semuanya dengan mudah. Dan mulai sekarang uang-uang itu akan menghampiriku begitu saja tanpa aku repot-repot berjuang mencarinya.”

Ucapku dalam hati sembari melihat pantulan tubuhku dicermin. Memandang betapa cantiknya seragam sekolah yang aku kenakan.

“Permisi agassi, anda sudah ditunggu untuk sarapan bersama di bawah.”

Ucapan ahjumma menghentikan kegiatanku.

“Baik ahjumma, aku akan segera turun.”

Setelah keluar kamar, aku menuruni tangga yang dibentuk seperti spiral kebawah. Aku merasa bak seorang puteri dari kerajaan negeri dongeng. Seorang upik abu yang lemah kini telah memiliki segalanya.

“Selamat pagi.” Ucapku ramah pada eomma dan calon appaku.

“Appa, eonni dimana ? Kenapa tidak sarapan bersama disini ?” Aku mulai memberanikan diri memanggil Tuan Lee dengan sebutan Appa.

“Mungkin Haesoo sedang bersiap-siap Jiyeon-ah, ayo kita langsung makan saja dulu. Biar nanti Haesoo menyusul.”

Setelah ucapan ayah berhenti dan kita semua mulai memakan makanan yang tersaji, aku melihat Haesoo eonni menuruni tangga dan berjalan keluar rumah. Appa dan eomma tidak tau, karena mereka memunggungi jalan menuju keluar. Tapi aku tidak membuka mulut sama sekali, aku tidak ingin suasana kekeluargaan yang sudah lama aku dambakan ini menjadi rusak hanya karena Haesoo eonni.

“Appa, eomma.. Bagaimana dengan persiapan pesta pernikahan kalian ? Apakah semuanya lancar ? Bukankah hanya tinggal beberapa hari saja ?”

“Tentu saja Jiyeon-ah, appamu ini sudah mempersiapkan semuanya.” Jawab eommaku dengan wajah yang berseri-seri. Benar-benar sudah lama sekali aku tidak melihat raut wajah eomma sebahagia ini. Terimakasih Tuhan, sudah mengembalikan eommaku seperti dulu lagi. Terimakasih sudah menghadiarkan Tuan Lee di kehidupan kami.

“Eohh eomma, ternyata sudah jam 7 ? Bukankah sekolahku masuk jam setengah 8 ?”

“Lohh iya, ini sudah jam 7. Kenapa Haesoo belum turun juga.” Tanya appa. Aku hanya diam saja tanpa menyahut.

Sedetik kemudian appa meminta ahjumma untuk segera memanggil Haesoo tetapi ahjumma bilang jika Haesoo sudah meninggalkan rumah dari tadi.

“Kenapa eonni berangkat terlalu pagi ? Dia bahkan tidak sarapan.”

Aku melihat raut wajah appa yang menyaratkan akan kekesalannya pada eonni. Tanpa menyahuti ucapanku, beliau langsung memintaku mengikutinya untuk mengantarku berangkat sekolah. Aku memasuki mobil yang didalamnya sudah ada sopir pribadi khusus untuk Tuan Lee. Aku duduk di kursi bagian belakang bersama appaku.

“Mulai besok, kau harus berangkat sekolah bersama Haesoo, Jiyeon-ah.. Sopir pribadi Haesoo adalah sopir pribadimu juga sekarang.”

“Baik appa.”

Mobil sudah berhenti tepat didepan sekolah baruku. Aku berpamitan pada appa dan mulai berjalan memasuki sekolah itu. Penglihatanku tertuju pada gerbang megah bertuliskan Seoul Sevit High School. Sekolah paling diminati bagi para siswa seantero Korea.

“Akhirnya aku bisa bersekolah disini juga.” Ucapka sangat bahagia. Aku masih berjalan dengan niat menuju ke ruang Kepala Sekolah, tetapi aku tidak tau harus kemana. Aku melihat-lihat disekelilingku, berusaha mencari seseorang yang bisa membantuku menuju ruang kepala sekolah. Hingga ada sesuatu yang menyenggolku dari belakang, ternyata dia adalah manusia. Manusia yang… terlihat sangat sempurna. Matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan rambutnya, semua melekat dengan sangat sempurna di tubuh laki-laki yang kini sudah berada dihadapanku. Siapa dia ? Sekilas aku melirik name tagnya. Dia kelas 11.A, berarti dia satu tahun lebih tua dariku. Kim Taehyung.

“Mian, aku sedang buru-buru dan kau tiba-tiba saja muncul didepanku. Maaf aku tidak melihatmu.”

Lelaki itu memang terlihat buru-buru sekali dari tindakan yang ia perlihatkan padaku.

“Tidak apa-apa sunbae. Maaf aku sudah menghalangi jalanmu.”

Dia melirikku sekilas hendak pergi dari tempatnya sekarang, namun secara refleks aku menahan tangannya. Kulihat ia mengerutkan sebelah alisnya.

“Maaf sunbae, bisakah kau mengantarku menuju ruang kepala sekolah ? Aku anak baru disini dan aku tidak tahu apa-apa tentang sekolah ini.”

Tidak. Aku tidak boleh membiarkan dia pergi begitu saja. Siapa lagi yang akan aku mintai tolong sekarang. Siswa lain disekelilingku semuanya sibuk sendiri-sendiri dengan dunia mereka. Lagipula sebentar lagi bel masuk, aku tidak mau tersesat terlalu lama karena murid lain semuanya sudah masuk kedalam kelas.

“Jadi kau anak baru ? Yasudah, mari ikut denganku, kebetulan tujuan kita searah.”

Berhasil ! Dia mau mengantarku, ternyata dia laki-laki yang baik. Satu lagi poin plus yang aku berikan untuknya.

“Terimakasih sunbae.”

Aku mulai mengikutinya, kami melewati beberapa ruangan yang kini satu persatu harus kuingat tempatnya. Dari mulai loker pribadi siswa, ruang kesehatan, kantin sampai dengan toilet siswa untuk lantai satu. Taehyung sunbae melirik nametag.ku dan memulai pembicaraan.

“Namamu Park Jiyeon, aku Kim Taehyung. Jadi Kenapa kau pindah ke sekolah ini ?”

“Emm.. Appa memintaku untuk pindah ke sekolah ini sunbae. Beliau ingin membuatku lebih giat belajar lagi jika sudah masuk ke sekolah ini nantinya.”

“Ohh iya, kelasku belok ke sebelah kiri, itu ruang kepala sekolah hanya tinggal lurus saja, kau bisa kesana sendiri kan ? Aku harus masuk ke kelas sekarang untuk menemui temanku.”

“Iya tidak apa-apa. Sunbae silahkan saja pergi duluan.”

Ternyata ruang kelasku berada dilantai dua. Lantai dua sekolah ini khusus diisi oleh ruang kelas murid tingkat 10 dan 11, serta ruang guru dan ruang kepala sekolah. Tingkat 12 berada dilantai tiga bersamaan dengan perpustakaan dan ruang laboratorium lainnya. Untuk lantai keempat berisi ruangan khusus untuk kegiatan club, seperti vokal, dance, musik, teater, dan yang lainnya. Setidaknya itu tadi yang aku dengarkan dari penjelasan Taehyung sunbae.

Selepas kepergian Taehyung, aku tidak langsung menuju ke ruang kepala sekolah seperti yang ditunjukan Taehyung tadi, aku lebih tertarik pada sebuah papan besar berwarna hijau yang terdapat beberapa tempelan-tempelan kertas didalamnya. Aku mendekat. Kulihat banyak sekali informasi yang terpajang di mading ini. Terutama yang menjadi pusat perhatianku adalah terdapat potongan artikel yang membicarakan club dance sekolah ini. Dalam artikel tersebut memperlihatkan beberapa foto orang yang mulai tidak asing dalam netraku. Haesoo eonni.

“Wah, jadi Haesoo eonni berada di club Dance, dan dia sudah menjuarai beberapa perlombaan. Selain cantik ternyata dia juga berbakat.”

Ucapku mengagumi sosok calon eonniku. Dari ujung mataku, aku melihat Taehyung sunbae keluar lagi dari ruang kelasnya.

“Jiyeon, kau belum keruang kepala sekolah ?” Tanyanya padaku.

“Belum sunbae, aku ingin melihat papan mading ini dulu. Tapi kenapa sunbae keluar lagi ? Kau bilang tadi kau ingin menemui temanmu ?”

“Temanku tidak ada dikelas Jiyeon, aku akan mencarinya ditempat lain. Aku pergi dulu ya.”

Aku hanya mengangguk dan tetap mengamatinya sampai ia menghilang dari penglihatanku. Konsentrasiku kembali teralih pada papan mading tadi. Terdapat berbagai sejarah mengenai berdirinya sekolah ini, foto-foto kepala sekolah dengan beberapa donatur resmi sekolah ini juga ada. Eoh, ternyata Tuan Lee salah satunya. Wah sebentar lagi aku akan jadi anak dari donatur sekolahku sendiri. Aku sangat bangga padamu Jiyeon-ah. Seseorang kembali menabrakku dan betapa terkejutnya aku melihat Haesoo eonni disini. Tunggu, kenapa aku harus terkejut ? Dia tingkat 11, otomatis ruang kelasnya pun akan dilantai ini. Seperti biasa, dia akan mengeluarkan kata-kata tidak sukanya padaku. Aku hanya menyahutinya sesuai yang bisa aku katakan padanya. Lantas dia langsung meninggalkanku yang kupikir menurutku dia akan menuju ke kelasnya. Tapi dia masuk ke kelas dimana kelas itu tadi yang dimasuki oleh Taehyung sunbae. Apakah mereka satu kelas ? Ahh, biarkan saja. Aku harus ke ruang kepala sekolah sekarang.

@Mino’s pov

Hari ini adalah hari pertama bagi Jiyeon pindah dari sekolah ini, mulai sekarang aku sudah tidak bisa lagi menghampirinya dikelas, tidak bisa lagi melihat tatapan-tatapan iri teman Jiyeon yang melihatku menemui gadis itu. Duniaku terasa kosong tanpa Jiyeon, bagaimana keadaannya ya ? Aku mulai mengeluarkan ponselku menekan lama tombol angka 1 pada layar ponselku. Tertera nama Jiyeon sekarang.

“Yeoboseyo Mino-ya”

“Yeoboseyo, aku merindukanmu Jiyeon. Bagaimana dengan sekolah barumu ?”

“Sekolah baruku menyenangkan Mino-ya, tadi baru beberapa menit aku dikelas, sudah banyak yang mengajakku mengobrol, berbeda sekali dengan sekolahmu Mino-ya.”

“Benarkah ? Kau bahagia disana ? Lalu bagaimana denganku ?”

“Memang kau kenapa ?”

“Aku tidak bisa menemuimu lagi sekarang, kau pikir itu membahagiakan untukku ?”

Aku merajuk, bagaimana bisa dengan santainya dia bicara kalau sekarang dia sedang bahagia, bahkan tanpa ada aku disampingnya.

“Oiya Mino-ya, nanti maukah kau membantuku mengambil barang-barang dirumah lamaku ? Masih banyak sekali yang tertinggal disana.”

“Baiklah, tentu saja. Nanti sepulang sekolah aku jemput ya..”

“Oke, aku tutup dulu ya telfonnya. Aku harus berkeliling supaya bisa beradaptasi disini.”

“Baiklah, jaga dirimu Jiyeon-ah.”

Setelah menutup telepon, aku kembali ke kelas karena waktu juga sudah saatnya untuk masuk kelas. Kelas terasa sangat membosankan karena Bobby hari ini tidak bisa masuk, dia sedang terbaring di rumah sakit. Kemarin aku menjenguknya, kata orangtuanya dia sakit gejala demam berdarah.

Sepulang sekolah, aku langsung tancap gas untuk menjemput Jiyeon, ternyata sekolah barunya lebih besar dari sekolahku. Aku menunggunya diluar, aku bersandar di depan kap mobilku seraya kudengar bel pertanda pulang sekolah sudah dibunyikan. Aku melihat banyak siswa berhamburan keluar sampai mataku menangkap sosok Jiyeon berjalan kearahku.

“Apa kau sudah menunggu lama ?”

“Tidak, aku juga baru saja sampai disini kok.”

Kulihat beberapa anak melihat Jiyeon dan mengucapkan selamat tinggal padanya.

“Jiyeon-ah sampai bertemu besok ya.” Ucap murid itu.

“Eoh iya Nari-ah, sampai jumpa.”

“Wahh siapa lelaki yang menjemput Jiyeon, dia tampan sekali.. Dia bukan murid sini ya ? Seragamnya agak berbeda dari kita.” Setidaknya aku sempat mendengar kata-kata yang diucapkan teman Jiyeon tadi. Mereka mengagumiku. Wah.. Hanya menjemput Jiyeon saja sudah ada yang mengidolakanku, bagaimana kalau aku nanti bersekolah disini, pasti akan ada banyak yeoja yang secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya padaku.

“Kajja Mino-ya.”

Ucapan Jiyeon membuyarkan khayalanku. Aku masuk kedalam mobil dan melajukannya menuju rumah lama Jiyeon.

“Bobby bagaimana kabarnya ? Kau bilang dia masuk kerumah sakit ?” Jiyeon memulai pembicaraan dengan menanyakan keadaan Bobby.

“Kata dokter dia masih harus dirawat, untuk mengurangi kemungkinan penyakit serius lainnya dalam diri Bobby, tapi sejauh ini dia baik-baik saja.”

Begitu seterusnya, Jiyeon membahas hal apapun yang menurutnya menarik, hingga tanpa sadar mereka sudah mulai memasuki wilayah rumah Jiyeon. Aku memberhentikan mobilku di depan rumahnya. Kami mengambil barang-barang yang menurutnya masih penting dan masih bisa digunakan. Ternyata banyak juga barang-barangnya. Jiyeon tidak hanya mengambil barangnya, tetapi juga mengambilkan barang-barang eommanya. Selesai mengangkut semua barang ke mobil, Jiyeon memintaku untuk langsung mengantarnya pulang ke rumah barunya. Tak butuh waktu lama, kami sudah sampai dipekarangan rumah Jiyeon. Aku memarkirkan mobilku di depan rumahnya. Aku mulai membantunya mengangkut semuanya menuju kamar Jiyeon. Rumahnya besar, berbeda sekali dengan rumahnya yang dulu. Terdapat juga beberapa pelayan yang ikut membantu kami tapi dilarang oleh Jiyeon, karena dia pikir kami sudah bisa membereskannya sendiri.

@Haesoo’s pov

Sepulang sekolah hari ini aku tidak langsung pulang kerumah, melainkan menuju ruang club dance terlebih dahulu. Meskipun hari ini bukan jadwalku, yaa… Tapi aku hanya ingin saja kesana. Aku melihat para hoobae ku sangat mahir melakukan tarian ciptaan Mrs.Sandara dengan iringan lagu dari Taeyang berjudul Look at Me. Tarian mereka indah sekali.. Saking asiknya menonton mereka berlatih menari, tak terasa aku sudah melewatkan waktu satu jamku untuk mengamati mereka. Aku menelepon Ahjussi sopir pribadiku agar menjemputku ke sekolah.

Tak berselang lama Ahjussi sudah datang dan membawaku langsung pulang kerumah. Sesampainya dirumah aku melihat sebuah mobil mewah terparkir didepan rumahku. “Eoh ada tamu.” Pikirku dalam hati sambil mengerutkan kening mengamati mobil mewah ini. Memasuki rumah aku bertanya pada ahjumma yang menyambutku.

“Apa appa ada tamu ahjumma ?” Tanyaku.

“Aniyo, tidak ada agassi. Tuan Lee juga masih berada dikantor.”

“Lalu diluar mobil siapa ?”

“Itu mobil dari temannya nona Jiyeon agassi.”

Ucap ahjumma yang membuatku mengerutkan kening untuk kesekian kali. Teman Jiyeon ? Bukankah dia ini orang miskin, mana mungkin memiliki teman yang punya mobil mewah seperti ini ? Aku berjalan menuju kamarku yang otomatis akan melewati kamar Jiyeon juga. Aku melihatnya sedang sibuk menata kamarnya dengan barang-barang lamanya. Pandanganku terpusat pada satu laki-laki yang aku simpulkan dialah yang memiliki mobil mewah itu.

“Eonni, kau sudah pulang ?”

Jiyeon melihatku berdiri memandangi kegiatan mereka dan menghampiriku seraya menggandeng tangan laki-laki itu .

“Eonni, kenalkan. Namanya Mino, dia temanku. Mino seumuran denganmu eonni.”

Aku menatap laki-laki itu, kulihat dari nametag.nya ia memang bernama Mino, Song Mino. Laki-laki itu juga terlihat sedang memperhatikanku. Dia tak kalah tampan dari Taehyung. Kulit wajahnya putih, sepertinya dia sering merawat kulitnya dengan beberapa produk skincare yang ada.

“Aku tidak tertarik dengan urusan kalian.” Ucapku kuusahakan setegas mungkin.

Aku sudah akan meninggalkan mereka sebelum ada sebuah tangan yang menahanku.

“Setidaknya bersikaplah sopan pada seorang tamu.” Laki-laki itu angkat bicara setelah melihat reaksiku yang acuh pada mereka.

“Kau ini bukan tamuku, tapi kau tamunya. Aku sama sekali tidak terlibat kedalam urusannya.”

Sesaat setelah mengatakan itu aku meninggalkan mereka untuk pergi kedapur mengambil minum. Aku meneguk habis segelas air putih berukuran sedang. Saat berbalik hendak kekamar, aku dikagetkan dengan kehadiran Mino yang sudah berada tepat dibelakangku. Saking terkejutnya aku hampir terpeleset oleh air tumpahan dari gelas yang aku minum tadi. Dengan sigap mino refleks merengkuh pinggangku agar aku tidak jatuh, tetapi akibat dari reaksi Mino tadi, kini aku sudah berada dipelukan Mino membuat wajah kami berdua sangat dekat. Ada suatu debaran dalam dadaku, aku baru pertama kali diperlakukan seperti ini oleh lelaki. Lelaki yang paling dekat denganku hanya Taehyung. Kalaupun Taehyung memelukku, tidak pernah ada dalam posisi seperti ini. Dengan jarak sedekat ini aku bisa melihat manik mata milik Mino, matanya berwarna hitam. Garis wajahnya benar-benar sempurna. Debaran dadaku semakin terpacu kala aku semakin mengarahkan pandanganku menuju wajahnya, mencari kelemahan yang mungkin ada pada wajah laki-laki itu. Tapi Nihil. Justru aku malah menemukan semakin banyak keindahan yang ada pada wajahnya…

“Kau harus berhati-hati Haesoo agassi.”

Ucapnya membuyarkan semua pikiranku mengenai dirinya. Aku refleks melepaskan tangannya dari pinggangku.

“Kenapa kau ada disini ? Kau mengikutiku ?”

“Tidak, aku hanya ingin mencari toilet. Dimana ?”

Aku menunjuk sebuah pintu yang tak jauh dari tempatku berdiri. Setelah mendapat petunjuk dariku Mino langsung masuk kedalam pintu itu. Tak berselang lama dia sudah kembali keluar dengan buliran-buliran air disekitar pelipisnya. Menambah kesan seksi yang melekat pada wajahnya. Sepertinya dia mencuci mukanya. Aku tertangkap basah sedang memperhatikannya, refleks aku memalingkan pandanganku kearah lain. Mino tidak membahasnya dan langsung pergi ke lantai atas, mungkin menuju kamar Jiyeon. Ada apa denganmu Haesoo ? Kenapa pikiranmu liar sekali terhadap Mino. Dia itu laki-laki yang baru saja kau kenal, bahkan lebih tepatnya aku tidak mengenal, tetapi mengatahuinya. Konyol, konyol sekali…

To Be Continued 😊

Bagaimana gaess ! Chapter 2 nya sudah terbit nih.. Emm.. Mungkin fanfic “Just Realize” ini akan membutuhkan chapter yang banyak readersdeul.. Jadi jangan bosan-bosan untuk menantikan kelanjutan ceritanya yaa.. Gomawo 😊 *BigHug*

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s