Just Realize [Chapter 1]

PicsArt_03-10-01.23.00

Just Realize Chapter 1

By : purimtya

Main Cast : Lee Haesoo (IU), Song Mino (Winner), Kim Taehyung (BTS), Park Jiyeon

Genre : Family, Romance, Friendship.

@Author pov

Suasana ruang kelas yang tenang tengah menyelimuti para murid kelas 11.A yang pada dasarnya sedang menghadapi ulangan harian pelajaran Matematika. Entah karena mereka fokus dan berkonsentrasi atau mungkin mereka sedang memikirkan bagaimana cara mengerjakan soal yang terkenal rumit itu. Seorang gadis bernama Lee Hae soo berhasil menyelesaikan ulangan tersebut dan merupakan orang pertama yang menyerahkan lembar jawab beserta soal kepada sang guru.

“Seongsaengnim, saya sudah selesai” ucapnya dengan suara yang menawan tanpa dibuat-buat.

Ia memang terkenal diantara para lelaki di sekolahnya, cantik, pintar, berkepribadian baik, dan satu yang menjadi nilai plus untuk dirinya, yakni merupakan anak dari sang donatur utama sekolahnya. Ya, dia orang yang kaya. Banyak orang beranggapan dia merupakan jelmaan malaikat surga yang turun kebumi untuk memberi tau manusia bahwa kuasa Tuhan memang tiada yang dapat mendustakan. Tentu saja anggapan itu merupakan anggapan manusia belaka, manusia yang memang menggagumi gadis itu.

“Eoh iya Hae Soo, letakkan lembar jawabmu di meja, untuk soalnya bisa kamu bawa pulang” terang Seongsaengnim Jung

“Nde seongsaengnim, apakah saya bisa langsung keluar untuk istirahat seongsaengnim ?”

“Iya tentu saja.”

Setelah dipersilahkan keluar kelas oleh sang guru, Hae Soo lekas meletakkan soal ulangan harian tadi kedalam tasnya. Tak butuh waktu lama menuju bangkunya yang notabene merupakan baris paling depan tepat didepan meja guru. Usai memasukkan lembar soal tersebut, ia menoleh kebelang kursinya untuk menyemangati sahabatnya, Kim Taehyung.

“Taehyung-ah fighting! Aku akan menunggumu dikantin”

Ucapnya dengan nada setengah berbisik. Yang disemangati hanya meliriknya sebentar lalu fokus lagi ke soal yang dikerjakannya. Tak lupa kepada dua rekannya yang lain, Shim Jangmi dan Im Hyura. Shim Jangmi merupakan anak dari seorang pemilik restaurant berbintang yang telah memperluas cabangnya di kota-kota besar Korea dan luar negeri, bahkan masyarakat di luar negeri pun turut menikmati kenyamanan menyantap makanan di Restauran ayah Jangmi. Ibunya merupakan pengelola perusahaan periklanan terbesar di Korea. Sedangkan orangtua Hyura yakni ayahnya, bekerja di perusahaan ayah Haesoo, perusahaan multinasional yang bergerak dibidang teknologi dan jasa. Jika ayah Haesoo menjabat sebagai presiden direktur, lain halnya ayah Hyura yang hanya menjabat sebagai General Manager di AJ Group. Ibunya hanya seorang ibu-ibu pada umumnya, tetapi termasuk dalam kaum sosialita.

Sekolah ini memang sekolah luar biasa, SMA Sevit memang terkenal dengan para muridnya yang berasal dari kalangan atas tapi tetap mengedepankan kemampuan para muridnya di bidang akademik. Tak jarang juga sekolah ini memberikan beasiswa bagi murid-murid yang tidak mampu. Tapi tidak sembarang beasiswa akan diberikan, siswa yang memenuhi kualifikasi tertentu sajalah yang akan diberikan.

@Kantin @Hae Soo pov

“Kenapa hanya soal semudah itu mereka tidak bisa mengerjakannya ? Soal itu juga tidak termasuk kedalam kategori soal yang sulit”

sambil meminum es jeruk yang baru saja diantar oleh ahjumma pemilik kantin aku memikirkan teman-temanku yang kuanggap lemot memahami pelajaran matematika. Sebenarnya semalam aku juga sudah mengajarkan soal ini pada Taehyung agar dia bisa mengerjakannya, semalam dia bisa tapi kenapa sekarang dia lama sekali mengerjakannya. Dasar Taehyung !  Umpatku dalam hati. Tak berselang lama aku merasakan ada sebuah tangan yang melingkar kepudakku memelukku dari belakang, ternyata dia Taehyung.

“Wahhh, soal tadi benar-benar sulit, sangat berbeda dengan yang kau ajarkan semalam Haesoo-ya”

ucapnya sambil langsung meneguk es jerukku tanpa permisi. Ya.. Aku dan Taehyung sudah lama sekali berteman, dari kita kelas dua SMP aku sudah mengenalnya. Dulu dia merupakan anak pindahan dari Daegu dan ia dimasukkan ke sekolahku. Dia adalah anak yang penyayang, dia selalu ada disaat aku membutuhkannya. Aku sudah mengenal ayah dan ibunya dan dia juga sudah mengenal ayahku. Ibuku sudah tiada semenjak aku kelas 1 smp, setahun sebelum Taehyung pindah kesekolahku. Banyak murid disini yang mengira Taehyung adalah kekasihku, tapi yaa.. perkiraan mereka dibantahkan begitu saja oleh Taehyung, Taehyung berkata aku dan dia ini hanyalah teman, sahabat, dan memang seharusnya seperti itu. Tapi jauh didalam lubuk hatiku, aku sedikit menaruh perhatian yang sedikit lebih besar jika hanya dikatakan sebagai sahabat. Aku terkenal diantara para lelaki disini, tapi sikap mereka tidak ada yang sehangat Taehyung. Aku hanya berfikir apa perasaanku padanya salah ? Apa jika dengan begini akan merusak hubunganku dengannya ? Jika memang benar begitu adanya, tolong Tuhan jangan kau tumbuhkan rasa sukaku ini menjadi sangat membara kepadanya. Tetaplah seperti ini. Mengaguminya dan sedikit mencintainya.

“Ulangan itu materinya sama Taehyung-ah, hanya soalnya yang diubah oleh seongsaengnim. Begitu saja kau tidak bisa mengerjakannya” ucapku yang agak sarkasme padanya.

“Hahh sudahlah, jangan membahas itu Haesoo-ya aku lelah.” Taehyung memang selalu seperti itu setiap sedikit saja hal yang memerlukan otaknya untuk berfikir dia pasti selalu mengeluh merasa lelah.

“Haesoo-ya, pulang sekolah nanti kau mau langsung pulang ?”

“Ani, aku nanti ada jadwal di club dance, oiya.. Jangmi dan Hyura belum juga keluar ?”

“Emm.. Sepertinya mereka tadi sudah keluar mendahuluiku, tapi kenapa mereka belum ada disini ?”

Jangmi dan Hyura, aku menjalin persahabatan dengan mereka sejak pertama kali masuk ke SMA ini. Jika anak-anak melihatku bersama gengku itu, semua mata pasti akan langsung tertuju ke arah kami. Mereka menjuluki kita sebagai Ratu Kecantikan. Berlebihan memang, tapi apa daya, mereka memang selalu bilang seperti itu.

“HaeSoo-ya!” Kulihat Jangmi berjalan kearahku.

“Jangmi-ah darimana saja kau ? Taehyung bilang kau sudah keluar daritadi, kenapa baru muncul? Dimana Hyura?” Tanyaku yang sedikit merasa khawatir karena mereka berdua yang selalu bersama kini malah terpisah.

“Hyura sedang ke toilet, tadi kita barusaja dari ruang club dance. Tadi ada yang melaporkan jika ruang club kita ada yang mengacak-acak, tapi setelah kita cek tidak ada apa-apa. Yah mungkin itu kerjaan orang yang ngefans pada kita Haesoo”

Dasar anak-anak memang selalu seperti itu, tidak habis-habisnya pikiran mereka mencari cara untuk mengungkapkan kekaguman mereka pada kami, sesekali juga dengan cara mengerjai kami. Kemarin entah bagaimana caranya didalam lokerku sudah ada beberapa surat yang bersarang disana. Semua dari sunbaeku yang sekali lagi mereka sangat mengagumiku. Memang, aku adalah orang yang sempurna.

Hingga ponselku berdering tertera “Appa” dilayarnya.

“Yeoboseyo appa?”

“Haesoo-ya, nanti sepulang sekolah kau langsung pulang ya sayang, ada yang ingin appa bicarakan padamu.”

“Tapi appa, nanti aku ada jadwal club dulu, perkiraan aku akan pulang jam 5 sore appa.”

“Tidak sayang, kau kan bisa ijin dulu pada teman-temanmu, appa menunggumu dirumah sayang”

Sesaat setelah appa menutup telfon, bel masuk kelas berbunyi. Aku tidak ingin mengecawakan appaku yang sangat kusayangi itu. Jadi kuputuskan nanti untuk ijin tidak masuk klub pada Hyura dan Jangmi.

“Jangmi-ah sepertinya aku tidak bisa ikut club hari ini”

“Waeyo ?” Taehyung angkat bicara.

“Mollayo, tadi appa bilang ada hal yang ingin dibicarakan padaku, aku tidak boleh pulang terlambat. Mianhae Jangmi-ah”

“Gwaenchanha, klub kita kan masih punya aku dan Hyura, mereka juga tidak akan kehilangan orang cantik jika hanya kau tidak bisa ikut hari ini. Nanti akan aku bilang pada Mrs.Sandara”

“Hahaha, gomawoyo chingu. Kajja kita ke kelas”

@Author pov

Kelas diisi oleh Mr.Alex sebagai guru Bahasa Inggris. Untuk pelajaran ini merupakan favorite Taehyung. Ia nampak mendengarkan dan menekuni apa yang diucapkan oleh Mr.Alex sembari sesekali menirukan pengucapan Mr.Alex yang sangat profesional melafalkan kata asing bagi murid-muridnya. Hingga kelas usai setelah bel pertanda pulang telah dibunyikan.

Murid-murid berhamburan ada yang langsung keluar dari sekolah, ada yang harus menuju ke parkiran untuk mengambil kendaraan pribadi miliknya.

“Haesoo ayo pulang bersamaku” ujar Taehyung dari belakang haesoo saat mereka hampir melewati tempat parkir yang dekat dengan loker pribadi siswa.

“Ayo, tapi aku telfon ahjussi dulu biar ia tidak menjemputku hari ini. Kau ambil saja dulu mobilmu”

Sembari menunggu Taehyung mengambil mobil, Haesoo buru-buru menelfon ahjussi supir pribadi keluarganya. Keluarga kaya seperti Haesoo tak jarang memiliki sopir pribadi masing-masing, baik untuk ayahnya maupun untuk dirinya sendiri. Untuk mengemudikan mobil sendiri sebenarnya Haesoo sudah bisa, tetapi ayahnya melarang Haesoo untuk bepergian sendiri dengan alasan banyak orang yang mengincar kelemahan Tuan Lee, yaitu putrinya ini. Sebagai seorang pebisnis terkenal, tentu akan banyak pesaingnya yang iri melihat kesuksesan Tuan Lee yang saat ini sudah tidak mempunyai istri. Harta satu-satunya bagi Tuan Lee adalah Haesoo. Hal itu banyak dimanfaatkan oleh para pesaing bisnisnya untuk sewaktu-waktu mencelakai Haesoo yang dimaksudkan supaya kesehatan Tuan Lee bisa drop setelah mendengar putrinya tidak baik-baik saja di tangan para penjahat suruhan.

Setelah menutup telfon Haesoo melihat mobil mewah milik Taehyung berwarna merah ferrari telah ada didepan matanya. Ayah Taehyung merupakan kolega dari Ayah Haesoo. Hal tersebut juga yang mendasari hubungan Taehyung dan Haesoo yang sedekat ini. Memasuki mobil Taehyung hal pertama yang dirasakan Haesoo ada wewangian maskulin Taehyung yang selalu ia gunakan di setiap hari-harinya. Dalam perjalanan, mereka gunakan untuk bercanda bersama, mengobrol mengenai hal-hal apapun. Haesoo dan Taehyung tak pernah kehilangan topik pembahasan jika mereka sudah bersama. Selalu saja ada hal yang menarik untuk sekedar di perbincangkan. Hingga gerbang rumah Haesoo atau lebih tepatnya dikatakan istana megah milik Haesoo telah terlihat. Layaknya rumah orangkaya pada umumnya, gerbang rumah Haesoo dijaga oleh 2 orang khusus penjaga gerbang yang dengan sigap membukakan pintu gerbang setelah melihat mobil milik Taehyung melaju menuju rumah Haesoo. Bagian halaman rumah Haesoo juga sangat luas, yang ditumbuhi tanaman-tanaman yang indah yang dibentuk semenarik mungkin sebagai taman rumah ini. Ditengah taman ini terdapat jalan khusus untuk kendaraan dapat berlalu lalang tanpa merusak tanaman-tanaman di taman ini. Taehyung memberhentikan mobilnya tepat didepan pintu rumah Haesoo.

“Kau tidak turun dulu?”

“Aniya, tidak usah. Kau bilang kan ada hal penting yang akan dibicarakan oleh ayahmu, jadi aku tidak ingin mengganggu.”

“Ahh, yasudah kalo begitu. Nanti aku akan menghubungimu lagi, hati-hati dijalan Taehyung-ah”

Haesoo keluar dari mobil Taehyung dan melambaikan tangan saat mobil Taehyung mulai melaju secara perlahan meninggalkan rumah Haesoo. Setelahnya Haesoo disambut oleh ahjumma pelayan rumah untuk dibawakan tas sekolahnya.

“Agassi, Tuan Lee sudah menunggu anda di meja makan” ucap sang pelayan.

Haesoo bergegas menuju ruang makan dengan tergesa-gesa, karna ayahnya pasti sudah menunggu dari tadi. Sesampainya disana Haesoo melihat ayahnya meminum teh yang tersaji didepannya. Tunggu, ayahnya tidak sendiri. Ayahnya bersama dua orang perempuan yang tidak pernah dikenalnya. Siapa mereka?  Pikir Haesoo.

“Appa.” Haesoo memulai untuk memanggil ayahnya sembari berjalan menuju kursi makan tepat disamping ayahnya.

“Eoh, Haesoo-ya. Kau sudah datang”

Didalam penglihatan Haesoo, ia melihat satu perempuan yang terlihat agak sebaya dengan ayahnya, dan satu lagi juga terlihat seumuran dengannya. Ini sangat aneh. Ayahnya tidak pernah membawa orang yang tidak Haesoo kenal kerumahnya, apalagi untuk ukuran seorang wanita. Penampilan mereka juga terlihat sedikit dibawah level Haesoo. Berupaya menggunakan pakaian yang bermerek tapi terlihat sebagai barang palsu dimata Haesoo. Haesoo bisa membedakan mana barang murahan dan mana barang yang berada di kelas atas.

“Beliau ini adalah Nyonya Park Yoo Na dan putrinya Park Jiyeon. Appa berencana mengenalkan mereka denganmu Haesoo-ya” Ujar ayahnya yang masih tidak bisa dimengerti maksudnya oleh Haesoo.

“Annyeonghaseyo, Lee Haesoo imnida.” Ucapnya yang masih memperlihatkan raut wajah kebingungan.

“Anyeong Haesoo-ya, wah kau sangat cantik”

ucap perempuan yang parasnya sudah terlihat sedikit mengeriput di bagian dekat matanya tapi tidak menghilangkan semburat-semburat wajah cantiknya.

“Anyeonghaseyo eonni, jeoneun Park Jiyeon imnida. Eonni sangat cantik”

ujar perempuan yang kini sudah Haesoo mengerti bahwa ia tidak seumuran dengannya tapi dia lebih muda dari Haesoo.

“Emm, gomawoyo. Appa, mereka.. ini siapa ?” Tanya Haesoo langsung pada intinya.

“Haesoo-ya, kau tau kan sudah 5 tahun terakhir ini kau tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu.”

Perkataan ayahnya yang hanya sekedar satu kalimat saja sudah mampu menohok batin Haesoo. Tidak. Haesoo sudah tau inti pembicaraan ini akan mengarah kemana, dan Haesoo belum siap untuk mendengarnya atau bahkan tidak mampu untuk mendengarnya.

“Appa sudah lama mengenal Nyonya Park dan appa sangat tersanjung padanya. Dia orang baik Haesoo-ya, dia pandai mengurus urusan rumah tangga, bahkan lihat, dia membesarkan putrinya Jiyeon dengan sangat baik. Jiyeon cantik sepertimu Haesoo”

“Lalu, apa maksud appa?”

Sembari menahan buliran bening yang kini hampir melesat jatuh menuju pipinya, Haesoo bertanya pada ayahnya seolah ingin memperjelas apa yang ada difikirannya ini benar ataukah salah.

“Appa berniat ingin mempersunting Nyonya Park ini Haesoo. Tentusaja karna kau anak appa satu-satunya, apa harus membicarakan hal ini padamu”

Kini airmata itu berhasil melesat turun menuju pipi Haesoo. Haesoo benar-benar tidak percaya, selama 5 tahun setelah kepergian ibunya, ayahnya ini tidak pernah membahas satu perempuanpun untuk dijadikan sebagai pengganti ibunya. Haesoo pikir ayahnya merupakan orang yang bisa setia kepada ibunya walaupun raga ibunya kini sudah tiada. Tapi kenapa sekarang dugaan Haesoo ini dipatahkan begitu saja oleh kedatangan dua perempuan yang pada saat itu juga langsung dibenci oleh Haesoo.

“Appa, kenapa appa melakukan ini ? Haesoo tidak pernah mengenal mereka. Bagaimana appa bisa melakukan ini pada Haesoo ? Haesoo tidak bisa menerima mereka appa. Haesoo mungkin tidak mendapat kasih sayang seorang ibu, tapi Haesoo mendapat kasih sayang dari appa, itu sudah lebih dari cukup appa. Ahjumma disini, mereka juga sangat memperhatikan Haesoo, memperhatikan kesehatan Haesoo, kebahagiaan Haesoo, bahkan merawat Haesoo jika Haesoo sakit. Itu semua benar-benar sudah lebih dari cukup appa. Haesoo tidak membutuhkan mereka.”

Kata-kata itu meluncur dengan sendirinya tanpa dapat haesoo menyaring perkataannya. Haesoo sudah tidak peduli apakah hal itu melukai perasaan mereka. Yang Haesoo pikirkan saat ini adalah bagaimana cara menyelamatkan keluarganya dari perempuan-perempuan perusak seperti mereka.

“Haesoo! Appa minta maaf sebelumnya, appa memang tidak mengenalkanmu sebelumnya pada mereka, karna appa yakin reaksimu akan seperti ini nantinya. Maka dari itu appa baru mengenalkan mereka padamu hari ini. Kau harus mengetahui perasaan appa selama ini pada Nyonya Park, Haesoo. Appa melihat kesungguhannya pada appa, dia mirip sekali dengan ibumu Haesoo, melihat nyonya Park, membuat appa dapat melihat cerminan dari eommamu”

“Tidak appa! Perempuan ini berbeda dengan eomma, tidak ada seorangpun yang menyamai eomma, eomma hanya satu. Eomma tidak tergantikan appa.”

Kini emosi Haesoo sudah tidak bisa ditahan lagi, semakin lama ia berada satu ruangan dengan appanya dan dua perempuan itu, membuatnya sangat marah. Haesoo keluar ruangan dengan berlari hingga kursi yang sempat ia duduki tadi jatuh dan menimbulkan suara yang gaduh.

“Haesoo! Mau kemana kamu.” Teriak Tuan Lee mencoba menghentikan Haesoo.

“Tuan Lee, biar aku saja yang menyusul eonni.” Jiyeon mencoba membantu.

“Iya sayang, kejarlah Haesoo, jangan sampai sesuatu terjadi padanya.” Kini nyonya Park turut buka suara.

“Ne eomma.”

Jiyeon dengan setengah berlari berharap dapat mengejar Haesoo yang mencoba melarikan diri.

“Gikwang-ah, apa tidak apa-apa jika aku menjadi istrimu? Sepertinya Haesoo benar-benar sangat membenciku, bahkan di kesan pertama ia melihatku.”

Raut wajah Nyonya Park menyaratkan rasa sedih dan rasa tak enak hati pada Haesoo.

“Tidak apa-apa Yoona, aku yakin Haesoo hanya kaget saja mendengar kabar membahagiakan ini. Sebentar lagi dia akan kembali baik-baik saja.”

“Kuharap juga begitu Gikwang-ah.”

@Taman

Kini Haesoo duduk sendirian di taman, ia menangis, ia benar-benar harus menangis. Ia sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran appanya, bisa-bisanya kehidupan yang baginya sudah sempurna harus dirusak oleh kedatangan orang yang tidak dibutuhkan di keluarga mereka.

Sekarang apa yang harus kulakukan ?

“Eonni.”

Jiyeon mendekat, ia melihat Haesoo menyeka air matanya, seolah tidak ingin tertangkap basah menangis didepan Jiyeon. Jiyeon ingin mencoba menenangkan Haesoo. Entah kenapa, ia sangat merasa bersalah pada Haesoo. Jiyeon tau, jika dia berada di posisi Haesoo, ia pasti juga akan bersikap seperti ini. Tapi, kenapa harus sampai Haesoo marah-marah didepannya dan eommanya ? Toh Jiyeon dan eommanya tidak ada niat jahat pada Haesoo maupun Tuan Lee.

“Aku tau apa yang sekarang eonni pikirkan, mianhae.” Jiyeon mulai mengungkapkan penyesalannya.

“Kau siapa? Berani-beraninya datang bersama eommamu kesini dan membawa keburukan bagi keluargaku? Apa maksud dan tujuanmu yang sebenarnya ?”

Haesoo yang sedari tadi memang emosinya sudah memuncak, langsung meledakkan amarahnya didepan Jiyeon.

“Apa maksud eonni? Aku dan eomma kesini sama sekali tidak bermaksud mengganggu eonni maupun Tuan Lee. Asal eonni tau, Tuan Lee yang mengundang kami kemari, kami adalah tamu disini, tapi kenapa malah kami diperlakukan seperti ini ?”

“Ya! Appa tidak pernah seperti ini padaku, appa selalu menuruti kemauan putri satu-satunya ini. Sampai kalian hari ini datang dan merusak semuanya. Apa yang sudah eommamu lalukan pada appaku ? Apa Ha!”

Benar-benar suasana sudah memanas. Salah satu dari mereka harus mengalah, dan untunglah Jiyeon tau bahwa dirinyalah yang seharusnya mengalah.

“Terserah apa yang akan kau katakan dan kau perbuat nantinya, aku tidak bisa membatalkan rencana mereka eonni. Eommaku terlihat sangat bahagia saat dia bersama Tuan Lee, dan aku tidak bisa merusak kebahagiaan eommaku. Aku akan tetap setuju jika eommaku menikah dengan Tuan Lee Gikwang.”

Setelah mengatakan hal itu Jiyeon pergi menyusul Tuan Lee dan eommanya yang masih berada di meja makan.

Haesoo menatap kumpulan bunga mawar di hadapannya. Ia sangat menyukai bunga mawar. Dulu Haesoo dan eommanya selalu menanam bunga mawar, menyiraminya, dan melihat mawar itu tumbuh berkembang dengan sendirinya. Setiap Haesoo melihat mawar itu, ingatan eommanya akan mulai termainkan kembali di pikirannya seolah ada kaset yang telah menyimpan didalam ingatannya.

“Eomma, apa yang harus aku lakukan eomma ? Kenapa sekarang appa berbeda ? Apakah appa sudah tidak menyayangi kita lagi eomma ? Mianhae eomma.. Mianhae.. Appa sudah mulai ingin melupakanmu eomma, ini salah Haesoo. Haesoo tidak bisa menjaga appa dengan baik. Bagaimana ini eomma ? Appa… Appa…”

Haesoo benar-benar sedih sekarang. Ia tidak tau harus bersikap seperti apa. Ia bingung. Memang yang dikatakan Jiyeon tadi ada benarnya juga. Appanya tadi juga terlihat sangat bahagia saat Haesoo pertama memasuki ruang makan tersebut. Tapi kenapa bisa appanya sebahagia itu didepan orang lain ? Didepan wanita yang bukan eommanya ?

Ponsel Haesoo berdering. Tanpa melihat nama yang tertera, Haesoo langsung menjawab panggilan itu dengan lemas.

“Yeoboseyo..”

“Yeoboseyo, Haesoo-ya ? Kau bilang tadi mau menghubungiku, tapi aku sudah terlalu lama menunggu panggilanmu. Apakah kau belum selesai bicara dengan appamu ?”

Haesoo masih terdiam, bahkan kini air matanya kembali mengalir.

“Yeobeoseyo, kau dengar aku Haesoo-ya ? Mwoya ? Kenapa dia diam saja. Haesoo-ya gwaenchanha ? Yeobeoseyo Haesoo-ya ?”

Karna tidak ada tanda-tanda Haesoo akan menjawab telfonnya, Taehyungpun mematikan panggilannya.

@Author pov

Sebuah layar LED berukuran besar menampilkan adegan kartun peperangan yang biasa dimainkan oleh laki-laki pada umumnya. Laki-laki beralis tebal dan memiliki postur tubuh tinggi ini sedang asyik menggerak-gerakkan jemarinya hanya untuk sekedar memegang stick yang sedang dimainkannya. Ia sangat bersemangat sekali bermain game bersama satu teman setianya, Bobby. Konsentrasinya terpecahkan saat ia melihat ada pesan teks dari gadisnya. Memintanya untuk segera menemui gadis itu. Sontak ia langsung bangun, meninggalkan bobby yang masih asik untuk mengambil baju di lemarinya.

“Ya! Eodiga ?”

Bobby yang kesal akibat permainan itu berhenti secara tiba-tiba karna kelakuan Mino.

“Aku harus pergi Bobby-ya. Ini penting.”

“Ya! Tapi ini kita belum selesai. Kau ini bagaimana sih.”

Bobby masih kesal mengumpat Mino dalam hati sambil memakan makanan ringan yang disajikan oleh pelayan rumah Song Mino.

“Ah sudahlah, kau tunggu saja disini, nanti aku akan segera pulang kalau urusan ini sudah selesai. Ini sangat penting Bobby-ah”

“Sepenting apasih ? Pasti kau mau menemui miss Park kan ?”

Tanpa membalas ucapan Bobby, Mino langsung menuju garasi untuk mengeluarkan salah satu koleksi mobilnya.

“Tuan Mino, anda mau kemana ?” Tanya pelayan keluarga Mino yang bertugas mengurus semua keperluan Mino dirumah.

“Aku harus pergi sebentar ahjumma, oiya tolong siapkan makanan untuk Bobby diatas ya..” ucap Mino sembari memberikan kecupan kecil di pipi ahjumma nya.

“Baik Tuan, hati-hati dan jangan pulang terlalu malam Tuan.”

“Nde ahjumma!”

Shin ahjumma sudah merawat Mino dari kecil, dan sudah dianggap Mino seperti eommanya sendiri. Orang tua Mino selalu sibuk dengan dunia bisnis mereka, sehingga jarang sekali pulang ke rumah. Ayahnya Tuan Song JinGu seorang pebisnis kelas atas, dan eommanya Song Hyemi merupakan kaum sosialita dan merupakan seorang designer terkenal. Pekerjaanya mengharuskan Hyemi untuk bepergian ke beberapa daerah bahkan ke beberapa negara perharinya. Mino sangat kurang sekali mendapat perhatian dari orang tuanya, tapi Shin ahjumma sudah menjamin kebahagiaan Mino dengan kasih sayang yang ia tunjukan kepada Tuan mudanya itu.

Sebuah kafe pinggir jalan khas anak muda kini menjadi tujuan Mino sekarang. Ia melihat-lihat keseluruh area berharap menemukan gadisnya. Penglihatannya tertuju pada gadis berambut blonde panjang memakai setelan coat bulu berwarna coklat. Mino menghampiri gadis itu.

“Jiyeon-ah, apakah semua lancar ?”

Seolah memang mendengar suara orang memanggilnya, perempuan itu menoleh dan bergegas lari menuju Mino, memeluk laki-laki itu erat berharap beban yang ia pikul hari ini dapat terlepaskan begitu saja.

“Jiyeon-ah, waeyo ? Kenapa kau menangis, apa yang terjadi ?”

Tanya Mino yang mulai detik itu juga sangat merasa khawatir pada Jiyeon. Tak dipungkiri, melihat kondisi Jiyeon yang seperti ini, menangis tanpa alasan yang tak diketahui Mino, membuatnya merasa bersalah. Bersalah karena tidak bisa menjaga seseorang yang sudah dianggapnya sebagai harta paling berharga di hidupnya.

“Ayo duduk dulu, dan katakan padaku apa yang terjadi.”

Mino menuntun Jiyeon menuju kursi yang tadi sempat didudukinya, bergerak dengan hati-hati agar hartanya ini tidak terluka.

“Sekarang katakan padaku, ada apa ? Bagaimana dengan acaramu tadi ?”

Mino yang memang sedari tadi sudah merasa penasaran, memulai pertanyaan dengan selembut mungkin.

“Aku bingung Mino.”

“Kenapa ? Apa anak dari calon Appamu tidak menyetujuinya ?” Ucap Mino begitu saja seakan tau apa yang ada di fikiran Jiyeon. Jiyeon hanya mengangguk tanpa berniat menjawab pertanyaan Mino.

“Sudah kuduga, semua akan jadi seperti ini. Jiyeon-ah, sudahlah. Wajar memang jika anak itu tidak menyukai semua ini, siapa sih yang ingin mempunyai orang pengganti untuk orang tuanya ? Apalagi untuk menggantikan seorang ibu.”

Mino berusaha sebaik mungkin menenangkan Jiyeon. Mino tidak tega melihat Jiyeon harus menangis seperti ini.

“Lalu apa yang harus aku lakukan Mino-ya ? Akupun juga tidak bisa membatalkan ini semua, eomma sangat bahagia bersama Tuan Lee. Aku tidak ingin eomma kembali seperti dulu, berada di jalan kehidupan yang salah. Aku melihat eomma banyak berubah menjadi pribadi yang baik semenjak bertemu dengan Tuan Lee.”

Air mata yang kini hanya membekas di pipi Jiyeon kini sudah tidak mengalir lagi, hanya terdengar isakan ringan yang masih tertinggal akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata.

“Tadi aku juga mendengar dari Tuan Lee bahwa pesta pernikahan akan digelar secara mendadak, agar tidak terlalu lama menghabiskan waktu Tuan Lee yang sangat sibuk itu.”

“Memangnya kapan ?”

“Satu minggu lagi Mino-ya.”

“Satu minggu lagi ? Kenapa sangat mendadak ? Memangnya semua kebutuhan pernikahan sudah diurus ?”

Mino sangat terkejut mendengarnya, bagaimana bisa sebuah acara pernikahan hanya dipersiapkan dalam jangka waktu sesingkat itu ? Bahkan setau Mino, waktu satu bulan saja masih kurang cukup untuk sekedar fitting baju dan mengurus wedding organizernya.

“Mino, kau jangan bercanda. Tentu orang kaya seperti Tuan Lee akan bisa melakukan itu dengan mudah. Kaupun juga bisa melakukannya.”

Ujar Jiyeon yang menyadari akan kekuasaan Seorang Lee Gi Kwang, orang berduit sepertinya dan Mino akan dengan sangat mudah menciptakan hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin menggunakan uang-uang mereka.

“Berarti Tuan Lee tidak membutuhkan jawaban putrinya ?”

“Menurutku begitu, tadi eonni  langsung pergi setelah Tuan Lee membicarakan tentang pernikahan ini.”

“Yasudah Jiyeon-ah, sekarang tugasmu adalah membuat eommamu terlihat sebagai eomma yang baik untukmu dan eonnimu nanti. Tidak usah memikirkan hal yang lain. Toh orangtua seperti mereka juga pasti sudah tau apa yang terbaik untuk mereka. Kau hanya perlu membuktikan ke eonnimu kalau kalian tidak memiliki niat jahat sama sekali pada keluarga itu.”

Jiyeon tersenyum mendengar ucapan Mino. Ia sangat bahagia diberikan oleh Tuhan seorang malaikat pelindung seperti Mino. Sebagai keluarga tanpa seorang ayah, hidup Jiyeon hanya bergantung pada eommanya. Nyonya Park bekerja di Mall pada sebuah toko yang menjual atribut fashion khusus bagi para lelaki seperti jas, dasi, celana, kemeja dan fashion lain. Lama hidup dengan keadaan “kekurangan” seperti itu, Mino lah yang membantu biaya hidup mereka. Entah mengapa Mino hadir di kehidupannya dan eommanya secara begitu saja. Jiyeonpun juga sudah lupa awal mula mereka bertemu. Yang Jiyeon sadari sekarang hanyalah Mino adalah pelindung dan penyelamat hidupnya.

…..

To Be Continued 😊

Anyeong gaess ! Hai-hai… Ini project fanfict pertamaku setelah sekian lama aku berkutat dengan dunia blogger sekedar untuk baca fanfic, dan baru hari ini aku berani posting fanfic ini. Semua ini murni dari pemikiran aku ya pemirsahh tanpa plagiat sana-sini, ya mungkin ada kesamaan cerita sedikit sama yang lain diwajarin aja lah ya, karena aku sama sekali ga berniat buat niruin jalan cerita mereka. “Berharap banget ada yang ngomen buat nyemangatin aku yg masih newbie ini” biarpun sudah berumur. Oiyaa.. Apakah chapter 1 ini kepanjangan ? Kependekan ? Atau alurnya terlalu cepet ? Wahh please give me a review 😩 gomawo readersdeul…. 😊

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s