[Ficlet Collection] 1989 Trilogy Pt.1 – It’s Your Song

[Ficlet Collection] 1989 Trilogy pt. 1 – It’s Your Song

Written by Amy Park

Taylor Swift Edition Pt. 1: It’s Your Song

Song Fanfiction – Romance – Fluff – Friendship – Family

Rated: PG-15

Tracklist:

Welcome to New York | Never Grow Up | Everything Has Changed | I Knew You Were Trouble | Back to December |

***

Singer Profile

Stage Name: Taylor Swift

Birth Name: Taylor Alison Swift

DOB: Pennsylvania, USA December 13th 1989

Label: Big Machine

^

From Author

Mengapa semua kisah di sini harus berdasarkan lagu-lagu Taylor Swift? Oh, yang benar saja. Swift? The girl who stayed up too late and got nothing in her brain? The one who always make a scene of her frenemies story with Perry? Pfttt…

But, guys, despite on her bad attitude issues, exactly she’s the best lyricist in the music industry. Yep, beberapa mungkin sudah tahu jika penyanyi yang satu ini kemiliki superstar syndrome, fame is number one for her. But, dia benar-benar mencintai dan melakukan pekerjaannya sebagai penyanyi dengan sepenuh hati. Well… dia tak hanya bisa membawakan lagu untuk dinikmati oleh telinga penggermarnya saja, tapi dia juga pandai bercerita lewat setiap lirik lagu yang dia ciptakan. Talentanya dalam story telling melalui musik tidak bisa diremehkan.

Siapa, sih, yang bisa nulis lagu hanya setelah beberapa jam putus? Siapa, sih, yang bisa menciptakan lagu hits hanya karena baru saja didepak oleh kekasihnya? Siapa juga, sih, yang secara gamblang membuat musik karena dia kecewa dengan bentuk pengkhianatan sahabatnya? Yep, Taylor Swift. Apapun yang terjadi dalam kesehariaannya, ia selalu menyulapnya sebagai sebuah karya yang menghasilkan. Amazing, isn’t?

Tidak hanya itu, lagu-lagu yang dia buat juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. About daily life, love, friendship, and even childhood memories. Sederhana, tapi penuh makna. Musik yang dihasilkan Swift sangat bisa dijadikan soundtrack keseharian semua orang. Maka dari itu, Amy Park di sini memutuskan untuk membuat kumpulan cerita pendek dari lagu-lagu milik mantan Harry Styles tersebut.

Seperti yang Taylor katakan, “My song isn’t just about my story. Because… this is your story.

 

So, bring your snack and enjoy your story, fellas.

And… Better leave your Netflix for a while.

Bunch of Hope

Amy Park

 

P.S: Disarankan untuk membaca sambil mendengarkan lagu tema di masing-masing kisah biar lebih berfaedah (?)

.

.

.

***

Track 01

Welcome to New York

Dedicated to Lovey-Dovey Couple (Park Mina x Park Jimin)

“Like any true love, it drives you crazy”

About the Song: Welcome to New York merupakan lagu medium-beat dari album 1989 milik Swift. Setengah royalti dari lagu ini Swift sumbangkan untuk sekolah publik di kota New York.

::. Welcome to New York .::

Hyatt Centric Hotel

New York City, USA

“Kau sudah sampai di New York dan bertemu Mina?”

Sebelum menjawab pertanyaan dari seseorang di sebrang sana, Park Jimin—lelaki bertopi beanie hitam dan kaos putih polos berlengan panjang andalannya—membenarkan tas punggungnya terlebih dahulu. Setelah menurutnya nyaman dipakai, ia pun kembali menyangga ponsel dengan tangan kanan di telinga kemudian menjawab pertanyaan dari sahabatnya.

“Aku baru keluar hotel dan akan segera bertemu Mina lebih tepatnya. Gadis itu ingin mengajakku jalan-jalan dan menikmati suasana malam tahun baru di New York. Bagaimana? Kau cemburu?” jawab Jimin seraya tersenyum pada pegawai hotel yang telah membukakan pintu keluar untuknya.

“Yang benar saja, cemburu pada kalian tidak ada gunanya. Aku, kan, sudah punya kekasih. Lagipula, memangnya kau dan Mina sudah pacaran?”

Jimin memutar kedua bola matanya. “Sudah kubilang, Taehyung… Mina akan segera menjadi milikku jadi sebaiknya kau bersiap.”

Tawa Taehyung pun terdengar dari seberang sana. Jika Taehyung sudah begini, Jimin pun akan merasa sangat kesal. Teman satu kamarnya itu selalu saja mengejeknya. Namun rasa kesal Jimin tersebut tidak bertahan lama, ketika manik matanya mendapati seorang gadis berambut panjang dengan topi beanie bertuliskan ‘New York’ yang tengah berdiri di sudut kanan lobi—sedang tersenyum dan melambaikan tangan padanya.

“Aku harus pergi. Sampai jumpa di Seoul, Tengik!”

“Tengik? Hei, Park Ji—“

Jimin tidak memedulikan bentuk protes Taehyung. Dia menutup sambungan telepon kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, sebelum akhirnya ia menghampiri gadis tersebut dengan langkah semangat.

“Mina-ya.”

“Kau sangat merindukanku?” tanya Mina sambil tersenyum, sedikit bahagia karena Jimin memberikannya pelukan singkat.

“Tentu saja. Dua tahun terpisah jarak bukan waktu yang singkat, tahu. Bagaimana kuliahmu?”

“Memasuki semester akhir dan segera menyusun skripsi. Kau? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kudengar group-mu meraih popularitas yang luar biasa di Korea Selatan dan  mancanegara. Woah… aku bangga menjadi sahabatmu, Jimin-ah!”

Jimin tersenyum seakan membanggakan diri, “Tentu saja. Sahabatmu ini sudah keren sejak lahir.”

Mina mencibir, tapi tidak menanggapi lebih lanjut. Gadis itu sadar bahwa waktu yang ia punya untuk bersama Jimin tidak banyak, mengingat besok pagi Jimin harus sudah pergi ke Seoul untuk mempersiapkan album barunya.

“Ada tempat yang ingin kau kunjungi di sini, Jimin?”

“Hmm… patung Liberty?”

Jawaban Jimin membuat Mina menghela napas kecewa. Sahabatnya yang satu ini memang tidak punya keahlian untuk bersenang-senang. “No, you can’t go there, Jimin. Karena seleramu sangat kolot, maka sekarang aku akan mengajarimu caranya bersenang-senang di kota yang tidak pernah lelah untuk berpesta ini.”

“Okay…” setuju Jimin sambil menggulum senyum.

***

Mina memilih Time Square sebagai tempat bersenang-senang di malam tahun baru ini dengan Jimin. Tempat yang sederhana tapi asik untuk jalan-jalan. Time Square merupakan sebuah persimpangan jalan utama di Manhattan sekaligus tempat bertemunya jalan Broadway dan Seventh Avenue. Di sana juga merupakan pusat industri bisnis dan komersil terbesar dengan begitu banyak restoran, kafe, bar, tempat belanja, sampai distrik teater yang mengelilingi.

Kata-kata tidak bisa mewakili perasaan senang Jimin saat ini. Lelaki itu sangat menikmati suasana city-light yang berhasil memanjakan kedua netranya sekaligus berhasil membuat ia melupakan semua kesibukan sebagai seorang idola. Ia bisa menikmati suasana di tengah keramaian tanpa harus khawatir akan ada orang yang menganggunya—mengingat semua orang di sini juga tengah sibuk bersenang-senang dengan cara mereka masing-masing.

“Apa di Seoul kau tidak pernah diberi makan, Jimin-ah? Kau seperti orang yang belum makan selama satu tahun.”

Jimin hanya tersenyum sambil kembali menghabiskan sisa sandwich tuna berukuran besar miliknya. Tiga jam jalan-jalan di Time Square menguras energinya, sehingga saat Mina mengajak ia ke sebuah rumah makan cepat saji yang menyediakan berbagai makanan berukuran besar, Jimin pun sangat sumringah bukan main.

Setelah Jimin tampak selesai makan, Mina mengecek jam yang bertenger di pergelangan tangan. “Sudah hampir tengah malam. Ayo kita ke main hall karena Taylor Swift sebentar lagi tampil!”

Belum sempat Jimin berkata apapun, Mina sudah menarik lelaki itu dengan paksa untuk beranjak dari tempat duduk dan pergi menuju main hall. Beruntung karena jarak antara rumah makan cepat saji yang ditempati kedua insan itu dengan main hall sangat dekat, sehingga mereka hanya menghabiskan lima menit untuk sampai di tempat tujuan.

Mina yang masih menggenggam tangan Jimin itu berusaha melewati kerumunan untuk dapat berdiri di dekat panggung. Dengan segala bentuk kelincahan Mina, pada akhirnya ia dan Jimin berhasil mendapat tempat menonton paling nyaman dan strategis—dua ratus meter dari panggung dengan kapasitas penonton yang tidak membuat mereka sesak. Dan tepat pada saat itu, pertunjukan pun dimulai.

“Whether this is the city when you come home, whether you king of the time square from all the way across the world, or whether you watching on television, i’ll say to you, welcome to New York.”

Ribuan penonton, termasuk Mina dan Jimin, yang ada di sana pun bersorak ketika Taylor Swift mengucapkan kalimat pembuka sebelum ia membawakan lagu.

Welcome to New York, Jimin-ah!!” ungkap Mina setengah berteriak karena musik mulai bergema ke seluruh sudut Time Square.

Welcome to my heart too, Park Mina!” balas Jimin yang membuat Mina menatapnya heran. Jimin hanya tersenyum kemudian kembali berkata dengan volume tinggi, “Aku mencintaimu!”

Tanpa menunggu jawaban Mina, Jimin segera mengecup bibir gadis tersebut dengan singkat. Membuat  Mina terdiam sesaat—terkejut. Namun detik berikutnya, Mina pun tersenyum dan menggenggam tangan Jimin. Ia menatap Jimin dengan lembut kemudian berucap, “Aku juga mencintaimu, Park Jimin.”

Tepat setelah Mina berkata demikian. Jimin kembali mencium bibir Mina lebih dalam di tengah keraimaan tersebut. Dan… lagu Welcome to New York milik Taylor Swift itu pun menjadi soundtrack yang menjadi saksi bahwa cinta dua sahabat tersebut pada akhirnya bisa bersatu.

Thanks, New York. This is the best new year’s eve for both of them.

…..

^^^^

Track 02

Never Grow Up

Dedicated to Best-Partner Couple (Han Sunkyo – Choi Siwon)

“So here I am in my new apartement in a big city, they just dropped me off.”

….

About the song: BTS Jimin menjadikan lagu ini sebagai lagu favoritnya yang tidak pernah ia hapus dari playlist. Berbeda dengan lagu-lagu cintanya, Taylor menulis lagu ini ketika ia bertemu dengan seorang gadis kecil. Dalam lagu ini Swift ingin menyampaikan bahwa proses menjadi dewasa itu begitu rumit dan masa kanak-kanak merupakan hal yang paling beharga dalam hidupnya.

::. Never Grow Up .::

Oakwood Premier Coex Center

Samsung-Dong, Gangnam-gu, Seoul, South Korea

“Jangan lupa untuk mengganti semua sayuran di kulkas jika sudah dua minggu, Sunkyo-ya.”

Yes, Mom.”

“Ah, ya, jangan sampai lupa untuk bayar tagihan listrik di awal bulan. Jangan sampai terlambat atau kau akan kerepotan nantinya.”

Yes, Mom.”

“Selalu nyalakan penghangat ruangan di malam hari agar tidurmu nyenyak, ya. Untuk menu sarapan, sebaiknya kau membuat makanan organik. Kurangi makan mie instan agar kau sehat. Serta—“

Mom…” Sunkyo menghentikan segala petuah dari ibunya dengan sebuah senyuman. Perempuan itu pun segera memeluk sang ibu dan memastikan agar wanita paruh baya yang sudah melahirkannya itu tidak terlalu mengkhawatirkannya. “Aku akan baik-baik saja. Percayalah.”

“Jangan lupa juga untuk menghubungiku ketika ada waktu luang, Sweetheart,” ucap sang ibu seraya melepaskan pelukan Sunkyo. Ia pun mengecup kedua pipi anaknya itu dengan penuh kasih sayang. “I love you.”

I love you too, Mom.”

“Jangan lupa mengirimkan kami hanwoo[1], Sunkyo-ya.”

“Sangjin!”

Sunkyo hanya terkekeh ketika ibunya memukul sang ayah yang memang sedari tadi tengah bersama mereka. Tak ingin berlama-lama di dinginnya udara malam, Sunkyo pun merangkul dan mendorong kedua orangtuanya dengan lembut untuk segera memasuki mobil. “Sekarang saatnya kalian pulang karena malam telah larut. Sunkyo akan baik-baik saja jadi tenanglah.”

“Jaga dirimu baik-baik, ya, Sweetheart,” ungkap ibunya Sunkyo ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Sunkyo tersenyum dan menutup pintu belakang mobil dengan senyuman yang tidak hilang dari bibir merah mudahnya.

I love you, guys. Hati-hati di jalan.”

Kedua orangtua Sunkyo pun membalas senyuman anak perempuannya sebelum mobil mereka melaju. Sunkyo hanya terdiam di tempat sampai mobil hitam itu menghilang dari pandangannya. Perempuan itu menghela napas berat, “Aku pasti akan merindukan kalian lagi.”

***

Sunkyo duduk terdiam dengan sebuah gelas berisi air mineral di tangan kanannya. Ia menatap lurus ke kaca jendela besar apartemennya dengan tatapan kosong. Baru satu jam kedua orangtuanya pulang, tetapi perempuan itu sudah merindukannya. Ia pun menghela napas untuk yang kesekian kali.

Kehidupan ini sangat lucu, pikir Sunkyo. Ketika ia masih berumur belasan tahun, rasanya ia ingin sekali cepat beranjak dewasa agar bisa bebas dari segala aturan kedua orangtuanya dan hidup bahagia dengan penghasilan sendiri. Tapi kini, ketika ia sudah menginjak usia 29 tahun, ia malah ingin kembali ke masa kanak-kanak, dimana semua hal terasa begitu sederhana dan hanya ada kebahagiaan dalam pikirannya—tanpa beban dan tanggung jawab.

Hhhhtumbuh dewasa ternyata bukan hal yang mudah.

Tapi Sunkyo tidak akan terlarut dalam kesedihan itu dalam jangka waktu yang lama karena putri dan suaminya selalu ada untuk menemani dirinya. Benar, putri dan suami Sunkyo yang kini baru datang dan langsung memecahkan keheningan apartemen.

MommyMommy… Yeollane sudah pulang!”

Mendengar suara itu, Sunkyo pun segera meletakkan gelas di meja kemudian beranjak. Ia menghampiri seorang gadis cilik berusia lima tahun yang baru datang kemudian lekas menggendongnya. “Kenapa anak mommy pulang malam sekali, huh?” tanya Sunkyo sambil mencium kedua pipi Yeollane dengan gemas.

“Aku membawanya jalan-jalan dulu, Sun.”

Jawaban sang suami membuat Sunkyo memicingkan matanya, “Dan kau tidak mengajakku, Siwon-ah?”

Siwon menghampiri Sunkyo seraya mencium keningnya. “Maaf, aku pikir kau ingin menghabiskan waktu dengan kedua orangtuamu seharian ini.”

“Dan kupikir kau seharusnya cepat pulang dan menemui kedua orangtuaku. Mereka ingin bertemu denganmu juga Yeollane,” keluh Sunkyo.

Daddy bilang ke Yeollane kalau daddy tidak ingin bertemu kakek dan nenek karena takut diberikan petuah yang tidak penting,” ceplos Yeollane. Celetukkan itu membuat Sunkyo kaget, sedangkan Siwon malah segera pergi ke kamar untuk menghindari sang istri.

“Choi Siwon!!” teriak Sunkyo jengkel. Wanita itu pun menurunkan Yeollane dan segera menyusul Siwon. Teriakan jengkel Sunkyo juga kembali terdengar, “Jadi itu alasan kenapa kau tidak mau bertemu kedua orangtuaku, huh?!”

“Kenapa mommy dan daddy tidak main film India saja, mainnya kejar-kejaran terus, sih. Capek deh,” gumam Yeollane sambil menepuk jidat dengan tangan mungilnya.

***

Epilogue

Sunkyo membuka pintu kamar Yeollane dengan hati-hati kemudian menghampiri putri semata wayangnya yang kini tengah terlelap di tempat tidur. Senyumnya mengembang. Melihat wajah polos Yeollane ketika tidur benar-benar membuat Sunkyo bahagia. Wanita itu juga sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan Yeollane sebagai salah satu anugrah terindah dalam hidupnya. Sunkyo sungguh ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan Yeollane. Ia bahkan tidak sanggup membayangkan jika suatu saat nanti Yeollane menikah dan akan tinggal terpisah dari dirinya.

Tidak mau berpikir lebih jauh, Sunkyo pun menyampirkan selimut bewarna biru shappire hingga pundak Yeollane agar anaknya itu tidak kedinginan selama tidur. Ia juga mengecup kening Yeollane dengan hati-hati dan penuh kasih sayang kemudian berbisik, “Wish you never grow up, sweety. Mommy always loves you.”

….

^^^^

Track 03

Everything Has Changed

Dedicated to Childhood-Lovers Couple (Lee Nayoung – Kim Seokjin)

“You’ll be mine and I’ll be yours.”

….

About the song: Lagu ini sebenarnya bercerita tentang seseorang yang tengah jatuh cinta. Tentang pertemuan dua insan yang membuat perspektif seseorang dalam menghadapi suatu hal berubah begitu drastis. “You’re thinking of two, instead of one,” begitu yang dikatakan Swift.

::. Everything has Changed .::

St. Catherine’s Academy

Anaheim, California, USA

Angin segar yang meniup dedaunan pohon palem itu menemani langkah santai seorang gadis bergaun merah muda selutut bernama Nayoung. Ah… akhirnya rasa lelahnya akibat jet lag bisa terobati juga dengan suasana sejuk sekolah dasar yang pernah ia singgahi puluhan tahun silam. Sekolah yang menyimpan seluruh kenangan masa kecilnya, juga kenangan beharga dengan seseorang yang sangat spesial dalam hidupnya.

Senyuman manis dari bibir merah muda Nayoung pun berkembang, kala ia melihat seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari pintu utama sekolahnya. Dengan sigap, Nayoung mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri.

“Mrs. Turner!”

Wanita itu menoleh dan menatap Nayoung heran. Untuk lebih tepatnya, ia sedang mencoba mengingat sosok gadis dewasa yang kini tengah menghampirinya. “I’m sorry… aku sudah cukup tua untuk mengingat seseorang. So… who are you?”

“Lee Nayoung. But you’d like to call me Nana back then, Elisa.”

Netra wanita yang bernama Elisa itu berbinar saat Nayoung menjawab pertanyaannya. Kedua tangan Elisa pun kini menangkup kedua pipi Nayoung secara spontan, menunjukkan sebuah kerinduan yang mendalam baginya. “Oh my God… you’re my Nana. Kau telah tumbuh menjadi wanita yang cantik. Sudah berapa tahun aku tidak bertemu denganmu… oh, I miss you, my dear.”

Sebuah pelukan hangat pun Nayoung berikan kepada Elisa untuk mengobati rasa rindunya. Elisa Turner, guru wali Nayoung selama tujuh tahun berturut-turut ketika ia menjadi murid St. Catherine. Elisa merupakan guru terbaik Nayoung karena selain cantik, Elisa juga tipikal guru yang ramah dan penuh kasih sayang. Kini, Nayoung bisa melihat banyak kerutan di wajah Elisa, tetapi hal itu sama sekali tidak membuat kecantikan Elisa pudar.

“Apa kau ke sini untuk bertemu dengan Kim?” tanya Elisa.

Nayoung memicingkan matanya, “K-Kim?”

Yes… murid Asia selain dirimu. Lelaki pemalu yang selalu bersamamu setiap saat pada saat itu.”

“Jadi dia sungguh datang kemari?”

Elisa mengangguk tanpa menghentikan senyuman manisnya, “Sekarang dia di kelas musik. Aku rasa dia sedang bernostalgia.”

Mendengar jawaban tersebut, Nayoung pun hanya terdiam. Entahlah… apakah ia harus senang atau gugup.

***

“Maybe I, I can never fly… jeogi jeo kkoccipdeulcheoreom nalgael dan geotcheoreomeun andwe…”[2]

Nayoung bisa mendengar denting piano dari luar ruangan musik. Hatinya pun semakin berdesir saat ia melihat sosok lelaki yang sangat ia rindukan tengah memainkan piano sambil bernyanyi dari jendela ruangan. Pada akhirnya Nayoung hanya bisa terdiam di luar sambil menikmati lagu yang dinyanyikan Jin. Ya, Jin. Satu-satunya teman Nayoung di sekolah ini yang berasal dari Korea Selatan, sama seperti dirinya.

Setelah Jin selesai menyanyikan lagu, tanpa pikir panjang Nayoung pun melangkah masuk ke ruangan musik yang sedari tadi pintunya sudah terbuka, kemudian menghampiri Jin yang kini tampak sedikit kaget ketika melihat kedatangannya.

I know that song… lagu solo milikmu pada album Wings, bukan?”

Jin tersenyum, “Yep. Dan aku juga yang menciptakan lagu itu. Hebat, bukan?”

Nayoung terkekeh. Ternyata sikap narsis Jin masih sangat melekat dalam diri lelaki tersebut sampai sekarang. Dan Nayoung senang akan hal itu.

Keadaan keduanya lalu sempat canggung sebelum akhirnya Nayoung kembali berkata, “Lucu, ya. Setelah dua tahun kau hilang tanpa kabar, sekarang kita malah dipertemukan di sini, bukan di Seoul.”

Jin memberikan Nayoung sebuah tatapan seakan ia merasa bersalah. Lelaki itu juga tampak bingung mencari jawaban yang tepat akan pernyataan Nayoung tersebut. Mereka memang teman masa kecil, tetapi hubungan Jin dan Nayoung tetap terjalin seiring keduanya tumbuh dewasa. Namun, dua tahun belakangan ini mereka tidak pernah bertemu karena Jin menghilang tanpa memberikan kabar sedikit pun. Nayoung sebenarnya kecewa, tetapi dia berusaha memaklumi karena teman kecilnya tersebut kini sudah menjadi public figure dengan setumpuk kesibukkan yang mengelilingi.

I’m sorry, Nayoung-ah…” Jin pun membuka suara. Ia menghela napas terlebih dulu kemudian melanjutkan, “Ponselku hilang dan aku tidak bisa menyelamatkan semua kontak termasuk milikmu. Jadi—“

“Tidak apa-apa, aku mengerti,” senyum Nayoung. Ia pun segera mengalihkan topik pembicaraan, “Kau kemari karena grup-mu akan mengadakan konser di sini, ya?”

Jin mengangguk, “Tapi bukan hanya karena itu. Ada alasan lain mengapa aku datang ke Anaheim, terutama ke sekolah ini.”

“Alasan lain? Apa?” tanya Nayoung tampak antusias.

“Kau ingat ketika kita merayakan ulang tahunku yang ke-14 di taman sekolah belakang?”

Nayoung mengangguk, “Tentu. Aku ingat.”

Senyuman Jin pun mengembang, “Aku datang kemari untuk menepati janji yang aku katakan pada saat itu. Kau akan menerimanya, bukan?”

Nayoung hanya tersenyum sebagai jawaban. Wanita itu benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan karena sesungguhnya saat ini ia tengah bahagia.

Happy birthday, Lee Nayoung.”

Dan ucapan Jin pun membuat Nayoung memeluk lelaki itu secara spontan.

***

Years Ago…

Happy birthday, Jinnie!”

Gadis cilik itu meletakkan cupcake coklat di atas meja, membuat anak lelaki yang kini tengah duduk di hadapannya itu tersenyum senang. “Maaf karena aku tidak punya uang lagi untuk membeli lilinnya.”

It’s ok, Nana. Cupcake ini sudah cukup membuatku senang.”

Mata gadis cilik yang dipanggil Nana itu berbinar. “Kalau begitu segera berdoa dan ucapkan permintaanmu, Jin!”

“Di hari ulang tahunku ini aku tidak akan membuat harapan, tapi akan membuat janji.”

Nana mengedipkan kedua matanya, bingung atas perkataan Jin. “Janji apa?”

Jin tersenyum manis sambil menatap Nana penuh harap, “Kim Seokjin berjanji, ketika ia sudah berumur 28  tahun, ia akan meminta Nana untuk menjadi wanitanya.”

Nana menutup mulutnya dengan kedua tangan—seakan terkejut atas ucapan Jin, sedangkan Jin pun kembali berkata, “Dan jika Jin mengatakan ‘Happy Birthday, Lee Nayoung’ di ulang tahun Nana yang ke-28 juga, itu artinya Jin akan menikahi Nana dan membuat Nana bahagia.”

Nana mengangguk senang, “Dan Nana akan menunggu sampai Jin menepati janji itu.”

“Kim Seokjin akan menepati janji itu,” tutur Jin dengan mantap sambil membenarkan kacamatanya.

And… yes.

Kim Seokjin pun telah menepati janjinya saat ini.

….

^^^

Track 04

I Knew You Were Trouble

Dedicated to Broken-Hearted Couple (Kim Taehyung – Park Jihyun)

“You never loved me or her, or anyone, or anything”

….

About the song: Lagu ini bercerita tentang seorang gadis yang jatuh di kesalahan yang sama. This song is about not trusting your own instincts and ignoring all the red flags. Rumornya, lagu ini terinspirasi dari kisah patah hati Taylor ketika ia putus dengan John Mayer, tapi Taylor mengkonfirmasi bahwa sebenarnya lagu ini terinspirasi oleh kisah cintanya dengan Harry Styles.

….

XS Nightclub

Las Vegas, USA

Suasana salah satu private room yang ada di dalam XS itu tampak berantakan. Dua buah sofa mewah bewarna merah kini tengah berada dalam keadaan terbalik dengan puluhan botol minuman yang sudah kosong di sekelilingnya. Di paling sudut kanan ruangan, seorang gadis berambut coklat terlihat sedang duduk di atas lantai sambil memeluk lutunya.

Keadaannya sangat kacau. Kaos putih polos dan celana jeans yang ia kenakan tampak lusuh. Yang lebih mengkhawatirkan, kedua pergelangan tangannya tampak berlumur darah. Park Jihyun, perempuan itu, juga tengah menangis—dan tidak berhenti memaki dirinya sendiri karena telah jatuh di sebuah perangkap yang sama. Hidupnya kembali hancur oleh pria sialan bernama Hong Jonghyun.

Sejak awal, pria itu hanya menganggapnya sebagai mainan yang kapan saja bisa ia buang dengan seenaknya. Jihyun dicampakkan. Jonghyun meninggalkannya dalam keadaan benar-benar tidak perguna. Sakit, memang. Tapi ada rasa sakit yang lebih menyakitkan bagi dirinya dan itu bukan disebabkan oleh kepergian Jonghyun dari kehidupannya.

Rasa sakit yang menusuk tepat ke dalam ulu hatinya yang terdalam.

Rasa sakit yang membuat ia ingin menghukum dirinya sendiri.

Rasa sakit yang sepertinya tidak akan pernah hilang dalam hidupnya.

Rasa sakit yang sama sekali tidak ia ketahui asalnya dari mana.

And i guess… she just lost her balance.

***

Kim Taehyung sudah memutuskan pilihan. Dia tidak akan menyiakan uang satu juta won miliknya terbuang begitu saja. Maka, di sinilah ia duduk, di sebuah bar nightclub yang kini tengah ramai pengunjung. Sebuah klub malam yang sangat berbeda dengan yang biasa ia kunjungi di Seoul.

Dia datang ke klub malam ini atas saran Namjoon. Dan… kini Taehyung sungguh merasa membenci seorang Kim Namjoon karena merekomendasikan XS Nightclub tanpa memberitahu dirinya bahwa klub malam ini merupakan tempat yang liar dengan strip dance sebagai pertunjukan utama. Sesampainya ia di hotel nanti, Taehyung benar-benar akan menghajar Namjoon—tidak peduli pada kenyataan jika lelaki sialan itu lebih tua darinya.

“Aku bersumpah jika paparazzi itu mengikutiku sampai kemari dan mengambil fot—“ Taehyung yang hendak meneguk peach juice pun mengurungkan niat dan segera berbalik badan ketika ia menangkap sosok wanita berkemeja biru di tengah kerumunan orang.

Holy shit! Paparazzi milik Dispatch yang sejak pagi mengikutinya kini berhasi masuk ke dalam XS untuk menemukan dirinya. Jika sudah berada di dalam keadaan seperti ini, Taehyung benar-benar menyesal telah memilih menjadi seorang penyanyi.

“Kabur, Taehyung!” perintah Taehyung kepada dirinya sendiri. Lelaki itu pun meletakkan gelas peach juice yang belum ia sentuh dan segera pergi dari bar.

Sekarang ia harus mencari tempat persembunyian, dan keluar dari XS bukanlah pilihan yang tepat. Maka, lelaki tampan itu memilih untuk memasuki sebuah ruangan secara acak. Masa bodoh dengan yang akan ia temukan di dalam ruangan tersebut, yang penting paparazzi sialan itu tidak menemukan dirinya.

Saat sudah berhasil masuk ke dalam ruangan itu, Taehyung juga tak segan untuk mengunci pintunya agar tingkat keamanan bagi dirinya berada di level maksimal. Setelah tersenyum puas, Taehyung pun membalikkan badan untuk melihat suasana ruangan.

“Astaga!”

Dia terlonjak kaget ketika melihat ruangan begitu berantakan. Tapi yang membuat ia sangat kaget adalah… di sudut kanan ruangan ada seorang perempuan dengan darah segar di kedua tangannya tengah duduk terpaku di atas lantai yang dingin. Seorang perempuan yang memiliki bentuk wajah Asia. Mungkinkah ia juga orang Korea? Pikir Taehyung.

Excuse me… are you gwenchana? I mean… are you ok?” tanya Taehyung dengan aksen Korea yang kental. Lelaki itu pun kembali tertegun ketika perempuan malang tersebut mengangkat wajahnya seraya memperhatikan Taehyung dengan seksama. “I… walk into here for… bersembunyi? Hide? So… Emmm… are you ok withme? Aish… kenapa susah sekali merangkai katanya?”

“Kau orang Korea juga?” tanya perempuan itu dengan bahasa Korea yang lancar, membuat mata Taehyung berbinar senang. Bahkan saking senangnya, Taehyung tak segan untuk segera menghampiri dan duduk di sebelah perempuan tersebut.

“Woah… aku tidak menyangka akan bertemu orang Korea juga di sini. Tuhan memang sayang padaku, ya. Oh, iya, aku Taehyung.”

Taehyung mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tetapi detik berikutnya ia menariknya kembali—dirinya terhenyak kala melihat keadaan kedua tangan milik perempuan tersebut yang terluka dan berlumur darah. Oleh karena itu, Taehyung pun segera mengeluarkan sapu tangan dari saku celana, kemudian dengan hati-hati ia membersihkan darah segar di tangan dingin milik perempuan itu.

“Jihyun. Senang bertemu denganmu, Taehyung. Walaupun dalam keadaan seperti ini,” perempuan itu akhirnya bersuara, tetapi Taehyung hanya tersenyum kecil dan tetap fokus membersihkan luka yang ada di pergelangan tangan Jihyun.

“Maaf jika terdengar lancang, tapi mengapa kau bisa berakhir seperti ini, Park Jihyun?” tanya Taehyung ketika sudah selesai membersihkan luka Jihyun.

Senyuman miris langsung terukir di mulut mungil Jihyun. “Aku bertengkar dengan kekasihku. Dan karena depresi, aku pun melukai diri sendiri,” jawab Jihyun sambil menunjukkan keadaan tangannya kepada Taehyung, seakan memberikan penjelasan pada lelaki itu.

Taehyung tidak memberi tanggapan, karena ia tahu bahwa Jihyun belum menyelesaikan kisahnya. Lelaki itu hanya terdiam dan siap untuk mendengarkan semua keluh kesah perempuan patah hati yang kini berada di hadapannya.

“I’m such a fool, you know. Sejak awal aku tahu bahwa dia akan menyakitiku, tapi aku tetap percaya dan dengan senang hati menjadi mainannya. Well… aku sudah terima jika dia pergi meninggalkanku sekarang. Tapi kau tahu, Taehyung, ada rasa sakit di dalam hatiku yang begitu dalam dan aku tidak tahu apa penyebabnya.”

Taehyung mengangguk mengerti. Ia pun menatap Jihyun dengan seksama, “Aku pernah mengalami hal yang sama denganmu. Mencintai seseorang yang seharusnya tidak boleh kau cintai. Entahlah… aku tahu bahwa aku akan tersakiti, tapi aku tetap mencintainya. Semua hal telah aku lakukan agar bisa memilikinya. Tapi semua itu sia-sia, aku hanya menghabiskan waktu dan menyiksa diri sendiri.”

Lelaki itu menghela napas sejenak, kemudian melanjutkan, “Dunia terasa akan runtuh ketika dia pergi. Berlebihan, bukan? Tapi memang itu kenyataannya. Aku menanggung rasa sakit yang luar biasa ketika dia pergi, tapi rasa sakit itu terasa hampa. Bahkan semakin lama aku berpikir, penyebab utama rasa sakit itu bukanlah kepergian perempuan yang aku cintai. Penyebabnya lebih besar dari itu, tapi aku tidak menyadarinya.”

“Right… that’s exactly what I feel,” ungkap Jihyun sambil menatap Taehyung tidak percaya.

Taehyung pun memalingkan wajah dari Jihyun. Ia menghela napas kemudian kembali berucap, “Karena… yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan orang yang kau cintai, tetapi kehilangan diri kita sendiri karena orang tersebut. Dan mungkin itulah yang sedang kau rasakan sekarang, Jihyun-ssi.”

Jihyun pun menunduk seraya tersenyum getir. Yang dikatakan Taehyung amat benar, apalagi ketika ia mengingat semua pengorbanan yang pernah ia berikan untuk Jonghyun. Sebuah pengorbanan yang sia-sia dan menyakiti dirinya sendiri. Benar, perkataan Taehyung membuat dirinya sadar bahwa… the worst part of it all wasn’t losing him, it was losing herself.

Shame on me, you know,” ungkap Jihyun pada akhirnya sambil kembali terisak. “Aku baru sadar bahwa mencintai dia itu sama sekali tidak ada gunanya, dan pada akhirnya aku juga yang dirugikan.”

Taehyung tersenyum sambil menatap Jihyun lembut, “Tidak apa-apa. Semua orang pernah berbuat kesalahan, jadi jangan bersedih.”

“Ini berbeda, Taehyung. Aku masuk dalam kesalahan yang sama. Dia tidak pernah mencintaiku, atau wanita lain, atau siapa pun, he’s such an asshole. Tapi aku tetap percaya padanya dan membohongi diriku sendiri.”

“Maka sekarang saatnya kau memperbaikinya, Jihyun-ssi. Tidak masalah jika kau melakukan kesalahan dua kali, tiga kali, atau beberapa kali asal kau memiliki keberanian untuk memperbaikinya. Tidak ada kata terlambat. Dan jangan lupa agar tidak terlalu lama larut dalam penyesalan karena kau juga berhak bahagia.”

Kali ini perkataan Taehyung membuat hati Jihyun tersentuh, berhasil membangkitkan kembali sebuah harapan yang sempat terkubur dari perempuan tersebut. “Kau benar… tapi aku rasa aku cukup bingung dari mana aku harus memulai untuk memperbaiki semua ini.”

Taehyung mengangkat bahunya dan tersenyum jahil, ”Kau bisa mulai dengan pergi berkencan denganku malam ini.”

Jihyun pun terkekeh, “Are you kidding me?”

No. Karena seorang Kim Taehyung tidak akan pernah bercanda. Jadi… apa kau mau berkencan denganku?”

Jihyun terdiam, tetapi detik berikutnya dia pun mengangguk. “Kurasa itu bukan ide yang buruk.”

“Memang bukan ide yang buruk. Jadi… Mari kita keluar dari klub malam membosankan ini dan kau wajib mengajakku berwisata malam di Las Vegas! Oh, ya, sebaiknya kau mengajakku ke tempat makan karena perutku sangat lapar.”

Kalimat terakhir Taehyung berhasil membuat Jihyun tertawa. Tawa yang terdengar indah dan cukup berhasil menghangatkan hati Taehyung. Entah kenapa, lelaki itu juga ikut bahagia ketika Jihyun sudah mulai melupakan kesedihannya. Mungkin karena Taehyung pernah berada di posisi Jihyun pada saat itu. Atau mungkin karena pesona Jihyun berhasil membuat Taehyung menyukainya. Entahlah… hanya Tuhan dan Taehyung sendiri yang tahu.

Seakan tidak ingin berlama-lama, Taehyung pun beranjak dari duduknya, begitu pula dengan Jihyun. Mereka hendak pergi dari ruangan itu, tetapi langkah Taehyung terhenti. Ada hal penting yang harus ia tanyakan pada Jihyun.

“Tunggu, Jihyun-ssi. Apa kau tidak mengenaliku?”

Jihyun tampak heran dengan pertanyaan Taehyung. “Maksudmu?”

“Ah, sudahlah. Lupakan saja,” ungkap Taehyung sambil menghela napas kecewa.

Sial… sepertinya aku kurang terkenal, batin Taehyung.

…..

^^^^^

Track 05

Back to December

Dedicated to Winter-Hope Couple (Ji Saehyun – Jeon Jungkook)

“So this is me swallowing my pride, standing in front of you saying I’m sorry for that night.”

….

About the song: Berkisah tentang penyesalan seorang gadis yang telah menyiakan cinta yang tulus dari seseorang. Lagu ini Taylor Swift tulis sebagai bentuk permintaan maaf pada mantan kekasihnya yang bernama Taylor Lautner. Lautner juga membenarnya hal tersebut di sebuah acara dengan Lea Michele sebagai MC.

Busan, South Korea

Penyesalan memang selalu datang di akhir, dan itulah yang sedang dirasakan oleh Ji Saehyun saat ini. Ia telah menyiakan kehadiran seorang lelaki yang mencintainya dengan tulus, bahkan Saehyun pun tidak pernah memberikan kesempatan bagi lelaki tersebut untuk masuk menjadi bagian kehidupannya. Dan kini… ketika lelaki itu berbalik meninggalnya, Saehyun malah sangat ingin agar ia kembali dan menjadi miliknya. Egois? Tentu saja.

Keadaan kamar Saehyun saat ini begitu gelap dan dingin dengan suara rintik hujan di luar sebagai lagu latar, sangat pas untuk menemani kesendirian dan rasa patah hatinya. Perempuan dengan hazel coklat itu tidak berniat untuk melakukan apapun kecuali duduk termenung di atas tempat tidur. Bahkan netranya sampai sekarang masih terpaku pada bunga mawar layu yang tergeletak begitu saja di atas nakas.

“Bahkan aku mengabaikan bunga itu. Bunga terakhir yang kau berikan padaku…”

***

Saehyun masih mencintai lelaki itu, bahkan ada hasrat dalam dirinya yang menginginkan agar lelaki tersebut kembali ke dalam kehidupannya. Namun Saehyun sadar, betapa egoisnya ia jika menjadikan hasratnya tersebut menjadi sebuah ambisi. Maka, perempuan itu hanya terdiam di depan pintu rumah lelaki itu. Bukan. Ia bukan datang untuk memintanya kembali, tetapi Saehyun datang untuk meminta maaf. Untuk melakukan hal tersebut, ia harus membuang semua prestise yang ada dalam dirinya—dan itu merupakan hal tersulit baginya.

Setelah beberapa menit hanya terdiam, Saehyun pun menghela napas kemudian hendak mengetuk pintu. Tapi niatnya terhenti ketika sang pemilik rumah sudah terlebih dulu membuka pintu.

Creep!!! Lelaki yang sedari tadi membuatnya gugup kini telah berdiri di depannya dengan sempurna.

“Jungkook…”

“Saehyun?” Lelaki itu tampak bingung. “Ada apa kau kemari?”

Saehyun tersenyum kaku seraya mengusap tengkuknya, ia sungguh kehilangan kata-kata untuk menjawab satu pertanyaan sederhana yang dilontarkan Jungkook. “Aku baru saja bertemu dengan teman di daerah sini, dan mungkin tidak ada salahnya aku mampir ke rumahmu. Tapi tampaknya kau akan pergi jadi mungkin aku juga sebaiknya pulang saja.”

Baru saja Saehyun akan berbalik dan pergi, Jungkook menahan lengannya—membuat hati perempuan itu berdesir karena sudah hampir sebulan ia tidak merasakan sentuhan Jungkook yang amat hangat.

“Masuklah. Mari kita mengobrol di dalam,” tutur Jungkook sambil tersenyum ramah.

Bagaimana bisa Jungkook tersenyum manis padanya ketika ia sudah berlaku tidak baik terhadap lelaki itu? Saehyun benar-benar malu sekarang. Bahkan ketika perempuan itu sudah duduk di sofa ruang tamu, ia masih saja menunduk dan tidak berani menatap Jungkook.

“Aku akan mengambilkan minum. Kau tunggu—“

“Tidak usah, Jungkook-ah,” tahan Saehyun. Jungkook pun menuruti keinginan perempuan itu dan kembali duduk di sebelahnya.

“Jadi… apa yang membawamu kemari?” tanya Jungkook setelah keheningan sempat menyelimuti keduanya.

Saehyun tidak langsung menjawab. Ia tampak memainkan jemarinya dan kedua kakinya pun tidak bisa berhenti bergerak. Ada banyak yang ingin dia sampaikan kepada Jungkook tapi dirinya bingung bagaimana cara mengatakannya. Tapi mau tidak mau Saehyun harus mengatakannya sekarang karena dia tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya.

“Jungkook-ah… aku ingin minta maaf,” ungkap Saehyun pada akhirnya. “Malam itu aku sedang tidak bisa berpikir jernih. Kau tahu… banyak sekali pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan sehingga… sehingga—“ Saehyun dengan sekuat tenaga mencoba menemukan alasan yang tepat, sedangkan Jungkook tetap terdiam sambil menatap Saehyun dengan intens. “—sehingga aku mengabaikanmu dan memintamu pergi dari kehidupanku. Aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Aku tahu.”

Saehyun mendongkak dan menatap Jungkook dengan pandangan tidak percaya. “Kau tahu?”

Lelaki itu kembali memberikan senyuman manis yang selalu berhasil membuat Saehyun salah tingkah. “Aku tahu bahwa selama ini kau tidak pernah mencintaiku. Kau menerimaku sebagai kekasih karena kau hanya kasian padaku, bukan?”

“Jungkook-ah—“

“Maka sebenarnya yang harus minta maaf di sini adalah aku, bukan kau,” ucap Jungkook dengan lirih. Bahkan kini ia tampak tersenyum pahit. Sebelum Saehyun berbicara, Jungkook kembali menyela, “Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk mencintaimu, Saehyun. Kalau memang kau mau, aku akan pergi dari kehidupanmu.”

“Aku tidak mau,” sanggah Saehyun dengan cepat. Perempuan itu tampak menahan tangis. Ia tahu bahwa kini dirinya mulai egois, tapi Saehyun benar-benar tidak ingin kehilangan Jungkook untuk yang kedua kali. “Aku ingin kau menjadi kekasihku lagi.”

Jungkook tersenyum kecil seraya menunduk, menghindari kontak mata dengan Saehyun. Setelah beberapa menit, barulah ia mendongkak dan kembali menatap Saehyun dengan serius. “Well… aku pikir aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, untuk menjadi kekasihmu lagi.”

Jawaban tersebut membuat air mata Saehyun menetes, tapi dengan spontan ia segera menyekanya. Tidak heran jika Jungkook menolaknya karena ia telah menyiakan kasih sayang tulus yang pernah lelaki itu berikan. Saehyun kini hanya bisa menelan air liurnya sendiri dan menerima kenyataan pahit bahwa hubungannya dengan Jungkook memang sudah berakhir seutuhnya.

Gadis itu pun hendak beranjak pergi, tetapi perkataan Jungkook kembali menahannya.

“Tapi aku mau jika kita memulainya dari awal.”

Saehyun menatap Jungkook dengan heran, tetapi lelaki itu hanya tersenyum. Hal itu membuat Saehyun bertanya-tanya.

“Jika mulai dari awal, maka tidak akan penyesalan apa pun yang nanti akan menjadi hambatan dalam hubungan kita berdua, bukan?” Jungkook pun mengulurkan tangan kanannya kemudian berkata, “Hai, aku Jungkook. Senang berkenalan denganmu.”

Seakan mengerti, tawa kecil Saehyun pun akhirnya pecah di tengah isak tangisnya. Gadis itu pun segera menjabat tangan Jungkook. “Ji Saehyun. Senang bisa berkenalan denganmu juga.”

***

^

^

Pyuhhhh! Akhirnya selesai juga bagian pertama songfic Taylor ini gaesss.

Maaf banget kalau aneh dan ada beberapa ending yang dipaksain. Karena sesungguhnya aku lagi galau tapi lagi enggak mau bikin ff sad ending jadi pada akhirnya konflik di ff ini aneh semua deh. Mohon maaf juga kalau banyak typo dan tata bahasa yang rancu bertebaran karena aku udah mumet ngedit.

Btw, tadinya plot ini mau aku jadiin ff berbahasa Inggris di wattpad dengan Taylor Swift dan jajaran para mantannya yang jadi pemain–makanya semoga kalian bisa maklum kalau banyak bahasa Inggris nyelip dengan gajenya dan juga latarnya enggak semua di Korea. Cuma aku oper aja buat pengganti ff Playlist for Heal. Dan kayaknya ff Playlist for Heal enggak akan aku bikin ulang deh, feel-nya udah ilang jadi aku mau fokus aja sama songfic Trilogy ini kwkwkw

Songfic Trilogy yg lain akan segera menyusul so tunggu aja ya. Dan walaupun gaje, tetapi semoga kalian suka. Don’t forget to like, comment, and subscribe ya #ngawur kwkwkw okee kalau gitu Amy Park pamit dan sampai jumpa di FF lainnya.

Oh… jangan lupa bahagia, ya!! ^^

[1] Daging sapi Korea

[2] Jin – Awake

Advertisements

6 thoughts on “[Ficlet Collection] 1989 Trilogy Pt.1 – It’s Your Song

  1. Uaaahh baru sempet baca. Dan.. ceritanya 👍👍👍👍👍 ga bisa terlalu banyak komentar lagi, pokoknya 👍👍👍ditunggu banget ff lainnya 😊

  2. Nayoung here…. Uuaaaahhhh… Bagiannya nayoung swwett bgtzzz jadii ada panggilan baru buat nayoung.. Nana (*entah kenapa aq inget webtone yg cast cewnya nmanya nana trus cowoknya Jun) #plaksudahabaikansaja… Pokoknyaa mahh aq suka .. Aku sukaa…. Di tunggu chptr slanjtnya keep writing yaa 😘😘😘

  3. Pak Shafaaa, dari keseluruhan cerita, aku suka semuanya! Terutama yg kisah Mina Jimin. Sweet bangeet loh kkk
    Untuk kisah Jungkook-Saehyun koq ngenes ya awalnya kkk pukulan buat Saehyun nih yg sering ngeduain wkwkwk nyia-nyiain cintanya Jungkook kkk

    aku gk bisa komentar banyak, yg jelas kutunggu kelanjutan dari Trilogy ini kkk mangats pak 👍

  4. Annyeong oom.

    Ringan konfliknya, pas bgt bwt aku yg males berpikir ini. Wkwk.

    Hmmm…. Bagian Sunkyo manis bgt ya… Tp entah knp rasanya ada yg kurang gitu.

    Then, kok kesel ya sama jihyun. Bodoh bgt, mau aja sama dimainin sama Jonghyun. Heol. Tp dg mudahnya dia mendapatkan Taehyung gitu aja tanpa usaha? Wth. Heol.

    Trus yg terakhir, kapan minji muncul???????

    Wakak. Udh ah. Semangat nulisnya oom!!!!!

    Ps. Panjangin partnya Minji plissss… Thank you

  5. Wkwkwk haloo pak.. setelah beberapa kali tenggelam dalam wattpad krn postingan shs magz dan troublemaker akhirnya aku perdana komen dan baca ff di wp wakakkakaka….

    And there is a verry sweeet story… mungkin bisa bikin diabetes 😂😂😂😂😂😂 btw aku suka semuanya.. fluff dan ringan banget…. ga perlu banyak mikir (tapi kalo aku yg bikin pasti mikir keras krn bukan genreku 😂😂😂😂😂😂)

    Oh iya itu bagian siwonnya dikit wakakkaka.. aku mau protes 😂😂😂😂😂 btw disini aku gabisa pake emot kebangsaan mapelberry pak wakakkaka…

    Pokoknya keep writing dan keep fighting… semoga sunkyo-bogum-siwon bahagia selalu wakkakakaka….

  6. Yuuhhuu…. Jihyun datang~
    Wih ceritanya keren loh, pak!! Setiap ceritanya keceh-keceh semua aku smpe binggung mau komen apah… dari kelima cerita semuanya fluff . Tapi ada satu cerita yg fluff tapi endingnya rada ngenes, kamu pasti tau siapa kampelnya, wkwkwk 😂😂😂

    Gak lain dan ndak bukan kampel jihyun ma si tae, wkwkwwkw. Aku kasian ma sih tae, artis terkenal tapi gak dikenal ma jihyun,wkwkwk#TabahkanHatimuNak#

    Disini karakter jihyun na bego-bego unyu yah 😅😅😅. Mungkin jihyun kurang piknik, 😂😂😂 atau dia terlalu setia ma si bang jonghyun. Ngenes juga sih sama nasipnya doi. Sampe segitunya depresi untung tuh bocah gak kebabalasan.

    Dan seperti biasa sih tae meluncurkan modusnya ma jihyun. Pinter banget tuh bocah ngerayunya pas ati ku eh salah hati jihyun terluka 😂😂😂 jelas lah langsung diterima ma doi. 😂😂😂

    Untung ini ceritanya udah tamat kalo masih bersambung bakalan sakit ati lagih ma sih tae. Kan sesuai ma judul lagunya. I knew u troble 😂😂😂

    Maap ya pak kalo komenku gak jelas dan jadi kaya nyepam, wkwkwk… sekian dariku tar kalo gak di udahin sekarang tar jadi ficlet dah, wkwkw

    Ditunggu ff mu yang lain. Keep writting dan fighting!!! Makacih udah buatin ff keceh buat kita, jangan kapok yah kalo aku request lagih, loopeee u dah 😘😘😘

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s