a Girl (Prologue)

ag (1)

Poster by bangsvt @ Poster Channel

“Suzy, apa itu cinta?”

Suzy yang tadinya sedang membersihkan sisa-sisa muntahan sang adik di lantai langsung menoleh begitu anak berumur 14 tahun itu menanyakan hal yang berhasil membuat keningnya mengerut. Ia menarik napas dalam-dalam dan langsung menghembuskannya dengan cepat saat bau obat-obatan langsung menusuk indra penciumannya. Ah, ia sering lupa kalau mereka sedang berada di kamar rawat adiknya.

“Kenapa kau bertanya begitu, Jungkook?” tanya Suzy.

Semua orang tahu apa itu cinta dan Suzy yakin Jungkook pun tahu apa artinya. Lagipula anak itu sudah berada di umur yang seharusnya sudah tidak lagi bertanya tentang hal-hal tersebut.

“Hanya bertanya.” Jungkook tersenyum. Ia membenarkan posisi selang kecil yang memasuki salah satu lobang hidungnya.

Suzy pun mendekat pada Jungkook. Ia duduk disamping anak itu, membantunya membenarkan selang kecil pada lobang hidungnya dengan pelan.”Kenapa? kau suka pada seorang gadis?” tanya Suzy.

Jungkook segera menggelengkan kepalanya,”Bukan. Aku hanya penasaran kenapa Seokjin bisa memutuskanmu. Padahal kan kalian selalu mengucapkan kalimat cinta setiap hari.”

Gerakan tangan Suzy terhenti saat nama Seokjin terucap dari bibir Jungkook. Napasnya tiba-tiba menjadi sesak ketika mengingat kejadian dimana Seokjin pergi meninggalkannya sendirian setelah mengucapkan kata putus.

Mencoba untuk menetralkan sikapnya, Suzy kembali menatap Jungkook.”Kau tau darimana kalau aku putus dengannya?”

“Aku melihatmu menangis di koridor rumah sakit tadi malam. Kau tampak menyedihkan.”

Suzy tertawa, sebuah tawa paksaan yang dengan berat hati ia keluarkan untuk Jungkook.

”Kau mengkhawatirkanku ternyata.”

Jungkook tahu kakaknya pasti sangat amat terluka. Suzy sangat menyukai Seokjin dan sangat amat mencintainya. Walaupun Jungkook belum mengerti betul-betul apa itu cinta, tapi bukan berarti ia tidak tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan orang yang kita sayangi. Karena saat Seokjin meninggalkan Suzy, Jungkook hanya perlu menyamakan dengan perginya ayah mereka yang meninggalkan mereka berdua. Sangat sakit.

Kemudian Jungkook pun memeluk kakaknya, membiarkan rasa sakit Suzy terserap olehnya.

“Jangan menangis terlalu banyak, Suzy.” kata Jungkook.

Dalam pelukan Jungkook, Suzy sudah tidak bisa lagi menahan air mata yang terbendung di pelupuk matanya. Iapun menangis sekencang mungkin, membiarkan rasa sesak didadanya menguap ke udara.

Seokjin itu berengsek, sama berengseknya dengan para rentenir yang terus menerus menagih hutang pada Suzy, dan sama berengseknya dengan ayah mereka. Kenapa Seokjin begitu berani melukai hatinya seperti ini setelah mengucapkan banyak janji-janji yang menerbangkan hatinya.

Suzy seharusnya membenci Seokjin atas apa yang telah pria itu lakukan. Tapi, tetap saja membenci Seokjin itu adalah hal yang terasa sangat sulit dilakukan. Berapa kalipun Suzy mencoba membenci Seokjin setelah memutuskannya dengan alasan paling menyakitkan di dunia, Seokjin tetaplah Seokjin, pria yang akan Suzy cintai tanpa alasan logis. Ia juga tidak tahu kenapa hatinya seperti ini, tapi satu hal yang selalu ia ingat adalah bahwa Seokjin akan menjadi takdirnya apapun yang terjadi. Karena ia memaksa pada Tuhan. Karena tidak ada satupun pria yang berhasil menjatuhkan Suzy seperti ini kecuali Seokjin.

_

Lima tahun. Seokjin butuh lima tahun untuk bisa berada di paling puncak. Artis terbaik 2016. Artis terfavorit 2016. Actor dengan penghasilan paling banyak, actor dengan adegan ciuman paling romantis, dan banyak lagi title yang berhasil Seokjin dapatkan selama lima tahun ia berkarir.

Tapi, kenapa hanya karena secangkir kopi dirinya bisa dihujat seperti ini.

[Kim Sunhee, 208] hah, Seokjin memang bodoh.

[Sujinie, 287] aku mengerti dia tidak pernah minum kopi, tapi serius actingnya benar-benar hancur begitu bibir cangkir bersentuhan dengan bibirnya.

[Lopelope, 359] Tentu, Seokjin memang idiot, sok polos, dan sialan.

“Sialan?” Seokjin mengulangi kata yang tertera di bagian komentar public dengan wajah setengah tidak percaya.

Sialan? Ia mengulanginya.

Sialan? Lalu Seokjin mendengus dan melempar ponselnya ke sembarang tempat. Kemudian ia menarik napas untuk menetralkan perasaannya saat ini. Jika kau marah, kau akan bertambah tua. Ingat, kau adalah artis dengan tingkat keramahan diatas langit, jadi tolong simpan emosimu, batin Seokjin berucap.

“Sudahlah, jangan terlalu memusingkan pendapat public.” tutur Mark, managernya. Pria itu duduk dihadapan Seokjin.”Masalahmu hanya masalah kecil, semuanya akan terlupakan seiring waktu.” lanjutnya.

“Aku tahu.”

Mark menaikkan kedua alisnya mengerti, lantas menyerahkan setumpuk photo pada si artis.”Ini adalah daftar calon model yang akan menemanimu dimajalah.”

Seokjin memberi tatapan tanya pada Mark.”Kenapa tiba-tiba memberiku ini, bukankah kau selalu mengurusnya untukku.”

“Aku ingin kau memilihnya sendiri.”

Seraya mengambil photo tersebut, Seokjin tertawa-tawa. Manajernya tidak pernah seperti ini sebelumnya. Motto dari manajernya adalah ‘tidak membiarkan Seokjin menyentuh pekerjaan selain acting dan menyanyi’. Jadi, sedikit aneh jika managernya membiarkan Seokjin memilih model untuk majalahnya nanti.

Seokjin melempar photo pertama ke meja. Modelnya terlalu seksi.

“Bisa kau tuntut para haters yang berkomentar tentangku?” tanya Seokjin.

“Jangan membuat masalah semakin besar, hatersmu belum banyak.”

Ia melempar photo kedua dan ketiga. Ia sudah pernah bekerja dengan dua model itu, jadi akan sangat membosankan jika harus bertemu mereka lagi.

“Apa kau ikut berkomentar juga disana?”

“Jika kau menganggapku gila, anggaplah seperti itu.”

Sampai di photo ketujuh. Seokjin menarik kedua alisnya ketika menatap photo yang satu itu.”Bukankah ini penari kontemporer, siapa namanya?”

Mark melirik sekilas kearah photo yang Seokjin pegang,”Dia So Hyun.”

“Ah, kau benar.” Seokjin memandangi lekat-lekat photo tersebut.”Dia masih sangat muda sekali bukan, kenapa kau menyuruhku bekerja dengannya.” kata Seokjin sambil melempar photo tersebut.

“Memangnya kenapa?”

“Karena aku akan –“ kalimat Seokjin menjeda ketika matanya tertuju pada photo kedelapan.

Dia membeku. Jantungnya berpacu cepat saat senyum wanita di photo itu seolah mampu menenggelamkannya.

“Kau akan kenapa, huh?”

Wanita di photo ini, tidak, kenapa dia bisa ada dalam daftar.

“Dia, kenapa dia ada  disini?” tanya Seokjin tanpa mengalihkan pandangannya dari photo tersebut.

Mark kembali melirik pada photo yang dipegang Seokjin lalu setelahnya ia ber oh ria.”Dia model baru, entahlah aku juga tidak mengerti. Sumin merekomendasikannya padaku, jadi ya aku masukkan dia kesana.”

“Tapi, kenapa harus dia?”

“Memang harusnya bagaimana, tidak ada yang salah dengannya, kan? Dia cantik, matanya bagus, dan dia seksi.”

“Berhenti mengatakan dia seksi!!” bentak Seokjin keras.

“Kau kenapa sih?”

Seokjin menahan amarahnya. Ia kembali memandangi photo wanita itu. O, sialan. Wanita ini sama sekali tidak berubah. Setelah lima tahun berlalu, senyumnya masih sama, matanya cantik seperti terakhir kali ia bertemu dengannya.

Ada banyak wanita di kota Seoul, tapi kenapa ia harus kembali melihat wanita yang sama. Wanita yang dulu ia tiggalkan begitu saja tanpa permohonan maaf dan sebagainya.

Suzy…apakah dia baik-baik saja?

 

tumblr_o6rzr7rZqG1u20wb7o1_1280

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “a Girl (Prologue)

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s