EXISTENCE; Jiyeon Ver. [Chapter 3]

existence-jiyeon-ver

Existence by. Keiko Sine

{Jiyeon Ver.}

Sad-Romance || Angst || – Teen

Chaptered

Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Kim Jongin

Others.

Credit > Sfxo @IFA

I OWN THE STORY AND PLOT. DON’T COPY OR PLAGIARIZE!

PRE: [Chp1][Chp2]

Ada sebuah legenda bahwa ketika kau membuat seribu origami burung bangau (crane) maka keinginanmu akan dikabulkan oleh burung-burung tersebut.”

***

Ini terjadi begitu saja. Mengunjungi anak-anak pada hari Selasa menjadi mengunjungi anak-anak dan Myungsoo pada hari Selasa. Beberapa kali berkunjung kemari dan keduanya telah terikat menjadi teman.

Sebuah ketukan pintu bergema di seluruh ruangan saat Jiyeon memasuki kamarnya, membawa crane kertas kuning di tangan. Myungsoo duduk di tempat tidurnya tegak dengan notebook biru dan pena di tangan. Tutup pena menggantung dari mulutnya saat ia mengunyah dengan lembut. Dia tampaknya tidak melihat Jiyeon sampai gadis itu duduk di samping tempat tidurnya.

“Apa yang kau lakukan?”

Alis si pirang yang berkerut konsentrasi. “Menulis daftar lagu.” ucapnya.

Jiyeon mengintip lebih, melihat bahwa tidak ada kata-kata seperti judul lagu. “Bohong.” Mengatur crane kertas ke sisi meja, dia bertanya, “Bolehkah aku membacanya?”

“Aku akan membacakannya untukmu,” Myungsoo berbicara perlahan, tutup pena masih di antara bibirnya. “Roses are red, violets are blue, people are dead, and soon you will be too.”

“Kurasa bukan itu lirik lagunya.”

Myungsoo tersenyum genit, “Bukankah itu sebuah puisi yang besar untuk daftar hit-ku? Ini akan menjadi peringatan baik kepada para pembacaku. ”

Jiyeon hanya mencemooh dan mengambil notebook dari tangan Myungsoo.

Here I am again, writing about you,

trying to set you free with my words

but the reality is that

 I’m just building you a bigger home in my heart.

Jiyeon menatap bolak-balik note tersebut, kagum antara kata-kata puitis Myungsoo.

“Kau pasti bukan yang menulis ini.”

“Kau yang pertama mencuri notebookku, dan kau berani menuduhku plagiat. Beraninya kau? ”

“Myungsoo, ini bagus. Aku tidak tahu kau menulis puisi. ”

Myungsoo hanya menampilkan seringai nakal yang sama biasa dia memiliki. “Aku raja bullting.” Ucapnya santai

“Menyanyikan lagu-lagu cinta sedih, menulis puisi … aku mulai mendapatkan kesan bahwa kau cukup romantis.”

Myungsoo hanya menyeringai, ada binar di matanya saat ia menyilangkan tangannya. “Notebook please.” Ucap Myungsoo genit. Jiyeon memberikan Notebook birunya pada Myungsoo . “Jadi mengapa kau mengunjungiku lagi hari ini?”

Mengarahkan kepalanya ke arah burung bangau kertas, Jiyeon mengeluarkan lebih banyak kertas dari tasnya. “Kyungsan ingin aku menyampaikan hal ini kepadamu. Dia mengatakan bahwa ‘rambut Sleepy Ahjussi adalah warna ini.’ ” Jiyeon mengambil bangau kertas berwarna pastel.

Myungsoo mendengus sebagai komentar, mengambil crane dari sisi tempat tidur untuk memeriksa beberapa. “Apakah mereka mulai bosan lipat crane?”

“Hampir. Mereka menikmati kunjunganmu juga ngomong-ngomong. ”

“Memang seharusnya, aku membawa keceriaan kemana pun aku pergi. ”

Saat-saat seperti inilah yang dimana Jiyeon ingin mencekiknya. Lelaki ini terlalu percaya diri untuk mengutarakan ucapannya.

 

..

..

..

 

Jiyeon duduk di samping tempat tidurnya karena mereka melipat bangau kertas bersama-sama. Jiyeon tertawa di saat ia mencuri pandang pada upaya Myungsoo dan kertas-kertasnya yang tersebar di atas seprai.

“Origami adalah setan.” Myungsoo bergumam sambil hampir merobek salah satu sayap burung bangau.

“Berhenti menyalahkan kurangnya bakatmu dalam melipat kertas.” Jiyeon menanggappi.

Menghitung sifat-sifatnya dengan jari-jari, Myungsoo menyeringai, “Baik dalam menyanyi, penampilan yang baik, kepribadian yang hebat, senyum yang indah … Aku tidak punya cukup jari untuk menghitung sifat-sifat yang kumiliki. Tuhan pasti tidak bisa membiarkanku memiliki semuanya jadi dia mengambil bakatku dalam kategori origami. ”

Jiyeon hanya tersenyum mencemooh, “Kapan sisi sombong ini akan beristirahat?”

“Tak pernah. Ini salah satu daya tarikku dan kau menyukainya. ”

 

“Terserah. By the way, kalau boleh tahu, kau terdiagnosis apa? ”

“Sebuah penyakit.” Myungsoo bahkan tidak melihat ke atas saat ia menjawab, tetap fokus pada cranenya.

“Jawaban macam apa itu… Apa namanya?”

Mata masih terus bergelut di tangannya, Myungsoo berbicara, “Kau tidak perlu khawatir tentang rincian kecil seperti itu. Kertas lipat ini sungguh membuatku frustasi. Fyuuhh.. ” Myungsoo melempar kertas dalam genggamannya.

Perubahan percakapan tiba-tiba. Jiyeon mengamati sekali lagi, ia mengetahui sesuatu bahwa harus berhati-hati tatkala Myungsoo tampaknya tidak terlalu suka berbicara tentang penyakitnya.

 

.

.

***

Setelah melakukan kunjungan mingguan ke anak-anak, Jiyeon mengintip ke kamar Myungsoo hanya untuk menemukan tidurnya yang nyenyak. Notebook birunya dibiarkan terbuka di pangkuan dan pensilnya telah jatuh ke lantai. Diam-diam, Jiyeon berjinjit lebih untuk memindahkan notebook. Mengambil notebook, dia membaca puisi pertama yang ia lihat.

 

Shake me to the clouds, lift me to the ground

Crash me with your wind, soak my skin with your dreams

 

Dia bertanya-tanya bagaimana Myungsoo bisa menuliskan dengan kata-kata seperti itu, menafsirkan mereka bersama-sama untuk gambar yang menarik. Saat ia melihat sekitar, matanya menangkap tumpukan kertas crane di sudut. Setidaknya ada lima puluh kertas bangau sejauh ini.

Senyum terlukis permukaan di wajah Jiyeon.

Mungkin Myungsoo berusaha untuk melipat seribu crane seperti yang telah Jiyeon ucapkan kemarin, bercanda menantang dia untuk melakukannya pada pertemuan pertama mereka.

 

***

.

.

“Ini bahkan belum hari Selasa dan kau berada di sini untuk berkunjung lagi. Apakah kau sangat merindukanku eh?”

Jiyeon hanya mencemooh saat ia menarik keluar kertas warna-warni dari tasnya. “Kau pernah mendengar cerita tentang Sadako dan Ribuan Kertas Cranes kan?”

“Ya. Gadis kecil yang mencoba untuk melipat seribu crane sebelum ia meninggal karena leukemia. Apakah kau tidak bangga bahwa aku berpengalaman dengan sastra? ”

“Tolong jangan mencoba untuk berbangga diri dulu.” Jiyeon mendengus.

“Heh, terserah. Lalu , mengapa tiba-tiba memunculkan cerita itu? ”

“Aku pikir kau mencoba untuk membuat seribu crane seperti yang dia lakukan.”

Myungsoo melambaikan tangannya dan menggeleng mendengar pertanyaan itu. “Aku tidak. Aku—

“Aku di sini untuk membantu.” Jiyeon mengambil sepotong kertas hijau.

Myungsoo pula mengambil satu dan mengangkat bahu.

“Kenapa tidak? Ada banyak yang harus dilakukan di sini anyways. Apa yang akan kau lakukan setelah berhasil membuat seribu?” tanya Jiyeon.
“Hanya membuat keinginan dan membakarnya.”

“Mwo?! Hanya untuk membakarnya? Itu konyol, jangan bercanda, apa keinginanmu?”

“Itu rahasia,” Myungsoo menjulurkan lidahnya.

 

.

.

***

“Minuman malam ini, Jiyeon-aa!” Kai mengaitkan lengannya di bahu Jiyeon, bersemangat untuk akhir pekan ini. Sudah hampir waktunya bagi mereka untuk ‘jam keluar’.

“Tidak bisa. Maaf, maksudku, aku— tidak untuk malam ini. ”

“Apa? Kenapa tidak!”

“Ini Sel-“ Dia ingin mengatakan Selasa dan percakapan mereka selalu berputar seperti itu, tapi hari ini bukan Selasa. Ini Jumat.

“Tunggu sebentar. Kau akan pergi ke rumah sakit lagi? Tapi hari ini bahkan bukan Selasa!”

“Aku punya seseorang untuk dikunjungi.”

“Seperti jiwa malaikat. Siapa yang kau kunjungi selain anak-anak?”

 

Jiyeon hanya menertawakan pernyataan itu.

“Aku mengunjungi seorang lelaki yang kasar dan sombong, ya, angkuh dan sombong. Seperti itu, sepanjang waktu. ”

“Kedengarannya seperti seseorang yang hebat. Dia pasti seseorang yang menyelamatkan negara sehingga harus kau kunjungi setiap hari seperti ini.” Ucap Kai mencemooh, ternyata gara-gara lelaki itu dia dan Jiyeon harus kehilangan waktu bersama.

Mengingat dirinya dan Jiyeon sudah mengenal sejak dua tahun yang lalu dan menjadi rekan dekat selama di kantor.

Pfftt. Aku harus membiarkan dia tahu bahwa kau mengatainya seperti itu. Dia akan tertawa ketika mendengarnya.” Jiyeon tersenyum menanggapi kalimat Kai yang ia rasa sangat lucu.

“Suatu hari aku akan menumbuhkan beberapa sayap sepertimu dan melakukan pekerjaan amal … Tapi bukan sekarang, malam ini aku akan pesta!”

Jiyeon hanya tertawa saat pintu tiba-tiba terbuka dan atasan mereka mengangkat alisnya. Keduanya menundukkan kepala mereka sebagai rasa hormat dan berjalan kembali ke kantor mereka.

***

“Dia berkata bahwa aku menyelamatkan negara?” Wajah Myungsoo terdistorsi menjadi horor murni, “Yeah. Aku akan menyelamatkan negara akan menghiasi televise dengan kehadiranku. ”

“Jika kau tidak sakit, aku akan mengambil bantal itu dan melemparmu dengan itu.”

“Aku kira ada beberapa fasilitas untuk menjadi sakit.” Myungsoo menjulurkan lidahnya bercanda. “Oh, cepat berikan laptopku! Cepat! ”

Jiyeon mengambil laptop yang tergeletak di meja ujung ruangan, mengetikkan URL dengan Godspeed.

“Apa yang kamu lakukan?” Jiyeon bertanya saat ia bergerak dan menarik kursinya untuk menghadap layar.

“Sebuah episode baru dari ‘Attack on Titan’ keluar.” Ucap Myungsoo antusias.

“Apa itu?”

 

“Shh.”

Lagu pembuka terputar saat Jiyeon mengangkat bahu dan mengecek jam tangan.

“Apa yang dimakan rasaksa itu? Ew..”

“Shh! Karakter badass akan datang. ”

Seorang gadis berambut hitam menggunakan pisaunya untuk mengiris daging dari belakang leher titan ini. Ini aneh, tapi keduanya tidak bisa mengalihkan mata mereka dari layar.

Dua puluh menit kemudian, Jiyeon mulai menikmati acara tersebut.

“Sepertinya aku harus mengejar ketertinggalan.” Gumam Jiyeon sambil masih terbawa oleh cerita episode yang baru ia tonton.

Myungsoo hanya mengangguk, menyerahkan laptop kembali ke Jiyeon.

 

***

 

“Ahjumma, ceritakan sebuah cerita.” Gumam Jiyoo, kepala bertumpu pada tangannya saat dia duduk bersila di depan Jiyeon. Anak-anak memilih meletakkan kertas, jelas bosan lipat crane. Mereka sudah mulai membuat pesawat terbang dan merobek kertas menjadi bentuk aneh.

“Baiklah baiklah. Berkumpul.”

Yang lain membentuk lingkaran sambil membuka buku gambar besar.

“Legenda mengatakan ada sebuah desa di mana kelinci, rubah, dan monyet hidup. Tiga mengabdikan diri untuk Buddhisme dan menghabiskan banyak waktu dalam penelitian dan praktek. Suatu hari, Kaisar Langit memandang mereka dan untuk menguji iman mereka, mengatakan kepada mereka untuk membawa sesuatu untuk dimakan. Tiga berangkat untuk memenuhi keinginannya. Lalu, rubah kembali dengan ikan, monyet dengan buah, dan kelinci tak bisa melakukan apa-apa selain mengumpulkan rumput, menyalakan api dengan itu dan melompat masuk, menawarkan diri sendiri. Tekadnya mendapat persetujuan dari Kaisar dan dia ditempatkan di bulan sebagai wali, dengan “asap” di sekitarnya sebagai pengingat usaha nya. “

Semua anak-anak menatap Jiyeon dengan mata lebar dan dia menyadari bahwa mereka harus sudah sedikit bingung dengan ending mengerikan.

Berdeham, dia mencoba menjelaskan.

“Kelinci mengorbankan dirinya dengan cara yang gagah berani untuk Kaisar Langit. Dengan demikian, Kaisar Langit benar-benar menghormatinya untuk itu. “

Beberapa anak-anak mengangguk kepala mereka saat Kyungsan mulai merobek selembar kertas menjadi bentuk kelinci. Yang lainnya dengan cepat bergabung, membuat monyet dan rubah pada awalnya, kemudian hewan lain. Jiyeon hanya tersenyum, senang mereka tidak terlalu fokus pada kematian kelinci.

***

Jiyeon mengetuk pintu ruangan Myungsoo, menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang seperti baiasa.  “Hei.” Buku gambar besar terselip di bawah lengan Jiyeon.
“Membaca buku cerita lagi untuk anak-anak?”

“Ya, baru saja selesai. Mereka tampaknya resmi bosan lipat kertas crane.”

“Aku juga sudah bosan melipat mereka.”

“Uh huh.” Jiyeon tersenyum lebar sambil mengintip di sudut ruangan. Mungkin ada setidaknya seratus ditumpukkan tersebut. Dasar Myungsoo.

“Mengapa kau tidak membacakan cerita rakyat untuk anak-anak? Mereka akan mudah untuk memahami moral dan nilai-nilai sosial.”

“Ini untuk mengalihkan perhatian mereka. Kadang-kadang cerita yang bagus adalah semua yang kau butuhkan untuk tertawa atau saat-saat untuk membawamu berlari jauh dari kenyataan. ” jawab Jiyeon bertumpu pada tangannya.

“Kau cukup lembut.” Myungsoo bergumam sambil melemparkan satu burung bangaunya ke sudut.

“Aku bisa mengatakan hal yang sama tentangmu.”

Tangan Myungsoo bergerak mengusir. “Pulanglah sudah.”

Jiyeon hanya tersenyum, mencatat semburat merah di telinga lelaki tersebut.

 

.

.

-TBC/END?-

Author Note tolong dibaca:

Chapter 3 is up..! ada yg penasaran gak sih sebenernya Myungsoo sakit apa?

Gimana chapter 3nya? BTW untuk FF ini ceritanya aku buat gak terlalu panjang yaa~ mungkin Cuma 6 atau 7 chapter, jadi bagi yang gak ingin chapter depan FF ini saya PROTECT monggo kirimkan komentarnya… karena yg aku lihat setiap aku post FF ini tuh selalu jadi trending posting, selalu masuk Top Post.

Tapi— kenapa yg komen Cuma segitu ajah? Ayolah apa sih salahnya buat leave komen? Meskipun Cuma ngirim satu atau dua kata doang gak masalah kok. Aku juga selalu bales komentar reader. :-)) mulai sekarang yukk kita kenalan. Bukankah itu menyenangkan? #hallah bahasa gue 😀

See you… kalau masih mau dilanjut

-Keiko Sine https://thekeikosine.wordpress.com

 

Advertisements

27 thoughts on “EXISTENCE; Jiyeon Ver. [Chapter 3]

  1. Suka~ apalagi pemilihan katanya, nggak berat tpi penataan kalimatnya tepat. Aku baru nemu ff ini dan komen di chapter ini, dan (akan) di chapter2 selanjutnya hehe. Myungsoo penuh misteri…
    Keep writing~

  2. Iya kak aku penasaran banget sebenernya myungsoo tuh sakit apa? Kok curiga yah aku mencium hal yg berbau sad end😞 aaaaaa tidaaaakkk jangan plis😞

  3. suka sih momen MyungYeon..
    penasaran ehh si kai suka ama jiyi..
    huh seperti author duga penasaran ama penyakit Myung dan semoga harapan Myung pada 1000 origami berakhir bahagia ama Jiyi..
    lanjutt

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s