[Oneshoot] Miracle

 

tumblr_o38j98asmn1urcs4yo1_1280

 © 2017 by evecrown

Rain percaya pada tiga detik keajaiban. Seperti halnya dalam drama percintaan yang ia tonton, didalamnya sosok adam menggunakan tiga detik keajaiban untuk membuat sang hawa jatuh hati. Bedanya didalam kehidupan Rain, gadis itu menggunakan tiga detik keajaiban untuk membuat sang adam takluk padanya.

Hoseok. Nama lelaki yang ia cintai. Hoseok itu baik, tampan, dan sempurna bagi Rain. Walaupun terkadang, Rain dibuat kesal setengah mati oleh kelakuannya. Seperti saat itu, jam sudah menunjukan pukul 10.00 pagi, tapi Hoseok belum juga bangkit dari kasurnya. Padahal, Rain sengaja datang pagi – pagi untuk membuat dia terkejut.

“Kamu masih belum bangun juga, Hoseok?!” Rain menatap Hoseok yang masih menutup matanya.

Lelaki itu hanya menggeliat seperti ulat sebagai responnya pada Rain. Melihat itu Rain berdecak kesal.”Kalau kamu tidak bangun dalam hitungan ketiga, jangan harap aku akan kesini lagi! Satu…dua…tig –“

“Oke! Aku bangun sayang.” Kata Hoseok sembari melempar senyum manisnya plus satu kerlingan mata pada Rain.

Melihat hal itu, sigadis mengulum senyum malu seraya mengusap pucuk kepala Hoseok.”Cepat mandi sana! Kamu bau tahu!” ledek Rain.

Hoseok lantas meraih lengannya, menggenggamnya sesaat lalu berucap.”Aku mencintaimu. Aku akan mandi pakai sabun paling harum pagi ini.”

Setiap saat Rain selalu dibuat jatuh hati oleh lelaki itu.  Tiga detik keajaiban bagi Rain tidak pernah berhenti disana. Bahkan terkadang saat pulang sekolah. Ia tahu Hoseok pasti punya kelas tambahan sepulang sekolah, namun Rain malah dengan ngotot menyuruh lelaki itu menjemputnya. Tatkala lelaki itu berkata tidak bisa, Rain akan langsung berucap.”Jika dalam hitungan ketiga kamu tidak datang, kita Putus!”

Dan hasilnya, Hoseok datang menjemput Rain walau didetik ke- 300. Ya, Rain menghitung detik demi detik untuk menunggu kedatangan Hoseok, dan itu tidak sia- sia. Hoseok datang dengan setangkai mawar merah yang entah didapatkan dari mana, karena setahu Rain Hoseok tidak pernah mau membeli bunga

”Maafkan aku ya sayang, kamu pasti nunggu lama” ucap Hoseok sembari memberikan bunga itu pada Rain. Lihat, betapa baiknya seorang Hoseok baginya.

Namun, detik adalah detik. Ia termasuk kedalam bagian waktu yang terus berjalan dan tak pernah memutuskan berhenti. Rain yakin, waktu adalah hal paling jahat didunia. Buktinya ia tidak membiarkan tiga detik keajaiban itu terus bersama Rain.

Waktu berlalu, dan Rain mengutuk itu semua. Waktu merenggut kebahagiaannya dan Hoseok. Ia tidak tahu kesalahan fatal apa yang pernah ia lakukan sehingga harus berdampak pada Hoseok.

Rain masih ingat, hari itu adalah perayaan ulang tahun ke – 20 tahun orang tua Hoseok. Mereka ―keluarga Hoseok termasuk Rain didalamnya,  memutuskan merayakan hari special itu ditaman kota. Mereka bermain kembang api, makan bersama, dan mungkin itu adalah hari paling bahagia dan paling menyedihkan ketika tiba–tiba Hoseok jatuh pingsan disana. Semua orang terkejut, dan langsung membawanya kerumah sakit.

“Ini sejenis cabang leukimia. Perkembangan selnya cukup pesat, dan yang membuat saya tercengang. Selnya sudah menyebar keseluruh tubuh.” Satu penjelasan dokter yang membuat dunia bahagia mereka runtuh.

Mendengar tuturan dari dokter, Rain langsung berlari menghampiri Hoseok dan langsung memeluknya erat. Sangat erat. Rasanya Rain tidak mau melepas pelukan ini. Hoseok yang merasakan getaran dari tubuh kekasihnya lantas membalas pelukan itu. “Maaf..” ucap Hoseok.

Rain semakin mempererat pelukannya pada Hoseok. Membenamkan wajahnya di dada lelaki itu, merasakan hangat dekapannya, dan memenuhi rongga hidungnya dengan aroma tubuh kekasihnya. Apa ini rasanya takut kehilangan? Tidak, Hoseok tidak akan menghilang. Ya, semua ini salah bukan?

_

Tiga jam, sudah tiga jam Rain berada didepan pintu kamar Hoseok. Berteriak memanggil namanya, dan sama sekali tidak mendapat respon dari sang kekasih. Berkali–kali pula ia menggunakan tiga detik ajaibnya, dan itu sama sekali tidak berguna.

“HOSEOK!! BUKA PINTUNYA!!” Rain kembali berteriak. Emosinya sudah berada ditenggorokan, air matanya sudah membendung. Namun, Hoseok tetap diam saja.

“HOSEOK KAU DENGAR AKU!!”

Kali ini Rain memukul pintunya dengan keras. Airmatanya sudah mengalir.”HOSEOK KAMU BERENGSEK!!!!”

Rain lelah. Menangis, berteriak, memukul pintu, semua itu membuat ia lelah. Detik – detiknya berlalu sia – sia. Ia menarik nafas dalam.”Hoseok… aku merindukanmu” lirihnya.

Dan hari yang ditakutkan itu datang. Rain yang saat itu sedang dalam jam pelajaran sekolah langsung berlari keluar dari sana. Sebuah telfon dari kakak Hoseok sungguh menyentak hatinya.”Hoseok dilarikan kerumah sakit!”.

Pikirannya langsung kalut, ia seperti orang bodoh yang berlarian disepanjang lorong rumah sakit sembari menangis tersedu. Setelah melihat keluarga Hoseok didepan salah satu ruangan, Rain lantas mengeluarkan napas lega. Ia berjalan perlahan kearah mereka setelah sebelumnya menghapus jejak air mata diwajahnya.”Hoseok dimana, kak?” tanya Rain.

“Dia didalam, menunggumu.” jawab kakak kekasihnya.

Rain mendekat kearah pintu, terhenti disana sejenak, menghela nafas serta mengatur emosinya. Barulah setelah itu ia masuk. Mendapati Hoseok didalam sana rasanya sulit dipercaya. Wajahnya agak tirus dan pucat.

“Apa kabar cantik?” tanya Hoseok dengan senyum lirihnya. Rain kembali menghembuskan napas berat, mengatur emosi agar ia tidak menangis untuk sekarang. Lalu, iapun membalas senyuman Hoseok dengan wajah cemberut.”Kamu pikir aku baik – baik saja, huh!”

“Maafkan aku..”

“Berhenti mengucapkan kalimat bodoh!”

“Lalu…aku harus mengucapkan apa?”

“Kata – kata yang kuinginkan. Menurutmu apa?”

Hoseok beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju Rain dengan langkah pelan.

Satu langkah..

Satu..

Dua langkah…

Dua…

Tiga langkah…

Tiga…

Sesampainya dihadapan gadis itu, Hoseok menatapnya sesaat. Memperhatikan setiap inci wajah kekasihnya itu dengan dalam. Ada jejak air mata disana, dia pasti menangis, pikir Hoseok. Setelahnya, Hoseok memeluk gadis itu. Mencari kehangatan kekasihnya dan mencium aroma gadis itu, sesuatu yang sangat ia rindukan.”Aku merindukanmu..sayang.” ucap Hoseok.

Pada akhirnya, kekuatan yang ia bangun tadi runtuh. Ia menangis dalam pelukan Hoseok.

”Aku juga merindukanmu, bodoh!” balas Rain.

Dan pelukan mereka semakin erat.

Ada suatu waktu setelah Rain keluar dari ruangan Hoseok, ia duduk bersampingan dengan Ibu si lelaki. Ada keheningan ditengah –  tengah mereka sebelum akhirnya wanita yang dihormati Rain itu buka suara.”Apa Hoseok tampan?” tanyanya.

Rain hanya mengangguk sebagai jawaban.

Ibu Hoseok menghela nafas.”Ya, dia memang anak laki –laki yang tampan.”

“Dia juga baik, dia lembut,” sejenak Rain tersenyum singkat.”Dan juga bodoh” tambahnya.

Si ibu melirik pada Rain.”Benarkah? karena itu kau menyukainya?”

“Bahkan jika tidak seperti itupun saya akan menyukainya.”

“Hoseok sangat beruntung mendapatkanmu.”

“Saya lebih beruntung, Bibi”

“Hoseok anak yang baik. Tapi, Tuhan memberi cobaan yang berat padanya..”

Rain lantas menoleh pada ibu Hoseok. Ada raut wajah sedih yang tampak disana. Lalu, Rain pun menggenggam erat jemari Ibu Hoseok.”Semuanya akan baik – baik saja, Bibi.”

“Ya, bibi juga berharap seperti itu”

Tanpa ragu, Rain membagi pelukan hangatnya pada Ibu Hoseok. Mencoba menenangkan wanita itu dengan berkata bahwa semuanya baik – baik saja. Walau pada kenyataannya, tidak ada yang baik – baik saja saat ini.

 

_

Rain. Nama gadisnya Rain. Namanya cantik secantik orangnya. Hoseok sangat menyayangi gadis itu. Gadis dengan sejuta sifat kekanak–kanakan yang dimiliknya. Bagi Hoseok, Rain itu sangat unik. Well, siapa orang dijaman sekarang yang percaya pada tiga detik keajaiban selain pacar tersayangnya itu.

Hoseok tidak ingin merusak kepercayaan gadis itu ataupun menghancurkan tentang segala ceritanya. Maka dari itu Hoseok selalu menuruti apa yang gadisnya bilang, termasuk tiga detik ajaibnya. Gadisnya memang lucu dan manis.

Namun, ada waktu dimana Hoseok dipaksa berhenti untuk menjaga kepercayaan itu. Diluar kendalinya, tiga detik ajaib itu hancur karenanya. Ia mengabaikan keinginan gadis itu dan mencoba tidak peduli padanya. Tapi, ia tidak bisa. Rasa rindu itu tidak bisa ia bendung lagi,dan tepat pada saat rasa rindu itu telah berada di puncak dan membuat rasa sakit luar biasa itu muncul. Hoseok sadar bahwa ia tidak bisa melupakan gadisnya, Rain terlalu berharga untuk dilupakan.

Malam ini, ia terkurung dikamar perawatannya. Ia tidak bisa keluar bahkan untuk mendapat sinar matahari. Sudah satu bulan ia tidak bertemu dengan Rain. Salahnya memang, menyuruh gadis itu untuk fokus pada ujian sekolahnya dan meyakinkan bahwa saat ini ia baik – baik saja. Hoseok juga mendapat pesan bahwa malam ini akan diadakan promnight party untuk kelulusan angkatannya. Ah, Rain pasti sudah berdandan sangat cantik sekarang, dan gadisnya akan berdansa dengan pria lain di pesta itu. Sedangkan ia, hanya bisa diam menikmati rasa sepinya diruangan sunyi ini.

Haruskah ia menggunakan tiga detik keajaiban seperti yang kekasihnya lakukan? Bukankah kekasihnya selalu berhasil saat melakukannya. Jadi, mengapa ia tidak. Menyuruh gadisnya datang kesini untuk menemaninya. Setidaknya sampai ia menemui mimpi panjangnya nanti.

“Satu…” Hoseok mencoba.

“Dua…” ia ingat, Rain selalu mengatakan bahwa detik dua adalah detik penentuan. Jantung Hoseok berdetak kencang, ada rasa penuh harap terselip disana.

“Ti …” Hoseok menutup mata seraya berharap Rain akan datang ketika ia membuka matanya.”ga.”

 

Hening.

Hoseok lantas membuka matanya dan tidak mendapati siapapun selain dirinya diruangan ini. Ia tersenyum miris, tiga detik keajaiban bodoh! Bisa – bisanya ia percaya pada hal itu.

Tak lama seseorang membuka pintu kamar Hoseok.”Bu, kupikir aku ingin datang ke pesta promnight.” ucap Hoseok tanpa melirik.

“Kamu mau datang kesana sedangkan aku sudah datang sejauh ini?” satu suara membuat Hoseok langsung melirik kearah orang itu.

Ternyata bukan ibunya yang datang. Tapi, seseorang dalam harapannya beberapa detik lalu.”Rain…”

“Kamu mau datang ke promnight  dengan tubuh seperti itu?” ucap Rain lagi.

Hoseok belum mampu berkata – kata. Oh, bagaimana mungkin Rain bisa datang. Dan penampilannya juga sangat cantik. Gaun putih sepanjang lutut, rambut panjangnya tergerai indah, serta high heels  yang memperindah bentuk kakinya.

“Kenapa kamu ada disini?” tanya Hoseok.

“Aku akan merayakan pesta promnight bersamamu.”

“Kenapa? Disini tidak ada pesta. Apa kamu meninggalkan pesta sesungguhnya?”

“Dengan siapa aku akan berdansa jika kekasihku saja ada disini,huh?!”

Hoseok memperhatikan Rain sesaat lalu berucap“Ada banyak laki-laki disana. Kau juga terlalu cantik untuk diabaikan oleh mereka.”

Rain mengendikan bahu.”Tidak ada Hoseok disana, aku hanya ingin berdansa dengan Hoseok.”

Hoseok tersenyum mendengar penuturan Rain. Setelah itu Rain berjalan kearah Hoseok, mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah lagu dari sana. Hoseok pun bangkit dari ranjang dengan pelan, lalu meraih jemari gadis itu.”Siap berdansa dengan pangeran?”

“Kapanpun.”

Selanjutnya yang terlihat hanyalah dansa mereka. Satu tangan saling menggenggam erat, kaki mereka melangkah sesuai irama, serta wajah yang menatap satu sama lain.

“Kuharap dokter disini bukan seorang yang pemarah.” ucap Rain ditengah dansa mereka.

“Kenapa memangnya?”

“Karena aku sudah membiarkan pasien mereka berdansa denganku.”

Hoseok tertawa kecil.

“Kau pasti depresi berat, ‘kan?” tanya Rain. Hoseok menaikkan kedua alisnya heran.

“Depresi kenapa?”

“Berada dirumah sakit ini tanpa diriku adalah hal yang menakutkan.”

Hoseok tertawa.”Kamu itu percaya diri sekali.”

“Aku ‘kan Rain, pacarnya Hoseok.” gadis itu tersenyum.

Kali ini Hoseok tertawa lepas mendengar tuturan kekasihnya. Gadis ini tidak berubah sama sekali, pikir Hoseok.

Tak lama, Hoseok menghentikan gerakannya”Aku lelah..” kata Hoseok.

“Kalau begitu kita hentikan saja.” balas Rain dan membantu Hoseok berbaring diranjangnya.

“Berbaringlah disini.” Hoseok menepuk kasur bagian sampingnya.

Awalnya Rain menolak. Namun, setelah Hoseok berkata.’Kalau dalam hitungan ketiga kamu tidak berbaring, lebih baik kamu pergi dari sini.’ Dan Rain bisa apa selain menuruti kata – kata kekasihnya. Ia akhirnya berbaring disamping Hoseok.

Mereka saling terdiam dalam beberapa waktu. Tangan mereka saling berpegangan, dan tatapan mereka sama–sama menatap kearah langit–langit kamar rawat itu. Rain ingat, ada banyak gambar–gambar bintang dilangit dikamar Hoseok. Dan disalah satu bintang itu, tepatnya dibintang paling besar ada nama Rain terukir disana. Berbeda dengan kamar ini, semua bagiannya berwarna putih polos, ditambah bau obat–obatan yang menusuk ke indra penciumannya. Karena terlalu lama terdiam, Rain memutuskan buka suara.

”Hoseok..bagaimana keadaanmu?” tanya Rain.

“Bahkan untuk bernafaspun sangat sakit.” jawab Hoseok. Rain memalingkan wajahnya pada Hoseok. Menatap wajah pucatnya. Satu tetes air mata keluar, kenapa ia tidak bisa berbuat apapun disaat Hoseok kesakitan seperti ini.

“Aku tahu kamu akan menangis seperti ini.”

“Aku tidak menangis.”

“Lalu air itu apa?”

“Aku kelilipan.”

“Mau aku tiup?”

Rain mengangguk dan membiaran hembusan napas yang ditiupkan Hoseok mengenai matanya. Merasakan betapa lembutnya hembusan itu membuat Rain tak mampu lagi menahan air mata yang selanjutnya. Entah kapan napas itu tak akan lagi berhembus. Rain takut dan akhirnya Ia menangis.

“Kamu harus tahu bahwa kamu sangat jelek kalau menangis.” ucap Hoseok.

Ia memutuskan memperhatikan tangisan Rain. Dan ketika sigadis tak berhenti menangis, iapun memeluk gadis itu.”Kamu tidak dengar kata – kataku, ya? Kamu jelek Rain.”

“Aku tahu…” Rain menarik nafasnya dalam. ia mempererat pelukannya dengan Hoseok.”Dan kau masih menyukaiku.”

Hoseok tidak membalas omongan gadis itu.

“Ngomong –ngomong, berapa besok yang kita miliki?” tanya Rain.

Ada jeda sejenak sebelum Hoseok menjawab.”Ada banyak, tentu saja.”

“Ayo kita pergi ke pantai besok. Kita menikmati deru ombak, melihat burung camar. Lalu saat sunset tiba kita buat permohonan.”

“Permohonan apa?” suara Hoseok sedikit melemah.

“Permohonan kepada Tuhan agar ia tidak mengambilmu.”

Hoseok sedikit melepas pelukan mereka untuk menatap wajah gadisnya.”Dasar bodoh!”

“Dan kau menyukai orang bodoh.”

Hoseok tersenyum,dan kembali mempererat pelukan mereka. Ya, ia mencintai gadis bodoh.

“Rain…”

“Ya?”

“Aku mengantuk, bisa kamu temani aku sampai besok?”

“Tentu saja, aku akan melakukannya.”

Hoseok menutup matanya perlahan, ia merasakan napasnya terasa sesak. Terima kasih Rain… ucap hatinya.

Setelah mata Hoseok tertutup. Rain melepas pelukan mereka, ia mengusap rambut lelaki itu dengan lembut, dan ditatapnya wajah damai Hoseok. Tanpa ragu, ia mengecup kening lelaki itu, lalu setelahnya berucap.”Aku menyayangimu..”

Tak lama Rain ikut tertidur. Ia membiarkan sunyi memenuhi malam mereka. Biarkan malam ini berlalu seperti hari kemarin. Biarkan ia terbangun dengan ditemani Hoseok disampingnya. Biarkanlah seperti ini, seterusnya.

Kesunyian datang. Dan setelah ia datang, ia tak pernah pergi. Tiga detik keajaiban yang dimiliki Rain tak lagi berguna.

Hoseok, dia tidak pernah bangun lagi keesokan harinya. Rain sudah berteriak meminta lelaki itu bangun, namun itu tak berguna. Hoseok sudah pergi menuju ke kedamaiannya. Dan ia membawa sebagian hati milik Rain.

END

[p.s: Inspired by Anterograde Tomorrow of Kyungsoo and KAI EXO]

1.FF ini udah pernah dipublish di blog pribadi.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshoot] Miracle

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s