OBSESSION [Part 3]

poster-obsession

 

A fanfiction by apelijo©

[SVT] Jeon Wonwoo | [BTS] Jeon Jungkook | [NCT] Qian Kun | [BTS] Jung Hoseok | [BTS] Park Jimin | [EXO] Oh Sehun | [BTS] Kim Taehyung // [OC] Ji Saehyun | Lee Nayoung| Park Chanmi | Park Jihyun | Mina Park | Choi Hana

Genre : Romance, Drama, Marriage Life // Length : Chaptered // Rate : PG16

Give thanks to Afina23 @ Poster Channel for an amazing poster!

 

Disclaimer

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Cast’s milik Tuhan, Orang tua dan agensi masing-masing, I only own the story, don’t plagiat or copy-paste without my permission! and Sorry for TYPO kkk

 

Semakin kau terhanyut dalam ambisi, semakin jiwamu tenggelam dalam Obsesi

 

Part 3 : The Fact

ooOoo

Kun masih setia duduk diam di samping istrinya yang masih enggan untuk membuka mata. Tangannya masih setia menggenggam lengan istrinya, berusaha memberi kehangatan sebisanya. Tiba-tiba saja Kun merasakan jari-jari istrinya bergerak meski sedikit demi sedikit. Perlahan kedua mata yang sejak beberapa jam yang lalu enggan terbuka sekarang mulai nampak pergerakan,dan terbuka lebar. Nayoung tersadar dari tidur sementaranya.

“Nayoung-ah…” sapa Kun lembut menyambut istri tercintanya.

Oppa…” suara Nayoung terdengar parau.

Eum?”

“Kenapa Oppa bisa ada di sini? Apa Mina yang menghubungimu?”

Kun menggelengkan bola kepalanya, “Kebetulan aku sedang ada di sini dan melihatmu tadi. Maafkan aku, karena terlalu sibuk di kantor aku jadi menghiraukan kesehatanmu.”

“Tidak, Oppa. Ini bukanlah kesalahanmu, ini salahku yang tidak bisa menjaga diri dengan baik.”

Dalam diamnya, Kun nampak tersenyum bahagia. Matanya yang sipit itu semakin tak terlihat. Nayoung mengerutkan keningnya saat matanya menangkap pemandangan aneh yang terjadi pada diri Kun. Seingatnya sudah lama sekali ia tak pernah lagi melihat wajah berseri suaminya semenjak Kun terlalu sibuk memikirkan urusan kantor yang katanya sedang diambang kehancuran itu.

“Kalau boleh aku tahu, ada urusan apa Oppa kemari?”

“Ah itu, bos ku menyuruhku menyampaikan pesan pada salah satu pegawai di sini. Kebetulan dia juga seorang dokter, sama sepertimu. Kalau tidak salah namanya Ji Saehyun.”

“Ji Saehyun?”

“Kau mengenalnya?”

Nayoung tak bergeming setelah mendengar tujuan sebenarnya dari Kun. Wanita cantik itu berusaha menampilan senyuman terbaiknya, demi menghilangkan rasa gugupnya. Sedangkan Kun tampak menuntut jawaban dari istrinya.

Chanmi bersama dengan Bugeom masuk ke dalam sebuah restoran bernuansa musim semi, mengingat di setiap sudut ruangan terdapat bunga-bunga hidup yang cantik, mulai dari bunga Mawar, Anggrek sampai Lily. Tak lupa pula setiap dinding di restoran itu juga dihiasi oleh lukisan bunga. Meski musim dingin, panas ataupun gugur, setiap kali memasuki restoran ini maka akan terasa seperti musim semi. Ya, musim semi abadi.

Keduanya memilih untuk duduk di sudut ruangan dekat dinding kaca yang menampakkan suasana kota dimalam hari. Seorang gadis cantik berpenampilan casual menghampiri mereka.

“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” tanya gadis itu.

Sementara Chanmi dan Bugeom menyebutkan pesanan mereka, pintu restoran terbuka menampilkan Taehyung dan Saehyun yang berjalan memasuki restoran. Taehyung nampak bersemangat ketika manik matanya menangkap sosok yang sangat dikenali.

“Choi Hana!” sapa Taehyung setengah teriak.

Menyadari ada yang memanggil namanya, Hana—gadis yang tengah mencatat pesanan Chanmi dan Bugeom, menoleh dan membulatkan bola matanya terkejut melihat kehadiran Taehyung. Hana memanggil pegawai lainnya untuk meminta menggantikannya melayani konsumennya. Segera Hana menghampiri Taehyung dan Saehyun yang masih berdiri ditempatnya.

Ish, kau ini! Tidak bisakah kau tidak berteriak setiap kali datang ke sini?!” cerca Hana begitu berhasil menyambangi Taehyung.

“Sepertinya tak bisa, karena itu sudah menjadi kebiasaanku.” Taehyung memasang wajah sepolos mungkin.

“Dia siapa?” tanya Hana begitu menyadari kehadiran Saehyun, orang yang tak dikenalnya.

“Oh dia Saehyun, temanku dan Jungkook.” Taehyung memperkenalkan Saehyun pada Hana.

“Saehyun-ah, ini Hana, dia gadis paling menyebalkan di dunia ini.” Canda Taehyung meledek Hana.

“Hai, namaku Ji Saehyun.”

Saehyun mengulurkan tangannya yang disambut oleh Hana, “Choi Hana.”

“Ayo kita ke atas, Saehyun-ah.”

“Yak! Pemilik restoran ini aku bukan kau! Jangan seenaknya, Kim Taehyung!”

***

Wonwoo menatap nanar pada sebuah foto yang ia simpan di dalam dompetnya. Perlahan ingatannya kembali memutar masa-masa indah sekaligus menyakitkan baginya. Saat di mana sebuah perubahan besar terjadi dalam dirinya.

Foto yang menampilkan wajah berseri seorang gadis cantik berambut panjang setengah bergelombang itu berhasil membuat dirinya menjadi Jeon Wonwoo si pria iblis nan kurang ajar seperti sekarang. Kegagalan cinta pertamanya membuat Wonwoo jatuh sekaligus ke dalam lubang kehancuran yang paling dalam.

Tahta, kekuasaan, derajat. Hanya karena ketiga alasan itu cintanya harus hancur berkeping-keping. Dan sekarang? Betapa menyedihkannya ia yang dipaksa harus menikahi gadis yang tak dicintainya, bahkan tak dikenalnya. Hati dan cintanya masih tertuju ada satu orang, meski selama bertahun-tahun sudah banyak sekali gadis-gadis cantik diluar sana yang menghiburnya, bahkan rela memberikan hal yang paling berharga pada Wonwoo.

Namun, percuma. Cintanya tak bisa hilang begitu saja, tak lenyap ditelan waktu. Bahkan sang waktu pun tak kuasa untuk menghapus kenangan kelam yang ada didirinya.

Pintu ruangannya terbuka. Menampakkan sosok sang Ayah yang selama ini dibencinya. Jika bukan karena harta warisan yang dijanjikan Ayahnya, mungkin Wonwoo sudah pergi meninggalkan keluarganya. Ya, alasan Wonwoo masih tetap bertahan selama ini adalah ingin membalas dendam pada Ayahnya dengan menguasai hartanya. Bahkan Wonwoo pernah mengucap janji akan membawa gadisnya kembali setelah ia berhasil menguasai aset yang dimiliki keluarga besarnya.

Segera Wonwoo memasukkan kembali foto gadisnya ke dalam dompet. Bersikap seperti biasanya, layaknya seorang Jeon Wonwoo yang angkuh. Wonwoo bangkit dari kursi kebesarannya, menghampiri Ayahnya yang sudah terlebih dahulu duduk di sofa tak jauh dari meja kerja Wonwoo yang menjabat sebagai wakil presiden direktur Jeon Grup.

Wonwoo mendudukkan diri tepat di hadapan Ayahnya. Tuan Jeon terkikik geli melihat tingkah sok angkuh anak sulungnya itu.

“Ada perlu apa kau kemari?”

Tak ada basa-basi lagi, bahkan sapaan hangat pun tak diterima oleh Tuan Jeon, selayaknya sapaan hangat anak kepada orang tuanya.

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.” Tuan Jeon memperbaiki posisi duduknya, “Bagaimana keadaan Saehyun?”

Bukannya menanyakan kabar perihal anak sulungnya, Tuan Jeon malah menanyakan kabar Saehyun, calon menantu idamannya. Wonwoo tersenyum miris mendengar pertanyaan Ayahnya.

“Apa kau sangat menyukai gadis itu?”

“Tentu saja. Kalau pun tidak, untuk apa aku bersikeras menjodohkanmu dengannya?”

“Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang menikahinya?”

PLAKK

Sebuah tangan kekar berhasil mendarat di pipi kiri Wonwoo. Nafas Tuan Jeon bergerumuh. Amarahnya semakin memuncak saat disadarinya Wonwoo tak meminta maaf setelah berkata lancang pada Ayahnya.

“Andai saja Jungkook adalah anak sulung keluarga Jeon, aku tidak akan menaruh harapan besar pada orang sialan sepertimu!”

Sekon berikutnya Tuan Jeon pergi meninggalkan Wonwoo yang masih menunduk, merasakan sakit di pipinya. Oh, tidak! Bukan hanya dipipinya namun dihatinya juga. Terlebih pernyataan Ayahnya yang lebih memilih Jungkook dibandingkan dengan dirinya.

***

“Oh Sehun. Senang berkenalan denganmu, cantik.” Kerlingan genit mata Sehun membuat Jihyun menyambut uluran tangannya.

“Park Jihyun. Nice to meet you, too.” Jihyun membalas dengan senyuman yang tak kalah menawan.

Sehun dan Jihyun nampak begitu menikmati malam pertemuan pertama mereka. Bahkan Jihyun tak segan untuk bercerita pada orang yang baru pertama kali ditemuinya. Rupanya sifat ramahnya pada orang lain masih sama seperti saat itu. Pun dengan Sehun yang tak segan-segan merangkul pundak Jihyun yang mulai kehilangan kesadaran sedikit demi sedikit.

Hingga pada akhirnya Jihyun benar-benar kehilangan kesadarannya. Sehun tersenyum licik, menikmati pemandangan indah wajah cantik Jihyun dihadapannya. Wajah malaikat Jihyun terlihat begitu damai, seperti tak punya beban. Berbeda sekali ketika ia sudah terbangun. Semua pikiran buruk, rasa sedih, kecewa dan kesal bercampur aduk menggerogoti dirinya. Menjadikan malaikat bersayap putih macam Park Jihyun berubah menjadi malaikat berhati iblis.

Sehun menggendong Jihyun ala bridal. Membawa tubuh tak sadarkan diri Jihyun ke apartement pribadinya mengingat ia tak tahu alamat rumah gadis ini. Sehun menidurkan Jihyun di atas tempat tidur king size-nya, sementara ia lebih memilih tidur di atas sofa yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya.

Sehun tersenyum geli karena bisa menghabiskan malam bersama gadis secantik Jihyun, meski ia masih tak berani menyentuh gadis itu. Mengingat masih ada hal yang harus dilakukannya untuk melancarkan misi rahasianya. Bertemu dengan Park Jihyun bukanlah suatu kebetulan bagi Sehun.

Jungkook tiba di restoran milik Hana, setelah sebelumnya ia menghubungi Taehyung mennayakan di mana keberadaan pemuda tengil itu bersama Saehyun. Bagaimanapun caranya, rencananya harus sukses malam ini. Tak ada Jeon Wonwoo maupun Oh Sehun yang akan mengganggunya lagi.

Jungkook tiba di lantai paling atas gedung restoran saat Taehyung dan Mina tengah berdebat masalah konyol mereka. Entah apa itu, Jungkook tak peduli. Mata elangnya menatap tajam Saehyun yang tengah duduk memandangi kerlap-kerlip lampu jalan di bawah sana lewat kaca jendela di sampingnya. Sepertinya gadis itu tak menyadari kedatangan Jungkook.

“Jungkook!” seru Hana membuyarkan perhatian Saehyun.

“Hai, Hana.” Sapanya singkat, “Taehyung-ah, terima kasih banyak sudah menjaganya.” Kali ini perhatiannya tertuju pada Taehyung.

“Tidak masalah! Aku senang bisa membantumu, Kook.”

Taehyung dan Jungkook nampak saling bertukar kunci mobil. Sejurus kemudian Jungkook menghampiri Saehyun yang nampak senang atas kehadiran Jungkook.

“Ayo jalan, aku yang akan mengantarmu pulang.”

Jungkook menggenggam lengan Saehyun lembut, berbeda sekali dengan Wonwoo yang malah mengasarainya tadi.

“Kami pamit duluan.”

Hana mencelos melihat genggaman tangan Jungkook pada lengan Saehyun yang begitu penuh cinta. Sementara Taehyung malah memperhatikan raut wajah Hana yanga tampak kecewa dan sedih.

“Tae, sebenarnya apa hubungan mereka berdua?” tanya Hana tanpa mengalihkan pandangannya dari dua sejoli yang saat ini sedang menuruni anak tangga.

“Cinta petamanya. Ji Saehyun adalah cinta pertama Jungkook. Gadis yang sering kali membuat Jungkook uring-uringan, bertingkah tak jelas. Itulah dia, Ji Saehyun.”

Mendengar jawaban dari Taehyung membuat hati Hana semakin sakit. Apakah cintaku memang harus berakhir seperti ini? Pikirnya.

Jungkook menggandeng Saehyun menuruni anak tangga taerakhir sebelum akhirnya mereka berhasil keluar dari gedung ini. Tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata yang memperhatikan gerak-gerik merek sejak keduanya menapakkan kaki di lantai satu.

“Bugeom-ah, sepertinya keputusanku sudah bulat.” Ucap Chanmi.

“Maksudmu?”

“Aku akan menaklukkan hati penerus Jeon Grup. Bagaimana pun caranya.”

“Park Chanmi!”

“Aku sudah tidak punya alasan lain untuk membatalkan rencanaku. Aku harus mendapatkan apa yang aku mau!”

“Tidak bisakah kau melakukan hal lain selain rencanamu itu? Atau tunggulah sebentar lagi, aku pasti akan-”

“Sampai kapan? Sampai kapan aku harus menunggu terus?” dada Chanmi nampak naik-turun, “Sampai Ayahku menghembuskan nafas terakhirnya karena tidak bisa menjalani pengobatan yang harganya selangit itu?!”

Chanmi berdiri dari duduknya, menatap nanar pada Bugeom, teman kecilnya. “Aku lelah, sampai bertemu lagi.”

Chanmi pergi meninggalkan Park Bugeom yang menatap punggungnya nanar.

***

Kun mash menuntut jawaban dari istrinya, Nayoung perihal pertanyaannya mengenai Saehyun. Lama Nayoung bertahan atas diamnya, pada akhirnya wanita itu memilih untuk buka suara perihal hubungannya dengan Saehyun, orang yang dicari Kun.

“Dia temanku, aku kenal baik dengannya. Tapi, ada perlu apa Oppa menanyakannya?”

“Aku hanya diperintah untuk menyampaikan pesan penting dari atasanku.”

“Atasanmu?” Nayoung mengkerutkan keningnya, “Oh Sehun?” pekiknya kemudian.

Kun mengangguk, mengiyakan pertanyaan istrinya. Walau bagaimapun ia tidak bisa berkilah dari sang istri, begitupun sebaliknya.

“Ada perlu apa dia dengan Saehyun?”

“Maafkan aku, tapi-“

“Aku tahu, itu pasti sangat rahasia sehingga kau tak bisa memberitahuku.”

“Maafkan aku.”

Pintu terbuka, menampakkan sosok Mina dengan wajah berserinya. Perawat muda itu menyambangi Nayoung yang tengah terduduk bersandar pada dashboard. Senyumannya semakin merekah kala keduanya saling beradu tatap dalam jarak dekat.

“Ada apa denganmu? Jangan menatapkku seperti itu! Kau membuat bulu kudukku berdiri saja.” Celetuk Nayoung.

Eonnie!”

“Sudah aku bilang jangan-“

“Selamat!” sorak Mina kegirangan.

“Eh?”

“Kun-ssi, selamat atas kehamilan istri tercintamu ini.”

Nayoung tak bergeming, matanya mmebulat sempurna. Tangannya menutup mulutnya terkejut tak percaya atas kabar yang diterimanya dari Mina perihal kehamilannya. Berbanding terbalik dengan Kun yang sepertinya sudah tahu lebih dulu kabar membahagiakan ini. Keluarga kecilnya akan kedatangan seorang tamu istimewa.

Nayoung menatap tak percaya suaminya. Matanya berkaca-kaca. Kun bangkit dari duduknya, meraih Nayoung dan mendekapnya erat. Menyalurkan semua kebahagiaan dan cintanya pada Nayoung.

“Terima kasih… Terima kasih banyak, Nayoung-ah…”

Mina menyatukan kedua tangannya, berdo’a pada Tuhan untuk kebahagiaan Kun dan Nayoung. Hatinya menginginkan, suatu hari nanti dirinya akan bahagia seperti Nayoung. Tentu saja Mina membayangkan Park Bugeom sebagai pendamping hidupnya. Senyumannya luntur saat bayangan wajah Sunkyo hadir dalam benaknya.

“Ini gila!” rutuknya pelan.

Tanpa Mina sadari, Nayoung dan Kun sejak tadi memperhatikan gelagat aneh Mina. Gadis itu masih menutup matanya, raut wajahnya merengit kegelian.

“Hei Park Mina! Ada apa denganmu?”

Mina membuka matanya, “Eh? Ah iya aku hampir lupa!” Mina menampilkan cengiran kudanya.

“Usia kandunganmu sudah hampir seminggu. Dan sepertinya kau kelelahan, maka dari itu tadi kau kehilangan kesadaranmu, eonnie.”

“Satu minggu?” Nayoung nampak terkejut.

“Mulai sekarang kau harus menjaga kesehatanmu, sayang. Kau tidak boleh terlalu kelelahan. Karena kudengar awal kehamilan itu sangat berbahaya.”

“Kun-ssi benar. Eonnie harus lebih berhati-hati juga.” Mina menambahkan.

“Ah! Terlebih kau itu kan dokter kandungan. Seharusnya kau tahu apa yang harus dan tidak boleh kau lakukan.”

“Kau cerewet, Park Mina.”

“Aakk!” jerit Saehyun saat Jungkook menyentuh pergelangan tangannya.

Jungkook cepat-cepat mengecek keadaan pergelangan tangan Saehyun. Betapa terkejutnya Jungkook saat dilihatnya ada memar di sana. Mata elang Jungkook menuntut jawab dari Saehyun.

“Aku rasa tadi Wonwoo terlalu kuat menyeretku, jadinya begini.”

Saehyun tak berani menatap langsung manik mata Jungkook. Gadis itu lebih memilih menundukkan kepalanya. Rambut panjangnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya.

Semilir angin menerpa, menerbangkan rambut panjang kecoklatannya. Karena saat ini keduanya tengah berdiri di depan kap mobil dekat aliran Sungai Han. Angin malam yang berhembus semakin kencang membuat Saehyun menggigil.

“Sudah larut, aku akan mengantarmu.”

Dering ponsel terdengar jelas di saku jaket Saehyun. Segera gadis bermarga Ji itu mengambilnya. Saehyun menghela nafas kesal saat dilihatnya tertera nama Jeon Wonwoo di layar ponselnya.

Jungkook yang menyadari kebisuan Saehyun pun menoleh, “Apa itu Wonwoo Hyung?”

Saehyun mengangguk mengiyakan.

“Kenapa tak kau jawab saja?”

“Ya, ini aku.” Saehyun menjawab panggilan dari Wonwoo.

“……”

“Iya aku sedang dalam perjalan pulang.”

“……”

“Aku pulang dengan Jungkook.”

“……”

Saehyun nampak menjauhkan ponselnya dari telinganya. Panggilan diputus sepihak oleh Saehyun.

“Apa katanya?”

“Dia hanya menanyakan apa aku sudah sampai rumah atau belum. Itu saja.”

“Oh…”

***

Sebuah mobil sport berwarna merah berhenti di depan sebuah rumah megah bernuansa Eropa. Dari mobil tersebut turunlah seorang wanita dan pria yang pantas untuk dikatakan sempurna karena paras mereka yang menawan.

“Ini rumahmu?”

“Iya.”

“Baiklah kalau begitu aku pamit. Sampai jumpa, manis.”

Baru saja satu-dua langkah, pria itu menghentikan langkah kakinya saat sebuah suara menyebut nama si wanita.

“Jihyun Noona!!!”

“Berhentilah berteriak, Park Jimin!”

“Kemana saja kau ini?! Semenjak tiba dari Amerika kau tak pernah pulang ke rumah!”

“Berisik!”

Jihyun meninggalkan Jimin yang masih memarahinya tak jelas di depan gerbang. Atensinya beralih pada sosok pria yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.

“Siapa dia?”

Noona! Siapa pria yang tadi mengantarmu itu?” Jimin langsung menanyai Jihyun sesaat setelah masuk ke dalam rumah.

“Kau diantar oleh seorang pria? Siapa dia?”

Langkah kasar Jihyun berhenti kala indera pendengarannya menangkap suara yang selama ini ia rundukan. Sebenarnya, Jihyun enggan untuk melihat ibunya yang kurus, wajahnya pun tak berseri seperti dulu. Jihyun memantapkan hatinya sebelum berbalik menatap sang ibu.

“Dia temanku, bu.”

“Kenapa tak kau ajak untuk mampir meski sebentar?”

“Dia sibuk. Bu, aku lelah, ingin istirahat.”

“Baiklah.”

Kun kembali ke rumah sakit. Bukan untuk melihat keadaan istrinya, melainkan mencari keberadaan Ji Saehyun, orang yang diinginkan tuannya. Setelah bertanya pada suster yang kebetulan melewatinya, kini Kun hanya perlu menunggu di ruang tunggu.

Tak lama seorang gadis berjas putih lengkap dengan kaca mata yang bertengger manis dihidungnya dan beberapa dokumen ditangannya datang menghampirinya. Gadis itu nampak kebingungan karena tak tahu siapa gerangan orang sedang mencarinya ini.

“Qian Kun-ssi?” tanyanya kemudian.

Kun mendongak, dan langsung berdiri mensejajarkan dirinya dengan dokter tersebut yang tak lain adalah Ji Saehyun, orang yang tengah ia cari.

“Ji Saehyun-ssi?” tanyanya memastikan.

“Ya, itu aku. Maaf, ada yang bisa saya bantu?”

“Ada yang perlu saya bicarakan dengan Anda, dok.”

Keduanya saling menatap dengan tatapan yang berbeda. Saehyun dengan sorot mata penuh tanya, sedangkan Kun dengan sorot mata seriusnya.

*to be continued*

apel’s note :

Aku tahu, guys ini absurd dan gak nge-feel, mohon maaf banget huhu

Aku ucapin banyak terimakasih sama yang udah mau ngasih komentarnya di ffku ini, dan yang udah mau OC-nya kunistakan wkwkwk

sampai jumpa di chapter berikutnya (yang entah kapan aku buat kkkk)

PART 2 ada di Wattpad, blm ku posting di sini (wattpad : apelijo)

Advertisements

13 thoughts on “OBSESSION [Part 3]

  1. Akhirnya aku mudeng juga pas baca part ini, wkwkwkw 😂😂😂 setelah kelar baca part2 nya pastinya…
    Kasian banget si bogum di lepeh ma chami, wkwkkw…#kuatkanhatimuoppa# masih ada mina ma sunkyo tuh yg mau sama oppa…😆😆😆

    Ciee… hunnie masih gentelment juga yah kaga ngapain-ngapainin jihyun… masih kuat dia (?) Jadi hunnie itu ketemu ma jihyun bukan karenaa kebetulan yah, hemm… makin penasan kita.

    Trus apa yang bakalan di omongin kun sama saehyun ya? Aku tunggu next partnya ya, pel… fighting!!!

    • haii haii kak phiiiyy kkkkk selamat ya akhirnya mudeng sama cerita absurdku ini wkwkwk
      sengaja aku nistain bogum karena dia udah lancang sih cuekin duo cecan macem sunkyo ama mina wkwkwk

      yap, sudah terencana, sepertinyaaa kkk tunggu aja kelanjutannya yang entah kapan hahahah mkasih kaak

  2. NayKun… Couple baruu.. Wkwkkwkw….. Aduhh Kun… Aq makin kangen sma qm.. Kapan debutnya qm… 😂😂😂

    Masih ajh mina sma sunkyo rebutan bogum.. Dn mina bawel yaa disini.
    Wkwkkmmm… Spertinya nayoung harus kebal dgn tingkah nya si mina

  3. Tidakkkss… kau menghentikan chapter ini ketika aku penasaran sama apa yang terjadi selanjutnya dg Kun dan Saehyun ;—-;

    Wokaaay akhirnya aku tau juga kalau Bogum ternyata teman masa kecil aku… kirain pacar bwakakakaka tp iyasih aku mengerti jiwa iblis Chanmi krn emang dia didesak oleh keadaan. Aku mengerti sama kamu Chan aku mengerti. Semoga Chanmi bisa cepet ketemu Jhope biar dia segera tobat (?)

    Oke pel… pokoknya kutunggu lanjutannyaaaa. Penasaran sama klimaks di setiap konflik para karakter ini kwkwkw hwaitinggg!

    • hahahah ciie makasih sudah mampir, tanteee kkk

      ya begitulah, karena kan ada akibat ada sebabnya juga, pak wkwkwk do’akan saja agar Chanmi cepet-cepet ketemu jehop kkkk makasiiiih pak

    • Btw kak apel, kok aku merasa sehun kehilangan aura bling bling nya wakakakaka.. apa mungkin krn gak ngefeel? Memang gak se wah chapter 2 wkwkwk.. ini salah satu alasan kenapa aku ga pernah mau lanjut ff kalo ga ngefeel

      • hahaha karena gak selamanya Sehun harus bling-bling terus, yun wkwkwk
        yah mungkin sih aku juga agak kurang ngefeel gtu sama part sehun di sini kkkk but, makasih sudah mampir.

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s