[Oneshot] Feeling Blue

d775ca03f3acbae82d560fa74bd60066

Feeling Blue

Written by

Amy Park

Cast: Park Chanmi (OC) – Jung Hoseok

Genre: Romance – Friendship

Length: Oneshot

^

^

^

“Karena kamu lebih mementingkan status.”

Mungkin tidak ada yang spesial pada hari ini bagi kebanyakan orang. Namun bagi seorang perempuan bernama Park Chanmi, ini adalah hari terburuknya. Bagaimana tidak, setelah ia memperbaiki laptop sampai semua data hilang, kini giliran hard disk eksternal miliknya yang rusak.  Tidak hanya sampai di sana, bahkan di dalam hard disk tersebut ada beberapa dokumen penting seperti kumpulan artikel yang harus ia serahkan ke kantor tempat ia bekerja.

Sifatnya tidak wajib, sih, karena Chanmi hanya reporter freelance di sana. Namun pribadinya yang terbilang perfeksionis membuat ia mewajibkan diri untuk mengumpulkan artikel tersebut ke redaktur agar diproses dan diterbitkan. Oh, satu lagi, dia sudah berjanji untuk mengumpulkan artikel mengenai tren make up itu ke redakturnya sejak dua bulan lalu. Jika tidak ditepati, Chanmi takut akan merusak reputasi kampusnya yang sudah dinilai bagus oleh perusahaan penerbitan berita tersebut.

Maka di sinilah Chanmi berdiam, di sebuah kafe kopi kesukaannya. Perempuan berambut pendek sebahu itu kini tengah berkutat dengan laptop miliknya yang baru saja pulih dari masa sekarat—mengetik ulang lima artikel yang pernah ia buat untuk segera diserahkan ke kantor. Terima kasih pada sang redaktur yang telah memundurkan tenggat waktu pengumpulan hingga sore hari ini.

“Masih berusaha keras juga?”

Chanmi mendongkak dan tersenyum tipis pada temannya yang baru datang, Namanya Kim Yejin. Teman satu jurusannya, tapi tidak sekelas. Walaupun sudah hampir empat tahun mereka menempuh pendidikan di kampus dan jurusan yang sama, keduanya baru kenal dekat dan mulai sering mengobrol dalam beberapa bulan terakhir ini. Alasannya cukup lucu dan terbilang simple-minded—baru menyadari bahwa mereka menyukai boyband yang sama.

“Tanggung, sudah setengah jalan. Lagian lumayan juga kalau memang bakal diterbitkan, bisa buat nonton konser Bangtan.”

Yejin yang hendak meminum caramel macchiato kesukaannya itu hampir saja tersedak, karena jawaban Chanmi membuatnya tertawa. “Astaga, Chan. Jadi bela-belain nulis ulang artikel hanya untuk nonton konser Bangtan?”

“Enggak juga, sih. Tapi sembilan puluh persen emang iya. “

Jawaban Chanmi kembali membuat Yejin menggeleng heran. “Kalau emang mau nonton kenapa enggak minta aja ke orangtua? Bukankah lebih gampang?”

“Enggak gampang, Yejin-ah. Malu, tahu. Sudah 22 tahun masih minta ke orangtua, apalagi buat konser. Lagian kasian juga orangtuaku sekarang. Sepupuku tengah sakit ginjal, jadi mama dan papa bertanggung jawab untuk membantu biaya cuci darah dan segala macamnya,” ungkap Chanmi sambil menghela napas.

“Oke, aku mengerti. Tapi jangan terlalu dibawa stres, Chan. Lebih baik stres-nya disimpan dulu buat nanti skripsi.”

Kali ini giliran Chanmi yang tertawa akan jawaban Yejin, “Stres yang itu bakal beda lagi, Yejin-ah. Lebih mumet malah.”

Yejin pun terkekeh seraya menyicip kelezatan caramel macchiato yang sempat tertunda. Seolah ingat sesuatu, ia pun kembali berkata, “Kamu enggak aktif Line? Atau enggak ada paket? Atau gimana? Hoseok sejak kemarin bertanya terus tentang keberadaanmu.”

“Hoseok?”

“Yep. Dia such as spammer, ya. Kalau nanya sudah macam online shop yang lagi promo. Mending kamu kasih dia kabar, deh, biar dia enggak ganggu aku terus,” keluh Yejin yang membuat Chanmi tersenyum geli.

Nyesel, kan, kamu kenal sama dia?”

“Banget!”

Ah, ya… Jung Hoseok. Teman dekat Chanmi yang sudah ia kenal sejak Sekolah Menengah Atas. Mereka tidak satu sekolah, tapi mereka bisa bersahabat karena rumah keduanya bersebelahan. Hoseok dan Chanmi juga sering mengobrol karena sama-sama kutu buku dan penggemar berat Harry Potter juga Resident Evil. Hubungan keduanya pun semakin dekat ketika mereka diterima di kampus yang sama walaupun di fakultas yang berbeda—Chanmi di Fakultas Ilmu Komunikasi sedangkan Hoseok di Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Inggris.

Status mereka sekarang bisa dibilang sedang rumit. Chanmi sebenarnya menyukai Hoseok, tapi Hoseok tampaknya hanya menganggap Chanmi sebagai temannya—tidak lebih. Dan… itulah salah satu penyebab mengapa Chanmi malas berkomunikasi dengan lelaki yang menurutnya memiliki senyum paling manis itu.

Juga… sesungguhnya kini seorang Park Chanmi terlalu sibuk dengan masalahnya sehingga melupakan Hoseok. Dia juga terlalu malas membuka Line karena banyak spam yang dia terima. Bukan hanya spam dari Hoseok, tapi spam dari official akun fanbase maupun online shop yang dia tambahkan sebagai teman. Lagipula, sebenarnya dia sedang sebal pada Hoseok yang tidak punya akun media sosial lain untuk menghubunginya. Lelaki itu hanya punya Line dan Snapchat—itu pun jarang aktif. Alasannya pasti akan membuatmu muak, Hoseok takut ketampanannya terekspos jika memiliki lebih dari dua akun media sosial -_-

Hoseok menyebalkan, bukan? Meski demikian, Chanmi juga tidak dapat memungkiri bahwa dia rindu Hoseok. Bagaimana pun, Hoseok satu-satunya mesin penghibur Chanmi ketika ia sedang banyak masalah. Tanpa ingin menunggu lama lagi, perempuan itu segera meraih ponselnya dan membuka aplikasi Line untuk mengecek pesan dari Hoseok.

Thu, Feb 23

Jung Hoseok

Jadi minjem laptop, enggak?

Udah dibawa ke tempat service belum laptopnya?

Kalau belum, temenku bisa benerin deh kayaknya.

Permisi…

Park Chanmi?

Masih hidup?

Yesterday

Kata Yejin laptopmu rusak parah, ya?

Kalau mau ngerjain tugas kantor pakai laptop aku aja sini. Free kok.

Chan?

Heh… kamu ke mana, sih?

Laptop rusak aja sombong, yaaa -______-

Aku kira kamu enggak ada paket.

You ignore me, huh? Update snapchat bisa, kok bales aku enggak bisa?

-________________-

Today

Di mana,sih?

Dari kemarin-kemarin aku ke kosan kamu, loh. Tapi penjaga bilang kamu belum dateng. Kamu pulang malem lagi? Ngapain?

Where the hell are you?

Lagi sama siapa, sih, sampai enggak bisa diganggu?

Chanmi menghela napas setelah melihat pesan yang dikirimkan Hoseok sejak dua hari yang lalu. Entahlah, mungkin untuk sebagian orang pesan tersebut terbilang manis karena membuktikan setidaknya ada orang yang peduli terhadap keadaan mereka. Tapi bagi Chanmi tidak demikian, pesan tersebut rasanya tidak ada artinya karena si pengirim pesan juga tampak tidak menganggap ia sebagai orang yang spesial—termasuk spesial dalam hal memberikan kejelasan akan stasus dengan dirinya. Maka dari itu, ia pun hanya membalas:

Berisik yaaaaaaaa

***

Niat awal Chanmi sesudah mengumpulkan berita adalah mengajak Hoseok ke Itaewon untuk makan masakan Turki di kedai kesukaan mereka. Sayangnya, niat itu dibatalkan Chanmi karena sikap Hoseok yang menurutnya menyebalkan.

Chanmi sudah mengajak Hoseok untuk makan dan lelaki itu pun sudah berjanji akan menemaninya. Namun setengah jam sebelum berangkat, Hoseok membatalkan janjinya dengan alasan harus bertemu dengan Jihyo untuk mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan besok pagi. Iya, Jihyo, mantan kekasih Hoseok yang sialnya satu jurusan plus satu kelas dengan Hoseok. Benar, Chanmi cemburu. Namun sebenarnya Chanmi juga kecewa karena Hoseok yang awalnya ingin sekali beremu dengan Chanmi—juga mengaku kalau lelaki itu rindu padanya di telepon—malah mengabaikannya dan bertemu dengan Jihyo.

Pada akhirnya, Chanmi pun pergi ke Itaewon bersama Yejin dan menghabiskan waktu hingga pukul sepuluh malam di daerah tersebut. Alhasil, sesampainya ia di tempat kos, semua bagian badannya terasa sakit, otak serta pikirannya pun benar-benar membutuhkan istirahat. Rasanya ia ingin sekali segera berbaring di kasur kesukaannya, tetapi keinginannya itu tidak terkabul karena sebuah tangan menahan bahunya.

“Jung Hoseok?” heran Chanmi setelah menoleh.

Lelaki itu hanya tersenyum bodoh dan langsung menangkup kedua pipi Chanmi dengan tangannya, “Aigoo… bakpau-ku pulang malam terus. Dari tadi aku nunggu kamu pulang di kedai sebelah, loh. Habisnya dihubungin enggak jawab mulu.”

“Apaan, sih.”

Chanmi melepaskan diri dari Hoseok. Baiklah, ini bukan kali pertama Hoseok memperlakukannya seperti itu. Pipinya yang tembam memang selalu menjadi sasaran penganiayaan Hoseok, tapi kali ini rasanya berbeda. Hati Chanmi berdesir. Dia tak kuasa menahan rasa cintanya pada Hoseok yang semakin tumbuh, makanya ia menghindar.

“Makan, yuk!”

“Sudah makan, kok. Kamu saja sana. Aku mau pulang.”

Sebuah bentuk penolakkan terpancar dari wajah Hoseok. “Temani aku makan kalau begitu. Kamu mau, kan? Mau, ya? Tanggung jawab aku kelaparan karena menunggu kamu pulang.”

“Salah sendiri… kenapa nungguin aku pulang?”

Hoseok mengibaskan tangan, “Karena kamu sibuk terus dan susah banget dihubungi, pokoknya sekarang kamu wajib temenin aku makan. Titik.”

Dan Chanmi pun hanya bisa pasrah ketika dirinya ditarik paksa menuju kedai bakmi yang tidak jauh dari rumah kos-nya.

***

Tidak seperti biasanya, suasana antara Chanmi dan Hoseok saat itu sangat canggung. Hoseok hanya sibuk dengan makanannya sedangkan Chanmi lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya—sambil sesekali mencuri pangsit milik Hoseok lalu memakannya dengan santai.

Namun suasana canggung itu tidak berlangsung lama. Setelah menghabiskan makanannya, Hoseok pun membuka suara, “Tumben diam saja. Enggak cerita-cerita tentang grup yang kamu suka dan maksa aku buat liat music video-nya?”

Chanmi hanya terdiam. Sebenarnya dia masih kesal karena Hoseok membatalkan janjinya demi Jihyo, tapi dia tidak bisa mengekspresikan kemarahannya karena memang dia tidak sedang dalam ‘posisi’ yang berhak marah. Chanmi hanya sahabat Hoseok. Tidak lebih.

“Kamu marah, ya?”

“Enggak, lagi capek saja.” Kali ini Chanmi menjawab dengan cepat, tapi nada bicaranya benar-benar ketus.

Meski demikian, Hoseok masih menanggapinya dengan senyuman. Ah… Chanmi sungguh tidak suka jika sudah seperti ini.

“Oh iya, kamu, kok, enggak pernah baca dan balas pesanku di Line? Sekalinya balas, singkat banget. Kamu marah?”

Chanmi menghela napas, “Dibilangin… aku sedang lelah, berlaku juga di media sosial. Lagian aku males juga buka Line. Isinya spam semua.”

Hoseok mengangkat sebelah alisnya. “Spam? Kamu nyindir aku?”

“Enggak nyindir, sih. Tapi syukurlah kalau kamu sadar.”

Kali ini, senyuman Hoseok menghilang, digantikkan dengan wajah seriusnya yang cukup menyeramkan di mata Chanmi. “Hey… itu bukan spam, Chan. Aku khawatir karena selama tiga hari ini kamu hilang tanpa kabar. Setiap kali kumampir ke rumah kos, kamu selalu belum datang walau sudah larut malam. Bahkan ibumu sampai menghubungiku karena kamu enggak pernah balas pesan singkat dan angkat telepon darinya. Gimana aku enggak khawatir?”

Sial sial sial, pikir Chanmi. Perhatian yang diberikan Hoseok kali ini semakin membuat Chanmi ingin memiliki Hoseok seutuhnya. Dia semakin ingin memberitahu Hoseok tentang perasaannya tapi dia tidak bisa.

“Jangan menyimpan masalah sendirian. Enggak baik.”

Kalau masalahnya berkaitan dengan kamu, aku bisa apa, Hoseok-ah? Bahkan ucapan itu hanya mampu terlintas dalam pikiran Chanmi.

Helaan napas Hoseok terdengar, ia pun menatap Chanmi dengan lembut. “Aku tanya sekali lagi, ya. Kemarin-kemarin sama seharian ini kamu kemana saja sampai susah dihubungi? Hmm?”

Tidak bisa menghindari tatapan Hoseok tersebut, pada akhirnya Chanmi menjawab, “Ngejar deadline. Nulis ulang artikel lagi karena semua data di laptop hilang dan hard disk eksternal aku rusak.”

Hoseok mengangguk mengerti, “Tapi kenapa kamu enggak cerita ke aku?”

Chanmi sungguh tidak sanggup lagi menerima perhatian semu dari Hoseok. Karena hal itu, semakin lama emosi Chanmi semakin membuncah. Ia ingin menangis tapi dia tidak bisa. Maka, tanpa sadar ia pun bertanya dengan nada tinggi, “Emangnya wajib, ya, lapor sama kamu tentang masalah itu?”

“Bukan gitu, Chan. Sebagai…”

“Emang kamu siapanya aku, sih? Sampai kamu bawel tanya-tanya keadaan sama masalah aku. Kita pacaran? Enggak, bukan?”

Perkataan Chanmi tersebut membuat Hoseok menatap Chanmi dengan heran sekaligus tidak terima. “Loh… kenapa kamu malah ngomong kayak gitu? What’s wrong with you exactly?”

Chanmi menghela napas, menyesali apa yang telah ia katakan. Tapi penyesalan itu tidak membuat Chanmi berhenti untuk mengeluarkan semua isi hatinya, “I don’t know… aku hanya heran dan lelah saja. Enggak ada status di antara kita, kan? Tapi kenapa kamu selalu ikut campur sama masalah aku, sih? Semua perhatian yang kamu kasih itu enggak ada gunanya. Percuma. Mending kamu kasih perhatian sama Jihyo aja, deh. Lebih realistis.”

Hoseok menatap Chanmi tak percaya. Raut wajah Hoseok benar-benar berbeda dan tidak bisa ditebak oleh Chanmi kali ini, membuat jantung Chanmi berdegup kencang—khawatir.

“Woow… okay, i understand,” Hoseok mengangkat kedua tanggannya sementara, sebagai gestur dan tanda bahwa ia sebenarnya tidak terima dengan apa yang telah Chanmi katakan. Wajah serius lelaki itu pun kembali menatap Chanmi, “Aku mengerti bahwa ini memang hari yang berat buat kamu, Park Chanmi. Tapi kamu sudah keterlaluan. Dan jujur, aku kecewa sama kamu sekarang.”

What? Why?”

Hoseok menghela napas sebelum menjawab, “Aku kecewa karena kamu lebih mementingkan status. Bahkan sampai kamu enggak sadar bahwa ada orang yang emang sayang sama kamu. Lebih dari yang kamu bayangkan.”

Untuk beberapa detik Chanmi mematung, merasa sangat tidak percaya dengan apa yang telah Hoseok katakan sekaligus merasa bersalah karena telah berbicara yang tidak masuk akal pada Hoseok. Namun, tingkah bodohnya kembali beraksi tanpa ia sadari.

It doesn’t make a sense, you know. Bullshit,” ungkap Chanmi ketus seraya beranjak dan pergi meninggalkan Hoseok.

Entahlah… Entahlah… Entahlah… hari ini merupakan hari terburuknya sehingga ia tidak memiliki akal sehat yang cukup untuk menghadapi Hoseok.

***

Tidak berniat berganti pakaian, Chanmi pun menghempaskan tubuh di atas kasur dan segera menghapus air matanya. Ya, pada akhirnya dia menangis ketika sadar akan sikap bodohnya pada Hoseok. Saat ini ia hanya ingin tidur dan melupakan semua yang terjadi, tapi dering ponsel mencegahnya. Pesan masuk dari Hoseok, yang kini segera ia buka dan baca.

Jung Hoseok

Sorry…
Kalau memang enggak suka, aku akan berhenti.
But don’t forget to smile after the sun rises tomorrow. Have a nice dream 🙂

Haruskah Chanmi bahagia setelah menerima pesan itu? Sepertinya tidak. Karena sejak saat itu, Hoseok tidak pernah menghubunginya lagi.

And the worse part is… she already miss him. Park Chanmi benar-benar merindukan Jung Hoseok saat ini.

:: End::

HAHAHAHAHAHAHAHAHA absurd ya? Maaf dan mohon dimaklum, ya. Author sedang gila dan sebenarnya ini curhatan author :”””

Semoga suka dan jangan lupa tinggalkan komen kalau sudah baca. Bye :**

Advertisements

5 thoughts on “[Oneshot] Feeling Blue

  1. Halloo pak… jihyun datang ^^
    Ceritanya friendship banget yah. Doi suka ma temenya sendiri dan disini menurutku qku yah yg salah ada 2 orang gak sih chanmi gak sih jhope sama-sama gak peka 😑😑😑

    Mungkin mereka salah paham, yg satu mikir kalo sih cewek gak suka ma dia sedangkan yg cewek mikir sih cowok masih belum bisa mup-on ma mantan.

    Menurutku ini menurutku lagih yah, kalo si cowok gak ada rasa gak mungkin dia mau nunggu semaleman buat sih doi. Khawatir gara-gara chatnya gak di bals”. Pas dah ketemu sama orgnya doi malah dapet jawaban yg bikin dia kecewa. Jadinya itu ngebuat doi makin yakin kalo sih cewe gak suka sama dia.

    Susah juga sih kalo udah friendszone. Mau bilang suka tar jdi canggung gak bilang ati nyesek kalo liat doi ma orang lain 😂😂😂

    Overall ceritanya debak! Maap ya pak kalo nyepam. Dan maap juga atas kegajeanku, ditunggu ff mu yang lainnya, fighting!!!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s