[Chaptered] SCARLET SERIES [4]: Scarlet Sky, Let It Go

scarlet-4

SCARLET SKY: Let It Go

A fanfic by Bluebellsberry

Starring by Kim Myungsoo (L), Jiyeon, Kai, V, Krystal and others

“Apa yang membuat orang lebih suka berbohong adalah…karena ketika mereka berkata jujur, yang didapatkan adalah makian, bukan pengertian.”—anonim.

Inspired by a little story about family.

.

.

.

Don’t be a silent reader, because karma has no menu—it’s served as you  deserved.

.

.

.

Aku baru saja mengantar salah satu pelanggan pergi ketika netraku menangkap sesosok pemuda tampan yang sangat ku kenal tengah memarkirkan mobilnya—dan disaat itu juga sepertinya aku mendapati sepasang insan tengah berdiri, memandangi seluruh toko dari etalase kaca samping. Dan senyumku lepas begitu saja. Terutama taat kala aku melihat Myungsoo disana, sementara gadis muda itu…entahlah, rasanya ini adalah kali pertama aku melihatnya. Dia pacarnya Myungsoo, mungkin?

Dan sejurus kemudian manik mata kami beradu pandang—aku dan gadis yang bersama Myungsoo itu. Sekilas yang kutangkap adalah bahwa dia memiliki wajah innocent yang khas, dengan mata besar seperti boneka dilengkapi dengan hidung dan bibir mungil. Singkatnya, dia manis. Dan—ah, entah kenapa sesaat setelahnya aku kehilangan jejak mobil Kai di parkiran. Ini aneh, priaku itu tidak pernah tiba-tiba menghilang seperti ini.

Mengabaikan hal itu, rupanya dua minggu sudah berlalu. Sepertinya aku masih terlalu sibuk dengan tumpukan rancangan perhiasan yang mendekati deadline, termasuk set perhiasan milik presiden yang akan diambil satu jam lagi. Dan sampai hari ini aku masih tidak mendapat jawaban atas apa yang menjadi kebingunganku. Tentang gadis itu, Myungsoo dan Kai yang tiba-tiba pergi.

“Krys,” aku mendapati suara bariton itu menyapa rungu, kemudian berbalik dengan senyuman secerah matahari, “Kau sudah bekerja keras, jadi ini waktunya istirahat.” Dia menatapku dengan tatapan yang biasa. Sorot mata teduh yang hanya terfokus padaku, tatapan yang paling aku sukai.

“Lima belas menit.” Singkatku, “Beri aku lima belas menit untuk menyelesaikan satu set terakhir.”

Kulihat Kai cuma tersenyum simpul, kemudian melemparkan bokongnya pada sederet sofa panjang di depan. Aku masih sangat ingin menanyakan kejadian itu, bukan karena apa tapi untuk memenuhi rasa penasaranku yang sepertinya berlebih ini. Sudah lama sekali sejak aku terakhir kali melihat Kim bersaudara, kecuali Kai pastinya—dia selalu menyempatkan dirinya, walau hanya untuk melihatku bekerja.

“Sudah selesai?” dia bertanya, kemudian menyengir lebar sambil menepuk-nepuk sofa—mengisyaratkan padaku supaya duduk disampingnya.

“Sudah makan?” tanyaku, dia cuma menggeleng lantas mengajak ku keluar, “Mau kemana?”

“Kerumah,” dia tersenyum lagi, “Sudah lama kan tidak makan sama-sama’?”

Aku mengangguk, kemudian terbesit pertanyaan, “Memangnya Myungsoo mau masak?”

“Bukan,” dia tersenyum lagi, “Bukan Myungsoo, tapi Jiyi.”

“Jiyi?”

Dia mengangguk, “Sepertinya aku sudah terlanjur mengadopsi adik perempuan.”

“Eh?”

“Begini, sekitar sebulan yang lalu Myungsoo tanpa sengaja menabrak—eh, menyerempet seorang gadis saat perjalanan menuju kampus. Karena panik dan gadis itu juga pingsan, maka kami memutuskan untuk membawanya kerumah dulu…dan setelah sadar aku baru tahu kalau dia tidak punya tempat tujuan apalagi rumah. Akhirnya aku mengizinkannya tinggal dengan syarat kalau dia harus mengasuh Gyu.” Kai menjelaskan, “Mungkin sekitar dua minggu yang lalu kau melihatnya di toko, dia kesana dengan Myungsoo. Aku tidak tahu detilnya, tapi aku langsung pulang begitu melihat mereka.”

“Jadi maksudmu gadis itu tinggal bersama kalian sekarang?” aku membelalakan mata, “Seharusnya kau membawanya ke kantor polisi atau apa…”

“Aku tidak punya pilihan lain. Dia punya alasan yang tidak bisa dikatakan, dan yang bisa kulakukan cuma mempercayainya.” Kai menarik napas, “Maaf karena baru memberitahumu sekarang.”

“Kalian tidak mengenalnya, bagaimana mungkin kau memeprcayai gadis itu?” aku menarik napas, mencoba sebisa mungkin untuk tidak meledak—maksudku, bagaimana bisa Kai mengizinkan seorang gadis asing tinggal bersama mereka dan mengasuh Gyu? Ini benar-benar tidak masuk akal.

“Dia tidak seperti yang kau pikirkan, Krys….” pemuda itu bangkit, kemudian menyelipkan jari-jari tanganya ke buku-buku jariku dan setelahnya menggiringku sampai ke mobil.

“Kau tidak mengenalnya, bahkan tidak tahu dari mana asalnya, Kai!” aku berseru, dan lelaki itu cuma menanggapinya dengan satu senyum simpul. “Kau bisa bertemu langsung dengannya nanti dan memastikan semua kekhawatiranmu itu.” Begitu katanya.

“Dia memiliki kecerdasan setara anak SD yang bahkan tidak bisa memecahkan masalah sederhana aljabar…jadi tidak mungkin seorang Jiyi akan sanggup melakukan hal-hal diluar nalar—itu yang diucapkan Myungsoo di hari ketiga kami tinggal dengannya. Dan aku percaya itu.” Kai lantas mengecup puncak kepalaku, memberikan ketenangan pada kekhawatiran yang sebetulnya tidak berdasar itu. Atau mungkinkah kalau aku…cemburu?

Tidak. Itu sama sekali tidak mungkin. Seorang Krystal Jung tidak akan cemburu pada hal-hal yang tidak penting seperti itu. Aku sama sekali tidak cemburu pada gadis bodoh itu. Titik. O—oh, tapi…ah, sudahlah. Kau harus berhenti disini, Krystal Jung.

Sejak kalimat terakhirnya itu Kai tidak mengatakan apa-apa lagi. Yang bisa kudengar cuma alunan musik ballad dari sekumpulan soundtrack drama yang diputar radio. Dan tanpa kusadari tiga puluh menit berlalu…


 

“Gyubeom! H—hei, Kim Gyubeom!!” aku mendengar seruan suara perempuan begitu tungkaiku menginjak teras rumah, “Kau harus membereskan tas dan sepatumu!—dan jangan sentuh kue-kue itu sebelum kau mencuci tanganmu!”

Tanpa sadar kedua sudut bibirku tertarik, membentuk sebuah senyuman. Dan saat itu juga kulihat Kai baru saja selesai memarkir mobilnya, “Kau lihat kan’? Jiyi sama sekali tidak perlu dikhawatirkan.” Katanya.

Berikutnya aku mengekor Kai masuk kedalam, dan detik itu juga kulihat seisi rumah tampak terkejut—apa sudah selama itu aku tidak kemari?

“Krys noona,” kulihat Taehyung sampai mengabaikan game-nya, dan yang bisa kulakukan cuma melempar senyum simpul.

Nugu…saeyo?” kulihat Gyubeom berdiri dibalik punggung gadis itu, melihat dengan tatapan bingung dan seperti sama sekali tidak mengenalku. Satu hal yang bisa kupastikan, gadis itu bukan orang jahat—dia seperti memiliki pesonanya sendiri yang mampu memikat siapapun, terutama wajah polosnya itu.

“Krys?” aku menoleh begitu mendapati Myungsoo berdiri di belakang kami, lengkap dengan masker dan backpack hitamnya yang besar.

Sudah dua tahun berlalu sejak kejadian hari itu, dan ini adalah kecanggungan terparah yang pernah aku rasakan. Kim bersaudara ini nampaknya benar-benar sudah menganggapku orang asing. Apa memang seharusnya dulu aku tidak pernah bersikeras untuk memenangkan Kai? Walaupun kami saling mencintai sementara dia hampir menikah dengan wanita lain? Entahlah. Kepalaku rasanya penuh dengan hal-hal yang tidak kumengerti.

Annyeonghaseyeo, unnie,” aku menatap gadis itu lekat-lekat kala sapaan hangat meluncur dari bibir mungilnya. Dia tersenyum lebar dan membalas tatapanku tak kalah hangat dari nada suaranya itu. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa dia dapat diterima dengan mudah, terlepas dari ketidakjelasan mengenai identitasnya.

“Ayo masuk.” Dia berucap lagi, “Dan silahkan duduk.” Cengiran itu mengembang diwajahnya.

“Iya, noona, ayo duduk.” Taehyung berucap, memecah keheningan diantara Kim bersaudara.

Dan kulihat Myungsoo masih tampak tak tertarik dengan mimik kecutnya itu, dan tak lama pemuda itu masuk ke dalam kamar. Myungsoo masih belum berubah. Sementara kulihat Gyubeom masih berdiri di belakang gadis itu dan mengintip—yah, usianya baru dua setengah tahun waktu itu, mana mungkin dia mengingatku. Setelahnya kulihat gadis itu masuk ke dapur, diikuti Gyubeom yang yang cepat-cepat mengekor di belakang.

“Apa kau tidak nyaman?” Kai bertanya, membuatku terkekeh pelan, “Apa ini sangat canggung?”

“Entahlah, aku tidak tahu…” aku menatapnya lekat-lekat, “Mereka benar-benar menganggapku seperti orang asing, ya kan’?”

“Siapa?” Taehyung menyahut, “Noona terlalu sakartis. Tidak ada yang menganggapmu orang asing. Kami cuma heran, kenapa baru sekarang?—setelah sekian lama waktu yang kita habiskan untuk saling bertindak seperti orang asing.”

“Tae, hentikan!”

Hyung!” Taehyung berseru, “Apa yang terjadi dulu bukan kesalahan noona. Perempuan itu pasti tidak mati. Dia pasti hidup bahagia bersama keluarganya disuatu tempat.” Taehyung menatapku lekat-lekat, “Kalau dia mati, bukankah orang yang pertama kali disalahkan adalah Kai hyung?”

“Dia benar, Krys,” Myungsoo keluar dari kamarnya, “Rasa bersalahmu sama sekali tidak beralasan. Gadis yang waktu itu di jodohkan dengan Kai hyung, sama sekali tidak mati atau terluka karenamu.”

Prang!!!

“Jiyi-ah!!” Gyubeom berseru tiba-tiba, sementara gadis yang di panggil Jiyi itu sudah jatuh duduk bersamaan dengan pecahan gelas.

Gwenchanna?” Kai buru-buru melihat, dan entah kenapa itu sedikit menyakitiku.

“Maaf, tanganku licin,” Jiyi berucap pelan, “Gwenchanna,”

Kulihat Myungsoo bergegas dengan kotak P3K, dan sejurus kemudian pemuda itu membopong Jiyi dari sana kemudian meletakannya di sofa. Telapak kaki gadis itu nampaknya tertancap beling pecahan gelas, dan yang bisa kulakukan cuma melihat. Melihat betapa cekatannya Myungsoo mengeluarkan pecahan beling itu, kemudian mengobati luka di kaki Jiyi.

“Kau benar-benar bodoh.” Myungsoo menatap tajam gadis itu, kemudian masuk ke kamarnya sesaat setelah ia selesai.

“Taehyung, bisa tolong antar Jiyi ke kamarnya?” Kai menarik napas, “Aku harus membereskan ini.”

Gwenchanna, aku yang akan mengantarnya.” Aku menarik senyum simpul, kemudian memapah Jiyi ke kamarnya.

Aku ingat bahwa sebelumnya ini adalah runagan yang dipakai untuk mencuci, dan sekarang ada satu tempat tidur single dengan nakas kecil dan cermin disana. Nampaknya ruangan ini sudah berubah fungsi sejak sebulan lalu.

“Jiyi-ah, boleh kita bicara?” aku tersenyum simpul, menatap lurus-lurus pada manik hazelnya.

Dia mengangguk, dengan cengiran khasnya, “Tentu.”

“Kai bilang kau ingin tinggal disini karena alasan tertentu, apa itu benar?” dia tidak menjawab, cuma memberikan anggukan sebagai jawaban, “Apa aku boleh tahu, kira-kira apa alasan itu?”

“Aku…kabur dari rumah.” Dia menunduk, mengalihkan pandangannya, “Keluargaku bukanlah jenis keluarga harmonis. Ayah dan ibuku pernah bercerai dua kali sebelum akhirnya bertemu. Aku punya seorang kakak perempuan. Dia cantik, pintar, dan bisa di andalkan. Sementara aku…” Jiyi menarik napas, “Aku cuma seorang gadis bodoh yang memiliki tingkat kecerdasan dibawah rata-rata, selalu ceroboh dan menyulitkan banyak orang, seperti kata Myungsoo.”

“Tapi Myungsoo menyukaimu,” tukasku kemudian, dan Jiyi masih menghindari tatapanku. “Myungsoo dan aku cukup dekat. Dulunya dari luar mungkin keluarga Kim tampak baik-baik saja, tapi kenyataannya mereka tidak sepenuhnya begitu. Kai punya kasih sayang ayahnya, dan Taehyung memiliki hati ibunya…sementara Myungsoo—dia tidak memiliki keduanya.” Aku membuat jeda, “Myungsoo jenius sejak kecil, dan karena cara berpikirnya yang berbeda itu tidak ada orang yang memahaminya—mereka cuma berasumsi bahwa Myungsoo memiliki dunianya sendiri, dan membiarkannya tanpa pernah mencoba melampaui batas yang di ciptakan anak itu.”

“Pada kenyataannya dia kesepian. Orang tuanya justru terlalu takut karena Myungsoo berbeda, dan yang mereka lakukan cuma membuat Myungsoo terlihat sama seperti anak-anak lainnya—meskipun kenyataannya tidak begitu.” Aku menarik napas, “Dan karena itu, begitu dia bilang kalau dia menyukaimu…Myungsoo tidak sedang main-main. Dia benar-benar menyukaimu.”

“Aku hampir membunuhnya,” Jiyi berbisik pelan, “Aku hampir mencelakainya.”

“Itu kecelakaan.” Sanggahku, “Myungsoo takut pada air, dia pernah hampir tenggelam.”

“Maaf.” Jiyi menatapku lekat-lekat, “Maafkan aku karena menyukai Kai…”

Senyumku merekah, entah kenapa agak lega dengan kejujuran dan kepolosan anak ini, “Gwenchanna,” aku menarik napas, “Kau bebas menyukai siapapun, termasuk Kai.”

“Rasanya aku tahu kenapa kalian berjodoh,” Jiyi tertawa, cengiran ringan yang secerah matahari.

Aku terkekeh, “Kami tidak seberjodoh itu,” kemudian menyadari sesuatu, “Sebelumnya aku juga pernah mencelakai seseorang—dan sampai sekarang aku masih tidak tahu apa yang terjadi padanya.”

“Dia baik-baik saja.” Spontan Jiyi.

“Eh?”

“Maksudku, aku yakin kalau dia baik-baik saja.” Gadis itu tersenyum lagi.

Aku menarik napas dalam-dalam, menatap senyuman Jiyeon yang begitu ringan dan tanpa beban. Mungkin yang terjadi dulu itu memang bukan salahku—atau aku akan menganggapnya begitu. Kurasa semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang.

-To be Continued: Scarlet Moon, Do You Love Me? [Coming Soon]-

Advertisements

13 thoughts on “[Chaptered] SCARLET SERIES [4]: Scarlet Sky, Let It Go

  1. Ape ni,saya kok merasa gadis yg dimaksud itu jiyeon Ya..
    Kyaa penasaran sebenarnya jiyeon itu brbeda cara fikirnya atau itu hanya kedok jiyeon.
    Kok q berharap jiyeon itu sepintar myung ya..

  2. wahhh makin suka sama ceritanya..
    untung mah disini Krys baik hati, suka ama sikap kedewasaannya.. trus Jiyi wahh polos banget dirimu jiyi wkwkwk
    momen Myungyeon ntar banyakin thor maksa dari cerita Krys kasian Myung semoga Jiyi bisa merubah sikap Myung…
    lanjuttt

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s