[Chaptered] SCARLET SERIES [3]: Scarlet Snow, I Love You

scarlet-2

SCARLET SNOW: I Love You

A fanfic by Bluebellsberry

Starring by Kim Myungsoo (L) and others

“Pastikan petamu ada dan tidak buta. Agar seburuk apapun jalan yang dilalui, kau tidak tersesat di panjangnya perjalanan bernama kehidupan.”—kotaknasi.

Inspired by a little story about family.

.

.

.

Don’t be a silent reader, because karma has no menu—it’s served as you  deserved.

.

.

.

Kudengar suara pintu pagar dibuka, dan tak lama kemudian Gyubeom menghambur masuk kedalam dan langsung masuk ke kamar—dan terakhir anak itu membanting pintunya. Aku menatapnya sekilas, kemudian kembali sibuk dengan modul ilmu pengetahuan yang baru saja kubeli kemarin. Sama seperti Taehyung yang melanjutkan aktivitasnya untuk fokus pada ponselnya, menyerang musuh-musuhnya di game.

“Astaga, kalian disini?!”

Kami menoleh, kemudian mendapati Jiyeon berdiri diambang pintu. Dia berkacang pinggang dan menatap kami sebal. Maniknya yang menyorot tajam dan wajahnya ditekuk sampai sembilan puluh derajat.

“Apa?” sahutku malas, mencoba untuk tidak terprovokasi atas tindakannya—dan sepertinya Taenyung melakukan hal yang sama.

“Kenapa kalian tidak datang?!” suaranya meninggi, memenuhi seluruh rumah. “Gyu berlatih setiap hari selama seminggu, berusaha bersosialisasi dengan teman-temannya dan melakukan segalanya dengan usaha terbaik!”

Kulihat dia mengambil napas sejenak—Park Jiyeon sepertinya benar-benar kesal, “Aku tidak tahu kenapa kalian begitu acuh satu sama lain—tapi yang jelas ini keterlaluan! Gyu menunggu kalian datang. Senyumnya secerah matahari saat aku melihatnya pertama kali naik ke panggung…tapi apa?! Aku kehilangan senyum secerah matahari itu karena dia menyadari bahwa tidak ada satupun kakaknya yang datang!”

“Maaf, Ji,” Taehyung berucap pelan, “Aku ada kerja kelompok.”

Sekarang dia menatapku, dengan sorot mata yang menuntut, “Aku harus menemui dosen pembimbing.” Ucapku sekenanya. Sungguh, ini benar-benar diluar kendaliku.

Dan detik berikutnya netra kami terpaku pada Kai hyung. Dia berdiri di ambang pintu dengan napas tesengal, “Aku baru saja dari sana…dan ternyata acaranya sudah selesai.”

“Kalian kenapa sih?!” Jiyeon berseru lagi, dia berdecak dan mendengus sekaligus.

Lalu sejurus kemudian kudengar suara pintu kamar terbuka, “Sudah, Ji, aku tidak apa-apa.” Kepala Gyubeom menyembul dari dalam. Sial, matanya bengkak karena menangis tapi masih bisa bilang tidak apa-apa—membuatku merasa bersalah saja.

“Aku benar-benar minta maaf, meetingnya selesai lebih lama dari yang kuperkirakan. Dan kliennya—”

“Sudahlah. Aku lelah.” Jiyeon memotong, kemudian melangkahkan tungkai mungilnya ke belakang.

Aku bisa menebak, dia sama kacaunya dengan Gyu sekarang. Mereka benar-benar memiliki kepribadian yang sama—entah Gyu yang terlalu cepat berkembang, atau Jiyi yang terlalu lambat. Tapi satu hal yang bisa ku tangkap dari kejadian satu ini, bahwa Park Jiyeon peduli pada kami—bukan cuma sekedar gadis asing yang menunpang tinggal dan memanfaatkan kesalahanku, tapi sepertinya dia sudah masuk sangat jauh kedalam kehidupan kami.

Setelahnya masalah ini berlalu begitu saja, meninggalkan kecanggungan yang teramat sangat di meja makan—tepat seperti saat ini. Meja oval yang bisa ditempati hingga delapan orang ini tentu saja jadi lebih sunyi dari biasanya. Yang lain juga jauh lebih diam dari biasanya, yang terdengar cuma dentingan suara piring dan alat makan yang beradu. Perkiraanku adalah…keadaan ini akan berlanjut sampai besok pagi.

Dan seperti biasa aku bangun ketika jam masih menunjukan pukul lima dini hari. Langit masih agak gelap dengan udara menyegarkan dan aroma embun pagi yang menyapa indra penciuman. Cepat-cepat kuikat tali sepatu sambil menyampirkan handuk good morning dibahu.

“Mau lari pagi?”

Ku dengar suara khas perempuan yang cukup akrab menyapa rungu, kemudian netraku melihat kepala Jiyeon menyembul dari balik pintu masih dengan piyama tidurnya—mau apa dia?

“Tunggu sebentar,” dia masih menatap dengan mata mengantuknya, “Aku ikut.”

Tarikan napasku cukup berat. Bukan karena apa-apa, tapi coba bayangkan kalau ada seorang gadis pengganggu yang akan mengacaukan pagimu—pasti menjadi suatu ancaman kan’?

“Tidur lagi, sana.” Ketusku, mencoba membuatnya jengah agar tidak perlu mengganggu acara pagiku yang tenang.

Eiy, tunggu sebentar, ya?” dia cepat-cepat lari ke kamarnya. Mungkin ganti baju atau apa. Tapi sudah sangat jelas kalau aku tidak bangun pagi untuk menunggunya mengacaukan pagiku yang tenang ini—tidak akan.

Omong-omong, apa dia sudah melupakan kemarahannya yang kemarin itu? Maksudku, saat dia kesal pada kami semua karena tidak datang ke pertunjukan Gyubeom. Tapi kalau melihat orang seperti apa Park Jiyeon itu nampaknya percuma. Gadis itu cuma akan menyengir lebar dengan muka bodohnya.

“Kau tidak menungguku?!” dia berseru dari belakang, kulihat terengah-engah karena mencoba menyusul. Oke, abaikan saja.

“Kim Myungsoo, kau benar-benar!” kulihat dia berusaha menyamai langkahku sekarang. Rasanya aneh.

Aku meliriknya sekilas, “Apa?”

“Kau biasa lari pagi?” aku menatapnya—sumpah, pertanyaannya terlalu klise, “Jelas-jelas kau lihat aku lari setiap pagi.” Singkatku.

“Iya, tapi kan’ aku tidak pernah lihat langsung…biasanya ketemu kalau kau sudah pulang.” Dia berdecak, kemudian mencoba tersenyum dengan muka kasurnya. “Udara pagi segar, ya?”

Aku menarik napas, tidak menanggapi satupun ucapan tidak berbobot itu kemudian memamu tungkaiku lebih cepat. Meninggalkan Jiyeon jauh di belakang. Seriously, gadis itu benar-benar mengganggu. Sangat mengganggu.

“Kim Myung, jangan cepat-cepat!”

Kelihatannya dia juga memacu kaki-kaki pendeknya lebih cepat. Dan tiba-tiba saja aku merasakan lengan mungilnya merangkul bahuku—dengan bodohnya gadis itu berjinjit demi jalan beriringan denganku.

Lalu, perasaan aneh itu muncul lagi. Menjalar cepat hingga ke ubun-ubun—seperti menguasai seluruh diriku atas apa yang dilakukan Jiyeon. Demi Tuhan, itu cuma rangkulan biasa. Tolong, wahai jantung berhentilah berdetak abnormal.

“Lepas.” Kau menghentikan langkahku, menghempas kasar lengan mungil itu pada sang empunya—percayalah, ini cuma salah satu caraku menyelamatkan diri. Detak jantung yang abnormal ini mungkin saja bisa membunuhku kan’?

“Kenapa?” dia bertanya bingung, kelihatannya sama sekali tidak tersinggung atas apa yang kulakukan barusan—yah, gadis itu otak udang sih, “Apa aku bau?”

Aku tersentak atas pertanyaanya. Memangnya apa yang ada di kepalanya, huh?

“Perhatikan saja sikapmu.” Jawabku singkat, kemudian melanjutkan langkah.

Kira-kira ini sudah lima belas menit. Dan Jiyeon masih mengekor dengan penuh semangat, sepertinya dia belum lelah. Astaga, memangnya dia atlet atau apa? Yang kulakukan ini cuma bisa diikuti oleh orang-orang yang rutin berolahraga, bukan gadis bodoh yang selalu bangun diatas jam enam pagi.

“Kau tidak lelah?” akhirnya kutanya juga, dan dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, “Kalau cuma begini sih tidak apa-apa. Dulu waktu SMA aku pernah menjuarai olimpiade renang dan maraton se-Asia.”

Langkahku terhenti, membuatku sontak berbalik menatapnya. Dan sepertinya ucapannya itu bukan isapan jempol semata karena Jiyeon yang berdiri di depanku ini masih tampak baik-baik saja, kecuali nafasnya yang sedikit terengah—dan itu normal.

“Sampai kapan kau mengikutiku?” pertanyaan itu terlontar begitu saja. Sejujurnya aku sengaja membuat kesan agar aku tidak terlihat kagum atas prestasi atletiknya itu.

Kulihat dia mengejap beberapa kali, “Tentu saja sampai kau selesai.”

“Ini masih jauh.” Kilahku, “Sangat jauh.”

Dia menatapku, “Iya, lalu?”

“Kau akan tetap mengikutiku?” aku membalas tatapannya.

Dia mengangguk, “Tentu.”

“Kenapa?” tanyaku lagi, dia tampak bingung.

“Karena aku harus menyelesaikan apa yang sudah kumulai. Cuma itu yang bisa kulakukan.” Cengiran bodoh itu kemudian mengambil alih raut wajahnya. Oke. Kuakui kalau aku kalah. Setidaknya dia memiliki alasan untuk bertahan—tapi kita akan lihat, seberapa jauh dia akan bertahan.

Aku melanjutkan langkah, memacu tungkai sedikit lebih cepat dan tampaknya Jiyeon masih megekor dibelakang. Terus berjalan membuatku tak sadar sampai tahu-tahu kami sudah berada di taman belakang Seoul National University. Kami berjalan cukup jauh sepertinya. Aku memandang kesekeliling, melihat hamparan danau buatan yang cukup memanjakan mata. Disekitarnya terdapat banyak pohon pinus tinggi, lengkap dengan pekarangan-pekarangan kecil berisi bunga lily yang berwarna warni di bawahnya—tak lupa sederetan bangku panjang  ditepiannya.

Aku menoleh, menatap wajah takkjub dari gadis itu—seolah ia tak pernah kesini, padahal ia mengambil gelar strata satu disini.

“Kau tak pernah kemari?” tanyaku langsung.

Dia menggeleng pelan, “Aku tidak punya waktu untuk menikmati hal-hal seperti ini. Terlalu banyak mata kuliah yang harus diulang sehingga aku harus mengambil semua yang kubisa secepatnya…”

“Ah, aku lupa…” Jiyeon menatapku, menunggu kalimat berikutnya, “Kau itu gadis bodoh.”

“Memangnya kau sepintar apa?!” dia berseru tiba-tiba, “Kau bukan penguasa bumi dan langit cuma karena super jenius, tahu!!”

Aku tertawa, yang dia katakan ada benarnya—bahwa aku jenius maksudnya.

“Kau sering kesini?” dia bertanya, kemudian menatapku.

Aku cuma mengangguk kecil, “Kenapa?”

“Cuma tanya.” Singkatnya, “Kau itu selalu saja tanya kenapa!”

“Yah, aku cuma mau tahu alasannya.” Kemudian ku lihat dia tertawa.

Aku melangkahkan tungkai lebih jauh, mendekati bibir danau yang rasanya tidak cukup datar untuk berdiri. Dan kulihat Jiyeon melakukan hal yang sama—satu hal yang ku tahu adalah gadis ini bukan tipe orang yang akan memikirkan apa yang orang lain katakan tentang dirinya. Dia kuat, dan bukan tipe perempuan pendendam. Dia juga—

Byuurr!!

Tiba-tiba saja suara air membuyarkan lamunanku, seiring dengan percikan air yang hampir membasahi setengah kaosku. Netraku mencari-cari Jiyeon, dan cukup terkejut ketika mendapati gadis itu berada di tengah danau—dia cepat-cepat berenang ke tepi.

“Aku jatuh, hehehe…” dia terkekeh, sementara yang bisa kulakukan cuma menarik napas panjang.

Coba pikir, bagaimana dia mau pulang kalau basah begitu? Naik bus? Itu pasti akan sangat memalukan.

“Hei, Kim Myung, bantu aku!” dia berseru, kemudian cengiran lebar itu terpampang diwajahnya. Kulihat lagi gadis itu acuh tak acuh dan masih bergeming disana. Dia berkali-kali mencoba naik, dan memang batas tepiannya terlau tinggi sepertinya.

Jadi aku kembali menarik napas, kemudian mengulurkan tangan padanya.

“O—oi, kau harus pelan-pel—”

Byuur!!

Oh—tidak. Jangan. Tolong jangan bilang kalau aku juga ikut tercebur sekarang—sumpah, ini bukan suatu hal yang baik. Aku…sangat takut pada air. Air yang sangat banyak—tolong, ini bisa…membunuhku. Dia akan membunuhku.

Detik berikutnya aku mencoba sekuat tenaga dan membuka lebar mataku—sekilas ada yang datang, mungkin itu Jiyeon atau siapapun—aku sama sekali tidak bisa merasakan apapun. Yang aku harus lakukan cuma mendorong air-air ini agar bisa bernapas. O—oh, sial! Kenapa lama-lama rasanya kepalaku semakin berat. Perasaan takut itu semakin menjadi-jadi, memenuhi kepalaku—debaran jantungku tak karuan, tolong, aku benar-benar takut. Air itu menghisapku ke dalam—semakin dalam hingga rasa sesak memenuhi dada. Kemudian….

“HUAHH!!” aku menarik napas dalam-dalam, menghirup sebanyak mungkin oksigen yang kubutuhkan—kemudian mendapati Jiyeon dengan mimik yang tidak bisa kuartikan.

“Kau tidak apa-apa?” dia memegangi jawahku, “Kim Myung, gwenchanna?”

Aku tidak menjawab—tidak bisa menjawab lebih tepatnya, dan sejurus kemudian gadis itu mendekapku—memeluk ku erat dalam dekapannya. Aku sama sekali tak bisa mengucapkan apa-apa. Rasanya lidahku kelu dan simultan-simultan aneh menjalar ke seluruh tubuhku. Gadis ini benar-benar!

“Myungsoo-ah, jebbal!” dia menepuk pelan pipiku, “Kau tidak apa-apa kan’?”

Dalam satu gerakan aku menepis tangannya, menatap manik hazel yang tampak khawatir itu satu tatapan tajam yang membunuh—lantas pergi meninggalkannya. Kulihat dia tergopoh-gopoh, berusaha mengikutiku secepat mungkin. Dan sisanya… kami pulang dengan bus tanpa bicara satu kata pun.

Dan seperti biasa, waktu berjalan begitu cepat hingga aku tak sadar bahwa ini sudah lewat seminggu dari kejadian itu—dan dalam seminggu itu juga aku tahu bahwasanya benar-benar ada yang tidak beres padaku.

“Gyu, jangan lari!”

Netraku kemudian menangkap sosok Gyubeom yang berderap cepat-cepat dari pintu masuk dan langsung ke kamar Taehyung—sementara dibelakangnya Jiyi tampak kewalahan dengan tas, sepatu dan kaos kaki anak itu yang berserakan di lantai. Aku cuma menatapnya sekilas, kemudian mengalihkan pandanganku bada buku. Dan seolah tahu kalau aku merasa tidak nyaman, Jiyi melengos begitu saja—mungkin dia menganggap kalau aku masih marah atas insiden danau itu.

“Ji, hujan!” kudenar Gyuebom berteriak, dan setelahnya Jiyeon tampak tergesa-gesa menuju halaman belakang—sepertinya dia hampir lupa mengangkat cucian.

Aku mengekornya, membawa payung sambil menatap dia yang kehujanan dan hampir kuyup. Gadis itu memang terlampau bodoh sepertinya—jemuran yang hampir basah semua itu sebaiknya dibiarkan saja disana sampai hujannya berhenti, dan kalau diangkat besok pagi akan kering tertiup angin—yah, tapi aku benar-benar tidak lupa kalau otaknya setara dengan anak SD. Jadi yang bisa kulakukan cuma menarik napas panjang.

Dan yang kulakukan berikutnya benar-benar diluar nalar—bahkan si jenius Kim Myungsoo ini tidak memiliki alasan yang masuk akan untuk menjelaskannya.

“Eh, kau tidak masuk, Myung?” kulihat Jiyi berhenti, membuat sisa yang belum diangkat itu semakin basah. Dia justru menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan—apa sebegitu sulitnya dia menerima saja kebaikanku? Demi Tuhan, yang kulakukan cuma memayunginya—bukan hal yang aneh-aneh.

“Angkat saja, bodoh!” dia mendengus, kemudian menenteng sisa jemuran setengah basah itu ke teras belakang.

Aku mengekornya, kemudian melihat Jiyeon menggantung pakaian-pakaian itu di tali yang terpatri ke langit-langit. Dia membentangkan helai demi helai pakaian itu dengan telaten, dan yang kulakukan cuma menatapnya.

“Myung, aku minta maaf.” Tiba-tiba kudengar suaranya, “Maaf, karena sudah mencelakaimu.”

Aku menegang. Mengingat insiden danau yang benar-benar menakutkan itu. Dan aku sama sekali tidak membalas satupun ucapannya.

“Aku benar-benar tidak tahu kalau kau sangat takut pada air. Maaf.” Dia berbalik, kemudian menatapku lekat-lekat, “Kau pantas marah, aku tahu kalau aku hampir membunuhmu waktu itu.”

“Aku tidak mau membahasnya,” singkatku, “Lebih baik kau selesaikan jemurannya, lalu masuk.”

Dalam satu gerakan aku mengambil sehelai selimut, kemudian membentangkannya ke tambang—ini adalah yang terakhir, dan perasaanku semakin aneh. Terlalu aneh untuk seorang Kim Myungsoo.

“Aku benar-benar takut waktu itu.” Dia bicara lagi, “Aku takut kalau akan terjadi apa-apa padamu.”

Aku menarik napas dalam-dalam, dan dalam satu gerakan aku menarik jiyi kemudian mengecupnya pelan.

“Aku…menyukaimu, Park Jiyeon.”

Dia terbelalak, matanya  membesar dan menatap tak percaya padaku.

“T—tapi aku…”

“Kau tidak perlu menjawabnya,” pelanku, “Aku tidak minta jawaban.”

“Myung—myungsoo-ah,”

“Kau tidak perlu menjawabnya.” Ulangku lagi, “Aku tidak minta jawaban, cuma mau mengatakan ini padamu—itu saja.” Aku menarik napas, “Jangan terlalu dipikirkan.”

Lantas setelahnya aku pergi sebelum benar-benar kehilangan kendali.

-To be Continued: Scarlet Sky, Let It Go [Coming Soon]-

Advertisements

24 thoughts on “[Chaptered] SCARLET SERIES [3]: Scarlet Snow, I Love You

  1. Ah kai trnyta masih trauma ya 😦
    Mgkin hati kai blm bs nerima jiyi saat ini..
    Gyubeom lucu ih wkwk..
    My myungie chef di rumahnya trnyta wkwk

  2. Myungaaaaah yassss finally you fall in love with jiyi kwkwk…
    Tp cara myung yg buat jiyi agak takut wks.. Abis dikira msh marah gr2 hampir mencelakai huh..
    Tp tapi kan Jiyi lg patah hati dg kai 😦 psti susah mupon

  3. omooooo pengen meluk author nih..
    wahh Myung ngungkapin ehh malah ga mau nerima jawaban emng gitu sih watak cwo pendiam kayak Myung takut nerima hasil yg blum tentu mereka tau #ceileh apaan..
    lanjutt suka sama nih couple..

  4. Aigoo…. gimana sih myung ini..
    Kayanya myung dah ketakutan dulu di tolak ma.jiyi.
    Gimana tar kabarnya si couple myungyeon ini, di tunggu next partnya ya , yun, fighting!!!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s