[Chaptered] SCARLET SERIES [2]: Scarlet Sun, The Truth is….

scarlet-3

SCARLET SUN: The Truth is…

A fanfic by Bluebellsberry

Starring by Kim Jongin (KAI) and others

“Kuharap kelak waktu akan mengantarkanmu pada kesadaran bahwa melepaskan bukanlah sebuah kesalahan.”—jaydewar.

Inspired by a little story about family.

.

.

.

Don’t be a silent reader, because karma has no menu—it’s served as you  deserved.

.

.

.

Aku membelalakan mata seketika begitu membuka tudung saji di meja makan. Sambil menarik napas dalam-dalam netraku menatap nanar pada sepiring omelet gosong, sup kimchi berwarna kecokelatan dan beberapa potong sandwich yang daging isiannya belum matang dengan sempurna. Lantas selanjutnya pandanganku bertumbuk pada manik mata hazel milik Jiyeon—seorang gadis yang dua minggu lalu kupungut—tidak. Maksudku, ku izinkan tinggal disini karena suatu alasan.

“Apa ini?” cuma itu yang bisa keluar dari mulutku, yang sudah setengah mati kubungkam agar tidak menyakiti hatinya.

Kulihat Myungsoo baru keluar dari kamarnya, lengkap dengan setelan kasualnya yang biasa. Ransel hitamnya yang besar itu juga tampak siap seperti biasa. Dan berikutnya kulihat Taehyung dan Gyubeom menyusul—Tae lengkap dengan seragamnya, dan Gyu… dia masih dengan muka kasur dan liur yang mengering di sudut bibirnya.

“Kau serius?” Myungsoo ternganga, menatap tajam pada Jiyeon yang mengkerut. Aku cuma bisa menarik napas. Lalu ketika Taehyung dan Gyubeom duduk di meja makan, reaksi mereka tidak jauh berbeda denganku atau Myungsoo.

“Ini…bisa dimakan?” tanya Taehyung dengan cengiran garingnya. Sementara kulihat Gyu cuma menatap makanannya dengan tatapan tidak percaya.

Jiyeon tersenyum kikuk, “Sarapan?”

“Kau tidak bisa memasak?” tanyaku kemudian, dan dia menggeleng. “Kenapa tidak bilang?”

Dia mengerjap, “Aku sudah mau bilang tadi, tapi sepertinya suaraku masih kalah keras dibanding kucuran air shower di kamar mandi.”

“Bodoh.” Gyu berdecak, mengejek gadis itu seperti biasa.

Harus ku akui, bahwa Jiyi—panggilan yang kami berikan padanya—ternyata memiliki kecerdasan setara anak SD, yang membutuhkan waktu cukup lama untuk mengerti sesuatu. Terlepas dari wajah imutnya yang innocent itu.

“Sudah, jangan banyak protes. Makan saja.” Kilahku.

Diluar dugaan, rupanya Taehyung sudah memenuhi piringnya dengan sandwich, sup kimchi dam omelet kehitaman itu. Aku menelan ludah, tidak percaya dengan apa yang dilakukannya barusan—tapi setelahnya aku mengikuti jejak Taehyung, dan tampaknya Myungsoo juga melakukan hal yang sama. Memang, ini salahku karena menyuruhnya memasak tiba-tiba—dan memang benar kalau di ingat-ingat, rasanya tadi Jiyi seperti mau mengatakan sesuatu tapi tidak jadi.

“Jangan dimakan!” seru Gyu tiba-tiba, “Ini masih mentah, kalian bisa mati.”

Oke, secara tidak langsung aku menyetujui ucapan Gyubeom. Terbukti dengan gerakan tanganku yang terhenti, batal menyuap sandwich itu ke dalam mulut. Dan secara mengejutkan Myungsoo bangkit dari kursinya, mengambil apron di atas kulkas lalu meletakan wajan di kompor. Ini pemandangan langka, dimana seorang Kim Myungsoo akan memasak untuk kami semua. Dia memiliki kemampuan itu—memasak, olahraga dan kecerdasan akademik, kecuali hal-hal yang berhubungan dengan air—tapi si jenius Myungsoo hidup di dunianya sendiri.

“Whoah…” decak kagum itu berasal dari mulut kecil Jiyeon. Matanya berbinar dan penuh dengan rasa lapar. Tentu saja tak butuh waktu lama untuk menghabiskan santapan lezat yang diciptakan Myungsoo itu—nasi goreng omelet.

Dan tiba-tiba saja aku mengingat sesuatu, jadi kulirik jam dinding yang bertengger manis di dinding dekat tivi, dan—oh, ya Tuhan! Aku telat.

“Jiyi, Myung, Tae, Gyu!” suaraku terdengar memenuhi hampir seluruh ruangan, memanggil cepat-cepat pamit pada seisi ruamah, “Aku berangkat!”

Cepat-cepat ku langkahkan tungkaiku dan masuk ke dalam kamar, mengambil beberapa berkas kasus, jas, mantel dan memakai dasi secepat kilat. Ngomong-ngomong soal Park Jiyeon, setelah menghabiskan dua minggu disini, akhirnya aku tahu satu hal—bahwa dia tengah kabur dari rumah karena permasalahan yang di hadapinya di rumah. Oke, cukup sampai disitu. Aku sudah telat.

“Kai, tunggu.” Ku lihat Jiyi menatapku dengan manik bulatnya yang berbinar, seperti biasa—dan sebetulnya itu cukup mengganggu, terlebih aku sering menangkap basah gadis itu tengah menatapku dengan tatapan penuh cintanya. Oh, ayolah…sudah jelas kan’ kalau dia menyukaiku?

“Apa?” sahutku sekenanya, berharap dia bisa cepat-cepat karena waktu terus bergulir dan aku sudah sangat telat.

“Dasimu,” singkatnya, “Berantakan.”

Detik berikutnya gadis itu berjinjit, kemudian mengalungkan lengannya pada leherku. Sial. Ini benar-benar diluar dugaan—lebih menghkhawatirkan dari pada melihat kenyataan kalau Myungsoo memasak untuk kami semua. Jiyeon lalu menarik dari yang terlipat di bagian kerah, kemudian membetulkan letak posisi dasi yang tidak sepenuhnya simetris itu. Dan…oh—ya Tuhan, tolong jangan. Dia menatapku dengan bola mata besarnya yang bulat dan berbinar penuh cinta, dan yang bisa kulakukan cuma terpaku disana dalam diam. Sampai begikutnya tiba-tiba aku tersentak.

“Sudah, tidak apa-apa.” Tukasku cepat, “Aku sudah terlambat, Jiyi.”

Well, sesuai tebakan kalian. Keadaannya jadi canggung sekarang. Dan aku tidak mau lagi berlama-lama disini, jadi sesegera mungkin kulangkahkan tungkaiku keluar rumah—mengeluarkan mobil dari garasi dan meninggalkan rumah menuju kantor.

***

Dan kini kau sudah memasuki kawasan cheongdam, kemudian berbelok sedikit ke kenan dari perepatan terakhir. Oke, inilah dia…The KingStarwhy. Salah satu toko perhiasan sederhana yang dibangun Krystal Jung, wanita luar biasa yang sudah berhasil men—

Tunggu.

Tolong, tunggu sebentar.

Rasanya aku sangat yakin kalau aku tidak salah lihat kan’? Tentu saja bukan tanpa alasan, tapi netraku baru saja menangkap dua sosok yang sangat kukenal berdiri di depan etalase toko, memperhatikan ke dalam dengan fokus yang rasanya tidak main-main. Mereka terlalu serius untuk diilang main-main—terlebih yang kulihat ini adalah Kim Myungsoo…dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah bahwa dia datang dengan Jiyi.

Dari sini aku dapat melihat jelas kalau Myungsoo sempat mengucapkan beberapa kalimat pada Jiyeong sebelum mereka berdua pergi. Dan tentu saja, kalian pasti memikirkan apa yang aku pikirkan sekarang kan’? Tentu. Singkatnya, Jiyi sudah tahu kalau ada Krystal diantara aku dan dia—yang artinya adalah, Jiyeon dan Kai tidak mungkin bersama. Gadis itu harus bisa menerima kenyataan. Dan pada akhirnya aku pulang tanpa menemui Krystal.

Sepertinya aku mendapatkan terlau banyak kejutan hari ini. Selain Myungsoo yang memasak di pagi hari dan Jiyeon yang dengan berbunga-bunga atas insiden dasi tadi pagi nampaknya akan ada hal yang lain. Dan kondisi saat ini sudah terlalu mendukung. Sekarang aku—ralat, kami sedang makan bersama-sama diselimuti rasa canggung yang luar biasa.

Hening.

“Myung, bagaimana penelitianmu?” aku membuka suara, mencoba menjadi api di tengah es.

Myungsoo tampak mengangguk, “Sejauh ini tak masalah.”

Dan kembali hening.

Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup oksigen sebanyak yang kubutuhkan. Aku menyesal karena memilih Myungsoo, seharusnya aku tanya pada Taehyung saja. Anak itu jauh lebih normal dari pada Myungsoo yang memang rajanya es. Dan entah kenapa aku tidak bisa menahan keinginanku untuk melihat Jiyi—maksudku, aku ingin tahu bagaimana keadaannya. Apa dia sepatah hati itu?

“Minggu depan Gyubeom akan ikut dalam drama musikal disekolahnya.” Tiba-tiba Jiyeon berucap.

Aku cuma mengangguk paham. Memang sudah dua minggu terakhir Jiyi yang selalu mengantar jemput Gyubeom dari tk-nya, sebelumnya Taehyung yang lakukan. Dan terakhir kali aku juga mengetahui bahwa ternyata Gyu hampir sama anti sosialnya dengan Myungsoo, oleh karena itu aku secara khusus minta tolong pada gurunya untuk membuat bocah itu lebih aktif—dan kabar baiknya ku dengar malam ini, bahwa dia akan ikut bermain dalam drama musikal di sekolahnya.

“Kalian harus datang.” Jiyi berucap lagi, ditutup dengan senyuman kikuk. Dan kulihat sepertinya Gyu juga berharap kami datang.

Sesaat setelah mata kami sempat beradu, namun entah kenapa Jiyi cepat-cepat mengalihkan padandangannya—membuang muka. Dan lenyap sudah tatapan berbinar penuh cinta yang baru tadi padi memenuhi bola-bola matanya yang bulat itu. Dan makan malam selesai begitu saja.

“Ji, boleh kita bicara?” aku bertanya tepat setelah semua orang pergi dari meja makan, menyisakan kami berdua yang berdiri di depan bak cuci piring—mengamati pekerjaan yang dilakukan gadis itu.

“Ada apa?” dia tidak menoleh, melanjutkan pekerjaanya. Sial. Ini sangat canggung.

“Soal tadi pagi…”

Gadis itu mengalihkan netranya, menatapku lurus-lurus, “Maaf soal yang tadi pagi. Aku sama sekali tidak tahu.”

“Bukan itu, Ji.” Aku menarik napas dalam-dalam, “Hanya saja…aku cuma menganggapmu sebagai adikku.”

“Aku mengerti,” singkatnya, “Maaf karena aku menyukaimu.”

Sekilas rasanya hatiku sempat mencelos.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan cuma karena kau menyukaiku.” Aku membalas tatapan matanya, “Kau bebas menyukai siapapun, dan cinta tak pernah salah.” Tukasku, “Kalau ada yang salah, mungkin akulah orangnya—terlebih karena belum bisa menajadi kakak yang baik untuk kalian semua, termasuk kau…”

Dan setelah kalimat barusan aku pergi meninggalkannya sendiri, melanjutkan aktivitasnya mencuci piring. Pun sebenarnya aku merasa agak kejam, terlebih ketika kudapati Jiyi menangis semalaman setelahnya. Kuharap ini akan cepat-cepat berlalu—this too shall pass, right?

-To be continued: Scarlet Snow, I Love You [Coming Soon]-

Advertisements

21 thoughts on “[Chaptered] SCARLET SERIES [2]: Scarlet Sun, The Truth is….

  1. Kakak? Heol.. Makanya jangan terlalu baik dong bang, kan adek Jiyi-nya jadi salah mengartikan semua itu. Huhhu endingnya nangis-nangis kan tu adek semaleman. Hmm setelah ini hati Jiyeon pindah kesiapa hayo? Apa tetap bertahan?

  2. Ah kai trnyta masih trauma ya 😦
    Mgkin hati kai blm bs nerima jiyi saat ini..
    Gyubeom lucu ih wkwk..
    My myungie chef di rumahnya trnyta wkwk

  3. wah ada seberkas cahaya #apalah..
    berharap Myung ama Jiyi wkwk
    blum ada momen ehh Jiyi udh digepak aja ama kai.. bagus deh daripada jatuh terlalu dalem dienakkin aja perasaannya ama Myung si es batu wkwwkw
    lanjut ahhh

  4. Sih kai dingin banget ya ma jiyi… tapi itu yg buat jiyi kelepek-kelepek ma dia 😂😂😂
    Cuma dianggap ade.. aduh… sih abang kai gimana dah? Tar kalo udah diambil orng baru berasa deh…

    Okeh deh aku next baca part selanjutnya ya, yun 😘

  5. Oh,jd jiyi cuma dianggap adik oleh kai??yg bnar??kasian jiyi..tp jiyi kok lucu bgt ya,srapannya mlah berantakan begitu..hahaha..q tggu nextnya ya…

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s