[Oneshoot] Chairmate

img-20170118-wa0002

CHAIRMATE

Starring by. Ji Saehyun OC & Jeon Wonwoo SVT
Support cast by. Jeon Jungkook BTS
Oneshot // Love/Hate, Hurt/Comfort, Romance // PG-17

Big thanks for awesome poster by Amy Park

zulfhania production © 2017

=================

Finally, kelar juga ff ini!
Soriii bangeeet buat kakpel yang telah terlalu lama menunggu, dan sorii juga untuk yang kedua kalinya kalo isi dari ff ini akan mengecewakanmu nantinya, yang penting hutangku lunas yaaa~ soal judul, mungkin agak gak nyambung ya sama jalan ceritanya, tapi yowislah gapapa, yang penting ceritanya kelar. Semoga kakpel dan reader lain sukaaaa~ jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan selamat membaca, guys 🙂

Regards,
Zulfa Azkia (zulfhania)

=================

‘Dramaku mendapat masalah.’ –Saehyun
‘Roda itu selalu berputar, kau tahu.’ –Wonwoo
‘Karena kau pengecut, hyung.’ –Jungkook

Suara petikan gitar akustik di dalam ruangan tertutup itu masih terdengar menggema. Begitu pun dengan suara nyanyian yang keluar dengan begitu mulus dari bibir seorang laki-laki yang kini duduk memangku gitar di atas panggung. Para penonton yang kebanyakan adalah remaja perempuan duduk mendengarkan dengan manis di bangkunya. Ada juga beberapa orang yang merekam penampilan laki-laki itu dengan kameranya. Ada juga yang mengangkat lightstick berwarna ungu kemerahan berbentuk W. Yang jelas, keseluruh orang di dalam ruangan begitu menikmati penampilan solo dari seorang Jeon Wonwoo. Bahkan sang pembawa acara, para staf acara, dan para kameramen sekalipun.

“Yeay, tepuk tangan yang meriah untuk Wonwoo!” Pembawa acara dalam acara talkshow tersebut melangkah naik ke atas panggung usai penampilan laki-laki itu berakhir, diiringi dengan suara tepuk tangan yang menggema di dalam ruangan.

Acara talkshow berakhir setengah jam kemudian. Setelah mengucapkan terima kasih dan berbincang sejenak dengan para staf acara, Wonwoo pun pamit pergi bersama manajernya. Setengah jam lagi acara siaran radio di MBC akan dimulai, mereka harus bergegas.

Tepat ketika mobil melaju perlahan keluar gedung, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.

‘Dramaku mendapat masalah. Aku butuh bantuanmu. Bisakah kita bertemu hari ini?’

Wonwoo tak mengindahkan pesan itu. Ia malah melirik manajernya yang juga merupakan adiknya yang duduk di jok depan.

“Kemarin kau bilang aku mendapat tawaran drama, kan?” tanyanya.

Jungkook melirik Wonwoo lewat kaca spion sebelum fokus pada jalanan di depan. “Iya, penulisnya kemarin menghubungiku.”

“Apakah dia Ji Saehyun?”

Jungkook terdiam sejenak sebelum akhirnya bergumam, mengiyakan. “Dari mana hyung tahu?”

“Dia menghubungiku,” kata Wonwoo, lalu melempar ponselnya ke jok sebelah, tidak tertarik untuk membalas pesan yang baru saja masuk tadi. “Dia mendapat masalah dengan dramanya dan meminta bertemu denganku hari ini.”

“Kita ada siaran radio setengah jam lagi, hyung.”

“Aku tahu.”

Wonwoo memandang pemandangan di luar kaca jendela mobil dengan pandangan kosong. Jarinya mengetuk permukaan kaca sambil menimbang-nimbang suatu hal. Hingga akhirnya tangannya bergerak mengambil ponsel dan membalas pesan dari orang itu.

‘Datang saja ke MBC jam 3 sore, kita bertemu setelah siaranku selesai.’

* * *

Dua cangkir caramel macchiato terletak di atas meja. Uapnya mengepul di udara, memberikan kehangatan pada suasana dingin yang meliputi kedua manusia yang kini duduk berhadapan di dalam kafe di gedung MBC. Ini adalah pertemuan pertama mereka usai kelulusan SMA pada lima tahun lalu.

Saehyun mengeluarkan sebuah buku naskah dari dalam tas, meletakkannya di meja, dan menggesernya ke arah Wonwoo.

“Judulnya Chairmate, kau bisa membacanya—”

“Kenapa kita tidak membicarakan kabar satu sama lain dulu sebelum membahas dramamu?” tanya Wonwoo menyela ucapan Saehyun.

Saehyun terdiam.

“Bagaimana pun juga kita sudah lama tak pernah bertemu lagi, bukan?”

“O-oh,” Saehyun tergagap sesaat. “Kabarku baik.”

“Di tengah masalah yang terjadi pada drama barumu, kau masih mengatakan dirimu baik-baik saja?” tanya Wonwoo.

“Maka dari itu aku butuh bantuanmu.”

“Kabarku juga baik,” Wonwoo kembali menyela ucapan Saehyun. “Aku masih melakukan promosi untuk lagu baruku ke berbagai macam stasiun televisi, tawaran iklan dan drama juga datang silih berganti, dan beberapa hari lagi aku akan pergi ke Jeju untuk melakukan syuting reality show di sana. Aku benar-benar sibuk sekali akhir-akhir ini.”

Kurva di bibir Saehyun melengkung tipis dengan paksa. Entah kenapa ia mendapatkan tanda-tanda penolakan dari laki-laki itu.

“Wonwoo-ya…” Baru saja Saehyun hendak kembali berkata, pintu kafe terbuka diiringi dengan seruan dari seorang laki-laki yang memanggil nama Wonwoo.

“Wonwoo hyung, mobilnya sudah siap,” ucap laki-laki itu.

Saehyun mengernyit. “Kau mau ke mana?”

Wonwoo berdiri dari duduknya. “Aku ada syuting iklan.”

“Kau bilang kita bisa bertemu setelah siaran radiomu selesai. Aku sudah menunggumu sejam di sini.”

“Bukankah saat ini kita sedang bertemu?”

“Maksudku untuk membicarakan hal ini, Wonwoo-ya, dramaku…”

“Jungkook sudah menungguku. Aku tak memiliki banyak waktu,” sela Wonwoo kembali. “Kita bisa melanjutkan pembicaraan setelah syutingku selesai.”

* * *

“Aku sudah membaca beritanya,” kata Jungkook sambil mengemudi. Sekilas ia melirik Wonwoo yang balas memandangnya di jok belakang. “Dramanya Saehyun noona.”

“Oh,” Wonwoo tidak tertarik dengan pemberitahuan Jungkook dan malah mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.

“Awalnya, Park Bogeum hyung sudah menyetujui untuk bermain dalam dramanya,” Jungkook tetap melanjutkan. “Namun, ketika di hari perilisan dan penandatanganan kontrak, mendadak aktor itu membatalkan semuanya. Produser yang bekerjasama dengan Saehyun noona juga membatalkannya karena Bogeum hyung batal bermain di drama itu. Para reporter dan kameramen juga pergi, batal merekam maupun menayangkan acara tersebut. Acara perilisan drama itu mendadak kacau. Produsernya bilang, Saehyun noona harus mendapatkan penggantinya sebelum hari ini berakhir kalau memang dramanya ingin ditayangkan di televisi. Kalau tidak, karirnya akan berakhir.”

“Lalu, penggantinya adalah aku?” komentar Wonwoo.

“Itu karena dia hanya kenal dekat dengan hyung.”

Wonwoo mendengus. “Siapa yang bilang begitu?”

Jungkook menoleh. “Bukankah dulu kalian sekelas saat SMA? Bahkan duduk semeja, bukan?”

“Tidak usah ingatkan aku akan hal itu.”

“Aku tahu kalian memiliki masalah di masa lalu. Tetapi kau tetap harus bersikap profesional, hyung.”

Wonwoo tidak menyahut.

“Kalau kau memang tidak ingin mengambil drama itu, lebih baik katakan saja langsung padanya. Jangan buat dia menunggu terlalu lama dengan memberinya harapan palsu,” tambah Jungkook.

Wonwoo kembali mendengus. “Dia yang memulainya terlebih dahulu, Jeon Jungkook. Jadi itu bukan salahku kalau aku juga akan begitu.”

Jungkook mengernyit tidak mengerti. Ketika ia melirik ke belakang untuk meminta penjelasan lebih, kakaknya itu malah hanya memasang wajah dingin tanpa eskpresi.

* * *

Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika syuting berakhir. Jungkook memberikan botol minum pada Wonwoo yang langsung dihabiskan oleh laki-laki itu.

“Saehyun noona masih menunggu,” kata Jungkook selagi Wonwoo meneguk habis minumannya.

Wonwoo tak menggubris. Ia menyerahkan kembali botol minumnya pada Jungkook, lalu berjalan ke luar tempat syuting, menghampiri Saehyun yang duduk menunggunya di sana. Sudah sejak dua jam yang lalu perempuan itu duduk di sana, menunggunya selesai syuting. Ia sendiri yang melihatnya ketika perempuan itu pertama kali datang, berbicara sebentar dengan Jungkook, lalu duduk menunggu di luar tempat syuting setelah Jungkook kembali ke dalam. Tanpa berpindah sedikit pun. Ia hanya melihat perempuan itu pergi sebentar untuk membeli minuman, lalu kembali lagi duduk di sana. Menunggunya.

Naif sekali, bukan?

“Kau masih menungguku?” tanya Wonwoo setibanya di dekat Saehyun.

Saehyun berdiri dari duduknya.

“Kuharap kau tidak ada acara lagi setelah ini.”

Wonwoo baru saja hendak berkata ketika Saehyun terlebih dahulu menyela ucapannya.

“Jungkook bilang kau free setelah ini.”

Wonwoo melirik sekilas pada Jungkook yang masih berbicara pada sutradara di dalam tempat syuting. Adik kurangajar itu, tak bisakah dia berbohong di depan perempuan ini?!

“Baiklah, kita bisa makan malam bersama setelah ini,” ucap Wonwoo akhirnya.

* * *

Tak berapa lama kemudian, mereka telah berpindah tempat ke kafe bertingkat dua di dekat tempat syuting. Jungkook juga ada di sana, hanya saja mereka tidak duduk semeja dengan Wonwoo dan Saehyun. Mereka berdua di lantai atas, sementara Jungkook di lantai bawah. Ia membiarkan kedua teman lama itu berbicara berdua. Bagaimana pun juga mereka pasti bukan hanya ingin berbincang mengenai drama itu. Ia tidak ingin mengganggu privasi kakaknya.

“Aku sudah mendengarnya dari Jungkook,” Wonwoo membuka pembicaraan. “Kenapa hal itu bisa terjadi?”

Saehyun menggeleng pelan. “Aku juga tidak mengerti. Semuanya terjadi tiba-tiba.”

Saehyun terdiam beberapa saat sebelum mengeluarkan buku naskahnya dari dalam tas dan meletakkan di atas meja. “Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi selain dirimu. Hanya kau satu-satunya harapanku. Mari bekerjasamalah denganku, Jeon Wonwoo.”

Bekerjasama denganmu?” Wonwoo mendengus lucu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Saehyun. Kalimat yang didengarnya barusan itu membuatnya merasa de javu. “Apakah kau sebegitu takut dramamu tidak tayang di televisi?”

Saehyun tersenyum miris. “Ya, sedikit. Kalau drama ini batal tayang, aku tak bisa lagi menjadi penulis drama. Ini kesempatan terakhirku.”

“Dan kau menderita karena hal itu, kan?”

Senyum Saehyun menghilang. “Maksudmu?”

Wonwoo mendengus lucu. “Kau mengikutiku sepanjang hari ini. Mengejarku. Menungguku. Hanya untuk mendapatkan kepastian dariku. Dan bukankah hal itu melukai harga dirimu?”

Air muka Saehyun berubah tanpa ekspresi.

“Memang itulah yang kurasakan. Saat kau mengabaikanku dulu,” tambah Wonwoo.

Kali ini Saehyun terpekur.

Wonwoo kembali mendengus ketika melihat Saehyun yang tampaknya baru menyadarinya. “Apakah kau ingat saat kita masih duduk di bangku SMA? Aku menawarimu untuk duduk semeja denganku, dan kau mengiyakan. Tetapi begitu mendengar orang-orang bilang kalau aku menyukaimu, kau tidak ingin lagi menjadi teman semejaku. Bahkan kau tidak mau lagi bekerjasama denganku ketika kita masih terlibat dalam kerja kelompok. Aku memintamu untuk bekerjasama denganku sekali itu saja, tetapi kau mengabaikanku. Aku menunggumu usai sekolah bubar, juga menunggumu di depan rumah, dan terus menunggumu setiap saat, tetapi kau tetap tidak mau bekerjasama denganku. Kau mengabaikanku. Kau menolakku.”

Wonwoo berhenti sejenak, lalu menatap Saehyun dengan tatapan nyalang. “Bagaimana rasanya berada di posisiku sekarang? Kau merasa tidak berharga, bukan?”

Saehyun kehabisan kata-kata. Ia benar-benar terpekur di bangkunya. Ucapan Wonwoo telah menamparnya barusan, menghempaskannya kembali ke masa SMA yang ingin sekali ia lupakan. Entah kenapa hal itu benar-benar menyakitkan hatinya.

Tanpa berkata sepatah kata pun, Saehyun berdiri dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Wonwoo.

“Saehyun-ah,” seruan Wonwoo menghentikan langkah Saehyun. Tanpa menunggu perempuan itu berbalik, Wonwoo melanjutkan, “Kau kira kau bisa meminta bantuan dariku karena aku pernah menyukaimu, bukan? Tetapi sepertinya kau tidak tahu kalau hal ini akan terjadi kepadamu suatu hari nanti. Roda itu selalu berputar, kau tahu.”

Saehyun tak membalas ucapan Wonwoo. Ia langsung beranjak pergi meninggalkan laki-laki itu dengan linangan airmata di pelupuk matanya.

Selepas kepergian Saehyun, Wonwoo baru menyadari kalau ada barang milik perempuan itu yang tertinggal di atas meja.

Buku naskah drama buatan Saehyun.

Chairmate.

* * *

Jungkook menyesap coffee latte hangatnya sambil memandangi gadis-gadis Jepang yang duduk tiga meja di hadapannya. Para gadis itu tampak menyadari kalau sedang diperhatikan oleh laki-laki tampan seperti Jungkook, jadilah mereka hanya saling melempar senyum satu sama lain tanpa berani mendekati. Namun senyum Jungkook seketika memudar saat melihat seorang perempuan melangkah turun dari lantai atas dengan salah satu tangan yang membekap mulut.

Jungkook menyadari ada yang tidak beres dengan perempuan itu.

“Saehyun noona!

Laki-laki itu menghampiri Saehyun dan menimbulkan senyum dari para gadis Jepang menghilang.

Huh, ternyata laki-laki tampan itu sudah punya pacar, begitu pikir mereka.

* * *

Jungkook berlari menuruni anak tangga dengan bergegas. Wajahnya menunjukkan panik luar biasa. Jelas saja, Wonwoo tidak ada di mejanya. Nomor ponselnya pun tak bisa dihubungi. Ia sudah bertanya pada beberapa waitress di dalam kafe, namun satu pun tidak ada yang melihat Wonwoo. Ia juga sudah mengecek toilet, tetapi Wonwoo tidak ada. Tidak mungkin, kan, laki-laki itu pergi keluar tanpa bersamanya. Bagaimana pun juga, Wonwoo adalah seorang idol sekarang, dia tidak boleh pergi sembarangan seorang diri.

Namun Jungkook dapat bernapas dengan lega ketika menemukan kakaknya itu berdiri bersandar di kap mobil di halaman parkir basement.

Ya, Wonwoo hyung!”

Jungkook setengah berlari menghampiri Wonwoo, sementara laki-laki yang diteriaki namanya itu hanya menoleh dan menunjukkan wajah tanpa ekspresi padanya.

“Aku mencarimu ke mana-mana, hyung!”

“Aku juga mencarimu, bodoh,” sahut Wonwoo. “Ponselku mati. Kau bilang kau menunggu di lantai satu, tetapi kenapa saat aku turun tadi kau tidak ada di sana?”

“Eh, itu,” Jungkook tak melanjutkan perkataannya. Wajahnya berubah kikuk, lalu pandangannya tak sengaja mengarah pada buku naskah drama yang dipegang oleh Wonwoo. “Ada urusan sebentar. Maaf meninggalkanmu.”

Beberapa menit kemudian, mereka sudah masuk ke dalam mobil dan mobil perlahan keluar dari halaman parkir. Wonwoo menyadari sejak masuk ke dalam mobil, Jungkook terus menerus melirik ke arahnya lewat kaca spion depan.

“Kalau kau ingin berbicara, bicara saja, jangan melirikku seperti itu,” kata Wonwoo setelah menghela napas pendek melihat tingkah laku adiknya itu.

Jungkook tak bisa menahan diri untuk bertanya, “Kenapa kau melakukan itu pada Saehyun noona, hyung?”

Persis seperti yang Wonwoo duga. Jungkook pasti ingin bertanya hal yang bersangkutan dengan Saehyun. Ia pun yakin seratus persen kalau ‘urusan’ yang dikatakan Jungkook tadi adalah menemani Saehyun yang sedang menangis karena ucapannya di lantai dua kafe tadi.

Wonwoo tak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, sementara tangannya masih memegang erat buku naskah milik Saehyun.

“Dia baik-baik saja, kan?”

Jungkook mendengus lucu. “Tentu saja dia tidak baik-baik saja! Kau menghancurkan perasaannya!” bentaknya kemudian. “Kau masih menyukainya, tetapi kenapa kau melakukan itu padanya?”

“Aku tidak menyukainya lagi.”

“Aku ini adikmu, hyung, bukan hanya manajermu. Jadi aku tahu semua tentangmu!”

“Berhentilah berteriak padaku!”

“Dan kau berhentilah berpura-pura tidak menyukainya lagi!”

Wonwoo tak menyahut. Ia meremas kembali buku naskah drama milik Saehyun yang berada di atas pangkuannya.

“Saehyun noona memintaku mengambil buku itu darimu. Dia meninggalkannya di atas meja dan lupa membawanya tadi ketika pergi,” kata Jungkook. Kali ini suaranya kembali normal, meskipun deruan napas yang tak teratur itu masih terdengar.

“Aku yang akan mengembalikannya sendiri.”

“Kapan?”

“Setelah aku selesai membaca seluruh isinya.”

Noona melarangmu membacanya.”

“Kenapa? Karena aku menolak tawaran dramanya?” tanya Wonwoo. Karena tak ada jawaban dari Jungkook, Wonwoo pun menambahkan, “Atau karena isi dari naskah ini adalah kisah tentang kami berdua?”

Jungkook tampak tertegun. “Kau sudah membaca isinya?”

Tak ada jawaban dari Wonwoo.

“Berarti kau sudah mengetahui yang sebenarnya.”

Wonwoo hanya bergumam. “Kau tak perlu menjelaskannya lagi.”

“Saehyun noona juga menyukaimu, hyung.”

Wonwoo melirik Jungkook sebal. “Sudah kubilang kau tak perlu menjelaskannya lagi. Aku sudah tahu.”

“Dia tak pernah mengatakannya padamu, tapi dia menulis naskah itu untukmu, hyung.”

Wonwoo tak menyahut. Ia kembali memandang ke luar jendela. Memerhatikan jalanan. Lalu memejamkan matanya ketika Jungkook mulai menceritakan isi dari naskah itu.

Tidak perlu. Jungkook tidak perlu mengatakan padanya. Wonwoo sudah tahu. Ia sudah membaca setengah dari isinya saat di dalam kafe tadi, beberapa menit setelah kepergian Saehyun. Dan ia benar-benar tertegun ketika membacanya. Isi dari naskah itu menceritakan tentangnya ketika SMA. Tentang pertemuan pertamanya dengan Saehyun, ajakannya duduk semeja dengannya di kelas, gosip-gosip di kelas tentang dirinya yang menyukai Saehyun, jawabannya ketika Saehyun bertanya tentang kebenaran gosip itu, perubahan sikap Saehyun ketika mendengar gosip itu, juga ketika Saehyun tak ingin lagi menjadi teman semejanya, menjauhinya, menolak bercengkerama dengannya, menolak bekerjasama dengannya, juga rasa sakit hatinya saat ia diabaikan. Itu adalah kisahnya.

Tetapi yang lebih mengejutkan baginya adalah isi dari naskah itu juga menceritakan tentang Saehyun ketika SMA. Tentang pertemuan pertama Saehyun dengannya, tentang betapa senangnya Saehyun diberi tempat duduk di sebelah orang yang disukainya, tentang betapa bahagianya ketika Saehyun mengetahui kalau laki-laki yang disukainya juga menyukainya, tentang betapa kecewanya Saehyun saat Wonwoo menjawab kalau laki-laki itu hanya menganggapnya teman, tentang betapa tersiksanya ketika ia harus menjauhi Wonwoo, tentang betapa tersiksanya ketika ia harus menyembunyikan perasaan sukanya pada Wonwoo, cinta sembunyi-sembunyinya, cinta malu-malunya, juga harapannya yang ingin Wonwoo mengaku padanya kalau laki-laki itu benar-benar menyukainya, bukan hanya sebagai teman. Itu adalah kisah Saehyun.

Chairmate, bercerita tentang ia dan perempuan itu.

“Perempuan itu hanya butuh pengakuan dan kepastian, hyung,” Jungkook masih berbicara. “Tetapi kau tak pernah melakukan padanya hingga di hari kelulusan kalian.”

Wonwoo menghela napas berat mengingat masa itu.

“Dia sudah menyukaimu, bahkan sebelum kau mengenalnya. Dia diam-diam menyimpan rapat perasaannya tanpa satu pun orang yang mengetahuinya. Ketika dia mendengar gosip itu dan mengira perasaannya terbalas, kau malah menjawab hanya menganggapnya teman. Tetapi di belakangnya, kau terang-terangan bilang kalau kau menyukainya. Bahkan teman-teman sekelasmu terang-terangan menyindirnya kalau kau suka padanya.” Mobil berhenti ketika lampu merah menyala. Jungkook menoleh pada Wonwoo dan kembali melanjutkan, “Mungkin kau mengira akan bagus apabila dia mengetahui perasaanmu walaupun kau tak mengatakan padanya. Tetapi perempuan tidak butuh kode-kodean seperti itu, hyung. Begitu pun Saehyun noona. Dia hanya ingin kau jujur padanya, itu saja. Tetapi bahkan hingga hari kelulusan kalian, kau sama sekali tak pernah melakukannya. Itulah yang menyebabkan hubungan kalian tidak pernah membaik usai kalian tidak duduk semeja lagi. Karena kau pengecut, hyung.”

“Hentikan ucapanmu, Jeon Jungkook.”

“Dan karena sifat pengecutmu itu, kau baru saja menyakiti perasaannya tadi,” tutup Jungkook sebelum kembali mengemudikan mobilnya.

* * *

Saehyun tahu, cepat atau lambat, Wonwoo pasti akan mengungkit peristiwa itu. Bilang saja Saehyun ini bodoh, ia memang tidak memikirkan segalanya dengan matang sebelum menawarkan peran drama itu pada Wonwoo. Kisah masa lalu mereka yang belum usai sudah pasti akan kembali ke permukaan apabila ia meminta tolong pada laki-laki itu.

Ini bukan salah Wonwoo. Ini murni adalah kesalahannya. Kalau saja dulu ia tidak mengabaikan laki-laki itu, kalau saja dulu ia bisa menerima kalau laki-laki itu tak mau berkata jujur padanya tentang perasaannya, kalau saja dulu ia tetap berkomunikasi dengan laki-laki itu meski hatinya menyimpan sakit tak berperi karena ketidakpekaan laki-laki itu, mungkin kejadian ini takkan terjadi. Wonwoo tidak akan menolak dramanya, Wonwoo tidak akan menolak bekerjasama dengannya, dan Wonwoo tidak akan membencinya. Sekarang, semua tidak seperti yang ia harapkan.

Wonwoo benar, roda memang berputar. Dan inilah gilirannya untuk merasakan apa yang pernah Wonwoo rasakan dulu.

Saehyun mengusap wajahnya yang kebas dengan kedua tangan. Diliriknya jam dinding yang tergantung di atas. Pukul setengah 12 malam. Sudah tak ada harapan lagi untuk dramanya. Bahkan sudah tidak ada lagi yang ingin bekerjasama dengannya, baik itu sutradara, produser, maupun para aktor. Karirnya akan segera berakhir.

Setengah ragu, tangannya membuka layar kunci ponsel yang sedari tadi ia letakkan di depannya. Ia mengetik sebuah pesan, lalu mengirimnya pada seseorang yang mungkin sudah menunggu kabar darinya entah di mana.

‘Produser Kim, maaf, aku belum bisa mendapatkan pengganti aktor utamanya. Batalkan saja drama ini.’

* * *

Kabar itu muncul di internet keesokan paginya.

Wonwoo duduk terpekur di depan laptop yang menampilkan kabar mengejutkan itu. Butuh waktu beberapa menit hingga ia mendapatkan kesadarannya, lantas beranjak menuju kamar; mengambil jaket dari balik pintu, masker hitam dan juga ponsel di atas nakas, dan juga mengambil kunci mobil yang diletakkan sembarang oleh Jungkook di dekat televisi.

“Hyung, kau mau ke mana?” tanya Jungkook begitu keluar dari toilet dan menemukan kakaknya hendak pergi.

“Studio drama KBS,” jawab Wonwoo tanpa menoleh sedikitpun.

Selama perjalanan, berkali-kali Wonwoo mencoba menghubungi Saehyun, namun tak juga diangkat. Hingga pada panggilan keempat, sambungan itu terputus dan terdengar suara operator kalau nomor yang dihubungi tidak aktif. Wonwoo membanting ponselnya ke jok sebelahnya dengan asal. Ponsel itu tergeletak begitu saja di sebelah buku naskah drama milik Saehyun yang sama-sama tergeletak di atas jok.

Setibanya di Studo Drama KBS, Wonwoo tidak mengenal siapapun. Ia hanya berdiri bagai patung di depan pintu, menyaksikan segala kesibukan para manusia di dalam studio yang berjalan hilir mudik untuk mengatur proses syuting. Begitu ia menanyakan pada salah seorang di sana tentang keberadaan Saehyun, jawaban orang itu membuat Wonwoo terpekur untuk yang kedua kalinya pada hari ini.

“Saehyun sudah tak bekerja di sini lagi. Dia sudah kembali ke kampung halamannya.”

“Jadi, dia benar-benar dipecat?!”

Orang itu mengangguk.

“Kesempatannya untuk merilis drama buatannya gagal karena tak ada aktor yang mau bekerjasama dengannya.”

Lagi, Wonwoo terpekur, untuk yang ketiga kalinya. Perasaan bersalah menyelimuti dadanya.

“Aku…” Wonwoo berbicara patah-patah. “Aku… Bagaimana kalau aku menerima tawaran drama itu? Bagaimana kalau aku yang menjadi aktor dalam drama itu? Apakah masih bisa? Apakah masih ada kesempatan lagi untuknya?” tanyanya beruntun.

“Maaf sekali, kurasa tidak bisa. Masa trainee-nya sudah berakhir. Ji Saehyun sudah gagal. Karirnya sudah berakhir.”

Untuk yang kedua kalinya dalam hidup, Wonwoo merasa menyesal. Pertama, karena tak pernah mengatakan perasaan yang sebenarnya pada perempuan yang disukainya. Kedua, karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada yang diberikan oleh perempuan itu untuk memperbaiki hubungan ‘kesalahpahaman’ mereka.

* * *

“Aku mendengar kabar kalau kau menyukaiku,” kata Saehyun ketika waktu istirahat sudah berakhir dan Wonwoo kembali duduk di sebelahnya.

“Apa?!” Wonwoo tampak terkejut. “Siapa yang bilang?”

“Banyak orang yang bilang begitu.”

Wonwoo terdiam sejenak sebelum menyahut, “Kalau bukan aku yang berkata begitu padamu, kau jangan percaya. Kau hanya boleh percaya pada perkataanku saja.”

Jadi, kau tidak menyukaiku?”

“Teman,” jawab Wonwoo tanpa melihat pada Saehyun. “Aku hanya menyukaimu sebagai teman. Teman sebangku.”

“Oh, jadi hanya teman sebangku.”

Seharusnya Wonwoo menyadari, kalau ada nada kekecewaan yang terkandung dalam kalimat yang diucapkan oleh Saehyun beberapa tahun yang lalu.

Jungkook benar, Wonwoo memang pengecut.

* * *

“Kapan kita menyesal? Ketika mengabaikan kesempatan yang datangnya hanya sekali.”

4-quote-about-kau-bisa-bersembunyi-dari-kesalahanmu-tapi-ti-image-white-background

– end –

13 thoughts on “[Oneshoot] Chairmate

  1. Apa di sini cuma aku yang loncat loncat kegirangan karena ending-nya sad? 😂😂😂 karena aku sukaaa, i love the ending, walaupun menyedihkan tapi realistis. Karena kehidupan sesorang itu tidak selamanya berjalan sesuai dengan keinginan….

    Suka sama karakternya Jungkook di sini. Kenapa Jungkook enggak embat aja Saehyun biar Wonwoo makin nyesel dan panas? 😂😂😂

    Sebenernya kesalahpahaman mereka bisa selesai kalau masing2 mereka bicara jujur dan ngeluarin unek uneknya pas di kafe. Berantem-berantem deh sekalian biar kafe ramai tapi semuanya clear kwkwkwkw tp sulit sih emang, kadang memendam sesuatu akan lebih terasa ‘benar’ ketimbang mengutarakan #apaansih #abaikan #mulaingantuk

    Pokoknya good joblah zulll ff-nya keren. And you know what, your ff reminds me about my past too.makanya pas baca kedua quotes paling akhir di ffmu aku langsung kesindir gitu. Believe me, aku melakukan kesalahan yang sama dengan Wonwoo, even thought i did it in different way but still, it hurts :”

    Selamat juga Zul, ff ini berhasil bikin aku nostalgia alias gagal move on. Tanggung jawab. Bawa jhope ke sini sekarang juga biar aku bahagia lagiiiiiii 😢😢😢

    Terakhir, gak pernah bosen untuk bilang: always keep writing yesssss…. hwaiting!

  2. HUWEEEE ZULFAAA… aku nangis bacanya 😭 nyesek bangeeet ini tuh… sampai pada akhirnya wonwoo gak pernah bisa memperbaiki kesalahpahamannya ama saehyun… makin nyess baca sambil denger lagu2 gaslau huhu

    aku gk bisa berkomentar banyak huhu makasih banget, ini ff keren banget zul, aku sukaa banget sama hasilnya …
    jangan bosen yaa kalau nanti aku request lagi hihihi

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s