[TWOSHOOT || 1/2] First Love

cutmypic

Scriptwriter Oyewyn. K|| Picture picked from Google || Genre Drama, Romance, School-Life, and Sad||Starred CNBLUE’s Jung Yong Hwa and Actress’ Park Shin Hye || Disclaimer This is original from my mind. No plagiarsm! No Silent readers!


Ini adalah kisah cinta pertamaku. Cinta pertama yang tak pernah ku lupakan. Cinta pertama yang terus membayangiku, bahkan hingga detik ini. Cinta pertama yang tak dapat kupertahankan hingga akhir karena keegoisanku yang kini hanya meninggalkan rasa penyesalan tak berujung.

Aku bertemu dengannya ketika baru saja berpindah sekolah ke Busan, ini semua ku lakukan karena harus ikut ayah yang dipindah tugaskan oleh perusahaan tempat ayah bekerja. Tak ada yang special pada awalnya, bahkan aku cenderung banyak mengeluh, mungkin hal ini karena aku yang tadinya hidup dalam zona nyaman di Seoul harus pindah ke Busan. Ya, walaupun Busan bukanlah kota kecil tapi tetap saja suasanannya berbeda dengan Seoul, ibukota Korea Selatan.

Ah, hampir saja aku lupa mengenalkan diriku pada kalian. Namaku Park Shin Hye, orang-orang biasa memanggilku Shin Hye. Kalian ingin tahu perawakanku? Hmmm, baiklah aku akan memberitahu kalian. Bayangkan dengan baik! Aku seorang gadis berusia enam belas tahun yang sekarang duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah atas dengan tinggi badan semampai, tepatnya 175cm berpadu dengan berat badanku 60kg. Jangan ejek aku gendut! Karena pada faktanya itu termasuk ideal secara kesehatan. Wajahku? Bentuk wajahku oval dengan dua buah mata agak bulat yang terletak di bawah dahi, setelah alis mata hitamku yang cukup tebal. Lalu, rambutku…. Ini adalah bagian tubuhku yang paling ku sukai, berwarna hitam legam dengan gelombang-gelombang halus yang sukses membuatku sering mendapatkan pujian: “Rambutmu bagus sekali, aku iri.” Jika sebelumnya ku katakan bahwa alis mataku cukup tebal maka sekarang aku sampaikan bahwa aku memiliki bibir merah muda yang tipis. Tak lupa, wajahku di lengkapi dengan satu hidung mancung.

Ya, hari pertama aku sekolah aku menggunakan bus dan ada kemungkinan akan terus seperti itu sampai aku lulus dari sana. Tanpa ada rasa ketertarikan dengan keadaan sekitar aku menyematkan satu belah earphone pada setiap lubang telingaku dan mulai memutar lagu dari band favoritku, CNBLUE. Memejamkan mata menikmati alunan musik itu dan sesekali bibirku bergerak mengikuti lirik yang telah ku kuasai dengan sangat baik.

Sejenak aku berhenti di depan gerbang sekolah baruku, menarik napas panjang untuk mengisi rogga paru ku hingga ke pelosok terkecilnya. Baru setelah merasa tenang dan siap ku langkahkan kakiku dengan mantap, menginjak halaman sekolah yang akan menjadi sekolahku mulai saat ini. Memasuki setengah lapangan, seorang siswa menabrak tubuhku dan untung saja tubuhku tidak limbung ke tanah.

“Maaf!” Dia mengatakannya secepat kilat dan kembali meneruskan kegiatan ‘larinya’, sepertinya lebih tepat jika ku katakan kegiatan melarikan diri. Karena ku lihat seorang siswi mengejarnya sambil mengangkat tinggi sapu yang berada digenggaman tangan kanannya. Bisa ku tebak, dia pasti pembuat onar di sekolah ini. Doaku, siswa itu tidak akan menjadi teman sekelasku.

Hampir saja lupa! Aku belum tahu dimana kelasku, jadi sekarang mari mampir ke tata usaha terlebih dahulu.

“Pak Lee!” Petugas tata usah itu tetiba berteriak kepada seorang pria yang pasti adalah salah satu guru di sini.

Guru yang merasa dipanggil itupun mengarahkan atensinya pada petugas itu dengan ekspresi bertanya.

“Pak, anak ini adalah siswi baru di kelas bapak.” Ku kira jawaban itu cukup untuk menjawab pertanyaan pria yang kelak akan ku panggil Guru Lee.

Ah, kebetulan sekali aku baru akan ke kelas kita. Ayo.” Dengan senyuman hangat dan kharisma seorang pria dewasa ia menuntunku menuju kelas.

Aku pun memasuki kelasku di damping oleh Guru Lee, suasana yang tadinya ribut kini hening seketika begitu kami masuk. Sedikit bayak aku dapat melihat beberapa siswa dan siswi itu di kelas itu berbisik satu sama lain. Persetan dengan apa yang mereka katakan, aku tak peduli. Hingga akhirnya seseorang berteriak dari belakang kelas.

“Hei! Kau yang tadi tak sengaja ku tabrak di lapangan kan? Aku minta maaf atas kejadian itu.” Dengan santai ia berkata maaf, tapi sepertinya tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Holyshit! Doaku tak terkabul. Aku harus sekelas dengan siswa menyebalkan itu. Semoga saja hariku tidak akan menjadi lebih buruk lagi.

“Namaku Park—“

“Berhenti.” Siswa itu memotong perkenalan diriku. Aku hanya dapat memejamkan mataku sambil menarik napas panjang, berusaha memperpanjang kesabaranku terhadapnya.

“Aku sudah tahu namamu, Park Shin Hye-ssi.” Dia sukses membuat pupil mataku terbuka lebar, terkejut sekaligus bingung. Bagaimana bisa dia mengetahui namaku? Pertanyaan itu muncul di detik yang sama ketika dia menyebutkan nama lengkapku.

“Aku masih bisa membaca name tag mu dengan jelas, Shin Hye-ssi.” Sialan, aku mencelos. Ternyata dia hanya membaca nametag ku. Ya, dia tidak salah juga sih karena memang fungsi nametag adalah agar orang-orang dapat mengetahui nama pemakainya. Semuanya tertawa, sedangkan aku hanya bisa cengar-cengir di depan kelas seperti orang bodoh. Sangat memalukan.

Setelah selesai memperkenalkan diri aku duduk di sebelah Krystal. Dia sosok yang cukup menyenangkan. Ku yakini kami bisa menjadi teman kompak selama berada di kelas ini. Aku ingat! Dia adalah siswi yang tadi mengejar siswa nakal itu.

Tak kusangka, itu adalah hari pertamaku bertemu dengan cinta pertamaku.

Pernah sekali ketika kami akan melakukan praktek di ruang biologi, membelah katak adalah tugas yang harus dilakukan. Beruntung aku tidak satu kelompok dengan Yong Hwa, pasti ada saja keonaran yang dia lakukan. Seperti yang diketahui kami harus membelah katak itu tanpa membunuhnya. Gila, itu sangat sulit untuk dilakukan.

“Park Shin Hye!” Aku menengok arah suara yang memanggilku.

Aahh!!” Seekor katak melompat ke arahku. Sinting! Sangat jelas pelakunya adalah Jung Yong Hwa, dan gilanya entah apa yang dilakukannya pada katak itu yang masih dapat melompat dengan perut transparan. Banyak yang menebak dia melapisi perut katak yang dibelahnya itu dengan plastik sehingga dapat terlihat jelas isi perut katak itu. Tapi tetap saja itu tidak berperikehewanan bukan?

Yya! Jung Yong Hwa!” Krystal memukuli punggung Yong Hwa bertubi-tubi.

Dia memang ajaib, tak pernah sekalipun ada yang bisa menebak isi pikirannya. Harus ku akui bahwa dia cerdas meskipun sering bersikap aneh. Ya, itulah Yong Hwa. Tidak pernah ingin menjadi siapapun, selalu menjadi dirinya sendiri yang apa adanya. Mungkin itu yang membuatku tak pernah melupakannya.

Selepas penat dengan katak dan segala isi perut laknatnya, aku dan Krystal pergi ke kantin untuk mengisi perut kami yang lapar. Di saat kami duduk dan menikmati makan siang tiba-tiba saja Yong Hwa muncul dan duduk di hadapanku dengan senyum menyebalkannya. Sebenarnya tidak terlalu menyebalkan sih, cukup manis.

“Hei, kau harus tahu kalau aku bisa meramalmu.” Entah ada angin apa dia mengatakan hal absurd seperti itu.

Aku hanya mengangkat sebelah alisku. Tak masuk akal.

“Lihat saja, kau akan jatuh cinta padaku.” Ini lebih absurd lagi. Aku hanya mengerutkan dahiku. Dasar aneh.

Setelah itu dia pergi dari meja ku dan Krystal. Ah iya, sebelum pergi dia mengacak rambutku baru kemudian lari bersama dengan seorang temannya yang ku ketahui bernama Kim Jongin.

Kenakalannya tak hanya di lingkungan sekolah saja, entah bagaimana caranya dia bisa juga menjahiliku hingga ke rumah. Ingat sekali dalam memoriku dia pernah menulis surat untuk tetanggaku dan isinya sungguh tak dapat aku definisikan. Hmmm, tidak jadi. Kurasa ada satu kata yang dapat mendefinisikannya. Konyol, ya kata itu yang pantas.

Ting…Tong…

Bel rumah berbunyi, tak perlu menerka-nerka itu adalah tamu. Ketika aku membuka pintu itu ternyata tetangga kami yang cukup akrab dengan ibuku.

“Hye-ya, kau mengenal Yong Hwa?”

Nde, dia teman sekelasku. Ada apa ahjumma?”

“Ini.” Beliau menyerahkan sebuah surat padaku, dengan penuh kebingungan aku membaca isi surat ini.

Kepada Song Ahjumma

Di tempat

Sebelumnya perkenankan saya memperkenalkan diri saya. Saya Jung Yong Hwa, teman sekelas dari anak gadis cantik tetangga anda yang bernama Park Shin Hye. Tujuan saya mengirimkan surat ini pada ahjumma adalah ingin meminta tolong agar ahjumma menyampaikan perasaan saya pada Shin Hye.

Saya Jung Yong Hwa dengan ini menyatakan bahwa saya menyukai Park Shin Hye siswi kelas 2-III. Dan kelak akan membuatnya jatuh cinta pada saya serta menjadikannya kekasih saya. Semoga kelak dia juga menyukai saya.

Terimakasih Song ahjumma.

Salam Hormat,

Jung Yong Hwa

Entah bagaimana, aku tersenyum saat membaca surat itu. Konyol dan menggelitik. Tapi aku suka. Apa aku akan benar jatuh cinta padanya? Inikah cara dia mencuri hatiku? Ya, dia memang pria antimainstream.

You’re my only angel

You’re my only angel

Ms. Pretty be my Mrs.

Dering ponselku berbunyi, pertanda ada seseorang yang menelepon. Sayangnya, nomor itu tidak ku kenali jadi aku hanya membiarkannya saja berbunyi di sana. Akan tetapi nomor itu terus meneleponku berulang kali, mungkin ini sangat penting dan aku harus mengangkatnya.

Yeoboseoo.

“Hai! Ini aku Yong Hwa.”

Nde, ada apa Yong?”

“Aku meramalkan sebentar lagi kau akan mendapatkan sebuah kiriman.”

“Terserah kau.”

Hmm, Shin-ah ada yang ingin ku tanyakan padamu.” Baru kali ini aku mendengar Yong Hwa ragu. Apa iya akan menyatakan perasaannya padaku? Tetiba jantungku berdetak cepat.

“Apa?”

“Kau tahu bahasa inggris dari ‘aku menyayangimu’?”

I love you.

Nde, I love you too Shin.” Sial, lagi-lagi aku terjatuh dalam perkataannya. Ini terdengar aneh, tapi aku tersenyum lebar.

“Shin! Hampir saja aku lupa.”

“Apalagi?”

“Aku merindukanmu. Sampai jumpa besok di kelas.” Ya, dia Jung Yong Hwa. Aku tidak tahu harus mengatakan dia terlalu jujur atau bodoh. Tapi, lagi, lagi, dan lagi aku menyukainya.

Setelah itu acara telepon selesai dan tak lama kemudian pengirim koran datang. Tapi bukan untuk mengantarkan koran, melainkan setangkai bunga mawar dan satu buah bungkus cokelat. Ya, hanya bungkusnya saja. Aneh bukan. Dan juga ada sebuah memo kecil yang bertuliskan: Ini bungkus cokelatnya saja. Aku takut kau gendut jika aku memberi cokelatnya. Dan jangan makan bunganya, itu bukan makanan. Dia sungguh tak dapat ditebak. Jika, orang lain yang melakukan pendekatan mungkin akan mengirimkan memo yang manis, seperti gombalan misalnya. Sedangkan dia mengirimkan memo aneh Tidak perlu heran karena dia adalah Jung Yong Hwa.

Ya, dan mulai sejak saat itu berteleponan dengan Yong Hwa menjadi suatu rutinitas biasa. Aku juga menjadi semakin akrab dengannya. Serta, tanpa ku sadari dia telah berhasil mencuri hatiku.

Setiap malam ia akan menelponku, membicarakan hal-hal tidak penting namun sangat menghibur. Yong Hwa sangat tahu bagaimana caranya untuk membuatku merasa nyaman. Berbeda dari laki-laki lain yang mendekatiku dengan sejuta jurus gombalan dan hadiah-hadiah. Berbeda dengan laki-laki lain yang akan terus berusaha menunjukkan bahwa dirinya adalah yang terhebat di hadapaku. Dia benar-benar menjadi dirinya sendiri. Dia adalah Jung Yong Hwa siswa nakal dari kelas 2-III yang sukses mencuri hatiku.

Hari itu hujan sangat deras sehingga membuatku harus menunggu di sekolah hingga hujan mereda, banyak di antara teman-teman yang sudah pulang terlebih dahulu menyisakan aku dan lima siswa lain termasuk Yong Hwa. Aku pun mengisi waktuku dengan mengerjakan tugas matematika mengenai logaritma trigonometri. Untuk mengerjakan lima soal saja aku membutuhkan waktu selama satu jam, sedangkan jumlah soal yang harus dikerjakan ada tiga puluh soal. Dan untuk lima soal itu saja rasanya otakku akan pecah. Ini menyebalkan, aku tidak suka matematika! Sampai pada titik menyerah aku hanya menempelkan kepalaku pada buku tugas. Memejamkan mata hingga tanpa sadar jatuh dalam alam mimpi. Saat aku terbangun hujan sudah berhenti dan langit telah berwarna jingga, serta jarum jam menunjukkan bahwa sekarang pukul 17.00. Salah satu hal yang mengagetkan adalah adanya jaket yang tersampir di bahuku. Aku tahu pemilik jaket itu adalah Yong Hwa, tapi dimana dia sekarang?

“Hei! Kau sudah bangun rupanya.” Yong Hwa datang saat aku hendak melipat jaketnya, baru saja ingin pulang ke rumah.

“Ini jaketmu. Terimakasih.” Seraya menyerahkan jaket yang tadi dipinjamkannya.

“Ayo pulang denganku.” Tanpa persetujuanku dia menarik tanganku untuk mengikutinya keluar dari ruang kelas.

Yong Hwa mengambil motornya sementara aku menunggu di depan gerbang sekolah. Kurang dari lima menit ia telah berada di hadapanku.

“Ayo naik.” Ia menepuk jok belakang motornya, mengisyaratkan bahwa aku duduk di sana.

Selama perjalanan aku tak banyak bicara, hanya Yong Hwa yang terus bertanya-tanya dan berbicara. Aku hanya mengangapinya seadanya saja, tak sedang dalam mood untuk banyak bicara. Banyak sekali hal yang ditanyakannya padaku, termasuk soal surat yang dikirimkannya pada Song ahjumma dan bunga serta bungkus cokelat yang ku terima dari petugas pengantar Koran.

Begitu mengantarku sampai rumah Yong Hwa langsung pamit untuk pergi, dia terlihat terburu-buru. Masa bodohlah, bukan urusanku. Aku mengendikan bahuku sekali. Aku pun memasuki rumah, menyapa ibu yang sedang memasak makan malam di dapur.

“Aku pulang.”

Eoh, bagaimana sekolahmu Shin?”

“Baik seperti biasa eomma.”

“Mandilah, lalu turun untuk makan malam.”

“Okey!” Aku menaiki tangga menuju kamarku yang terletak di lantai dua rumah ini.

Selepas membersihkan diri aku turun ke bawah membantu ibu menyiapkan meja untuk kami makan bersama nanti. Sembari membereskan meja aku dan ibu berbincang ringan, seperti soal Song ahjumma yang ke rumah kai karena surat kiriman Yong Hwa tempo lalu. Ternyata Song ahjumma tidak hanya memberi surat itu padaku tapi juga menceritakannya pada ibu. Selain itu ibu juga kembali membahas masalah bunga dan bungkus cokelat yang dikirim laki-laki itu melalui tukang antar koran. Ingat sekali dalam benakku, hari itu adalah hari minggu dan semua anggota keluarga ada di rumah. Dan… ya, tentu saja mereka tertawa. Parahnya, ibu dan adik lelaki ku Juho malah penasaran dengan sosok Yong Hwa yang sebenarnya karena perilaku Yong Hwa sangat berbeda dengan laki-laki lain yang mendekatiku. Terutama Juho, dia adalah anak yang jahil dan pastinya akan sangat cocok dengan Yong Hwa. Entah apa yang akan terjadi padaku jika mereka bertemu dan menjadi sangat akrab. Itu akan menjadi mimpi buruk.

Namun itulah Yong Hwa, perilakunya selalu ada-ada saja. Sangat berkesan dan tak dapat dilupakan.

Hampir lupa! Malamnya ketika aku ingin melanjutkan tugas matematikaku, ternyata semuanya sudah terjawab. Dan tebak siapa yang mengerjakannya? Dia adalah Jung Yong Hwa! Aku mengetahui karena dia meneleponku, seperti biasa. Untuk satu hal itu aku benar-benar berterimakasih padanya.

Hari itu adalah hari yang selalu ku ingat sampai dengan detik ini. Hari dimana Yong Hwa menyatakan perasaannya padaku dan kami sah menjadi sepasang kekasih. Ingat sekali bahwa hari itu adalah salju pertamaku di Busan dan saat itu kami sedang melakukan trip musim dingin kelas kami ke kawasan Pantai Haundae, Kuil Haedong Yonggu, dan beberapa tempat lainnya. Dan kami menginap di salah satu penginapan di dekat pantai. Trip itu bukanlah program resmi dai sekolah melainkan hanya kesepakatan kelas kami yang menginginkan libur bersama di musim dingin ini jadi tak ada bebas tugas yang harus kami tanggung. Benar-benar hanya bersenang-senang dan menghabiskan waktu, seru-seruan ala anak SMA.

Hari sudah malam, matahari berganti tugas dengan sang bulan untuk menerangi malam. Tak hanya sendirian, bulan di temani banyak bintang untuk menerangi langi malam itu. Berbeda denganku yang hanya berjalan sendirian menyusuri pantai karena mendapat pesan singkat dari Yong Hwa yang memintaku untuk ke pantai sendirian. Entah apa maksudnya, meski enggan tapi hati ku memutuskan untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh anak nakal itu. Tapi aku tak menyesal karena langit benar-benar sangat indah sangat berbeda dengan langit di pusat kota. Angin meniup lembut surai-surai rambutku, sangat menenangkan. Ditambah lagi dengan suara gelombang air laut yang menjadi musik pengiring acara jalan-jalan malamku ini.

Sstt…” Terdengar seperti seseorang yang mencoba memanggilku.

Sstt…” Suara itu lagi, apa benar dia memanggilku?

Ssstt..” Aku yakin orang itu pasti mencoba memanggilku, jadi aku menoleh ke segala arah mencari sumber suara itu dan ternyata itu adalah Yong Hwa yang sedang duduk sekitar dua puluh langkah  di depan dari tempat aku berdiri saat ini. Dia tersenyum lembut padaku, senyum yang menenangkan. Terasa kharisma lain dari dirinya, sangat berbeda dengan Jung Yong Hwa yang jahil dan nakal.

“Ku kira kau tidak akan datang.”

“Aku tidak bisa tidur makanya aku datang.” Aku berbohong padanya. “Ada apa?” Sambungku kemudian ketus.

“Tidak ada, aku hanya ingin menikmati indahnya ciptaan Tuhan bersama dengan orang yang ku sukai. Orang yang menurutku ciptaan Tuhan yang paling indah.” Aku duduk di sebelahnya.

Aku tersipu, semoga saja wajahku tidak memerah.

“Wajahmu memerah!” Dia tertawa terbahak-bahak. Ya, dia tetap saja Yong Hwa yang menyebalkan.

“Tapi aku suka.” Lagi-lagi dia tersenyum lembut. Senyuman yang mampu membuat jantungku berdebar-debar. Aku hanya diam, berusaha menahan senyumku.

“Tak perlu sungkan tersenyum. Senyummu itu indah.” Lagi, dia memujiku. Entah itu hanya buaian gombal belaka atau dia tulus memujiku. Dia pintar membuatku melambung tinggi.

Setelah itu kami berdua sama-sama terdiam, hanya menikmati pemandangan yang ada di depan kami. Sangat sederhana tapi aku sangat merasa senang hanya dengan begini, padahal kami bukan sepasang kekasih. Biar aku beritahu rahasiaku, seringkali aku berharap menjadi kekasih Yong Hwa tapi apa boleh dikata dia tak kunjung menyatakan perasaannya secara resmi padaku. Padahal berulang kali dia mengatakan kalau dia menyukaiku begitu juga dan perilakunya yang mampu membuatku merasanya aman dan nyaman berada di dekatnya. Jung Yong Hwa, ayo nyatakan perasaanmu padaku, batinku dalam hati, berharap dia bisa mendengar dan melakukannya.

“Aku akan meramal, sekitar lima menit lagi akan ada bintang jatuh. Siapkan harapanmu.” Tetiba saja dia berkata seperti itu padaku tanpa mengalihkan padangannya dari langit. Benar saja, sekitar lima menit setelah ia mengatakan hal itu benar-benar ada bintang jatuh.

“Ucapkan harapanmu.” Dengan spontan aku mengatupkan kedua tanganku di depan dadaku, memejamkan kedua mataku, dan merapalkan harapanku dalam hati.

Saat aku membuka mataku Yong Hwa sedang menatapku dengan lembut, aku suka dengan cara dia menatapku. Hangat dan nyaman, terpancar perasaan tulusnya padaku. Kami pun saling menatap satu sama lain selama beberapa saat.

“Jadi apa harapanmu?”

“Aku berharap kita semua dapat menjadi orang sukses di masa depan.” Aku berbohong, harapanku yang sebenarnya adalah Yong Hwa menjadi kekasihku. Tapi tak mungkin aku mengatakan yang sejujurnya.

“Bagaimana denganmu?” Aku mengembalikan pertanyaannya.

“Semoga harapanku di salju pertama musim dingin ini terkabul.”

Yya! Harapan macam apa itu.” Aku memukul ringan bahunya.

“Ya harapanku. Suka-suka aku.” Ya, dia memang Jung Yong Hwa, selalu berbeda. Dan itu yang membuatku luluh padanya.

“Ayo kembali ke penginapan, kau butuh istirahat.” Dia membantuku bangun.

Kami pun berjalan bersama menuju penginapan. Tanpa rasa canggung dia melingkarkan tangannya di bahuku. Saat itu aku takut dia bisa mendengarkan detak jantungku yang tak terkontrol. Dan lagi, aku tak bisa bernapas dengan lega karena rasa gugup ini. Apa dia berniat membuatku mati berdiri? Tuhan, tolong, aku belum menjadi kekasih Yong Hwa.

Selang beberapa malam setelah malam itu Yong Hwa mengajakku ke taman yang berada di belakang penginapan kami. Entah bagaimana bisa dia menemukan tempat indah itu di saat kami semua sibuk bersenang-senang mengunjungi berbagai macam tempat.

Huaaa…” Aku kagum saat pertama kali melihat itu.

“Bagaimana bisa kau menemukan tempat seindah ini?” Tanpa sadar tangan kami masih menggenggam satu sama lain.

“Itu rahasia Negara.” Candanya, aku hanya menggembungkan pipiku sebal dan dia hanya mengacak lembut rambutku.

Yya! Jangan acak rambutku.”

Hahaha… Park Shin Hye marah?” Dia malah meledekku. Sialan.

“Aku mau kembali ke penginapan saja.”

“Pergilah.” Dia tidak menahanku? Gila. Jung Yong Hwa, sialan!!

Aku pun berjalan dengan menghentakkan kakiku sebal. Pria macam apa dia itu. Heol.

“Aku bisa menikmati salju pertamaku di tempat indah ini sendirian.” Aku yakin dia sengaja mengeraskan suaranya agar aku mendengarnya. Bagaimana ini? Haruskah aku berbalik atau terus jalan ke penginapan? Tapi akan sangat sayang jika aku hanya menikmati salju pertama di dalam kamar. Aku dilemma. Sudah kuputuskan. Aku akan menikmati salju pertamaku di tempat ini. Masa bodoh dengan pemikiran Jung Yong Hwa, titik.

“Tidak jadi kembali ke penginapan?” Dia pasti sengaja menanyakan itu untuk membuatku kesal. Ingin rasanya ku sumpal mulutnya itu dengan tanaman yang ada di depanku. Tanpa menjawab pertanyaannya aku duduk di bangku yang ada di taman itu.

Mulai merasa bosan aku mengayun-ayunkan kakiku sambil terus menatap langin dan bersenandung kecil menyanyikan lagu baru dari SF9 yang sangatku suka. Lagu baru yang berjudul Still My Lady, banyak penggemar yang sangat menyukai lagu itu termasuk aku yang tak pernah bosan memutar lagu itu berulang-ulang kali.

“Yong, kapan saljunya akan turun?”

“Sebentar lagi, bersabarlah.” Ia tersenyum dan mengusap rambutku.

Dan tak lama kemudian salju benar-benar turun. Wah, aku penasaran, apa Yong Hwa itu benar-benar seorang peramal. Atau dia pawang cuaca? Bisa membuat bintang jatuh dan salju turun? Atau dia goblin? Ah, tidak mungkin dia goblin. Otakku ini sudah tercemar dengan drama itu. Begitu salju pertama mengenai rambutku, aku mengucapkan permohonanku dengan serius.

“Apa harapanmu?” Kali ini aku bertanya mendahului Yong Hwa.

“Harapanku?” Aku menganggukkan kepalaku, mengiyakannya.

“Agar Park Shin Hye menjadi kekasihku.” What the… apa itu pernyataan rasa sukanya padaku? Tuhan, aku harus bagaimana?

“Mau tidak?” Yya! Pernyataan macam apa itu? Begitukah cara dia mengajakku untuk menjadi kekasihnya? Woah, sungguh di luar nalarku.

“Kau itu sedang menyatakan perasaanmu atau sedang menodongku sih?”

“Mau atau tidak?” Kenapa jadi terasa menyebalkan ya?

Hmmm…” Aku bertingkah seolah berpikir. Tentu saja harus jual mahal.

“Jawab setelah mendengar laguku ini.”

Perlahan ia memetik gitarnya, ternyata itu alasan dia membawa gitarnya. Alunan merdu petikan gitar itu berkolaborasi dengan suara husky-nya. Melodi yang sangat indah memenuhi rongga runguku dengan lirik yang menyentuh hatiku. Benarkah lirik itu adalah perasaannya? Bisakah aku percaya?

Ketika kau berbicara
Tanpa sadar, aku melihat padamu
Ketika kau tersenyum
Aku menemukan diriku tersenyum denganmu

Ketika kau berjalan
Aku mengikutimu dari belakang
Ketika kau dengan malu bernyanyi
Aku menemukan diriku bersenandung bersama

Aku tak tahu aku akan menjadi seperti ini
Bahwa kau menjadi segalanya bagiku
Kebahagiaanmu, bahkan kesedihanmu
Aku tak tahu seluruh dirimu akan menjadi milikku

Sekarang aku akan mengakui hatiku
Aku tak bisa menyembunyikan perasaanku lagi
Bahwa aku menyukaimu, bahwa aku mencintaimu
Bahwa kau segalanya bagiku

Akankah kau menerima hatiku?

Aku akan melindungimu
Aku akan memelukmu
Aku berdoa bahwa senyum mempesonamu
Adalah untukku

Aku tak tahu aku akan menjadi seperti ini
Bahwa kau menjadi segalanya bagiku
Kebahagiaanmu, bahkan kesedihanmu
Aku tak tahu seluruh dirimu akan menjadi milikku

Sekarang aku akan mengakui hatiku
Aku tak bisa menyembunyikan perasaanku lagi
Bahwa aku menyukaimu, bahwa aku mencintaimu
Bahwa kau segalanya bagiku

Akankah kau menerima hatiku?

Begitu berharga pada titik airmata
Seseorangku yang menjadi segalanya bagiku
Tak apa jika itu membutuhkan waktu
Jika aku bisa menjadi hatimu

Tak apa jika itu membutuhkan waktu
Jika aku bisa menjadi hatimu

(Confession—OST Cinderella and Four Knights)

Kepalaku bergerak pelan mengikuti irama lagu otak dan hatiku meresapi setiap kata dalam lirik dari lagu itu. Tanpa sadar aku tersenyum lebar, merasa tersentuh dan bahagia. Tak kusangka bahwa dia bisa seromantis ini.

“Bagaimana?”

“Ya, aku mau jadi kekasihmu.” Ujarku malu-malu.

“Bukan itu, maksudku laguku bagus tidak.”

Sialan. Lagi-lagi dia menjebakku. Aku pun berdiri, rencananya akan pergi dari tempat itu jika dia tidak menahan tanganku.

Hahaha, jangan marah. Terimakasih karena menerimaku jadi kekasihmu.” Ia memelukku erat dan berulang kali mengecup puncak kepalaku. Darahku berdesir, aku merasakan perasaan tulusnya padaku. Dan tanpa diketahui Yong Hwa aku tersenyum lebar dalam dekapannya.

Saranghae.”

Nado.”

Ya, itulah hari dimana kami secara resmi menjadi sepasang kekasih. Pernyataan cinta yang benar-benar antimainstream. Tak dapat terlupakan hingga dengan detik ini. Ku harap aku dapat kembali ke masa itu.

T.B.C

 

Demikianlah ff ini saya ketik, semoga dapat menghibur. Ah, ff ini ditulis untuk menebus ketidak puasan mamih dan kakpel atas ff request-an sebelumnya, meskipun belum tentu ff ini memuaskan hehehe….

Btw, ini ff terinspirasi dari novel Dilan 1990 dan Dilan 1991. Jadi sedikit banyak agak mirip kali ya. Tapi tenang, bukan plagiat kok :p

LEAVE COMMENT! IT’S A MUST!

Advertisements

8 thoughts on “[TWOSHOOT || 1/2] First Love

  1. Aku sukaaaa sama sikap Yong yg di sini, gimanaaa gtu 😘
    sedikit beda sama karakter dia di beberapa ff yg pernah aku baca hehe

    Wao, kamu bikinnya pake gula berlebih ya? ajarin aku buat yg manis2 gini dooong kkkk

  2. Omaygat!!! yongshin cuwitt pake banget deh di sini…
    sikap yong berbeda banget sama ff yang lagi aku buat, wkwkw XD walaupun sikap mereka berdua sama-sama nyebelin ati sih shinhye XD

    nih ff manis baget yah, jadi mesem-mesem diri bacanya, keren…. soalnya aku ndak bisa buat ff yg kaya gini, wao kerennn!!! ini cerita harus di selesaiin yah, gak sabar buat baca last chapternya, semangat !!!

    • Terimakasih kak phiyun!!!!! Jangan muji berlebihan kak ntar aku terbang ke khayangan dan gak balik ke bumi kan kasian Yong Hwa ntar dia kesepian. Hahaha…. Semoga bisa selesai cepat ff ini. :*

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s